WAKTUKU TIDAK PERNAH CUKUP.

Ini adalah suatu pernyataan klasik dan kemudian menjadi suatu permasalahan. Karena sepertinya kita selalu dikejar-kejar waktu. Sepertinya waktu kita “habis” untuk pekerjaan dan/atau pelayanan. Pelayanan disini bukan sekedar pelayanan di gereja. Seringkali kita juga harus melayani keluarga kita, melayani “calon mamanya anak-anak”, melayani kebiasaan-kebiasaan dan hobi kita. Anda bisa perpanjang daftar ini.

Ketika kita merasakan waktu itu kurang, berarti ada yang salah dalam pengelolaan waktu kita. Waktu itu tidak pernah habis. Waktu itu hanya bisa “dimulai” dan “berhenti”. Bagaimana Anda “mengisi” slot waktu ketika itu bergerak saya rasa itu yang penting. Seperti Game Tetris kalau Anda masih ingat.

Seseorang yang membayangkan ada 25 jam per hari, 13 bulan per tahun adalah sama dengan orang yang berkata jadikan semua tetris adalah bujur sangkar. Ini adalah suatu imajinasi. Waktu tidak bisa ditambah, waktu tidak bisa dikurangi. Waktu akan terus berjalan.

Kalau Anda memperhatikan ayat yang tertulis di Kejadian 8:22  Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Mari kita bahas 3 kebiasaan orang yang efektif.

  1. Kebiasaan Pertama: Menjadi Proaktif

Banyak dari kita adalah orang yang reaktif, yang hanya bereaksi ketika sesuatu terjadi. Mereka tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang akan mengubah dirinya. Mereka adalah orang yang tahu ada tantangan, tahu ada hambatan namun mereka tidak berfokus pada hal itu. Mereka akan fokus pada apa yang bisa mereka ubah. Ini akan menyelamatkan banyak waktu Anda. Ketika Anda menyadari banyak Anda banyak komplain, mengeluh dan bersungut, disitu sebenarnya bahwa Anda sedang ingin sedikit berusaha, Anda tidak mau banyak bekerja.

Kejadian 29:20 Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

2. Kebiasaan Kedua: Berpikir mulai dari akhirnya.

Pengkhotbah 7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

3. Kebiasaan ketiga: Prioritas adalah yang pertama.

Markus 8:11-13 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

Yesus menjadi teladan bagaimana waktu itu digunakan. Ia tidak terbatas dengan waktu, namun Ia bisa mempergunakan waktu dengan efektif.

Yohanes 7:6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.Yesus menyelesaikan tugas atau misi dari Bapa hanya dengan 33.5 tahun hidupNYA di muka bumi. Bahkan secara khusus misi itu hanya dijalankan Yesus selama 3,5 tahun.

GodblesS

JEFF

ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

  • Ada sesuatu yang hilang / kosong.
  • Ada sesuatu yang mati.
  • Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

  • Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.
  • Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.
  • Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Persaudaraan dan kekeluargaan di jemaat lokal baik untuk kemajuan rohani Anda. Tetapi Anda juga pasti ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa. Khusus mengenai tingkatan “orang muda”, mereka “mengalahkan yang jahat”, saya percaya ini adalah konsep menjadi terang dan garam (yang “overpowered” kegelapan dan ketawaran dunia).

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Menjadi Anak Allah” @jeffminandar.com), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

  1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.
  2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.
  3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “apa yang dikejarnya” salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung!

Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita. Dengan menyadari bahwa kita sudah dipindahkan dari kebinasaan kepada kehidupan seharusnya membuat kita makin mencintai (mengasihi, melayani, menolong) “rumah kita” yaitu “tubuh Kristus”.

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

Kemuliaan dan Kesombongan

Mazmur 115:1 (TB) Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!

Saya selalu tersentuh dengan lagu “Sgala Pujian & Syukur” dari Welyar Kauntu. Saya akan copy paste seluruh liriknya disini:

Kau Tuhan yang s’lamatkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan yang pulihkanku, t’rima kasih
Kau Tuhan yang sembuhkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan memberkatiku, t’rima kasih

S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu Yesus
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku

Siapakah kita yang bisa menyombongkan kerja keras, kecerdasan, keindahan fisik kita di hadapan DIA yang jauh melebihi kita. Hanya seorang yang bodoh berani menyombongkan dirinya di hadapan orang banyak.

GodblesS

JEFF

CHRISTIANITY AND PROFESSIONALISM

Ketika kita membahas dua variabel yaitu kekristenan dan hubungannya dengan profesionalisme, saya rasa kita harus memberikan batasan dalam pembahasan kita. Dalam durasi yang singkat kita tidak bisa membahas hal-hal ini secara detil dalam segala bidang kehidupan. Mari kita mulai dengan memberi batasan kita pada variabel pertama, “kekristenan.”

