ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Rut ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

Sukacita

Semua orang ingin merasakan sukacita! Hari ini kita merayakan Tuhan Yesus Kristus, itulah kenapa kita berkumpul setiap Minggu. Tentu saja kita harapkan ibadah ini membawa sukacita. Semua yang sudah bekerja keras dan mempersiapkan Ibadah ini, Saya rasa tidak ada orang yang tidak ingin yang dilakukannya berakhir tanpa sukacita.

Tetapi saya ingin berbagi dengan Jemaat tentang suatu sukacita yang melebihi dari sukacita ketika kita berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sukacita yang tidak selesai ketika ibadah ini selesai. Sukacita yang bisa bertahan melebihi waktu-waktu yang terhitung. Sukacita yang bisa bertahan selama-lamanya.

Bertemu Yesus = PERJUMPAAN yang mengubah hidup

Ada satu cerita mengenai pertemuan antara pria dan wanita, tentu saja yang sering nonton drama Korea sangat mengerti tentang ini. Tetapi kisah ini bukan sekedar drama, kisahnya  berlanjut seperti ini: Wanita itu ternyata memiliki status atau derajat yang lebih rendah dari prianya. Sehingga seharusnya mereka tidak boleh bertemu, apalagi berbicara satu sama lain. Jemaat harus ingat bahkan sekarang pun kasus seperti ini masih ada di masyarakat, ketika masyarakat membandingkan status sosial seseorang.

Setelah berbincang untuk beberapa lama tiba-tiba sang pria ini mengejutkan wanita yang jadi lawan bicaranya dengan berkata: “Aku tahu apa yang kamu sembunyikan.” Wanita ini terkejut. Saya percaya Jemaat juga akan terkejut jika berbincang dengan seseorang yang baru kenal dan kemudian dia bilang dia tahu rahasia kita. Apakah orang ini mentalis atau selebritis? DIA adalah Yesus!

Mari kita buka aja di Yohanes 4:5-42. Pada ayat-ayat itu diceritakan mengenai pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria. Mungkin ada beberapa dari Jemaat yang berharap saya akan menyampaikan kisah motivasional. Iya betul saya percaya Firman Tuhan dapat memotivasi kita, tetapi saya juga percaya pemberitaan Firman Tuhan adalah tentang sebuah PERJUMPAAN. Sebuah pertemuan yang mengubahkan hidup!

Perjumpaan yang tidak mengenal batasan

“Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu”

Kita kembali kepada kisah di Yohanes 4. Pada awal cerita saya menyampaikan tentang perjumpaan seorang pria (Yesus) dengan seorang wanita (perempuan Samaria) yang berbeda status. Biar saya jelaskan sedikit mengenai ini. Kalau Jemaat tahu sedikit mengenai latar belakang kisah dalam Alkitab. Orang-orang Yahudi itu sangat membenci orang Samaria. Mereka menganggap bahwa orang Samaria bukan orang Israel asli.

Karena memang orang Samaria adalah keturunan campuran, antara nenek moyang orang Israel dengan keturunan bangsa-bangsa lain atau biasa disebut bangsa kafir (penyembah berhala). Saking bencinya orang-orang Yahudi tidak sudi melangkahkan kaki untuk melewati daerah Samaria. Menariknya Yesus adalah keturunan orang Yahudi, ayah dan ibunya adalah orang Yahudi. Namun di ayat 3-4 dikatakan IA meninggalkan Yudea dan melintasi daerah Samaria dengan sengaja!

Apa yang jemaat bisa pelajari disini adalah, betapapun engkau merasa bahwa engkau tinggal di “kawasan” yang tidak berharga, kawasan yang dijauhi oleh orang-orang, mungkin karena latar belakang keluargamu, mungkin karena latar belakang ekonomimu, mungkin karena kondisi fisikmu. Tuhan Yesus mau datang ke tempatmu. Yesus mau melewati tempat dimana kamu tinggal. Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu: Jangan takut, ini AKU, Aku tidak akan menghukummu, Aku tidak akan menghakimimu, Aku terima kamu apa adanya. Yohanes 8:11.

