Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

Kasih Karunia dalam Kekristenan

— Apa itu kasih karunia?

Kasih Karunia itu sudah hadir sejak mulanya dan membawa segala sesuatu yang baik. Kejadian 1:31. Dengan demikian manusia pun diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Efesus 2:10. Jadi sesuatu yang dimulai baik akan menghasilkan yang baik pula. Kasih karunia memulai sesuatu yang baik, kasih karunia akan mengakhiri juga dengan baik. Wahyu 22:3 (pemulihan total dari kondisi manusia di Kejadian 3:17), Wahyu 22:13.

— Bagaimana mereka yang belum mengenal kasih karunia Allah?

Setiap orang yang lahir di dunia hadir karena kasih karunia Allah. Namun tentang mengenal kasih karunia itu dibutuhkan berita yang disampaikan kepada semua orang di dunia. Beritanya disebut Injil yang berarti kabar baik. Lukas 4:18. Pembawa berita itu melakukan sesuatu yang indah dengan menempuh halangan dan rintangan untuk memberitakannya. Yesaya 41:27. Pendengarnya diharapkan percaya, kemudian berseru kepada Tuhan, dan akhirnya menerima keselamatan. Roma 10:13-14.

Dari penjelasan diatas, satu-satunya orang yang belum mengenal kasih karunia Allah adalah mereka yang belum mendengar Injil. Mereka merasakan kasih karunia, mengalaminya, tetapi tidak mengenalnya. Sehingga yang terjadi adalah mereka bisa mendapatkan dan mencapai semua hal (Kejadian 11:6), namun bukan keselamatan. Keselamatan yang dimaksud adalah kehidupan kekal bersama Yesus. Yohanes 14:1-3, 3:15-17.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa dengan melihat alam ciptaan saja sebenarnya manusia sudah dapat memahami penyataan kasih karunia Allah, sehingga tidak ada seorangpun bisa berdalih bahwa itu belum dinyatakan kepada mereka. Roma 1:18-20. Bagi mereka yang belum mendengar tentang Yesus maka arah iman percaya mereka kepada Sang Pemberi kasih karunia. Seperti apa yang dilakukan keturunan Adam yang sudah tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, mereka dibenarkan karena iman.

Contoh dari mereka diantaranya ada di zaman Enos. Kejadian 4:26. Atau di zaman Nuh. Kejadian 6:8-9. Juga di zaman Ayub (yang dipercaya hidup satu zaman dengan Abram, sebelum kemudian jadi Abraham). Ayub 1:1. Ketiga contoh tokoh ini memanggil nama Tuhan, hidup saleh dan takut akan Tuhan, jauh sebelum Yesus dinyatakan sebagai Tuhan yang menjadi manusia. Sehingga keselamatan dalam nama Tuhan Yesus adalah keselamatan yang sama jika orang beriman kepada Sang Pemberi kasih karunia.

Kejadian 5:24, Henokh percaya kepada kasih karunia Allah, dia tidak mengalami kematian. Oleh penulis Ibrani ia disebut “berkenan kepada Allah”. Ibrani 11:5. Perkenanan Allah ada atas orang yang percaya kepadaNYA, sedangkan mereka yang menolak untuk percaya, hukuman sudah tersedia. Yohanes 3:18. Hal ini bukan karena Allah menginginkan itu, tetapi ini dijelaskan di ayat-ayat berikutnya (ayat 19-21). Jika seseorang menolak terang maka yang didapatkannya adalah gelap, sama seperti hukum fisika bahwa kegelapan adalah ketiadaan terang.

Percayalah dan datanglah pada Sang Kasih Karunia (Yohanes 1:17), Sang Terang (Yohanes 12:46).

GodblesS
JEFF

Impacting Generation

IMPACT (I Make Powerful ACTion)

1Timotius 4:12-13

Halo temen-temen di Zion Altar, salam kenal karena ini pertama kalinya saya dapat kesempatan ngobrol bareng dengan temen-temen semua. Seneng sekali bisa kenal dengan temen-temen baru dan kita bisa belajar bareng dari Firman Tuhan. Bahkan setelah break nanti kita bisa ngobrol langsung online, untuk mereka yang sudah kuliah dan kerja.

Saya rasa temen-temen sudah mengerti banget tentang aktivitas online, dan menjadi bagian setidaknya satu komunitas online. Kita hidup di dunia dimana informasi bergerak begitu cepat, dengan volume yang besar. Informasi digital menjadi tidak terpisahkan dengan keseharian kita.

Satu hal yang menarik dari generasi muda yaitu kita ingin berkontribusi kepada komunitas yang dibangun oleh generasi sebelum kita. Kita ingin terlibat dan ingin dilibatkan. Itulah kenapa banyak di Gereja-gereja, pelayan-pelayan Ibadah adalah anak muda.

