MENS REA  

Matius 15:18-19

Mungkin beberapa dari jemaat yang pernah belajar tentang hukum atau membaca artikel hukum pernah membaca istilah ini. Istilah “mens rea” adalah istilah dari bahasa latin yang oleh seorang pakar hukum diterjemahkan sederhana sebagai “guilty mind[1] atau suatu niat jahat seorang pelaku kriminalitas. Dengan begitu banyak berita tentang kriminalitas baik dalam skala internasional, nasional, dan lokal, apakah sempat terlintas di pikiran kita, bagaimana bisa niat jahat itu timbul dalam diri para pelaku kriminalitas ini. Dengan mengerti dan mempelajari hal ini kita bisa menjaga diri kita dari melakukan hal-hal jahat tersebut.

Ayat-ayat yang kita baca di awal menyebutkan bahwa hati yang jahat melahirkan perbuatan-perbuatan jahat. Kemudian perbuatan-perbuatan itu membuat kita menjadi najis. Ayat 20. Dalam Wahyu 22:11 disebutkan bahwa seseorang yang berbuat najis akan semakin najis di akhir zaman. Tentu saja sebagai bagian Gereja yang sempurna kita tidak ingin menggenapi hal tersebut. Malahan sebaliknya kita ingin hidup dalam kebenaran (Kisah Para Rasul 10:35) dan kekudusan (1Petrus 1:16).

Jika “mens rea” ditunjukkan seseorang, yaitu ketika seseorang memiliki niat, intensi, lalai, sehingga menimbulkan kejahatan, maka menurut firman Allah itu disebut dosa. Yakobus 1:14-15.

Dosa itu akan melahirkan maut, seperti apa yang dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab, namanya Yudas Iskariot. Jemaat pasti mengenal kisah pengkhianatannya kepada Yesus. Matius 26:14-16.

Yudas Iskariot adalah orang yang merancangkan kejahatan dengan mengkhianati Yesus. Yudas menjadi pelaksana dari rencana imam-imam. Ia melakukan ini karena sejumlah uang yang dia pikir berharga. Yudas menilai Yesus begitu rendah (hanya seharga budak saja).[2] Memang ada pandangan bahwa sebenarnya Yudas kecewa dan memperlakukan Yesus sedemikian karena merasa harapannya tentang mesias yang membebaskan Israel secara revolusioner dari penjajah (kata “sicarii” berarti pembunuh, suatu gerakan ekstrimis Yahudi),[3] tidak terjadi.

Saat Yudas mengikuti apa yang dikehendaki iblis maka kehidupannya berbalik 180 derajat. Seharusnya ia mendapat “hadiah dan penghargaan kekal” (Wahyu 21:14), namun malahan yang terjadi ia mendapat penghukuman kekal! Kisah Para Rasul 1:16-20. Ini adalah yang harus kita hindari.

Jika kita mempelajari Roma 6:16-22 maka kita akan mengerti bahwa kita perlu melakukan hal-hal ini untuk menghindari niat jahat dalam hidup kita:

  1. Menaati pengajaran firman Allah. Ayat 17.
  2. Menyerahkan tubuh menjadi hamba kebenaran. Ayat 19.

[1]  Paul H. Robinson, Mens Rea (Encyclopedia of Crime & Justice, 2002), 995, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=661161, diakses pada 27-Januari-2023.

[2] Pdt.David Ibrahim, Diktat Injil Matius “B” (Sekolah Alkitab Batu, 2023), 68.

[3] Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels: An Introduction and Survey, 2nd Edition (Nashville, Tennessee: B&H Publishing), 277. Kindle Edition.

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

PERNIKAHAN DI DALAM NAMA YESUS 

Kidung Agung 3:4

“Kutemui jantung hatiku.” (TB)

I found the one I love.” (NKJV)

Dalam undangan pernikahan Kenny & Yoanita yang saya terima, dikutip seperti ini, “I have found the one whom my soul loves.” Pernikahan adalah persekutuan intim dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (Kejadian 2:24). Karena itu saya setuju dengan terjemahan Inggris yang menekankan tentang “the one”.

Pernikahan yang kita hadiri pada hari ini, apapun peran yang jadi bagian kita, adalah suatu pernikahan Kristiani. Pernikahan Kristiani harus didasarkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Apa yang Yesus ajarkan mengenai suatu pernikahan?