Kronologi Kasih Karunia

Sebenarnya kita adalah mahluk yang penuh dengan kasih karunia Allah. Sebelum DIA menciptakan kita, DIA menyediakan seluruh yang dibutuhkan untuk eksistensi manusia sebelum tanganNYA sendiri yang membentuk dan menjadikan kita, sesuatu yang tidak bisa kita lakukan sendirian. Kasih karunia yang dirasakan Adam, ditunjukkan juga kepada Nuh, kemudian pada Abraham. Jika dahulu kasih karunia itu dikhususkan untuk keturunan Abraham, yaitu bangsa Israel. Sekarang kasih karunia itu tercurah untuk semua kita, Israel rohani.

Pola pikir yang lama

Pola pikir yang lama adalah pikiran /keadaan manusia yang hanya terbatas pada kemampuan manusia akan diubahkan oleh Firman. Semua yang berjumpa dengan Yesus selalu diubahkan, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang hilang pengharapan, kembali melihat masa depan. Dalam kisah perempuan di Samaria Yesus kemudian berbicara dengan wanita ini, kata-kata Yesus adalah Firman (Yohanes 1:14), yang dapat mengubah pola pikir wanita ini.yang terbatas.

Pola pikir yang baru

  1. Yesus memperkenalkan tentang air hidup, disini saya akan jelaskan tentang sukacita surga. Air yang ketika kita minum tidak akan haus lagi, Yesus melepaskan kita dari kelemahan kita, masa lalu, penghakiman dan kutuk yang dijatuhkan atas kita, pikiran negatif yang membelenggu, karena Yesus = kebenaran sejati & absolut yang membenarkan dan membebaskan.
  1. Yesus mengetahui masalah dan dosa wanita ini, namun IA tidak menghakiminya. He just reveal the truth. Karena DIA lah kebenaran dan dikatakan kebenaran sejati akan memerdekakan kamu. Yohanes 8:36. Momen (singkat) untuk selamanya: Yesus adalah agen / katalis perubahan hidup.
  1. Wanita ini menjadi begitu percaya dia lari meninggalkan Yesus karena sukacita yang timbul dalam dirinya. Dia kemudian menceritakan kepada seisi kampungnya tentang Yesus. Bayangkan hanya sekali pertemuan yang mendalam yang membekas, bisa mengubah wanita yang bersuami banyak ini, menjadi pemberita Injil (kabar baik) hanya dalam sehari.

“Pertemuan dengan pembawa Sukacita surga akan membawa perubahan dalam hidup.”

PRINCE OF PEACE

PRINCE OF PEACE

Selamat Natal! Saat Natal tiba, apa yang Anda pikirkan? Palungan, lagu natal, kue natal, atau liburan, Ibadah, atau hadiah? Saya rasa Anda paling suka hadiah. Bagaimana kalau begini, Anda katakan saja Amin kalau Anda setuju pada setiap poin di daftar saya:

•            iPhone 12 Pro Max atau Galaxy Note 20 Ultra.

•            CBR atau Kawasaki Ninja 250cc.

•            PS5.

•            Baju baru.

•            Sepatu baru.

•            Pacar baru.

Untuk yang terakhir kelihatannya paling susah ya, apalagi buat yang sudah terlalu lama sendiri. Anda mungkin berkata tidak amin. Tapi buat saya daftar keinginan kita berhenti saat kita makin dewasa. Atau setidaknya daftar itu berubah menjadi hal-hal yang lebih signifikan buat hidup kita. Tidak sekedar yang penting ada bungkusnya.

Semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dan lain-lain), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40. Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Demikian juga dalam kita melihat kisah Natal. Dalam kedewasaan Kristen kita, Natal tidak sekedar palungan, orang majus dan para gembala. Kita ingin mencari tahu lebih dalam lagi tentang tujuan Natal. Mari kita lihat ayat tema kita di Yesaya 9:5-6. Dikatakan bahwa sang Mesias, yang dinubuatkan di Perjanjian Lama, digenapi di Perjanjian Baru dalam kehadiran Yesus, dan IA memiliki gelar Raja Damai.

Raja Damai berarti IA memiliki kedamaian yang berlimpah. Sama seperti kalau kita bilang si Poltak raja minyak, berarti ia memiliki minyak yang banyak. Perasaan damai ini yang menjadi barang mahal di dunia yang kacau ini. Bagaimana Yesus menggenapi bahwa IA adalah Raja Damai? Coba cek kisah Yesus meredakan badai di Markus 4:36-41 dan juga perkataanNYA yang penuh karunia damai sejahtera di Yohanes 14:27.

Berbicara tentang Yesus yang penuh damai, mengingatkan saya akan ayat-ayat di Lukas 4:18-19, 21. Yesus berkata mengenai Roh Tuhan, dan saya percaya sumber damai yang melebihi akal akan dimiliki mereka yang dipenuhi Roh Tuhan. Pribadi yang dipenuhi Roh Tuhan hidup dalam damai bahkan di saat-saat sulit. Kisah di dalam Perjanjian Baru ini terbukti dalam diri Rasul Petrus di Kisah Para Rasul 12:6-7.

Saya tahu ini masih jauh dari Perayaan Hari Pantekosta, dimana biasanya kita berdoa menanti kepenuhan Roh Kudus. Tetapi di Perayaan Natal kali ini pun Anda bisa meminta Roh Kudus hadir dalam hidupmu. Minta Roh Tuhan memenuhi dirimu, di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Ingat, bahwa yang kita rayakan kelahiranNYA hari ini namaNYA disebut “Imanuel” artinya “Allah menyertai kita.” Matius 1:23.

Sang Raja Damai, Tuhan Yesus Kristus sudah tidak ada secara fisik di muka bumi, karena IA sudah naik ke Surga dan akan kembali saat waktunya sudah genap. Namun sebelum IA kembali, ada Roh Kudus, Roh Tuhan, Roh Kristus yang akan menyertai kita. Saya tahu, mungkin Anda memimpikan suatu hadiah Natal di tahun ini. Tetapi semua hadiah natal yang kita terima akan rusak, hilang, dan kehilangan makna. Namun tidak dengan Roh Tuhan, IA akan ada selama-lamanya.

Anda mungkin ingat ayat terkenal ini, “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Lukas 11:10), tetapi mungkin Anda terlewat apa yang dituliskan di ayat 13, “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Meminta, mencari, dan mengetok di ayat yang terkenal ini ternyata bukan tentang barang jasmani atau hadiah Natal, melainkan Roh Kudus! Hari ini yang Anda rayakan bukan bayi yang terbaring di palungan. Hari ini yang Anda rayakan adalah sang Raja Damai. IA rindu memberikan Roh Kudus yang akan membawa Anda dalam damai, bahkan di masa sulit sekalipun.

Selamat Natal. Tuhan memberkati.

GodblesS

JEFF

GRATEFUL IN EVERY MOMENT

Tema Natal HOT adalah “Grateful in Every Moment.” Bagaimana kita bisa bersyukur di masa Natal ini, dan bahkan waktu-waktu sesudah Natal? Apa yang dihadapi para Anak Hamba Tuhan di masa seperti ini, dan bagaimana meresponinya?

Saya rasa masa-masa seperti ini adalah masa yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Masa dimana ada ketakutan yang menghantui di banyak aspek, Bahkan bagi sebagian orang menimbulkan keputusasaan. Namun sama seperti masa-masa sukar lain dalam sejarah, ada harapan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik.

