Anugerah Setiap Hari

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

And do yourself a favor put an ORDER.

Advertisements

INTER-GENERATIONAL WISDOM.

Bagi kehidupan suatu keluarga, salah satu moment yang paling menentukan dalam sejarah kehidupan Anda adalah pernikahan. Saya tidak akan mengajari Anda mengenai hal ini tetapi saya mengingatkan kepada Anda tentang satu bagian yang saya rasa dirindukan dari hampir semua pernikahan. Jangan berpikir yang aneh-aneh, bagian yang saya maksud adalah memiliki keturunan. Maleakhi 2:15.

Dalam Ibadah Pemberkatan Nikah biasanya berulang kali dibicarakan mengenai hal ini, bahwa menghasilkan “keturunan ilahi” adalah menghasilkan orang-orang yang tidak memusatkan hidup untuk konsep jasmani, tetapi untuk yang ilahi. Tetapi bukannya kita semua tidak ada yang dilahirkan peri, malaikat atau bidadari? Kita semua dilahirkan seorang ibu yang berasal dari manusia pertama (Adam). 1Korintus 15:47.

Perhatikan kembali bagian akhir dari ayat di atas: “manusia kedua berasal dari sorga.” Karena itu untuk memiliki keturunan ilahi kita butuh manusia kedua ini, yang datangnya dari sorga. IA adalah Yesus, Anak Allah. Menariknya IA berkata (dalam Yohanes 3:3-6):

“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”

Jadi keturunan ilahi saya rasa bisa berarti anak jasmani yang merupakan buah perkawinan, namun kemudian dididik untuk mengenal baptisan air (pertobatan yang disertai keputusan untuk berubah) serta baptisan Roh Kudus (persekutuan dengan Allah, disertai karunia-karunia ilahi). Tetapi juga bisa berarti anak jasmani dari luar Keluarga kita, yang kemudian dididik untuk mengenal baptisan air dan Roh. Jadi jangan takut untuk Anda yang belum memiliki keturunan.

Tantangan kita adalah tidak mengulangi kesalahan generasi-generasi sebelum kita. Khususnya yang dicatat di dalam Alkitab. Coba kita lihat Hakim-hakim 2:10. Ada angkatan yang muncul sesudah Yosua yang disebut “angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.” Bagaimana ini mungkin terjadi? Saya yakin salah satunya karena didikan. Amsal 22:6.

Saya tahu Alkitab adalah buku yang sudah sangat tua, yang diturunkan dari generasi ke generasi, untuk mengajar, mendidik, dan menunjukkan kepada orang mengenai jalan keselamatan. Tetapi Alkitab adalah hikmat Allah (1Korintus 2:7), ia akan tetap relevan sampai kapanpun (Markus 13:31). Anda sudah ada di jalur yang tepat, didiklah generasi yang berikut, supaya mereka tidak kehilangan keselamatan. Anak, keponakan, tetangga, murid, karyawan, anak mentor, siapapun mereka, bisa Anda jadikan keturunan ilahi Anda. 1Korintus 4:14.

GodblesS

JEFF

OPPORTUNITY

Selamat natal dan tahun baru untuk Pemuda Remaja GPdI Tiberias Pare. Tahun ini adalah tahun yang luar biasa, begitu banyak kesempatan menanti kita. Saya melihat hidup yang kita miliki ini adalah kepercayaan yang diberikan. Hidup ini adalah kesempatan bukan sesuatu yang kita usahakan untuk ada.

Menurut Anda mengapa Maria dan Yusuf menjadi orang tua dari Yesus? Mengapa bukan Marince dan Joko misalnya? Karena kesempatan itu diberikan kepada mereka dan mereka meresponnya. Seperti banyak dikatakan: keberhasilan adalah persimpangan antara kesempatan dan persiapan.

Kisah Natal adalah kisah mengenai kesempatan. Contohnya ketika Maria kedatangan malaikat yang datang untuk memberitahu tentang kehamilannya. Atau ketika Yusuf mendapat mimpi yang menyuruhnya untuk mengambil Maria menjadi istrinya.

Yesus adalah anak Allah, kita mengenal betul hal itu. Tetapi dalam berbagai kesempatan, DIA mampu menggabungkan dan mengembangkan. Contohnya dari Matius 18:20. Karena ada ungkapan di jaman itu, jika ada 10 orang mempelajari Taurat maka “shekinah” ada di antara mereka. Atau dari referensi lain menuliskan, jika ada 2 orang saja dan Firman dari Taurat ada di antara mereka, demikian pun “shekinah” ada.