Pertama, dalam Matius 19:6 Yesus menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia! Jadi siapa pun orangnya, apa pun jabatannya, tidak bisa menceraikan pasangan yang sudah masuk dalam pernikahan. Ini yang harus dipahami betul pasangan, keluarga, teman-sahabat dan gereja sebelum pelaksanaan suatu pernikahan.

Kedua, dalam Matius 22:30 Yesus menjelaskan bahwa pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga! Jadi status suami istri kita hanya berlaku di bumi. Sesudahnya Anda hidup sebagai makhluk surgawi. Mengapa? Karena kita sudah sempurna di Surga nanti tidak . Dalam iman Kristiani kita akan menjadi bagian dari Gereja Sempurna di akhir zaman yang akan masuk dalam pernikahan dengan Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 19:7).

Jadi pernikahan di bumi ini sebenarnya adalah gambaran pernikahan Tuhan Yesus Kristus dan GerejaNYA (Efesus 5:22-32). Sehingga pernikahan adalah tanggungjawab besar baik bagi suami, yang harus mencerminkan Yesus. Maupun bagi istri, yang harus mencerminkan Gereja yang sempurna. Tentu tidak ada yang sempurna dalam dunia ini, karena itu setiap pernikahan butuh pengikat yang menyempurnakan. Kita butuh belas kasih dari Tuhan Yesus Kristus untuk pernikahan ini.

PARADOKS NATAL: SUKACITA DI TENGAH KETAKUTAN

Lukas 2:10

Siapa yang merasa “sukacita di tengah ketakutan” adalah suatu paradoks? Istilah paradoks yang saya maksudkan adalah situasi yang berlawanan. Misalnya, di masa pandemi ada “paradoks kemanusiaan”, saat ada pihak-pihak “memanfaatkan situasi darurat ini untuk mengambil keuntungan di tengah kepanikan dan derita orang lain, salah satunya dengan menimbun masker untuk mendapat keuntungan finansial.“[1]

Sebenarnya nilai-nilai dalam Alkitab juga banyak mengandung paradoks. Abram percaya di tengah kemustahilan (Kejadian 15:1-6), Paulus bermegah atas kelemahannya (2Korintus 12:9-10), dan satu paradoks yang paling mengherankan adalah paradoks salib, saya pernah sampaikan ini dan jemaat bisa akses di gpdimahanaim-tegal.org/tak-pernah-tertidur/.

Kembali ke bahasan utama kita, sangat bertentangan jika seseorang bisa bersukacita saat ada dalam ketakutan, bukan? Seseorang yang takut biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut[2]:

  • Ketidaktaatan. Kejadian 3:10.
  • Penghukuman yang akan datang. Ibrani 11:7.
  • Penganiayaan. Yohanes 20:19.
  • Peristiwa alam. Kisah Para Rasul 27:17, 29.
  • Kecurigaan. Kisah Para Rasul 9:26.
  • Ketidakpastian. 2Korintus 11:3.
  • Kejadian-kejadian akhir. Lukas 21:26.
  • Kematian. Ibrani 2:15.

Dalam konteks Lukas 2:10 ada ketakutan yang dialami gembala-gembala karena mereka adalah orang-orang yang tidak pernah lagi mengalami nubuat (sejak zaman Maleakhi, kira-kira 400 tahun sebelum Natal), apalagi mengalami penampakan ilahi seperti penampakan malaikat-malaikat. Bahkan sebenarnya dalam Perjanjian Lama beberapa penampakan malaikat diikuti rasa takut. Misalnya penampakan malaikat kepada Gideon (Hakim-hakim 6:22) atau kepada orang tua Simson (Hakim-hakim 12:6).

Jika kita memahami tema dan ayat tema yang tadi sudah kita baca di awal maka selain ketakutan ada variabel lain yaitu sukacita. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kita membaca “kesukaan besar” dalam ayat tersebut. Tetapi dalam terjemahan bahasa Inggris dituliskan “good news that brings great joy[3].

 Dengan pemahaman dari terjemahan lain ini kita mendapat kesimpulan bahwa sukacita ini berasal dari datangnya kabar baik. Hal ini juga sesuai dengan makna kata dari ayat tersebut dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru. Saya sempat menyampaikan mengenai “Natal adalah Allah Menjadi Manusia” yang jemaat bisa juga akses di gpdimahanaim-tegal.org/natal-menjadi-manusia/. Sehingga kita bisa sampai pada pemahaman bahwa kabar baik dari Surga itu adalah Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia.