Menarik sekali ada 4 hal yang juga terjadi di Natal pertama:

  1. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Matius 22:42.
  2. Ada ketakutan yang terjadi. Lukas 2:9.
  3. Ada keputusasaan. Lukas 2:7.
  4. Mengandung pengharapan. Matius 1:20-24.

Bagi rekan-rekan anak Hamba Tuhan secara khusus dan semua kita secara umum tentu ada hal-hal yang membuat kita berpikir di masa-masa seperti ini. Mengenai keadaan spiritualitas (baik pribadi maupun orang lain), keadaan orang tua kita, dan banyak hal lain. Namun demikian kita percaya ada rencana Allah di balik ini semua.

Saya rasa ada hal yang disampaikan pemazmur yang menunjukkan sikap kontras antara orang yang percaya kepada Tuhan dibandingkan dengan orang yang tidak percaya. Dalam Mazmur 59:16-17, ditunjukkan bagaimana mereka yang tidak percaya adalah orang-orang yang tidak bersyukur, dan membawa mereka kepada ketidakpuasan.

Namun sebelum menutup semua bahasan kita tentang “be grateful in every moment” saya ingin kita belajar sesuatu yang praktis dari tulisan Rasul Paulus di Roma 15:4. Saya ingin Anda juga membaca dari terjemahan NKJV.

“For whatever things were written before were written for our learning, that we through the patience and comfort of the Scriptures might have hope.”

Pada akhirnya pesan Natal di masa-masa seperti ini saya ambil dari Roma 12:12. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

GodblesS

JEFF

WAKTUKU TIDAK PERNAH CUKUP.

Ini adalah suatu pernyataan klasik dan kemudian menjadi suatu permasalahan. Karena sepertinya kita selalu dikejar-kejar waktu. Sepertinya waktu kita “habis” untuk pekerjaan dan/atau pelayanan. Pelayanan disini bukan sekedar pelayanan di gereja. Seringkali kita juga harus melayani keluarga kita, melayani “calon mamanya anak-anak”, melayani kebiasaan-kebiasaan dan hobi kita. Anda bisa perpanjang daftar ini.

Ketika kita merasakan waktu itu kurang, berarti ada yang salah dalam pengelolaan waktu kita. Waktu itu tidak pernah habis. Waktu itu hanya bisa “dimulai” dan “berhenti”. Bagaimana Anda “mengisi” slot waktu ketika itu bergerak saya rasa itu yang penting. Seperti Game Tetris kalau Anda masih ingat.

Seseorang yang membayangkan ada 25 jam per hari, 13 bulan per tahun adalah sama dengan orang yang berkata jadikan semua tetris adalah bujur sangkar. Ini adalah suatu imajinasi. Waktu tidak bisa ditambah, waktu tidak bisa dikurangi. Waktu akan terus berjalan.

Kalau Anda memperhatikan ayat yang tertulis di Kejadian 8:22  Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Mari kita bahas 3 kebiasaan orang yang efektif.

  1. Kebiasaan Pertama: Menjadi Proaktif

Banyak dari kita adalah orang yang reaktif, yang hanya bereaksi ketika sesuatu terjadi. Mereka tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang akan mengubah dirinya. Mereka adalah orang yang tahu ada tantangan, tahu ada hambatan namun mereka tidak berfokus pada hal itu. Mereka akan fokus pada apa yang bisa mereka ubah. Ini akan menyelamatkan banyak waktu Anda. Ketika Anda menyadari banyak Anda banyak komplain, mengeluh dan bersungut, disitu sebenarnya bahwa Anda sedang ingin sedikit berusaha, Anda tidak mau banyak bekerja.

Kejadian 29:20 Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

2. Kebiasaan Kedua: Berpikir mulai dari akhirnya.

Pengkhotbah 7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

3. Kebiasaan ketiga: Prioritas adalah yang pertama.

Markus 8:11-13 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

Yesus menjadi teladan bagaimana waktu itu digunakan. Ia tidak terbatas dengan waktu, namun Ia bisa mempergunakan waktu dengan efektif.

