RENCANA ALLAH BAGI ANDA

Apa kabar jemaat? Semoga di tengah-tengah pandemi ini Anda tetap memiliki:

  • Iman bahwa Allah yang memegang dan memelihara hidup Anda (Matius 10:29-31),
  • pengharapan akan masa depan dimana yang lama akan digantikan yang baru (Wahyu 21:4),
  • dan kasih kepada Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19).

Iman, pengharapan, dan kasih akan menuntun kita untuk lebih lagi rindu mengenal DIA dan FirmanNYA. Itulah mengapa meskipun ditengah pandemi, kita tetap bersekutu baik secara on-site (dalam satu tempat), maupun secara online/daring (dalam jaringan internetlive streaming).

Saya berharap selesai dari Ibadah ini Anda semakin mengenal apa rencana besar Allah dalam hidup kita sebagai ciptaanNYA (secara umum) dan sebagai umat pilihanNYA (secara khusus). Pertama-tama, saya ingin menjelaskan apa rencana besar Allah dalam hidup manusia, ciptaan Allah yang termulia (Kejadian 1:26).

RENCANA ALLAH: DI BUMI SEPERTI DI SURGA  

Saya menyampaikan hal ini terinspirasi dari yang disampaikan Tim Mackie, seorang hamba Tuhan, profesor di kampus Kristen, dan pemimpin kreatif dari Bible Project (YouTube channel yang mengedukasi tentang Alkitab).

Kita sering dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan untuk menjelaskan iman kita kepada Allah yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini Anda bisa dapatkan di dalam pembicaraan dalam keluarga inti (orang tua dan anak-anak) atau pembicaraan dengan keluarga besar (kakek-nenek, kakak-adik, sepupu, dan sanak saudara lain), atau bisa jadi di tempat studi, tempat kerja, dan tempat lain dimana Anda sedang beraktivitas.

Kalau boleh disederhanakan kira-kira begini pola pikir orang kebanyakan tentang rencana besar Allah terhadap manusia. “ALLAH” menciptakan “MANUSIA” untuk hidup di “BUMI” dan menjalani hari-harinya dengan berbuat baik atau jahat, dan pada akhirnya perbuatan-perbuatan itu menentukan mereka masuk ke dalam “SURGA” atau “NERAKA” yang sudah disiapkan.

Tetapi bagi kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman (dalam bentuk tertulis) yang dilhamkan Allah (2Timotius 3:16a) maka kita bisa berkata kepada orang yang memiliki pola pikir seperti ini bahwa pola itu tidak sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab. Mereka berpikir atau berasumsi bahwa urutan itu adalah iman Kristen, tetapi sebenarnya tidak.

Lalu apa kata Alkitab? Mari kita bahas secara singkat saja dalam tiga sub-bagian, yang bisa menjadi tiga khotbah yang berbeda. Tetapi saya rasa penjelasannya akan saya persingkat seperti ini.

  • Allah menciptakan bumi untuk manusia.

Saya rasa saya pernah menyampaikan hal ini, bahwa manusia diciptakan di hari ke-enam, saat semua yang di bumi sudah siap. Anda bisa melihat kasih Allah bahkan dari urutan penciptaan di Kejadian 1. Menariknya Allah tidak pernah disebutkan menciptakan neraka. Kita setuju mengenai ini, bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dari Yesaya 66:1 kita mengerti bahwa langit adalah tahta Allah. Manusia ditempatkan di bumi untuk berkuasa atasnya. Kejadian 1:28. Jadi kapan Allah menciptakan neraka?

  • Allah menciptakan yang baik, iblis menipu manusia.

Segala sesuatu yang baik datang dari Allah dan bukan yang jahat. IA tidak dapat dicobai dan tidak mencobai (mendatangkan kejahatan). Yakobus 1:13. Sehingga kejahatan timbul dari mana? Yesus berkata dalam Matius 7:21-22, segala sesuatu yang jahat itu datang dari dalam hati. Jika kita melihat tulisan mengenai raja Tirus yang adalah gambaran kejatuhan iblis maka kita melihat dari kondisinya yang sempurna sebagai maha malaikat (Anda bisa cek khotbah Pdt. J.S. Minandar di www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “maha malaikat”), ia jatuh saat kecurangan (dalam Bahasa aslinya bisa berarti “kejahatan”) timbul dalam dirinya. Yehezkiel 28:15. Itulah mengapa saat manusia ada di taman Eden, ia berusaha menimbulkan “yang jahat” di dalam diri manusia, yang kisahnya dapat Anda baca di Kejadian 3. Lalu mana nerakanya?

  • Allah menginginkan persekutuan dengan manusia.

