MISKOMUNIKASI

Saya ingin memulai dengan menjelaskan tentang komunikasi, dan semoga ini bisa memberi gambaran dasar dari apa yang akan saya sampaikan.

Mengenai komunikasi, kita bisa berbicara banyak mengenai hal ini sepanjang hari. Anda berbicara, Anda menulis surat, Anda mengirim pesan singkat atau SMS, Anda menulis status di media social, Anda memakai baju yang sekarang Anda pakai, dan lain sebagainya, dan dengan banyak cara kita berkomunikasi.

Namun saya berusaha “memeras” keluar intisari dari komunikasi, dan ini yang saya dapatkan: komunikasi adalah cara dari satu pihak dalam menyampaikan ide kepada pihak lain, untuk mencapai suatu tujuan. Saya memberi highlight atau penekanan kepada 3 kata, yang menurut saya menjadi esensi.

Pertama, ide. Ini adalah gagasan, suatu pemikiran, suatu rancangan.

Kedua, cara atau metode. Ini adalah suatu alat bantu, suatu strategi yang digunakan.

Ketiga, tujuan. Ini adalah hasil akhir yang ingin dicapai.

Dari ketiga hal ini bisa saja salah satunya (atau bahkan ketiganya) berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan dan mengakibatkan terjadinya: MISKOMUNIKASI atau GAGAL PAHAM.

Miskomunikasi terjadi ketika ide tidak tersampaikan dengan baik dan ada halangan terhadap cara penyampaiannya. Menurut Anda apakah Allah berusaha berkomunikasi dengan manusia? Anda berkata lewat Alkitab, lewat khutbah, lewat suara Roh Kudus, dan lain sebagainya.

Kemudian saya mulai berpikir apakah ada ketiga komponen itu dalam komunikasi Allah dengan manusia?

Tentang ide, Allah adalah sumbernya DIA yang memiliki ide tentang ciptaan, termasuk di dalamnya penciptaan manusia. Kejadian 1:26.

Tentang tujuan, di ayat yang sama dituliskan bahwa manusia diciptakan supaya berkuasa. Berkuasa disini adalah bertanggungjawab atas seluruh bumi. Karena itu ide “eksploitasi” bumi dan isinya secara tidak bertanggungjawab itu jelas bukan ide Tuhan.

Tentang caranya, Allah menyediakan kebutuhan manusia di ayat 29, memperlengkapi dengan manusia lain di ayat 27, dan mendorong terjadinya multiplikasi di ayat 28.

Ingat komunikasi adalah IDE (untuk mencapai) TUJUAN (melalui) CARA (tertentu).

Alur ini berlaku di setiap kisah dalam Alkitab. Coba bayangkan kisah Abraham, Israel, Ayub, Yesus, dan coba sekarang bayangkan alur yang sama dalam kisah hidup Anda.

Allah punya ide yaitu gagasan, pemikiran, rancangan yang luar biasa untuk Anda. Yeremia 32:18-19.

Tujuannya adalah sesuatu yang mulia bagi Anda. Roma 9:20-21.

Caranya adalah dengan menguduskan, dan melalui karya Roh Kudus Anda taat. 1Petrus 1:2.

Allah berusaha mengomunikasikan ini terhadap manusia dari awal sampai akhir. Lukas 4:18-19. Tentu saja kita tidak bisa memiliki “kertas contekan” dalam memahami ini, tetapi Tuhan memberi “kisi-kisi” atau pedomannya bagi Anda.

Namun demikian komunikasi ini tidak berjalan selalu mulus. Karena melibatkan kita yang penuh dengan hambatan. Kita tahu hambatan komunikasi bisa jadi 1001 macam. Mulai dari hambatan kekinian, seperti sinyal jelek, tidak ada pulsa, dan belum beli kuota, sampai alasan klasik seperti si pendengar yang menutup telinganya, atau karena indera pendengaran dan indera penglihatannya yang rusak.

Tetapi untuk menutup sharing saya malam hari ini saya akan sampaikan 3 hal yang membuat miskomunikasi ini terjadi.

  1. Asumsi yang salah. Kejadian 3:8. Adam dan Hawa mendengar langkah Tuhan dan mereka bersembunyi, ini bukan yang Tuhan ingin komunikasikan. Saya pernah mendengar pengajaran bahwa Israel tidak pernah terbunuh karena kesalahan mereka dalam perjalanan dari Mesir ke Gunung Sinai, tetapi setelah mereka menjawab Tuhan dengan kebenaran diri sendiri di kaki Gunung Sinai, mereka jatuh dalam dosa yang lebih fatal.
  2. Tidak mau mendengar. Yeremia 13:11. Allah sudah punya strategi terbaik untuk Anda, jangan hancurkan itu hanya karena Anda tidak mau mendengar (mengabaikan).
  3. Belum move on. Yesaya 43:16-19. Benar DIA Allah EbenHaezer, tetapi DIA juga Allah yang dinamis, DIA ingin membuat sesuatu yang baru, supaya Anda bisa berkata, ini Tuhan, ini bukan manusia.

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

KETAKUTAN DAN PENGHARAPAN

 Mari kita mulai bahasan kali ini dengan membaca Ibrani 13:6. Siapa yang tidak pernah merasa takut? Saya rasa tidak ada orang yang tidak pernah merasa takut, tetapi yang membedakan rasa takut adalah derajat rasa takutnya. Sama seperti rasa dingin yang membedakan adalah derajat dinginnya.

