Book: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar?n=1

And do yourself a favor, click above link and put an ORDER.

Advertisements

GOOD NEWS (Kabar Baik)

Kabar baik adalah sesuatu yang ditunggu semua orang. Pada tahun-tahun ini, mungkin ada beberapa kabar yang membuat Anda sedih dan kecewa. Namun mungkin juga ada beberapa kabar baik yang Anda terima dan membuat setidaknya Anda tersenyum. Apa pun itu, kita tahu bahwa ada kabar baik untuk kita semua tanpa terkecuali. Suatu kabar pengharapan untuk menghadapi hari-hari kedepan.

Lukas 4:18. Yesus sendiri menyatakan bahwa kedatanganNYA adalah untuk membawa kabar baik. Apa kabar baiknya? Tahun rahmat Tuhan, tahun Anugerah Tuhan telah datang. Waktu kemurahanNYA telah datang. Tuhan tidak marah terhadap Anda, Tuhan malahan memberi Anugerah, sebuah hadiah yang seharusnya tidak layak kita terima. Hadiah diberikan kepada seseorang setelah perbuatannya. Misalnya dalam perlombaan. Namun anugerah, berarti seseorang yang tidak layak, yang tidak mampu mengupayakannya sendiri. “Anda adalah anugerah dan bukan musibah”. Katakan itu kepada pasangan Anda.
Yesus adalah anugerah yang melebihi hadiah apapun yang mungkin kita bisa terima. Jauh lebih berharga dari hadiah yang dunia bisa tawarkan.

Jika kita baca Roma 8:32 dikatakan: “IA yang tidak menyayangkan…” You won’t appreciate something until you realized how precious it is to someone else. Hal-hal seperti ini biasanya Anda dapatkan ketika Anda bertemu dengan orang yang posisi, kondisinya lebih sulit dari Anda. Ini terjadi di kedukaan. Atau juga ketika Anda mengunjungi tempat-tempat terpencil yang kekurangan air, makanan, atau listrik misalnya. Anda akan kemudian sangat menghargai hal yang sangat sederhana. Mungkin Anda ingat cerita Raja Daud dan pahlawan-pahlawannya di 2Samuel 23:13-17.

Kalau kita kembali pada pembacaan kita di Roma 8:32, selanjutnya ditulis “…tetapi yang menyerahkanNYA bagi kita.” Anda akan dapatkan bagaimana berharganya anugerah yang Anda peroleh, dan itu diserahkan “bagi kita”, khusus, spesial. Ini yang membuat Natal spesial. “Hadiah” sejati, “hadiah” terbesar, “hadiah” paling berkesan di masa Natal adalah Yesus sendiri. Saya pernah juga menyampaikan betapa orangtua saya (dan tentu saja banyak orangtua lain disini) yang sangat menyayangi anaknya. Anda pasti bisa menghayatinya.

Karena itu seharusnya kita punya “cara pandang yang positif” mengenai Tuhan. Karena Allah bukan lawan kita, namun Allah adalah BAGI KITA. He is for us!!! Dalam Mazmur 146:8 “…Tuhan mengasihi orang-orang benar.” Anda bisa berargumen: “tetapi saya belum benar, saya belum sempurna…” Betul. Demikian juga dengan Abram. Kejadian 15:6. Seseorang yang tidak benar, namun karena imannya membuat dia dibenarkan di hadapan Allah. Kalau kita melihat ke Perjanjian Baru, seperti halnya Abram, iman kita kepada Yesus yang membenarkan kita. Roma 3:23-26.

Kalau berkaca pada perbuatan kita, dosa sajalah yang kita perbuat, namun syukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus yang lahir dan hadir bagi kita semua, kita dibenarkan. Hendaknya kita bersyukur sungguh, dan bermegah hanya di dalam DIA. 1Korintus 1:30-31. Inilah kabar baik itu, yang diberikan supaya kita juga bagikan (makna penginjilan adalah membagikan): ANAK ALLAH TELAH DIBERIKAN BAGI KITA KARENA KASIHNYA PADA KITA. Itulah mengapa kesimpulan dari semua Injil/Kabar Baik itu selalu kembali kepada: Yohanes 3:16. Ini kemudian diulangi lagi di 1Yohanes 4:9, bahwa kasihNYA membuat kita hidup.