Yohanes 7:6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.Yesus menyelesaikan tugas atau misi dari Bapa hanya dengan 33.5 tahun hidupNYA di muka bumi. Bahkan secara khusus misi itu hanya dijalankan Yesus selama 3,5 tahun.

GodblesS

JEFF

Kemuliaan dan Kesombongan

Mazmur 115:1 (TB) Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!

Saya selalu tersentuh dengan lagu “Sgala Pujian & Syukur” dari Welyar Kauntu. Saya akan copy paste seluruh liriknya disini:

Kau Tuhan yang s’lamatkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan yang pulihkanku, t’rima kasih
Kau Tuhan yang sembuhkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan memberkatiku, t’rima kasih

S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu Yesus
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku

Siapakah kita yang bisa menyombongkan kerja keras, kecerdasan, keindahan fisik kita di hadapan DIA yang jauh melebihi kita. Hanya seorang yang bodoh berani menyombongkan dirinya di hadapan orang banyak.

GodblesS

JEFF

CHRISTIANITY AND PROFESSIONALISM

Ketika kita membahas dua variabel yaitu kekristenan dan hubungannya dengan profesionalisme, saya rasa kita harus memberikan batasan dalam pembahasan kita. Dalam durasi yang singkat kita tidak bisa membahas hal-hal ini secara detil dalam segala bidang kehidupan. Mari kita mulai dengan memberi batasan kita pada variabel pertama, “kekristenan.”

Kekristenan yang akan kita bahas adalah orang-orang Kristen yang berada di marketplace. Apa itu marketplace? Marketplace adalah kumpulan pilar-pilar penyokong suatu masyarakat atau komunitas. Marketplace membentuk dan menjadi karakteristik suatu masyarakat. Jika dikategorikan bentuknya kurang lebih seperti daftar ini:                              

  • Arts (Seni) & Entertainment (Media Hiburan/Informasi)
  • Business (Perdagangan)
  • Community (Komunitas)
  • Defense (Militer)
  • Education (Pendidikan)
  • Family (Keluarga)
  • Government (Administrasi Pemerintahan)

Dalam suatu masyarakat ada 3 tempat utama dimana individu-individu menghabiskan waktu mereka.

Profesionalisme diharapkan ditunjukkan di tempat kerja. Namun apa profesionalisme itu? Profesionalisme adalah cara bertindak, tujuan-tujuan yang dibuat, dan kualitas-kualitas yang menunjukkan suatu pekerjaan oleh seseorang sesuai dengan bidang keahliannya. Sehingga dari definisi ini ada tiga karakter pribadi yang profesional:

  • Cara bertindak/perilaku yang terukur dan adaptif.
  • Tujuan yang jelas dan menyeluruh.
  • Kualitas pekerjaan yang baik.  

Bagaimana seorang Kristen di marketplace bisa mengembangkan tiga karakter tersebut?

  • Bekerja dengan baik dan pantas di hadapan semua orang. 1Tesalonika 4:11-12. Seorang profesional muda Kristen harus terus mengembangkan diri dan belajar untuk dapat meningkatkan kemampuan di bidang pekerjaannya. Ia juga dapat melakukan bebas dari ketergantungan terhadap orang lain, dan mudah beradaptasi dengan perubahan.
  • Menentukan segala sesuatu dengan perencanaan yang baik. Roma 8:28. Seorang profesional muda bekerja dengan inspirasi Illahi. IA mengerjakan segala sesuatu dengan perencanaan dan tujuan akhir yang baik.
  • Memastikan kualitas pekerjaan. Kolose 3:23. Seorang profesional muda tidak membiarkan pekerjaannya hanya baik Ketika diperhatikan saja. Ia berusaha memberi yang terbaik, karena ia bangga dengan apa yang dikerjakannya.