Rasa takut itu penting dalam hidup manusia. Dalam kajian Psikologi rasa takut bisa dilihat baik dari sisi positif, yaitu menjadi alarm untuk bahaya yang mengancam, maupun sisi negatif, yaitu menjadi penghambat untuk bertindak. Sekarang kalau Anda melihat ke belakang, apa respons Anda jika mengalami ketakutan?

Kita akan belajar hari ini untuk melihat bahwa Allah memakai hal-hal yang menakutkan untuk membuka “jendela kesempatan”. Ketakutan menjadi kesempatan tokoh-tokoh Alkitab ini untuk mengambil keputusan, membuktikan komitmen, dan mengevaluasi diri. Mari kita lihat satu per satu:

  1. Daud – melihat kesempatan mengambil keputusan di tengah-tengah hal yang menakutkan yaitu suatu ketidaknormalan. (1 Samuel 17:34-37).
  2. Daniel – selalu lolos ketika diuji dengan tantangan maut karena komitmennya pada Allah. (Daniel 2:13-20, Daniel 6:11-29).
  3. Paulus – pengalamannya dengan bahaya demi nama Kristus membuat ia terus mengevaluasi diri. (2 Korintus 11:23-28, 2 Korintus 12:9).

Ketiga tokoh yang baru saja kita bahas begitu berbeda situasi dan kondisinya. Namun apa persamaan dari mereka? Ada dua hal: Mereka percaya & berharap kepada Tuhan. Mengenai percaya mari kita baca Galatia 3:5-6. Percaya itu ada jauh sebelum ada hukum Taurat dan Injil. Abraham percaya karena itu ia dibenarkan, bagaimana bentuk percaya kita pada Tuhan?

Berharap adalah sesuatu yang didasarkan pada kemampuan Tuhan, bukan untung-untungan. 1 Timotius 4:10.Kita percaya bahwa Allah mampu, dan pengharapan kepada Allah yang hidup yang akan menghidupkan kita. Kita tidak takut akan penyakit, marabahaya, bahkan kematian sekalipun.

GodblesS

JEFF

THE POWER OF YOUNG MEN

Selamat malam rekan-rekan muda yang luar biasa. Semoga semua ada dalam kondisi yang baik, di tengah-tengah situasi yang tidak biasa ini. Ada satu ayat yang selalu ada di pikiran saya ketika berbicara dengan orang-orang muda, ayat itu ada di dalam Yosua 1:9.

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Malam hari ini kita akan berbicara tentang kekuatan orang muda, sesuatu yang perlu diketahui untuk mengerti kondisi Anda sekarang, dan merencanakan hal-hal yang akan datang. Dua hal mengenai kekuatan yang saya ingin Anda mengerti, yang pertama berasal dari Perjanjian Lama dan yang kedua berasal dari Perjanjian Baru.

Mari kita langsung bahas yang pertama dari Mazmur 8:3.

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Ini mengacu pada kekuatan perkataan yang dimiliki oleh orang-orang muda bahkan sejak mereka sangat kecil. Macam perkataan seperti apa yang dimaksud ayat ini dijelaskan oleh Yesus ketika IA mengutip perkataan pemazmur di dalam Matius 21:16. Puji-pujian yang keluar dari mulut orang-orang muda adalah kekuatan. Tentu saja ini adalah cambuk bagi orang-orang muda untuk lebih lagi terlibat aktif dalam puji-pujian kepada Tuhan.

Bayangkan kekuatan Anda ada dalam sesuatu yang begitu mudah diakses, Anda tinggal membuka mulut dan memuji Tuhan. Itulah mengapa di GPdI selalu ditekankan untuk memuji Tuhan dengan perkataan “Haleluya!” yang artinya terpujilah Tuhan. Baru kemudian kita memberkati seseorang dengan perkataan-perkataan yang baik, bukan sebaliknya. Karena dalam puji-pujian terletak kekuatan orang muda.

Kita beralih ke bahasan yang kedua dari 1Yohanes 2:14.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Ayat ini berbicara tentang tingkat kekristenan, orang Kristen anak, orang Kristen muda, dan orang Kristen Bapa. Tetapi saya tidak akan membahas mengenai perbedaan antara ketiganya, tetapi fokus saya adalah apa yang bisa dilakukan oleh orang Kristen muda. Memang betul tingkat kekristenan tidak bisa ditentukan oleh usia fisik. Tetapi menjadi doa saya bahwa apa yang dituliskan oleh Rasul Yohanes ini benar-benar menjadi kekuatan Anda, yaitu orang-orang yang kuat (dalam bahasa aslinya juga bisa berarti “berkuasa”), yang memiliki firman Allah di dalam dirinya, dan telah mengalahkan yang jahat.

Kalau kita kembali ke Kitab Yosua, menarik bahwa di Yosua 1:7-8 disebutkan dua kata yang semua dari kita inginkan baik sekarang maupun di masa depan yaitu “beruntung” dan “sukses”.

Keberuntungan dan kesuksesan dalam Alkitab bukan berasal dari latar belakang seseorang tetapi dari respons seseorang terhadap firman Allah. Jadi jangan takut kalau Anda tidak memiliki latar belakang yang luar biasa, karena respons Anda terhadap firman Allah yang akan menentukan jalan hidup Anda.

