PREPARE FOR THE FUTURE (Persiapan untuk Masa Depan)

Apa kabar Youth Mahanaim? What’s up? (Katanya anak-anak YouTube). HOF dan Crossover adalah orang-orang muda yang luar biasa. Saya percaya Anda semua bisa terus bertahan di tengah pandemi ini karena dikatakan “…ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:4). Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memiliki pengharapan. Tanpa itu, tidak peduli sekaya, semenarik, dan seberbakat apapun Anda, Anda akan hancur.

Saya menyampaikan sharing kali ini di tengah isu kesehatan, ekonomi global termasuk di Indonesia. Bahkan kalau di Amerika Serikat ini ditambah isu sosial yang begitu menonjol dengan adanya kerusuhan dan penjarahan. Pesan saya, jangan terlalu banyak dengarkan media, karena mereka terus menerus dirancang untuk meneror kita dengan hal-hal yang negatif. Bukan berarti kita harus tutup mata – tutup telinga dengan berita terkini. Tapi kemarin saya dengar satu pernyataan yang menarik mengutip seorang teolog terkenal bernama Karl Barth, “lihatlah berita (dari media massa) dengan kacamata Alkitab”.

Saya ingat saya pernah sampaikan ilustrasi dari Ps.Joseph Prince di Ibadah Raya beberapa waktu lalu. Ilustrasi itu tentang seorang nenek yang tinggal di lahan proyek yang besar. Ia tinggal di satu-satunya rumah yang tersisa di lahan itu. Pemilik proyek pernah mampir ke rumahnya dan meninggalkan kartu nama perusahaan itu sambal memberi jaminan, “Nek, saya sedang siapkan rumah yang jauh lebih baik dari ini, ketika sudah jadi, saya sendiri yang akan jemput nenek pindah ke sana.” Karena jaminan ini maka apapun yang terjadi di lahan proyek itu tidak menakutkan bagi sang nenek. Buldozer, teriakan tukang, suara bising, tidak membuatnya takut, karena dia punya jaminan, yang perlu dia lakukan bertekun dalam pengharapan.

Demikian juga kita sekarang, berita-berita selalu ditulis dengan motif tertentu untuk membuat suatu kejadian jadi lebih mengerikan. Tetapi percaya sama suara Yesus yang berkata, “…Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:3). Selama Anda fokus sama Yesus, Anda berjalan diatas masalah, ketika Anda fokus pada masalah, Anda tenggelam dalam masalah. (Matius 14:29-31). Mari ditengah-tengah semua yang terjadi hari ini kita mulai arahkan diri ke masa depan, dan bagaimana kita mempersiapkan masa depan.

Ketika saya menuliskan “Persiapan untuk Masa Depan” yang pertama terbersit ada 2 nama tokoh di Indonesia. Kesamaan dari keduanya adalah sama-sama terkenal, kemudian sama-sama kontroversial, dan yang terakhir mereka sama-sama sudah meninggal. Bisa menebak? Mungkin nama pertama untuk Youth Mahanaim tidak terlalu familiar. Beliau Pdt.J.E.Awondatu salah satu pemimpin di denominasi GPdI, dan pencipta lagu rohani, salah satu yang paling terkenal dan beberapa kali dinyanyikan di Ibadah Raya adalah “El-Shaddai”. Nama kedua mungkin Anda lebih familiar, Glenn Fredly, tidak ada hubungannya dengan GPdI, tapi dia salah satu penyanyi pria terbaik Indonesia, dan juga adalah pencipta lagu.

Apa hubungan mereka dengan masa depan? Pdt.J.E.Awondatu pernah berkhotbah dengan judul “Kembali ke Masa Depan” bahkan saya masih menyimpan catatan khotbahnya. Glenn Fredly menciptakan lagu dengan judul “Romansa ke Masa Depan” menariknya salah satu bagian liriknya berkata “Semuanya kembali ke masa depan.” Saya tahu untuk anak K-Pop Anda lebih tahu “Sour Candy” Lady Gaga featuring Blackpink atau “More & More” Twice. Tapi maksud saya, bahasan tentang masa depan adalah sesuatu yang menarik untuk dibahas. Bagi kita itu bukan saja menarik, tetapi penting.