Saya rasa ini juga terjadi di kisah-kisah Alkitab. Ada Yusuf perdana menteri di negeri Mesir, Gideon pembebas dari orang Midian, Daud pemimpin pasukan dan raja, ini dari Perjanjian Lama. Kalau kita masuk di Perjanjian Baru, ada Yesus guru dan pembuat mujizat (tentu saja pada akhirnya murid-muridNYA mengerti bahwa IA adalah Mesias, Juruselamat manusia), dan juga ada Timotius pelayan dan pemimpin Gereja di Efesus.

Sesuai dengan ayat tema utama kita, mari kita baca dulu 1Timotius 4:12-13. Konteksnya Paulus memiliki suatu tim pelayanan, dan Timotius membantu dalam perjalanan misi kedua Paulus. Tetapi kemudian ada kebutuhan pelayanan di Efesus dan Timotius ditempatkan sebagai pemimpin disana. Tentu sebagai pemimpin ada banyak hal yang harus dibereskan. Karena itu saya mendorong temen-temen untuk menghormati pemimpin-pemimpin yang ada di lingkungan kita. Karena tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang baik.

Intinya di tengah semua kesulitan yang dihadapi (pengajaran sesat dan gaya hidup yang tidak jadi teladan, 1Timotius 1&2) Timotius harus bisa berbuat sesuatu yang berdampak (to make a powerful action). Namun tidak seperti pemerintah dan pembesar versi dunia (Matius 20:25), ia harus memberi dampak dengan melayani (ayat 28). Petunjuk Paulus kepada Timotius mengenai orang yang melayani adalah seperti ini:

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.”

Hal Ini saya rasa sangat relevan dengan hidup kita. Saat kita SD kita ingin segera SMP, saat SMP ingin segera SMA. Ini terus berlanjut saat SMA kita ingin segera kuliah atau bekerja, saat bekerja kita tidak ingin disebut “junior” terus, kita ingin menjadi “senior”.

Ini terus terjadi karena usia yang lebih tua dianggap memiliki kekuatan lebih, kemampuan lebih dan mendapat perlakuan yang lebih baik. Maksudnya kita bisa memiliki dampak dengan menjadi semakin tua. Tapi ada solusi untuk mendapat kekuatan, kemampuan dan perlakuan baik dari orang-orang lain bahkan sedari muda. Itu ada di bagian berikut dari ayat 12 ini.

“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya.”

Saya rasa frase ini ditulis “orang-orang percaya” karena konteksnya adalah Timotius sebagai pemimpin jemaat. Karena dalam 2Petrus 1:7 dikatakan untuk menambahkan “…kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”

Tentang teladan Yesus memberi pengertian bahwa hal itu harus dilakukan terlebih dahulu baru kemudian itu akan berdampak (Yohanes 13:12-15). Ini yang juga kita secara kolektif merasakan bahwa beberapa pemimpin dalam masyarakat gagal menjadi teladan dan jadi cibiran masyarakat yang dipimpinnya.

Kita anak-anak muda tertantang untuk tidak mengulangi teladan yang salah tentunya, dan melalui pertemuan virtual ini semoga kita kembali diingatkan untuk menjadi teladan yang benar. Mari kita lihat ada 5 hal yang menjadi indikator seorang yang jadi teladan.

  1. Perkataan.
  2. Tingkah laku.
  3. Kasih.
  4. Kesetiaan.
  5. Kesucian.

Pertama. Bebas dari perkataan yang merendahkan, yang tidak berguna. Kita berpikir bahwa kata-kata kita hanyalah angin lalu, tapi lihatlah, perkataan yang sembarangan pada suatu saat akan mengikat kita. Matius 12:36.

Kedua. Bebas dari kelakuan yang jahat dan malas. Matius 25:26. Apa tingkah laku orang yang jahat dan malas? Ayat 24-25.

  • Tidak bekerja.
  • Menuduh dan merasa berhak menghakimi Tuhan.
  • Takut dan melakukan apa yang dirasa benar.
  • Hidup tidak berdampak.

Ketiga. Kasih yang sepadan baik kepada Tuhan dan kepada sesama. Kasih adalah tingkatan tertinggi dalam kekristenan. Kita bisa lihat itu di Galatia 5:22-23, demikian juga 2Petrus 1:5-7. Hukum Taurat mengenalkan kita akan ketidakberdayaan kita, namun kasih adalah energi yang mengangkat, memulihkan dan menghidupkan kita. Hal itu juga berlaku ketika kita menunjukkan kasih kepada orang-orang lain. Tidak heran Yesus menyebut kasih sebagai hukum terutama. Matius 22:37-39.

Keempat. Kesetiaan. Tantangan orang muda untuk tetap setia, maksudnya tetap bertahan di tengah rupa-rupa angin pengajaran adalah bagaimana Anda tetap berdiri kokoh diatas kebenaran Allah. Apakah Anda akan membiarkan hidup Anda dipenuhi dusta iblis (Yohanes 8:44) atau memenuhi hidup Anda dengan perkataan Kristus dan hidup dalam kebenaran (Yohanes 14:6)?