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus sebenarnya sudah dinubuatkan dalam Yesaya 9:5. Untuk membahas mengenai “Anak Allah yang diberikan bagi kita” pertama-tama kita akan membahas dulu mengenai konsep “Anak Allah”. Ini adalah konsep yang sering kita dengar dalam kekristenan, namun sebenarnya adalah suatu konsep asing dalam agama-agama monotheism.

Lain halnya dengan agama-agama polytheism yang seringkali memang menggambarkan tuhan/dewa-dewinya bisa saling kawin, baik antar dewa, maupun cross-breed dewa dan manusia, atau binatang? Saudara bisa melihat itu di kisah-kisah seperti Hercules, dimana dia adalah anak dari dewa Zeus, dewa tertinggi dalam mitologi Yunani. Tetapi saya tidak ingin membahas ini lebih jauh, karena inti yang ingin saya sampaikan adalah konsep Anak Allah adalah sesuatu yang lumrah bagi penganut politheisme. Namun sebaliknya menjadi konsep yang sulit dicerna oleh penganut monotheisme (contoh: Yahudi, Kristen, Islam).

Itulah mengapa, terutama kita yang menghadapi banyak pertanyaan dari dunia yang tak mengenal Yesus penting bagi kita untuk bisa menjawabnya dengan cara yang baik. Karena Rasul Petrus mengingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus bisa mempertanggungjawabkan pengharapan yang kita percayai. 1Petrus 3:15.

Apa penjelasan yang bisa kita berikan mengenai konsep “Anak Allah”. Saya akan berikan 3 penjelasan yang berurutan, dan semoga ini memudahkan Anda juga untuk menjelaskan kepada orang lain.

  1. Untuk berbicara dengan manusia, Allah menggunakan bahasa manusia. Mazmur 73:22.
  2. Tuhan merendahkan diriNYA untuk menjadi sama dengan manusia. Filipi 2:5-8.
  3. Menjadi serupa dan segambar adalah sesuatu untuk menggambarkan konsep Anak. Kejadian 5:3.

Melanjutkan poin ketiga di atas, saya ingin menjelaskan lebih lanjut bahwa meskipun sebutan “Anak Allah” sering disematkan kepada Yesus, namun itu bukan saja mengacu kepada Yesus. Anak Allah juga bisa mengacu kepada:
Adam. Kejadian 1:26.

Kita semua yang percaya pada Yesus dan dipimpin Roh Allah. Roma 8:14-15.
Anak Allah diberikan bagi kita. Karena iman kepadaNYA lah kita menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” Suatu jaminan untuk kita tidak takut lagi. Katakan AKU ANAK ALLAH, aku tidak perlu takut lagi, sebab jika Allah di pihakku, siapa yang akan menjadi lawanku! Amin.

IT IS DONE


For every beginning has an end.” Untuk segala sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf alphabetical yang biasa kita kenal).


Misalnya saja dalam rangkaian minggu penciptaan yang tertulis di Kejadian 1. Ada awal dan ada akhir dari rangkaian itu, yang akhir kita sebut sebagai hari Sabat. Pada masa Perjanjian Lama ini adalah hari Sabtu, dan sekarang di masa Perjanjian Baru itu adalah hari Minggu.


Ketika bicara tentang awal penciptaan banyak “orang-orang pintar semacam ilmuwan” yang tidak percaya dan berusaha membuktikan sebaliknya. Ada yang disebut “partikel tuhan” atau secara ilmiah mereka menyebutnya “Higgs boson” dan secara singkat itu adalah partikel yang menyusun segala sesuatu benda di dunia. Tetapi pastilah mereka akan gagal karena mereka sudah menutup mata mereka bahwa Allah adalah yang pertama dan pencipta segalanya. Segala sesuatu juga akan berakhir olehNYA.