Saya melihat persiapan masa depan itu sama seperti sebuah persiapan perjalanan. Ada 4 hal yang ada di pikiran saat akan melakukan perjalanan:

  • Tujuan
  • Waktu
  • Kendaraan
  • Bawaan.

Contohnya ketika pandemi berakhir Anda mempersiapkan perjalanan, tujuannya ke Yogyakarta misalnya. Anda ingin berangkat hari Minggu sesudah Ibadah, dan pulang hari Sabtu berikutnya, jadi total 6 hari disana. Anda akan naik kereta dari Cirebon, jadi harus beli 2 tiket perjalanan, pertama ke Cirebon, terus ke Yogyakarta. Barang bawaannya tas ransel saja dengan isi yang minimalis. Itu persiapan perjalanan Anda ke Yogyakarta, tetapi bagaimana dengan persiapan “perjalanan ke masa depan”? Mari kita bahas hal ini satu per satu.

TUJUAN. Ini berhubungan dengan nilai hidup Anda. Kalau Anda melihat hidup sebagai sesuatu yang bernilai maka Anda akan bertanya, “Apa yang didapat dengan mencapai tujuan itu?” Hidup ini punya beragam tujuan, dan kadang untuk anak muda itu bisa jadi membingungkan jika kita tidak punya pegangan untuk itu. Anak-anak HOF bertanya untuk apa Sekolah? Sedangkan anak-anak Crossover bertanya untuk apa bekerja keras? Ini adalah pertanyaan yang nampaknya biasa tetapi sekali lagi kalau tidak ada pedomannya akan membingungkan dan pada beberapa kasus menjadi fatal, karena salah nilai, salah tujuan.

Rasul Paulus pernah menuliskan dalam 1Korintus 9:23-26 tentang tujuan ia melakukan pelayanannya, yaitu untuk mengambil bagian dalam Injil, atau kabar baik. Dia kemudian memberi ilustrasi mengenai hidup ini seperti pertandingan olahraga. Semua atlet berdisiplin dan berlatih untuk meraih prestasi yang sementara. Bagi kita disiplin dan latihan itu juga diperlukan untuk mendapat hadiah yang kekal, dalam Kerajaan Surga. Jadi apapun yang Anda lakukan sekarang di tempat belajar, di tempat kerja, dan tempat pelayanan. Lihatlah itu sebagai nilai tambah yang akan Anda pakai untuk menyebarkan kabar baik. Ketika Anda menaruh tujuan Anda sebagai siswa/i, mahasiswa/i, karyawan/ti. pengusaha kecil/besar, pendeta, atlet, musisi, pegawai negeri, politisi, YouTuber apapun itu. Ingat Anda butuh disiplin dan latihan, tujuan akhirnya adalah membawa kabar baik, bukan sekedar sensasi yang malah memalukan, yang “tanpa tujuan” dan “sembarangan” (ayat 26). 

Kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus menuliskan tentang hidup dengan tujuan yang benar, dimulai dengan pengenalan akan Allah. (Efesus 4:17-19). Mengapa ini penting? Karena mereka yang tidak mengenal Allah pikirannya penuh kesia-siaan. Saya sedang belajar tentang budaya post-modernisme, ini adalah budaya yang banyak dihidupi oleh orang-orang di zaman sekarang. Mereka menolak Allah, mengandalkan perasaan (itu kenapa begitu banyak ke-“baper”-an” sekarang), dan mendefinisikan kebebasan adalah ketika seseorang mengikuti dorongan hatinya. Ini masalah besar, ketika hatinya dikuasai hawa nafsu. Salah satu penandanya adalah pemikiran “yang penting aku senang.”

