Anugerah Setiap Hari

It has been awhile to see this book in hand. If you want to have a copy please visit:

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar?n=1

And do yourself a favor put an ORDER.

Advertisements

WHAT YOU THINK?

Selamat sore dan selamat datang di HOF. Sepanjang bulan ini kita akan bicara tentang MENJADI KUDUS atau Bahasa Inggrisnya “BE HOLY”. Secara khusus malam hari ini kita akan berusaha MENGERTI tentang apa sebenarnya arti kudus, dan juga cara bagaimana memiliki pikiran yang kudus.

Sebelumnya mari kita mainkan “receh” jokes dulu. Peringatan Pemerintah. Receh jokes, mengakibatkan kekeringan dan bila berlanjut akan menjadi kegaringan pada pria dan wanita jomblo.

Okay yang sudah muntah-muntah tolong jangan lupa dibersihkan sesudah Ibadah ini selesai, supaya tempat Ibadah ini tetap KUDUS. Tapi ngomong-ngomong, apa sih “kudus” itu? Kita sering denger tentang orang kudus, kota kudus, dan tanah kudus atau tanah suci. Memang dalam Bahasa Indonesia kata “kudus” adalah sinonim dari kata “suci”.

Suci bisa diartikan bersih secara keagamaan, atau bebas dari dosa. Sehingga kalau memakai definisi ini, maka sebenarnya harus ada ritual yang mampu membersihkan kita dari dosa supaya menjadi kudus. Bagi orang Yahudi (sama seperti juga beberapa agama lain yang mungkin temen-temen kenal) mereka menyucikan sesuatu dengan air. Keluaran 29:4.

Kita yang hidup di Perjanjian Baru memang melakukan suatu tindakan dalam kekristenan yang berhubungan dengan air, namanya Baptisan. Tetapi ini tidak ada hubungan dengan penyucian, malahan menurut Rasul Petrus ini adalah suatu permohonan (dan juga pernyataan) bahwa kita hidup dengan “hati nurani yang baik”, menjauhkan diri dari yang jahat. 1Petrus 3:21.

Ternyata banyak yang jahat keluar dari pikiran manusia, buktinya:

  • Hawa ingin menjadi seperti Allah, dengan menentang perintahNYA.
  • Abram ingin menyelamatkan diri dengan mengorbankan istrinya.
  • Daud ingin memiliki istri orang lain dengan berbohong & merancangkan celaka bagi suaminya.
  • Ananias & Safira ingin meraih keuntungan dengan menipu.

Pikiran kita ada di dalam organ yang namanya “otak”. Kalau tidak salah saya pernah beri fakta-fakta ini ke kakak-kakak kalian di Crossover:

  • Otak kita terus berkembang sampai kita di usia 40-an akhir.
  • Ada “sambungan” atau koneksi baru terbentuk di otak kita setiap kali kita mengingat sesuatu.
  • Dalam kondisi sadar otak meproduksi tenaga elektrik yang mampu menyalakan sebuah lampu kecil.
  • 60% dari bagian otak manusia adalah lemak.
  • Otak kita memiliki kepadatan seperti tofu.
  • Tidak ada pembedaan otak kiri dan otak kanan, mereka bekerja bersama. Selama ini ada mitos mengenai bagaimana otak kita bekerja.

Karena otak adalah anggota tubuh kita, sehingga seharusnya kita bisa menjaga supaya anggota tubuh kita ini tidak dipakai iblis untuk melakukan kejahatan, sebaliknya kita menjaganya dari dosa dan menyerahkannya kepada Allah. Roma 6:13. Bagi saya inilah definisi menguduskan pikiran kita. MENJAGA DAN MENYERAHKAN pikiran kita kepada Allah SETIAP HARI.

GADGET EFFECT

Selamat malam rekan-rekan professional (atau boleh saya panggil “banker”?) di bank-bank Kota Malang. Sungguh adalah kehormatan untuk saya bisa berbicara di hadapan Anda. Malam hari ini saya tidak membawa diri saya saja, tetapi Firman Allah. Tema yang diangkat oleh panitia adalah: Gadget Effect.

Menariknya saya mendapat email yang pada awalnya memberikan tema “Gadget Effect for Youth” tetapi dengan audience 25 – 35 tahun. Saya bisa mengerti untuk yang masih di bawah 35 tahun, tetapi untuk yang di atas 35 tahun? Karena biasanya ada yang terjadi di tengah malam saat usia seseorang berubah dari 35 ke 35+. Pada akhirnya saya menyadari, mungkin ini juga untuk orang-tua yang berhadapan dengan anak-anaknya. Jadi silakan saja di akhir presentasi saya untuk bertanya untuk topik ini.