Benar, ketakutan boleh datang dan tidak ada manusia yang bisa memberi klaim “bebas dari rasa takut”. Namun firman Allah tetap ada, meskipun di tengah Ketakutan. Yesaya 40:8. Sebab Allah memberi kita roh bukan untuk menjadi takut. 2Timotius 1:7. Kehadiran Yesus menginisiasi kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Kalau kita ingat apa yang terjadi pada khotbah Petrus sesudah pencurahan Roh Kudus di Kisah Para Rasul 2:25-28. Ia mengutip miktam (nyanyian Pujian) dari Daud di Mazmur 16:8-11. Ini seharusnya menjadi terang pengharapan kita saat mengingat kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia.

Seperti ketika Anda berjalan di pergantian waktu, sore menuju malam. Anda tahu kegelapan akan datang, tetapi Anda tidak takut sebab Anda punya terang di tangan Anda. Kita tahu kegelapan akan melanda dunia, tetapi di tengah ketakutan kita bisa bersukacita, karena kita punya kabar baiknya Yesus ada beserta dengan kita! Imanuel, Allah beserta kita!


[1] Memotret Pandemi: Hoaks COVID-19 dan Paradoks Kemanusiaan, Sri Herwindya Baskara Wijaya, Eka Nada Shofa Alkhajar, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, https://rinarxiv.lipi.go.id/lipi/preprint/view/22/36, accessed on December 24th, 2022.

[2] Thomas Nelson Publishers: Nelson’s Quick Reference Topical Bible Index. Nashville, Tenn. : Thomas Nelson Publishers, 1995 (Nelson’s Quick Reference), S. 1, p.225. Libronix.

 

[3] Luke 2:10, New English Translation (NET) Bible.

Natal adalah “Allah Menjadi Manusia”

Yohanes 18:37

Ayat yang baru saja kita baca memang konteksnya adalah tentang Paskah bukan Natal, tetapi saya rasa penting untuk mengunjungi ayat ini dan memahami pengertian Yesus tentang kelahiranNYA. Saya rasa ada tiga kelompok besar orang di dunia ini, masing-masing memiliki tiga pengertian yang berbeda mengenai Natal:

  1. Kebanyakan orang Kristen memaknai Natal sebagai lahirnya juruselamat manusia, dan tidak ada yang salah dengan hal itu (Lukas 2:11).
  2. Lebih banyak orang Kristen lagi memaknai Natal sebagai salah satu hari yang perlu dirayakan secara khusus oleh seorang yang mengaku sebagai orang Kristen, karena ini hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, tokoh utama dalam kekristenan (tanpa mengenal alasan IA lahir).
  3. Kelompok orang yang terakhir dan bisa jadi mayoritas penduduk dunia memaknai Natal sebagai hari libur, pesta, dan perayaan.

Tetapi saya ingin mengingatkan kepada Gereja Tuhan, bahwa esensi Natal adalah “Allah yang menjadi manusia.” Semuanya sudah dirancangkan sejak purbakala seperti ucapan Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis. Lukas 1:67-75. Kita perlu memahami ini supaya kita tidak terjebak pada hal-hal yang bukan esensi Natal itu sendiri, seperti:

  • Perayaan. Bukan berarti kemudian kita tidak boleh merayakan Natal. Karena dalam 1Timotius 3:16 Paulus menyatakan bahwa rahasia ibadah kita adalah Yesus yang lahir dalam rupa manusia. Tetapi bahwa Allah menjadi manusia itulah inti dari Natal, bukan harinya, bukan kegiatannya.
  • Hadiah. Bukan berarti kita tidak boleh membelikan atau menyiapkan hadiah untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Karena di 2Korintus 9:6-7 Paulus berbicara tentang memberi kepada orang-orang. Konteksnya saat itu adalah bantuan dari jemaat di Korintus kepada Jemaat di Yerusalem. Bagi kita sekarang hadiah itu bisa kita berikan ke siapa saja. Tetapi sekali lagi intinya bukan hadiah, tetapi Allah yang menjadi manusia.
  • Figur Natal selain Yesus. Begitu banyak orang yang tertulis dalam Alkitab ada di sekitar kelahiran Yesus. Maria, Yusuf, gembala-gembala, orang-orang Majus. Namun tidak ada satupun dari mereka yang dapat menghadap hadirat Allah demi kepentingan seluruh umat manusia. Ibrani 9:24. Apalagi Natal modern yang menghadirkan Sinterklas (Santa Claus), atau bahkan Mariah Carey dengan “All I Want for Christmas is you”.

