Anugerah Setiap Hari

It has been awhile to see this book in hand. If you want to have a copy please visit:

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar?n=1

And do yourself a favor put an ORDER.

Advertisements

ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

– Ada sesuatu yang hilang / kosong.

– Ada sesuatu yang mati.

– Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

– Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.

– Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.

– Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Anda ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa.

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Anak Allah” @gpdimahanaim-tegal.org), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.

2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.

3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “pengejarannya” yang salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung! Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita.

HOMECOMING (Yeremia 2:2)

Homecoming” adalah tema yang menarik, karena bisa didefinisikan sebagai reuni atau kembali ke rumah / kampung halaman. Untuk definisi yang terakhir bisa disamakan dengan istilah “mudik” mungkin.

Tetapi menjadi menarik juga karena salah satu film “box office” 2017 berjudul “Spiderman: Homecoming”. Kalau saya tidak salah di Rusia atau di Italia dan beberapa negara lain, judul film dalam Bahasa Inggris harus diterjemahkan ke Bahasa nasional setempat. Kebayang ya kalau di Indonesia jadinya: “Manusia Laba-laba: Mudik”.

Tetapi ada fakta-fakta yang saya dapatkan tentang film “Spiderman” ini. Salah satunya bahwa film ini menjadi film “Spiderman” tersukses kedua setelah Trilogi “Spiderman” yang diperankan Tobey Maguire. Pendapatannya tercatat $333juta di Amerika Serikat dan $879juta di seluruh dunia.

Ketika mendengar angka-angka fantastis seperti itu kita langsung berpikir tentang ukuran kesuksesan, bukan? Kesuksesan = Hasil. Apakah ini biblical? Coba kita lihat Matius 3:10. Saat itu Yohanaes Pembaptis menegur dengan keras orang-orang Yahudi (termasuk di dalamnya orang Farisi) yang diumpamakan seperti “pohon yang tidak berbuah”. Jadi “menghasilkan” itu penting.

Lalu hasil yang seperti apa? Hasil yang baik tentunya sesuai dengan ayat tersebut. Namun baik pun menjadi relatif. Apa yang saya katakan baik, belum tentu sudah baik di pandangan Anda. Hasil yang baik ini harus mengacu kepada standar DIA, “sang pemilik kebun” kalau memakai perumpamaan Yesus di Lukas 13:6-9. Karena dari “pohon” kemanusiaan kita bisa menghasilkan yang dari “daging” dan yang dari “roh”. Galatia 5:19-23.

Ilustrasi yang mudah seperti ini, kembali ke Spiderman, sebelum “Spiderman: Homecoming” ada film “Amazing Spiderman 2” yang mencatat penjualan $202juta di Amerika Serikat dan $708juta di seluruh dunia. Angka yang besar, bukan? Tetapi, Angka Besar ≠ Ekspektasi. Sony Pictures mengeluarkan lebih dari $250juta untuk produksinya saja, dan mereka berharap hasil yang lebih.

Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, kemudian berujung  pada hasil yang tidak  sesuai.

Apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Saya lebih melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Kasih yang dulu pernah Anda tunjukkan pada mulanya. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Ekpektasi Illahi adalah Anda kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

Saya tidak tahu posisi Anda sekarang, sebagai pengikut Kristus. Tapi Anda tahu apa yang Tuhan harapkan, saya teringat Matius 11:30, DIA menginginkan sesuatu dari hidupmu, tetapi DIA menyediakan. Anda sedang memikul sesuatu yang juga DIA rasakan, kembali dari pikiran-pikiran salah, pulanglah dan rasakan kasihNYA, dan kasih ini yang mengingatkan Anda kembali.

Grow Together

GROW TOGETHER

Pertama-tama ijinkan saya mengucapkan selamat merayakan Sumpah Pemuda untuk yang masih ingat kalua hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Namun yang kedua yang menjadi salah satu alasan kita berkumpul sore hari ini adalah Ulang Tahun ke 40 Tahun untuk Pemuda Remaja GPdI Alfa Omega Ketintang, Surabaya. Kalau tidak salah mereka sekarang punya nama COMMANDERS OF CHRIST.

Bertumbuh atau berkembang adalah istilah yang tersebar di seluruh Alkitab. Dalam Kejadian kita ingat bahwa manusia pertama diminta untuk “beranak cucu dan penuhilah bumi”. Kemudian dalam Yesaya kita ingat Allah mengibaratkan Israel sebagai kebun anggur yang harusnya menghasilkan anggur pilihan, tetapi malahan menghasilkan anggur yang asam. Demikian kalau kita maju ke Perjanjian Baru, dalam Lukas seorang pemilik kebun melihat ada pohon ara yang tidak berbuah, dan memberi waktu 3 tahun untuk pengurus kebun itu untuk merawatnya, jika tidak berbuah maka akan ditebang.