Kita mengatakan “It is done” ketika kita sudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan “it is finished”. Done atau finished itu sinonim dengan kata-kata dalam bahasa Inggris: complete, perfect, good. Semua definisi yang saya sebutkan di kalimat terakhir itu menariknya tergambar dalam 3 ayat-ayat yang berurutan di Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1-2.
– Good. Kejadian 1:31.
– Finished. Kejadian 2:1.
– Complete. Kejadian 2:2.


Apa makna dari yang tertulis di lembar pertama Alkitab kita ini?


Allah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang final, sehingga kita bisa berkata bahwa teori evolusi itu tidak Alkitabiah.
Kita, manusia, ciptaan Allah, adalah ciptaan yang sempurna (Kejadian 1:27) dan kita diciptakan untuk suatu tujuan (ayat 28).
Karena itulah bahkan ketika manusia jatuh, Allah langsung merencanakan penebusan. Kejadian 3:15.


Manusia berharga di mata Tuhan, bahkan bagi mereka yang dipilih dan dipanggil dalam rencana Allah (seperti bangsa Israel dan juga bagi kita Israel Rohani) Allah mengatakan bahwa kita: “berharga di mataNYA, mulia, dikasihi, dan mendapat jaminan perlindungan. Yesaya 43:4.

You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

Kembali pada ibadah kita, mungkin ada pertanyaan mendasar, mengapa Yesus harus berkorban? Gembala Jemaat GPdI Mahanaim di Tegal pernah menyampaikan hal ini, dengan analogi cerita perumpamaan Yesus di Lukas 10:25-37.

Sejak kejatuhan manusia, manusia ditentukan untuk mati. Kita lahir untuk mati! Iblis mendapat kesempatan untuk merampok kita habis-habisan. Keunggulan, keistimewaan dan kemuliaan manusia mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika tidak ada juruselamat, maka kita pasti mati. Mati disini baik secara:
– Jasmani.

Maksudnya dengan makin singkatnya waktu hidup, dari Kejadian 6:3 (sampai dengan 120 tahun) hingga Mazmur 90:10 (hanya 70 sampai 80 tahun saja).
Rohani. Maksudnya ketika manusia menjadi fasik (jahat) maka ujung jalannya adalah kebinasaan. Mazmur 1:6.

Untuk menjadi juruselamat dunia, Yesus harus mati! Mengapa? Untuk menggantikan kita yang harusnya mati. DIA mati supaya kita hidup. Gambarannya adalah seperti korban di Perjanjian Lama (Imamat 16:34) perlu dikorbankan setiap tahun untuk pendamaian. Namun itu semua digenapi dengan korbanNYA yang menjadi penanda suatu Perjanjian Baru. Korban yang sempurna, sekali untuk selamanya. Ibrani 9:28.

Jadi ketika Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30) berarti misinya sudah selesai, dosa tidak lagi “menjajah” hati manusia. Penghukuman yaitu maut yang diakibatkan dosa tidak lagi jadi bagian kita. Roma 8:1-2.

Sekarang, bagaimana dengan dirimu?
– Apakah dirimu masih dipenuhi rasa bersalah?
– Apakah kamu masih belum bisa lepas dari perbuatan dosa?
– Apakah kamu masih berhubungan dengan roh-roh lain yang mengikatmu?
– Apakah kamu masih sementara mencari kebenaran?
– Apa yang bisa Yesus tawarkan kepadamu hari ini adalah, apakah kamu mau percaya?

Ketika Yesus berkata “sudah selesai” berarti iblis sudah tidak bisa menuntut kita lagi. Hukuman itu dilalukan (Passover) dari kita ketika kita di dalam Yesus. Bagaimana bisa kita hidup di dalam Yesus? Apakah itu berarti tinggal di dalam gereja? Bukan, ketika kita hidup di dalam Yesus artinya:

  • Percaya. Yohanes 3:18. DIA sudah memberikan fasilitas untuk kita bisa menjadi utuh (complete) dan baik (good), setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
  • Hidup benar. Yohanes 3:21. Berarti hidup menghindari dosa. Ingat Yesus menjadi dosa bukan karena DIA berdosa. Demikian kita dibenarkan bukan karena kita sudah benar, tetapi karena kebenaran Allah yang “diberikan” pada kita. Masakan kita mau mempermainkan pemberian itu dengan hidup tidak bertanggungjawab. Masakan kita mau disebut “orang yang tidak tahu untung, sudah ditolong, tetapi malah menyalibkan Yesus lagi”.
  • Datang pada terang yaitu DIA. Yohanes 8:12. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak menyembunyikan apapun. Semuanya terbuka, dan dia senang dalam terang. Tetapi sebaliknya mereka yang hidup di gelap, suka menyembunyikan hidupnya, dan menjauh dari terang.