Yesus adalah anak Allah, pernyataan ini ada dalam pengakuan iman Gereja Pantekosta di Indonesia. Pada poin kedua disebutkan: “Kami percaya Allah Yang Maha Esa dan kekal dalam wujud Trinitas : “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, Keesaan namaNya yaitu: “TUHAN YESUS KRISTUS“.[1] Kita percaya pernyataan ini Alkitabiah dan menjadikannya pernyataan pribadi kita juga.

Dalam gereja, sering disebutkan mengenai istilah “Anak Allah”. Secara umum dalam kekristenan Anak Allah adalah Yesus. Lukas 3:38. Hal ini sudah ada sejak pengakuan iman dirumuskan oleh Gereja di abad-abad awal, khususnya untuk membedakan pengikut Kristus sejati dengan pengikut ajaran Gnosticism dan Marcionism.[2]  Yesus disebut Anak Allah bukan karena Allah Bapa melahirkan Yesus, namun karena DIA berasal, atau memperjelas pernyataan bahwa IA diutus (oleh Bapa).[3]

Karena itu kita sebenarnya bisa berkata dalam Bahasa Arab: “lam yalid walam yuulad” Allah tidak diperanakkan dan memperanakkan, karena memang Allah adalah Esa. Jika Anda membaca Markus 12:32 dan Yudas 1:25, maka Anda akan dengan lantang berkata: Amin, DIA Allah yang Esa! Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Dr.Bambang Noorsena. Ini yang kemudian membedakan ajaran agama di luar kekristenan dengan apa yang kita percaya dalam Yesus Kristus. Ada ajaran di luar kekristenan yang menyatakan bahwa firman Allah yang tidak terlihat menjadi terlihat (dapat dibaca) dalam kitab suci. Sementara kita percaya bahwa firman Allah yang tidak kelihatan, menjadi pribadi yang kelihatan dalam Yesus, sang Isa Al Masih. Firman itu menjadi manusia (bukan sekadar menjadi sebuah kitab) dan sama sekali tidak memisahkan Firman itu dari Allah.[4] Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus.

Keberadaan Allah menjadi sesuatu yang diperdebatkan khususnya di negara-negara maju. Menariknya hal ini adalah sesuatu yang pada zaman dahulu bukan merupakan perdebatan. Dahulu pengakuan akan adanya Tuhan adalah pengetahuan kolektif dari semua orang dan bangsa. Namun perdebatannya adalah Tuhan/Allah/Dewa yang mana yang lebih kuat. Kita bisa melihat ini di dalam Alkitab pada kisah teror juru minuman agung dari Raja Asyur kepada rakyat dan perwakilan Raja Yehuda, Hizkia.[5]

Doktrin tentang keberadaan Allah menjelaskan siapakah Allah dan bagaimana Allah bisa dikenal manusia. Allah adalah oknum yang sangat berbeda dengan segala hal yang dikenal manusia di alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh DIA, sehingga IA tinggal di luar alam semesta yang kita kenal ini, dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat, dan materi.[6] Keberadaan Allah melebihi segala hal yang kita pikirkan dan mengerti, hal ini menjadi pertanyaan orang-orang sejak zaman Ayub.[7]

Alkitab berusaha menjelaskan bahwa Allah ada dari mulanya, dan bahwa konsep tentang Allah adalah bagian mendasar dari pemikiran manusia. Meninggalkan konsep tentang Allah membuat manusia menjadi irasional. Pada akhirnya manusia menghidupi kehidupan yang tanpa arti dan arah.[8] Meskipun Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah, namun ada beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa Allah ada:

  1. Allah kita adalah Allah yang sempurna (Ulangan 32:4, Matius 5:48).
  2. IA ada sejak dari mulanya, dan karena DIA-lah segala sesuatu ada (Kejadian 1:1, Yesaya 40:18-22, Yohanes 1:3, Wahyu 22:13).
  3. Betapa Allah membuat dan menyiapkan segala sesuatu dengan rancangan yang luar biasa detil (Mazmur 139:14-17, Efesus 1:3-10).
  4. Allah menetapkan hukum-hukumNYA dalam hati setiap manusia (Ayub 35:11, Roma 2:14-15).
  5. Kita dapat menikmati segala sesuatu yang baik dan yang indah dari DIA (Kejadian 1:31, Lukas 4:22).

