B-DRAMA

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih di dalam nama Tuhan. Sungguh hari-hari, atau minggu-minggu, atau bahkan bulan-bulan terakhir ini begitu banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi, pekerjaan atau pelayanan, dan bahkan di kehidupan sosial-bermasyarakat-bernegara kita.

Begitulah hidup berjalan kadang ada hal-hal yang di luar kuasa kita. Ini seperti apa yang dituliskan oleh nabi Yeremia di Yeremia 10:23. Sehingga apa yang terjadi dalam hidup kita mungkin sekali terjadi di luar ekspektasi kita. Apakah ada disini yang ekspektasinya menikahi Miss Universe tetapi pada akhirnya menikah dengan Miss Understanding? Itu Bahasa belandanya “Mislukt” artinya “failed”, tidak sesuai dengan yang kita mau.

Begitu banyak drama terjadi di hidup kita bukan? Baik secara pribadi kita rasakan, atau sesuatu yang kita saksikan terjadi di depan mata kita. Inilah yang mendorong saya mengambil tema “B-DRAMA”. Ini bukan K-Drama, atau telenovela, juga bukan Bollywood Drama. B-Drama yang saya maksud adalah Biblical Drama.

Tahukah Anda bahwa Alkitab kita itu seperti TV Portabel. Semua drama ada dan tercatat di Alkitab. Bayangkan dimulai dengan kisah ajaib seperti “magic” , dari tidak ada menjadi ada. Kejadian 1. Kemudian ada drama romantis pertama yang dikenal manusia, drama Adam & Hawa. Kejadian 2:18-24.

Kalau saya boleh “breakdown” sedikit tentang Kejadian 2:18-24, Anda bisa belajar tentang konsep mencari pasangan, baik Anda pria atau wanita.

  1. Pasangan itu bukan tujuan pertama hidup kita. Mengerti mengenai ini akan menghindarkan Anda menghabiskan hidup menyesali yang sudah lewat, bahkan melukai diri sendiri karena seseorang yang Anda anggap “belahan jiwa” Anda. Tujuan pertama Anda adalah menikmati yang Tuhan sudah beri, ayat 16 sambil menjaga diri tidak melanggar ketetapan-ketetapanNYA, ayat 17.
  2. Akan ada waktunya ketika Tuhan mengingatkan Anda, “tidak baik kalau manusia seorang diri saja…,” ayat 18. Inisiatifnya dari Tuhan, bukan dari Anda, atau dari lingkungan Anda.
  3. Allah pertama bergerak, kemudian baru Anda bergerak, ayat 19. Jadi ada usaha Anda, tetapi kemudian preferensi itu ada di dalam diri Adam, ayat 20. Tidak ada istilah bukan jodoh, semua adalah preferensi untuk berkomitmen. Ingat tentang segitiga: “PassionCompassionCommitment.”
  4. Ada waktu dimana Tuhan bawa pasangan Anda di hadapan Anda dan Anda berkata “Ini dia…,” ayat 21-23. Saya percaya itu kembali lagi ke preferensi, dan tentu saja konsekuensi ada di tangan Anda. Jangan ulangi kesalahan Adam yang melempar kesalahan di Kejadian 3:12.
  5. Menjadi pasangan berarti menjadi independen, tetapi bukan berarti arogan. Kejadian 2:24. Anda akan meninggalkan orang tua Anda, orang tua Anda juga harus berani memberi kepercayaan pada anak Anda yang sekarang sudah dewasa.

Baiklah cukup tentang drama Adam dan Hawa, ada drama apalagi di Alkitab? Saya sampaikan ini supaya Anda punya opini berbeda tentang Alkitab. Apalagi kita terus berusaha untuk “bertumbuh lewat pengetahuan (Firman)”.

Berikut kisah-kisah drama dalam Alkitab:

  • Pembangunan proyek monumental. Kejadian 11:1-9.
  • Pengejaran (86) dari seorang pemimpin yang labil. Keluaran 14:1-31.
  • Perselingkuhan dan pengkhianatan. 2Samuel 11:1-27.