WAKTU. Ini berhubungan dengan kesempatan yang Anda punya. Anda akan bertanya, “Kapan waktunya?” Karena Anda tidak akan hidup selamanya. Anda tidak akan selamanya berseragam putih biru atau putih abu-abu. Anda tidak akan selamanya jadi Remaja dan Pemuda. Sehingga mempertimbangkan waktu ini sungguh penting. Terlebih kita tidak pernah tahu apakah kita akan terus hidup sampai usia 70 atau 100 tahun. Semua tergantung pilihan kita di waktu sekarang. Pertama kali saya memiliki pengalaman seorang teman sebaya yang saya kenal meninggal itu saat saya SMA, ia meninggal karena pilihannya untuk mengebut di jalan dengan sepeda motornya. Bukan saya ingin menakut-nakuti Anda yang naik sepeda motor. Tetapi pilihan seseorang memengaruhi kelangsungan hidupnya. Apakah Anda mempergunakan kesempatan yang diberikan sekarang?

Pemazmur menuliskan doanya di Mazmur 90:12 supaya ia diajar menghitung hari-harinya sedemikian rupa supaya ia bisa punya pikiran yang bijak. Ketika saya di antara Staf Mahanaim, saya pernah sampaikan hal teknis mengenai ini, untuk bisa menganalisa, apa yang saya lakukan dalam 24 jam. Ini dimaksudkan supaya saya bisa menjadi bijaksana mengelola waktu yang tidak bisa diulang.

(Anda bisa mengunduh file excel untuk mencoba mencatat dan menganalisa jam-jam yang Anda habiskan dalam seminggu, hanya dengan klik tautan berikut ini: Manajemen Waktu).

Ada yang pernah berkata buatlah rencana seperti Anda masih bisa hidup lama, tetapi bekerjalah seperti ini adalah hari terakhir dihidupmu. Tentu saja ini bisa mengundang respon ekstrim bagi pencari sensasi, karena ini adalah “hari terakhir” mari kita habiskan uang kita hari ini. Penulis surat Ibrani mengingatkan untuk orang-orang yang mencari kesenangan sesaat, bahwa ketika kesempatan itu hilang, maka sekalipun kamu menangis sejadi-jadinya, kesempatan itu tidak akan diberikan lagi. (Ibrani 12:16-17).

KENDARAAN. Ini berhubungan dengan cara dan “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Anda bertanya“Bagaimana caranya?” Selalu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Ada yang karena bayarannya terlalu besar, akhirnya malah merugi, ada yang karena tidak mau bayar harga, tidak mencapai apa-apa. Contoh sederhana seseorang yang begitu ingin menjadi terkenal membayar “keterkenalannya” dengan merelakan keyakinannya kepada Yesus “dijual”, dengan begitu kehilangan keselamatannya. Pada kisah lain ada seseorang yang tidak mau berusaha untuk mengerjakan sesuatu yang sederhana dan menantikan orang lain berbelas kasih melakukan sesuatu untuk dirinya.

Rasul Petrus menuliskan bahwa orang yang rendah hati akan ditinggikan Tuhan pada waktunya dan Allah akan memelihara mereka yang menyerahkan kekuatirannya pada Tuhan. (1Petrus 5:6-7). Ini bukan berarti kita tidak berusaha. Allah memberikan kepada kita akal budi untuk berpikir, melakukan perhitungan dan membuat rancangan. (Lukas 14:28). Apa yang Anda lakukan di kelas sekarang? Apa rencana Anda di posisi atau jabatan Anda sekarang? Apakah keputusan Anda akan mendekatkan Anda pada tujuan yang Anda percaya datang dari Tuhan?

BAWAAN. Ini berhubungan dengan hidup yang efektif dan efisien, dimana Anda bertanya, “Berapa banyak yang harus dibawa?” Untuk mencapai masa depan, Anda akan kerepotan jika terus menerus membawa terlalu banyak barang, tetapi juga tidak bisa menjadi efektif jika terlalu sedikit membawa barang. Mari saya jelaskan sebentar, yang dimaksud dengan efektif adalah tepat sasaran, “barang” yang Anda bawa akan berguna untuk mencapai sasaran Anda. Pernah tidak Anda pergi ke suatu tempat dan tas Anda begitu banyak, tetapi ternyata yang dipakai hanya beberapa barang saja. Kemudian yang dimaksud efisien adalah tepat ukuran, “barang” itu tidak terlalu membebani Anda karena barang tersebut tidak terlalu besar atau berat.