Kekristenan yang akan kita bahas adalah orang-orang Kristen yang berada di marketplace. Apa itu marketplace? Marketplace adalah kumpulan pilar-pilar penyokong suatu masyarakat atau komunitas. Marketplace membentuk dan menjadi karakteristik suatu masyarakat. Jika dikategorikan bentuknya kurang lebih seperti daftar ini:                              

  • Arts (Seni) & Entertainment (Media Hiburan/Informasi)
  • Business (Perdagangan)
  • Community (Komunitas)
  • Defense (Militer)
  • Education (Pendidikan)
  • Family (Keluarga)
  • Government (Administrasi Pemerintahan)

Dalam suatu masyarakat ada 3 tempat utama dimana individu-individu menghabiskan waktu mereka.

Profesionalisme diharapkan ditunjukkan di tempat kerja. Namun apa profesionalisme itu? Profesionalisme adalah cara bertindak, tujuan-tujuan yang dibuat, dan kualitas-kualitas yang menunjukkan suatu pekerjaan oleh seseorang sesuai dengan bidang keahliannya. Sehingga dari definisi ini ada tiga karakter pribadi yang profesional:

  • Cara bertindak/perilaku yang terukur dan adaptif.
  • Tujuan yang jelas dan menyeluruh.
  • Kualitas pekerjaan yang baik.  

Bagaimana seorang Kristen di marketplace bisa mengembangkan tiga karakter tersebut?

  • Bekerja dengan baik dan pantas di hadapan semua orang. 1Tesalonika 4:11-12. Seorang profesional muda Kristen harus terus mengembangkan diri dan belajar untuk dapat meningkatkan kemampuan di bidang pekerjaannya. Ia juga dapat melakukan bebas dari ketergantungan terhadap orang lain, dan mudah beradaptasi dengan perubahan.
  • Menentukan segala sesuatu dengan perencanaan yang baik. Roma 8:28. Seorang profesional muda bekerja dengan inspirasi Illahi. IA mengerjakan segala sesuatu dengan perencanaan dan tujuan akhir yang baik.
  • Memastikan kualitas pekerjaan. Kolose 3:23. Seorang profesional muda tidak membiarkan pekerjaannya hanya baik Ketika diperhatikan saja. Ia berusaha memberi yang terbaik, karena ia bangga dengan apa yang dikerjakannya.

Jika seorang Kristen menunjukkan profesionalisme dalam yang dilakukannya, maka orang-orang yang melihatnya akan mengenal nama Tuhan yang membuatnya dapat melakukan pekerjaan tersebut. Lihat apa kata Tuhan kepada Musa tentang Bezaleel, ahli dalam pembuatan komponen-komponen Kemah Tabernakel. Keluaran 31:2. Semua manusia masih memiliki keahlian yang Tuhan sudah berikan, bahkan meskipun orang itu tidak layak atau tidak percaya. Tentu saja bagi profesional muda Kristen kita rindu seperti Bezaleel yang memiliki keahlian dan inspirasi Roh Allah yang membuat keahlian itu semakin meningkat.

  • Apakah panggilan Anda bisa ditemukan dalam kategori-kategori di Marketplace?
  • Dimana waktu sehari-hari Anda dihabiskan? Apa yang Anda bisa tunjukkan secara profesional disana?
  • Jika membaca Kisah Para Rasul 17:16-19 dan 22-34, apakah  Anda dapat menemukan ketiga karakter profesional? 

GodblesS

JEFF

TRADISI

Tradisi adalah kebiasaan yang kita ulangi karena seseorang melakukannya dan kemudian hal itu kita anggap sebagai sesuatu yang baik.

Saya selalu melipat plastik pembungkus, kertas pembungkus, atau kertas tisu yang sudah tidak dipakai dalam 4 langkah. Hal ini saya lakukan karena pernah saya lihat dilakukan oleh ayah saya. Suatu hari, kalau tidak salah di Brisbane, Australia, ketika berada di suatu café, kami berdua melipat bungkus makanan ringan yang kami ambil dengan cara yang sama. Hal itu dilakukan tanpa sadar, karena ayah saya mengajari untuk melipat sampah plastik atau kertas dengan rapi sehingga tidak mengambil banyak tempat dan juga terlihat berantakan di atas meja.

Dalam hidup kita ada banyak kebiasaan kita dipengaruhi tradisi yang diturunkan atau dipelajari langsung atau tidak langsung. Saya pernah menyampaikan di salah satu kelas PETC tentang konsep Quadrilateral dari Wesley. Bahwa teologi kita dipengaruhi oleh 4 hal yaitu: pengalaman, nalar, tradisi, Firman/Pewahyuan.