(Sebelum poin berikut penting untuk melihat dan belajar dari sikap Daud meresponi kesalahannya di 2Samuel 12:13-25.

  • Pengorbanan yang tidak masuk akal. Matius 26, Yohanes 12 (minyak yang mahal), 1Petrus 1:19.

Seluruh ketidak mampuan manusia untuk menebak itu, yang membuat kita membutuhkan Tuhan lebih dari DIA membutuhkan kita. Saya akan menutup B-Drama ini dengan kisah Yusuf di Kejadian 37, 39-41 dan bagaimana ia menutup seluruh kitab Kejadian dengan ayat yang begitu menggetarkan saya sampai sekarang. Kejadian 50:20. Saya rasa ini pesan Allah untuk Anda di masa-masa seperti sekarang.

Ada satu bagian lirik pujian yang begitu memberkati saya tentang pujian kepada Allah di tengah ketidakmampuan kita untuk menebak perubahan di sekitar kita:

Reff
Mari Puji Tuhan Hai Jiwaku
Sembah Dia yang Kudus
Dengan Segnap Hati, Jiwaku
Sembah Dia Yang Kudus
Verse 1
Hari Baru TerangMu Bersinar
Saat Naikan Pujian
Yang Kan Berlalu Dan Yang
Harus Kuhadapi
Biarlah tetap kupuji NamaMu
Verse 2
Penuh Kasih dan Kau Panjang Sabar
Kau Mulia, Namamu Besar
Semua Kebaikanmu Kan Kunyanyikan
Ribuan Alasan Tuk MemujiMu
Verse 3
Saat Lemah Hilang Kekuatanku
Tiba Saat Akhir Hidupku
Tetap Jiwaku Memuji NamaMu
Ribuan Tahun Bahkan Selamannya

PENGHARAPAN TELAH DATANG

Anda pernah mendengar program televisi “Akhirnya Datang Juga”? Coba lihat video ini.

Seorang tamu diberikan kostum dari tim yang ada di belakang panggung untuk kemudian masuk ke dalam suatu set lokasi dimana sudah menunggu aktor/aktris yang kemudian berkata: “Akhirnya datang juga!”

Menariknya si tamu tidak diberitahu sebelumnya bahwa ada skenario yang tidak terduga yang harus direspon oleh tamu tersebut dengan cepat. Sehingga kadang-kadang ekspektasi tamu bisa buyar karena ternyata set lokasi dan aktor/aktris yang sudah disiapkan berbeda jauh dengan ekspektasi tamu.

“Ekspektasi” inilah yang disebut sebagai pengharapan. Tentu saja suatu pengharapan adalah sesuatu yang kita harapkan terjadi. Tetapi lihatlah betapa dekatnya pengharapan dengan kekecewaan. Kekecewaan adalah jarak antara pengharapan (ekspektasi) dengan realita.

Tetapi ketika pengharapan itu datang dalam bentuk yang tak pernah gagal, yang FirmanNYA “Ya” dan “Amen” tentu saja akan mendatangkan sukacita. Itulah kenapa kedatangan Yesus sering disandingkan dengan kata “sukacita” karena memang pengharapan dunia akan keselamatan lahir di tengah-tengah (realita) dunia. Roma 15:13.

Ekspektasi/pengharapan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak bisa dilihat. Roma 8:24. Tetapi setelah mengenal DIA, pengharapan itu kemudian terfokus pada DIA dan apa yang dijanjikanNYA. Kita belum melihatnya, itulah kenapa kita bertekun sampai itu menjadi nyata di hidup kita.

Coba baca hubungan antara iman dan harapan di Ibrani 11:1. Saya rasa ini harus menjadi dasar kita, bahwa keselamatan, yang sekarang kita dapatkan karena kedatangan Yesus, kedatangan yang membawa pengharapan, bukanlah karena level sosial kita atau hal lainnya. Tetapi karena percaya! Mengapa?  Karena engkau diselamatkan karena iman. Efesus 2:8.