Inti dari kehadiran Yesus adalah Allah mau, mampu, dan harus menjadi manusia. Bukan karena IA lemah, malahan sebaliknya karena IA Maha Kuasa (kalau Allah mampu mencipta, adalah perkara ilahi yang pasti IA mampu lakukan untuk menjadi manusia). Semuanya IA lakukan supaya IA menjadi sama seperti kita, bersama kita. Matius 1:21-23, 28:20. Ingatlah alasan kelahiranNYA, memerintah dalam Kerajaan Allah dan membawa kesaksian tentang kebenaran Allah.


[1] Pengakuan Iman, https://gpdi.or.id/pages/pengakuan-iman, diakses pada 31-Agustus-2019.

[2] Justo L. Gonzalez, The Story of Christianity, Volume 1: The Early Church to the Dawn of the Reformation (HarperCollins, 2010), 77. Kindle Edition.

[3] Alkitab, Yohanes 16:28 (TB). 

[4] Dr.Bambang Noorsena, Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid, http://bambangnoorsena.com/index/blog/teologi/sekte-unitarian-bukan-kristen-tauhid.html, diakses pada 12-September-2019.

[5] Alkitab, 2Raja-raja 18:33-35 (TB).

[6] Creation Argument for the existence of God, https://youtu.be/8_OC2t7mIWE, diakses pada 14-September-2019.

[7] Alkitab, Ayub 11:7 (TB).

[8] William W. Menzies and Stanley M. Horton, Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective (Springfield: Logion Press, 2012), chap. 2, sec. 3. Kindle Edition.

Mintalah.

Lukas 11:5-13.

Saat ini pasti Bapak Ibu Saudara sering mendengar nasihat bahwa kita sangat memerlukan Roh Kudus. Bagi yang belum mengalami kepenuhan Roh Kudus, mintalah! Bagi yang sudah dipenuhi Roh Kudus, mintalah terus! Ada kisah menarik yang Yesus sampaikan dalam ayat-ayat tadi.

Kisah ini adalah kisah yang menarik. Terutama jika kita melihat dari unsur etika hubungan bermasyarakat. Bayangkan tengah malam, seorang teman Anda ketok pintu atau jendela Anda dan minta nasi. “Bos minta nasi ya, temenku dari Malang dateng belom makan.” Tetapi menariknya setelah kisah itu Yesus melanjutkan dengan kalimat ini (Ayat 9): “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah…

Yesus dalam mengajar kadang melakukan metode seorang pembajak. Dibongkarnya tanah yang keras, dan setelah itu baru benihnya ditanam. Setelah cerita yang menggoncang etika, Yesus tidak berhenti, ini intinya, ini benihnya, ini maksud utamanya menceritakan kisah “Roti Tengah Malam” tersebut. AKU INGIN KAMU MINTA DARIPADAKU.

Ini adalah pesan kepada kita orang-orang Kristen yang sok kuat, sok kaya, sok bisa, sok tahu. Kita kadang-kadang terlalu segan dengan Allah, segan ini bukan berarti takut akan Allah. Karena sebenarnya ini adalah bentuk membenarkan diri sendiri. Kita seperti Israel di Padang Gurun ribuan tahun lalu yang berkata: “kol aser dibber Yahweh naaseh“. Keluaran 19:8. Ini terjadi di Sinai, menariknya 50 hari setelah Paskah atau hari dimana mereka menyembelih domba paskah adalah saat mereka ada di Sinai ini. Ini adalah hari kelima puluh dimana mereka mengadakan Shavuot (Hari Raya Tujuh Minggu), atau Pentakosta.

Pentakosta pertama terjadi, turunnya Hukum Taurat / Sepuluh Perintah Allah, 3000 orang mati terbunuh. Keluaran 32:28. Bandingkan dengan Pentakosta dimana Roh Kudus turun ke atas para murid, 3000 orang diselamatkan. Kisah Para Rasul 2:41. Inilah mengapa Paulus mengatakan bahwa “hukum yang tertulis mematikan tetapi Roh menghidupkan”. 2Korintus 3:6.