Demikian Yesus mengenali betul tujuan dan kesempatan yang dimilikiNYA. (Lihat jawaban Yesus di usia 12 tahun dalam Lukas 2:49 demikian juga saat berusia 30 tahun dalam Lukas 4:18-19).

Kesempatan ini mendorong aktivitas yang Yesus tunjukkan berulang:

  • IA mengajar. Markus 10:1.
  • IA beribadah. Lukas 4:6.
  • IA berdoa. Lukas 22:39.

Ini semua kemudian menjadi karakterNYA. Galatia 5:22-23 (Buah Roh, Karakter Roh). Yesus menjadi luar biasa dalam pembawaanNYA sehingga bisa diterima banyak kalangan (Lukas 5:1):

  • Orang Farisi dan Ahli Taurat mendengarkan DIA. Lukas 5:17.
  • Kaum wanita mendengarkan DIA. Lukas 10:39.
  • Bahkan pemungut cukai dan orang berdosa mendengarkan DIA. Lukas 15:1.

Yesus menampakkan diri seperti orang Yahudi kebanyakan, IA tidak melihat kesempatan dalam melayani untuk keuntungan dirinya sendiri, malahan IA tahu kesempatan yang ada adalah untuk melayani bukan untuk dilayani. Markus 10:45.

Saya tidak mengerti di tahun 2019 berapa banyak kesempatan berbuat baik yang Anda miliki. Tetapi seperti apa yang Paulus tuliskan dalam Galatia 6:9-10. Ada kesempatan untuk berbuat baik, dimana kita bisa menuai saat kita tetap bertekun. Ambil kesempatan untuk melakukan yang baik, untuk menjadi dampak.

RENEWED

Selamat tahun baru HOFers! Sepanjang bulan ini Anda akan belajar tentang “NEW RESOLUTION”. Apa sih resolusi baru itu? Ummm, secara sederhana suatu keputusan baru yang diambil, yang biasanya bertolak belakang dengan apa yang kita lakukan sebelumnya.

Suatu kebiasaan baru, butuh suatu pola pikir yang baru. Misalnya saja tentang kesehatan, kita berpikir karena kita masih muda kita bisa makan apa saja seenaknya. Tetapi ternyata apa yang Anda makan memberi dampak pada kesehatan kita kedepannya.

Sepupu saya gagal ginjal setelah setiap hari ia minum minuman soda, 2-3 botol. Seseorang lain kelebihan berat badan setelah selalu memakan makanan cepat saji yang tinggi kalori. Kebalikannya yang lain kekurangan vitamin setelah menghindari untuk mengonsumsi makanan bervitamin yang tidak disukainya.

Jadi apa yang bisa membuat berubah? Pola pikir yang baru. Sesuatu ancaman tidak akan merubah seseorang kalau pola pikirnya tidak berubah. Contoh lagi, seseorang yang sakit jantung tetap memakan makanan berlemak, karena enak, tanpa berpikir akibatnya bagi pembuluh darahnya.

Hal ini sama dengan seorang perokok yang berpikir bahwa rokok itu tidak berbahaya untuk tubuhnya. Dia akan terus merokok meskipun ada peringatan dan gambar penyakit akibat rokok di bungkusnya. Atau seorang gamers yang merasa tidak ada ruginya bermain game hingga berjam-jam, tanpa sadar sebenarnya siapa yang diperbudak siapa.

Resolusi baru, menghasilkan keputusan baru, keputusan baru mendorong munculnya tindakan baru. Tindakan baru dari Anda menghasilkan manusia baru. Menariknya ketika ada dalam Kristus, Paulus berbicara bahwa kita adalah manusia baru. Kolose 3:9-10.

Manusia 2018 kita sudah menjadi manusia lama, waktunya mengenakan manusia 2019, manusia baru. Menariknya ada karakter khas dari manusia baru ini yaitu: “…terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Maksudnya dari terus menerus diperbaharui adalah pembaharuan itu dinamis, setiap hari, ada hal-hal baru yang diperbaharui. Tentu kalau begini kita sadar ini bukan tentang hardware (perangkat keras), tetapi tentang software (perangkat lunak). Seperti Anda yang punya HP Android, update software terbaru adalah version 9.0 atau lebih populer dengan Android Pie.

Perangkatnya sama, tapi dalamnya berubah. Bukankah ini seperti yang Paulus katakan di Roma 12:2. Dia menasehati untuk ada “pembaharuan budi”, artinya cara pikir lama kita, sekarang dijadikan baru. Menariknya semua pembaharuan ini fokusnya adalah untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah. Coba bandingkan Roma & Kolose.