Jika seorang Kristen menunjukkan profesionalisme dalam yang dilakukannya, maka orang-orang yang melihatnya akan mengenal nama Tuhan yang membuatnya dapat melakukan pekerjaan tersebut. Lihat apa kata Tuhan kepada Musa tentang Bezaleel, ahli dalam pembuatan komponen-komponen Kemah Tabernakel. Keluaran 31:2. Semua manusia masih memiliki keahlian yang Tuhan sudah berikan, bahkan meskipun orang itu tidak layak atau tidak percaya. Tentu saja bagi profesional muda Kristen kita rindu seperti Bezaleel yang memiliki keahlian dan inspirasi Roh Allah yang membuat keahlian itu semakin meningkat.

  • Apakah panggilan Anda bisa ditemukan dalam kategori-kategori di Marketplace?
  • Dimana waktu sehari-hari Anda dihabiskan? Apa yang Anda bisa tunjukkan secara profesional disana?
  • Jika membaca Kisah Para Rasul 17:16-19 dan 22-34, apakah  Anda dapat menemukan ketiga karakter profesional? 

GodblesS

JEFF

TRADISI

Tradisi adalah kebiasaan yang kita ulangi karena seseorang melakukannya dan kemudian hal itu kita anggap sebagai sesuatu yang baik.

Saya selalu melipat plastik pembungkus, kertas pembungkus, atau kertas tisu yang sudah tidak dipakai dalam 4 langkah. Hal ini saya lakukan karena pernah saya lihat dilakukan oleh ayah saya. Suatu hari, kalau tidak salah di Brisbane, Australia, ketika berada di suatu café, kami berdua melipat bungkus makanan ringan yang kami ambil dengan cara yang sama. Hal itu dilakukan tanpa sadar, karena ayah saya mengajari untuk melipat sampah plastik atau kertas dengan rapi sehingga tidak mengambil banyak tempat dan juga terlihat berantakan di atas meja.

Dalam hidup kita ada banyak kebiasaan kita dipengaruhi tradisi yang diturunkan atau dipelajari langsung atau tidak langsung. Saya pernah menyampaikan di salah satu kelas PETC tentang konsep Quadrilateral dari Wesley. Bahwa teologi kita dipengaruhi oleh 4 hal yaitu: pengalaman, nalar, tradisi, Firman/Pewahyuan.

Tradisi menjadi sesuatu yang negatif ketika dilakukan untuk menghakimi. Lukas 11:37-39. Namun bukan berarti semua tradisi berarti adalah hal yang negatif, Yesus misalnya mengingatkan di ayat 42 bahwa sesuatu yang baik (dalam hal ini persembahan persepuluhan) harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (hal-hal yang menunjukkan keadilan dan kasih Allah). Dengan demikian sebenarnya Yesus tidak meniadakan persepuluhan.

Mengenai persepuluhan, bahkan dalam konsep Kasih Karunia, persembahan ini tidak terbatas pada bilangan sepersepuluh, karena di Lukas 21:1-4 Yesus memuji seorang janda miskin yang memberi lebih banyak karena rasio yang ia miliki dibandingkan yang ia persembahkan. Demikian juga di kisah Zakheus, meskipun tidak berhubungan secara langsung dengan persepuluhan.

Kita bisa lihat bagaimana Kasih Karunia membuat seseorang bertobat dengan memberi lebih (4 kali lipat)

Lukas 19:8

Padahal tradisi hukum Taurat menuliskan sesuatu yang diperas hanya perlu dikembalikan 1 kali lipat ditambah seperlima (Imamat 6:4-5). Jadi bilangan sepersepuluh hanyalah ambang batas bawah, ambang batas atas itu bisa jadi lebih dari sepersepuluh, namun harus diingat bahwa persembahan dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (Markus 7:11-13).

Tradisi adalah sesuatu yang baik ketika itu diajarkan dengan pengertian dan dengan teladan. 1Timotius 4:11-12. Tentu saja menjadi teladan di ayat ini tidak terbatas hanya untuk Timotius yang muda. Petrus meminta pembaca dan pendengar suratnya (dari semua usia) untuk mengikuti teladan penderitaan Yesus. 1Petrus 2:21.  