Tiga kisah Alkitab di atas menunjukkan bahwa “berkembang” tidak bisa dilepaskan dari “berbuah”. Hari ini kita akan belajar untuk bertumbuh bersama, supaya semua punya pemahaman yang sama. Anda yang pernah latihan fitness pasti tahu Anda harus melatih bagian kiri dan kanan tubuh Anda dengan beban latihan yang sama. Kalau tidak berkembangnya tidak akan sama.

Kembali ke COC, ini adalah ulang tahun yang ke 40 tahun bagi Pemuda Remaja. Kalau melihat angka, sebenarnya Anda sudah tidak pemuda Remaja lagi. Jokes. Usulan saya Anda buat ulang tahun sesuai dengan tahun kapan Anda mulai nama COC ini. Tapi ini hanya obrolan selintas ya jangan dijadikan perdebatan serius.

Tetapi mengingat 40 tahun, saya teringat dengan rentang masa yang sama di dalam Alkitab saat Israel berkembang menjadi suatu bangsa menjalani suatu perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tanah perjanjian. Ini adalah perjalanan lintas generasi yang menarik. Pada tahun ke-40 tantangan yang dihadapi bukan saja dari generasi yang lebih tua, tetapi juga dari antara generasi baru yang muncul. Commanders of Christ, you better prepare for this, and listen well for the Word of God!

Semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dll), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.(38)Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.(39)Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.(40)Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Siapa yang ingin dewasa? Menarik sekali kalau mempelajari dinamika sosial, anak-anak biasanya ingin cepat dewasa, sementara yang dewasa,ketika melihat sulitnya hidup ingin kembali ke masa anak-anak. Tetapi didalam Firman Tuhan dengan jelas dikatakan: 1 Korintus 13:11″Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Mengapa menjadi dewasa itu penting? Efesus 4:13-14 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,(14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…”

Karena anak-anak mudah diombang-ambingkan! Puji Tuhan kalau hari ini kita anak-anak muda masih menyadari bahwa kita butuh pegangan yang teguh didalam Kristus. Banyak sekali anak muda yang merasa dirinya kuat, merasa dirinya tidak tergoncangkan namun ternyata mereka mudah sekali ambruk. Apalagi kalau sudah ditawari 3G (Gold-Glory-Guys/Girls). Iman kuat, imron yang mana tahan.

Apa saja tanda-tanda seorang sudah dewasa? Kalau melihat ke 1Korintus 13, jelas sekali dituliskan: PERKATAAN, PERASAAN dan PIKIRAN. Secara cepat saya akan membahas hal ini supaya kita semua punya pemahaman yang sama mengenai kedewasaan rohani. Bukan berarti usia kalian yang masih muda kemudian kalian tidak dewasa rohani. Bisa jadi sebaliknya banyak orang yang sudah puluhan tahun di gereja namun masih anak-anak secara rohani.

(1) PERKATAAN. Perkataan seorang dewasa rohani bukanlah perkataan yang sembarangan. Matius 12:36 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”Ini termasuk perkataan di media sosial.

(2) PERASAAN. Perasaan seorang dewasa rohani tidak dikuasai hawa nafsu. Efesus 4:19-20 “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

(3) PIKIRAN. Pikiran seorang dewasa rohani diperbaharui (diwarnai pertobatan dari waktu ke waktu). Roma 12:2″Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Sekarang apakah Anda adalah seorang yang dewasa rohani? Ulang tahun Pemuda Remaja ini saya tahu masih ada banyak keinginan yang Anda ingini untuk diri Anda sendiri. Tetapi ketika Anda bertumbuh dewasa secara rohani, berapapun jumlah tahun yang sudah Anda lewati. Biarlah fokus kita pada dia, pada mereka, yang ada diluar sana. Apa yang Anda bisa kontribusikan untuk dunia yang diluar sana?

GodblesS

JEFF

Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati

Mari kita baca Matius 10:16. Ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang perlu perenungan sebelum memahaminya. Sebenarnya ada apa dibalik perumpamaan yang disampaikan Yesus? Setidaknya ada 3 hal ini:

  1. Perumpamaan berisi rahasia Kerajaan Surga. Matius 13:11.
  2. Perumpamaan dimaksudkan untuk menggambarkan seseorang atau sekelompok orang. Matius 21:45.
  3. Penyampaian perumpamaan disesuaikan dengan pengertian manusia. Markus 4:33.

Jadi untuk memahami pernyataan Yesus “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” kita melakukan pendekatan dengan pemahaman konteks dan karakter dari binatang-binatang tersebut.

Pertama, konteks saat Yesus mengatakan kalimat ini adalah Yesus sedang mempersiapkan murid-muridNYA. Persiapan ini dibutuhkan karena mereka akan menghadapi keganasan “musuh” atau orang yang membenci mereka oleh karena mereka pengikut Yesus. Keganasan orang-orang yang membenci Yesus inilah yang digambarkan seperti “serigala”. Ayat 16a. Strategi untuk bisa menghadapi situasi yang demikian itulah yang kemudian digambarkan dalam poin berikut, tentang karakter ular dan merpati.