Roma 12:2 “…sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kolose 3:10 “…untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Ketika apa yang menjadi pengejaran kita adalah kehendak Tuhan, Kerajaan Sorga itu jadi bagian kita. Matius 7:21. Karena bukan sekedar mengaku orang Kristen yang menjadikan kita warga Kerajaan Sorga, namun dengan melakukan kehendak Tuhan.

Saya suka sekali dengan versi Alkitab Bahasa Inggris “The Message” tentang maunya Allah dalam hidup kita: “Here’s another way to put it: You’re here to be light, bringing out the God-colors in the world. God is not a secret to be kept. We’re going public with this, as public as a city on a hill. If I make you light-bearers, you don’t think I’m going to hide you under a bucket, do you? I’m putting you on a light stand. Now that I’ve put you there on a hilltop, on a light stand—shine! Keep open house; be generous with your lives. By opening up to others, you’ll prompt people to open up with God, this generous Father in heaven.” (Matthew 5:14-16 MSG)

Ini cara lain untuk menggambarkannya: Kamu ada untuk menjadi terang, mengeluarkan warna-warni Tuhan dalam dunia. Tuhan itu bukan suatu rahasia yang harus disimpan. Seharusnya IA bisa dilihat orang banyak, sama seperti kota yang ada di atas bukit. Kalau AKU menjadikan kamu pembawa terang, tidak mungkin AKU menyembunyikan kamu di bawah wadah, bukan? AKU meletakkan kamu di tiang-tiang lampu. Sekarang AKU yang meletakkan kamu di atas bukit, di tiang lampu – karena itu BERCAHAYALAH. Jadilah rumah yang terbuka, jadilah murah hati dalam hidupmu. Dengan terbuka pada yang lain, kamu akan membuat orang juga terbuka kepada Tuhan, BAPA yang Maha Pemurah di Surga.

Semua ini bisa terjadi saat pola pikir kita berubah. Siapa yang bisa merubahnya? Kamu. Minta kekuatan Roh Kudus untuk mengingatkanmu ketika kamu memulai perjalanan perubahan di 2019. Tuhan tolong kita.

AWAKE!

“Bangunlah ” adalah suatu kata yang mengandung perintah, kepada seseorang yang ada dalam kondisi terduduk, tertidur, atau bahkan terbaring. Belum lagi jika kemudian seseorang itu tidak dalam kondisi sadar kata itu perlu pengulangan dan perlu disampaikan dengan volume keras.

Tetapi mengapa harus “bangun”? Untuk menerima terang/cahaya! Itu jelas di dalam ayat tema kita. Efesus 5:14. Tunggu dulu, apa pentingnya menerima terang/cahaya? Anda tidak perlu cahaya ketika Anda ada dalam terang. Fakta bahwa Anda harus bangun terlebih dahulu baru kemudian menerima cahaya, menunjukkan bahwa Anda ada dalam keadaan gelap. Seperti yang digambarkan Paulus di pasal sebelumnya. Efesus 4:17-19.

Berapa banyak dari Anda yang sadar kalau “kegelapan” seringkali adalah sesuatu yang punya konotasi negatif. Contohnya: kekasih gelap, pasar gelap, persepakatan gelap. Menarik sekali ada sebuah kisah ilustrasi yang menarik mengenai gelap. Suatu ketika ada sebuah diskusi di sebuah ruang kuliah tentang bagaimana mungkin “Allah yang baik” menciptakan kejahatan. Sampailah diskusi itu pada kesimpulan, bahwa Allah sesungguhnya tidak ada.

Menariknya ada seorang mahasiswa berdiiri dan menyanggah itu.kesimpulan itu. Ia memulai sanggahannya dengan bicara tentang definisi fisika tentang kata “dingin”, kemudian definisi fisika tentang kata “gelap”. Lalu ia berkata tentang kebaikan dan kejahatan. Pada akhirnya ia berkata: “Bukan Allah yang menciptakan kejahatan, tetapi iblis menipu manusia untuk meniadakan kebaikan.”

Kalau kita ingat kisah Natal, bukankah itu semarak dengan orang-orang dengan kualitas yang luar biasa baik. Lihat saja Maria dengan penyerahannya untuk menerima tanggung jawab luar biasa: menjadi ibu Sang Mesias, ia mengorbankan kenyamanannya, meskipun ia harus bergumul keras dengan logikanya. Lukas 1:26-38. Kemudian, Yusuf, dengan ketulusan hatinya, ia tidak ingin membesar-besarkan masalah, pada akhirnya ia pun menurut pada Firman Allah (melalui mimpi). Matius 1:18-25.