Mari kita mulai bahasan ini dengan membuka Pengkhotbah 1:9-10. Kita melihat bahwa penulis Pengkhotbah memberitahukan bahwa sebenarnya tidak ada yang baru di muka bumi ini. Apa yang ada, apa yang pernah dibuat, akan ada lagi, tentu saja dengan versi yang lebih baik. Lihat saja teknologi kamera, telepon, dan lain-lain semua adalah teknologi yang melekat dengan diri kita.

Sehingga itulah mengapa kita mengerti bahwa “gadget” atau gawai adalah alat bantu, dan harusnya terus demikian. Alat bantu tidak pernah menggantikan yang Utama. Ilustrasinya kalau Anda menggaji asisten rumah tangga (pembantu) untuk membantu istri Anda, bukan berarti ia ada untuk menggantikan istri Anda, bukan? Matius 6:21 menyatakan dimana ada yang berharga buat Anda, disitu hati Anda. Karena itu gadget tidak bisa jadi yang Utama di hidup kita.

Lalu apakah efek gawai (gadget effect) itu bertentangan (kontradiksi) dengan Alkitab? Saya percaya Firman Tuhan itu dinamis, dan relevan di setiap zaman. Hanya saja jelas efek gawai memberi ancaman bagi hidup Kristen kita, jika tidak digunakan dengan baik.

  1. Terlalu banyak informasi. Apa yang harus kita lakukan adalah menyaring informasi yang masuk, dan memastikan bahwa kita adalah pembawa Kabar Baik, apapun posisi kita. Yesaya 52:7.
  2. Rentang perhatian yang pendek. Seharusnya kita melatih diri untuk menantikan Tuhan, yang terbaik akan datang dari hal itu. Yesaya 40:31.
  3. E-Addiction. Iblis berusaha untuk membuat kita terikat dengan apa yang kita kerjakan dan pada akhirnya melihat kebenaran sebagai dusta. Keluaran 5:9.
  4. E-Identity / e-Personality. Jangan bertindak karena rasa takut, kita bukan dikuasai ketakutan tetapi Roh Allah, yang menjadikan kita Anak Allah. Roma 8:15.

 

Q&A “The Calling” – YTC GPdI Yogyakarta

(Many thanks for Michelle & Aldora for this post)

Saat saya melayani di Youth & Teens Camp GPdI se-Yogyakarta, ada satu sesi yang mengundang banyak pertanyaan tidak terjawab karena keterbatasan waktu. Jadi saya janjikan ke panitia untuk menjawab beberapa pertanyaan tertulis yang tidak terjawab di sesi itu. Semoga yang bertanya puas dengan jawaban-jawaban di bawah ini.

 

  • Bagaimana solusi / cara untuk mengajak teman dekat yang belum mengenal Tuhan untuk bersekutu dengan kita?

Saya akan memanfaatkan kegiatan-kegiatan gereja / acara remaja yang paling penting adalah TIDAK memaksa Kekristenan pada mereka. Hormati pandangan dan perhatikan tingkat kenyamanan mereka (biarkan mereka pergi jika mereka memberi tahu Anda bahwa mereka tidak merasa nyaman).

Jika teman Anda menyukai musik, tawarkan mereka untuk mendengarkan lagu-lagu Kristen (lagu-lagu keren) dan biarkan mereka bertanya tentang hal itu. Jika teman Anda menyukai “meme” (pesan gambar-tulisan) dan kutipan, tandai (tag) mereka dengan sesuatu yang lucu tapi tetap positif.

Berikan dorongan dan pemikiran positif ketika berinteraksi dengan mereka (jika pada dasarnya memang mereka tidak percaya kekristenan). Intinya, bukan karena kekuatan dan apa yang kita lakukan, untuk menjadikan mereka percaya pada Yesus.

Tapi, jadilah pro-aktif dalam mencari kesempatan berinteraksi dengan mereka, dan berdoalah agar hati mereka terbuka. Biarkan Tuhan sendiri yang bekerja selanjutnya untuk menyentuh hati mereka.

 

  • Apa yang dimaksud panggilan Tuhan ?