Tradisi menjadi sesuatu yang negatif ketika dilakukan untuk menghakimi. Lukas 11:37-39. Namun bukan berarti semua tradisi berarti adalah hal yang negatif, Yesus misalnya mengingatkan di ayat 42 bahwa sesuatu yang baik (dalam hal ini persembahan persepuluhan) harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (hal-hal yang menunjukkan keadilan dan kasih Allah). Dengan demikian sebenarnya Yesus tidak meniadakan persepuluhan.

Mengenai persepuluhan, bahkan dalam konsep Kasih Karunia, persembahan ini tidak terbatas pada bilangan sepersepuluh, karena di Lukas 21:1-4 Yesus memuji seorang janda miskin yang memberi lebih banyak karena rasio yang ia miliki dibandingkan yang ia persembahkan. Demikian juga di kisah Zakheus, meskipun tidak berhubungan secara langsung dengan persepuluhan.

Kita bisa lihat bagaimana Kasih Karunia membuat seseorang bertobat dengan memberi lebih (4 kali lipat)

Lukas 19:8

Padahal tradisi hukum Taurat menuliskan sesuatu yang diperas hanya perlu dikembalikan 1 kali lipat ditambah seperlima (Imamat 6:4-5). Jadi bilangan sepersepuluh hanyalah ambang batas bawah, ambang batas atas itu bisa jadi lebih dari sepersepuluh, namun harus diingat bahwa persembahan dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (Markus 7:11-13).

Tradisi adalah sesuatu yang baik ketika itu diajarkan dengan pengertian dan dengan teladan. 1Timotius 4:11-12. Tentu saja menjadi teladan di ayat ini tidak terbatas hanya untuk Timotius yang muda. Petrus meminta pembaca dan pendengar suratnya (dari semua usia) untuk mengikuti teladan penderitaan Yesus. 1Petrus 2:21.  

Mengenai penderitaan, saya rasa jika Anda cukup beruntung, Anda tidak benar-benar bisa memahami penderitaan Yesus, jika dibandingkan dengan keadaan Anda yang lebih baik. Maksud saya, meskipun Anda belum memiliki rumah, setidaknya Anda memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Anda juga tidak sedang didalam plot pembunuhan, seperti yang Yesus hadapi. Mungkin satu hal yang kita rasakan berat adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai Alkitab, tetapi toh demikian, Anda masih hidup di negara dimana setidaknya Anda bisa beribadah.

Jadi satu hal yang terbersit di benak saya adalah sekali lagi mengenai persembahan. Apapun itu bentuk persembahan yang kita bisa kita berikan, memberi adalah sesuatu yang “menyakitkan” apalagi di masa krisis. Tetapi sekali lagi kita ditantang untuk “memberi bukan dari kelimpahan, tetapi memberi dari kekurangan, bahkan seluruh nafkahnya”. Lukas 21:4.

Saya berharap Anda bisa merenungkan ini masing-masing, dengan motivasi hati yang murni. Apa yang bisa saya persembahkan kepada Tuhan di hari-hari seperti ini? Apa yang Tuhan ingatkan di hati Anda tentang persembahan? Siapa yang perlu memulainya? Apa dan berapa yang harus saya “korbankan”?

Karena korban selalu berarti kehilangan.

Contohnya Yohanes 3:16

Tetapi kehilangan untuk mendapatkan seperti apa yang Yesus sampaikan di Matius 6:19-20. Jangan terjebak pada tradisi “saya sudah lakukan ini dari dahulu” tetapi ambil waktu, renungkan apa yang Tuhan ingin Anda lakukan, yang belum Anda pikirkan sebelumnya. Ini bukan demi program Gereja, Organisasi MD, atau demi citra kita di Media Sosial. Lakukan demi DIA yang bisa melihat sampai tempat tersembunyi.

GodblesS

JEFF

MENGELOLA KEUANGAN

PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR (Lukas 16:1-9)

Perumpamaan ini disampaikan Tuhan Yesus dalam rangkaian pengajaran dengan topik khusus yang IA berikan kepada murid-muridNYA (tidak terbatas kepada dua belas murid). Untuk perumpamaan ini Yesus berusaha mengajarkan tentang pengelolaan atau penatalayanan. Dalam Bahasa Inggris dipakai kata “stewardship” dimana didalam kata ini mengandung konsep “perencanaan yang bertanggungjawab” dan “pengelolaan sumber daya.”