Menariknya kedua tokoh Natal ini “bangun” dari “kegelapan” yang disebabkan ketidaktahuan mereka, dan kemudian mereka diterangi oleh Firman Allah. Jadi penting untuk bangun, meninggalkan kegelapan, kemudian mendapatkan terang. Banyak orang berpikir mengenai Zaman Kasih Karunia, tetapi sebenarnya menghidupi kebodohan mereka, dengan berpikir, bahwa saya tidak perlu melakukan apa-apa.

Saya percaya dengan kasih tanpa syarat, tetapi saya juga percaya bahwa Alkitab penuh dengan kerinduan Allah melihat “respon yang tepat”. Bahkan dalam ayat paling terkenal di Alkitab, dikatakan, “…supaya setiap orang yang percaya…” Yohanes 3:16. Harus ada respon, harus bangun, harus mulai bergerak.

Banyak orang berpikir tentang pertobatan, hidup yang baru, dan terobosan, tetapi mereka tidak bergerak. Ingat apa yang dikatakan penulis Pengkhotbah di Pengkhotbah 11:4. Bangunlah ambil bagianmu, lakukan sesuatu! Kalau ada yang harus engkau tinggalkan (akui) sekarang di hadapan Tuhan, lakukan itu, kalau ada suatu keputusan tegas yang harus engkau ambil sekarang, lakukanlah. Bangunlah, maka, “Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Anda perlu terjaga untuk mengerti, Anda perlu bergerak untuk memulai perubahan, dan Anda perlu berkomitmen untuk menjadikannya kenyataan. Kejadian 12:2. Kita akan lihat Tuhan bekerja dalam respon kita yang benar akan Kasih KaruniaNYA.

KASIH NATAL MENYEMPURNAKAN KESATUAN TUBUH KRISTUS

Natal di Bulan Desember identik dengan adanya hadiah. Hadiah menjadi salah satu yang ditunggu jika Natal tiba. “Christmas Gift” menjadi jargon andalan yang dipasang dari pusat perbelanjaan, toko-toko, dan bahkan sampai ke rumah-rumah semua menantikan: hadiah Natal. Saya rasa tidak salah dalam sebuah perayaan kita saling berbagi kasih dengan membelikan hadiah. Mari kita bahas sedikit mengenai hadiah. Bagi saya hadiah itu dimulai dengan suatu hubungan, ada suatu kisah dibalik semua pembicaraan tentang hadiah.

Hadiah itu berhubungan dengan kasih. Ada ungkapan yang berkata seseorang bisa saja memberi tanpa mengasihi, tetapi orang yang mengasihi tidak mungkin tidak memberi. Bagi kita esensi dari Natal adalah Kasih Allah. Itu jelas ditulis di ayat tema kita: 1Yohanes 4:10-12. Jadi Yesus adalah hadiah terbesar dari Allah untuk manusia. Berbicara tentang hadiah ada sebuah kisah kuno di Babilonia Kuno dan itu dicatat di kitab Daniel.
Daniel 2:6 “…tetapi jika kamu dapat memberitahukan mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan menerima hadiah, pemberian-pemberian dan kehormatan yang besar dari padaku. Oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku mimpi itu dengan maknanya!”

Setting ceritanya adalah Raja Nebukadnezar, Raja Babel, mendapat mimpi yang sangat aneh dan dia begitu ingin tahu makna sebenarnya dari mimpi itu. Karena itu dia memanggil semua orang pintar, orang berilmu dan tukang sihir untuk datang menceritakan maknanya. Namun dia tidak ingin dibodohi, karena itu dia juga menantang orang-orang cendekiawan itu untuk menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Mustahil! Tetapi raja tidak sedang bergurau, jika tidak ada yang bisa, maka seluruh cendekiawan di Kerajaan Babel akan dilenyapkan.

Singkat cerita muncullah Daniel. Dia adalah cendekiawan yang takut akan Allah dan tidak menyembah berhala-berhala Babel. Dia membuat terperangah Raja Babel dengan hikmat dan pengertian Allah yang dibukakan baginya. Pada akhirnya dia mendapat hadiah dari raja. Tapi seperti kata saya tadi dibalik setiap hadiah pasti ada suatu hubungan yang terjalin.

Ada 2 hal yang ingin saya garis bawahi. Pertama, ketika dihadapkan pada masalah yang tidak mungkin dipecahkan di ayat 17-19 dari Daniel 2 disebutkan mengenai “memohon kasih sayang kepada Allah…” Daniel terhubung dengan Allah. Dan permohonannya terjawab! permohonan yang terjawab ini lahir dari suatu masalah! Jangan takut akan masalah! Masalah menghasilkan pahlawan. Kedua, Daniel menghubungi teman-temannya untuk bersepakat dengan dia. Intinya hadiah lahir dari suatu hubungan, dari kesepakatan. Amsal 17:17, Matius 18:19.