Yesaya 59:2. Saya rasa ayat ini sering kita baca dengan konteks Allah yang marah kepada umatnya, dan memang demikian jika kita melihat keseluruhan pasal itu. Tetapi kalau Anda melihatnya dari apa yang Yesus katakan dan janjikan di Yohanes 14:3, maka saya melihatnya adalah kisah sedih namun romantis yang Allah lakukan demi manusia. Bumi dan surga harusnya bersatu, dimana Allah berada disitulah manusia. Kejadian 3:8. Tetapi manusia lari dan bersembunyi, singkat cerita mereka diusir dari taman Eden, maka terpisahlah bumi dan surga.

Setelah kejatuhan manusia, momen dimana bumi dan surga terhubung adalah saat Allah hadir dalam persembahan korban manusia. Ini yang kemudian kalau kita lihat menjadi konsep Tabernakel (Keluaran 40:34) dan kemudian Bait Allah bagi Israel (2Tawarikh 7:1). Namun korban ini harus dipersembahkan ulang setiap saat manusia bersalah. Inilah yang kemudian digenapi di dalam Yesus (Ibrani 10:1, 14) dari korban yang berkali-kali harus dipersembahkan, IA menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.

Namun demikian Allah tidak bisa berkompromi dengan kejahatan, seperti terang yang tidak mungkin bersatu dengan gelap. 1Yohanes 1:5-6. Itulah mengapa kemudian mereka yang memilih untuk tinggal didalam gelap, harus dipisahkan (tempat pemisahan inilah neraka, dimana Allah tidak berdiam disana). Wahyu 20:14-15. Karena mereka yang akan bersekutu dengan Allah harus tinggal dalam terang. Wahyu 22:3-5.  

RENCANA ALLAH: BALA TENTARA / PASUKAN ALLAH  

Sebagai umat pilihan Allah kita tahu ada misi yang khusus yang kita emban seperti yang kita lihat di penjelasan tentang rencana Allah, kita menjadi agen Allah untuk menyebarkan “keharuman pengenalan akan DIA.” 2Korintus 2:14-16. Ini selaras dengan maksud Allah di Perjanjian Lama tentang orang pilihanNYA supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Kejadian 12:3.

Hal ini kemudian dinyatakan dalam keturunan Yakub atau juga dikenal sebagai Israel. Dalam salah satu kisah perjalanan Yakub disebutkan bahwa Yakub lari dari rumah Laban, mertuanya, setelah berulang kali diperlakukan tidak adil. Kejadian 31:38-42. Setelah ia berargumen dengan Laban, kemudian Laban meninggalkan rombongan Israel. Ketika melanjutkan perjalanannya Israel menamakan tempat pertemuan dengan malaikat-malaikat Allah, Mahanaim. Mahanaim diterjemahkan di Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “bala tentara Allah” seperti tertulis di Kejadian 32:2 (TB).  Sementara di Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, ditulis “God’s Camp” (NKJV).

Jadi mari kita pelajari dari asal katanya. Menariknya ketika Anda mempelajari bahasa Ibrani maka ada kata yang berasal dari gabungan dua kata. Mungkin sama seperti kata serapan yang masuk ke Bahasa Indonesia seperti “a” dan “moral” kemudian menjadi satu kata “amoral”. Dalam bahasa Ibrani kata “Mahanaim” terdiri dari dua kata, yang pertama “makhaneh” yang artinya “tenda, atau kumpulan orang di satu tempat”, dan yang kedua “shenayim” seperti yang ada di ayat 7. Sebenarnya kata “im” itu untuk menunjukkan bentuk plural, seperti di kata Elohim atau Yahudi(m).

Jadi apa itu Mahanaim? Kumpulan dari keturunan Illahi (1Petrus 2:9), yang diperanakkan karena iman (Galatia 3:14, 4:4-7), diperlengkapi oleh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), dan dikumpulkan kepada suatu kumpulan besar malaikat Tuhan, kepada Yesus sendiri yang menebus kita dengan darahNYA, darah Perjanjian Baru (Ibrani 12:22-24).

Bagaimana? Apakah Anda bisa melihat betapa indah, baik, dan mulianya rencana Allah bagi Anda? Jangan berhenti sekarang, apapun yang sedang Anda alami, tetap pelihara iman, pengharapan, dan kasih kepada DIA, Tuhan Yesus Kristus yang menjelaskan rencanaNYA bagi kita.

GodblesS

JEFF

Kasih Karunia dalam Kekristenan

— Apa itu kasih karunia?

Kasih Karunia itu sudah hadir sejak mulanya dan membawa segala sesuatu yang baik. Kejadian 1:31. Dengan demikian manusia pun diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Efesus 2:10. Jadi sesuatu yang dimulai baik akan menghasilkan yang baik pula. Kasih karunia memulai sesuatu yang baik, kasih karunia akan mengakhiri juga dengan baik. Wahyu 22:3 (pemulihan total dari kondisi manusia di Kejadian 3:17), Wahyu 22:13.

