“Siapa tu cewe?” Tanyaku kepada penghuni kos yang sudah mungkin 2 tahun sebelum aku tinggal di kosan menengah keatas itu. Penghuni kos itu menjawab dengan pertanyaan,

“Yang suka pake contact lens warna ijo itu kan? Oh, itu si Nisa, kerja di deket sini keliatannya dia bagian keuangan deh.”

“Darimana lo tau?”

“Lah kan gue udah lebih lama dari lo di sini, dodol…,” jawab teman kosku itu yang kelihatannya adalah orang Sunda karena di kos dia sering dipanggil Ujang.

“Udah punya cowo dia, anak kantoran juga keliatannya, tiap sore biasanya mampir. Suka lo?” Dia melanjutkan penjelasannya, tetapi diakhiri dengan pertanyaan yang bikin saya belingsatan, setidaknya di dalam hati.

“Ah, nggak, lucu aja, matanya jadi kaya aneh gara-gara contact lens warna-warninya,” saya berusaha menetralkan diri dan mencari jawaban sekenanya.

“Hahaha… suka mah suka aja, tapi gue denger udah mo kawin dia. Perasaan lo, jangan ngalahin akal lo, yaa,” sambil berkata itu Ujang pergi begitu saja, kembali ke kamar, meninggalkan percakapan singkat kami di teras depan kosan yang sangat sepi malam itu.

Saya tidak mengerti, mengapa saya tertarik dengan Nisa, yang belum kukenal, belum juga saling tahu. Oh, tapi bisa jadi dia tahu keberadaanku, waktu itu ketika akan berangkat untuk presentasi di salah satu perusahaan dekat kosan, mata kami bertemu, sejenak saja, sebelum dia kemudian berusaha membuka pintu kamarnya, dan saya, mengunci pintu kamar saya.

Advertisements