Jika kita ingin mengesampingkan istilah-istilah teknis tadi. Apa yang Yesus ajarkan adalah mengenai prinsip pengelolaan uang. Namun menarik yang Yesus pakai adalah contoh dari seseorang yang tidak jujur. Tetapi kita bisa memahami bahwa Yesus selalu mengajar relevan dengan keadaan orang-orang yang diajarnya. Sehingga beberapa penafsir Alkitab melihat bahwa Yesus sedang mengajar “murid-muridNYA” secara luas, yang didalamnya termasuk para pemungut cukai.

Mengenai pemungut cukai, saya rasa Anda sudah banyak mengerti bagaimana negatifnya perspektif orang Yahudi terhadap mereka. Saya rasa Anda juga mengerti kalau pemungut cukai (atau orang pajak) pasti sangat erat dengan uang. Jadi jelas ketika Yesus bercerita tentang orang kaya dan bendahara, para pemungut cukai dapat terhubung dengan cerita yang Yesus sampaikan.

Dalam memahami teks Alkitab kita perlu mengerti apa yang menjadi tujuan penulis teks tersebut. Dalam bagian tulisan antara pasal 9 sampai 16 ada beberapa kali Lukas berusaha membawa pembacanya untuk mengerti bahwa ada penolakan terhadap Yesus oleh beberapa pihak. Namun demikian Yesus tetap menyampaikan apa yang menjadi kehendak Bapa, karena memang itu yang menjadi tujuanNYA. Yohanes 4:34.

Pembahasan mengenai uang memang sesuatu yang sensitif baik di Gereja maupun di luar Gereja. Sehingga apa yang Yesus sampaikan lewat perumpamaan ini tetap relevan bagi siapapun Jemaat yang sedang mendengarkan. Beberapa poin mengenai perumpamaan ini:

  1. Cinta akan uang akan membawa pada penyimpangan keuangan. Lukas 15:1. Ini berlaku di level pribadi dan di level institusional, kejahatan karena cinta uang. 1Timotius 6:10. Seorang Kristen seharusnya dapat mempertanggungjawabkan semua keuangan yang dipercayakan padanya. Lukas 15:2.
  2. Meminta bantuan keuangan tanpa bekerja seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan. Lukas 15:3. Bekerjalah untuk sesuatu yang Anda inginkan. 2Tesalonika 3:10.
  3. Memikirkan diri sendiri akan membuat kita lebih bersalah dalam hal keuangan. Lukas 15:4. Ini menjadi salah satu ciri kondisi di Akhir Zaman. 2Timotius 3:2.

Masih ada banyak hal lain mengenai hal mengelola keuangan tetapi patut diperhatikan bahwa di Lukas 15:8a pujian bagi bendahara yang tidak jujur ini adalah bagian dari cerita, bukan untuk menjadi teladan. Maksudnya diungkap Yesus di bagian sesudahnya (Lukas 15:8b, 9), bahwa segala sesuatu itu bisa menjadi baik jika dikelola dengan baik, bukan untuk “dicintai” tidak sebagaimana mestinya.

Hiduplah dengan tujuan keuangan yang jelas, bukan untuk menjadi hamba dari uang, namun tuan atasnya.  

GodblesS

JEFF

HAMBA TUHAN DAN JEMAAT BIASA

Saya rasa Anda pasti pernah mendengar ungkapan, “Saya kan hanya jemaat biasa, bukan hamba Tuhan…” Kemudian ini menjadi alasan untuk hidup dengan standar yang dibedakan. “Kalau hamba Tuhan harus suci, saya tidak perlu suci-suci amat, kan saya cuma jemaat.”

Jemaat Tuhan, memang sering dalam kehidupan berjemaat kita mengelompokkan orang-orang yang memang hidup sepenuh waktu dalam aktivitas Gereja disebut sebagai “hamba Tuhan.” Kemudian mereka yang tidak hidup sepenuh waktu di Gereja dan tidak melayani disebut sebagai “jemaat biasa.”

Namun demikian ada 3 bagian di dalam surat dari Rasul Petrus dimana sebenarnya semua orang percaya diminta untuk memiliki standar yang sama:

  1. Bayi rohani. 1Petrus 2:2. Perlu diperhatikan yang jadi perhatian adalah “kerinduan untuk yang murni dan rohani,” bukan kondisi “bayi rohani” yang tidak dewasa.  
  2. Batu hidup. 1Petrus 2:5. Kita adalah bagian dari keseluruhan pekerjaan Allah yang lebih besar.
  3. Bangsa yang terpilih – imamat yang rajani – bangsa yang kudus. 1Petrus 2:9. Kita semua yang percaya dipilih, diberi amanat pelayanan, posisi untuk memimpin (bukan jabatan tetapi pengaruh), dan disucikan.