Mengenai hal ini diperlukan iman yang perkasa yang saya percaya sudah Anda pelajari di sesi sebelumnya. Malam ini Anda mempelajari bahwa Anda punya kekuatan dalam puji-pujian, dan Anda berkuasa untuk menaklukkan apa yang jahat karena firman Allah ada di dalam Anda. Jadi bagaimana Anda merencanakan masa depan setelah mengetahui kekuatan Anda sekarang, Anda bisa hidup berkemenangan dalam segala aspek, hubungan dengan sesama (keluarga, teman, masyarakat luas) dan dalam hubungan dengan Tuhan.

GodblesS

JEFF

PANTEKOSTA HERANLAH

Selamat datang di GPdI Mahanaim untuk Bapak/Ibu/Saudara/i yang hadir di Ibadah Peringatan Hari Pantekosta. Kisah Para Rasul 2:1, 4. Mengapa ada perbedaan istilah “pantekosta” dan “pentakosta”? Menurut asal katanya “pentakosta” berasal dari kata Yunani “pentekoste”. Secara harafiah berarti hari yang kelimapuluh. Gereja Pantekosta di Indonesia memakai istilah “pantekosta” dari Alkitab yang digunakan para pionir GPdI saat itu. Mereka menggunakan Alkitab berbahasa Melayu dari H.C. Klinkert yang terbit dan mengalami beberapa revisi di tahun 1800an. Kutipan langsung dari Kisah Para Rasul 2:1 adalah seperti ini: “Kapan Soedah sampe hari Pantekosta, di orang samowa ada berkoempoel dengan satoe hati ….”

Pengalaman Pantekosta bukanlah pengalaman sektarian, maksudnya hanya dialami oleh gereja-gereja pantekosta saja. Seharusnya ini adalah pengalaman dari seluruh orang yang percaya kepada Kristus. Karena Yesus pernah berkata bahwa lebih baik untuk pengikut Kristus mengalami pengalaman bersama oknum “Penghibur” yaitu Roh Kudus. Yohanes 16:7.

Yesus Kristus adalah oknum Allah yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes 1:14. Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Kasih Karunia. Ibrani 10:29. IA yang membuat seseorang bisa mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. 1Korintus 12:3. Dari sini kita bisa melihat kontinuitas dari karya kasih karunia Allah. Mulai dari penciptaan, pemilihan Abraham sebagai orang pilihan Tuhan, keturunannya (Israel) sebagai bangsa pilihan Allah, sampai kepada Gereja. Semuanya tentang kasih karunia Allah, dan tidak dapat diupayakan oleh hasil usaha kita. Efesus 2:8-9.

Itulah mengapa kita tidak dapat membanggakan diri terhadap kasih karunia yang kita dapatkan. Ilustrasi Hotman Paris, Basuki Tjahaja Purnama, Jeffrey S. Tjandra, Agnez Mo, siapa yang paling benar? Menurut Firman Tuhan tidak satu pun yang benar (Roma 3:10 dimana Paulus menulis berdasarkan Mazmur 14:1-3). Sehingga tidak mungkin seorang manusia menilai dirinya lebih benar dari yang lain, kalau semua manusia sama-sama mendapat kasih karunia.

Demikian karya Roh Kudus di Hari Pantekosta adalah bagian dari kasih karunia Allah. Suatu pemberian yang baik (Lukas 11:13) yang datang dari atas (Yakobus 1:17). Itu bukan untuk dibandingkan tetapi untuk dialami dan membawa perubahan, yaitu hidup menurut kehendak Allah. 1Petrus 4:6.

Kepenuhan Roh Kudus adalah kasih karunia tetapi orang tersebut harus mengalami pengalaman keselamatan di dalam Yesus Kristus terlebih dahulu (Kisah Para Rasul 4:12). Kemudian perlu diperhatikan bahwa komunitas memegang peran penting dalam seseorang menerima baptisan dan kepenuhan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:1, 4; 4:31; 8:17; 10:44; 19:6).

Ini adalah pengalaman yang mengherankan karena Allah akan menyatakan diriNYA kepada mereka yang memiliki Roh Allah di dalam dirinya. 1Korintus 2:11. Heran karena Allah memberikan kuasaNYA bagi manusia. Kisah Para Rasul 1:8. Ini adalah sesuatu yang hanya menjadi angan-angan bagi orang-orang di luar Yesus, tetapi bagi kita ini adalah sesuatu yang nyata, sehingga kita bisa berseru seperti pemazmur: “Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.” (Mazmur 86:8).

JAMINAN ORANG PERCAYA

Efesus 1:13-14 menjelaskan kepada kita tentang dua kata kunci yang berkaitan dengan Roh Kudus. Kata pertama adalah “meterai”, dan kata kedua adalah “jaminan”.

Roh Kudus adalah meterai bagi kita karena sekarang kita adalah milik Allah. Seperti seseorang yang membubuhkan meterai di dalam sebuah dokumen yang pasti, yang berkekuatan hukum, dan yang sah. Anda tentu ingat apa yang dikatakan Rasul Paulus di Roma 10:13-14 tentang tahapan seseorang yang memperoleh keselamatan.

Dimulai dari mendengar, kemudian percaya, lalu berseru, dan seseorang diselamatkan. Apa yang memastikan seseorang sudah menerima keselamatan itu? Ia memiliki pekerjaan Roh Kudus dalam dirinya dan memiliki akses untuk menerima baptisan/kepenuhan Roh Kudus. Paulus juga menjelaskan mengenai ini di 2Korintus 1:22. Kemudian mengapa disebut mengenai jaminan?