Kedua, tentang ular dan merpati. Ular adalah jenis reptil yang sukses berkembang biak di berbagai macam kondisi. Untuk di Indonesia ada sekitar 400 jenis ular, dan hanya 5% dari keseluruhan jenis ular yang memiliki bisa mematikan. Ular pintar untuk mempertahankan diri, dengan gerakannya yang cepat dan agresif untuk melarikan diri. Sedangkan merpati adalah jenis unggas yang bisa mengingat lokasi dengan baik. Merpati juga memiliki kemampuan untuk terbang sampai dengan jarak 965 km dari titik awal. Merpati menariknya memiliki naluri alamiah untuk kembali ke sarang meskipun sudah terbang tinggi dan jauh.

Keadaan Yesus yang digambarkan seperti “domba di tengah serigala” sangat relevan bagi orang Kristen yang menjadi minoritas, seperti di Indonesia. Kita sudah dengar khotbah Gembala tentang ujian-ujian yang harus dihadapi pengikut setia Kristus. Meskipun demikian tetap saja gambaran Yesus itu adalah suatu pertanyaan yang mencengangkan.

Karena Yesus berharap bahwa kita bukan saja bertahan hidup di tengah situasi yang sulit, tetapi kita bisa menjadi pemenang!

Tidak mungkin? Segala sesuatu mungkin bagi Tuhan. Matius 19:26. Bagaimana kita bisa menang di tengah kesulitan? Pertama, percayalah bahwa kita ini “lebih daripada orang-orang yang menang” seperti yang dituliskan di Roma 8:17. Maksudnya apa? Allah yang berperang bagi kita dan memberi kemenangan. DIA yang “membela” kita namun kita yang mendapatkan kemenangan itu. Begitulah gambaran “lebih dari pemenang”. Jadi kita tidak perlu kuatir, bagi manusia tidak mungkin, tetapi segala sesuatu mungkin bagi Tuhan.

Mungkin ada beberapa yang bertanya, apa ukuran kita menang? Apakah ketika kita menjadi mayoritas? Apakah ketika kita menjadi limpah dengan harta-tahta-cinta? Menarik sekali penjelasan Ps.Jeffrey Rahmat, bahwa keunggulan kita ditentukan ketika kita menjadi dampak. Matius 5:13. Hidup kita sia-sia ketika kita menjadi “tawar dan diinjak-injak orang”. Ketika dunia melihat bahwa keberadaan kia tidak membawa pengaruh. Itulah kenapa kita harus bisa memastikan semua aspek keseharian kita membawa dampak positif. Termasuk media sosial. Jangan gunakan media sosial hanya untuk “mencurahkan isi hati” atau “membuka rahasia orang lain”, melainkan bawa kabar baik, yang membangun, yang menginspirasi orang lain.

Lakukan yang terbaik di bidang kita masing-masing, baik di dalam lingkungan gereja, maupun di luar lingkungan gereja.

Sekarang bagian terakhir, bagaimana sebenarnya menjadi cerdik dan tulus pada saat yang bersamaan? Cerdik tetapi juga tulus, yang dimaksud adalah menggunakan pikiran yang strategis untuk mempertahankan diri tetap ada di jalan yang ditetapkan Tuhan bagi kita, yaitu menjadi dampak positif bagi orang lain. Tentu saja semuanya itu harus dilakukan di atas dasar kebenaran.

Kita tidak “menghalalkan segala cara” untuk menjadi dampak. Ini adalah tentang strategi, bukan sensasi.

Satu kisah tentang Paulus di Kisah Para Rasul 22:23-25 menggambarkan hal ini. Paulus saat itu akan disesah oleh tantara Romawi yang mengamankan dia dari huru-hara di Yerusalem. Tetapi sesaat sebelum disesah ia memakai statusnya sebagai warga negara Rum untuk menghindari sesahan dari prajurit-prajurit Romawi. Padahal kalau kita baca satu pasal sebelumnya di Kisah Para Rasul 21:13 Paulus mengatakan dia rela disiksa.

Apakah Paulus takut? Atau menjadi tidak konsisten? Saya rasa untuk orang yang pernah mengalami daftar pengalaman 2Korintus 11:23-28 Paulus bukanlah seorang penakut. Tapi inilah kecerdikan dan ketulusan Paulus seperti yang menjadi tema kita. Kita sebenarnya bisa melihat dasar nilai yang dipegang Paulus dari ayat di 1Korintus 14:15. Paulus menyampaikan bahwa dalam berdoa kita melakukannya dengan roh tetapi juga dengan akal budi.

Hal yang sama berlaku dalam pelayanannya, dia tulus (roh) untuk menyebarkan tentang nama Yesus, bahkan dilakukan dengan pengorbanan total. Tetapi dia juga melakukannya dengan strategi yang diolah dengan cerdik (akal budi). Sehingga kita lihat “output” atau hasil dari keseluruhan hidupnya adalah seperti yang tertulis di Filipi 1:20-22. Hidupnya untuk memberi “buah”, meskipun untuk mati pun dia masih merasa untung (karena bertemu dengan Yesus di Firdaus).