Jadi berhentilah untuk bersembunyi dibalik salah satu kategori, apakah “hamba Tuhan” ataukah “jemaat biasa.” Karena Allah menginginkan kita semua untuk menjadi alat bagi pekerjaan Allah di muka bumi, sampai Yesus datang kembali kali kedua.

GodblesS

JEFF

RENCANA ALLAH BAGI ANDA

Apa kabar jemaat? Semoga di tengah-tengah pandemi ini Anda tetap memiliki:

  • Iman bahwa Allah yang memegang dan memelihara hidup Anda (Matius 10:29-31),
  • pengharapan akan masa depan dimana yang lama akan digantikan yang baru (Wahyu 21:4),
  • dan kasih kepada Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19).

Iman, pengharapan, dan kasih akan menuntun kita untuk lebih lagi rindu mengenal DIA dan FirmanNYA. Itulah mengapa meskipun ditengah pandemi, kita tetap bersekutu baik secara on-site (dalam satu tempat), maupun secara online/daring (dalam jaringan internetlive streaming).

Saya berharap selesai dari Ibadah ini Anda semakin mengenal apa rencana besar Allah dalam hidup kita sebagai ciptaanNYA (secara umum) dan sebagai umat pilihanNYA (secara khusus). Pertama-tama, saya ingin menjelaskan apa rencana besar Allah dalam hidup manusia, ciptaan Allah yang termulia (Kejadian 1:26).

RENCANA ALLAH: DI BUMI SEPERTI DI SURGA  

Saya menyampaikan hal ini terinspirasi dari yang disampaikan Tim Mackie, seorang hamba Tuhan, profesor di kampus Kristen, dan pemimpin kreatif dari Bible Project (YouTube channel yang mengedukasi tentang Alkitab).

Kita sering dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan untuk menjelaskan iman kita kepada Allah yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini Anda bisa dapatkan di dalam pembicaraan dalam keluarga inti (orang tua dan anak-anak) atau pembicaraan dengan keluarga besar (kakek-nenek, kakak-adik, sepupu, dan sanak saudara lain), atau bisa jadi di tempat studi, tempat kerja, dan tempat lain dimana Anda sedang beraktivitas.

Kalau boleh disederhanakan kira-kira begini pola pikir orang kebanyakan tentang rencana besar Allah terhadap manusia. “ALLAH” menciptakan “MANUSIA” untuk hidup di “BUMI” dan menjalani hari-harinya dengan berbuat baik atau jahat, dan pada akhirnya perbuatan-perbuatan itu menentukan mereka masuk ke dalam “SURGA” atau “NERAKA” yang sudah disiapkan.

Tetapi bagi kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman (dalam bentuk tertulis) yang dilhamkan Allah (2Timotius 3:16a) maka kita bisa berkata kepada orang yang memiliki pola pikir seperti ini bahwa pola itu tidak sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab. Mereka berpikir atau berasumsi bahwa urutan itu adalah iman Kristen, tetapi sebenarnya tidak.

Lalu apa kata Alkitab? Mari kita bahas secara singkat saja dalam tiga sub-bagian, yang bisa menjadi tiga khotbah yang berbeda. Tetapi saya rasa penjelasannya akan saya persingkat seperti ini.

  • Allah menciptakan bumi untuk manusia.

Saya rasa saya pernah menyampaikan hal ini, bahwa manusia diciptakan di hari ke-enam, saat semua yang di bumi sudah siap. Anda bisa melihat kasih Allah bahkan dari urutan penciptaan di Kejadian 1. Menariknya Allah tidak pernah disebutkan menciptakan neraka. Kita setuju mengenai ini, bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dari Yesaya 66:1 kita mengerti bahwa langit adalah tahta Allah. Manusia ditempatkan di bumi untuk berkuasa atasnya. Kejadian 1:28. Jadi kapan Allah menciptakan neraka?

  • Allah menciptakan yang baik, iblis menipu manusia.

Segala sesuatu yang baik datang dari Allah dan bukan yang jahat. IA tidak dapat dicobai dan tidak mencobai (mendatangkan kejahatan). Yakobus 1:13. Sehingga kejahatan timbul dari mana? Yesus berkata dalam Matius 7:21-22, segala sesuatu yang jahat itu datang dari dalam hati. Jika kita melihat tulisan mengenai raja Tirus yang adalah gambaran kejatuhan iblis maka kita melihat dari kondisinya yang sempurna sebagai maha malaikat (Anda bisa cek khotbah Pdt. J.S. Minandar di www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “maha malaikat”), ia jatuh saat kecurangan (dalam Bahasa aslinya bisa berarti “kejahatan”) timbul dalam dirinya. Yehezkiel 28:15. Itulah mengapa saat manusia ada di taman Eden, ia berusaha menimbulkan “yang jahat” di dalam diri manusia, yang kisahnya dapat Anda baca di Kejadian 3. Lalu mana nerakanya?

