Anugerah Setiap Hari

It has been awhile to see this book in hand. If you want to have a copy please visit:

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar?n=1

And do yourself a favor put an ORDER.

Advertisements

LISTEN

Berapa banyak hal yang kita dengar sampai dengan sekarang? Banyak sekali, bukan? Dari hal yang penting sampai dengan hal yang tidak penting. Tidak semua yang masuk kemudian kita olah jadi informasi yang penting. Sehingga mendengar pun sebenarnya adalah bagian dari pilihan.

 

Menarik sekali beberapa waktu lalu saya melayani bersama dengan seorang hamba Tuhan muda namanya Christian Effendi. Dia mengambil ilustrasi betapa Allah adalah yang mengambil insiatif untuk berbicara kepada kita. Kalaupun ada halangan untuk kita mendengar, IA akan mencari cara supaya suaraNYA terdengar. Tetapi kalau kemudian kita mengambil pilihan untuk tidak mau mendengar, pada akhirnya IA akan membiarkan kita menerima konsekuensi dari tidak mendengar suaraNYA. Ulangan 28:1, 15.

 

 

  1. Mendengar Panggilan Pribadi

 

Biar saya mulai hal ini dengan menegaskan satu hal, bahwa secara organisasi saya bukan pendeta. Hanya karena ada nama “Minandar” bukan berarti saya berhak mengambil jalan pintas. Banyak orang yang memanggil saya pendeta atau pastor, tetapi saya sekali lagi secara organisasi bukan. Saya hanya menjalankan fungsi kependetaan karena saya adalah anggota tim pastoral di gereja lokal di Tegal. Saya sampaikan ini untuk mengingatkan saya dan mengingatkan Anda, there is no shortcut, semua harus ada prosesnya.

 

Sedikit mengenai kesaksian panggilan saya, sebelum saya membahas mengenai sub-topik: “Panggilan Pribadi”.

 

“Dimana hartamu berada disitu hatimu berada.” Perkataan Yesus di Matius 6:21 ini tentu sudah sering kita dengar, dan menjadi hafalan. Menghafal itu bagus, namun masalahnya jika hafalan itu hanya berhenti disitu. Seharusnya ini menjadi nilai yang kuat dalam setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Karena hafalan menunjukkan kekuatan pikiran kita, namun nilai menunjukkan kekuatan pribadi kita.

 

Firman Tuhan sebagai sistem nilai yang Yesus sendiri hidupi (karena DIA adalah Firman itu) mengajarkan mengenai pentingnya hati yang kuat dan teguh. Sesaat sebelum menyeberang sungai Yordan, Tuhan sampai mengulang-ulang hal ini kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Tentu saja ini membutuhkan kerjasama dari pihak manusia  Seberapa ingin Anda untuk berubah dan berbuah. Panggilan untuk berbuah adalah suatu keharusan. Allah mengasihi Anda, Allah memberkati Anda, Allah menyelamatkan kita, supaya kita berbuah. DIA melimpahkan kasih karuniaNYA bukan untuk sesuatu yang sia-sia. DIA ingin ada buah yang kita hasilkan. Contoh yang paling jelas kita bisa temukan dalam perumpamaan tentang talenta. Meskipun kita juga sudah sangat sering mendengar ini, namun kisah ini selalu menarik untuk dibahas.

 

Matius 25:14-30

Apa yang diberikan Tuan itu kepada hamba-hambanya? Talenta. Ini menarik,  karena kalau kita tidak mengerti nilai talenta maka kuantitas talenta yang diberikan kurang menarik dan tidak mewah. Hanya 1, 2 dan 5. Namun ketika kita tahu nilai sebuah talenta itu adalah upah 6000 hari kerja (di jaman itu) maka kita akan mengerti betapa satu talenta saja sudah sangat berharga!

 

Sekarang apakah mereka melakukan sesuatu yang hebat untuk mendapat talenta itu? Tidak, Tuan itu hanya menyerahkan (mengaruniakan) talenta-talenta itu “masing-masing menurut kesanggupannya” (ayat 15). Tuan itu tahu kemampuan pengelolaan masing-masing hambanya, namun bukankah itu tidak mempengaruhi nilai berharga dari talenta itu? Lima gram emas tidak kemudian menjadi logam “kurang mulia”  hanya karena dia diletakkan disebelah 1 kilogram emas!

 

Jadi siapapun kita apapun latar belakang kita dan berapapun orang lain menilai kita. Sesungguhnya kita memiliki talenta yang sungguh sangat berharga. Apakah 1, 2 atau 5 bukan itu yang menjadi perhatian utama, melainkan berapa banyak talenta itu berbuah.