Ketulusan dan kecerdikannya semua diarahkan untuk menghasilkan “buah” yang bisa dinikmati orang-orang sejamannya, namun hingga sekarang kita masih menikmatinya.

Apa yang bisa kita lakukan di pekerjaan, keluarga, atau aktifitas sehari-hari kita? Bisakah kita tetap termotivasi bahwa jalan Tuhan bagi kita adalah untuk menjadi dampak positif bagi orang-orang sekeliling kita? Apa yang kita lakukan untuk itu, pernahkah kita memikirkan suatu cara untuk menyebarkan kabar baik tanpa harus menjadi orang yang ekslusif?

GodblesS

JEFF

 

SESI 3: “LOVE GOD, LOVE PEOPLE”

“Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Yohanes 17:26.

“Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1Korintus 8:3.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40.

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi interest terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8 Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

 

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

 

“Kalau dia nggak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia nggak setampan atau secantik ini dan itu.”

 

Guys, love is not about what you will get, but what you will give. Saya mengatakan ini konsep cinta universal ya. Bukan hanya romance saja.

 

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love.

Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berika kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

 

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

 

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka.

So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

 

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

 

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

Jika sekarang Anda mengerti bahwa Allah begitu mengasihi Anda, bagaimana caranya memakai Kasih Allah itu sebagai bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan kabar baik?

Dengan memahami misi Yesus kepada murid-muridNYA. Yohanes 17:17-21. Kita diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus sudah lakukan, termasuk memberitakan tentang DIA. Ayat 20. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran.

 

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan paralel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

 

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4.

Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

 

GodblesS

JEFF

SESI 2: “SPIRITUAL FAMILY”

Keluarga adalah suatu organisasi yang penting bagi seorang individu. Keluarga menjadi sumber bertahan hidup, menjadi pusat pembelajaran, dan tempat pertama setiap individu merasakan kasih sayang.

Begitu krusialnya Keluarga, kita bisa lihat bahwa iblis menyerang titik krusial ini untuk bisa mencuri, membunuh dan membinasakan.

Seperti yang saya katakan di sesi sebelumnya, salah satu contoh adalah saat iblis berusaha menghancurkan konsep “Bapa” dengan bapa-bapa dunia yang tidak bertanggung jawab, kasar, jahat, dan lain sebagainya. Sehingga kita kesulitan untuk bisa melihat Allah sebagai Bapa yang baik.

Kita tidak pernah sendiri karena sebenarnya Keluarga itu selalu ada, apakah Keluarga berdasarkan hubungan darah, atau “keluarga” yang berdasarkan kedekatan lainnya. Ada satu contoh di Alkitab tentang Daud, yang malahan tidak dekat dengan Keluarga sedarahnya. Ayahnya menganggap dia anak yang tidak penting (1Samuel 16:11) sementara kakak-kakaknya menganggap dia ‘kepo’ dan ‘pencari sensasi’ (1Samuel 17:28). Namun demikian dia punya sahabat yang bahkan lebih dekat dari ayah dan kakak-kakaknya. 1Samuel 18:1, 3; 1Samuel 20:42; 2Samuel 1:26.

Menariknya Allah selalu bekerja melalui suatu persekutuan, ini tidak aneh, karena Allah sendiri adalah suatu persekutuan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kita kenal ini sebagai trinitas.

Persekutuan bagi manusia, kita kenal sebagai komunitas, dan komunitas pertama yang dibentuk di dunia adalah Keluarga. Kejadian 2:24.

Bahkan Allah terus bekerja lewat Keluarga di sepanjang kisah Alkitab.

  • Kejadian 6:17-18. Allah memakai Nuh, istri, anak-anak, dan menantu-menantunya, untuk membangun suatu proyek yang bisa menyelamatkan dunia dari kepunahan. Sayangnya manusia-manusia yang hidup di jaman itu begitu jahatnya, mereka tidak ada yang mendengar dan bertobat.
  • Kejadian 12:7. Abraham, sebelumnya bernama Abram, hidup di tengah penyembah berhala. Namun kemudian Allah memanggil dia secara khusus untuk membangun suatu bangsa pilihan yang seharusnya jadi teladan bagi bangsa-bangsa lain, supaya semua bangsa mengenal Allah yang benar. Sayangnya Israel melepaskan kesempatan ini, namun Allah tidak berhenti dan membangun suatu bangsa baru dengan tugas yang sama.
  • 2Samuel 7:16. Allah memilih Daud, seorang yang berkenan di hatiNYA, untuk memimpin bangsa pilihan Allah. Keturunan Daud tidak pernah terputus dari tahta Israel (meskipun nanti terpecah menjadi 2 kerajaan) sampai pada waktu seluruh keturunan Israel diserakkan ke bangsa-bangsa yang tak mengenal Allah. Tetapi Allah membangkitkan keturunan Daud yang menjadi Raja diatas segala raja, Yesus.
  • Keluarga Illahi, Gereja. Efesus 2:19; 1Yohanes 2:13-14. Ini adalah komunitas terakhir dalam rancangan Allah yang besar terhadap dunia, dan manusia yang menjadi penatalayannya. Karena dari Keluarga inilah, Allah akan menyempurnakan rencananya. Gereja adalah Jemaat Allah, dibangun oleh Yesus sendiri, dan ‘alam maut tidak akan berkuasa atasnya’. Matius 16:18.