Saya pribadi merasa bahwa orang-orang telah membuat istilah “panggilan” menjadi agak rumit. Sebuah “panggilan” tidak selalu menjadikan Anda seorang pendeta / pengkhotbah / bekerja di gereja.

Anda dapat dipanggil untuk menjadi ibu bagi anak-anak Anda dan itu bisa menjadi pelayananmu bagi Tuhan.

Anda dapat dipanggil untuk menjadi seorang guru yang akan memelihara para pembuat sejarah, Anda dapat dipanggil untuk menjadi penulis luar biasa yang menulis tentang Yesus atau tentang hal positif / motivasi.

Tidak perlu mengejar posisi pemimpin, banyak hal sederhana yang bisa dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan – anda boleh bekerja di balik layar. Contohnya ketika anda sedang bermusik, gunakan itu untuk melayani.

Jika Anda mudah bergaul dan punya banyak teman, ajak mereka ke gereja; jika Anda mencintai anak-anak, jadilah seseorang yang mereka butuhkan .. dan banyak hal sederhana lain yang bisa menjadi panggilan dalam pelayananmu.

Roma 12:6-8 (Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar 12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan , hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

 

  • Bagaimana mengetahui bahwa itu panggilan dari Tuhan ?

Berjalan dengan Tuhan akan membawamu kepada banyak hal yang membuatmu mengerti suaraNYA. Panggilan mengharuskanmu keluar dari zona nyaman, Itu akan sangat menantang dan bahkan bisa menjadikan Anda frustasi.

Anda harus memiliki hubungan dengan Tuhan dan sadar bahwa Anda butuh pimpinan Roh Kudus.

Tekanan akan datang ketika Anda mengandalkan pemahaman Anda sendiri.

Dalam perjalanannya, saat anda terpanggil untuk melakukan sesuatu, itu akan membawamu merasakan kebahagiaan dan kepuasan. Anda akan sadari kemampuan Anda utuk melakukannya, dan itu terasa menyenangkan.

 

  • Bagaimana cara kita menyadari bahwa apa yang kita pikirkan / inginkan merupakan panggilan yang tepat seperti yang Tuhan mau atau tidak? 

Setiap kali ada sebuah konsep tertanam dalam pikiranmu, saya percaya bahwa itu adalah benih. Terserah cara Anda untuk menyiraminya, memeliharanya, dan melihatnya tumbuh. Kalau ternyata itu bukan sesuatu yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya, maka saya pikir itu bukanlah sesuatu yang seharusnya Anda lakukan. Jangan buang-buang energi.

Kenalilah maksud Tuhan. Jika Dia memilihmu, ia melengkapimu dengan potensi untuk jadi berhasil. – Steven Furtick 

 

  • Salah satu cara Tuhan memberi tahu panggilan? 

Setiap orang mengharapkan ini menjadi sesuatu seperti Tuhan turun dari awan dan berbicara dengan suara bass untuk memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan. Tetapi kenyataannya sebagian besar yang terjadi bukan hal yang demikian.

Jadi bagaimana?

Ada orang yang mendapat panggilan melalui mimpi / suatu penglihatan yang kemudian menjadi peneguhan mereka bahwa itu adalah sebuah panggilan.

Lebih mudahnya, Tetaplah jalin hubungan yang dekat dengan Tuhan (berdoa, bacalah Alkitab, renungkan) melalui hubungan tersebut, ada banyak hal yang Tuhan akan nyatakan. Dia bisa memanggilmu dengan cara yang lembut.

Bergaul juga dengan teman-teman yang memiliki kerohanian yang baik (teman-teman dari gereja, mentor, ketua pemuda) karena terkadang Tuhan dapat berbicara kepada Anda melalui mereka.

 

  • Bagaimana cara kita mengetahui apa panggilan kita ? sementara kita sibuk dengan kegiatan kita.Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Yang dimaksud dengan ” panggilan yang menjadi berkat? 

Jangan terlalu jauh memikirkan kalimat ini. Itu hanya akan membuatmu terbatas untuk melakukan banyak hal.

Pikirkan hal sederhana, ketika Anda memberkati orang dengan sebuah senyum.

 

  • Bagaimana kita mengetahui kita dipanggil untuk menjadi apa ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Bagaimana kita mendengar panggilan dari Tuhan ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Cara mengetahui panggilan kita ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Bagaimana cara menyikapi orang yang sedang mengalami krisis iman dalam melakukan proses panggilan ?