— Bagaimana mereka yang belum mengenal kasih karunia Allah?

Setiap orang yang lahir di dunia hadir karena kasih karunia Allah. Namun tentang mengenal kasih karunia itu dibutuhkan berita yang disampaikan kepada semua orang di dunia. Beritanya disebut Injil yang berarti kabar baik. Lukas 4:18. Pembawa berita itu melakukan sesuatu yang indah dengan menempuh halangan dan rintangan untuk memberitakannya. Yesaya 41:27. Pendengarnya diharapkan percaya, kemudian berseru kepada Tuhan, dan akhirnya menerima keselamatan. Roma 10:13-14.

Dari penjelasan diatas, satu-satunya orang yang belum mengenal kasih karunia Allah adalah mereka yang belum mendengar Injil. Mereka merasakan kasih karunia, mengalaminya, tetapi tidak mengenalnya. Sehingga yang terjadi adalah mereka bisa mendapatkan dan mencapai semua hal (Kejadian 11:6), namun bukan keselamatan. Keselamatan yang dimaksud adalah kehidupan kekal bersama Yesus. Yohanes 14:1-3, 3:15-17.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa dengan melihat alam ciptaan saja sebenarnya manusia sudah dapat memahami penyataan kasih karunia Allah, sehingga tidak ada seorangpun bisa berdalih bahwa itu belum dinyatakan kepada mereka. Roma 1:18-20. Bagi mereka yang belum mendengar tentang Yesus maka arah iman percaya mereka kepada Sang Pemberi kasih karunia. Seperti apa yang dilakukan keturunan Adam yang sudah tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, mereka dibenarkan karena iman.

Contoh dari mereka diantaranya ada di zaman Enos. Kejadian 4:26. Atau di zaman Nuh. Kejadian 6:8-9. Juga di zaman Ayub (yang dipercaya hidup satu zaman dengan Abram, sebelum kemudian jadi Abraham). Ayub 1:1. Ketiga contoh tokoh ini memanggil nama Tuhan, hidup saleh dan takut akan Tuhan, jauh sebelum Yesus dinyatakan sebagai Tuhan yang menjadi manusia. Sehingga keselamatan dalam nama Tuhan Yesus adalah keselamatan yang sama jika orang beriman kepada Sang Pemberi kasih karunia.

Kejadian 5:24, Henokh percaya kepada kasih karunia Allah, dia tidak mengalami kematian. Oleh penulis Ibrani ia disebut “berkenan kepada Allah”. Ibrani 11:5. Perkenanan Allah ada atas orang yang percaya kepadaNYA, sedangkan mereka yang menolak untuk percaya, hukuman sudah tersedia. Yohanes 3:18. Hal ini bukan karena Allah menginginkan itu, tetapi ini dijelaskan di ayat-ayat berikutnya (ayat 19-21). Jika seseorang menolak terang maka yang didapatkannya adalah gelap, sama seperti hukum fisika bahwa kegelapan adalah ketiadaan terang.

Percayalah dan datanglah pada Sang Kasih Karunia (Yohanes 1:17), Sang Terang (Yohanes 12:46).

GodblesS
JEFF

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

TRADISI

Tradisi adalah kebiasaan yang kita ulangi karena seseorang melakukannya dan kemudian hal itu kita anggap sebagai sesuatu yang baik.

Saya selalu melipat plastik pembungkus, kertas pembungkus, atau kertas tisu yang sudah tidak dipakai dalam 4 langkah. Hal ini saya lakukan karena pernah saya lihat dilakukan oleh ayah saya. Suatu hari, kalau tidak salah di Brisbane, Australia, ketika berada di suatu café, kami berdua melipat bungkus makanan ringan yang kami ambil dengan cara yang sama. Hal itu dilakukan tanpa sadar, karena ayah saya mengajari untuk melipat sampah plastik atau kertas dengan rapi sehingga tidak mengambil banyak tempat dan juga terlihat berantakan di atas meja.

Dalam hidup kita ada banyak kebiasaan kita dipengaruhi tradisi yang diturunkan atau dipelajari langsung atau tidak langsung. Saya pernah menyampaikan di salah satu kelas PETC tentang konsep Quadrilateral dari Wesley. Bahwa teologi kita dipengaruhi oleh 4 hal yaitu: pengalaman, nalar, tradisi, Firman/Pewahyuan.