Kelima. Kesucian. Hidup tidak di dalam dosa. Kesucian bukan berarti kita tidak bisa berdosa. Lalu ketika kita berdosa kita merasa tidak layak. Kita harus peka untuk menjaga hidup kita tidak tercemar. 1Yohanes 3:3-6.

Saya akan menutup dengan 1Timotius 4:13. Setelah menyebutkan lima area dalam menjadi teladan, Paulus kemudian mengatakan kepada Timotius tentang bertekun dalam membaca, membangun (dalam terjemahan lain disebut menasehati) dan mengajar. Saya melihatnya seperti ini temen-temen Zion Altar, bahwa untuk menjadi dampak, kita harus tetap mempersiapkan diri. Karena keberhasilan adalah titik pertemuan dari persiapan dan kesempatan.

Latihlah dirimu dengan Firman Tuhan, dengan diskusi, dengan berkomunitas. Universitas-universitas terkenal di dunia dimulai dari seminari, tempat Firman Tuhan dipelajari. Meskipun sayangnya sekarang mereka malah berbalik dan meremehkan Firman. Tetapi temen-temen Zion Altar, kita berbeda, kita punya kesempatan untuk membawa dampak.

GodblesS

JEFF

Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

GodblesS

JEFF

INTIMACY WITH GOD.

What a wonderful day in the House of God. I am glad to have a chance to be here among my fellow believers in Christ. As we all know, God wants to connect with you in a new way through Jesus Christ. That’s why we have to connect to Him, and build an intimacy with Him.

Intimacy with God is begin by connecting to Him. John 15:4-5.

Connecting with God – how can we connect with Him? And why sometimes we don’t feel close with God?

The reason we want to connect with God is because we are disconnected with God. The Fall of Man: we were connected, full of glory of God, but in Genesis 3, all changed. The reason of that fall was when we put our mind in the wrong choice (we have plenty of choices, but why we choose the few – tree of knowledge of good and evil, and forget other trees).

Again about human thinking, if we think about sin all the time we are feeding sin to our mind. God says that the ultimate gap between him and us is our sin. Isaiah 59:2. And that sin comes when you start questioning God in your mind and from that it will go further to disobedience. Genesis 3:1-6.

Let us read one more time our theme verse in John 15. Like a tree, in order to keep alive and be fruitful, a branch has to be connected with the trunk. This will explain my next sentence. Because we are disconnected we feel dry, empty, and try to fill that with 3L (luxury, lust, love) or 4G (gold, glory, guys/girls, getaway) that the world offers. It’s all useless. Let me bring you to Bible Story, where the longest conversation between Jesus and other person was recorded. It’s a story of Samaritan woman. John 4.

This Samaritan woman who met with Jesus near Jacob’s well, she was disconnected from society. Jesus warned her in John 4:13-14 You will thirsty again if you drink from this earth. Jesus continued, but if you ask living water (verse 10) you won’t be thirsty again. Living water here have two meanings, “springing water” and “eternal life, salvation.”

We need Salvation to reconnect, to be alive. We thought salvation prayer only for a non-believer, but we also have to recite it, understand it.

What are parts of salvation prayer?

  • Proclaim Jesus as God. Verse 29. Say it loud! Romans 10:10.
  • Admit our faults and wrong ways. Verse 39. We know we are imperfect, perfected in Christ, this is a sign of total surrender, don’t cover it with your self-righteousness. 1John 1:9.
  • Present (give up your life for God’s cause – Romans 12:1) & Repent (the word metanoia means we renew our mind deliberately, we are not helpless person occupied by external, but internally empowered by the Spirit – Romans 12:2). In Hebrews 4:12 the author of Hebrews said the Word of God could separate (discern) the will and heart of man – As we know the Word is the sword of Spirit (Ephesians 6:17). Later on 1Corinthians 12:10 one of the gifts of the Spirit is to discern different spirits.
  • Believe (leave your burden, do not carry that again). Matthew 11:28.

When you pray that prayer, that is when you are really connecting with God, you build your intimacy with God. It’s not how frequent you put yourself around Jesus (don’t follow the Pharisees, who’s around but didn’t have the intimacy). But how well you want to know Him, when you hear His voice, the good news.

GodblesS

JEFF

JESUS IS YOUR FRIEND

This notion sometimes missing from our understanding of Jesus. I mean yes, He is our Savior, our Redeemer, our King, and our Baptizer in the Holy Spirit.  But Jesus Himself said this to the disciples, “You are my friends if you do what I command you.” (John 15:14). By doing this we are not demeaning Him, because He declared that, “…I have called you friends…” (v.15). I encourage you to be grateful for this and make it our conviction.

We should be grateful for these reasons:

  • No other religion or faith could call God as a friend (this is distinctive for Christianity, the another one is grace).
  • Your status as a friend of someone as powerful as God is a privilege.

So why knowing Jesus as your friend important for every Christian? Because our thought has soiled with the concept of a friend from this world.

In this time of uncertainty, knowing that you have a friend, listening to you, care for you, and always there for you, is a gift. Jesus is our friend forever.

GodblesS

JEFF