 

Ada satu lagi perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita, yaitu perumpamaan “sesuatu yang hilang”. Lukas 15:1-32. Didalam perumpamaan ini terdapat 3 hal yang hilang.

  1. Domba yang hilang.

Karakter seekor domba adalah mahluk yang perlu pertolongan dan bimbingan. Domba adalah mahluk yang tidak dapat mempertahankan dirinya dan memiliki daya pandang yang terbatas. Sehingga domba sering diidentikkan dengan binatang yang lemah. Keristenan pun sebenarnya ada yang tingkatannya seperti ini.

  1. Dirham yang hilang.

Disini sudah melibatkan kedewasaan dan komitmen. Karena biasanya dirham yang paling berharga adalah milik seorang wanita Israel yang bertunangan.

  • Anak yang hilang.

Inilah kasih di tingkat yang tertinggi. Unconditional Love of The Father.

 

Lalu apa yang bisa dipelajari dari ketiga kisah ini, dan hubungannya dengan mendengar panggilan Allah? Pasal ke-15 dari Lukas diawali dengan ayat yang berkata:

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:…”

 

Pertanyaan ini yang kemudian penting poin yang pertama mengenai mendengar panggilan pribadi ini. Apakah kita memiliki hati dan beban bagi jiwa-jiwa yang terhilang, terutama bagi kaum / bangsa / kelompok yang tak terjangkau? Mereka yang tidak diterima dan yang berdosa? Apakah saudara terpanggil untuk jiwa-jiwa yang terhilang dan dalam jalan menuju maut, atau Anda ingin menjadikannya hanya sekedar tugas?

 

Hati Yesus penuh dengan belas kasihan hal ini jelas terlihat dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus: memberi makan 5000 orang, membangkitkan anak seorang janda di Nain, juga membangkitkan Lazarus, menyembuhkan orang buta dan orang kusta. Panggilan pribadi kita adalah ketika kita memiliki hati untuk melakukan hal tersebut.

 

  1. Mendengar dan Mengembangkan Komitmen

 

Komitmen adalah suatu hal yang penting dan mahal. Komitmen adalah keputusan yang penuh integritas. Komitmen adalah janji kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu secara terus menerus, untuk jangka waktu tertentu. Sebenarnya ini adalah cara kita juga mengembangkan karakter.

 

Karakter datang dari habit atau kebiasaan. Kepribadian adalah keseluruhan dirimu, sedangkan karakter adalah bagian dari kepribadian yang dilihat orang dalam kecenderungan bersikap. Karisma membawa engkau naik ke atas, namun karakter yang mempertahankan engkau tetap di atas.

 

Orang-orang yang mendengar dengan baik, ia kemudian berkomitmen. Maksudnya orang-orang ini berfokus kepada apa yang penting, apa yang menjadi prioritas bagi dirinya dari apa yang didengarnya.

 

Yesus adalah orang yang memiliki komitmen tinggi kepada apa yang penting dan menjadi prioritas. Ketika orang banyak ingin memaksa DIA untuk menjadi raja (Yohanes 6:15) Yesus memilih untuk menyingkir, demikian juga ketika Yesus harus naik ke Sorga supaya Roh Kudus turun (Yohanes 16:7). Komitmen bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mengenakkan. Kita tahu banyak masalah sosial saat ini adalah karena orang kehilangan komitmen untuk melakukan sesuatu.

 

Contohnya saja partai politik, politisi, dan pejabat Negara yang terpilih lewat pemilihan masal. Karena apa yang mereka ucapkan tidak benar-benar mereka lakoni, maka tingkat penyelewengan anggaran, korupsi, dan kerugian Negara terus terjadi oleh ulah orang-orang tanpa komitmen ini. Mereka dengan mudah berpindah haluan kepada yang berkuasa. Bukan saja di tingkat Negara. Kalau sekarang kita lihat unit terkecil dalam masyarakat adalah keluarga. Berapa banyak keluarga yang hancur karena anggota keluarga yang tidak berkomitmen untuk keutuhan suatu keluarga.

 

Saya selalu percaya bahwa dalam tiap hubungan, apapun itu diperlukan tiga sisi yang saling bertemu dan tidak terpisahkan. Tiga sisi itu adalah:

  1. Passion (Gairah)
  2. Affection (Rasa sayang / kedekatan)
  • Commitment (Komitmen / janji / ikatan)

Apakah itu dalam rumah tangga di rumah, rumah tangga di gereja, dan rumah tangga Negara, ketiga sisi itu menjadi penting. Tahukah saudara apa yang membuatnya tetap utuh? Komitmen! Sekedar mendengar tidak cukup, Anda harus mulai membangun komitmen atas apa yang Anda pilih untuk dengar.