 

Mengapa kita harus memiliki komunitas?

  1. Pengkhotbah 4:12; 1Korintus 14:15-17. Untuk referensi ayat terakhir terkandung makna, dalam persekutuan bersama kita dibangun oleh pengucapan syukur orang lain.
  2. Care, encouragement, exhortation. Ibrani 10:24-25.

GodblesS

JEFF

SESI 1: “YOU ARE AWESOME”

Tahukah Anda kalau Anda luar biasa dan spesial? Bagaimana tidak, Anda adalah custom design dari Allah tidak ada seorang pun di dunia ini yang identik dengan Anda! Namun sekarang kita kan selalu ingin menjadi sama seperti orang lain, terutama para selebriti. Menariknya ada suatu kecenderungan ekstrim yang terjadi bahwa semakin seseorang merasa tidak spesial atau sebaliknya semakin seseorang merasa sangat spesial, maka mereka akan semakin merasa sendirian.

Semakin kita merasa sendirian, maka fokusnya akan terus menerus kepada diri sendiri. Padahal kita ini tidak sendirian!

“You are not alone” menjadi pilihan panitia retreat tahun ini, dan saya rasa ini adalah tema yang baik. Saya berharap, saya bisa menyajikan kepada Anda penegasan-penegasan dari Firman Tuhan bahwa Anda tidak sendirian. Maksud dari “Anda tidak sendirian” bisa mengandung 2 makna:

  • Anda tidak sedang menghadapi dunia, atau sedang bertanding dalam dunia ini sendirian.
  • Anda tidak sedang hidup bagi dirimu sendiri, karena ada banyak orang di sekitar kita yang bisa kita beri dampak.

Galatia 6:2 menuliskan bahwa seharusnya kita saling bertolong-tolongan (bukan hidup hanya untuk diri kita sendiri) dan dengan demikian kita memenuhi Hukum Kristus. Jadi seberapapun “introvert” dirimu, ada titik dimana Anda harus bertolong-tolongan. Karena kalau tidak, Anda tidak dipandang memenuhi Hukum Kristus, yaitu Hukum Kasih.

Tetapi di sesi 1 ini saya ingin memulai dari diri Anda masing-masing terlebih dahulu. Sebab ada ungkapansebelum menolong orang, tolonglah dirimu sendiri”. Bahkan di kalangan orang Yahudi ungkapan ini disebutkan Yesus di Lukas 4:23.

Namun demikian bukan berarti Anda harus sempurna terlebih dahulu di dalam kemudian baru boleh melayani, lagipula tidak ada seorangpun yang sempurna, bukan?

Saya lebih melihat ungkapan ini berarti bahwa fokus dan prioritas kita memang di dalam, tetapi jika ada kesempatan untuk melayani di luar lingkup kita, maka lakukan itu. Ingat saja lingkup pelayanan yang diberikan Yesus kepada setiap orang percaya di Kisah Para Rasul 1:8.

Namun demikian ada 3 hal yang iblis lakukan dalam hidup kita dengan tujuan untuk menyerang identitas kita dalam Kristus:

  1. Rasa minder.

Rendah diri itu tidak sama dengan rendah hati. Dalam Matius 11:29 Yesus sendiri menunjukkan teladan perilakuNYA adalah berasal dari rendah hati, bukan rendah diri. Rendah diri adalah cara pandang yang mengecilkan potensi diri sehingga berdampak pada perilaku yang tidak produktif (kontra-produktif). Matius 25:18, 24-25. Bahkan saya berani berkata berdasarkan Firman Tuhan bahwa rasa minder adalah kejahatan! Matius 25:26. Tetapi tetap kita harus waspada karena orang yang minder, namun kemudian menjadi “over-confident” bisa menghasilkan tingkah laku dan keputusan yang salah. Lihat 1Samuel 9:21 kemudian 1Samuel 13:11-13.

 

  1. Rasa takut.

Rasa takut ini menurut Ps.Joseph Prince adalah sesuatu yang berakar dalam roh. Saya punya catatan khusus mengenai hal ini di jeffminandar.com. Ini ayat untuk menguatkan Anda: Roma 8:15.

 

  1. Tidak puas diri.

Ini sebenarnya berasal dari kekuatiran, sedangkan kekuatiran itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu yang tidak nyata. Sebaliknya, daripada kuatir lebih baik mencari 1001 alasan untuk bersyukur. Filipi 4:6.

Dengan pemahaman seperti ini kita tahu bahwa fokus kita bukan lagi diri sendiri tetapi juga orang lain. Ps.Francis Chan pernah berkata bahwa kita hidup di dalam dunia yang begitu memuja diri sendiri. Hal ini semakin membudaya ketika itu dibagikan secara masif di media sosial. Konsep diri bukan lagi tentang apa yang unik dari diriku dan bagaimana diriku berfungsi untuk kepentingan bersama. Tetapi sekarang orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi orang lain dan memenuhi ego diri sendiri.