Mengenai penderitaan, saya rasa jika Anda cukup beruntung, Anda tidak benar-benar bisa memahami penderitaan Yesus, jika dibandingkan dengan keadaan Anda yang lebih baik. Maksud saya, meskipun Anda belum memiliki rumah, setidaknya Anda memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Anda juga tidak sedang didalam plot pembunuhan, seperti yang Yesus hadapi. Mungkin satu hal yang kita rasakan berat adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai Alkitab, tetapi toh demikian, Anda masih hidup di negara dimana setidaknya Anda bisa beribadah.

Jadi satu hal yang terbersit di benak saya adalah sekali lagi mengenai persembahan. Apapun itu bentuk persembahan yang kita bisa kita berikan, memberi adalah sesuatu yang “menyakitkan” apalagi di masa krisis. Tetapi sekali lagi kita ditantang untuk “memberi bukan dari kelimpahan, tetapi memberi dari kekurangan, bahkan seluruh nafkahnya”. Lukas 21:4.

Saya berharap Anda bisa merenungkan ini masing-masing, dengan motivasi hati yang murni. Apa yang bisa saya persembahkan kepada Tuhan di hari-hari seperti ini? Apa yang Tuhan ingatkan di hati Anda tentang persembahan? Siapa yang perlu memulainya? Apa dan berapa yang harus saya “korbankan”?

Karena korban selalu berarti kehilangan.

Contohnya Yohanes 3:16

Tetapi kehilangan untuk mendapatkan seperti apa yang Yesus sampaikan di Matius 6:19-20. Jangan terjebak pada tradisi “saya sudah lakukan ini dari dahulu” tetapi ambil waktu, renungkan apa yang Tuhan ingin Anda lakukan, yang belum Anda pikirkan sebelumnya. Ini bukan demi program Gereja, Organisasi MD, atau demi citra kita di Media Sosial. Lakukan demi DIA yang bisa melihat sampai tempat tersembunyi.

GodblesS

JEFF

MENGELOLA KEUANGAN

PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR (Lukas 16:1-9)

Perumpamaan ini disampaikan Tuhan Yesus dalam rangkaian pengajaran dengan topik khusus yang IA berikan kepada murid-muridNYA (tidak terbatas kepada dua belas murid). Untuk perumpamaan ini Yesus berusaha mengajarkan tentang pengelolaan atau penatalayanan. Dalam Bahasa Inggris dipakai kata “stewardship” dimana didalam kata ini mengandung konsep “perencanaan yang bertanggungjawab” dan “pengelolaan sumber daya.”

Jika kita ingin mengesampingkan istilah-istilah teknis tadi. Apa yang Yesus ajarkan adalah mengenai prinsip pengelolaan uang. Namun menarik yang Yesus pakai adalah contoh dari seseorang yang tidak jujur. Tetapi kita bisa memahami bahwa Yesus selalu mengajar relevan dengan keadaan orang-orang yang diajarnya. Sehingga beberapa penafsir Alkitab melihat bahwa Yesus sedang mengajar “murid-muridNYA” secara luas, yang didalamnya termasuk para pemungut cukai.

Mengenai pemungut cukai, saya rasa Anda sudah banyak mengerti bagaimana negatifnya perspektif orang Yahudi terhadap mereka. Saya rasa Anda juga mengerti kalau pemungut cukai (atau orang pajak) pasti sangat erat dengan uang. Jadi jelas ketika Yesus bercerita tentang orang kaya dan bendahara, para pemungut cukai dapat terhubung dengan cerita yang Yesus sampaikan.