  • Allah menginginkan persekutuan dengan manusia.

Yesaya 59:2. Saya rasa ayat ini sering kita baca dengan konteks Allah yang marah kepada umatnya, dan memang demikian jika kita melihat keseluruhan pasal itu. Tetapi kalau Anda melihatnya dari apa yang Yesus katakan dan janjikan di Yohanes 14:3, maka saya melihatnya adalah kisah sedih namun romantis yang Allah lakukan demi manusia. Bumi dan surga harusnya bersatu, dimana Allah berada disitulah manusia. Kejadian 3:8. Tetapi manusia lari dan bersembunyi, singkat cerita mereka diusir dari taman Eden, maka terpisahlah bumi dan surga.

Setelah kejatuhan manusia, momen dimana bumi dan surga terhubung adalah saat Allah hadir dalam persembahan korban manusia. Ini yang kemudian kalau kita lihat menjadi konsep Tabernakel (Keluaran 40:34) dan kemudian Bait Allah bagi Israel (2Tawarikh 7:1). Namun korban ini harus dipersembahkan ulang setiap saat manusia bersalah. Inilah yang kemudian digenapi di dalam Yesus (Ibrani 10:1, 14) dari korban yang berkali-kali harus dipersembahkan, IA menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.

Namun demikian Allah tidak bisa berkompromi dengan kejahatan, seperti terang yang tidak mungkin bersatu dengan gelap. 1Yohanes 1:5-6. Itulah mengapa kemudian mereka yang memilih untuk tinggal didalam gelap, harus dipisahkan (tempat pemisahan inilah neraka, dimana Allah tidak berdiam disana). Wahyu 20:14-15. Karena mereka yang akan bersekutu dengan Allah harus tinggal dalam terang. Wahyu 22:3-5.  

RENCANA ALLAH: BALA TENTARA / PASUKAN ALLAH  

Sebagai umat pilihan Allah kita tahu ada misi yang khusus yang kita emban seperti yang kita lihat di penjelasan tentang rencana Allah, kita menjadi agen Allah untuk menyebarkan “keharuman pengenalan akan DIA.” 2Korintus 2:14-16. Ini selaras dengan maksud Allah di Perjanjian Lama tentang orang pilihanNYA supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Kejadian 12:3.

Hal ini kemudian dinyatakan dalam keturunan Yakub atau juga dikenal sebagai Israel. Dalam salah satu kisah perjalanan Yakub disebutkan bahwa Yakub lari dari rumah Laban, mertuanya, setelah berulang kali diperlakukan tidak adil. Kejadian 31:38-42. Setelah ia berargumen dengan Laban, kemudian Laban meninggalkan rombongan Israel. Ketika melanjutkan perjalanannya Israel menamakan tempat pertemuan dengan malaikat-malaikat Allah, Mahanaim. Mahanaim diterjemahkan di Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “bala tentara Allah” seperti tertulis di Kejadian 32:2 (TB).  Sementara di Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, ditulis “God’s Camp” (NKJV).

Jadi mari kita pelajari dari asal katanya. Menariknya ketika Anda mempelajari bahasa Ibrani maka ada kata yang berasal dari gabungan dua kata. Mungkin sama seperti kata serapan yang masuk ke Bahasa Indonesia seperti “a” dan “moral” kemudian menjadi satu kata “amoral”. Dalam bahasa Ibrani kata “Mahanaim” terdiri dari dua kata, yang pertama “makhaneh” yang artinya “tenda, atau kumpulan orang di satu tempat”, dan yang kedua “shenayim” seperti yang ada di ayat 7. Sebenarnya kata “im” itu untuk menunjukkan bentuk plural, seperti di kata Elohim atau Yahudi(m).

Jadi apa itu Mahanaim? Kumpulan dari keturunan Illahi (1Petrus 2:9), yang diperanakkan karena iman (Galatia 3:14, 4:4-7), diperlengkapi oleh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), dan dikumpulkan kepada suatu kumpulan besar malaikat Tuhan, kepada Yesus sendiri yang menebus kita dengan darahNYA, darah Perjanjian Baru (Ibrani 12:22-24).

Bagaimana? Apakah Anda bisa melihat betapa indah, baik, dan mulianya rencana Allah bagi Anda? Jangan berhenti sekarang, apapun yang sedang Anda alami, tetap pelihara iman, pengharapan, dan kasih kepada DIA, Tuhan Yesus Kristus yang menjelaskan rencanaNYA bagi kita.