Tradisi menjadi sesuatu yang negatif ketika dilakukan untuk menghakimi. Lukas 11:37-39. Namun bukan berarti semua tradisi berarti adalah hal yang negatif, Yesus misalnya mengingatkan di ayat 42 bahwa sesuatu yang baik (dalam hal ini persembahan persepuluhan) harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (hal-hal yang menunjukkan keadilan dan kasih Allah). Dengan demikian sebenarnya Yesus tidak meniadakan persepuluhan.

Mengenai persepuluhan, bahkan dalam konsep Kasih Karunia, persembahan ini tidak terbatas pada bilangan sepersepuluh, karena di Lukas 21:1-4 Yesus memuji seorang janda miskin yang memberi lebih banyak karena rasio yang ia miliki dibandingkan yang ia persembahkan. Demikian juga di kisah Zakheus, meskipun tidak berhubungan secara langsung dengan persepuluhan.

Kita bisa lihat bagaimana Kasih Karunia membuat seseorang bertobat dengan memberi lebih (4 kali lipat)

Lukas 19:8

Padahal tradisi hukum Taurat menuliskan sesuatu yang diperas hanya perlu dikembalikan 1 kali lipat ditambah seperlima (Imamat 6:4-5). Jadi bilangan sepersepuluh hanyalah ambang batas bawah, ambang batas atas itu bisa jadi lebih dari sepersepuluh, namun harus diingat bahwa persembahan dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (Markus 7:11-13).

Tradisi adalah sesuatu yang baik ketika itu diajarkan dengan pengertian dan dengan teladan. 1Timotius 4:11-12. Tentu saja menjadi teladan di ayat ini tidak terbatas hanya untuk Timotius yang muda. Petrus meminta pembaca dan pendengar suratnya (dari semua usia) untuk mengikuti teladan penderitaan Yesus. 1Petrus 2:21.  

Mengenai penderitaan, saya rasa kita semua yang tinggal di Amerika Serikat, tidak benar-benar bisa memahami penderitaan Yesus, jika dibandingkan dengan keadaan kita sekarang. Maksud saya, meskipun Anda belum memiliki rumah, setidaknya Anda memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Anda juga tidak sedang didalam plot pembunuhan, seperti yang Yesus hadapi. Mungkin satu hal yang kita rasakan berat adalah bagaimana Amerika Serikat begitu dipengaruhi gerakan progresif yang tidak lagi menghargai nilai-nilai Alkitab, tetapi toh demikian, Anda masih hidup di negara yang bebas.

Jadi satu hal yang terbersit di benak saya adalah sekali lagi mengenai persembahan. Apapun itu bentuk persembahan yang kita bisa kita berikan, memberi adalah sesuatu yang “menyakitkan” apalagi di masa krisis. Tetapi sekali lagi kita ditantang untuk “memberi bukan dari kelimpahan, tetapi memberi dari kekurangan, bahkan seluruh nafkahnya”. Lukas 21:4.

Saya berharap Anda bisa merenungkan ini masing-masing, dengan motivasi hati yang murni. Apa yang bisa saya persembahkan kepada Tuhan di hari-hari seperti ini? Apa yang Tuhan ingatkan di hati Anda tentang persembahan? Siapa yang perlu memulainya? Apa dan berapa yang harus saya “korbankan”?

Karena korban selalu berarti kehilangan.

Contohnya Yohanes 3:16

Tetapi kehilangan untuk mendapatkan seperti apa yang Yesus sampaikan di Matius 6:19-20. Jangan terjebak pada tradisi “saya sudah lakukan ini dari dahulu” tetapi ambil waktu, renungkan apa yang Tuhan ingin Anda lakukan, yang belum Anda pikirkan sebelumnya. Ini bukan demi program Gereja, Organisasi MD, atau demi citra kita di Media Sosial. Lakukan demi DIA yang bisa melihat sampai tempat tersembunyi.

GodblesS

JEFF

IT IS DONE (THE UNLIMITED GRACE & PEACE)

“For every beginning has an end.” For everything that begins, there is always an end. So, there is a beginning and an end. There is Alpha, and there is Omega (this is for Greek letters), there is “A,” there is “Z” (this is for the alphabetical letters we are familiar with).

We can see the beginning and the end, in the series of creation weeks written in Genesis 1. There was a beginning and an end to the series. We call the end of that week, Sabbath. In Old Testament times, it was Saturday, and now in New Testament times, it is Sunday.

When it comes to the beginning of creation, there are many “smart people like scientists” who do not believe it and try to prove the opposite. There are so-called “god particles” or scientifically; they call them “Higgs bosons.” To cut the story short, it is the particles that makeup everything in the world. But inevitably, they will fail because they have closed their eyes that God is the first and creator of everything. Everything will also end with Him.