Cara percaya yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah. “Ilustrasi seorang yang berhutang”. Itulah kenapa Yesus menegur murid-murid dalam Matius 4:40, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Saat itu mereka membangunkan Yesus di perahu. Bahkan Paulus juga menegaskan pertobatan adalah perubahan “sistem pengetahuan” yang memimpin pada percaya. Roma 12:2. Contohnya ketika kita percaya dimana-mana ada setan maka itu memengaruhi tindakan kita.

Demikian juga ketika kita melihat apa yang terjadi ketika Yesus datang di dunia lebih dari 2000 tahun yang lalu. Semua dimulai dari percaya. Kita melihat keberadaan Yesus di antara manusia dimulai dan diakhiri dengan tanda-tanda ajaib. DIA datang dengan kisah seorang wanita muda yang mengandung dari Roh Kudus (itu ajaib kan, karena normalnya dari benih laki-laki). Matius 1:18. DIA adalah jawaban dari pengharapan Israel. Demikan juga DIA pergi terangkat di awan-awan (jauh sebelum ada pesawat terbang & helikopter). Kisah 1:9. Dengan cara yang sama kita punya pengharapan akan pengangkatan.

Yesus berkata dalam Matius 6:33, “carilah dahulu kerajaan dan kebenaranNYA…” Anda tidak membeli beras untuk mendapat gelas cantik kan? Membeli handphone untuk sebuah payung? Pengharapan kita sudah dating 2000 tahun yang lalu. Sekarang semakin jelas bahwa kita butuh berpegang erat pada pengharapan itu. Tanpa pengharapan tidak ada masa depan.

GodblesS

JEFF

Sukacita

Semua orang ingin merasakan sukacita! Hari ini kita merayakan Tuhan Yesus Kristus, itulah kenapa kita berkumpul setiap Minggu. Tentu saja kita harapkan ibadah ini membawa sukacita. Semua yang sudah bekerja keras dan mempersiapkan Ibadah ini, Saya rasa tidak ada orang yang tidak ingin yang dilakukannya berakhir tanpa sukacita.

Tetapi saya ingin berbagi dengan Jemaat tentang suatu sukacita yang melebihi dari sukacita ketika kita berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sukacita yang tidak selesai ketika ibadah ini selesai. Sukacita yang bisa bertahan melebihi waktu-waktu yang terhitung. Sukacita yang bisa bertahan selama-lamanya.

Bertemu Yesus = PERJUMPAAN yang mengubah hidup

Ada satu cerita mengenai pertemuan antara pria dan wanita, tentu saja yang sering nonton drama Korea sangat mengerti tentang ini. Tetapi kisah ini bukan sekedar drama, kisahnya  berlanjut seperti ini: Wanita itu ternyata memiliki status atau derajat yang lebih rendah dari prianya. Sehingga seharusnya mereka tidak boleh bertemu, apalagi berbicara satu sama lain. Jemaat harus ingat bahkan sekarang pun kasus seperti ini masih ada di masyarakat, ketika masyarakat membandingkan status sosial seseorang.

Setelah berbincang untuk beberapa lama tiba-tiba sang pria ini mengejutkan wanita yang jadi lawan bicaranya dengan berkata: “Aku tahu apa yang kamu sembunyikan.” Wanita ini terkejut. Saya percaya Jemaat juga akan terkejut jika berbincang dengan seseorang yang baru kenal dan kemudian dia bilang dia tahu rahasia kita. Apakah orang ini mentalis atau selebritis? DIA adalah Yesus!