Roh itu menghidupkan. Roh itu memulihkan. Roh itu menolong. Jadi minta, kepada Roh Kudus untuk memenuhi Anda saat ini. Karena ketika ada Roh Kudus memenuhi Anda, Anda akan hidup, Anda akan pulih, Anda akan tertolong.

Kembali pada kisah di Lukas tadi. Apakah Anda sudah meminta? Sudah! Saya minta dalam hati. Saya bukan meragukan bahwa Allah melihat yang tersembunyi dalam hati Anda. Tetapi di kisah ini jelas Allah memberikan formula yang sangat sederhana: MINTA. Apa yang Anda takutkan? Coba saya bantu mengidentifikasi rasa takut Anda, kalo ada tertulis disini, Anda bilang amin ya.

(1) Saya orang berdosa yang layak dihukum. Okay coba ini: Roma 8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Bahkan di ayat berikutnya Roh Kudus akan membebaskan Anda dari hukum dosa & hukum maut.

(2) Saya tidak pandai berdoa. Roma 8:26   Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengankeluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

(3) Saya belum cukup mengerti. Kisah Para Rasul 10:34, 43-44. Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Simon.
Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.

Jika Anda masih ragu untuk meminta dari DIA. Ingatlah kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan di sumur Yakub. Setelah Yesus melayani perempuan itu DIA menjadi segar kembali. Yohanes 4:32, 34 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Saat ini DIA ada disini, IA adalah pribadi yang sama yang berkata di Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

ALLAH TURUT BEKERJA

Semua orang percaya tentu familiar dengan salah satu ayat yang sangat terkenal ini. Roma 8:28. Allah turut bekerja dalam hidup seseorang yang percaya untuk mendatangkan kebaikan. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa hidup tidak akan selalu membawa kita ke jalan yang mudah.

Allah bisa bekerja saat kita dalam krisis hidup (Ester 4:13-16). Bahkan dalam saat yang mengancam nyawa (Markus 4:37-39). Ini adalah salah satu karakteristik seorang pengikut Yesus yang sejati (Filipi 2:6), mereka tidak menganggap hidup ini sebagai milik yang harus dipertahankan. Melainkan menjadikan segalanya adalah untuk Tuhan, baik hidup ataupun mati. Roma 14:8.

Allah juga dapat bekerja dalam langkah hidup yang gelap (Lukas 24:15-27). Bahkan menjadikan keadaan yang tertindas sebagai kesempatan bagi kita belajar mengenai firmanNYA. Mazmur 119:71. Allah bekerja di saat kita mendapatkan untung, dan DIA bekerja di saat kita merasakan kerugian.

Namun Allah tidak pernah berubah, IA selalu ada, seperti tiang awan menudungi Israel di waktu siang dan tiang api menghangatkan, menerangi Israel di waktu malam. Hanya karena kita tidak melihat hasil yang sesuai dengan ekspektasi kita bukan berarti Allah tidak bekerja. IA ada, IA tetap bekerja sampai sekarang di hidup kita. Yohanes 5:17.

Janji Allah sangat teruji (Mazmur 119:140), seperti matahari yang selalu terbit. Kita bisa tidak melihat matahari karena awan mendung atau apapun yang menutupi pandangan kita. Tetapi IA ada, IA bekerja, IA tidak tertidur, nantikanlah sinar wajahNYA menyentuh hidupmu. Bilangan 6:24-26.

Nyanyikan dan sembah Tuhan.

Apa Berkat itu?

Sebagai orang Kristen kita semua sudah terbiasa mendengar dan mengatakan kata BERKAT. Tetapi jangan karena terbiasa, kita lupa apa sebenarnya BERKAT yang dimaksud Firman Tuhan.

Dua tokoh Alkitab yang akan saya angkat untuk mempelajari tentang “berkat”, adalah:

  • MARIA. Lukas 1:26-38.  
  • PETRUS. Lukas 5:1-11.

Berkat bukanlah tujuan hidup kita. Jika itu yang ada di pikiran kita, maka kita sudah terpengaruh dengan materialism/konsumerisme. Untuk hal itu ada peringatan bagi kita di 1Timotius 6:9.