GodblesS

JEFF

RED DOT SYNDROME

Dalam terjemahan bebas ini bisa disebut sebagai “sindrom titik merah”, suatu istilah yang sering disematkan kepada negara Singapura karena luas wilayah mereka yang sangat kecil, sehingga di peta hanya terlihat seperti titik merah kecil.

Ini adalah beberapa fakta singkat tentang Singapura:

  • Disebut “negara kota” di satu pulau.
  • Nama resminya “Republik Singapura”.
  • Memiliki sebutan “Kota Singa” dan “Kota Taman”.
  • Pada 2016 memiliki estimasi jumlah penduduk 5,6 juta orang.

(Begini kira-kira bentuk pulaunya)

Tetapi meskipun kecil, posisi Singapura sekarang sangat diperhitungkan. Singapura adalah salah satu kekuatan ekonomi Asia, bahkan dunia. Namun demikian, ada satu hal yang “di-amin-i” oleh banyak pihak, bahwa negara kecil ini ingin dipandang sebagai yang pertama di dunia dalam segala hal.

Beberapa hal-hal subyektif yang saya temukan dari Singapura salah satunya adalah tentang bandar udara mereka. Bandara Changi mungkin adalah bandara terbaik di dunia dalam segi fasilitas tetapi bandara yang tersibuk di dunia ada di Amerika Serikat, yaitu Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport, ini sesuatu yang tidak mungkin dilewati Singapura.

Singapura, atau pemerintahnya, gemar membuat pameran atau instalasi fasilitas, dan mengklaimnya sebagai yang pertama di dunia. Saya rasa ini terjadi karena mereka ingin menutupi kekurangan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan luas wilayah mereka.

Menariknya di Alkitab juga ada sindrom yang kurang lebih sama. Pada intinya karena posturnya yang kecil, maka dia berusaha mencari kompensasi dengan melakukan hal-hal yang mengundang perhatian. Mari kita sebut kisah ini “Zacchaeus Dot Syndrome”. Zakheus sebagai bagian dari komunitas Israel tidak mengetahui bahwa faktanya ia memiliki bagian dalam “Perjanjian Abraham”. Lukas 19:9. Ini sebenarnya perjanjian yang ditentukan bukan semata-mata karena memiliki hubungan darah atau kekerabatan yang sama, tetapi karena IMAN, seperti yang ditemukan dalam Abraham. Roma 9:8.

Zakheus adalah setitik noda di kalangan Yahudi karena ia memilih sebuah profesi yang memalukan, sebagai seorang pengkhianat Yahudi karena bukan saja menjadi kolaborator Romawi, tetapi ia juga tidak segan menekan bangsanya sendiri.

Tetapi jika kita melihat arti kata dari namanya di Lukas 19:2. Zakheus berasal dari kata “zaccai/zakkay” yang berarti murni. Kalau kita lebih dalam lagi mempelajari akar kata tersebut, maka itu berasal dari kata “zakak” yang juga berarti bersih, mengkilap. Sayangnya Zakheus bertingkah laku berkebalikan dari arti namanya.

Ps.Prince pernah menyampaikan kepada jemaatnya demikian, mengenai mendidik anak. Ketika ia merasa anaknya “bandel” dan tidak taat, dia akan berkata: “Kamu adalah putri dari Raja diatas segala raja, jadi berhentilah bertindak seperti putri seorang penjahat!”

Dalam Yeremia 2:21, Nabi Yeremia mengecam Israel, sebagaimana Firman yang ditaruh Allah kedalam mulutnya, bahwa mereka adalah benih yang murni, namun berubah menjadi liar dan menghasilkan aroma yang tidak menyenangkan.

Malam hari in, mungkin (diakui atau tidak, disadari atau tidak), ada sindrom ini di dalam hidup kita. Tolong, ketika mendengar penyampaian ini, jangan buru-buru berkata: “Wah pas ini untuk si ini atau si itu!” Tetapi mari masing-masing kita introspeksi, apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup kita.

Kita semua diciptakan murni, tanpa kepalsuan, tetapi seiring waktu berjalan Anda berpikir (didalamnya ada proses sensori: mendengar dan melihat), dan menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang dalam diri kita.

Mengenai proses berpikir ini saya teringat dengan kasus Hawa di Kejadian 3:6. Ia berpikir, bertindak kesalahan, dan berpikir lagi bahwa ia bisa menutupi itu. Kejadian 3:7. Satu hal yang kita pelajari dari proses berpikir yang salah adalah: Anda akan kehilangan apa yang Anda miliki ketika fokus Anda hanya pada hal-hal yang Anda tidak miliki. Sering terjadi kita menukar waktu bersama Keluarga dengan waktu bekerja, atau waktu merenung tentang Tuhan, dengan waktu merenungi gawai (gadget) yang kita miliki.