Mari kita buka aja di Yohanes 4:5-42. Pada ayat-ayat itu diceritakan mengenai pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria. Mungkin ada beberapa dari Jemaat yang berharap saya akan menyampaikan kisah motivasional. Iya betul saya percaya Firman Tuhan dapat memotivasi kita, tetapi saya juga percaya pemberitaan Firman Tuhan adalah tentang sebuah PERJUMPAAN. Sebuah pertemuan yang mengubahkan hidup!

Perjumpaan yang tidak mengenal batasan

“Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu”

Kita kembali kepada kisah di Yohanes 4. Pada awal cerita saya menyampaikan tentang perjumpaan seorang pria (Yesus) dengan seorang wanita (perempuan Samaria) yang berbeda status. Biar saya jelaskan sedikit mengenai ini. Kalau Jemaat tahu sedikit mengenai latar belakang kisah dalam Alkitab. Orang-orang Yahudi itu sangat membenci orang Samaria. Mereka menganggap bahwa orang Samaria bukan orang Israel asli.

Karena memang orang Samaria adalah keturunan campuran, antara nenek moyang orang Israel dengan keturunan bangsa-bangsa lain atau biasa disebut bangsa kafir (penyembah berhala). Saking bencinya orang-orang Yahudi tidak sudi melangkahkan kaki untuk melewati daerah Samaria. Menariknya Yesus adalah keturunan orang Yahudi, ayah dan ibunya adalah orang Yahudi. Namun di ayat 3-4 dikatakan IA meninggalkan Yudea dan melintasi daerah Samaria dengan sengaja!

Apa yang jemaat bisa pelajari disini adalah, betapapun engkau merasa bahwa engkau tinggal di “kawasan” yang tidak berharga, kawasan yang dijauhi oleh orang-orang, mungkin karena latar belakang keluargamu, mungkin karena latar belakang ekonomimu, mungkin karena kondisi fisikmu. Tuhan Yesus mau datang ke tempatmu. Yesus mau melewati tempat dimana kamu tinggal. Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu: Jangan takut, ini AKU, Aku tidak akan menghukummu, Aku tidak akan menghakimimu, Aku terima kamu apa adanya. Yohanes 8:11.

Kronologi Kasih Karunia

Sebenarnya kita adalah mahluk yang penuh dengan kasih karunia Allah. Sebelum DIA menciptakan kita, DIA menyediakan seluruh yang dibutuhkan untuk eksistensi manusia sebelum tanganNYA sendiri yang membentuk dan menjadikan kita, sesuatu yang tidak bisa kita lakukan sendirian. Kasih karunia yang dirasakan Adam, ditunjukkan juga kepada Nuh, kemudian pada Abraham. Jika dahulu kasih karunia itu dikhususkan untuk keturunan Abraham, yaitu bangsa Israel. Sekarang kasih karunia itu tercurah untuk semua kita, Israel rohani.

Pola pikir yang lama

Pola pikir yang lama adalah pikiran /keadaan manusia yang hanya terbatas pada kemampuan manusia akan diubahkan oleh Firman. Semua yang berjumpa dengan Yesus selalu diubahkan, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang hilang pengharapan, kembali melihat masa depan. Dalam kisah perempuan di Samaria Yesus kemudian berbicara dengan wanita ini, kata-kata Yesus adalah Firman (Yohanes 1:14), yang dapat mengubah pola pikir wanita ini.yang terbatas.

Pola pikir yang baru

  1. Yesus memperkenalkan tentang air hidup, disini saya akan jelaskan tentang sukacita surga. Air yang ketika kita minum tidak akan haus lagi, Yesus melepaskan kita dari kelemahan kita, masa lalu, penghakiman dan kutuk yang dijatuhkan atas kita, pikiran negatif yang membelenggu, karena Yesus = kebenaran sejati & absolut yang membenarkan dan membebaskan.
  1. Yesus mengetahui masalah dan dosa wanita ini, namun IA tidak menghakiminya. He just reveal the truth. Karena DIA lah kebenaran dan dikatakan kebenaran sejati akan memerdekakan kamu. Yohanes 8:36. Momen (singkat) untuk selamanya: Yesus adalah agen / katalis perubahan hidup.
  1. Wanita ini menjadi begitu percaya dia lari meninggalkan Yesus karena sukacita yang timbul dalam dirinya. Dia kemudian menceritakan kepada seisi kampungnya tentang Yesus. Bayangkan hanya sekali pertemuan yang mendalam yang membekas, bisa mengubah wanita yang bersuami banyak ini, menjadi pemberita Injil (kabar baik) hanya dalam sehari.