 

Setelah kita yakin akan panggilan pribadi kita, ada belas kasihan yang timbul, ada gairah yang besar melihat ladang tuaian yang sangat besar. Selanjutnya lengkapi itu dengan komitmen seumur hidup untuk berdoa bagi para misionaris dan jiwa-jiwa yang terhilang. Doa orang benar, jika benar didoakan besar kuasanya. Mendengar adalah bagian dari doa sebenarnya.

 

Yesus berkata tentang DOA:

Matius 26:41 Berjaga dan berdoa, roh penurut namun daging lemah.

Seringkali pikiran lah yang membuat kita lemah. Sepanjang Alkitab dikisahkan mengenai Saul dengan pikirannya pada Daud, Elia dan pikirannya pada Izebel, Petrus dan pikirannya pada gelombang. Dengarkan DIA yang berbicara di hatimu.

AYAH

Puji Tuhan Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Kalau Gembala sering mengutip bagian-bagian dari ayat-ayat ini:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Pagi hari ini saya ingin mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja kita, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Hari Ayah yang dirayakan banyak negara di setiap hari Minggu ke-3, bulan Juni. Kalau di Indonesia, “Hari Ayah Nasional” dirayakan setiap tanggal 12 November, meskipun banyak dari Anda yang mungkin baru tahu. Karena memang lebih “terkenal” perayaan Hari Ibu. Tetapi setidaknya merayakan bagaimana seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya adalah sesuatu yang spesial. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

 

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

 

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

 

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

 

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

 

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

 

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

 

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

 

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

 

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

 

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

 

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

 

KARAKTER ALLAH

Banyak dari kita pernah mendengar istilah karakter, dan kalau saya tanyakan mungkin sebagian besar dari kita yang hadir tidak yakin apa sebenarnya karakter itu. Karakter berasal dari Bahasa Yunani “charaktēr” (tanda, kualitas yang berbeda – alat untuk memberi tanda) diturunkan dari kata kerja “charassein” (mempertajam, membuat alur, mengukir). Jadi secara singkat, karakter adalah kualitas pribadi yang membuat Anda berbeda dari yang lain. Dalam bahasan Kristen tentu kita mengenal Galatia 5:22-23 sebagai daftar buah Roh yang ditulis Rasul Paulus. Tetapi kita bisa lihat ini juga sebenarnya adalah karakter pengikut Kristus, yang membedakan kita dari dunia.

Kembali ke sejarah bahasan tentang karakter. Secara sederhana dulu orang menggolongkan karakter orang berdasarkan “cairan tubuh” yang dominan, sehingga keluar istilah: sanguinis, plegmatis, koleris, melankolis. Tetapi teori ini sebenarnya sudah tidak kekinian lagi. Karena perkembangan Psikologi terbaru menggolongkan (istilahnya) 24 “kekuatan karakter” kedalam 6 nilai kebaikan yang muncul di sepanjang zaman.

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggungjawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

Seseorang dan karakternya akan mengundang ekspektasi dari orang yang disekitarnya. Misalnya orang yang bijaksana, diharapkan suka belajar, dan punya sudut pandang yang baik. Semua dari kita adalah kombinasi yang unik dari kekuatan-kekuatan karakter ini. Saya percaya semua kekuatan karakter ini ada lengkap pada “karakter” Tuhan (dengan sengaja saya beri tanda kutip karena istilah ini adalah bentuk personifikasi kita terhadap Tuhan). Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan satu per satu kepada Anda.

Tetapi mari kita mulai dengan ini, kalau Allah punya kelengkapan kekuatan karakter, berarti manusia juga diciptakan dengan kekuatan-kekuatan karakter dan nilai-nilai kebaikan. Lalu apa guna itu semua? Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, namun kemudian berujung pada hasil yang tidak sesuai.

Lalu apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Sekali lagi saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Kekuatan “karakter” Allah yaitu Kasih saya rasa menjadi yang paling menonjol. Ada satu lagu rohani “kontroversial” yang menggambarkan kekuatan karakter Allah, tetapi yang terbesar adalah kasihNYA. Judul lagu ini “Reckless Love”.