Karena Anda adalah milik yang sah dari Allah maka Anda juga mewarisi semua keuntungan dari status Anda. Keuntungan itu adalah kehidupan kekal di dalam tubuh yang akan diubahkan, persekutuan dengan Kristus, dan sukacita untuk selama-lamanya. Roma 14:17.

Saat Anda percaya, Anda akan melihat pekerjaan Roh Kudus yang mengubahkan, membawa Anda dekat, bahkan bersatu dengan Kristus, dan sukacita yang tidak dapat dijelaskan. Namun itu semua hanya sebagian dari kepenuhan yang akan Anda terima ketika semuanya dinyatakan dalam kekekalan.

Karena itu apa yang sekarang kita lakukan adalah percaya penuh dalam jaminan Allah. IA, “sang penjamin” ini adalah pribadi, mari kita bersekutu dengan DIA, minta DIA memenuhi kita, dengan jaminan yang pasti kita akan dapat bergerak dan menjadi saksi bagi Kristus tanpa rasa takut dan gentar. Kisah Para Rasul 4:31.

GodblesS

JEFF

ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Ester ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

Mahanaim Q&A (Episode tentang Allah)

Ada dua pertanyaan yang mungkin ada di benak seseorang yang belajar tentang Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:  

  1. Siapakah yang menciptakan Allah?
  2. Darimana datangnya Allah?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kita akan membahas dengan topik “Allah yang Esa dan Benar” dan topik “Keberadaan Allah”.

ALLAH YANG ESA DAN BENAR

Dalam pengakuan iman Gereja Pantekosta di Indonesia disebutkan di poin kedua tentang hal ini: “Kami percaya Allah Yang Maha Esa dan kekal dalam wujud Trinitas : “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, Keesaan namaNya yaitu: “TUHAN YESUS KRISTUS“.[1] Kita percaya pernyataan ini Alkitabiah dan menjadikannya pernyataan pribadi kita juga. Suatu pernyataan disebut Alkitabiah ketika pernyataan itu berkaitan dengan wahyu Tuhan (dalam Alkitab).[2] Hal ini juga sinonim dengan istilah “biblikal”, kata serapan dari Bahasa Inggris “biblical”.[3] Meskipun istilah biblikal lebih spesifik mengacu kepada Alkitab daripada istilah “Alkitabiah” kalau dipandang dari sisi kebahasaan (etimologi).

Dalam Gereja, sering disebutkan mengenai istilah “Anak Allah”. Secara umum dalam kekristenan Anak Allah adalah Yesus. Lukas 3:38. Hal ini sudah ada sejak pengakuan iman dirumuskan oleh Gereja di abad-abad awal, khususnya untuk membedakan pengikut Kristus sejati dengan pengikut ajaran Gnosticism dan Marcionism.[4]  Yesus disebut Anak Allah bukan karena Allah Bapa melahirkan Yesus, namun karena DIA berasal, atau memperjelas pernyataan bahwa IA diutus (oleh Bapa).[5]

Karena itu kita sebenarnya bisa berkata bahwa Allah tidak diperanakkan dan memperanakkan, karena memang Allah adalah Esa. Menarik ketika ada orang-orang yang berusaha menjelaskan bahwa “Allah itu Esa”, dengan menentang konsep “Anak Allah” dalam Alkitab. Padahal jika Anda membaca Markus 12:32 dan Yudas 1:25, maka Anda akan dengan lantang berkata: Amin, DIA Allah yang Esa!

Allah kita juga adalah Allah yang benar. Memang ada usaha-usaha untuk membuat bahwa perkataan-perkataan Yesus seolah-olah mengacu kepada tokoh lain dalam sejarah. Usaha ini jelas terkandung dalam Injil Barnabas (tulisan yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab). Tetapi Philip Jenkins, seorang profesor sejarah dari Baylor University menyatakan bahwa tulisan ini (Injil Barnabas) adalah tulisan tentang Yesus yang dibuat sekitar abad ke-14, jauh sesudah manuskrip Perjanjian Baru ditulis di abad pertama.[6]

Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Dr.Bambang Noorsena, Firman itu menjadi manusia dan sama sekali tidak memisahkan Firman itu dari Allah.[7] Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus. Ini penting untuk kita percaya dengan sungguh, karena akan ada banyak pertentangan tentang Allah yang benar di zaman dimana kebenaran absolut dipertanyakan.

KEBERADAAN ALLAH

Keberadaan Allah menjadi sesuatu yang diperdebatkan khususnya di negara-negara maju. Menariknya hal ini adalah sesuatu yang pada zaman dahulu bukan merupakan perdebatan. Dahulu pengakuan akan adanya Tuhan adalah pengetahuan kolektif dari semua orang dan bangsa. Namun perdebatannya adalah Tuhan/Allah/Dewa yang mana yang lebih kuat. Kita bisa melihat ini di dalam Alkitab pada kisah teror juru minuman agung dari Raja Asyur kepada rakyat dan perwakilan Raja Yehuda, Hizkia.[8]

Doktrin tentang keberadaan Allah menjelaskan siapakah Allah dan bagaimana Allah bisa dikenal manusia. Allah adalah oknum yang sangat berbeda dengan segala hal yang dikenal manusia di alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh DIA, sehingga IA tinggal di luar alam semesta yang kita kenal ini, dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat, dan materi.[9] Keberadaan Allah melebihi segala hal yang kita pikirkan dan mengerti, hal ini sudah menjadi pertanyaan orang-orang sejak zaman Ayub.[10]