“Pertemuan dengan pembawa Sukacita surga akan membawa perubahan dalam hidup.”

Sudah Selesai

For every beginning has an end.”

Untuk segala sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf alphabetical yang biasa kita kenal).


Misalnya saja dalam rangkaian minggu penciptaan yang tertulis di Kejadian 1. Ada awal dan ada akhir dari rangkaian itu, yang akhir kita sebut sebagai hari Sabat. Pada masa Perjanjian Lama ini adalah hari Sabtu, dan sekarang di masa Perjanjian Baru itu adalah hari Minggu.


Ketika bicara tentang awal penciptaan banyak “orang-orang pintar semacam ilmuwan” yang tidak percaya dan berusaha membuktikan sebaliknya. Ada yang disebut “partikel tuhan” atau secara ilmiah mereka menyebutnya “Higgs boson” dan secara singkat itu adalah partikel yang menyusun segala sesuatu benda di dunia. Tetapi pastilah mereka akan gagal karena mereka sudah menutup mata mereka bahwa Allah adalah yang pertama dan pencipta segalanya. Segala sesuatu juga akan berakhir olehNYA.


Kita mengatakan “It is done” ketika kita sudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan “it is finished”. Done atau finished itu sinonim dengan kata-kata dalam bahasa Inggris: complete, perfect, good. Semua definisi yang saya sebutkan di kalimat terakhir itu menariknya tergambar dalam 3 ayat-ayat yang berurutan di Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1-2.

Good.

– Kejadian 1:31.

Finished.

– Kejadian 2:1.

Complete.

– Kejadian 2:2.


Apa makna dari yang tertulis di lembar pertama Alkitab kita ini?


Allah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang final, sehingga kita bisa berkata bahwa teori evolusi itu tidak Alkitabiah.
Kita, manusia, ciptaan Allah, adalah ciptaan yang sempurna (Kejadian 1:27) dan kita diciptakan untuk suatu tujuan (ayat 28).
Karena itulah bahkan ketika manusia jatuh, Allah langsung merencanakan penebusan. Kejadian 3:15.


Manusia berharga di mata Tuhan, bahkan bagi mereka yang dipilih dan dipanggil dalam rencana Allah (seperti bangsa Israel dan juga bagi kita Israel Rohani) Allah mengatakan bahwa kita: “berharga di mataNYA, mulia, dikasihi, dan mendapat jaminan perlindungan. Yesaya 43:4.

You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

Kembali pada ibadah kita, mungkin ada pertanyaan mendasar, mengapa Yesus harus berkorban? Gembala Jemaat GPdI Mahanaim di Tegal pernah menyampaikan hal ini, dengan analogi cerita perumpamaan Yesus di Lukas 10:25-37.

Sejak kejatuhan manusia, manusia ditentukan untuk mati. Kita lahir untuk mati! Iblis mendapat kesempatan untuk merampok kita habis-habisan. Keunggulan, keistimewaan dan kemuliaan manusia mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika tidak ada juruselamat, maka kita pasti mati. Mati disini baik secara:

  • Jasmani. Maksudnya dengan makin singkatnya waktu hidup, dari Kejadian 6:3 (sampai dengan 120 tahun) hingga Mazmur 90:10 (hanya 70 sampai 80 tahun saja).
  • Rohani (masuk di dalamnya aspek Jiwa juga). Maksudnya ketika manusia menjadi fasik (jahat) maka ujung jalannya adalah kebinasaan. Mazmur 1:6.