GodblesS

JEFF

IT IS DONE (THE UNLIMITED GRACE & PEACE)

“For every beginning has an end.” For everything that begins, there is always an end. So, there is a beginning and an end. There is Alpha, and there is Omega (this is for Greek letters), there is “A,” there is “Z” (this is for the alphabetical letters we are familiar with).

We can see the beginning and the end, in the series of creation weeks written in Genesis 1. There was a beginning and an end to the series. We call the end of that week, Sabbath. In Old Testament times, it was Saturday, and now in New Testament times, it is Sunday.

When it comes to the beginning of creation, there are many “smart people like scientists” who do not believe it and try to prove the opposite. There are so-called “god particles” or scientifically; they call them “Higgs bosons.” To cut the story short, it is the particles that makeup everything in the world. But inevitably, they will fail because they have closed their eyes that God is the first and creator of everything. Everything will also end with Him.

We say “It is done” when we have finished a job. “It is done” is the same as “it is finished.” Done or finished is synonymous with these words in English: “complete,” “perfect,” “good.” All synonyms that I mentioned are interestingly illustrated in 3 consecutive verses in Genesis 1:31 and Genesis 2: 1-2.

– Good. Genesis 1:31.

– Finished. Genesis 2:1.

– Complete. Genesis 2:2.

What is the meaning of what is written on the first page of our Bible?

1. God created everything in its final form so that we can say that the theory of evolution is unbiblical.

2. We humans, God’s creations, are perfect creatures (Genesis 1:27), and we were created for a purpose (verse 28).

3. That’s why even when humans fell, God immediately planned redemption. Genesis 3:15.

Humans are precious in God’s eyes, even to those who are chosen and called in God’s plan (such as the nation of Israel and for us, God’s people of this generation). God says that we are: “precious in His eyes, glorious, loved, and guaranteed protection. Isaiah 43:4. You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

One of many questions for us is this, “why did Jesus have to sacrifice?” We can find it in Jesus’ parable.   Luke 10:25-37. Since the fall of man, man is destined to die. We were born to die! The devil got a chance to rob us completely. The superiority, privilege, and glory of man have decreased from time to time. If there is no savior, then we are sure to die. What I mean with “die” either:

– Physical. Humans have a shorter life span, from Genesis 6:3 (up to 120 years) to Psalm 90:10 (only 70 to 80 years).

– Spiritual. It means that when humans become wicked (evil), then the end of the path is destruction. Psalm 1:6.

Thus, to be the Savior of the world, Jesus had to die! Why? To replace us who should die. He died so we might live. The picture was the sacrifice in the Old Testament (Leviticus 16:34). It needed to be sacrificed annually for atonement. But all of these rituals were fulfilled with HIS sacrifice, which marked a New Testament. The perfect sacrifice, once for all. Hebrews 9:28.

So, when Jesus says, “it is finished” (John 19:30), it means that his mission is finished, sin no longer “invades” people’s hearts. Judgment, that is, the death caused by sin, is no longer part of us. Romans 8:1-2. However, when we listen to the wrong teaching, it can rob our Peace,

Now, think about the following questions.

– Are you still filled with guilt?

– Are you still not free from sin?

– Are you still in contact with the other spirits who bind you?

– Are you still searching for the truth?

Jesus offers you today unlimited grace and Peace, will you believe in Him? When Jesus says, “it is finished,” it means that the devil can no longer take charge of us. The punishment is passed (Passover) from us when we are in Jesus. How can we live in Jesus? Does that mean living in the church? No, when we live in Jesus, it means:

1. Believe. John 3:18. HE has provided facilities for us to be complete and good after humanity fell into sin.

2. Live right. John 3:21. It means life to avoid sin. Remember, Jesus did not become sin because HE sinned. Thus, we are justified, not because we are righteous. We are justified because of the righteousness of God that is “given” to us. How can we walk over the gift by living irresponsibly? So, we do not want to be called “people who are not grateful, people who have been helped, yet we crucified Jesus again.”

3. Come to the light who is Jesus. John 8:12. People who live in truth have nothing to hide. Everything is open, and he was happy in the sun. But instead, those who live in darkness, like to protect their lives and stay away from the light.

Jesus said this in John 14:27, “Peace I leave with you, My Peace I give to you; not as the world gives do I give to you. Let not your heart be troubled, neither let it be afraid.” He provides unlimited grace shown in our existence and our redemption. Because of that, we have this unlimited Peace, knowing nothing can separate us with the love of Christ. Hebrew 8:35.  

DARI KEMULIAAN KEPADA KEMULIAAN (FROM GLORY TO GLORY)

ADONAI INDONESIAN CHRISTIAN FELLOWSHIP 13TH ANNIVERSARY.