Alkitab berusaha menjelaskan bahwa Allah ada dari mulanya, dan bahwa konsep tentang Allah adalah bagian mendasar dari pemikiran manusia. Meninggalkan konsep tentang Allah membuat manusia menjadi irasional. Pada akhirnya manusia menghidupi kehidupan yang tanpa arti dan arah.[11] Meskipun Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah (lihat paragraf pertama), namun ada beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa Allah ada, yang dirangkum oleh Menzies dan Horton (lihat catatan kaki), dari pemikiran Thomas Aquinas di abad pertengahan (abad ke-13):

  1. Argumen Ontologis. Maksudnya adalah penjelasan tentang asal muasal sesuatu. Bahwa jika sesuatu itu sempurna maka ia akan ada dalam kenyataan. Apabila “Sesuatu yang Sempurna” (Perfect Being), yaitu Tuhan, itu tidak nyata, maka IA tidak sempurna. Karena kita percaya Allah itu sempurna, maka pastilah IA nyata.
  2. Argumen Kosmologis. Argumen ini adalah kelanjutan dari argumen sebelumnya. Segala sesuatu itu berasal dari sesuatu yang ada sebelumnya. Maka jika alam semesta ini terus dicari asalnya atau sumbernya, maka akan sampai pada satu “Penyebab Pertama” (First Cause), “Sesuatu” yang dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran yang lain terlebih dahulu.
  3. Argumen Teleologis. Bahwa segala sesuatu itu diciptakan untuk suatu tujuan dengan desain tertentu (by design). Segala sesuatu yang dipelajari manusia dan dibukakan melalui ilmu pengetahuan, membuat kita terkagum akan detil-detil yang dimiliki oleh benda-benda mati yang membentuk dunia ini, dan mahluk-mahluk hidup yang ada di dalamnya. Sehingga kekaguman itu ditujukan kepada desainer awal dari alam semesta ini, Sang Pencipta.
  4. Argumen Moralitas. Bagaimana manusia menilai sesuatu salah atau benar adalah berdasarkan dari “Sang Pemberi Hukum” dari alam semesta. Manusia sadar betul akan adanya hukum moralitas ini, meskipun dipahami berbeda dalam setiap budaya.
  5. Argumen Estetis. Keindahan ini dinilai berbeda oleh manusia satu dengan yang lain, tetapi konsep keindahan ini ada dan manusia mengapresiasinya. Keindahan ini pasti diberikan oleh “IA” yang begitu indah dan penuh kasih.

Kelima argumen diatas akan terlalu lemah untuk berdiri masing-masing. Tetapi kesatuan penjelasan kelimanya meneguhkan apa yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna (Ulangan 32:4, Matius 5:48). IA ada sejak dari mulanya, dan karena DIA-lah segala sesuatu ada (Kejadian 1:1, Yesaya 40:18-22, Yohanes 1:3, Wahyu 22:13). Betapa Allah membuat dan menyiapkan segala sesuatu dengan rancangan yang luar biasa detil (Mazmur 139:14-17, Efesus 1:3-10). Allah menetapkan hukum-hukumNYA dalam hati setiap manusia (Ayub 35:11, Roma 2:14-15), dan kita dapat menikmati segala sesuatu yang baik dan yang indah dari DIA (Kejadian 1:31, Lukas 4:22).

Meskipun demikian ada hal-hal mengenai Allah yang tetap menjadi misteri bagi kita, manusia. Sebab Allah tidak dapat dijelaskan dengan akal pikiran kita.[12] Namun demikian DIA nyata karena apa yang IA ciptakan mengungkapkan keberadaanNYA sebagai Pencipta segalanya.[13] Jika kita memerhatikan inilah yang berusaha Paulus jelaskan kepada jemaat di Roma di dua pasal pertama Surat kepada Jemaat Roma.  

Jadi siapa yang menciptakan Allah? Tidak ada karena IA adalah yang pertama, yang sudah ada pada mulanya. Darimana datangnya Allah? Allah datang dari Surga, IA rela menjadi manusia, yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus.


[1] Pengakuan Iman, https://gpdi.or.id/pages/pengakuan-iman, diakses pada 31-Agustus-2019.

[2] “Alkitabiah”, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/alkitabiah, diakses pada 31-Agustus-2019. Penekanan dalam tanda kurung ditambahkan oleh penulis.

[3] Frederick C. Mish, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary. 11th Edition (Merriam-Webster, 2003), “Biblical.” Logos.

[4] Justo L. Gonzalez, The Story of Christianity, Volume 1: The Early Church to the Dawn of the Reformation (HarperCollins, 2010), 77. Kindle Edition.

[5] Alkitab, Yohanes 16:28 (TB). 

[6] Philip Jenkins, The Many Faces of Christ, The Thousand-Year Story of the Survival and Influence of the Lost Gospels (New York: Basic Books, 2015), 192.

[7] Dr.Bambang Noorsena, Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid, http://bambangnoorsena.com/index/blog/teologi/sekte-unitarian-bukan-kristen-tauhid.html, diakses pada 12-September-2019.

[8] Alkitab, 2Raja-raja 18:33-35 (TB).

[9] Creation Argument for the existence of God, https://youtu.be/8_OC2t7mIWE, diakses pada 14-September-2019.

[10] Alkitab, Ayub 11:7 (TB).

[11] William W. Menzies and Stanley M. Horton, Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective (Springfield: Logion Press, 2012), chap. 2, sec. 3. Kindle Edition.