Sukacita & Kasih.

Ini adalah buah Roh yang ke-8 & 9. Mari kita lihat secara etimologis, atau asal kata. SUKACITA dalam bahasa Ibrani dipakai kata Simkhah (baca: sim-khaw’), yang bisa berarti hasil atau akhir yang gembira. Sedang dalam bahasa Yunani dipakai kata Khara (baca: khar-ah’), yang bisa dipakai juga sebagai salam saat bertemu.

Sukacita dalam Alkitab lebih dari sekedar emosi “senang” atau “gembira”. Sukacita adalah perasaan bahagia bercampur dengan perasaan diberkati.

Contoh dalam Perjanjian Lama:

  • Ulangan 12:6 Sukacita di saat-saat perayaan.
  • Mazmur 43:4 Sukacita karena perasaan lega, setelah berkeluh kesah.

Dalam Perjanjian Baru ada 3 makna utama dari Sukacita / khara:

  1. Lukas 15:7         Kegembiraan yang meluap-luap.
  2. Filipi 4:4             Kegembiraan dari hubungan yang dalam dengan Allah.
  3. Matius 25:21     Hasil atau buah dari sukacita.

Ada beberapa faktor yang digambarkan sebagai sumber sukacita:

  1. Faktor Ekstrinsik / Eksternal / Luar
    1. Harta/kekayaan.
    1. Status.
    1. Kedudukan/pangkat.
  2. Faktor Intrinsik / Internal / Dalam

Faktor dari luar, bisa tidak tetap dan sangat mudah berubah. Namun faktor dari dalam menetap. Coba bandingkan dengan ayat ini: 2 Korintus 4:18  “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Paulus berbicara dalam konteks tubuh jasmani yang seperti bejana tanah, dan harta yang jauh lebih berharga dan berkuasa didalamnya. Harta itu adalah: ROH KUDUS. Itulah mengapa IA disebut “Penghibur” Yohanes 16:7.

Meskipun ada MASALAH, PERSOALAN, Roh Kudus yang membuat kita bertahan, dan kunci sukacita itu ada di Yohanes 15:10-11.

KASIH dalam bahasa asli Perjanjian Baru dipakai kata Agape, yang berorientasi pada kepentingan orang lain.

Kasih bukan juga sekedar perasaan, namun juga tindakan yang mungkin akan lebih mudah kita lihat di dalam 1Korintus 13:4-8.

Kasih itu:

  • Sabar.
  • Murah hati.
  • Tidak cemburu.
  • Tidak sombong/memegahkan diri.
  • Sopan.
  • Tidak mencari keuntungan sendiri.
  • Tidak pemarah/pendendam.
  • Bersukacita karena kebenaran.
  • Menutupi, percaya, mengharapkan, sabar menanggung.
  • Tidak berkesudahan.

Seperti salah satu poin di atas, Kasih itu berhubungan dengan kebenaran.

Kasih itu suatu tindakan sukarela, yang tidak dipaksakan. Yesus memberi teladan yang luar biasa tercatat di Yohanes 14:31.

Menariknya, konsep kasih di Alkitab sangat berbeda dengan konsep dunia. Jika dunia berpusat pada diri, maka dalam Kristus itu berpusat pada orang lain. Contohnya dalam kalimat Yesus seperti ini: “AKU datang bukan untuk dilayani namun untuk melayani,” atau “Lebih berkat memberi daripada menerima.”

Ini semua tentu saja datang dari kuasa Roh Kudus. 1Yohanes 3:1 “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.”