 

VERSE-1:

Before I spoke a word, You were singing over me

(Sebelum aku bisa berkata, KAU telah bernyanyi atasku)

 

You have been so, so good to me

(KAU begitu sangat baik bagiku)

 

Before I took a breath, You breathed Your life in me

(Sebelum aku bisa bernafas, KAU telah hembuskan nafas hidupMU dalamku)

 

You have been so, so kind to me

(KAU begitu sangat memerhatikanku)

 

REFF:

Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God

(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

 

Oh, it chases me down, fights ’til I’m found, leaves the ninety-nine

(Kasih itu mengejarku, berjuang hingga kuditemukan, meninggalkan 99 yang lain)

 

I couldn’t earn it, and I don’t deserve it, still, You give Yourself away

(Aku tak dapat mengusahakannya, dan aku tak layak mendapatkannya, tetapi ENGKAU tetap memberi hidupMU)

 

Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God, yeah

(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

 

VERSE-2:

When I was Your foe, still Your love fought for me

(Saat aku masih menjadi musuhmu, KasihMU tetap berjuang bagiku)

 

You have been so, so good to me

(KAU begitu sangat baik bagiku)

 

When I felt no worth, You paid it all for me

(Saat aku merasa tak berharga, KAU bayar semua bagiku)

 

You have been so, so kind to me

(KAU begitu sangat memerhatikanku)

 

BACK-TO-REFF THEN BRIDGE

 

BRIDGE

There’s no shadow You won’t light up

Mountain You won’t climb up

Coming after me

(Tak ada gelap yang tak KAU terangi

Gunung yang tak KAU daki

Mencari diriku)

 

There’s no wall You won’t kick down

Lie You won’t tear down

Coming after me

(Tak ada penghalang yang tak kau robohkan

Kebohongan yang tak kau bukakan

Mencari diriku)

 

BACK TO REFF

 

Bisakah Anda lihat semua karakterNYA dari lagu diatas?

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggungjawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

 

Saya melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Anda menunjukkan karakter Anda yang seharusnya serupa dan segambar dengan DIA. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Karakter Allah itu sebenarnya Anda miliki, kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

 

GodblesS

JEFF

 

Hukum Perkawinan

Selamat pagi jemaat sekalian, mari sekarang kita arahkan perhatian kita kepada Firman Tuhan yang tertulis di dalam Ulangan 22 pada perikop tentang Hukum Perkawinan.

Topik yang menarik, bukan karena saya belum menikah, karena pada beberapa kesempatan saya juga memimpin kelas pra-nikah. Lebih lagi saya rasa Yesus atau Paulus juga tidak menunggu menikah untuk bisa mengajar tentang topik ini.

Pada awal ini saya ingin ingatkan jangan terjebak dengan istilah “jangan kawin dulu,  sebelum nikah” karena itu hanya permainan kata orang-orang yang tidak mengerti bahwa “kawin” itu sinonim dengan kata “nikah”.

Meskipun sebenarnya dalam kata “kawin” terdapat juga makna “berkelamin”, tetapi kata itu hanya dipakai untuk kalimat dengan subjek binatang. Kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang, maka Anda boleh memaknai “kawin” berbeda arti dengan nikah.

Lagipula dalam TB LAI kata pernikahan hanya digunakan di Kidung Agung sedangkan perkawinan dipakai dari Kejadian sampai Wahyu.

Saya tidak akan membacakan seluruh perikop, ayat demi ayat, tetapi saya harap Anda semua membuka perikop ini di Alkitab Anda, atau di gadget Anda.

Perikop ini membahas peraturan tentang perkawinan, dan saya akan mengambil kata-kata kunci untuk Anda temukan dalam perikop tersebut.

Kata-kata kunci itu saya kelompokkan dalam 3 kelompok besar sebagai berikut:
– Perkawinan.
o Tuduhan.
o Sanggahan.
o Bukti (tanda).
o Konsekuensi.
▪ Jika terbukti (apa yang terjadi pada pihak pria, dan apa yang terjadi pada pihak
wanita).
▪ Jika tidak terbukti (apa yang terjadi pada pihak pria, dan apa yang terjadi pada
pihak wanita).

– Perselingkuhan.
o Dalam konteks perkawinan.
o Dalam konteks pertunangan.
o Dalam konteks hubungan ayah dan anak.

– Perkosaan (yang disetarakan dengan pembunuhan, meskipun tetap dalam konteks perkawinan).
o Dengan korban wanita yang sudah kawin/tunangan.
o Dengan korban wanita yang masih perawan.

Saya tidak akan berusaha menjelaskan semua ini dalam beberapa menit kedepan, karena Anda hanya akan menerima informasi dan bukannya nilai penting dari perkawinan.

Kemarin Gembala mengingatkan kepada staf yang tinggal di pastori Mahanaim, bahwa inti dari kita membahas Perjanjian Lama adalah membukakannya untuk kehidupan kita di Perjanjian Baru. Bagaimana menjelaskan tentang karya Yesus yang luar biasa, yang lebih superior dari semua yang terjadi di Perjanjian Lama. Bukan berarti kita mengabaikan Perjanjian Lama, melainkan belajar daripadanya.