We say “It is done” when we have finished a job. “It is done” is the same as “it is finished.” Done or finished is synonymous with these words in English: “complete,” “perfect,” “good.” All synonyms that I mentioned are interestingly illustrated in 3 consecutive verses in Genesis 1:31 and Genesis 2: 1-2.

– Good. Genesis 1:31.

– Finished. Genesis 2:1.

– Complete. Genesis 2:2.

What is the meaning of what is written on the first page of our Bible?

1. God created everything in its final form so that we can say that the theory of evolution is unbiblical.

2. We humans, God’s creations, are perfect creatures (Genesis 1:27), and we were created for a purpose (verse 28).

3. That’s why even when humans fell, God immediately planned redemption. Genesis 3:15.

Humans are precious in God’s eyes, even to those who are chosen and called in God’s plan (such as the nation of Israel and for us, God’s people of this generation). God says that we are: “precious in His eyes, glorious, loved, and guaranteed protection. Isaiah 43:4. You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

One of many questions for us is this, “why did Jesus have to sacrifice?” We can find it in Jesus’ parable.   Luke 10:25-37. Since the fall of man, man is destined to die. We were born to die! The devil got a chance to rob us completely. The superiority, privilege, and glory of man have decreased from time to time. If there is no savior, then we are sure to die. What I mean with “die” either:

– Physical. Humans have a shorter life span, from Genesis 6:3 (up to 120 years) to Psalm 90:10 (only 70 to 80 years).

– Spiritual. It means that when humans become wicked (evil), then the end of the path is destruction. Psalm 1:6.

Thus, to be the Savior of the world, Jesus had to die! Why? To replace us who should die. He died so we might live. The picture was the sacrifice in the Old Testament (Leviticus 16:34). It needed to be sacrificed annually for atonement. But all of these rituals were fulfilled with HIS sacrifice, which marked a New Testament. The perfect sacrifice, once for all. Hebrews 9:28.

So, when Jesus says, “it is finished” (John 19:30), it means that his mission is finished, sin no longer “invades” people’s hearts. Judgment, that is, the death caused by sin, is no longer part of us. Romans 8:1-2. However, when we listen to the wrong teaching, it can rob our Peace,

Now, think about the following questions.

– Are you still filled with guilt?

– Are you still not free from sin?

– Are you still in contact with the other spirits who bind you?

– Are you still searching for the truth?

Jesus offers you today unlimited grace and Peace, will you believe in Him? When Jesus says, “it is finished,” it means that the devil can no longer take charge of us. The punishment is passed (Passover) from us when we are in Jesus. How can we live in Jesus? Does that mean living in the church? No, when we live in Jesus, it means:

1. Believe. John 3:18. HE has provided facilities for us to be complete and good after humanity fell into sin.

2. Live right. John 3:21. It means life to avoid sin. Remember, Jesus did not become sin because HE sinned. Thus, we are justified, not because we are righteous. We are justified because of the righteousness of God that is “given” to us. How can we walk over the gift by living irresponsibly? So, we do not want to be called “people who are not grateful, people who have been helped, yet we crucified Jesus again.”

3. Come to the light who is Jesus. John 8:12. People who live in truth have nothing to hide. Everything is open, and he was happy in the sun. But instead, those who live in darkness, like to protect their lives and stay away from the light.

Jesus said this in John 14:27, “Peace I leave with you, My Peace I give to you; not as the world gives do I give to you. Let not your heart be troubled, neither let it be afraid.” He provides unlimited grace shown in our existence and our redemption. Because of that, we have this unlimited Peace, knowing nothing can separate us with the love of Christ. Hebrew 8:35.  

DARI KEMULIAAN KEPADA KEMULIAAN (FROM GLORY TO GLORY)

ADONAI INDONESIAN CHRISTIAN FELLOWSHIP 13TH ANNIVERSARY.

Tema: Roh Kudus Memimpin Kita Kepada Kemuliaan” Roma 8:18

Salam untuk rekan-rekan Adonai Indonesian Christian Fellowship. Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa merayakan eksistensi Gereja Anda selama 13 tahun terakhir. Selamat untuk Pdt.Arianto Quenta, keluarga, aktivis Gereja, dan jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Tentu saja kita berharap bisa bertemu dan merayakan historic milestone untuk Gereja ini secara langsung, tetapi kondisi state Anda tidak memungkinkan untuk itu. Tetapi semoga hal ini tidak mengurangi sukacita Anda, karena apa yang kita mau ingat dan syukuri adalah kebaikan Tuhan sampai detik ini kita ada.

Kita bersyukur kita diciptakan sebagai mahluk yang mulia, jauh lebih mulia bahkan dari ciptaan-ciptaan lain baik di muka bumi maupun yang di Surga. Kita berasal dari berasal dari kemuliaan kepada kemuliaan. Jadi sebenarnya kita memiliki tujuan yang sama yaitu menuju kemuliaan. Masalahnya adalah proses ditengah-tengahnya, bagaimana kita sampai kepada kemuliaan itu.