Tapi Jeff dimana Natalnya? Jika membaca kisah Daniel, saya segera teringat kisah Natal yang memiliki banyak unsur yang serupa. Ada mimpi, ada orang-orang pintar, ada masalah dan yang terutama ada hadiah yang dimotivasi oleh Kasih. Matius 2:1-12.

Jika Anda menangkap kisah Daniel, suatu permohonan/doa menghasilkan hadiah dan sebaliknya hadiah melahirkan permohonan/doa dan ucapan syukur (Elisabeth, Maria Simeon, Hana – Lukas 1-2). Apa yang Anda lakukan hari ini di Gereja ini tentu dimulai dengan permohonan yang dijawab, Tuhan menghadiahkan berkat. Sekarang Anda gunakan berkat itu untuk acara Ibadah Natal dan berbagi kasih dengan seluruh jemaat. Bisakah Anda melihat siklusnya disini? Kasih akan melahirkan kasih yang berikutnya.

Sekarang bayangkan bahwa Allah dalam Yesus Kristus memiliki kasih yang luar biasa. Efesus 3:18-19. Kasih dari Allah itu memicu kita untuk melakukan sesuatu bagi sesama kita. Ingat prinsip Hukum Terutama. Seseorang yang mengasihi Allah memiliki karakter yang mengasihi sesama, ia menginginkan kesatuan bukannya perpecahan. 1Petrus 3:8. Dampaknya begitu jelas untuk kesatuan Gereja!

Pada kesempatan Natal ini saya rindu Anda yang tahu bahwa Anda dikasihi banyak, Anda mengasihi banyak. Lukas 7:47. Satu hal yang saya rindukan, berikan “hadiah Natal” terbaik untuk rekan-rekan Anda, untuk Keluarga Anda, untuk orang-orang yang bahkan menyakiti Anda. Bisakah Anda mengampuni, bukan karena mereka benar, tetapi karena Kasih Allah begitu melingkupi Anda di Natal ini. Bayangkan, ketika Anda mulai mengasihi dampaknya akan begitu luar biasa, karena dunia akan mengenali itu. Yohanes 13:35.

KERAJAAN YANG TAK TERGONCANGKAN

Selamat Natal! Saat Natal tiba, apa yang Anda pikirkan? Palungan, lagu natal, kue natal, atau liburan, Ibadah, atau hadiah? Saya rasa Anda paling suka hadiah. bagaimana kalau begini, Anda katakan saja Amin kalau Anda setuju pada setiap poin di daftar saya:
• iPhone Xs atau Galaxy Note 9.
• CBR 250 RR atau Kawasaki Ninja 250 SL.
• PS4.
• Baju baru.
• Sepatu baru.
• Pacar baru.
Yang terakhir keliatannya paling susah ya, apalagi buat yang sudah terlalu lama sendiri. Tidak amin.

Tapi buat saya daftar keinginan kita atau wishlist itu berhenti saat kita makin dewasa. Atau setidaknya daftar itu berubah menjadi hal-hal yang lebih signifikan buat hidup kita. Tidak sekedar yang penting ada bungkusnya.

Menariknya semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dll), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40. Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Demikian juga dalam kita melihat kisah Natal. Dalam kedewasaan Kristen kita, Natal tidak sekedar palungan, orang majus dan para gembala. Kita ingin mencari tahu lebih dalam lagi tentang tujuan Natal. Mari kita lihat ayat tema kita di Yesaya 9:6. Dikatakan bahwa sang Mesias, yang dinubuatkan di Perjanjian Lama, dan digenapi di Perjanjian Baru dalam kehadiran Yesus, bukan saja memiliki gelar Raja Damai (lihat Yesaya 9:5).

Namun juga memiliki kerajaan yang kokoh dan tak berkesudahan.
Kerajaan yang kokoh dan tidak tergoncangkan ini akan diisi oleh orang-orang yang juga kokoh dan tidak mudah tergoncangkan. Jika Anda tertarik untuk menjadi bagian dari Kerajaan ini maka Anda harus dewasa, kokoh dan tak tergoncangkan.