Fear

All of us are prone to fall into the trap of the devil. And he wants us to repeat the history. What happened in Genesis 3:10 could happen in our lives. If I ask you this question: what is the biggest threat to our spiritual conditions? Fear is the answer.

Why fear is the biggest threat to our spiritual conditions? Because if we have fear, as little as it is, it will grow and becomes the root of our problems. Let me bring you back to the story of Adam and Eve in Genesis 3. Fear becomes the root of all man’s wrongdoing. These three things sprang out from fear:

  • Breach the law (fear of being fooled by God). Isaiah 24:4-5. God’s law is His Word, and it is like the lines, the rules that keep everything intact.
  • Runaway (fear of being responsible). Jeremiah 2:4-6.
  • Hide (unrealistic fear). Job 34:22.

Another unrealistic fear is the thought that if you don’t have some amount of money (like others), then you lose your self-esteem. A rabbi with the name Smoley Boteach wrote this in his book: “Money should never be turned into a currency to purchase self-esteem.” Fear is gripping our modern society. It confused them, bring anxiety and gives them death. Luke 21:25-26.

The answer for us in facing fear is by the Grace of God (2Timothy 1:6-7) and in believing that He gives that abundantly, read Romans 5:17. From the letter of Paul to Timothy, we learn that we must “rekindle God’s gift (His Grace),” and “remember that you need the Holy Spirit.” The Holy Spirit is not given you spirit of fear, but Spirit who produce power, love, and Self-Control.

GodblesS

JEFF

SESSION-5: REIGN IN LIFE (COURAGE)

Reign in life is reign over sin. Because sin is the opposite of life, remember the choice from tree of good and evil, and tree of life. Sin is changing the course of history. Genesis 3:22-23. And the result is death. Romans 6:23. To resist the attraction of sin and its stronghold we need courage.

Read Joshua 1:9. I think when God said, “Be strong and courageous! Do not be afraid or discouraged!” God really understand that Joshua, as other human being also experienced fear in his life. And I believe each and every one of us who come to this place also have fear and have something that we are afraid of.

But let me back to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly that you fear something, but you choose not to give up to your fear. Courage itself could be a physical courage, moral courage, or psychological courage.

And we always admire people who show courage. That’s why we love movies about heroes or super-heroes. From Robin Hood to Harry Potter, or Spiderman to Captain America. I love movies, even though I don’t go to cinema any more. And I don’t against you to watch movies, but please watch it with discernments. Because “good and fascinating” not always reflect Godly thing. Satan in that garden was enticing people with something “good and fascinating” (the forbidden fruit), but by the act of eating it, Adam and Eve against God’s will. They are become unfaithful to The Word.

If you read the book of Matthew, in the first chapter you will find a list of biblical figures related to Jesus. Matthew 1:1-17. This genealogy of Jesus also can be found in the book of Luke but doesn’t appear in other two books who write about Jesus (Mark & John). Matthew put this in perspective of Jesus as The King. The genealogy shows that HE is from the line of David, as the prophesies from Old Testament being fulfilled in Him. I don’t have enough time to mention them one by one and tell you their stories. And each one of them did a courageous act, their stories lead us to the main characters in Jesus’ early life.

Mary. Matthew 1:18. Story about Mary with more details is in Luke 1:26-38. When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being engage with someone doesn’t mean you can give away your virginity. Either you are male or female. There is a false thinking or false value that growing among the young people that you have to be like them. They are kissing, they are having sex, they are cheating. Once I was invited to a talk-show with High School Students in Bandung. And I said this: “It’s easy to grab someone who think they want to do these things. But it’s hard, it needs courage to keep yourself from doing that. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not-their-kind”. Matthew 16:26.

The second person who showed his courage is Joseph. Matthew 1:19-21. What is it like if you’ve found out your significant other in a condition that will most likely break your heart? Could you courageously be showing him or her an act of love?

I have seen young guys and girls, doing horrendous thing for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The next generation of these last days. The devil will try that with your family, with your close friends, with all of your significant others. But the question is could you still say “I love you, God loves you, but we hate your sin!” Or you just keep that hatred in your heart to them and to God. An act of love needs a courageous heart. It shows that you are reign in life.