Mari kita melihat bagaimana kemuliaan itu pada mulanya. Dalam Kejadian 1 kemuliaan itu adalah Allah. Allah yang mulia menciptakan segala sesuatunya mulia. Sesuatu yang mulia, akan menunjukkan keindahan, dan kebaikan.

Namun ternyata di tengah-tengah proses itu ada masalah. Allah sudah menyiapkan yang terbaik namun manusia memilih yang sesuai dengan pemikirannya sendiri. Kita, manusia yang menginisiasi masalah itu. Yakobus 4:1-3.

Untuk mengatasi masalah yang dibuat manusia ini, Allah menyiapkan suatu karya penebusan. Manusia sudah bersalah dan harus dihukum. Tetapi Allah begitu penuh kasih karunia menyediakan penebusan bagi manusia. Apakah manusia harus melakukan sesuatu untuk menerima kasih karunia Allah? Kita tidak bisa melakukan apapun selain percaya. Itulah mengapa dalam Kejadian 15:6 Allah tidak menunjukkan kasih karuniaNYA berdasarkan perbuatan Abram (yang nantinya disebut Abraham), tetapi karena Abram percaya. Rasul Paulus juga pernah menuliskan kepada jemaat di Roma mengenai kasih karunia yang memberi kita

OLEH IMAN KEPADA KEMULIAAN (Roma 5:2)

“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.”

Bagaimana iman bisa mengantarkan kita pada kemuliaan? Dengan membuat kita berkenan di hadapanNYA. Ibrani 11:6. Berita ini perlu diterima dengan pertobatan yaitu perubahan pikiran (Roma 12:2), karena dari perubahan pikiran akan berdampak pada perubahan perbuatan.

Iman terhadap apa? Terhadap kasih karunia yang Yesus lakukan. Ketika Allah mengasihi Abraham, DIA tidak melihat kelemahannya. Menarik bahwa Abraham adalah model suami yang buat saya tidak melindungi istri.

Kalau langsung lompat ke Perjanjian Baru, menurut Anda apa yang membenarkan Petrus? Perbuatannya yang menyombongkan diri di depan murid-murid lain? Atau emosinya yang menggerakkan pedangnya kepada Malkhus? Tentu bukan! Tetapi imannya kepada kasih karunia Yesus. Yohanes 21:7.

Bandingkan kontrasnya dengan Yudas Iskariot, yang bukan mengandalkan iman namun pandangannya. 2Korintus 4:18. Karena yang sementara ia kehilangan yang kekal. Namun demikian ada satu hal lagi yang membuat Yudas tidak bisa direstorasi: Kebenaran diri sendiri.

Apa yang kemudian membuat kita percaya kepada sesuatu yang tidak kita bisa lihat ini? Kuasa Roh Kudus. Anda mungkin berkata tetapi bukankah orang percaya karena mendengar atau melihat? Tentu saja, tetapi semua itu ada karena karya Roh Kudus.

Dalam Efesus 1:14 Rasul Paulus menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah jaminan bahwa kita akan mendapat keseluruhan dari bagian kita dalam Kristus. Yesus sendiri berkata bahwa Roh Kudus adalah Roh yang menghibur kita, sebelum kita akan bersama dengan Yesus. Yohanes 14:26. Atas hal ini lah kemudian Roma 8:18 menjadi kekuatan bagi kita, dalam situasi apapun yang akan Anda alami sebagai pribadi, Keluarga, Gereja, dan apapun yang Tuhan sudah posisikan Anda.

Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF

Impacting Generation

IMPACT (I Make Powerful ACTion)

1Timotius 4:12-13

Halo temen-temen di Zion Altar, salam kenal karena ini pertama kalinya saya dapat kesempatan ngobrol bareng dengan temen-temen semua. Seneng sekali bisa kenal dengan temen-temen baru dan kita bisa belajar bareng dari Firman Tuhan. Bahkan setelah break nanti kita bisa ngobrol langsung online, untuk mereka yang sudah kuliah dan kerja.

Saya rasa temen-temen sudah mengerti banget tentang aktivitas online, dan menjadi bagian setidaknya satu komunitas online. Kita hidup di dunia dimana informasi bergerak begitu cepat, dengan volume yang besar. Informasi digital menjadi tidak terpisahkan dengan keseharian kita.

Satu hal yang menarik dari generasi muda yaitu kita ingin berkontribusi kepada komunitas yang dibangun oleh generasi sebelum kita. Kita ingin terlibat dan ingin dilibatkan. Itulah kenapa banyak di Gereja-gereja, pelayan-pelayan Ibadah adalah anak muda.