Nabi Yesaya menuliskan janji Tuhan akan suatu masa dimana keselamatan datang dan mengubah segalanya menjadi baru. (Yesaya 65:17). Ini terjadi di tengah hilangnya harapan Israel dalam pembuangan karena kesalahan mereka. Namun untuk yang baru di masa depan, yang lalu harus dilupakan. Apa masa lalu yang masih menghantui kita? Latar belakang Keluarga, pilihan-pilihan yang salah, kemarahan akan ketidakadilan yang terjadi pada diri kita? Kalau kita bawa ini ke masa depan, hidup kita tidak akan efektif. Kita terbelenggu dengan pikiran akan masa lalu.

Lalu bagaimana membuat “barang bawaan” kita efektif dan efisien? Sekali lagi Anda harus percaya bahwa masa lalu memang mencetak Anda, tetapi masa depan dicetak oleh keputusan Anda sekarang. Jadi ambillah nilai-nilai baik dari masa lalu Anda, segala yang tidak berguna dan negatif, tinggalkan. Hidup dengan apa yang ada ditanganmu, bukan apa yang tidak ada, atau yang terkenal dengan halusinasi. Kisah Ester menginspirasi kita, bahwa dia tidak mengingat bahwa ia adalah seorang yatim piatu, dan bagian dari komunitas minoritas (orang buangan di negeri Persia). Dia tetap berpegang pada nilai yang baik (taat kepada Mordekhai, pengasuhnya – Ester 2:7, 20) dan tetap berusaha melakukan yang baik sekalipun status sosialnya sudah tinggi (Ester 4:14-16).

Kisah Ester seketika mengingatkan saya pada kisah seorang buangan lain yang berulang-ulang mengalami sakit hati, dikecewakan, dan dilupakan namun ia tidak sekalipun menyalahkan Tuhan ataupun orang-orang yang menyakitinya itu. Ia melakukan perjalanan ke masa depan dengan Tuhan dengan mengucapkan kata-kata yang begitu inspiratif dan memberi harapan, “…kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:20).

Anda mungkin marah dengan orang tua yang melahirkanmu, marah dengan kondisi ekonomi keluargamu, marah dengan sistem pendidikan, dengan bosmu, dengan karyawanmu. Atau marah dengan situasi kondisi sekarang yang serba tidak menentu. Tetapi ingat Tuhan tidak pernah merancangkan itu semua, kita mengerti pihak yang suka mencuri, membunuh dan membinasakan adalah iblis. (Yohanes 10:10). Tuhan ingin masa depan yang indah dan berkelimpahan, karena itu tentukan tujuan yang benar, gunakan kendaraan yang tepat, jangan buang waktu, dan tinggalkan bawaan yang tidak perlu. Bersiaplah menuju masa depan.

GodblesS

JEFF

COURAGE FROM GOD (Luke 1:37)

What do you afraid of?

What do you scare of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life-changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

For with God nothing shall be impossible.

Nothing is impossible with God (Message Bible Translation).

Mary, like other human beings, also experienced fear in her life. And I believe every one of us who come to this place also has “fear” and have something that we are afraid of. For some, it could be a fear of talking to someone new or maybe another kind of fear. It could be of animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

Let us go to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly what you fear something, but you choose not to give up on your fear. Courage itself could be an act of physical courage, moral courage, or psychological courage.

If you read our theme verse, in the Gospel according to Luke. We can learn a courageous act from Mary’s life story.It was started when she had the visitation from an angel, more details in Luke 1:26-38 (we can find parallel story also in Gospel according to Matthew). When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being committed to someone means you must be courageous. It’s easy to grab (or even pay) someone who you find attractive. But it’s hard, it needs the courage to keep yourself from doing that and committed to one person. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not cool”. Matthew 16:26. Spiritually we are committed to our life-partner, Jesus.