Untuk menjadi juruselamat dunia, Yesus harus mati! Mengapa? Untuk menggantikan kita yang harusnya mati. DIA mati supaya kita hidup. Gambarannya adalah seperti korban di Perjanjian Lama (Imamat 16:34) perlu dikorbankan setiap tahun untuk pendamaian. Namun itu semua digenapi dengan korbanNYA yang menjadi penanda suatu Perjanjian Baru. Korban yang sempurna, sekali untuk selamanya. Ibrani 9:28.

Jadi ketika Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30) berarti misinya sudah selesai, dosa tidak lagi “menjajah” hati manusia. Penghukuman yaitu maut yang diakibatkan dosa tidak lagi jadi bagian kita. Roma 8:1-2.

Sekarang, bagaimana dengan dirimu?
– Apakah dirimu masih dipenuhi rasa bersalah?
– Apakah kamu masih belum bisa lepas dari perbuatan dosa?
– Apakah kamu masih berhubungan dengan roh-roh lain yang mengikatmu?
– Apakah kamu masih sementara mencari kebenaran?
– Apa yang bisa Yesus tawarkan kepadamu hari ini adalah, apakah kamu mau percaya?

Ketika Yesus berkata “sudah selesai” berarti iblis sudah tidak bisa menuntut kita lagi. Hukuman itu dilalukan (Passover/Pesakh/Paskah) dari kita ketika kita di dalam Yesus. Bagaimana bisa kita hidup di dalam Yesus? Apakah itu berarti tinggal di dalam gereja? Bukan, ketika kita hidup di dalam Yesus artinya:

  • Percaya. Yohanes 3:18. DIA sudah memberikan fasilitas untuk kita bisa menjadi utuh (complete) dan baik (good), setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
  • Hidup benar. Yohanes 3:21. Berarti hidup menghindari dosa. Ingat Yesus menjadi dosa bukan karena DIA berdosa. Demikian kita dibenarkan bukan karena kita sudah benar, tetapi karena kebenaran Allah yang “diberikan” pada kita. Masakan kita mau mempermainkan pemberian itu dengan hidup tidak bertanggungjawab. Masakan kita mau disebut “orang yang tidak tahu untung, sudah ditolong, tetapi malah menyalibkan Yesus lagi”.
  • Datang pada terang yaitu DIA. Yohanes 8:12. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak menyembunyikan apapun. Semuanya terbuka, dan dia senang dalam terang. Tetapi sebaliknya mereka yang hidup di gelap, suka menyembunyikan hidupnya, dan menjauh dari terang.

GodblesS

JEFF

Valentine: Are you a slave?

Mari kita mulai dengan Fun Fact: Tahukah Anda bahwa menurut survei Reader’s Digest, 57% orang yang sadar ada dalam hubungan yang tidak menyenangkan, tetap bisa melihat pasangannya itu menarik? Apa kamu salah satunya?

Kalau kita bicara tentang Valentine, saya selalu teringat dengan salah satu versi sejarah alasan hari Valentine dirayakan sebagai hari “kasih sayang.”

Dahulu ada seseorang yang bernama Valentinus yang bertugas untuk menikahkan pasangan-pasangan. Dia hidup dibawah pemerintahan Kaisar Klaudius II yang saat itu mengambil kebijakan bahwa prajurit yang baik adalah prajurit jomblo, jadi pernikahan dianggap sebagai pelanggaran untuk laki-laki muda di masa pemerintahannya.

Tetapi Valentinus tetap menikahkan pasangan-pasangan muda secara diam-diam. Ketika tindakan itu ketahuan, maka dia harus membayar dengan nyawanya.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa hari Valentine adalah momen mengingat atau merayakan seseorang yang rela berkorban untuk orang lain.

Kalau saya bilang berkorban, apa yang ada di pikiran Anda? Setuju tidak kalau saya bilang bahawa berkorban adalah kehilangan sesuatu untuk keuntungan/kebaikan bagi orang lain?  