Now you imagine Joseph. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an instapicture with caption: “all women is cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are courageous person.

In such condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who gave encouragement to Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage, needless to say reign in life. They are:

Fate & Death

Meaningless & Despair

Guilt & Sin

Jesus standing among you, now it is your decision to approach Him, believe in Him, and like the woman who touch Jesus’ robe “if I may but touch his garment, I shall be whole.” Invite Jesus into your heart, invite Holy Spirit to guide you and to give you courage that you need.

GodblesS

JEFF

SESSION-4: REIGN OVER TIME

Read the SUBTITLE. When you want to reign in life, one of the dimensions is reign over time. Time is the greatest non-renewable precious commodity in our life. Let’s see what the Bible say about time. Psalms 90:10. Sadly for the young generation, we feel forever young. I mean, I’m not against young in heart people, but when your attitude is not right then you only waste it.

In general, we know three parts of time: the past, the present, and the future. Let’s start talking about time one by one:

  • The Future. Here we have the fruits (or you can say the consequences of your past), a period where our hope will meet with the reality. There is a story about seed and tares in Matthew 13:24-30. And you may remember this one famous biblical principle: “what you sow is what you reap (Galatians 6:7).” The future gives us hope to recover and also warning to keep guard. Matthew 19:30.
  • The Present. Here we make the decision(s), a decision-making period. We learn to live in the present, do it now, don’t waste your time. Ecclesiastes 9:10. We also learn to repent now and don’t waste God’s grace. Romans 2:4, Matthew 24:43-44.
  • The Past. Here we can’t change a thing, an unchangeable period. Learn from David in 2Samuel 12:22-23. You can’t change even a fraction of time from your past, that’s why you must move on. Philippians 3:13-14.

Do you reign over time? Read again Romans 5:17, do you learn something from Jesus? He is our future, He is with us to get through today’s trial, and He already redeemed our past. I know that you have your own past stories, and maybe it affects your present and making your future filled with uncertainty. God reigns! And because He reigns, we have future in Him, and before that time comes, He gave us Holy Spirit so we can reign in life and spiritual family to grow with you.

Do you love your spiritual family? Do you want them to reign in life? Would you say a prayer for a specific person around you? You may know them or not, and God put this Word in your heart about them, to help them reign in life, as God wants them to be.

GodblesS

JEFF

SESSION-3: FOR YOUNG ADULTS

All of us are prone to fall into the trap of the devil. And he wants us to repeat the history. What happened in Genesis 3:10 could happen in our lives as young adults. If I ask you this question: what is the biggest threat to our spiritual conditions? Fear is the answer. And as our main theme talking about “reign in life,” we can’t give place for fear.

Why fear is the biggest threat to our spiritual conditions? Because if we have fear, as little as it is, it will grow and becomes the root of our problems. Let me bring you back to the story of Adam and Eve in Genesis 3. Fear becomes the root of all man’s wrongdoing. These three things sprang out from fear:

  • Breach the law (fear of being fooled by God). Isaiah 24:4-5. God’s law is His Word, and it is like the lines, the rules that keep everything intact.
  • Runaway (fear of being responsible). Jeremiah 2:4-6.
  • Hide (unrealistic fear). Job 34:22.

Another unrealistic fear is the thought that if you don’t have some amount of money (like others), then you lose your self-esteem. A rabbi with the name Smoley Boteach wrote this in his book: “Money should never be turned into a currency to purchase self-esteem.” Fear is gripping our modern society. It confused them, bring anxiety and gives them death. Luke 21:25-26.

The answer for this is Grace of God (2Timothy 1:6-7) and He gives that abundantly, read Romans 5:17. From the letter of Paul to Timothy, we learn that we must “rekindle God’s gift (His Grace),” and “remember that you need the Holy Spirit.” The Holy Spirit is not given you spirit of fear, but Spirit who produce power, love, and Self-Control (check-out the notes on the Opening Session).