Semua hukum/perintah di PL diberikan supaya semua keturunan Abraham (termasuk kita keturunan Abraham rohani – referensi Roma 4 (ayat 11 secara khusus)) melakukan kebenaran dan (mempraktekkan) keadilan. Kejadian 18:19. Itulah mengapa, contohnya di Ulangan 22:18-19 ada konsekuensi hajaran, denda, dan konsekuensi sosial lain (wanita itu harus menjadi istri seumur hidup), bagi pria yang menuduh tetapi tidak terbukti.

Apakah penerapan hukum itu memuaskan semua pihak? Tentu tidak, yang terhukum tentu saja tidak puas. Tetapi hukum, khususnya Hukum Taurat, tetap harus ada untuk menunjukkan kekudusan kebenaran, dan kebaikan Allah. Roma 7:12.

Sehingga patokan keadilan bukan apakah semua pihak dipuaskan, tetapi ketika kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah ditegakkan dalamnya.

Dengan dasar berpikir ini kita bisa melihat bahwa hukum perkawinan bukanlah sekedar ajang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Tetapi sekali lagi penegakan hukum itu untuk menegaskan kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah, seperti yang kita lihat 3 kali diulang, ada frase “kauhapuskan yang jahat” di perikop bahasan kita (Ulangan 22:21, 22, 24).

Lalu apa kata Yesus tentang 3 kelompok bahasan diatas: perkawinan, perselingkuhan, perkosaan? Secara singkat Yesus tidak berkenan atas perceraian dalam perkawinan (Matius 5:32) itu adalah zinah. Demikian perselingkuhan dan perkosaan, jangankan tindakannya, hati untuk mengingini saja adalah zinah (Matius 5:28).

Jadi apakah kita perlu menghafal semua peraturan dalam Hukum Taurat? Saya dengan yakin berkata: Tidak perlu! Karena Yesus yang menjadi panutan kita, maka pesan yang dibawaNYA itulah yang menjadi pedoman kita, seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:17. Kita bukan pengikut Kristus jika kita hanya berhenti sampai di level mengikuti Hukum Taurat saja.

Apakah kita boleh memelajari Hukum Taurat, tentu saja, tetapi ingat itu dipelajari untuk menemukan kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah yang semuanya digenapi dalam Yesus di Perjanjian Baru.

Biarlah hidup kita, khususnya hubungan kita dengan pasangan kita, adalah hubungan yang didasari kasih karunia dan kebenaran di dalam Kristus Yesus. Jika hubungan Anda di masa lalu atau di masa sekarang, tidak didasarkan oleh dua hal ini. Mari datang ke kaki Yesus, minta kemurahanNYA, minta agar kasih karunia dan kebenaran Tuhan dinyatakan atas hubungan Anda. Demikian juga pengampunan, jika kesalahan yang Anda buat dalam hubungan tersebut belum terselesaikan.

Bagi Anda yang baru menatap masa depan dalam hubungan, serahkan itu pada Yesus. Biar Anda akan menjalani hubungan yang penuh kasih karunia dan kebenaran.

GodblesS

JEFF

HAUS

Saya rasa belum terlambat kalau saya mengucapkan selamat merayakan hari kenaikan Yesus dan menjelang hari raya Pantekosta. Tentu saja akan menyenangkan kalau kita berikan waktu yang kita miliki untuk datang di hadiratnya dan berdoa secara korporat seperti ini. What an atmosphere!

Malam hari ini selama beberapa menit ke depan saya akan membahas satu kata yang mempunyai rima sama dengan “Roh Kudus”. Kata itu adalah: HAUS. Bagi Anda yang tidak hadir di Doa Raya, Jumat lalu, sebelum berdoa saya menyampaikan Firman tentang “Lapar”.

Jadi mungkin berikutnya saya akan lanjutkan dengan “Mengantuk” dan jadilah khotbah seri tentang kekurangan. Saya hanya bergurau, tentang itu, tetapi maksud saya adalah ketika saya bicara tentang “Lapar”, saya rindu kita mengambil sikap yang benar (lapar akan pribadi Yesus) setiap kali (maksudnya terus menerus) dalam menghadap Tuhan, baik dalam doa maupun ibadah.

Jika kita perhatikan khotbah Gembala di hari Kamis tentang “Penolong yang Lain”. Kemudian malam Kemarin Pdm.Elisabeth Minandar (Ibu Gembala) menyampaikan tentang “Peran Roh Kudus di Hari-hari Akhir”. Kita bisa mengambil benang merah dari khotbah-khotbah itu, bahwa kita butuh Roh Kudus untuk membawa kita dalam kebenaran. (Anda bisa membaca ringkasan catatan khutbahnya di Facebook Page GPdI Mahanaim Tegal).