Berdoalah bagi mereka, beri waktu untuk mereka untuk berbincang atau untuk menghabiskan waktu dengan mereka) buat mereka bahagia.Berbincang mengenai kehidupan sehari-hari, apa yang mereka lakukan selama ini dan mengapa mereka melakukannya?Ingatkan mereka bahwa segala hal yang terjadi ini tentang Yesus dan mereka harus kembali kepada sumbernya.

 

  • Bagaimana cara kita untuk mengetahui panggilan kita yang sesungguhnya ?Baca Poin 4, 5.

 

  • Bagaimana cara untuk memperjelas panggilan kami ?Baca Poin 4, 5.

 

  • Jika kami sudah mendapat panggilan kami, apa yang harus kami lakukan ?Baca poin 4.

Sekarang Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, inilah saatnya perjalanan Anda dimulai. Berbicaralah kepada pemimpin Anda, mintalah seorang mentor. Lengkapi diri Anda dengan apa pun yang akan membantu Anda dalam panggilan Anda. Buka pikiran dan hati Anda dan jadilah orang yang mau diajar.

 

  • Gimana kita bisa tau kalau pelayanan kita panggilan dari Tuhan? Baca poin 4.

 

  • Kita dipanggil dengan panggilan berbeda-beda, apa tujuan dari hal tersebut?

Panggilan adalah sebuah undangan pribadi dari Tuhan untuk melaksanakan tugas unik yang Dia sediakan untuk Anda. Karena Allah adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya,

Allah bekerja melalui kita untuk kerajaan-Nya.

Markus 10:45 Karena Anak Manusia pun tidak datang untuk dilayani melainkan untuk melayani.

KUASANYA TIDAK BERUBAH

Pancasila Rumah Kita Bersama. Kita yakin dan rindu kuasaNya yang tak berubah memulihkan Indonesia yang sedang terkotak-kotak oleh perbedaan. Padahal Indonesia punya satu pemersatu yang Tuhan beri sejak dulu: Pancasila. Inilah pengikat kita, tetapi penggeraknya adalah kekuatan Roh KudusNya.”

 

Selamat malam dan selamat berjumpa di KKR “KuasaNYA Tidak Berubah” dan Konser Doa Bagi Negeri “Pancasila Rumah Kita Bersama”. Selalu menjadi kehormatan bagi saya seorang  yang bukan siapa-siapa bisa melayani Anda sekalian.

Satu hal yang kita percaya, bahwa kuasa (power) itu datang dari Tuhan. DIA lah sumber, yang pertama, yang menggerakkan segala sesuatunya seperti apa yang kita lihat sekarang. Karena itulah di Surga akan naik pujian pengagungan bagi DIA yang punya Kuasa itu. Wahyu 4:11.

Kuasa itu tidak berubah dulu – sekarang – sampai selamanya, meskipun ada yang berkata sebaliknya. Tetapi kita sungguh yakin dan percaya apa yang dituliskan tentang DIA, Tuhan Yesus di Ibrani 13:8.

Menarik sekali bahwa kuasa yang dimiliki DIA bekerja bersama kebijaksanaanNYA dan akal budiNYA untuk menciptakan Alam Semesta ini. Yeremia 10:12. Saya sungguh percaya komponen-komponen yang sama digunakan untuk membangun bangsa Indonesia dari mulanya.

Saya tidak sedang membuat klaim bahwa para pendiri bangsa ini mengenal Yesus. Tetapi ketika Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan serupa dan segambar dengan diriNYA. Kejadian 1. Sehingga kualitas-kualitas Illahi itu ada dalam manusia. Sayangnya manusia memilih jalan di luar rencana Tuhan, dan jatuh dalam dosa.

Namun tidak serta merta dosa itu membuat manusia kehilangan kualitas-kualitas Illahi itu. Meskipun ada penurunan yang luar biasa dari kualitas hidup manusia (bayangkan dulunya manusia hidup selama-lamanya), namun daya kreasi manusia yang diletakkan Tuhan masih ada dalam dirinya. Lihat saja bagaimana manusia bisa membuat karya literatur yang luar biasa, karya seni rupa yang unik, bangunan-bangunan yang mencengangkan, musik yang indah, dan tentu saja sistem kebangsaan.