GodblesS

JEFF

SESSION-2: REIGN IN LIFE (FOR MEN)

When you reign means you are the head. Physiologically, the head is the center that controls all of your body activities. Head represents several things:

  • It means the beginning. In Hebrew tradition, they celebrate “Rosh Hashanah.” It means “the head of the year,” or what we called a new year. The famous story in the Bible about new year was written in 2Samuel 11:1.
  • It means to lead or to influence. Deuteronomy 28:13. In this widely quoted verse, we are called to give a lead for others, to become an influencer. It doesn’t need Instagram as a platform but living life as an example.
  • It means a husband (Ephesians 5:3), or the head of the family (Acts 16:33-34).

Don’t be afraid, this is not misogyny or sexism. If you read the Bible, you can find references about the crucial role of a man. Take a deep look at these verses: 1Timothy 2:13, 1Corinthians 11:3, Genesis 2:15-18. And it is not just a mere privilege, but it is a responsibility.

How men who reign in his life act? Read Romans 5:17 again. Your move as a man could change the lives of others. “Sin of one man” talking about what Adam did. Compare that to “grace and truth of one,” and you can see that it is talking about Jesus’ act at the cross.

Every man needs a role model, so it is a head-to-head, Adam versus Jesus. Who do you want to be? 1Corinthians 15:45-49. As Jesus knew that He reigns, He acts totally different with Adam, and you can see it in these 3 dimensions:

  • Leadership (How Adam lead his wife into compromising the direct order from God, and how Jesus led His disciples to total obedience of God the Father);
  • Responsibility (How Adam blamed Eve on the fall, and how Jesus forgave the disciples who fled away from Him);
  • Integrity (How Adam take an opportunity when he was alone, and how Jesus resisted the devil’s temptation even when He was totally all alone).

GodblesS

JEFF

SESSION-1: REIGN IN LIFE

Romans 5:17 is our main verse and we will learn about reigning in life throughout this session and upcoming sessions. Reign could also mean to rule over something. Furthermore, it means that you have control and not being controlled by something. Interestingly in Galatians 5:22-23 where it famously mentions the fruit of Spirit, self-control mentioned as the ninth. But many biblical scholars see those characters actually inverted with love or charity as the last, and the highest achievement of people who live by the Spirit.

So, self-control is the foundation of your spiritual life, you must take control over your life! You may think that self-control is an easy thing to do. But self-control in life is different compared with controlling dead toys, or your dog, or your remote TV, your partner, and even with controlling an organization.

To be not controlled by something is a hard thing to explain, especially for millennials. The millennials are taught to easily put blame on others and that they could easily losing grip of their life because of the external factor in their life. This is a modern way of think and more and more become the modern truth.

Now I will give you some points in modern truth, that contrary to the biblical truth. Here they are:

  • “Feelings over wisdom.” Ephesians 4:19 (and also read verse 17-18)

The fact is that your feeling could fool you, and I will present you the same case that had happened to the Corinthians. 1Corinthians 5:1.

  • “The role of government.” Romans 13:1-2.

I really want to see one of you to be part of the government. And if you get that chance, this is will be your verse: Matthew 20:25-28. Reign in life as the Bible said is not to be likened as the worldly ruler. “Life is a coincidence.” Jeremiah 1:5. What is a coincidence? Is it random events or acts that produce an event/act/end result? If that is the definition then you must read Ephesians 2:21. God likes order, pattern, and He works on many things like that. He is not just a random God.

GodblesS

JEFF

UNITY

Pertama-tama tentu saja saya mengucapkan selamat kepada Harvest Church New Hampshire (GPdI Dover NH) yang telah 20 tahun berdiri dan melayani komunitas New Hampshire, khususnya untuk masyarakat Indonesia. Saya rasa ini benar-benar bukti dari Kasih karunia Tuhan nyata dalam hidup Gereja ini.

Menarik sekali bahwa tema 20th Anniversary Harvest Church adalah Unity. Karena ini adalah tema yang menjadi idaman baik bagi masyarakat Indonesia (setelah pilpres 2019) dan juga masyarakat Amerika Serikat (menjelang pilpres 2020). Tentu saja bagi saya yang baru 11 hari terakhir mengenal Gembala dan jemaat Harvest Church, saya belum familiar dengan sejarah Gereja ini, dan mengapa Tuhan menaruhkan tema ini di hati Gembala dan/atau Panitia Acara.