[12] Brannon Ellis and Mark Ward, eds., The Doctrine of the Triune God in the Lexham Survey of Theology (Bellingham, WA: Lexham Press, 2018), sec. 1: God’s Existence. Logos.

[13] Ellis and Ward, The Doctrine, sec. 1, sub-sec. 1: Proofs of God’s Existence.  

KOBARAN API PANTEKOSTA

Selamat datang Jemaat Tuhan di Ibadah Perayaan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia. Saya merasa terhormat sebagai generasi ketiga keluarga hamba Tuhan Pantekosta, untuk berdiri di hadapan Anda dan berbicara mengenai apa yang Tuhan mulai 100 tahun yang lalu di Indonesia.

Hari ini kita akan berbicara tentang api pantekosta yang membawa pada pengalaman Pantekosta. Kata “pantekosta” sendiri adalah istilah yang sering kita dengar dan bahkan menjadi bagian dari nama Gereja kita. Mungkin ada yang bertanya mengapa bukan “pentakosta”? Saya rasa nanti hal itu akan dijawab oleh rekan-rekan staf Gereja yang lain. Saya akan fokus kepada “pengalaman pantekosta”. Namun, apakah kita memahami pengalaman Pantekosta itu? Saya ingin membawa Anda kembali kepada pengalaman Pantekosta pertama kali di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:1-8, 11, 16-18, 40-41.

Kurang lebih sembilan belas abad kemudian, tepatnya di 1907, pengalaman Pantekosta di Yerusalem, hidup juga di Azusa Street, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Mereka yang mengalami lawatan Roh Kudus, berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Pergerakan api pantekosta ini juga menjalar sampai kota Seattle, Washington. Tahun 1919 ada sebuah Gereja Pantekosta yang dinamakan Bethel Temple dimana ada dua keluarga yang dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus dan memberi diri untuk menjadi misionaris. Nama mereka adalah Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren. Keduanya mendapat penglihatan dari Tuhan untuk melayani pulau Jawa. Saat itu pulau Jawa dan teritori yang dikuasai Belanda disebut Hindia-Belanda (Dutch East Indies).

Pada tahun 1921 kedatangan kedua misionaris ini menandai masuknya gerakan pantekosta di negara jajahan Belanda saat itu. Nama perkumpulan orang percaya itu disebut “De Pinkstergemeente in Nederlandsch Indie”alias ”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost-Indie” (yang secara literal berarti Gereja Pantekosta di Hindia Belanda). Setelah Belanda dikalahkan, maka negara Indonesia ada di bawah kendali pendudukan Jepang, dan pada 1942 banyak nama-nama yang berbahasa Belanda kemudian di-Indonesia-kan, sampai kemudian Indonesia menjadi berdaulat, yang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini berpengaruh pula kepada nama perkumpulan ini, yang pada akhirnya dikenal sebagai Gereja Pantekosta di Indonesia. Hari ini kita bersekutu di GPdI Mahanaim Tegal sebagai bukti nyata karya api pantekosta yang masuk ke Indonesia 100 tahun yang lalu.

Terdapat fakta-fakta dari pengalaman Pantekosta di Indonesia yang terjadi seabad lalu dalam catatan saya. Ketiganya ternyata punya relevansi dengan apa yang terjadi di dalam Alkitab.

  1. Karunia Penglihatan.

Hal ini dialami oleh dua keluarga misionaris, Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren yang dengan jelas melihat Pulau Jawa di penglihatan mereka. Pengalaman yang demikian juga dialami oleh Rasul Paulus di dalam perjalanan misi, saat itu ia ada di Troas. Kisah Para Rasul 16:8-10.

Kita belajar dari kisah ini bahwa Allah bekerja dengan memberi visi kepada seseorang untuk melihat sesuatu yang selaras dengan rencana Tuhan, meskipun mereka sudah memiliki rencana yang lain (ayat 6-7).

Apa yang kita rencanakan juga bisa berubah ketika kita dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Galatia 5:25. Pengalaman yang sama baik Groesbeek – Van Klaveren maupun Rasul Paulus, yang mereka kejar dalam penglihatan itu adalah pemenangan jiwa-jiwa bukan keuntungan diri sendiri. Siapkah kita dengan perubahan? Keluar dari apa yang sudah kita rencanakan?

  1. Kesatuan.

Dua misionaris ini merupakan anggota dari Gereja Bethel Temple. Mereka menundukkan diri di bawah kepemimpinan Gembala Jemaat Bethel Temple yang bernama W.H. Offiler. Mereka juga didukung penuh oleh jemaat yang rindu melihat bangsa-bangsa dilawat oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari 100 tahun kemudian, setelah mengutus dua misionaris ini, keputusan mereka menghasilkan kurang lebih 21,000 jemaat lokal di Indonesia.

Perubahan yang besar dapat terjadi melalui kesatuan dan ketekunan orang-orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 1:11-15 ada 120 orang yang berkumpul, berdoa, dan bertekun. Kemudian Roh Kudus melawat, dan menambahkan jumlah mereka menjadi 3,000 orang percaya (ayat 41). Saat ini ada sekitar 2,3 milyar orang percaya, jumlah besar itu dimulai dari kesatuan hati 120 orang di Yerusalem.