Saya percaya bahwa Bangsa Indonesia dibangun dengan kuasa, kebijaksanaan dan akal budi, seperti yang tadi saya kutip dari kitab Yeremia. Coba kita lihat 5 fondasi dasar bangunan bangsa ini, yang kita sebut: Pancasila. Bahwa Tuhan itu Esa, menjalankan kehidupan yang memanusiakan sesama, diikat oleh semangat persatuan, diinspirasi oleh hikmat dalam permusyawaratan-perwakilan yang berkeadilan sosial.

Kelimanya tidak bertentangan dengan Alkitab bukan? Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Malah, sebenarnya sebagai orang percaya harusnya menghidupi nilai-nilai yang lebih tinggi dari itu. Hidup yang keluar dari kuasa Roh, menghasilkkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Galatia 5:22-23.

Potensi Indonesia yang luar biasa ini harus kita pelihara. Bayangkan betapa berharganya 255 juta jiwa penduduk bangsa ini, belum lagi ke-17.000 pulau yang tersebar di garis katulistiwa. Tetapi semua yang berharga itu tidak ada gunanya jika terjadi disintegrasi. Yesus pernah mengatakannya di Matius 12:25.

Sesuatu yang berharga, kehilangan harganya saat tidak ada kesatuan. Coba saja kita pikirkan, sebuah mobil yang berharga sangat mahal ketika dirakit Bersama. Tetapi ketika itu dilepas semua bagian sampai yang terkecil, harganya yang mahal itu menurun drastis!

Mari kita menyatukan hati bagi bangsa ini. Mungkin kita berkata, apa yang bisa saya lakukan sebagai bagian kecil dari bangsa ini? Pertama, berdoa, itulah mengapa kita berkumpul malam hari ini. Kedua, berpikir dan bertindak sebagai satu kesatuan, jangan menjadi ekstrimis, dengan menentang pemerintah. Pemerintah juga datang dari Tuhan. Roma 13:1. Dengan menjadi orang yang ekstrim kita hanya mengundang perpecahan. Ketiga, hidup dalam kuasa Roh, karena kuasa itu menghasilkan buah Roh yang “tidak bisa ditentang oleh hukum manapun”. Galatia 5:23.

GodblesS

JEFF

 

 

 

LISTEN

Berapa banyak hal yang kita dengar sampai dengan sekarang? Banyak sekali, bukan? Dari hal yang penting sampai dengan hal yang tidak penting. Tidak semua yang masuk kemudian kita olah jadi informasi yang penting. Sehingga mendengar pun sebenarnya adalah bagian dari pilihan.

 

Menarik sekali beberapa waktu lalu saya melayani bersama dengan seorang hamba Tuhan muda namanya Christian Effendi. Dia mengambil ilustrasi betapa Allah adalah yang mengambil insiatif untuk berbicara kepada kita. Kalaupun ada halangan untuk kita mendengar, IA akan mencari cara supaya suaraNYA terdengar. Tetapi kalau kemudian kita mengambil pilihan untuk tidak mau mendengar, pada akhirnya IA akan membiarkan kita menerima konsekuensi dari tidak mendengar suaraNYA. Ulangan 28:1, 15.

 

 

  1. Mendengar Panggilan Pribadi

 

Biar saya mulai hal ini dengan menegaskan satu hal, bahwa secara organisasi saya bukan pendeta. Hanya karena ada nama “Minandar” bukan berarti saya berhak mengambil jalan pintas. Banyak orang yang memanggil saya pendeta atau pastor, tetapi saya sekali lagi secara organisasi bukan. Saya hanya menjalankan fungsi kependetaan karena saya adalah anggota tim pastoral di gereja lokal di Tegal. Saya sampaikan ini untuk mengingatkan saya dan mengingatkan Anda, there is no shortcut, semua harus ada prosesnya.

 

Sedikit mengenai kesaksian panggilan saya, sebelum saya membahas mengenai sub-topik: “Panggilan Pribadi”.

 

“Dimana hartamu berada disitu hatimu berada.” Perkataan Yesus di Matius 6:21 ini tentu sudah sering kita dengar, dan menjadi hafalan. Menghafal itu bagus, namun masalahnya jika hafalan itu hanya berhenti disitu. Seharusnya ini menjadi nilai yang kuat dalam setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Karena hafalan menunjukkan kekuatan pikiran kita, namun nilai menunjukkan kekuatan pribadi kita.