Kembali tentang kata: haus. Dalam Alkitab kata “haus” biasanya membawa asosiasi kita kepada perkataan-perkataan Yesus. Yesus pernah berkata tentang haus ketika bertemu perempuan Samaria. Yohanes 4:13-14. Demikian Yesus mengundang mereka yang “haus” untuk datang padaNYA di tengah-tengah Hari Raya Pondok Daun. Yohanes 7:37. Demikian Anda ingat salah satu perkataan bahagia Yesus yang berkaitan dengan haus. Matius 5:6. Sudah bisa lihat hubungannya, bukan?

Tetapi bolehkah saya membawa Anda ke kisah Perjanjian Lama tentang haus, supaya kita bisa melihat Roh Kudus dari perspektif lebih luas. Saya ada 2 kisah yang saya bandingkan tentang kehausan. Israel mengalami kehausan (Keluaran 17:3-7), respon mereka bersungut (bahkan disebut mencobai Tuhan), tetapi Allah mengeluarkan air dari batu karang. Demikian juga Simson pernah mengalami kehausan sampai sekarat (Hakim-hakim 15:18-19) responnya adalah mengajukan permohonan, ia mengingatkan Tuhan akan kondisinya, Allah kemudian membelah batu karang dan menyelamatkan Simson.

Ketika menyiapkan bahasan ini, saya berpikir apakah Roh Kudus hanya menjawab rasa haus kita, dan hanya berhenti pada rasa puas? Saya mendapati 2 ayat ini yang menunjukkan bahwa lebih dari sekedar membangkitkan kehausan atau kelaparan, tetapi juga ada tujuan dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Istiahnya “thirsty and hungry with a purpose”. 1Raja-raja 19:7-8. Ini terjadi dalam hidup Elia, tetapi juga terjadi dalam hidup para rasul. Memang tidak secara eksplisit dituliskan dengan istilah “haus”, tetapi lihatlah setelah perkataan Yesus bahwa mereka butuh Roh Kudus (Kisah Para Raul 1:4-5), para rasul kemudian menanti dengan tekun. Kisah Para Rasul 1:14.

Jadi malam hari ini ada hal-hal yang Tuhan bangkitkan dalam diri kita untuk kita kemudian mendapatkan kepenuhan Roh Kudus itu, tetapi bukan sekedar untuk memuaskan, tetapi untuk suatu tujuan besar, bagi Keluarga, bagi Gereja, bagi kota, bagi bangsa kita!

LAPAR

Hari ini saya akan berbicara tentang lapar. Apakah Anda lapar? Beberapa dari Anda mungkin sudah menebak, bahwa saya akan membahas tentang “lapar akan Firman Tuhan”. Tetapi tunggu dulu, jangan buru-buru kesana. Mari kita bahas tentang “lapar” ini dulu.

Lapar adalah sesuatu yang normal dan merupakan salah satu tanda kehidupan. Mereka yang tidak pernah lapar malah kita curigai sebagai orang tidak normal atau bahkan orang mati! Demikian juga kondisi lapar itu bukan sesuatu yang salah, hanya saja cara meredakan kelaparan itu bisa berujung pada kesalahan. Kemudian yang juga menarik adalah sinyal (tanda) lapar dari tubuh, itu bisa “menipu”, karena terkadang yang kita butuhkan adalah air (karena haus) bukan makanan.

Sekarang baru kita masuk ke dalam bahasan “lapar akan Firman”. Orang-orang percaya selalu mengaitkan kata “lapar” dalam Alkitab, dengan frase “lapar akan Firman. Hal ini tidak salah, kalau kita melihat kata Ibrani untuk pengertian “lapar” yang dipakai pada Perjanjian Lama. Kata yang dipakai adalah Ra’ab atau Ra’eb. Selain dapat berarti lapar jasmani, kata yang sama juga bisa dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “lapar akan Firman”.

Saat saya berbicara tentang Firman, apa konsep atau benda yang pertama kali ada di benak kita? Banyak dari kita sampai sekarang secara otomatis langsung berpikir bahwa Firman adalah Alkitab. Dengan demikian “lapar akan Firman” berarti suka membaca Alkitab. Sama seperti orang yang lapar jasmani, yang selalu suka akan makanan.

Tetapi saya ingin Anda melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Pertama tentang “Firman”. Saya rasa Anda sudah sering mendengar tentang ini, bahwa Firman itu sudah menjadi manusia di dalam Yesus. Yohanes 1:14.

Kedua tentang “lapar”. Saya begitu tertarik dengan konsep kekurangan yang satu ini karena seperti yang saya katakan di awal, bahwa ini menjadi penanda kehidupan. Jika kondisi ini dibiarkan bisa terjadi sesuatu yang fatal.