Siapa yang tidak ingin dewasa? Menarik sekali kalau mempelajari dinamika sosial, anak-anak biasanya ingin cepat dewasa, sementara yang dewasa,ketika melihat sulitnya hidup ingin kembali ke masa anak-anak. Tetapi didalam Firman Tuhan dengan jelas dikatakan: 1 Korintus 13:11 “Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Mengapa menjadi dewasa itu penting? Efesus 4:13-14 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,(14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…”

Karena anak-anak mudah diombang-ambingkan! Puji Tuhan kalau hari ini kita anak-anak muda masih menyadari bahwa kita butuh pegangan yang teguh didalam Kristus. Banyak sekali anak muda yang merasa dirinya kuat, merasa dirinya tidak tergoncangkan namun ternyata mereka mudah sekali ambruk. Apalagi kalau sudah ditawari 3G (Gold-Glory-Guys/Girls). Iman kuat, imron yang mana tahan. Orang-orang yang demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah yang tak tergoncangkan. Itu jelas ditulis Paulus di 1Korintus 6:9-10.

Kerajaan Allah itu adalah Kerajaan yang tak tergoncangkan juga sebenarnya sudah ditulis penulis Mazmur di Mazmur 145:13. Hal itu akan menjadi kenyataan di Akhir Zaman ketika apa yang juga ditulis Petrus (1Petrus 2:9), menjadi realita. Wahyu 5:10. Semua ini dilakukan oleh DIA yang diurapi, Sang Mesias, Yesus Kristus Tuhan.

Sehingga Natal itu bukan sekedar perayaan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga suatu pernyataan iman dan pengharapan akan masa depan kita yang gilang gemilang. Asalkan kita mau bertumbuh, tidak berhenti jadi anak-anak rohani, melainkan jadi dewasa rohani, dan berlayak menjadi bagian Kerajaan yang tak tergoncangkan itu.

PENGHARAPAN TELAH DATANG

Anda pernah mendengar program televisi “Akhirnya Datang Juga”? Coba lihat video ini.

Seorang tamu diberikan kostum dari tim yang ada di belakang panggung untuk kemudian masuk ke dalam suatu set lokasi dimana sudah menunggu aktor/aktris yang kemudian berkata: “Akhirnya datang juga!”

Menariknya si tamu tidak diberitahu sebelumnya bahwa ada skenario yang tidak terduga yang harus direspon oleh tamu tersebut dengan cepat. Sehingga kadang-kadang ekspektasi tamu bisa buyar karena ternyata set lokasi dan aktor/aktris yang sudah disiapkan berbeda jauh dengan ekspektasi tamu.

“Ekspektasi” inilah yang disebut sebagai pengharapan. Tentu saja suatu pengharapan adalah sesuatu yang kita harapkan terjadi. Tetapi lihatlah betapa dekatnya pengharapan dengan kekecewaan. Kekecewaan adalah jarak antara pengharapan (ekspektasi) dengan realita.

Tetapi ketika pengharapan itu datang dalam bentuk yang tak pernah gagal, yang FirmanNYA “Ya” dan “Amen” tentu saja akan mendatangkan sukacita. Itulah kenapa Natal sering disandingkan dengan kata “sukacita” karena memang pengharapan dunia akan keselamatan lahir di tengah-tengah (realita) dunia. Roma 15:13.

Ekspektasi/pengharapan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak bisa dilihat. Roma 8:24. Tetapi setelah mengenal DIA, pengharapan itu kemudian terfokus pada DIA dan apa yang dijanjikanNYA. Kita belum melihatnya, itulah kenapa kita bertekun sampai itu menjadi nyata di hidup kita.

Coba baca hubungan antara iman dan harapan di Ibrani 11:1. Saya rasa ini harus menjadi dasar kita, bahwa keselamatan, yang sekarang kita dapatkan karena kedatangan Yesus, kedatangan yang membawa pengharapan, bukanlah karena level sosial kita atau hal lainnya. Tetapi karena percaya! Mengapa? Karena engkau diselamatkan karena iman. Efesus 2:8.

Cara percaya yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah. “Ilustrasi seorang yang berhutang”. Itulah kenapa Yesus menegur murid-murid dalam Matius 4:40, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Saat itu mereka membangunkan Yesus di perahu. Bahkan Paulus juga menegaskan pertobatan adalah perubahan “sistem pengetahuan” yang memimpin pada percaya. Roma 12:2. Contohnya ketika kita percaya dimana-mana ada setan maka itu memengaruhi tindakan kita.