Mankind is a unique species. They are doing a lot of horrendous things for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The devil will try that with your family, with your close friends, with your significant others. However, remember this, an act of love (forgiving, admonishing, correcting, staying) needs a courageous heart.

Talking about a courageous heart, I can’t stop imagine Joseph, Mary’s fiancé. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an insta-picture with the caption: “all women are cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed-door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are a courageous person.

In such a condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen to this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who encouraged Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story of the first Christmas that I just told you in the last few minutes. But now maybe you have this guilty feeling over your life because you know that you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth nearly 2000 years ago.

Is it possible for Him to forgive my huge mistakes? His coming is for the “sick” not for the “righteous healthy one.” Matthew 9:12.

Everything is possible because He is the Maker, the Source…

…and now He is standing right in front of your heart.

He says, “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite the Holy Spirit to guide you and to give you the courage that you need.

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

https://books.google.com/books/about?id=zmXeDwAAQBAJ

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar?n=1

Get it for your food of thought.

Giving My Best (All of Me)

​Kita semua sudah sama mengerti bahwa hidup rohani kita adalah seperti perlombaan. 1Korintus 9:24-25. In order to be the best, you have to give the best. Ini adalah suatu nilai umum yang sebagian besar orang akan setuju. You want to say: All of Me!!! The very best of me. Kalau Anda ingin menjadi yang terbaik (pemenang) Anda harus memberi usaha yang terbaik. Hanya didalam kondisi-kondisi tertentu saja seseorang yang tidak memberi yang terbaik kemudian bisa menjadi yang terbaik. Contohnya: ketika lawan pertandingan Anda lebih lemah atau tidak sebanding.
Tetapi DIA adalah yang “TER” untuk segala-galanya. Sehingga ketika DIA memberi maka itu adalah yang terbaik. Coba kita ingat ayat paling terkenal dan signifikan. Yohanes 3:16. Frase “begitu besar” bagi saya dimaknai sebagai yang “paling besar”. God is Love. Sehingga segala bentuk cinta/kasih dalam manusia tidak ada yang dapat menyaingi bentuk cinta/kasih Allah.
So, what is my point? Coba kita lihat dulu ayat di Kolose 3:23. Disitu dikatakan lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Sehingga dari ayat ini pun kita ambil kesimpulan bahwa patokannya atau standarnya adalah Tuhan. Mencintailah seperti Tuhan mencintai, berkatalah seperti Tuhan berkata, dan memberilah seperti Tuhan memberi.
Video skit: “Everything” – Lifehouse. Saya akan jelaskan video ini dan relevansi nya dengan hidup kita, dalam 3 scene.

Scene #1: “Allah menciptakan manusia.”

Sadarkah kita bahwa Allah memberi yang terbaik saat DIA menciptakan kita. Lihatlah semua yang diciptakanNYA sejak hari pertama. Semua sistem penunjang untuk suatu kehidupan manusia. Menariknya DIA berikan bagian dari diriNYA yaitu nafas hidupNYA. Itulah kenapa kita disebut “segambar dan serupa” dengan Allah. Apa yang biasa menjadi masalah klasik seorang manusia di semua rentang usia? Gambar diri. Mereka merasa kurang, merasa tidak semenarik si ini, merasa tidak segagah si itu, merasa tidak sepintar si anu. Stop it! Kita diciptakan dengan segala yang terbaik. Yesaya 43:4. Iblis, dan orang-orang yang diperdaya Iblis, akan berusaha merampas ini darimu dengan kata-kata mereka. Ingat si iblis itu adalah pencuri (Yohanes 10:10) dan seperti singa ompong, sebenarnya dia tidak memiliki “gigi” lagi, dia hanya bisa mengaum (1Petrus 5:8). Karena itu dia sekarang mengaum melalui kata-kata yang merendahkan engkau. 