It is one man’s loss for another man’s gain.”

Ketika saya pakai istilah “man” disini bukan sedang mengacu kepada gender laki-laki, tetapi ini mengacu kepada kedua gender, baik pria maupun wanita. Jadi ini sifatnya timbal-balik atau resiprokal.

Jadi mungkinkah seseorang yang memahami bahwa “cinta adalah berkorban” kemudian menjadi “bucin” alias budak cinta? Bisa saja, ketika dia memilih pasangan yang salah. Pasangan yang mengambil banyak tetapi tidak memberi banyak juga adalah orang yang “mau menang sendiri,” ini istilah yang dari dulu kita dengar.

Sayangnya ada aja kan orang yang seperti ini? Alasannya sungguh klasik, karena “triji” maksudnya 3G (Gold, Glory, Guys/Girls).

Gold sudah cukup jelas kan. Kalau “ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang” kamu jelas harus berpikir ulang tentang menjadikan “dia” pasanganmu.

Glory bicara tentang status. Kamu siapa, anak siapa, kerja dimana, punya koneksi kemana-mana, bunga Sekolah, bunga kampus, bunga apapun. Saya percaya status itu penting, tapi tidak sepenting bagaimana kamu diperlakukan sama calon pasangan atau pasanganmu.

Ingat analogi wanita berasal dari tulang rusuk kan? Bukan tulang tengkorak yang di atas, atau tulang kering yang di bawah, tetapi tulang yang di samping, yang sepadan.

Guys/girls bicara banyak tentang masalah fisik. Tentu saja saya tahu kalau “hati itu bisa berubah, tapi muka itu mutlak, tak berubah.” Cuma kita harus sadar, pada akhirnya kamu akan menikahi sahabat berbagimu.

Ini bukan kasus “pren-makan-pren” atau kasus “friend-zone” itu nanti buat Valentine tahun depan. Tapi begini loh, kamu akan menikahi seseorang yang akan berbagi banyak hal sama kamu. Pasangan atau pernikahan itu bukan melulu tentang hubungan seksual. Coba kamu dengar wawancara Alm.B.J.Habibie tentang istrinya, ketika istrinya meninggal dunia duluan, yang dia kangeni adalah berbicara, berbagi.

“Jeff, pernikahan masih jauh lah, saya kan millennials!” Okay, jadi maksudnya sekarang kamu mau coba memuaskan “nafsu bercinta” dan mengabaikan studi dan pekerjaan kamu? Sayang banget ketika kamu hidup sembarangan, akan ada orang lain yang ambil “posisi” kamu, “peran” kamu, dan “kesempatan” yang harusnya buat kamu dalam hidup ini.

Kita adalah pejuang-pejuang nilai sebenarnya dari Valentine’s Day kali ini. Saya lihat ada kata-kata dalam Bahasa Inggris yang jadi nilai sebenarnya dari cinta.

Love is patient, Love is kind, love never fails, love always protects, love isn’t jealous, love always trusts.

JEFF  

COURAGE FROM GOD (Luke 1:37)

What do you afraid of?

What do you scare of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life-changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

For with God nothing shall be impossible.

Nothing is impossible with God (Message Bible Translation).

Mary, like other human beings, also experienced fear in her life. And I believe every one of us who come to this place also has “fear” and have something that we are afraid of. For some, it could be a fear of talking to someone new or maybe another kind of fear. It could be of animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

Let us go to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly what you fear something, but you choose not to give up on your fear. Courage itself could be an act of physical courage, moral courage, or psychological courage.

If you read our theme verse, in the Gospel according to Luke. We can learn a courageous act from Mary’s life story.It was started when she had the visitation from an angel, more details in Luke 1:26-38 (we can find parallel story also in Gospel according to Matthew). When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being committed to someone means you must be courageous. It’s easy to grab (or even pay) someone who you find attractive. But it’s hard, it needs the courage to keep yourself from doing that and committed to one person. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not cool”. Matthew 16:26. Spiritually we are committed to our life-partner, Jesus.