Saya rasa ini juga terjadi di kisah-kisah Alkitab. Ada Yusuf perdana menteri di negeri Mesir, Gideon pembebas dari orang Midian, Daud pemimpin pasukan dan raja, ini dari Perjanjian Lama. Kalau kita masuk di Perjanjian Baru, ada Yesus guru dan pembuat mujizat (tentu saja pada akhirnya murid-muridNYA mengerti bahwa IA adalah Mesias, Juruselamat manusia), dan juga ada Timotius pelayan dan pemimpin Gereja di Efesus.

Sesuai dengan ayat tema utama kita, mari kita baca dulu 1Timotius 4:12-13. Konteksnya Paulus memiliki suatu tim pelayanan, dan Timotius membantu dalam perjalanan misi kedua Paulus. Tetapi kemudian ada kebutuhan pelayanan di Efesus dan Timotius ditempatkan sebagai pemimpin disana. Tentu sebagai pemimpin ada banyak hal yang harus dibereskan. Karena itu saya mendorong temen-temen untuk menghormati pemimpin-pemimpin yang ada di lingkungan kita. Karena tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang baik.

Intinya di tengah semua kesulitan yang dihadapi (pengajaran sesat dan gaya hidup yang tidak jadi teladan, 1Timotius 1&2) Timotius harus bisa berbuat sesuatu yang berdampak (to make a powerful action). Namun tidak seperti pemerintah dan pembesar versi dunia (Matius 20:25), ia harus memberi dampak dengan melayani (ayat 28). Petunjuk Paulus kepada Timotius mengenai orang yang melayani adalah seperti ini:

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.”

Hal Ini saya rasa sangat relevan dengan hidup kita. Saat kita SD kita ingin segera SMP, saat SMP ingin segera SMA. Ini terus berlanjut saat SMA kita ingin segera kuliah atau bekerja, saat bekerja kita tidak ingin disebut “junior” terus, kita ingin menjadi “senior”.

Ini terus terjadi karena usia yang lebih tua dianggap memiliki kekuatan lebih, kemampuan lebih dan mendapat perlakuan yang lebih baik. Maksudnya kita bisa memiliki dampak dengan menjadi semakin tua. Tapi ada solusi untuk mendapat kekuatan, kemampuan dan perlakuan baik dari orang-orang lain bahkan sedari muda. Itu ada di bagian berikut dari ayat 12 ini.

“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya.”

Saya rasa frase ini ditulis “orang-orang percaya” karena konteksnya adalah Timotius sebagai pemimpin jemaat. Karena dalam 2Petrus 1:7 dikatakan untuk menambahkan “…kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”

Tentang teladan Yesus memberi pengertian bahwa hal itu harus dilakukan terlebih dahulu baru kemudian itu akan berdampak (Yohanes 13:12-15). Ini yang juga kita secara kolektif merasakan bahwa beberapa pemimpin dalam masyarakat gagal menjadi teladan dan jadi cibiran masyarakat yang dipimpinnya.

Kita anak-anak muda tertantang untuk tidak mengulangi teladan yang salah tentunya, dan melalui pertemuan virtual ini semoga kita kembali diingatkan untuk menjadi teladan yang benar. Mari kita lihat ada 5 hal yang menjadi indikator seorang yang jadi teladan.

  1. Perkataan.
  2. Tingkah laku.
  3. Kasih.
  4. Kesetiaan.
  5. Kesucian.

Pertama. Bebas dari perkataan yang merendahkan, yang tidak berguna. Kita berpikir bahwa kata-kata kita hanyalah angin lalu, tapi lihatlah, perkataan yang sembarangan pada suatu saat akan mengikat kita. Matius 12:36.

Kedua. Bebas dari kelakuan yang jahat dan malas. Matius 25:26. Apa tingkah laku orang yang jahat dan malas? Ayat 24-25.

  • Tidak bekerja.
  • Menuduh dan merasa berhak menghakimi Tuhan.
  • Takut dan melakukan apa yang dirasa benar.
  • Hidup tidak berdampak.

Ketiga. Kasih yang sepadan baik kepada Tuhan dan kepada sesama. Kasih adalah tingkatan tertinggi dalam kekristenan. Kita bisa lihat itu di Galatia 5:22-23, demikian juga 2Petrus 1:5-7. Hukum Taurat mengenalkan kita akan ketidakberdayaan kita, namun kasih adalah energi yang mengangkat, memulihkan dan menghidupkan kita. Hal itu juga berlaku ketika kita menunjukkan kasih kepada orang-orang lain. Tidak heran Yesus menyebut kasih sebagai hukum terutama. Matius 22:37-39.