 

Dia mengaum lewat semua media yang membuat kita merasa kurang dan 

kurang dan kurang. Know this, Tuhan sudah memberi yang terbaik dalam hidupmu. Lalu konsekuensinya apa bagi kita. Ketika kita mendapat yang terbaik, maka sekarang BERILAH YANG TERBAIK melalui kata-kata kita.

Scene #2: “Allah selalu berusaha menarik manusia kembali padaNYA.”

Ironis, ketika Tuhan sudah memberi yang terbaik untuk manusia, manusia malah memberi potensi yang terbaik dari dirinya untuk kepentingan dirinya, untuk dunia dan kesenangan dunia yang menipu, bukan dikembalikan pada Tuhan. Tetapi Tuhan selalu berusaha menarik manusia kembali padaNYA. Tuhan melakukan ini tidak dengan setengah-setengah, DIA tetap memberi yang terbaik. Seperti manusia yang kadang setengah hati dalam berusaha menarik perhatian sesamanya. DIA memberi segala usaha yang terbaik. Sadarkah bahwa jika kita masih memiliki kesempatan itu adalah Kasih Karunia Allah. Roma 2:4. Allah bisa mengingatkan kita dengan berbagai macam cara: bagi Musa itu dengan semak yang nampak terbakar tetapi tidak dihanguskan, bagi Daud itu kematian anaknya dengan Batsyeba, bagi Yunus itu pengalaman 3 hari 3 malam di perut ikan, bagi Petrus itu mimpi dari Allah dan teguran dari Paulus, dan bagi Paulus duri dalam dagingnya. Ketika kita mendapat yang terbaik, BERUSAHALAH.

Scene #3: “Allah menjadi manusia: anak yang tunggal adalah yang terbaik.”

Kasih Allah ini seperti kisah seorang Bapa di Lukas 15:22. Tentu saja dari yang hadir rata-rata belum merasakan pengalaman memiliki anak. Namun bagi saya kasih yang ditunjukkan kepada anaknya yang terhilang itu melebihi akal. Anak yang bersalah diberikan jubah yang terbaik. Itu seperti air comberan tetapi dibalas air susu. Inilah Allah yang kita sembah di dalam nama Yesus Kristus.
Inilah yang Allah harapkan dari kita. Memberi yang terbaik, bukan karena kita mengharapkan “karma” baik. Tetapi karena iman. Sebab orang percaya hidup oleh iman. Galatia 3:11.

Doa & Tujuan Hidup

Kita semua diciptakan untuk suatu tujuan. Hanya saja seringkali kita tidak mengerti tujuan kita. Kemudian situasi ini diperparah dengan tindakan kita yang membiarkan orang lain atau oknum lain yang bukan Tuhan untuk menentukan tujuan hidup kita. T.D Jakes seorang hamba Tuhan dari Amerika Serikat menggambarkan hidup kita dan tujuan hidup adalah seperti logam dan magnet. Magnet itu akan mengeluarkan medan daya yang menarik logam itu mendekat. Masalahnya kadang kita meletakkan logam itu di dalam wadah, yang tidak memungkinkan magnet itu untuk menariknya. Wadah itu bisa berupa apapun misalnya harta, tahta dan cinta. Iblis senang ketika diri kita ada dalam wadah keterbatasan ini. Anda bisa berkata:

– Saya tidak cukup kaya untuk menjadi pemberi.
– Saya tidak cukup berkuasa untuk mempengaruhi.
– Saya tidak cukup menarik untuk mencintai.

Ketiga hal ini adalah cara pikir yang salah dan berbahaya, yang akan memicu pengejaran akan kekayaan, kekuasaan, dan pengakuan. Segala seuatu yang salah dimulai dari pikiran. Hawa bersalah ketika berpikir bahwa dia bisa menjadi sama dengan Allah. Daud bersalah saat dia berpikir bahwa dia bisa membunuh dan berzinah tanpa diketahui oleh Allah. Yudas bersalah saat dia berpikir bahwa satu-satunya jalan adalah dengan menghukum dirinya.