Mankind is a unique species. They are doing a lot of horrendous things for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The devil will try that with your family, with your close friends, with your significant others. However, remember this, an act of love (forgiving, admonishing, correcting, staying) needs a courageous heart.

Talking about a courageous heart, I can’t stop imagine Joseph, Mary’s fiancé. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an insta-picture with the caption: “all women are cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed-door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are a courageous person.

In such a condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen to this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who encouraged Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story of the first Christmas that I just told you in the last few minutes. But now maybe you have this guilty feeling over your life because you know that you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth nearly 2000 years ago.

Is it possible for Him to forgive my huge mistakes? His coming is for the “sick” not for the “righteous healthy one.” Matthew 9:12.

Everything is possible because He is the Maker, the Source…

…and now He is standing right in front of your heart.

He says, “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite the Holy Spirit to guide you and to give you the courage that you need.

ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Rut ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

Mengasihi Tuhan, mengasihi sesama.

“Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Yohanes 17:26.

“Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1Korintus 8:3.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40. 

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi ketertarikan terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Disadari atau tidak kasih menghasilkan dampak besar dalam segala sisi kehidupan kita, termasuk hal-hal yang tadi disebutkan.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8. Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

“Kalau dia tidak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia tidak setampan atau secantik ini dan itu.”

Mengertikah Anda tentang pernyataan ini, love is not about what you will get, but what you will give. Maksud saya mengatakan ini dalam konsep cinta secara universal. Bukan hanya romansa saja.

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love.

Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berikan kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka.

So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya ambil contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

Jika sekarang Anda mengerti bahwa Allah begitu mengasihi Anda dan Kasih Allah berdampak luar biasa bagi Anda. Pertanyaan yang menyertai itu adalah: Bagaimana caranya memakai Kasih Allah yang saya rasakan sebagai bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan kabar baik, untuk memberi dampak bagi jiwa-jiwa di luar sana?

Dengan memahami misi Yesus kepada murid-muridNYA. Yohanes 17:17-21. Kita diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus sudah lakukan, termasuk memberitakan tentang DIA. Ayat 20. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran.

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan paralel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4.

Menjadi dampak dalam kehidupan orang lain dimulai dengan kepedulian. Ini bukan sesuatu yang rumit, untuk menjadi dampak tidak  butuh keahlian khusus, tetapi Anda butuh Roh Kudus.

GodblesS

JEFF

SESSION-6: I.M.P.A.C.T for Thanksgiving Dinner

Happy Thanksgiving all. It is a good time to reflect on God’s goodness in our life. His goodness has impacted your life as Paul testified to Timothy in his letter. 1Timothy 1:12-16. Because of this, you want others to know Him in the hope that there will be a domino effect, or maybe more precisely, a chain reaction that impacted many lives. But there is one hindrance to let others know, you are afraid.

I don’t want to be judgmental and let your spirit down at the end of these I.M.P.A.C.T sessions. But I want you to see what Paul had suggested resolving this situation. Philippians 4:6-7. You don’t have to be worried all the time. It won’t take you anywhere, like a hamster who runs in a spinner wheel or a person sitting in a rocking chair.

So where do these worries come from? It is from the desire to have control of everything including your future. Jesus said worrying about your future will only paralyze you in the present. Matius 6:25-34. So if you have already learned about Intimacy, Maturity, Persistence, Action, Character, and Transformation, now is the time not to worry about those things, but give thanks for the opportunity. Make sure that today will be better than yesterday, and tomorrow will be better than today.

Don’t be afraid, you have Jesus by your side. He had started the good work in you, He will finish that as well. Philippians 1:6. For this every time you come to the Church, you will have Psalmist’s attitude, in Psalms 100:4.