Bagaimana dengan kasus Zakheus? Dia adalah orang yang pendek! Kita bisa baca kembali ini di Lukas 19. Apa yang Zakheus lakukan dengan memanjat pohon itu sebenarnya adalah cerminan kehidupannya selama ini! Dia seperti berkata: Jangan pernah anggap aku rendah!

  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkaya dengan cara apapun.
  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkejam dengan menindas siapapun.
  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkenal (notorious) dengan statusnya.

Anda bisa bayangkan saat itu, terjadi kerumunan, dan saya berpikir seperti yang juga pernah disampaikan Ps.Judah Smith, tidak ada orang di lingkungannya yang mau memberi tempat bagi dia. Hal ini bukan membuat dia tersadar, tetapi malahan mendorong dia untuk kembali membuktikan sesuatu.

Saat ini apa yang menjadi kekuranganmu? Fisik? Sosio ekonomi? Kasih sayang dan penghargaan? Lalu apa yang menjadi “pohon” pembuktianmu? Tetapi lihatlah apa kata Yesus? Lukas 19:5. Yesus berkata: “Aku ingin tinggal bersamamu.” Ini seperti yang tersirat di pertanyaanNYA di Kejadian 3:9.

Lalu apa kemudian yang jadi respon kita? Kebenaran diri sendiri (seperti yang dilakukan Adam, Israel, Daud, Yudas Iskariot)? Tuhan benci itu, ketika kita merasa kita lebih pintar dan bisa membodohi Tuhan yang Maha Tahu. Seharusnya respon kita adalah seperti di Lukas 19:6. Terima DIA, terima Firman itu, berkomunikasi (melalui doa) dengan DIA, pujilah dan sembah DIA, dengan sukacita. Anda akan menyaksikan perubahan akal budi (metanoia) saat itu terjadi. Lukas 19:7.

Apakah Anda mau mengambil 5-10 menit untuk “turun dari pohonmu”? Dan biarkan DIA “tinggal”.

OBSTACLE

Pada sesi kali ini kita berbicara tentang rintangan-rintangan yang akan menjadi penghambat kita untuk kembali kepada Yesus, sumber kebenaran kita.

Apa sebenarnya penghalang kita dari memiliki persekutuan dengan Yesus? Menurut Yesaya 59:2 yang menjadi pemisah adalah: DOSA. Dosa adalah suatu tindakan menyimpang dari kehendak Allah. Itulah kenapa setiap pendosa PERLU kembali kepada kehendak Allah. Ini perlu dilakukan dalam “sistem” kehendak Allah (melalui penebusan), dan tidak bisa memakai “sistem” manusia, karena manusia tidak bisa membenarkan dirinya sendiri. Amsal 14:12.

Mengenai dosa banyak yang berpikir dosa adalah “poin” ketika kita melanggar suatu daftar aturan tertentu. Padahal dosa, seperti yang saya sudah jelaskan di atas, adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dari kehendak Allah. Coba kita lihat beberapa contoh ini:

  • Adam & Hawa. Mereka menyimpang dari kehendak Allah yang sudah disampaikan dengan jelas di Kejadian 2:17.
  • Hosea, di lain sisi, menikahi pelacur yang jelas melakukan zinah sebagai bagian kehidupan sehari-harinya, tetapi Allah yang menyuruh Hosea. Itu bisa kita baca di Hosea 1:2. Apakah Allah menyuruh Hosea berdosa? Bukan, malahan tindakan Hosea itu sebagai gambaran kasih Allah kepada Israel yang berkali-kali melakukan “zinah” rohani.
  • Perempuan yang kedapatan berzinah. Ia jelas menyimpang karena kedapatan berbuat zinah oleh para farisi. Yohanes 8:4.
  • Yesus, menariknya tidak menghukum perempuan ini meskipun jelas dalam Hukum Taurat orang yang berzinah harus dirajam dengan batu. Yohanes 8:7-8. Apakah Yesus membiarkan dosa? Tentu tidak. DIA malah menggenapkannya, dan memperkenalkan Hukum yang lebih tinggi dari Hukum Taurat, yaitu Hukum Kasih Karunia.

Karena dosa adalah penghalang antara Tuhan dengan manusia ciptaanNYA, maka iblis berusaha untuk mengeksploitasi hal ini supaya rencara Allah atas manusia tidak terlaksana. Karena rencananya untuk melakukan “kudeta” di Surga tidak terlaksana, iblis berusaha mencari cara supaya rencana Allah gagal atas dunia, dan manusia yang dipercaya untuk mengelolanya. Iblis tidak akan berhenti melakukan siasatnya sampai saat penghakiman atas dirinya nanti.

