Mahanaim Q&A (Episode tentang Allah)

Ada dua pertanyaan yang mungkin ada di benak seseorang yang belajar tentang Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:  

  1. Siapakah yang menciptakan Allah?
  2. Darimana datangnya Allah?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kita akan membahas dengan topik “Allah yang Esa dan Benar” dan topik “Keberadaan Allah”.

ALLAH YANG ESA DAN BENAR

Dalam pengakuan iman Gereja Pantekosta di Indonesia disebutkan di poin kedua tentang hal ini: “Kami percaya Allah Yang Maha Esa dan kekal dalam wujud Trinitas : “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, Keesaan namaNya yaitu: “TUHAN YESUS KRISTUS“.[1] Kita percaya pernyataan ini Alkitabiah dan menjadikannya pernyataan pribadi kita juga. Suatu pernyataan disebut Alkitabiah ketika pernyataan itu berkaitan dengan wahyu Tuhan (dalam Alkitab).[2] Hal ini juga sinonim dengan istilah “biblikal”, kata serapan dari Bahasa Inggris “biblical”.[3] Meskipun istilah biblikal lebih spesifik mengacu kepada Alkitab daripada istilah “Alkitabiah” kalau dipandang dari sisi kebahasaan (etimologi).

Dalam Gereja, sering disebutkan mengenai istilah “Anak Allah”. Secara umum dalam kekristenan Anak Allah adalah Yesus. Lukas 3:38. Hal ini sudah ada sejak pengakuan iman dirumuskan oleh Gereja di abad-abad awal, khususnya untuk membedakan pengikut Kristus sejati dengan pengikut ajaran Gnosticism dan Marcionism.[4]  Yesus disebut Anak Allah bukan karena Allah Bapa melahirkan Yesus, namun karena DIA berasal, atau memperjelas pernyataan bahwa IA diutus (oleh Bapa).[5]

Karena itu kita sebenarnya bisa berkata bahwa Allah tidak diperanakkan dan memperanakkan, karena memang Allah adalah Esa. Menarik ketika ada orang-orang yang berusaha menjelaskan bahwa “Allah itu Esa”, dengan menentang konsep “Anak Allah” dalam Alkitab. Padahal jika Anda membaca Markus 12:32 dan Yudas 1:25, maka Anda akan dengan lantang berkata: Amin, DIA Allah yang Esa!

Allah kita juga adalah Allah yang benar. Memang ada usaha-usaha untuk membuat bahwa perkataan-perkataan Yesus seolah-olah mengacu kepada tokoh lain dalam sejarah. Usaha ini jelas terkandung dalam Injil Barnabas (tulisan yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab). Tetapi Philip Jenkins, seorang profesor sejarah dari Baylor University menyatakan bahwa tulisan ini (Injil Barnabas) adalah tulisan tentang Yesus yang dibuat sekitar abad ke-14, jauh sesudah manuskrip Perjanjian Baru ditulis di abad pertama.[6]

Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Dr.Bambang Noorsena, Firman itu menjadi manusia dan sama sekali tidak memisahkan Firman itu dari Allah.[7] Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus. Ini penting untuk kita percaya dengan sungguh, karena akan ada banyak pertentangan tentang Allah yang benar di zaman dimana kebenaran absolut dipertanyakan.

KEBERADAAN ALLAH

Keberadaan Allah menjadi sesuatu yang diperdebatkan khususnya di negara-negara maju. Menariknya hal ini adalah sesuatu yang pada zaman dahulu bukan merupakan perdebatan. Dahulu pengakuan akan adanya Tuhan adalah pengetahuan kolektif dari semua orang dan bangsa. Namun perdebatannya adalah Tuhan/Allah/Dewa yang mana yang lebih kuat. Kita bisa melihat ini di dalam Alkitab pada kisah teror juru minuman agung dari Raja Asyur kepada rakyat dan perwakilan Raja Yehuda, Hizkia.[8]

Doktrin tentang keberadaan Allah menjelaskan siapakah Allah dan bagaimana Allah bisa dikenal manusia. Allah adalah oknum yang sangat berbeda dengan segala hal yang dikenal manusia di alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh DIA, sehingga IA tinggal di luar alam semesta yang kita kenal ini, dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat, dan materi.[9] Keberadaan Allah melebihi segala hal yang kita pikirkan dan mengerti, hal ini sudah menjadi pertanyaan orang-orang sejak zaman Ayub.[10]

Alkitab berusaha menjelaskan bahwa Allah ada dari mulanya, dan bahwa konsep tentang Allah adalah bagian mendasar dari pemikiran manusia. Meninggalkan konsep tentang Allah membuat manusia menjadi irasional. Pada akhirnya manusia menghidupi kehidupan yang tanpa arti dan arah.[11] Meskipun Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah (lihat paragraf pertama), namun ada beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa Allah ada, yang dirangkum oleh Menzies dan Horton (lihat catatan kaki), dari pemikiran Thomas Aquinas di abad pertengahan (abad ke-13):

  1. Argumen Ontologis. Maksudnya adalah penjelasan tentang asal muasal sesuatu. Bahwa jika sesuatu itu sempurna maka ia akan ada dalam kenyataan. Apabila “Sesuatu yang Sempurna” (Perfect Being), yaitu Tuhan, itu tidak nyata, maka IA tidak sempurna. Karena kita percaya Allah itu sempurna, maka pastilah IA nyata.
  2. Argumen Kosmologis. Argumen ini adalah kelanjutan dari argumen sebelumnya. Segala sesuatu itu berasal dari sesuatu yang ada sebelumnya. Maka jika alam semesta ini terus dicari asalnya atau sumbernya, maka akan sampai pada satu “Penyebab Pertama” (First Cause), “Sesuatu” yang dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran yang lain terlebih dahulu.
  3. Argumen Teleologis. Bahwa segala sesuatu itu diciptakan untuk suatu tujuan dengan desain tertentu (by design). Segala sesuatu yang dipelajari manusia dan dibukakan melalui ilmu pengetahuan, membuat kita terkagum akan detil-detil yang dimiliki oleh benda-benda mati yang membentuk dunia ini, dan mahluk-mahluk hidup yang ada di dalamnya. Sehingga kekaguman itu ditujukan kepada desainer awal dari alam semesta ini, Sang Pencipta.
  4. Argumen Moralitas. Bagaimana manusia menilai sesuatu salah atau benar adalah berdasarkan dari “Sang Pemberi Hukum” dari alam semesta. Manusia sadar betul akan adanya hukum moralitas ini, meskipun dipahami berbeda dalam setiap budaya.
  5. Argumen Estetis. Keindahan ini dinilai berbeda oleh manusia satu dengan yang lain, tetapi konsep keindahan ini ada dan manusia mengapresiasinya. Keindahan ini pasti diberikan oleh “IA” yang begitu indah dan penuh kasih.

Kelima argumen diatas akan terlalu lemah untuk berdiri masing-masing. Tetapi kesatuan penjelasan kelimanya meneguhkan apa yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna (Ulangan 32:4, Matius 5:48). IA ada sejak dari mulanya, dan karena DIA-lah segala sesuatu ada (Kejadian 1:1, Yesaya 40:18-22, Yohanes 1:3, Wahyu 22:13). Betapa Allah membuat dan menyiapkan segala sesuatu dengan rancangan yang luar biasa detil (Mazmur 139:14-17, Efesus 1:3-10). Allah menetapkan hukum-hukumNYA dalam hati setiap manusia (Ayub 35:11, Roma 2:14-15), dan kita dapat menikmati segala sesuatu yang baik dan yang indah dari DIA (Kejadian 1:31, Lukas 4:22).

Meskipun demikian ada hal-hal mengenai Allah yang tetap menjadi misteri bagi kita, manusia. Sebab Allah tidak dapat dijelaskan dengan akal pikiran kita.[12] Namun demikian DIA nyata karena apa yang IA ciptakan mengungkapkan keberadaanNYA sebagai Pencipta segalanya.[13] Jika kita memerhatikan inilah yang berusaha Paulus jelaskan kepada jemaat di Roma di dua pasal pertama Surat kepada Jemaat Roma.  

Jadi siapa yang menciptakan Allah? Tidak ada karena IA adalah yang pertama, yang sudah ada pada mulanya. Darimana datangnya Allah? Allah datang dari Surga, IA rela menjadi manusia, yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus.


[1] Pengakuan Iman, https://gpdi.or.id/pages/pengakuan-iman, diakses pada 31-Agustus-2019.

[2] “Alkitabiah”, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/alkitabiah, diakses pada 31-Agustus-2019. Penekanan dalam tanda kurung ditambahkan oleh penulis.

[3] Frederick C. Mish, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary. 11th Edition (Merriam-Webster, 2003), “Biblical.” Logos.

[4] Justo L. Gonzalez, The Story of Christianity, Volume 1: The Early Church to the Dawn of the Reformation (HarperCollins, 2010), 77. Kindle Edition.

[5] Alkitab, Yohanes 16:28 (TB). 

[6] Philip Jenkins, The Many Faces of Christ, The Thousand-Year Story of the Survival and Influence of the Lost Gospels (New York: Basic Books, 2015), 192.

[7] Dr.Bambang Noorsena, Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid, http://bambangnoorsena.com/index/blog/teologi/sekte-unitarian-bukan-kristen-tauhid.html, diakses pada 12-September-2019.

[8] Alkitab, 2Raja-raja 18:33-35 (TB).

[9] Creation Argument for the existence of God, https://youtu.be/8_OC2t7mIWE, diakses pada 14-September-2019.

[10] Alkitab, Ayub 11:7 (TB).

[11] William W. Menzies and Stanley M. Horton, Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective (Springfield: Logion Press, 2012), chap. 2, sec. 3. Kindle Edition.

[12] Brannon Ellis and Mark Ward, eds., The Doctrine of the Triune God in the Lexham Survey of Theology (Bellingham, WA: Lexham Press, 2018), sec. 1: God’s Existence. Logos.

[13] Ellis and Ward, The Doctrine, sec. 1, sub-sec. 1: Proofs of God’s Existence.  

Kemuliaan dan Kesombongan

Mazmur 115:1 (TB) Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!

Saya selalu tersentuh dengan lagu “Sgala Pujian & Syukur” dari Welyar Kauntu. Saya akan copy paste seluruh liriknya disini:

Kau Tuhan yang s’lamatkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan yang pulihkanku, t’rima kasih
Kau Tuhan yang sembuhkanku, t’rima kasih Yesus
Kau Tuhan memberkatiku, t’rima kasih

S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu Yesus
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku

Siapakah kita yang bisa menyombongkan kerja keras, kecerdasan, keindahan fisik kita di hadapan DIA yang jauh melebihi kita. Hanya seorang yang bodoh berani menyombongkan dirinya di hadapan orang banyak.

GodblesS

JEFF

HAMBA TUHAN DAN JEMAAT BIASA

Saya rasa Anda pasti pernah mendengar ungkapan, “Saya kan hanya jemaat biasa, bukan hamba Tuhan…” Kemudian ini menjadi alasan untuk hidup dengan standar yang dibedakan. “Kalau hamba Tuhan harus suci, saya tidak perlu suci-suci amat, kan saya cuma jemaat.”

Jemaat Tuhan, memang sering dalam kehidupan berjemaat kita mengelompokkan orang-orang yang memang hidup sepenuh waktu dalam aktivitas Gereja disebut sebagai “hamba Tuhan.” Kemudian mereka yang tidak hidup sepenuh waktu di Gereja dan tidak melayani disebut sebagai “jemaat biasa.”

Namun demikian ada 3 bagian di dalam surat dari Rasul Petrus dimana sebenarnya semua orang percaya diminta untuk memiliki standar yang sama:

  1. Bayi rohani. 1Petrus 2:2. Perlu diperhatikan yang jadi perhatian adalah “kerinduan untuk yang murni dan rohani,” bukan kondisi “bayi rohani” yang tidak dewasa.  
  2. Batu hidup. 1Petrus 2:5. Kita adalah bagian dari keseluruhan pekerjaan Allah yang lebih besar.
  3. Bangsa yang terpilih – imamat yang rajani – bangsa yang kudus. 1Petrus 2:9. Kita semua yang percaya dipilih, diberi amanat pelayanan, posisi untuk memimpin (bukan jabatan tetapi pengaruh), dan disucikan.

Jadi berhentilah untuk bersembunyi dibalik salah satu kategori, apakah “hamba Tuhan” ataukah “jemaat biasa.” Karena Allah menginginkan kita semua untuk menjadi alat bagi pekerjaan Allah di muka bumi, sampai Yesus datang kembali kali kedua.

GodblesS

JEFF

Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF

Kasih Karunia dalam Kekristenan

— Apa itu kasih karunia?

Kasih Karunia itu sudah hadir sejak mulanya dan membawa segala sesuatu yang baik. Kejadian 1:31. Dengan demikian manusia pun diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Efesus 2:10. Jadi sesuatu yang dimulai baik akan menghasilkan yang baik pula. Kasih karunia memulai sesuatu yang baik, kasih karunia akan mengakhiri juga dengan baik. Wahyu 22:3 (pemulihan total dari kondisi manusia di Kejadian 3:17), Wahyu 22:13.

— Bagaimana mereka yang belum mengenal kasih karunia Allah?

Setiap orang yang lahir di dunia hadir karena kasih karunia Allah. Namun tentang mengenal kasih karunia itu dibutuhkan berita yang disampaikan kepada semua orang di dunia. Beritanya disebut Injil yang berarti kabar baik. Lukas 4:18. Pembawa berita itu melakukan sesuatu yang indah dengan menempuh halangan dan rintangan untuk memberitakannya. Yesaya 41:27. Pendengarnya diharapkan percaya, kemudian berseru kepada Tuhan, dan akhirnya menerima keselamatan. Roma 10:13-14.

Dari penjelasan diatas, satu-satunya orang yang belum mengenal kasih karunia Allah adalah mereka yang belum mendengar Injil. Mereka merasakan kasih karunia, mengalaminya, tetapi tidak mengenalnya. Sehingga yang terjadi adalah mereka bisa mendapatkan dan mencapai semua hal (Kejadian 11:6), namun bukan keselamatan. Keselamatan yang dimaksud adalah kehidupan kekal bersama Yesus. Yohanes 14:1-3, 3:15-17.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa dengan melihat alam ciptaan saja sebenarnya manusia sudah dapat memahami penyataan kasih karunia Allah, sehingga tidak ada seorangpun bisa berdalih bahwa itu belum dinyatakan kepada mereka. Roma 1:18-20. Bagi mereka yang belum mendengar tentang Yesus maka arah iman percaya mereka kepada Sang Pemberi kasih karunia. Seperti apa yang dilakukan keturunan Adam yang sudah tidak dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, mereka dibenarkan karena iman.

Contoh dari mereka diantaranya ada di zaman Enos. Kejadian 4:26. Atau di zaman Nuh. Kejadian 6:8-9. Juga di zaman Ayub (yang dipercaya hidup satu zaman dengan Abram, sebelum kemudian jadi Abraham). Ayub 1:1. Ketiga contoh tokoh ini memanggil nama Tuhan, hidup saleh dan takut akan Tuhan, jauh sebelum Yesus dinyatakan sebagai Tuhan yang menjadi manusia. Sehingga keselamatan dalam nama Tuhan Yesus adalah keselamatan yang sama jika orang beriman kepada Sang Pemberi kasih karunia.

Kejadian 5:24, Henokh percaya kepada kasih karunia Allah, dia tidak mengalami kematian. Oleh penulis Ibrani ia disebut “berkenan kepada Allah”. Ibrani 11:5. Perkenanan Allah ada atas orang yang percaya kepadaNYA, sedangkan mereka yang menolak untuk percaya, hukuman sudah tersedia. Yohanes 3:18. Hal ini bukan karena Allah menginginkan itu, tetapi ini dijelaskan di ayat-ayat berikutnya (ayat 19-21). Jika seseorang menolak terang maka yang didapatkannya adalah gelap, sama seperti hukum fisika bahwa kegelapan adalah ketiadaan terang.

Percayalah dan datanglah pada Sang Kasih Karunia (Yohanes 1:17), Sang Terang (Yohanes 12:46).

GodblesS
JEFF

Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

Valentine: Are you a slave?

Mari kita mulai dengan Fun Fact: Tahukah Anda bahwa menurut survei Reader’s Digest, 57% orang yang sadar ada dalam hubungan yang tidak menyenangkan, tetap bisa melihat pasangannya itu menarik? Apa kamu salah satunya?

Kalau kita bicara tentang Valentine, saya selalu teringat dengan salah satu versi sejarah alasan hari Valentine dirayakan sebagai hari “kasih sayang.”

Dahulu ada seseorang yang bernama Valentinus yang bertugas untuk menikahkan pasangan-pasangan. Dia hidup dibawah pemerintahan Kaisar Klaudius II yang saat itu mengambil kebijakan bahwa prajurit yang baik adalah prajurit jomblo, jadi pernikahan dianggap sebagai pelanggaran untuk laki-laki muda di masa pemerintahannya.

Tetapi Valentinus tetap menikahkan pasangan-pasangan muda secara diam-diam. Ketika tindakan itu ketahuan, maka dia harus membayar dengan nyawanya.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa hari Valentine adalah momen mengingat atau merayakan seseorang yang rela berkorban untuk orang lain.

Kalau saya bilang berkorban, apa yang ada di pikiran Anda? Setuju tidak kalau saya bilang bahawa berkorban adalah kehilangan sesuatu untuk keuntungan/kebaikan bagi orang lain?  

It is one man’s loss for another man’s gain.”

Ketika saya pakai istilah “man” disini bukan sedang mengacu kepada gender laki-laki, tetapi ini mengacu kepada kedua gender, baik pria maupun wanita. Jadi ini sifatnya timbal-balik atau resiprokal.

Jadi mungkinkah seseorang yang memahami bahwa “cinta adalah berkorban” kemudian menjadi “bucin” alias budak cinta? Bisa saja, ketika dia memilih pasangan yang salah. Pasangan yang mengambil banyak tetapi tidak memberi banyak juga adalah orang yang “mau menang sendiri,” ini istilah yang dari dulu kita dengar.

Sayangnya ada aja kan orang yang seperti ini? Alasannya sungguh klasik, karena “triji” maksudnya 3G (Gold, Glory, Guys/Girls).

Gold sudah cukup jelas kan. Kalau “ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang” kamu jelas harus berpikir ulang tentang menjadikan “dia” pasanganmu.

Glory bicara tentang status. Kamu siapa, anak siapa, kerja dimana, punya koneksi kemana-mana, bunga Sekolah, bunga kampus, bunga apapun. Saya percaya status itu penting, tapi tidak sepenting bagaimana kamu diperlakukan sama calon pasangan atau pasanganmu.

Ingat analogi wanita berasal dari tulang rusuk kan? Bukan tulang tengkorak yang di atas, atau tulang kering yang di bawah, tetapi tulang yang di samping, yang sepadan.

Guys/girls bicara banyak tentang masalah fisik. Tentu saja saya tahu kalau “hati itu bisa berubah, tapi muka itu mutlak, tak berubah.” Cuma kita harus sadar, pada akhirnya kamu akan menikahi sahabat berbagimu.

Ini bukan kasus “pren-makan-pren” atau kasus “friend-zone” itu nanti buat Valentine tahun depan. Tapi begini loh, kamu akan menikahi seseorang yang akan berbagi banyak hal sama kamu. Pasangan atau pernikahan itu bukan melulu tentang hubungan seksual. Coba kamu dengar wawancara Alm.B.J.Habibie tentang istrinya, ketika istrinya meninggal dunia duluan, yang dia kangeni adalah berbicara, berbagi.

“Jeff, pernikahan masih jauh lah, saya kan millennials!” Okay, jadi maksudnya sekarang kamu mau coba memuaskan “nafsu bercinta” dan mengabaikan studi dan pekerjaan kamu? Sayang banget ketika kamu hidup sembarangan, akan ada orang lain yang ambil “posisi” kamu, “peran” kamu, dan “kesempatan” yang harusnya buat kamu dalam hidup ini.

Kita adalah pejuang-pejuang nilai sebenarnya dari Valentine’s Day kali ini. Saya lihat ada kata-kata dalam Bahasa Inggris yang jadi nilai sebenarnya dari cinta.

Love is patient, Love is kind, love never fails, love always protects, love isn’t jealous, love always trusts.

JEFF  

COURAGE FROM GOD (Luke 1:37)

What do you afraid of?

What do you scare of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life-changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

For with God nothing shall be impossible.

Nothing is impossible with God (Message Bible Translation).

Mary, like other human beings, also experienced fear in her life. And I believe every one of us who come to this place also has “fear” and have something that we are afraid of. For some, it could be a fear of talking to someone new or maybe another kind of fear. It could be of animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

Let us go to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly what you fear something, but you choose not to give up on your fear. Courage itself could be an act of physical courage, moral courage, or psychological courage.