Dalam memahami teks Alkitab kita perlu mengerti apa yang menjadi tujuan penulis teks tersebut. Dalam bagian tulisan antara pasal 9 sampai 16 ada beberapa kali Lukas berusaha membawa pembacanya untuk mengerti bahwa ada penolakan terhadap Yesus oleh beberapa pihak. Namun demikian Yesus tetap menyampaikan apa yang menjadi kehendak Bapa, karena memang itu yang menjadi tujuanNYA. Yohanes 4:34.

Pembahasan mengenai uang memang sesuatu yang sensitif baik di Gereja maupun di luar Gereja. Sehingga apa yang Yesus sampaikan lewat perumpamaan ini tetap relevan bagi siapapun Jemaat yang sedang mendengarkan. Beberapa poin mengenai perumpamaan ini:

  1. Cinta akan uang akan membawa pada penyimpangan keuangan. Lukas 15:1. Ini berlaku di level pribadi dan di level institusional, kejahatan karena cinta uang. 1Timotius 6:10. Seorang Kristen seharusnya dapat mempertanggungjawabkan semua keuangan yang dipercayakan padanya. Lukas 15:2.
  2. Meminta bantuan keuangan tanpa bekerja seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan. Lukas 15:3. Bekerjalah untuk sesuatu yang Anda inginkan. 2Tesalonika 3:10.
  3. Memikirkan diri sendiri akan membuat kita lebih bersalah dalam hal keuangan. Lukas 15:4. Ini menjadi salah satu ciri kondisi di Akhir Zaman. 2Timotius 3:2.

Masih ada banyak hal lain mengenai hal mengelola keuangan tetapi patut diperhatikan bahwa di Lukas 15:8a pujian bagi bendahara yang tidak jujur ini adalah bagian dari cerita, bukan untuk menjadi teladan. Maksudnya diungkap Yesus di bagian sesudahnya (Lukas 15:8b, 9), bahwa segala sesuatu itu bisa menjadi baik jika dikelola dengan baik, bukan untuk “dicintai” tidak sebagaimana mestinya.

Hiduplah dengan tujuan keuangan yang jelas, bukan untuk menjadi hamba dari uang, namun tuan atasnya.  

GodblesS

JEFF

HAMBA TUHAN DAN JEMAAT BIASA

Saya rasa Anda pasti pernah mendengar ungkapan, “Saya kan hanya jemaat biasa, bukan hamba Tuhan…” Kemudian ini menjadi alasan untuk hidup dengan standar yang dibedakan. “Kalau hamba Tuhan harus suci, saya tidak perlu suci-suci amat, kan saya cuma jemaat.”

Jemaat Tuhan, memang sering dalam kehidupan berjemaat kita mengelompokkan orang-orang yang memang hidup sepenuh waktu dalam aktivitas Gereja disebut sebagai “hamba Tuhan.” Kemudian mereka yang tidak hidup sepenuh waktu di Gereja dan tidak melayani disebut sebagai “jemaat biasa.”

Namun demikian ada 3 bagian di dalam surat dari Rasul Petrus dimana sebenarnya semua orang percaya diminta untuk memiliki standar yang sama:

  1. Bayi rohani. 1Petrus 2:2. Perlu diperhatikan yang jadi perhatian adalah “kerinduan untuk yang murni dan rohani,” bukan kondisi “bayi rohani” yang tidak dewasa.  
  2. Batu hidup. 1Petrus 2:5. Kita adalah bagian dari keseluruhan pekerjaan Allah yang lebih besar.
  3. Bangsa yang terpilih – imamat yang rajani – bangsa yang kudus. 1Petrus 2:9. Kita semua yang percaya dipilih, diberi amanat pelayanan, posisi untuk memimpin (bukan jabatan tetapi pengaruh), dan disucikan.

Jadi berhentilah untuk bersembunyi dibalik salah satu kategori, apakah “hamba Tuhan” ataukah “jemaat biasa.” Karena Allah menginginkan kita semua untuk menjadi alat bagi pekerjaan Allah di muka bumi, sampai Yesus datang kembali kali kedua.

GodblesS

JEFF