Tema: Roh Kudus Memimpin Kita Kepada Kemuliaan” Roma 8:18

Salam untuk rekan-rekan Adonai Indonesian Christian Fellowship. Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa merayakan eksistensi Gereja Anda selama 13 tahun terakhir. Selamat untuk Pdt.Arianto Quenta, keluarga, aktivis Gereja, dan jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Tentu saja kita berharap bisa bertemu dan merayakan historic milestone untuk Gereja ini secara langsung, tetapi kondisi state Anda tidak memungkinkan untuk itu. Tetapi semoga hal ini tidak mengurangi sukacita Anda, karena apa yang kita mau ingat dan syukuri adalah kebaikan Tuhan sampai detik ini kita ada.

Kita bersyukur kita diciptakan sebagai mahluk yang mulia, jauh lebih mulia bahkan dari ciptaan-ciptaan lain baik di muka bumi maupun yang di Surga. Kita berasal dari berasal dari kemuliaan kepada kemuliaan. Jadi sebenarnya kita memiliki tujuan yang sama yaitu menuju kemuliaan. Masalahnya adalah proses ditengah-tengahnya, bagaimana kita sampai kepada kemuliaan itu.

Mari kita melihat bagaimana kemuliaan itu pada mulanya. Dalam Kejadian 1 kemuliaan itu adalah Allah. Allah yang mulia menciptakan segala sesuatunya mulia. Sesuatu yang mulia, akan menunjukkan keindahan, dan kebaikan.

Namun ternyata di tengah-tengah proses itu ada masalah. Allah sudah menyiapkan yang terbaik namun manusia memilih yang sesuai dengan pemikirannya sendiri. Kita, manusia yang menginisiasi masalah itu. Yakobus 4:1-3.

Untuk mengatasi masalah yang dibuat manusia ini, Allah menyiapkan suatu karya penebusan. Manusia sudah bersalah dan harus dihukum. Tetapi Allah begitu penuh kasih karunia menyediakan penebusan bagi manusia. Apakah manusia harus melakukan sesuatu untuk menerima kasih karunia Allah? Kita tidak bisa melakukan apapun selain percaya. Itulah mengapa dalam Kejadian 15:6 Allah tidak menunjukkan kasih karuniaNYA berdasarkan perbuatan Abram (yang nantinya disebut Abraham), tetapi karena Abram percaya. Rasul Paulus juga pernah menuliskan kepada jemaat di Roma mengenai kasih karunia yang memberi kita

OLEH IMAN KEPADA KEMULIAAN (Roma 5:2)

“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.”

Bagaimana iman bisa mengantarkan kita pada kemuliaan? Dengan membuat kita berkenan di hadapanNYA. Ibrani 11:6. Berita ini perlu diterima dengan pertobatan yaitu perubahan pikiran (Roma 12:2), karena dari perubahan pikiran akan berdampak pada perubahan perbuatan.

Iman terhadap apa? Terhadap kasih karunia yang Yesus lakukan. Ketika Allah mengasihi Abraham, DIA tidak melihat kelemahannya. Menarik bahwa Abraham adalah model suami yang buat saya tidak melindungi istri.

Kalau langsung lompat ke Perjanjian Baru, menurut Anda apa yang membenarkan Petrus? Perbuatannya yang menyombongkan diri di depan murid-murid lain? Atau emosinya yang menggerakkan pedangnya kepada Malkhus? Tentu bukan! Tetapi imannya kepada kasih karunia Yesus. Yohanes 21:7.

Bandingkan kontrasnya dengan Yudas Iskariot, yang bukan mengandalkan iman namun pandangannya. 2Korintus 4:18. Karena yang sementara ia kehilangan yang kekal. Namun demikian ada satu hal lagi yang membuat Yudas tidak bisa direstorasi: Kebenaran diri sendiri.

Apa yang kemudian membuat kita percaya kepada sesuatu yang tidak kita bisa lihat ini? Kuasa Roh Kudus. Anda mungkin berkata tetapi bukankah orang percaya karena mendengar atau melihat? Tentu saja, tetapi semua itu ada karena karya Roh Kudus.

Dalam Efesus 1:14 Rasul Paulus menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah jaminan bahwa kita akan mendapat keseluruhan dari bagian kita dalam Kristus. Yesus sendiri berkata bahwa Roh Kudus adalah Roh yang menghibur kita, sebelum kita akan bersama dengan Yesus. Yohanes 14:26. Atas hal ini lah kemudian Roma 8:18 menjadi kekuatan bagi kita, dalam situasi apapun yang akan Anda alami sebagai pribadi, Keluarga, Gereja, dan apapun yang Tuhan sudah posisikan Anda.

Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF