HAMBA TUHAN DAN JEMAAT BIASA

Saya rasa Anda pasti pernah mendengar ungkapan, “Saya kan hanya jemaat biasa, bukan hamba Tuhan…” Kemudian ini menjadi alasan untuk hidup dengan standar yang dibedakan. “Kalau hamba Tuhan harus suci, saya tidak perlu suci-suci amat, kan saya cuma jemaat.”

Jemaat Tuhan, memang sering dalam kehidupan berjemaat kita mengelompokkan orang-orang yang memang hidup sepenuh waktu dalam aktivitas Gereja disebut sebagai “hamba Tuhan.” Kemudian mereka yang tidak hidup sepenuh waktu di Gereja dan tidak melayani disebut sebagai “jemaat biasa.”

Namun demikian ada 3 bagian di dalam surat dari Rasul Petrus dimana sebenarnya semua orang percaya diminta untuk memiliki standar yang sama:

  1. Bayi rohani. 1Petrus 2:2. Perlu diperhatikan yang jadi perhatian adalah “kerinduan untuk yang murni dan rohani,” bukan kondisi “bayi rohani” yang tidak dewasa.  
  2. Batu hidup. 1Petrus 2:5. Kita adalah bagian dari keseluruhan pekerjaan Allah yang lebih besar.
  3. Bangsa yang terpilih – imamat yang rajani – bangsa yang kudus. 1Petrus 2:9. Kita semua yang percaya dipilih, diberi amanat pelayanan, posisi untuk memimpin (bukan jabatan tetapi pengaruh), dan disucikan.

Jadi berhentilah untuk bersembunyi dibalik salah satu kategori, apakah “hamba Tuhan” ataukah “jemaat biasa.” Karena Allah menginginkan kita semua untuk menjadi alat bagi pekerjaan Allah di muka bumi, sampai Yesus datang kembali kali kedua.

GodblesS

JEFF

Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF

Kasih Karunia dalam Kekristenan

— Apa itu kasih karunia?

Kasih Karunia itu sudah hadir sejak mulanya dan membawa segala sesuatu yang baik. Kejadian 1:31. Dengan demikian manusia pun diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Efesus 2:10. Jadi sesuatu yang dimulai baik akan menghasilkan yang baik pula. Kasih karunia memulai sesuatu yang baik, kasih karunia akan mengakhiri juga dengan baik. Wahyu 22:3 (pemulihan total dari kondisi manusia di Kejadian 3:17), Wahyu 22:13.

— Bagaimana mereka yang belum mengenal kasih karunia Allah?

Setiap orang yang lahir di dunia hadir karena kasih karunia Allah. Namun tentang mengenal kasih karunia itu dibutuhkan berita yang disampaikan kepada semua orang di dunia. Beritanya disebut Injil yang berarti kabar baik. Lukas 4:18. Pembawa berita itu melakukan sesuatu yang indah dengan menempuh halangan dan rintangan untuk memberitakannya. Yesaya 41:27. Pendengarnya diharapkan percaya, kemudian berseru kepada Tuhan, dan akhirnya menerima keselamatan. Roma 10:13-14.

Dari penjelasan diatas, satu-satunya orang yang belum mengenal kasih karunia Allah adalah mereka yang belum mendengar Injil. Mereka merasakan kasih karunia, mengalaminya, tetapi tidak mengenalnya. Sehingga yang terjadi adalah mereka bisa mendapatkan dan mencapai semua hal (Kejadian 11:6), namun bukan keselamatan. Keselamatan yang dimaksud adalah kehidupan kekal bersama Yesus. Yohanes 14:1-3, 3:15-17.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa dengan melihat alam ciptaan saja sebenarnya manusia sudah dapat memahami penyataan kasih karunia Allah, sehingga tidak ada seorangpun bisa berdalih bahwa itu belum dinyatakan kepada mereka. Roma 1:18-20. Bagi mereka yang belum mendengar tentang Yesus maka arah iman percaya mereka kepada Sang Pemberi kasih karunia. Seperti apa yang dilakukan keturunan Adam yang sudah tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, mereka dibenarkan karena iman.

Contoh dari mereka diantaranya ada di zaman Enos. Kejadian 4:26. Atau di zaman Nuh. Kejadian 6:8-9. Juga di zaman Ayub (yang dipercaya hidup satu zaman dengan Abram, sebelum kemudian jadi Abraham). Ayub 1:1. Ketiga contoh tokoh ini memanggil nama Tuhan, hidup saleh dan takut akan Tuhan, jauh sebelum Yesus dinyatakan sebagai Tuhan yang menjadi manusia. Sehingga keselamatan dalam nama Tuhan Yesus adalah keselamatan yang sama jika orang beriman kepada Sang Pemberi kasih karunia.

Kejadian 5:24, Henokh percaya kepada kasih karunia Allah, dia tidak mengalami kematian. Oleh penulis Ibrani ia disebut “berkenan kepada Allah”. Ibrani 11:5. Perkenanan Allah ada atas orang yang percaya kepadaNYA, sedangkan mereka yang menolak untuk percaya, hukuman sudah tersedia. Yohanes 3:18. Hal ini bukan karena Allah menginginkan itu, tetapi ini dijelaskan di ayat-ayat berikutnya (ayat 19-21). Jika seseorang menolak terang maka yang didapatkannya adalah gelap, sama seperti hukum fisika bahwa kegelapan adalah ketiadaan terang.

Percayalah dan datanglah pada Sang Kasih Karunia (Yohanes 1:17), Sang Terang (Yohanes 12:46).

GodblesS
JEFF

Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

Valentine: Are you a slave?

Mari kita mulai dengan Fun Fact: Tahukah Anda bahwa menurut survei Reader’s Digest, 57% orang yang sadar ada dalam hubungan yang tidak menyenangkan, tetap bisa melihat pasangannya itu menarik? Apa kamu salah satunya?

Kalau kita bicara tentang Valentine, saya selalu teringat dengan salah satu versi sejarah alasan hari Valentine dirayakan sebagai hari “kasih sayang.”

Dahulu ada seseorang yang bernama Valentinus yang bertugas untuk menikahkan pasangan-pasangan. Dia hidup dibawah pemerintahan Kaisar Klaudius II yang saat itu mengambil kebijakan bahwa prajurit yang baik adalah prajurit jomblo, jadi pernikahan dianggap sebagai pelanggaran untuk laki-laki muda di masa pemerintahannya.

Tetapi Valentinus tetap menikahkan pasangan-pasangan muda secara diam-diam. Ketika tindakan itu ketahuan, maka dia harus membayar dengan nyawanya.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa hari Valentine adalah momen mengingat atau merayakan seseorang yang rela berkorban untuk orang lain.

Kalau saya bilang berkorban, apa yang ada di pikiran Anda? Setuju tidak kalau saya bilang bahawa berkorban adalah kehilangan sesuatu untuk keuntungan/kebaikan bagi orang lain?  

It is one man’s loss for another man’s gain.”

Ketika saya pakai istilah “man” disini bukan sedang mengacu kepada gender laki-laki, tetapi ini mengacu kepada kedua gender, baik pria maupun wanita. Jadi ini sifatnya timbal-balik atau resiprokal.

Jadi mungkinkah seseorang yang memahami bahwa “cinta adalah berkorban” kemudian menjadi “bucin” alias budak cinta? Bisa saja, ketika dia memilih pasangan yang salah. Pasangan yang mengambil banyak tetapi tidak memberi banyak juga adalah orang yang “mau menang sendiri,” ini istilah yang dari dulu kita dengar.

Sayangnya ada aja kan orang yang seperti ini? Alasannya sungguh klasik, karena “triji” maksudnya 3G (Gold, Glory, Guys/Girls).

Gold sudah cukup jelas kan. Kalau “ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang” kamu jelas harus berpikir ulang tentang menjadikan “dia” pasanganmu.

Glory bicara tentang status. Kamu siapa, anak siapa, kerja dimana, punya koneksi kemana-mana, bunga Sekolah, bunga kampus, bunga apapun. Saya percaya status itu penting, tapi tidak sepenting bagaimana kamu diperlakukan sama calon pasangan atau pasanganmu.

Ingat analogi wanita berasal dari tulang rusuk kan? Bukan tulang tengkorak yang di atas, atau tulang kering yang di bawah, tetapi tulang yang di samping, yang sepadan.

Guys/girls bicara banyak tentang masalah fisik. Tentu saja saya tahu kalau “hati itu bisa berubah, tapi muka itu mutlak, tak berubah.” Cuma kita harus sadar, pada akhirnya kamu akan menikahi sahabat berbagimu.

Ini bukan kasus “pren-makan-pren” atau kasus “friend-zone” itu nanti buat Valentine tahun depan. Tapi begini loh, kamu akan menikahi seseorang yang akan berbagi banyak hal sama kamu. Pasangan atau pernikahan itu bukan melulu tentang hubungan seksual. Coba kamu dengar wawancara Alm.B.J.Habibie tentang istrinya, ketika istrinya meninggal dunia duluan, yang dia kangeni adalah berbicara, berbagi.

“Jeff, pernikahan masih jauh lah, saya kan millennials!” Okay, jadi maksudnya sekarang kamu mau coba memuaskan “nafsu bercinta” dan mengabaikan studi dan pekerjaan kamu? Sayang banget ketika kamu hidup sembarangan, akan ada orang lain yang ambil “posisi” kamu, “peran” kamu, dan “kesempatan” yang harusnya buat kamu dalam hidup ini.

Kita adalah pejuang-pejuang nilai sebenarnya dari Valentine’s Day kali ini. Saya lihat ada kata-kata dalam Bahasa Inggris yang jadi nilai sebenarnya dari cinta.

Love is patient, Love is kind, love never fails, love always protects, love isn’t jealous, love always trusts.

JEFF  

COURAGE FROM GOD (Luke 1:37)

What do you afraid of?

What do you scare of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life-changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

For with God nothing shall be impossible.

Nothing is impossible with God (Message Bible Translation).

Mary, like other human beings, also experienced fear in her life. And I believe every one of us who come to this place also has “fear” and have something that we are afraid of. For some, it could be a fear of talking to someone new or maybe another kind of fear. It could be of animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

Let us go to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly what you fear something, but you choose not to give up on your fear. Courage itself could be an act of physical courage, moral courage, or psychological courage.

If you read our theme verse, in the Gospel according to Luke. We can learn a courageous act from Mary’s life story.It was started when she had the visitation from an angel, more details in Luke 1:26-38 (we can find parallel story also in Gospel according to Matthew). When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being committed to someone means you must be courageous. It’s easy to grab (or even pay) someone who you find attractive. But it’s hard, it needs the courage to keep yourself from doing that and committed to one person. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not cool”. Matthew 16:26. Spiritually we are committed to our life-partner, Jesus.

Mankind is a unique species. They are doing a lot of horrendous things for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The devil will try that with your family, with your close friends, with your significant others. However, remember this, an act of love (forgiving, admonishing, correcting, staying) needs a courageous heart.

Talking about a courageous heart, I can’t stop imagine Joseph, Mary’s fiancé. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an insta-picture with the caption: “all women are cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed-door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are a courageous person.

In such a condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen to this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who encouraged Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story of the first Christmas that I just told you in the last few minutes. But now maybe you have this guilty feeling over your life because you know that you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth nearly 2000 years ago.

Is it possible for Him to forgive my huge mistakes? His coming is for the “sick” not for the “righteous healthy one.” Matthew 9:12.

Everything is possible because He is the Maker, the Source…

…and now He is standing right in front of your heart.

He says, “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite the Holy Spirit to guide you and to give you the courage that you need.

HOW MUCH MORE (Betapa Lebih Lagi)

Apakah Anda bisa menebak kira-kira di ayat apa Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini di dalam Injil? Baiklah kalau Anda tidak bisa menebak dalam Bahasa Inggris, bagaimana kalau kita coba dengan Bahasa Yunani? “Posos” (how much – betapa lebih) dan “mallon” (more – lagi). Baik kalau masih bingung memang di dalam Terjemahan Baru yang rata-rata kita miliki dipakai kata “apalagi”, mari kita buka di dalam Matius 7:11. Menariknya “hal-hal yang baik” dari ayat di Matius, dituliskan sebagai “Roh Kudus” di Lukas 11:13. Jadi dari ayat-ayat ini dengan kata “apalagi” Yesus ingin membuat kontras antara bapa di dunia dan Bapa di Surga. Jika bapa di dunia memberi hal-hal dunia, Bapa di Surga memberi hal-hal rohani.

Mengenai bapa di dunia, kita mengerti bahwa mereka memiliki anak berdasarkan hubungan suami-istri seperti yang digambarkan di Kejadian 4:1. Pada ayat ini kata “anak” dipakai kata Ibrani: iysh (yang artinya laki-laki). Sedangkan mengenai Bapa di Surga, IA juga memiliki anak-anak seperti dituliskan di 1Yohanes 3:1, dan kata anak yang dipakai adalah kata Yunani: teknon (gambaran anak secara keseluruhan).

Kita semua adalah anak dari bapa kita di dunia. Bagaimanapun kita tidak bisa menutupi fakta ini, betapapun tidak sempurnanya bapa kita di dunia, mereka adalah “alat Tuhan” untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saya akan memberi 2 contoh mengenai bapa di dunia yang ditulis di Alkitab yang menunjukkan ketidaksempurnaan.

  1. Isai, bapa dari Daud. 1Samuel 6:11 (tidak menganggap anak bungsunya)
  2. Yusuf, “bapa” dari Yesus. Matius 13:55 (tidak memiliki status sosial, dan banyak komentator Alkitab percaya ia mati muda)

Meskipun bapa di dunia tidak sempurna, rancangan Bapa di Surga sempurna. DIA tidak akan membiarkan kita hidup tanpa tujuan dan tanpa potensi.

Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita juga adalah anak-anak Allah karena iman kita kepada Yesus Kristus. Galatia 3:26. Karena kita adalah anak Allah, kita juga adalah ahli waris. Betapa luar biasa. Roma 8:17. Tetapi kita juga harus sadar bahwa dalam janji itu ada bagian kita dalam penderitaanNYA. Jika Yesus harus menderita sebelum masuk dalam kemuliaanNYA (Lukas 24:26) mengapa kita harus takut? Roma 8:18. Kuatkan hati kita itu yang perlu kita lakukan. Yohanes 16:3.

Jika bapa di dunia tahu apa yang baik untuk anaknya, APALAGI Bapa di Surga. DIA sangat memerhatikan kita.

GodblesS

JEFF

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

INTIMATELY KNOWN

Paskah adalah dasar dari iman Kristen kita, jika Yesus tidak mati dan bangkit maka sia-sialah iman percaya dan pengharapan kita.

Paskah berasal dari kata “pesakh” yang dalam bahasa Inggris dipakai kata “Passover”. Kita yang seharusnya dihukum, dilewatkan dari hukuman itu karena pengorbanan Yesus. Pengorbanan Yesus membuat kita dibenarkan, sekali lagi ini karena pengorbanan Yesus, bukan karena perbuatan kita. Oleh kasih kita dibenarkan, kita diperdamaikan, sehingga tidak perlu menanggung konsekuensi dari dosa-dosa kita. 1Yohanes 4:10. Inisiatifnya datang dari Allah, karena Allah begitu mengasihi, DIA membuat rencana pendamaian ini dengan mengutus Yesus.

Kita hanya bisa menjadi dekat dengan pihak yang sudah diperdamaikan dengan kita. Ini sesuai dengan apa yang tertulis di Efesus 2:13, oleh darah Kristus kita yang dahulu jauh kini menjadi dekat.

“Intimately Known”  memiliki arti bahwa karena pengorbanan Yesus kita kini dikenal Allah (known adalah bentuk ketiga/verb-3 dari kata know atau “kenal”). Namun lebih jauh dari itu saya melihat ada dua kata dalam bahasa Inggris yang muncul dalam pikiran saya saat mendengar frase “intimately known”. Kata-kata itu adalah: close dan understand. Jadi saya akan membangun khotbah saya dari dua kata ini.

CLOSE.

Bagaimana cara untuk bisa menjadi dekat dengan seseorang? Jelas sekali dengan menjalin komunikasi. Anda tidak mungkin bisa dekat dengan “gebetan” tanpa menjalin komunikasi. Mengenai komunikasi untuk menjadi dekat ini tidak bisa berhenti hanya sebatas menyapa. Menyapa itu baik, namun jika tidak berkomunikasi lebih intens, maka komunikasinya tidak akan menjadi mendalam.