Apa saja rencana iblis ini? Ada tiga hal yang perlu kita cermati, yang iblis eksperimenkan kepada manusia pertama, dan sayangnya eksperimen ini berhasil:

  • Iblis akan berusaha menjauhkan kita dari Tuhan. Kita lihat saja di Kejadian 3:8-9. Iblis menjebak manusia supaya mereka kehilangan hubungan dengan Tuhan. Iblis terus melakukan hal yang demikian dalam hidup manusia. Ia membuat manusia terjebak dalam pikiran manusiawinya dan kemudian melakukan dosa, bahkan iblis berusaha membuat manusia terus terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah. Imamat 18:3-4.
  • Iblis menanamkan pikiran-pikiran yang menyalahkan Tuhan. Kejadian 3:4-5.
  • Iblis berusaha membuat manusia menempatkan Tuhan sebagai yang bukan prioritas, sehingga manusia tidak terfokus kepada Tuhan. Keluaran 20:8.

Sekarang bagaimana supaya kita bisa seperti yang ditulis di 1Petrus 5:8, berjaga, sehingga iblis tidak mampu memisahkan kita dari Kasih Tuhan?

Berjaga ini mengandung 4 langkah yang saya rasa kita semua sudah ketahui, hanya saja kadang kita lengah dan jatuh dalam perangkap iblis:

  1. Tutup celah. Roma 7:6-8 dan Efesus 4:27.
  2. Tutup titik lemah. Yeremia 9:5. Jangan terbiasa membuat kesalahan, jangan malas bertobat. Coba nanti lihat hubungannya dengan poin terakhir.
  3. Kenali strategi iblis. Dia adalah pribadi yang penuh tipu muslihat. Yohanes 8:44. Jangan percaya “auman” iblis.
  4. Lakukan perubahan. 2Petrus 3:15. Semua punya kesempatan untuk berubah, hargai itu, dan jangan menguji kesabaran Allah.

BUKTIKAN KEBEBASANMU

Sore hari ini adalah saat pembuktian bahwa ini adalah House of Freedom. Sepanjang bulan ini Youth Pastor Anda sudah menetapkan tema tentang status kebebasanmu.

Bahwa setiap orang seharusnya bisa berkata: “I’m Free”.

But let’s flash-back to each theme we have discussed.

Minggu pertama kita bicara tentang “My Superhero” kita sama-sama sepakat kalau itu adalah YESUS. Lebih dari semua Superhero yang kita kenal sekarang: Superman, Batman, Wonder Woman, Black Widow dan lainnya. Superhero kita “nyata dan tidak fiktif”! Yesus ada dan menjadi bagian dari Sejarah manusia. Tidak ada Superhero yang menjanjikan kekekalan dan tempat indah bersama dengan DIA. Yohanes 14:3. Bahkan Yesus memberi dan menjadi Penolong yang menyertai selamanya. Ayat 16.

Kemudian di minggu kedua kita bicara tentang “Hidup yang Berkemenangan (Victorious Living)”. Karena IA adalah pemenang, maka kita adalah para pemenang, bahkan lebih dari mereka yang menang. Allah yang berperang ganti kita. Kemenangan itu menjadi milik kita karena Allah di pihak kita, karena Yesus ada bersama kita. 1Korintus 15:57.

The latest, di minggu ketiga, kita kedatangan tamu yang berbicara tentang mengikut Yesus. Sama seperti kemerdakaan adalah anugerah, Yesus menjadi Hadiah terbesar bagi kita. Menariknya IA ingin kita menjadi pengikutNYA, muridNYA. Murid Itu ada tinggal tetap dalam FirmanNYA, KebenaranNYA dan kebenaran itu memerdekakan. Yohanes 8:31-32. So, we have Superhero, we have Victorious Living, and we absolutely have Freedom.

HOW TO PROVE THAT YOU’RE FREE?

No bondage. Anda tidak lagi terikat, dan karenanya Anda bebas bergerak. Tetapi Paulus mengingatkan bahwa kebebasan yang kita miliki, jangan sampai menjadi “batu sandungan” bagi orang lain. 1Korintus 8:9. Berarti kebebasan ini bukan sembarangan, tetapi kebebasan yang membuat kita bisa meneladani superhero kita, Tuhan Yesus. Demikian juga kebebasan untuk memberi teladan kepada orang-orang di sekitar kita. 1Timotius 4:12.

Ada 5 hal yang menjadi indikator seorang yang jadi teladan, seseorang yang bisa berkata: “I’m Free”.

  1. Perkataan.
  2. Tingkah laku.
  3. Kasih.
  4. Kesetiaan.
  5. Kesucian.

Sore hari ini saya akan fokus pada 2 hal teratas di daftar tersebut. Pertama. Bebas dari perkataan yang merendahkan, tidak berguna. Kita berpikir bahwa kata-kata kita hanyalah angin lalu, tapi lihatlah, perkataan yang sembarangan pada suatu saat akan mengikat kita. Matius 12:36.

Kedua. Bebas dari kelakuan yang jahat dan malas. Matius 25:26. Apa tingkah laku orang yang jahat dan malas? Ayat 24-25.

  • Tidak bekerja.
  • Menuduh dan merasa berhak menghakimi Tuhan.
  • Takut dan melakukan apa yang dirasa benar.
  • Hidup tidak berdampak.