Kalau saya gambarkan sederhana, bahwa rasa lapar mengingatkan kita untuk memberi pasokan/asupan/input pada tubuh supaya tetap bertahan hidup. Ini berlaku baik secara jasmani maupun secara rohani. Pada poin inilah seringkali kita menjadi salah kaprah. Seperti yang pernah dibahas oleh Herold Tadete (staf Gereja), terkadang kita kurang sadar akan kebesaran Tuhan. Kita mengecilkan konsep Firman itu semata-mata kaitannya dengan hal rohani. Firman hanya menjadi fisik ketika kita melihat Alkitab.

Kita lupa bahwa hanya karena Firman lah semua realitas fisik yang bisa kita lihat sekarang itu jadi. Coba lihat kembali Kejadian 1, semua yang bisa kita lihat dimulai dengan kata “berfirmanlah”. Bahkan tubuh jasmani kita juga adalah hasil bentukan Firman. Kejadian 1:26-27. Kita salah besar kalau berpikir bahwa Firman hanya berkaitan dengan hidup rohani kita saja, karena FIRMAN itu adalah PRIBADI yang membentuk kita.

Ketika kita mengotakkan bahwa Firman hanya berguna untuk hidup rohani saja, itu sama seperti seorang anak yang berpikir orang tuanya hanyalah sosok pemberi uang saja! Untuk anak seperti itu, memang perlu disadarkan dengan kasih karunia (dalam angka Alkitab dilambangkan dengan angka 5).

Apa yang saya ingin tegaskan adalah, Firman itu tidak muncul hanya untuk kehidupan rohani kita. DIA ada sejak dari mulanya, membentuk kita dari debu tanah.

Baru kemudian kita lihat di Kejadian 2:7 Tuhan Allah/Yehovah Elohim, menghembuskan RohNYA yang menjadikan kita hidup (sebagai mahluk rohani, jauh lebih mulia dari ciptaan yang lain).

Sampai disini saya berharap Anda mengerti konsep ini, bahwa Firman itu adalah pribadi. Karena itu kita perlu membangun hubungan dengan DIA sebagai pribadi. Ingat, kita lebih butuh DIA daripada DIA membutuhkan kita.

Analogi yang Yesus sampaikan dalam Yohanes 15 begitu menginspirasi. Kita ini “sama seperti ranting (yang) tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri”. Ayat 4. Dalam perikop tentang “Pokok anggur yang benar” ini ada 2 kali kata Firman disebutkan, di ayat 3 tentang bagaimana Firman itu membersihkan kita. Kemudian di ayat 7 tentang bagaimana Firman itu tinggal di dalam kita, untuk memberikan apa yang kita kehendaki (tentu saja yang sesuai dengan kehendak Illahi).

Sehingga kita lihat betapa pentingnya untuk terhubung dengan DIA. Hubungannya dengan lapar? Tentu saja ranting itu mendapat asupan dari pokoknya. Saya tidak pernah mendengar tumbuhan mengerang karena lapar. Tetapi ini yang saya tahu, ia terus menerus “lapar” akan asupan dari pokok itu, karena ia tahu disaat ia terlepas dari pokok itu, ia binasa.

Lapar yang seperti ini yang saya rasa menggambarkan “ra’ab” (istilah Ibrani yang saya bahas di awal penjelasan), yaitu kelaparan yang harus dipenuhi dengan terhubung kepada sumber. Apakah Anda “lapar” akan DIA? Ini adalah penanda kehidupan kita dalam mengiring Kristus. Berapa banyak kali lutut dan tangan kita terlipat, tetapi sebenarnya kita tidak benar-benar “lapar” akan PribadiNYA.

Saya tahu kita adalah manusia yang penuh kelemahan. Tetapi Paulus memberi pengertian dalam Roma 8:26 bahwa Roh Allah yang ada pada kita membantu kita dalam kelemahan manusiawi kita. Saya tidak sedang berdiri untuk menghakimi Anda yang tidak bisa fokus saat berdoa, atau mungkin kesulitan untuk melawan kantuk. Tetapi saat Anda mengambil sikap sebagai pribadi yang lapar akan DIA, Anda tidak akan berhenti membutuhkan DIA. Lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, aku butuh PribadiMU.

GodblesS

JEFF

Bertumbuh Jadi Baru

Sepanjang tahun ini Gembala kita mengambil tema “Bertumbuh” untuk GPdI Mahanaim Tegal. Suatu tema yang menantang di satu sisi, karena kita diharapkan untuk menunjukkan pertumbuhan, menjadi lebih besar. lebih matang, dan tentu saja salah satu karakteristik pertumbuhan yang sehat adalah berbuah!