Sebelum kita mengambil kesimpulan, mari kita lihat seorang tokoh lain. Ia adalah tokoh spritual (dari sisi Alkitab) dan tokoh sekular (dari sisi sejarah). Namanya YUSUF. Bagi Anda yang suka dengan sejarah, mungkin penasaran, apakah benar Yusuf ini ada dalam catatan Bangsa Mesir. Para penafsir Alkitab percaya bahwa, NAMA, PENAMPILAN, PENGGAMBARAN Yusuf adalah betul-betul Mesir. Tokoh yang paling dekat dengan gambaran “second-in-command” adalah INHOTEP.

Tapi saya tidak sedang membahas hal itu, let’s see from the Bible, Yusuf dicatat secara menarik.

  • Yusuf adalah PEKERJA.

Yusuf bukanlah orang yang suka berpangku tangan, meskipun pada awal hidupnya ada konotasi dia adalah seorang pemimpi. (Kej.37:19)

  • He is striving for SUCCESS.

Ini hal yang menarik. Banyak orang menyangka kesuksesan dunia bukan sesuatu yang Alkitabiah. Ingat hal ini, kita sukses bukan supaya dunia melihat kita, atau untuk melayani Dunia. Kita sukses karena kita MEMAKSIMALKAN potensi yang Tuhan beri di dalam hidup kita. (Kej.39:2-6)

  • Dia sering diidentikkan dengan Yesus. (Kej.30:25) (Luk.2:4)

Yusuf tidak pernah mengenal Yesus. Namun demikian Roh yang sama ada pada Yusuf.

Hal ini akan saya pergunakan untuk memotivasi Anda dengan kebenaran Firman Tuhan, untuk bergerak di Marketplace.

Konsep Marketplace ini sudah dikenal sejak jaman Gereja mula-mula, seperti apa yang dilakukan Paulus.

  • Kis.17:22-23 à Dia berdiri di sidang Aeropagus.
  • Kis.18:1-3 à Dia disebutkan sebagai “tukang kemah”.
  • Kis.19:8-10 à Dia disebutkan mengajar di ruang kuliah.

Marketplace adalah kumpulan pilar-pilar penyokong suatu masyarakat atau komunitas. Bersama dengan keluarga dan agama, marketplace membentuk dan menjadi karakteristik suatu masyarakat.                                                                     

  1. Arts (Seni) & Entertainment (Hiburan)*
  2. Business (Dunia Usaha)*
  3. Education (Pendidikan)*
  4. Government (Pemerintahan)*
  5. Media (Media informasi)*

Sehingga sekarang saya berbicara di atas kedua pilar keluarga & agama, menyodorkan kepada saudara pengertian mengenai bekerja dan memberi buah.

Lebih dari Pemenang

Roma 8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Tanggal 11 September adalah tanggal yang membangkitkan kenangan beragam bagi banyak orang dan jika ada Jemaat Tuhan yang suka mengikuti berita dunia, Anda pasti pernah mendengar/membaca tentang ini. Mari saya segarkan ingatan Anda tentang apa yang terjadi di tanggal ini. Khususnya juga untuk rekan-rekan muda yang baru berusia balita di masa kejadian yang memengaruhi kondisi global ini.

Secara singkat di tanggal ini pada tahun 2001, ada 4 (empat) penerbangan di wilayah udara Amerika Serikat yang dibajak teroris. Dua pesawat ditabrakkan ke menara kembar WTC (World Trade Center) di New York, satu pesawat ke gedung Pentagon (markas besar tentara Amerika Serikat), dan satu pesawat lain jatuh sebelum mencapai sasaran teroris, yaitu Gedung Putih (istana kepresidenan Amerika Serikat). Namun demikian ada fakta lain yang terungkap bahwa salah satu “otak” serangan ini berpendapat bahwa Gedung Putih adalah sasaran yang sulit, dan lebih memilih untuk menyerang Capitol Building (gedung dewan  dan senat Amerika Serikat).

Untuk pesawat yang terakhir, ada kisah heroik yang menyertainya. Para penumpang pesawat tersebut bersepakat untuk melawan teroris yang membajak pesawat. Mereka berhasil menggagalkan rencana teroris untuk menabrakkan pesawat itu ke Gedung Putih, atau alternatif lain Capitol Building. Namun untuk itu pesawat dan semua orang di dalamnya jatuh di sebuah lapangan, sekitar 20 menit waktu penerbangan dari Washington D.C.