Demikian juga ketika kita melihat apa yang terjadi ketika Yesus hadir di dunia lebih dari 2000 tahun yang lalu. Semua dimulai dari percaya. Kita melihat keberadaan Yesus di antara manusia dimulai dan diakhiri dengan tanda-tanda ajaib. DIA datang dengan kisah seorang wanita muda yang mengandung dari Roh Kudus (itu ajaib kan, karena normalnya dari benih laki-laki). Matius 1:18. DIA adalah jawaban dari pengharapan Israel. Demikan juga DIA pergi terangkat di awan-awan (jauh sebelum ada pesawat terbang & helicopter). Kisah 1:9. Dengan cara yang sama kita punya pengharapan akan pengangkatan.

Yesus berkata dalam Matius 6:33, “carilah dahulu kerajaan dan kebenaranNYA…” Anda tidak membeli beras untuk mendapat gelas cantik kan? Membeli handphone untuk sebuah payung? Ketika Anda mendengar Natal, pengharapan itu ada, dan fokus utamanya adalah YESUS.

BE STRONG

Ini adalah tema Natal GPdI Kebon Agung untuk Natal 2018 dan juga saya harap menjadi pesan peneguhan untuk Gereja ini. Kalau Anda membaca ayat referensi untuk tema kita di 2Timotius 2:1, dalam terjemahan Bahasa Inggris dituliskan “be strong”, kalau Anda suka belajar Bahasa, dalam Bahasa aslinya dipakai kata “endunamoo” yang dalam Bahasa Inggris bisa diterjemahkan: to strengthen. Pengertian ini mewakili karakter dari seseorang yang kuat. Menariknya ini juga adalah resep untuk kesuksesan.

“When somene becomes stronger, he/she has more chance of success.”

Coba saja lihat, beberapa contohnya, di sepakbola, kalau ada tim yang memiliki pertahanan yang kuat (sebut saja catenaccio) maka mereka menjadi tim yang lebih kuat. Atau jika suatu tim sepakbola memiliki penyerangan yang lebih kuat/mendominasi (sebut saja tiki-taka) maka mereka menjadi lebih kuat, dan membawa pada kesuksesan. Hal yang sama dalam perusahaan, modal yang kuat, manajemen yang kuat, membuat suatu perusahaan lebih kuat dan lebih sukses. Contoh terakhir dalam hidup, orang yang punya karakter/kepribadian kuat, yang punya iman/percaya lebih kuat, menunjukkan kemungkinan sukses lebih besar. Hakim-hakim 6:14. Gideon punya kekuatannya, tetapi tidak menyadari siapa yang mengutusnya. 

Karena ini adalah perayaan Natal, tentu saya ingin Anda juga mengingat Kisah Natal, dimana ada pribadi-pribadi yang kuat membawa kesuksesan dalam perjalanan hidup mereka.

Pertama: Para Majus. Matius 2:2, 10-11, 16.
a. Mereka datang jauh dari timur.
b. Datang sampai Yesus sudah tinggal di rumah.
c. Sepulang mereka dari tanah Israel terjadi pembunuhan anak-anak usia 2 tahun ke bawah.
Sehingga kita bisa memberi estimasi bahwa setidaknya mereka menghabiskan 2 tahun atau lebih dalam perjalanan, yang membawa kepada keberhasilan dan sukacita. 

Kedua: Orang tua Yesus. Matius 1:24-25, Lukas 1:38. 
a. Yusuf harus menentang perasaannya dan mengambil keputusan besar.
b. Yusuf harus menahan dirinya sesudah pernikahan.
c. Maria merendahkan dirinya dan menempatkan diri sebagai hamba.
d. Demikian mereka mengambil resiko yang besar.
Keduanya menjadi bagian dari sejarah besar bagi dunia, kedatangan Juruselamat!
Kalau Anda mengingat tokoh terkenal dari Perjanjian Lama, Yosua. Ia diberitahu oleh Allah untuk menjadi kuat dan teguh hati sebanyak 3 kali dalam 4 ayat yang berurutan. Yosua 1:6-9. Sehingga kita bisa mulai merenungkan, kalau Tuhan sampai seperti itu memberi Firman kepada Yosua, tentu saja itu adalah kebenaran! 2Samuel 7:28.

Apa yang dialami Yosua (dalam Yosua 1) bisa menjadi pelajaran bagi kita di perayaan Natal ini.

  • Dalam waktu kehilangan/kesusahan (ayat 2), engkau harus menjadi lebih kuat, maksudnya dengan tidak mudah putus asa, atau menjadi tawar hati (ayat 9).
  • Dalam waktu dimana kita menghadapi target yang besar (ayat 4), kita harus menjadi lebih kuat, maksudnya adalah dengan tetap hidup lurus dan berkenan. Bagaimana caranya? Kontrol (cek/ricek) apa yang kita lakukan (ayat 7) dan terus taruh pedoman hidup berkenan itu di pikIran kita (ayat 8).
  • Dalam waktu dimana kita mengetahui atau mendapat janji (untuk kepemilikan seperti di ayat 3 atau kemenangan seperti di ayat 5), kita harus menjadi lebih kuat, dengan memimpin diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk berkomitmen (disiplin, ayat 6).