  1. Inspirasi.

Para misionaris dari Amerika Serikat ini mengasihi orang yang berbeda bangsa, bahkan bahasa dengan mereka. Tetapi kasih mereka, yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus, melintasi batas-batas perbedaan. Apa yang mereka lakukan kemudian menginspirasi bapak-bapak GPdI mula-mula. Mereka melepaskan apa yang mereka terima dari dunia, dan percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup buat mereka. Ini tercermin dari lirik lagu-lagu Pantekosta klasik. Contohnya: “Maju-maju saja”, “Kerja buat Tuhan”, “Mana-mana Tuhan panggil”. Lagu-lagu ini bukan sekedar lagu klasik, tetapi suatu ungkapan pengharapan yang membuat mereka bertahan di tengah tekanan.

Rasul Paulus menyadari panggilannya untuk melayani orang-orang non-Yahudi, meskipun ia dibesarkan dalam mazhab/aliran dalam agama Yahudi yang paling fanatik, yaitu sebagai golongan Farisi. Galatia 1:14-16. 1Timotius 2:7. Filipi 3:5. Ia kemudian rela untuk menderita, demi membuat banyak orang percaya kepada Kristus. 2Korintus 11:24-28. Apa yang Paulus lakukan menginspirasi hamba-hamba Tuhan dan jemaat Tuhan untuk terus bertahan.

Pengalaman pantekosta seharusnya tidak berhenti hanya menjadi pengalaman institusional, maksudnya hanya karena kita berjemaat di GPdI. Tetapi seharusnya ini menjadi pengalaman pribadi. Sehingga setiap jemaat mendapatkan karunia Roh yang khusus dari Tuhan. Kerinduannya setiap jemaat terdorong untuk bersatu, dan menjadi inspirasi untuk dunia.  

Pengalaman pantekosta melibatkan keseluruhan diri kita: tubuh, jiwa, dan roh. Ketika Anda memuji Tuhan, ekspresi tubuh Anda menjadi cerminan apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 12:30.

Setelah dengan tubuh menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, ada catatan pengalaman orang-orang di Perjanjian Baru, dimana mereka menunjukkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk mengalami Tuhan. Dari kerinduan itu kemudian Roh Kudus melawat mereka. Seperti di kisah-kisah berikut:

  • Kisah Para Rasul 1:13-14. Murid-murid berkumpul dengan tekun menanti janji pencurahan Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 8:14-17.Orang-orang percaya di Samaria sudah menerima baptisan air, tetapi belum menerima Roh Kudus, mereka membuka diri untuk beroleh kuasa Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 10:33, 44. Kornelius, seorang non-Yahudi, membawa sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka rindu mendengar Firman Allah, dan setelah itu mereka menerima Roh Kudus.

Tubuh yang digerakkan untuk Tuhan, kerinduan yang penuh pada Tuhan diikuti dengan pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Saat itu mereka terhubung dengan keberadaan Tuhan yang adalah Roh. Yohanes 4:24. Mereka tenggelam dalam hadirat Tuhan, itulah mengapa orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus bisa melakukan hal-hal yang tubuh dan jiwanya belum pernah lakukan sebelumnya, seperti berbahasa lidah, bernubuat, menari, memuji dan menyembah dalam jangka waktu yang lama. Biarlah kita rindu kobaran api pantekosta itu nyata di Gereja kita, di keluarga kita, dan di masing-masing pribadi kita.

Haleluya!

MENGUBAH DUNIA

Bagaimana Anda bisa mengubah dunia ini dan menggenapi Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:19-20)? Ini tidak harus dilakukan dengan “memasukkan salib” ke Istana Negara, atau ke Senayan sebagai cara satu-satunya dan utama (yang saya beri contoh ini adalah jalur politik). Saya pernah menyampaikan ke rekan-rekan profesional muda (Crossover) tentang A-B-C di marketplace. Kalau Anda tertarik bisa cari di jeffminandar.com dan ketik “Christianity and Professionalism” atau “marketplace”.

Namun bagaimana dengan eksistensi kita di tengah Keluarga, masyarakat? Apakah komunitas yang kita bangun di Keluarga kita, di KeMah kita, di Gereja kita sudah jadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas? Kisah Para Rasul 2:47. Anda bisa menginspirasi dunia sekeliling dengan menunjukkan keberadaan Yesus dalam hidup Anda dan keluarga.

Banyak orang berpikir bahwa Allah kita itu tidak nyata. Tuhan dianggap mereka tidak berkuasa atas apa yang terjadi di dunia. Saya percaya Allah memiliki rencana untuk segala sesuatu di dalam dunia. IA mampu menentukan apa yang akan terjadi pada dunia melalui peristiwa-peristiwa dalam rangkaian sejarah. Rangkaian sejarah ini maksudnya seperti gelombang kejadian demi kejadian dan kita harus dapat memanfaatkannya, bukannya terseret.

Dalam Kisah Para Rasul 4:27-28 jemaat Tuhan memiliki informasi dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mengenai ancaman kepada mereka dari tua-tua Yahudi. Dalam doa kepada Tuhan mereka mengakui bahwa Tuhan mengendalikan arus sejarah. Menariknya mereka bukan meminta Allah menghilangkan ancaman itu, tetapi malah meminta keberanian untuk tetap bertahan dalam panggilan Tuhan.

Seorang peselancar tidak meminta gelombang yang mudah, ia membaca gelombang dan dengan keberanian menaiki gelombang itu lalu menaklukkannya. Sedangkan bagi seorang Kristen, ia membaca sejarah, mengobservasi kenyataan masa sekarang, dan memandang ancaman di masa depan dengan perspektif ilahi. Keberaniannya datang dari Roh Kudus, dan meminta keberanian itu dalam doa.