Keempat. Kesetiaan. Tantangan orang muda untuk tetap setia, maksudnya tetap bertahan di tengah rupa-rupa angin pengajaran adalah bagaimana Anda tetap berdiri kokoh diatas kebenaran Allah. Apakah Anda akan membiarkan hidup Anda dipenuhi dusta iblis (Yohanes 8:44) atau memenuhi hidup Anda dengan perkataan Kristus dan hidup dalam kebenaran (Yohanes 14:6)?

Kelima. Kesucian. Hidup tidak di dalam dosa. Kesucian bukan berarti kita tidak bisa berdosa. Lalu ketika kita berdosa kita merasa tidak layak. Kita harus peka untuk menjaga hidup kita tidak tercemar. 1Yohanes 3:3-6.

Saya akan menutup dengan 1Timotius 4:13. Setelah menyebutkan lima area dalam menjadi teladan, Paulus kemudian mengatakan kepada Timotius tentang bertekun dalam membaca, membangun (dalam terjemahan lain disebut menasehati) dan mengajar. Saya melihatnya seperti ini temen-temen Zion Altar, bahwa untuk menjadi dampak, kita harus tetap mempersiapkan diri. Karena keberhasilan adalah titik pertemuan dari persiapan dan kesempatan.

Latihlah dirimu dengan Firman Tuhan, dengan diskusi, dengan berkomunitas. Universitas-universitas terkenal di dunia dimulai dari seminari, tempat Firman Tuhan dipelajari. Meskipun sayangnya sekarang mereka malah berbalik dan meremehkan Firman. Tetapi temen-temen Zion Altar, kita berbeda, kita punya kesempatan untuk membawa dampak.

GodblesS

JEFF

Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

GodblesS

JEFF

INTIMACY WITH GOD.

What a wonderful day in the House of God. I am glad to have a chance to be here among my fellow believers in Christ. As we all know, God wants to connect with you in a new way through Jesus Christ. That’s why we have to connect to Him, and build an intimacy with Him.

Intimacy with God is begin by connecting to Him. John 15:4-5.

Connecting with God – how can we connect with Him? And why sometimes we don’t feel close with God?

The reason we want to connect with God is because we are disconnected with God. The Fall of Man: we were connected, full of glory of God, but in Genesis 3, all changed. The reason of that fall was when we put our mind in the wrong choice (we have plenty of choices, but why we choose the few – tree of knowledge of good and evil, and forget other trees).

Again about human thinking, if we think about sin all the time we are feeding sin to our mind. God says that the ultimate gap between him and us is our sin. Isaiah 59:2. And that sin comes when you start questioning God in your mind and from that it will go further to disobedience. Genesis 3:1-6.

Let us read one more time our theme verse in John 15. Like a tree, in order to keep alive and be fruitful, a branch has to be connected with the trunk. This will explain my next sentence. Because we are disconnected we feel dry, empty, and try to fill that with 3L (luxury, lust, love) or 4G (gold, glory, guys/girls, getaway) that the world offers. It’s all useless. Let me bring you to Bible Story, where the longest conversation between Jesus and other person was recorded. It’s a story of Samaritan woman. John 4.

This Samaritan woman who met with Jesus near Jacob’s well, she was disconnected from society. Jesus warned her in John 4:13-14 You will thirsty again if you drink from this earth. Jesus continued, but if you ask living water (verse 10) you won’t be thirsty again. Living water here have two meanings, “springing water” and “eternal life, salvation.”

We need Salvation to reconnect, to be alive. We thought salvation prayer only for a non-believer, but we also have to recite it, understand it.

What are parts of salvation prayer?

  • Proclaim Jesus as God. Verse 29. Say it loud! Romans 10:10.
  • Admit our faults and wrong ways. Verse 39. We know we are imperfect, perfected in Christ, this is a sign of total surrender, don’t cover it with your self-righteousness. 1John 1:9.
  • Present (give up your life for God’s cause – Romans 12:1) & Repent (the word metanoia means we renew our mind deliberately, we are not helpless person occupied by external, but internally empowered by the Spirit – Romans 12:2). In Hebrews 4:12 the author of Hebrews said the Word of God could separate (discern) the will and heart of man – As we know the Word is the sword of Spirit (Ephesians 6:17). Later on 1Corinthians 12:10 one of the gifts of the Spirit is to discern different spirits.
  • Believe (leave your burden, do not carry that again). Matthew 11:28.

When you pray that prayer, that is when you are really connecting with God, you build your intimacy with God. It’s not how frequent you put yourself around Jesus (don’t follow the Pharisees, who’s around but didn’t have the intimacy). But how well you want to know Him, when you hear His voice, the good news.

GodblesS

JEFF