Sebagai penutup kita menjadi lebih kuat saat kita bisa tetap bisa bersyukur di tengah kelemahan kita. 2Korintus 12:9-10. Ini adalah salah satu paradoks Kristiani. Karena itu di perayaan Natal 2018 ini, hendaklah setiap kita menguatkan hati kita, dan tidak membiarkan kelemahan, kekurangan bahkan ancaman melemahkan kita. Roma 8:35. Sebaliknya pujilah Tuhan!

ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Rut ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

PUJI DAN SEMBAH DIA

Selamat malam Bapak/Ibu/Saudara/i, jemaat GPdI Mahanaim yang luar biasa. Malam hari ini kita berkumpul di tempat ini dengan motivasi yang berbeda, yang ketika kita berlutut nanti, kita bawa di hadapan Tuhan.

Ada orang-orang yang karena mereka tahu motivasinya bukan karena benar-benar rindu dan mengasihi Tuhan, terlebih lagi mereka masih belum beres dalam hatinya. Ketika berlutut kemudian menjadi tertuduh dengan suara-suara dari iblis, dan buyar konsentrasinya dalam berdoa. Karena itu malam hari ini saya rindu kita mengenal DIA, dan mendapat alasan yang tepat mengapa kita harus memuji dan menyembah DIA dalam Doa Raya ini.

Setiap kita punya figur yang kita kagumi, itu bisa jadi seorang pemimpin, seorang ayah, seorang artis, seorang atlet, atau siapapun itu. Izinkan saya membuat daftar 7 figur yang mungkin Anda kagumi:

  1. Penolong. Siapa yang tidak suka ditolong, dan seringkali kita kagum dengan seseorang yang pernah menolong kita. Mereka yang berdiri di samping kita. Yohanes 14:16, Lukas 12:11-12.
  2. Penghibur. Tidak ada orang yang tidak suka hiburan. Ketika sudah penat, ketika lelah, kita butuh seseorang atau sesuatu yang bisa menghibur dan memberi kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Memang sayangnya ada yang salah mengerti dan mencari penghibur yang malahan membawa pada masalah lain. Yohanes 14:26. Lukas 22:43.
  3. Sahabat sejati. Seseorang yang berani berkorban untuk Anda, siapa yang tidak kagum dengan sosok seperti ini. Yohanes 15:13-15.
  4. Sang Sulung, yang pertama. Saya kagum dengan kakak saya yang sulung, karena dia yang “membuka jalan” dan menjadi referensi saya dalam beberapa pengambilan keputusan. Roma 8:29. 1Korintus 15:20.
  5. Pasangan. Selama Anda bukan karena dipaksa, tunangan Anda adalah yang terbaik, dan biasanya Anda kagumi, setidaknya ada satu sisi dari dirinya yang membuat Anda ingin bertunangan dengan dia, bukan? Anda percaya dia sedang menyiapkan yang terbaik di tingkatan hubungan berikutnya, yaitu pernikahan. Wahyu 21:9-10. Yohanes 14:3.
  6. Ayah (atau untuk beberapa orang: Ibu). Kasih dan sayang mereka tidak ada duanya. Betul, memang mereka tidak sempurna, tetapi kebanyakan kita kagum akan kegigihan mereka dan kasih mereka terhadap kita. Lukas 11:11-13, Yesaya 49:15.
  7. Allah. Bagi setiap orang percaya, kita kagum pada figur Pencipta langit dan bumi dan seluruh semesta ini. Bagaimana DIA mencipta dari ketiadaan, mencipta hal-hal yang begitu detail dalam diri kita, dan juga di sekeliling kita. Roma 11:33-36.

The Perfect Seven. Bisakah Anda melihat itulah Allah Tritunggal, Bapa, Anak, Roh Kudus yaitu dalam Tuhan Yesus Kristus. Jadi apa yang kita lakukan di hadapanNYA malam ini. Engkau yang butuh pertolongan, penolongmu ada disini. Engkau yang lelah dan mengalami duka, penghiburmu ada disini. Engkau yang perlu sahabat, sahabatmu ada disini. Demikian IA adalah Saudara Sulung, Tunangan, Bapa, IA Allah diatas segala Allah, ada disini. Ajukanlah permohonanMU, “dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. (Filipi 4:6)

GodblesS

JEFF