If you read our theme verse, in the Gospel according to Luke. We can learn a courageous act from Mary’s life story.It was started when she had the visitation from an angel, more details in Luke 1:26-38 (we can find parallel story also in Gospel according to Matthew). When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being committed to someone means you must be courageous. It’s easy to grab (or even pay) someone who you find attractive. But it’s hard, it needs the courage to keep yourself from doing that and committed to one person. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not cool”. Matthew 16:26. Spiritually we are committed to our life-partner, Jesus.

Mankind is a unique species. They are doing a lot of horrendous things for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The devil will try that with your family, with your close friends, with your significant others. However, remember this, an act of love (forgiving, admonishing, correcting, staying) needs a courageous heart.

Talking about a courageous heart, I can’t stop imagine Joseph, Mary’s fiancé. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an insta-picture with the caption: “all women are cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed-door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are a courageous person.

In such a condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen to this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who encouraged Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story of the first Christmas that I just told you in the last few minutes. But now maybe you have this guilty feeling over your life because you know that you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth nearly 2000 years ago.

Is it possible for Him to forgive my huge mistakes? His coming is for the “sick” not for the “righteous healthy one.” Matthew 9:12.

Everything is possible because He is the Maker, the Source…

…and now He is standing right in front of your heart.

He says, “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite the Holy Spirit to guide you and to give you the courage that you need.

HOW MUCH MORE (Betapa Lebih Lagi)

Apakah Anda bisa menebak kira-kira di ayat apa Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini di dalam Injil? Baiklah kalau Anda tidak bisa menebak dalam Bahasa Inggris, bagaimana kalau kita coba dengan Bahasa Yunani? “Posos” (how much – betapa lebih) dan “mallon” (more – lagi). Baik kalau masih bingung memang di dalam Terjemahan Baru yang rata-rata kita miliki dipakai kata “apalagi”, mari kita buka di dalam Matius 7:11. Menariknya “hal-hal yang baik” dari ayat di Matius, dituliskan sebagai “Roh Kudus” di Lukas 11:13. Jadi dari ayat-ayat ini dengan kata “apalagi” Yesus ingin membuat kontras antara bapa di dunia dan Bapa di Surga. Jika bapa di dunia memberi hal-hal dunia, Bapa di Surga memberi hal-hal rohani.

Mengenai bapa di dunia, kita mengerti bahwa mereka memiliki anak berdasarkan hubungan suami-istri seperti yang digambarkan di Kejadian 4:1. Pada ayat ini kata “anak” dipakai kata Ibrani: iysh (yang artinya laki-laki). Sedangkan mengenai Bapa di Surga, IA juga memiliki anak-anak seperti dituliskan di 1Yohanes 3:1, dan kata anak yang dipakai adalah kata Yunani: teknon (gambaran anak secara keseluruhan).

Kita semua adalah anak dari bapa kita di dunia. Bagaimanapun kita tidak bisa menutupi fakta ini, betapapun tidak sempurnanya bapa kita di dunia, mereka adalah “alat Tuhan” untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saya akan memberi 2 contoh mengenai bapa di dunia yang ditulis di Alkitab yang menunjukkan ketidaksempurnaan.

  1. Isai, bapa dari Daud. 1Samuel 6:11 (tidak menganggap anak bungsunya)
  2. Yusuf, “bapa” dari Yesus. Matius 13:55 (tidak memiliki status sosial, dan banyak komentator Alkitab percaya ia mati muda)

Meskipun bapa di dunia tidak sempurna, rancangan Bapa di Surga sempurna. DIA tidak akan membiarkan kita hidup tanpa tujuan dan tanpa potensi.

Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita juga adalah anak-anak Allah karena iman kita kepada Yesus Kristus. Galatia 3:26. Karena kita adalah anak Allah, kita juga adalah ahli waris. Betapa luar biasa. Roma 8:17. Tetapi kita juga harus sadar bahwa dalam janji itu ada bagian kita dalam penderitaanNYA. Jika Yesus harus menderita sebelum masuk dalam kemuliaanNYA (Lukas 24:26) mengapa kita harus takut? Roma 8:18. Kuatkan hati kita itu yang perlu kita lakukan. Yohanes 16:3.

Jika bapa di dunia tahu apa yang baik untuk anaknya, APALAGI Bapa di Surga. DIA sangat memerhatikan kita.

GodblesS

JEFF