Mari kita mulai dengan apa kata Tuhan di dalam Kejadian 1:31. Tuhan menciptakan kita dengan “sungguh amat baik”. Karena itu kita dirancang untuk melakukan perbuatan baik. Hal ini tercatat juga dalam perkataan Yesus ketika IA berkata: “Hendaklah terangmu bercahaya” Matius 5:16 . Menariknya saya mendengar staf gereja berkata, bahwa Yesus tidak berkata AKAN namun ADALAH. Itu berarti dari mulanya Tuhan punya tujuan itu dalam diri kita, kita diciptakan untuk menjadi dampak bagi dunia.

Seringkali kemudian kita berkata bahwa lingkungan kita yang bertanggungjawab atas keadaan kita sekarang. Dalam satu sisi itu benar memiliki pengaruh. Tetapi tahukah kita bahwa kita tidak dilahirkan sebagai koruptor. Kita tidak diciptakan untuk menjadi pendusta. Kita tidak diciptakan untuk apa pun yang salah yang sekarang sedang terjadi dalam hidup kita. Semua itu terjadi karena rangkaian keputusan yang kita ambil dalam hidup ini. Tentu saja akan sangat mudah untuk menyalahkan sesuatu atau seseorang untuk keadaan kita sekarang. Namun ketahuilah alasan mengapa Anda tidak mencapai tujuanmu adalah karena diri kita sendiri. Yakobus 4:1-2.

Berdoa kemudian menjadi inti jawaban dari semua halangan kepada tujuan hidup kita. Berdoa adalah suatu komunikasi kita dengan pencipta kita. Ingatlah bahwa komunikasi itu bukan sekedar berkata-kata tetapi harus ada transfer pemahaman. Kita harus mengerti bahasa Allah. Bagaimana? Lewat Firman Allah. Lewat Alkitab.

Menariknya Paulus menyampaikan mengenai doa ketika dia selesai menasehati Jemaat Efesus tentang perlengkapan rohani. Efesus 6:10-20. Secara khusus saya ingin Anda melihat ke ayat 18. Dikatakan berdoalah dan berjagalah.dalam doamu. Maksudnya Iblis akan mencari titik lemah kita, kemudian menunggu waktu yang baik untuk menjatuhkan kita. Lukas 4:13. Karena itu kita diminta untuk berdoa dan berjaga. Sehingga kita bisa tetap berdiri sampai akhir. Hal berikut yang penting untuk saya sampaikan adalah Anda mungkin memulai dengan tidak meyakinkan, tapi pastikan Anda tetap berdiri sampai akhir.

Malam ini ambil keputusan dengan berdoa, ingat bahwa Anda di masa depan adalah apa yang Anda putuskan sekarang, tinggalkan masa lalu Anda. Berjagalah dalam doa, karena Iblis dan kuasa jahatnya sedang dan akan berusaha terus menerus menyerang untuk menjatuhkan kita. Kemudian berdoalah supaya kita mengerti apa tujuan Tuhan dalam hidup kita, dan kita bisa mendapatkannya untuk kehidupan yang penuh dalam Kristus.

Order Buku: “Anugerah Setiap Hari”

Sekarang sudah bisa order buku: “Anugerah Setiap Hari” via Tokopedia – Mahanaim Online Shop.

https://www.tokopedia.com/mahanaim-e-shop/buku-anugerah-setiap-hari-by-sdr-jeff-minandar

Bisa juga didapatkan di Mahanaim Corner (Toko Buku Mahanaim) Jl.Kapten Ismail 137 Tegal, atau juga bisa didapatkan di Toko Buku Berea (SAB) Jl.Soekarno-Hatta 7-9 Batu.

Harga setelah tanggal 27-Mei-2016 adalah Rp.60.000,- dan setiap pembelian buku ini sepertiganya akan disumbangkan untuk Pelayanan Departemen Lintas Budaya GPdI Mahanaim Tegal.

My First Book Project.

image

My First Book Project would be launched in 30 days or less!

Setelah beberapa tahun menunda akhirnya selesai juga meskipun indie publishing.

image

Pre-order now and get a discounted investment money for the book!

GodblesS
JEFF