Komunikasi ini juga diperlukan jika kita ingin dekat dengan Tuhan. Apalagi disebutkan di 2Korintus 3:17 bahwa Tuhan adalah Roh, tentu saja tidak bisa sekedar kita “menyapa” Tuhan dan berharap kita dekat dengan DIA. Dekat dengan Tuhan berarti kita melangkah kepada keintiman rohani. Hal ini bisa dicapai dengan doa dan penyembahan, karena dengan doa dan penyembahan lah roh manusia dapat berkomunikasi dengan Roh Tuhan.

Mengenai doa, di dalam Mazmur 145:18 dikatakan bahwa Tuhan dekat dengan mereka yang berseru kepadaNYA. Ini adalah bentuk sederhana dari doa, ini seperti berteriak: Tolong! Saya percaya orang tua yang memiliki anak akan sangat peka mendengar anaknya yang berteriak minta tolong. Demikian juga antara kita dengan Allah. Banyak orang Kristen yang merasa tidak bisa berdoa, karena mereka tidak bisa membuat kalimat-kalimat yang panjang dalam doa mereka. Atau, seseorang tidak berdoa karena dia tidak mau menyusahkan Tuhan selama dirinya masih mampu. Padahal Allah dekat dengan mereka yang meminta tolong. Janganlah menjadi sombong rohani dengan merasa bahwa meminta tolong adalah untuk orang-orang yang berjiwa lemah. Yesus sendiri berdoa di saat-saat terakhirnya sebelum ditangkap dan disalibkan. Lukas 22:4.

Bagaimana dengan penyembahan? Mungkin banyak dari Anda yang sudah mengetahui bahwa kata asli yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk penyembahan adalah “proskuneo”. Kata ini disebutkan 60 kali dalam Perjanjian Baru. Salah satu ayat yang memuat kata ini adalah perkataan Yesus di Yohanes 4:23. Kata “proskuneo” sendiri berarti mencium tangan sebagai tanda penundukan, seperti seekor anjing yang menjilat tangan pemiliknya, dan juga digambarkan berlutut dan menunduk sampai muka menyentuh tanah. Sehingga kita kita bisa mengerti bahwa ketika kita menyembah itu adalah bentuk penyerahan total pada Tuhan apapun yang terjadi. Itu dilakukan dalam Roh dan Kebenaran, ini bukan kebiasaan, ini adalah hubungan.

UNDERSTAND.

Bagaimana kita memahami sesuatu atau seseorang jika kita tidak memiliki informasi dan tidak memiliki pengalaman dengan sesuatu atau seseorang tersebut. Allah memahami kita sepenuhnya karena DIA yang menciptakan kita. Mazmur 139:14-16. Tetapi apakah kita memahami DIA? Mengenal itu bukan sekedar mengetahui identitas, tetapi tahu apa yang dikehendaki. Banyak orang mengaku mengenal Tuhan. Tetapi dalam Alkitab dijelaskan bahwa orang yang mengenal Tuhan mereka melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Beberapa diantaranya disebutkan Yesus demikian:

  • Matius 5:47. Mereka yang tidak mengenal Allah berbuat baik, menyapa dan (bahkan di ayat 46, mengasihi) hanya kepada yang melakukan itu kepada mereka yang disebut “saudara”.
  • Matius 6:7. Mereka yang tidak mengenal Allah berdoa untuk dilihat dan sebagai kegiatan agamawi (bandingkan tentang yang saya bahas diatas tentang doa).
  • Matius 6:27-32. Mereka yang tidak mengenal Allah kuatir akan banyak hal dan tidak mengerti prioritas, tetapi berbeda dengan prioritas mereka yang mengenal Allah (ayat 33).

Bagaimana kita memahami Allah jika kita tidak mau mempelajari SURAT CINTA ALLAH? Saya katakana demikian karena Alkitab berbicara tentang Yesus (Yohanes 21:25) dan semua yang tertulis diinspirasi oleh Allah. 2Timotius 3:16.

Tetapi diantara semua yang saya sudah jelaskan, adalah sebuah ironi jika kita tidak dikenal Tuhan. Matius 7:23. Karena itu berbaliklah dari kejahatan-kejahatan yang kita sadar dan minta terang Firman dan Roh untuk mengetahui bahkan kejahatan-kejahatan yang tidak kita sadari. DIA mengasihimu.

GodblesS

JEFF