Tetapi bagi saya ini mungkin lebih baik, supaya Firman Tuhan bisa disampaikan murni berdasarkan Firman Tuhan tanpa agenda tersembunyi apapun. Karena bagi saya Unity adalah karakter Tuhan sendiri. Trinitas adalah satu kesatuan, demikian juga Gereja Tuhan tentunya adalah satu kesatuan. Menariknya Trinitas Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, digambarkan sebagai mempelai pria, yang akan menikahi Gereja yang Sempurna sebagai mempelai perempuan.

Mari kita masuk ke dalam ayat utama tentang Unity. Kolose 3:14. Ketika kita membaca ayat ini kita menemukan bahwa Kesatuan dan Kesempurnaan adalah hasil dari Kasih. Coba perhatikan baik-baik konteksnya di ayat 13. Sehingga ini memperkuat apa yang kita percaya bahwa Kasih adalah yang terbesar, dan Allah kita adalah Kasih.

Mari kitab bahas sedikit apa yang dilakukan kasih di dalam ayat 13. DIsebutkan disana bahwa kasih itu sabar, dan kasih itu mengampuni. Pengampunan adalah bagian terbesar dari Kasih. Ini harusnya menjadi bagian kita, karena seperti Yesus lakukan dan juga Paulus ajarkan kepada jemaat Tesalonika, bahwa kita seharusnya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. 1Tesalonika 5:15. Menariknya tentang pengampunan yang akan berujung perdamaian, itu keputusannya ada di tangan kita! Roma 12:18.

Kalau kita kembali kepada Kasih yang menghasilkan kesatuan dan kesempurnaan. Kasih di dalam Alkitab sering digambarkan seperti hubungan suami-istri dalam pernikahan. Contohnya yang Paulus sampaikan di Efesus 5:31-32. Baca tentang segitiga: “Passion – Compassion – Commitment,” di sermon saya tentang “B-Drama” @jeffminandar.com.

Sehingga kita lihat yang menjadikan ini menjadi satu, yang menjadikan segitiga ini sempurna adalah komponen komitmen. Kembali lagi ini ada di tangan Anda. Pertanyaan saya pada akhirnya adalah: Are you committed? To live the Love, and bring the unity. Supaya kita menjadi satu seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Yohanes 17:21.

Berdoa ala Yesus

BERDOA MENURUT YESUS – Apa yang Yesus katakan dan tunjukkan?

Topik berdoa adalah topik yang tidak akan ada habis-habisnya dibahas dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Seorang pengikut Kristus lebih dari sekedar fans.

Menarik dibahas adalah sikap Yesus dalam berdoa. Mari kita lihat beberapa contoh kejadian yang dituliskan oleh para penulis Injil.

  1. Matius 5:44. Kata “doa” (dalam Bahasa Indonesia) yang pertama ditemukan dalam Injil Matius, menuliskan tentang ajaran Yesus untuk berdoa bagi yang “menganiaya” kita.
  2. Markus 11:24. Dalam ayat sebelumnya (ayat 23) Yesus mengajar mengenai ketetapan hati (iman), kemudian di ayat ini (ayat 24) Yesus mengajar tentang “melihat” jawaban doa jauh melebihi apa yang dilihat mata jasmani. Menariknya di ayat berikutnya (ayat 25) kembali diingatkan tentang mengampuni (hubungan dengan poin pertama).
  3. Lukas 22:41-42. Yesus mengajar tentang bagaimanapun pada akhirnya bukan kehendak kita, namun kehendak Bapa yang terjadi.

Sebagai penutup, saya rasa penting untuk diingat bahwa doa seharusnya bukan untuk memuaskan kemauan atau keinginan kita seperti yang diingatkan Rasul Yakobus dalam Yakobus 4:3.

Saat Anda Mengeluh, Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, “Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?”

Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. “Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang.”

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit. Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.

Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu. Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon namun saat diberi malah menyianyiakannya? Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita. (Sumber: Anonim)