Menurut Jemaat Tuhan siapa yang menang dalam tragedi ini? Bagi organisasi teroris yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan teroris ini, kematian, rasa takut, dan amarah dari orang-orang Amerika Serikat adalah bukti kemenangan mereka, meskipun semua pelaksana serangan teroris ini mati dalam satu hari, mereka memang sudah merancangkan ini. Bagi penumpang pesawat dan kru pesawat yang berhasil menggagalkan serangan teroris, mereka menang atas rencana jahat terorisme, meskipun akhirnya nyawa mereka yang menjadi korban.

Bukankah tragedi serangan 11 September kemudian menjadi ironi? Ada pihak yang menyebut kesengsaraan dan kesedihan orang lain adalah kemenangan. Demikian juga ada pihak yang berhasil menggagalkan rencana jahat orang lain meski nyawanya direnggut, ini pun disebut kemenangan.

Kemenangan yang sejati adalah ketika seseorang berhasil mengalahkan yang paling terakhir, yang paling sulit, yang tidak terbandingkan dengan musuh lain. Musuh terakhir itu adalah maut. 1Korintus 15:25-26.  Seperti dicatat dalam kisah penerbangan pesawat yang terakhir jatuh, ada seorang pramugari yang terekam suaranya berteriak kepada para teroris, dengan memohon, “Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati, aku tidak mau mati!” Kita semua, Jemaat Tuhan, pada akhirnya harus bisa mengalahkan musuh terakhir ini. Ini tidak dapat dikalahkan dengan niat, harta, takhta, atau apapun yang bisa Anda miliki.

Hanya satu orang pribadi saja yang mampu mengatasi maut, Yesus! Hal yang sulit bagi semua manusia di muka bumi telah diselesaikan oleh DIA. Yesus bangkit dan tidak mati lagi! Roma 6:9. Ini yang kemudian menjadi bagian kita orang-orang percaya. Bahwa maut tidak lagi berkuasa atas hidup kita! Kematian bukan lagi jembatan kepada maut dan kebinasaan kekal. Namun kematian adalah jembatan kepada Kristus dan kehidupan kekal! Roma 8:1-2.

Pemahaman ini harusnya jadi fondasi yang tidak tergoyahkan bagi iman kita. Seperti George W. Bush, presiden Amerika Serikat saat itu berkata, “Serangan teroris bisa mengguncangkan fondasi dari gedung-gedung terbesar milik kita, tetapi mereka tidak bisa mengguncangkan fondasi dari Amerika.” Seharusnya kita pun demikian bisa tetap berdiri tidak terguncangkan. Mazmur 73:26.

Serangan 11 September mengakibatkan korban ribuan nyawa hilang. Setelah didata semua korban secara keseluruhan berasal dari 93 negara di dunia. Bahkan beberapa drama dan film dari banyak negara ada yang mengambil tragedi 11 September ini sebagai bagian dari kisahnya. Plot twist yang bermain di kepala saya, ada beberapa dari mereka yang mungkin baru saja memenangkan sesuatu, tetapi mereka tidak tahu ada satu musuh yang menanti mereka. Namun saya juga percaya bahwa ada orang-orang percaya yang menjadi korban, tubuh mereka mati, tetapi sama seperti Yesus mereka akan mengalahkan maut, dengan bangkit kembali saat Yesus datang kali kedua. 1Tesalonika 4:16.

Ini adalah hal yang khas pada kekristenan, kita memiliki Allah yang begitu mengasihi kita, IA memberikan kemenangan pada kita atas musuh terbesar yang tidak dapat dikalahkan oleh manusia, kematian yang membawa pada maut. Kejadian 5:5. Dengan meniadakan penghukuman ini, Yesus mengaruniakan kita suatu anugerah yang begitu besar, bahkan tanpa kita mengusahakannya. Inilah yang disebut lebih dari pemenang! Sekarang kita bisa memahami perspektif Daud dalam Mazmur 20:7-9, bahwa Tuhan lah yang memberi kemenangan, Jadi bukan hal-hal lain yang kita megahkan, namun karena kita memiliki urapan Allah dan bagian dalam keselamatan, itulah kemegahan kita. Lukas 10:19-20.

MATERI “PELAYANAN PRAKTIKAL DAN KEPEMIMPINAN KRISTEN” SAB 67

Untuk rekan-rekan Kelas 1 Anda bisa download file dokumen berikut untuk handout kelas. Cek sekarang berkala halaman ini, karena akan ada penambahan materi secara bertahap. Untuk permintaan, komentar, dan saran silakan email ke: contact@jeffminandar.com.