Ketika menyiapkan apa yang akan saya sampaikan ke jemaat hari ini, yang terpikir di benak saya ada 2 hal. Pertama, tentu saja tentang pertumbuhan, namun yang kedua saya rasa juga tak kalah penting yaitu pembaruan. Keduanya kemudian menjadi fusi, dan lahirlah judul: “Bertumbuh Jadi Baru”.

Mengenai kedua hal ini saya rasa kita sudah sangat familiar. Pertumbuhan adalah perubahan dari kecil menjadi besar. Pembaruan adalah perubahan dari lama menjadi baru. Sederhana saja! Saya rasa definisi singkat barusan bisa membantu kita untuk membedakan keduanya.

Dalam Firman Tuhan sendiri jelas sekali Yesus meminta kita bertumbuh dan berbuah, seperti misalnya dalam perumpamaan di Lukas 13:6-9. Secara singkat, itu bercerita tentang pohon ara yang tumbuh di kebun anggur dari seorang pemilik kebun. Ketika ia mencari buah dari pohon itu, dia tidak menemukannya. Dia segera memerintahkan kepada pengurus kebun itu untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun itu menahan niat pemilik kebun ini, dengan berkata: “…biarkanlah dia tumbuh…, mungkin tahun depan ia berbuah…” (ayat 8-9).

Ada banyak interpretasi mengenai siapa pemilik kebun, siapa pengurus kebun, siapa yang dimaksud dengan kebun anggur, dan siapa yang dimaksud dengan pohon ara. Tetapi satu hal yang sangat jelas disitu adalah:

  1. Ada waktu dimana buah itu menjadi patokan penilaian.

Kita semua memiliki modal dalam hidup ini, waktu, tenaga, kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh apa yang kita miliki ini menjadi penilaian apakah kita berbuah atau tidak. Yohanes pembaptis pernah dengan keras menegur orang Farisi dan Saduki yang dating untuk dibaptis dengan perkataan: “…hasilkanlah buah yang sesuai…” Matius 3:9.

 

Sudahkah waktu, tenaga, kesehatan kita, kita gunakan untuk menghasilkan sesuatu bagi Tuhan. Anda mungkin berkata saya secara rutin membawa persembahan. Apakah Tuhan mau uang milik kita? Itu semua pada dasarnya milikNYA, karena IA pemilik segala sesuatu. Mazmur 95:4-5.

 

  1. Ketika pertumbuhan berarti kesempatan baru.

Ketika pengurus kebun berkata “…biarkanlah dia tumbuh…” itu bukan berarti pohon itu sudah selamat, akan ada masa dimana pemilik kebun itu akan datang untuk memeriksa apakah dari pohon itu dihasilkan buah. Banyak orang merasa kesempatan itu selalu ada, saya rasa kalau kita belajar dari apa yang disampaikan Gembala tentang Jemaat Filadelfia, pada Ibadah Raya minggu lalu, kita mengerti. Ada pintu atau jendela kesempatan yang akan ditutup. Jika kita hidup sekarang itu bukan karena Allah lalai, tetapi karena DIA memberi kesempatan untuk bertobat. 2Petrus 3:9.

 

Kita masih punya kesempatan sekarang untuk berbuah. Salah satu buah Roh di dalam Galatia 5:22 adalah kebaikan. Ini kesempatan kita, kesempatan untuk berbuat baik. Galatia 6:9-10.

Mengenai sesuatu yang baru, banyak orang berpikir itu artinya sama sekali baru. Tetapi dari perspektif pertumbuhan, saya melihat begini: sesuatu yang baru itu muncul saat yang lama bertumbuh jadi baru. Lihatlah pertumbuhan sebuah pohon, ketika ia bertunas dan masih kecil, orang tidak menghiraukannya. Tetapi jika selang beberapa waktu dan orang melihat batangnya yang besar, rantingnya, daunnya dan buahnya, bisa jadi mereka berkata bahwa itu pohon baru. Padahal sebenarnya itu adalah tunas pohon yang sama. Tetapi sekarang ia menjadi besar. karena ada pertumbuhan, ada sesuatu yang baru, yang menjadi nampak.

Anda mungkin berpikir saya sudah terlambat untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Tapi tahukah kita bahwa Allah kita adalah Allah dari segala sesuatu yang baru. Wahyu 21:5. Bagi saya karya salib adalah kesempatan baru, dan kita selalu bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang baru, ketika kita percaya pada salib itu. Pada suatu malam Allah memberikan kepada saya suatu gambaran jelas mengenai hal ini. IA menyediakan kesempatan baru bagi saya, dan tentu bagi Anda juga.

 

GodblesS

JEFF