 

Firman Tuhan sebagai sistem nilai yang Yesus sendiri hidupi (karena DIA adalah Firman itu) mengajarkan mengenai pentingnya hati yang kuat dan teguh. Sesaat sebelum menyeberang sungai Yordan, Tuhan sampai mengulang-ulang hal ini kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Tentu saja ini membutuhkan kerjasama dari pihak manusia  Seberapa ingin Anda untuk berubah dan berbuah. Panggilan untuk berbuah adalah suatu keharusan. Allah mengasihi Anda, Allah memberkati Anda, Allah menyelamatkan kita, supaya kita berbuah. DIA melimpahkan kasih karuniaNYA bukan untuk sesuatu yang sia-sia. DIA ingin ada buah yang kita hasilkan. Contoh yang paling jelas kita bisa temukan dalam perumpamaan tentang talenta. Meskipun kita juga sudah sangat sering mendengar ini, namun kisah ini selalu menarik untuk dibahas.

 

Matius 25:14-30

Apa yang diberikan Tuan itu kepada hamba-hambanya? Talenta. Ini menarik,  karena kalau kita tidak mengerti nilai talenta maka kuantitas talenta yang diberikan kurang menarik dan tidak mewah. Hanya 1, 2 dan 5. Namun ketika kita tahu nilai sebuah talenta itu adalah upah 6000 hari kerja (di jaman itu) maka kita akan mengerti betapa satu talenta saja sudah sangat berharga!

 

Sekarang apakah mereka melakukan sesuatu yang hebat untuk mendapat talenta itu? Tidak, Tuan itu hanya menyerahkan (mengaruniakan) talenta-talenta itu “masing-masing menurut kesanggupannya” (ayat 15). Tuan itu tahu kemampuan pengelolaan masing-masing hambanya, namun bukankah itu tidak mempengaruhi nilai berharga dari talenta itu? Lima gram emas tidak kemudian menjadi logam “kurang mulia”  hanya karena dia diletakkan disebelah 1 kilogram emas!

 

Jadi siapapun kita apapun latar belakang kita dan berapapun orang lain menilai kita. Sesungguhnya kita memiliki talenta yang sungguh sangat berharga. Apakah 1, 2 atau 5 bukan itu yang menjadi perhatian utama, melainkan berapa banyak talenta itu berbuah.

 

Ada satu lagi perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita, yaitu perumpamaan “sesuatu yang hilang”. Lukas 15:1-32. Didalam perumpamaan ini terdapat 3 hal yang hilang.

  1. Domba yang hilang.

Karakter seekor domba adalah mahluk yang perlu pertolongan dan bimbingan. Domba adalah mahluk yang tidak dapat mempertahankan dirinya dan memiliki daya pandang yang terbatas. Sehingga domba sering diidentikkan dengan binatang yang lemah. Keristenan pun sebenarnya ada yang tingkatannya seperti ini.

  1. Dirham yang hilang.

Disini sudah melibatkan kedewasaan dan komitmen. Karena biasanya dirham yang paling berharga adalah milik seorang wanita Israel yang bertunangan.

  • Anak yang hilang.

Inilah kasih di tingkat yang tertinggi. Unconditional Love of The Father.

 

Lalu apa yang bisa dipelajari dari ketiga kisah ini, dan hubungannya dengan mendengar panggilan Allah? Pasal ke-15 dari Lukas diawali dengan ayat yang berkata:

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:…”

 

Pertanyaan ini yang kemudian penting poin yang pertama mengenai mendengar panggilan pribadi ini. Apakah kita memiliki hati dan beban bagi jiwa-jiwa yang terhilang, terutama bagi kaum / bangsa / kelompok yang tak terjangkau? Mereka yang tidak diterima dan yang berdosa? Apakah saudara terpanggil untuk jiwa-jiwa yang terhilang dan dalam jalan menuju maut, atau Anda ingin menjadikannya hanya sekedar tugas?

 

Hati Yesus penuh dengan belas kasihan hal ini jelas terlihat dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus: memberi makan 5000 orang, membangkitkan anak seorang janda di Nain, juga membangkitkan Lazarus, menyembuhkan orang buta dan orang kusta. Panggilan pribadi kita adalah ketika kita memiliki hati untuk melakukan hal tersebut.

 

  1. Mendengar dan Mengembangkan Komitmen

 

Komitmen adalah suatu hal yang penting dan mahal. Komitmen adalah keputusan yang penuh integritas. Komitmen adalah janji kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu secara terus menerus, untuk jangka waktu tertentu. Sebenarnya ini adalah cara kita juga mengembangkan karakter.