Yesus sendiri berdoa bukan untuk menjauhkan Anda dari dunia, tetapi melindungi Anda dari yang jahat. Yohanes 17:11. Bukan untuk membuat Anda mencari zona nyaman, tetapi zona Tuhan, dimana Anda dan Keluarga Anda menjadi maksimal dan mampu mengubah dunia, dimulai dari Keluarga Anda. Anda tidak bisa mengubah dunia sendirian, yang ada Anda bisa-bisa terlarut dengan dunia. Anda butuh komunitas yang mengasihi (1Petrus 1:22), melayani (Efesus 2:10), dan memperlengkapi Anda (1Korintus 12:18). 

GOD’S PICTURE OF SUCCESS

Mazmur 37:7 berbicara tentang keberhasilan dari orang yang melakukan tipu daya. Tentu saja kita tidak ingin menjadi berhasil dengan cara yang demikian. Tetapi sebelum membahas ayat ini, saya ingin Anda melihat dulu dua gambar yang berikut.

Apa perbedaan dari gambar di sebelah kiri dan kanan?

Keduanya adalah gambar yang biasa digunakan oleh psikolog untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang melalui tes yang biasa disebut TAT (Thematic Apperception Test). Biasanya testee (orang yang akan di-tes) diminta menceritakan kisah di balik gambar, mulai dari apa kejadian yang terjadi sebelumnya, apa yang terjadi pada gambar tersebut, perasaan dan pikiran karakter dalam gambar, dan akhir ceritanya (biasanya akan ada 5-12 gambar-gambar yang diperlihatkan dari total 31 gambar versi lengkapnya). Salah satu kegunaan dari tes ini adalah untuk dapat menangkap pengalaman hidup dari seseorang.

Pernah dengar ungkapan ini? “A picture is worth a thousand words.” Ungkapan ini menggambarkan kekuatan dari suatu rangsangan (stimulus) visual. Meskipun ungkapan ini tidak selamanya relevan, misalnya dalam suatu karya tulis (sebut saja novel), tetapi hal ini setidaknya membuat kita berpikir tentang sebuah gambar yang bisa mewakili panjangnya suatu penjelasan.

Allah sering berbicara melalui suatu gambaran, kalau saya melihat seorang pelukis menggambarkan tentang bahtera Nuh, maka di pikiran saya yang muncul adalah kata “penyelamatan”. Misalnya gambarannya adalah tabut perjanjian, kata yang muncul adalah “kekudusan”. Bagaimana kalau gambaran itu adalah salib? Apa kata yang muncul? Pernahkah Anda berpikir bahwa kata yang muncul adalah “keberhasilan”?

Ibrani 12:2 mengatakan tentang Yesus yang menjadi teladan kita untuk bertekun dalam kehinaan dan penderitaan sebelum mendapat sukacita dan kehormatan. Terjemahan bahasa Inggris dari NKJV menurut saya lebih jelas menggambarkan bahwa Yesus memandang bukan pada kehinaan dan penderitaan (yang sementara) tetapi sukacita dan kehormatan (untuk selamanya).

Ini adalah hal yang kontradiktif, yang tidak masuk akal, dan disebut kebodohan (1Korintus 1:18) oleh orang yang akan binasa (karena tidak percaya – Yohanes 3:18). Tetapi Anda bukan orang yang bodoh rohani bukan? Orang bisa mengatakan apapun tetapi saya tidak bodoh rohani. Bahkan kalau saya dianggap bodoh secara intelektual pun Allah masih bisa menggunakan saya. 1Korintus 1:27.

Relevansinya dengan pekerjaan saya dan situasi kondisi sekarang bagaimana?

Ingat ayat pertama kita di awal? Anda punya pilihan untuk berhasil dengan segala macam cara (bahkan dengan tipu daya) tetapi itu tidak akan membawa Anda pada sukacita dan kehormatan yang nilainya kekal. Jadi tetap lakukan yang baik dan yang setia, karena ada balasan untuk ketekunan Anda. Mazmur 37:3.

Sukacita dan kehormatan didapatkan melalui kehinaan dan penderitaan. Bukan berarti Anda harus secara fisik dihina dan menderita. Gembala sering menggambarkan bahwa sebagai pengikut Kristus bisa mengalami penghinaan dan penderitaan secara fisik, tetapi juga secara mental (psikis). Ini berbicara kepada Anda sebagai pengikut Kristus, tetapi juga sebagai profesional muda. Anda bekerja keras untuk tidak memiliki penghidupan dari sesuatu yang ilegal (Efesus 4:28), yang meskipun dihina dan menderita Anda bisa berkata, “Aku menjadi seperti Yesus, Aku melakukan kehendak Bapaku di Surga!” Matius 12:50.

Gambar keberhasilan pengikut Kristus tidak diwakili oleh gambar manusia siapapun mereka (Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan bukan juga Adam, Abraham, Yakub, atau Yusuf dari kisah Alkitab). Kita belajar dari kisah mereka, dan mengambil satu nilai yang sesuai dengan nilai ilahi. Roma 12:2. Jadi lihatlah diri Anda di depan kaca, itulah gambaran keberhasilan versi Allah. Mazmur 139:13-16. Kalau boleh mengambil kisah dari Yusuf sebagai penutup, setiap saya membaca Kejadian 39:2, saya selalu melihat ini adalah gambaran keberhasilan seorang yang percaya.