 

Karakter datang dari habit atau kebiasaan. Kepribadian adalah keseluruhan dirimu, sedangkan karakter adalah bagian dari kepribadian yang dilihat orang dalam kecenderungan bersikap. Karisma membawa engkau naik ke atas, namun karakter yang mempertahankan engkau tetap di atas.

 

Orang-orang yang mendengar dengan baik, ia kemudian berkomitmen. Maksudnya orang-orang ini berfokus kepada apa yang penting, apa yang menjadi prioritas bagi dirinya dari apa yang didengarnya.

 

Yesus adalah orang yang memiliki komitmen tinggi kepada apa yang penting dan menjadi prioritas. Ketika orang banyak ingin memaksa DIA untuk menjadi raja (Yohanes 6:15) Yesus memilih untuk menyingkir, demikian juga ketika Yesus harus naik ke Sorga supaya Roh Kudus turun (Yohanes 16:7). Komitmen bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mengenakkan. Kita tahu banyak masalah sosial saat ini adalah karena orang kehilangan komitmen untuk melakukan sesuatu.

 

Contohnya saja partai politik, politisi, dan pejabat Negara yang terpilih lewat pemilihan masal. Karena apa yang mereka ucapkan tidak benar-benar mereka lakoni, maka tingkat penyelewengan anggaran, korupsi, dan kerugian Negara terus terjadi oleh ulah orang-orang tanpa komitmen ini. Mereka dengan mudah berpindah haluan kepada yang berkuasa. Bukan saja di tingkat Negara. Kalau sekarang kita lihat unit terkecil dalam masyarakat adalah keluarga. Berapa banyak keluarga yang hancur karena anggota keluarga yang tidak berkomitmen untuk keutuhan suatu keluarga.

 

Saya selalu percaya bahwa dalam tiap hubungan, apapun itu diperlukan tiga sisi yang saling bertemu dan tidak terpisahkan. Tiga sisi itu adalah:

  1. Passion (Gairah)
  2. Affection (Rasa sayang / kedekatan)
  • Commitment (Komitmen / janji / ikatan)

Apakah itu dalam rumah tangga di rumah, rumah tangga di gereja, dan rumah tangga Negara, ketiga sisi itu menjadi penting. Tahukah saudara apa yang membuatnya tetap utuh? Komitmen! Sekedar mendengar tidak cukup, Anda harus mulai membangun komitmen atas apa yang Anda pilih untuk dengar.

 

Setelah kita yakin akan panggilan pribadi kita, ada belas kasihan yang timbul, ada gairah yang besar melihat ladang tuaian yang sangat besar. Selanjutnya lengkapi itu dengan komitmen seumur hidup untuk berdoa bagi para misionaris dan jiwa-jiwa yang terhilang. Doa orang benar, jika benar didoakan besar kuasanya. Mendengar adalah bagian dari doa sebenarnya.

 

Yesus berkata tentang DOA:

Matius 26:41 Berjaga dan berdoa, roh penurut namun daging lemah.

Seringkali pikiran lah yang membuat kita lemah. Sepanjang Alkitab dikisahkan mengenai Saul dengan pikirannya pada Daud, Elia dan pikirannya pada Izebel, Petrus dan pikirannya pada gelombang. Dengarkan DIA yang berbicara di hatimu.

AYAH

Puji Tuhan Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Kalau Gembala sering mengutip bagian-bagian dari ayat-ayat ini:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Pagi hari ini saya ingin mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja kita, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Hari Ayah yang dirayakan banyak negara di setiap hari Minggu ke-3, bulan Juni. Kalau di Indonesia, “Hari Ayah Nasional” dirayakan setiap tanggal 12 November, meskipun banyak dari Anda yang mungkin baru tahu. Karena memang lebih “terkenal” perayaan Hari Ibu. Tetapi setidaknya merayakan bagaimana seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya adalah sesuatu yang spesial. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

 

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

 

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

 

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

 

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

 

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

 

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

 

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

 

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

 

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

 

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

 

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

 

KARAKTER ALLAH

Banyak dari kita pernah mendengar istilah karakter, dan kalau saya tanyakan mungkin sebagian besar dari kita yang hadir tidak yakin apa sebenarnya karakter itu. Karakter berasal dari Bahasa Yunani “charaktēr” (tanda, kualitas yang berbeda – alat untuk memberi tanda) diturunkan dari kata kerja “charassein” (mempertajam, membuat alur, mengukir). Jadi secara singkat, karakter adalah kualitas pribadi yang membuat Anda berbeda dari yang lain. Dalam bahasan Kristen tentu kita mengenal Galatia 5:22-23 sebagai daftar buah Roh yang ditulis Rasul Paulus. Tetapi kita bisa lihat ini juga sebenarnya adalah karakter pengikut Kristus, yang membedakan kita dari dunia.

Kembali ke sejarah bahasan tentang karakter. Secara sederhana dulu orang menggolongkan karakter orang berdasarkan “cairan tubuh” yang dominan, sehingga keluar istilah: sanguinis, plegmatis, koleris, melankolis. Tetapi teori ini sebenarnya sudah tidak kekinian lagi. Karena perkembangan Psikologi terbaru menggolongkan (istilahnya) 24 “kekuatan karakter” kedalam 6 nilai kebaikan yang muncul di sepanjang zaman.

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggungjawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

Seseorang dan karakternya akan mengundang ekspektasi dari orang yang disekitarnya. Misalnya orang yang bijaksana, diharapkan suka belajar, dan punya sudut pandang yang baik. Semua dari kita adalah kombinasi yang unik dari kekuatan-kekuatan karakter ini. Saya percaya semua kekuatan karakter ini ada lengkap pada “karakter” Tuhan (dengan sengaja saya beri tanda kutip karena istilah ini adalah bentuk personifikasi kita terhadap Tuhan). Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan satu per satu kepada Anda.

Tetapi mari kita mulai dengan ini, kalau Allah punya kelengkapan kekuatan karakter, berarti manusia juga diciptakan dengan kekuatan-kekuatan karakter dan nilai-nilai kebaikan. Lalu apa guna itu semua? Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, namun kemudian berujung pada hasil yang tidak sesuai.

Lalu apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Sekali lagi saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Kekuatan “karakter” Allah yaitu Kasih saya rasa menjadi yang paling menonjol. Ada satu lagu rohani “kontroversial” yang menggambarkan kekuatan karakter Allah, tetapi yang terbesar adalah kasihNYA. Judul lagu ini “Reckless Love”.

 

VERSE-1:

Before I spoke a word, You were singing over me

(Sebelum aku bisa berkata, KAU telah bernyanyi atasku)

 

You have been so, so good to me

(KAU begitu sangat baik bagiku)

 

Before I took a breath, You breathed Your life in me

(Sebelum aku bisa bernafas, KAU telah hembuskan nafas hidupMU dalamku)

 

You have been so, so kind to me

(KAU begitu sangat memerhatikanku)

 

REFF:

Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God

(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

 

Oh, it chases me down, fights ’til I’m found, leaves the ninety-nine

(Kasih itu mengejarku, berjuang hingga kuditemukan, meninggalkan 99 yang lain)

 

I couldn’t earn it, and I don’t deserve it, still, You give Yourself away

(Aku tak dapat mengusahakannya, dan aku tak layak mendapatkannya, tetapi ENGKAU tetap memberi hidupMU)

 

Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God, yeah

(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

 

VERSE-2:

When I was Your foe, still Your love fought for me

(Saat aku masih menjadi musuhmu, KasihMU tetap berjuang bagiku)

 

You have been so, so good to me

(KAU begitu sangat baik bagiku)

 

When I felt no worth, You paid it all for me

(Saat aku merasa tak berharga, KAU bayar semua bagiku)

 

You have been so, so kind to me

(KAU begitu sangat memerhatikanku)

 

BACK-TO-REFF THEN BRIDGE

 

BRIDGE

There’s no shadow You won’t light up

Mountain You won’t climb up

Coming after me

(Tak ada gelap yang tak KAU terangi

Gunung yang tak KAU daki

Mencari diriku)

 

There’s no wall You won’t kick down

Lie You won’t tear down

Coming after me

(Tak ada penghalang yang tak kau robohkan

Kebohongan yang tak kau bukakan

Mencari diriku)

 

BACK TO REFF

 

Bisakah Anda lihat semua karakterNYA dari lagu diatas?

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggungjawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

 

Saya melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Anda menunjukkan karakter Anda yang seharusnya serupa dan segambar dengan DIA. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Karakter Allah itu sebenarnya Anda miliki, kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

 

GodblesS

JEFF