Siang dan Malam

Frase “siang dan malam” sering kita dengar dibacakan baik dari PL (Perjanjian Lama) maupun PB (Perjanjian Baru). Maksud dari frase ini adalah sesuatu yang berulang, terus menerus, sepanjang hari, senantiasa. Ada dua ayat yang ingin saya jadikan contoh: Yosua 1:8 tentang memperkatakan dan merenungkan Firman Allah, kemudian 1Tesalonika 5:16 tentang bersukacita.

— Mengenai memperkatakan dan merenungkan Firman Allah.

Salah satu hal yang penting dalam kehidupan kita adalah disiplin rohani. Ada banyak pengikut Kristus yang mengembangkan disiplin rohani seperti membaca bagian-bagian Alkitab, mengambil jam doa, berpuasa, menulis jurnal, dan lain sebagainya. Khusus tentang doa sebagai disiplin rohani, seorang rohaniawan bernama George dari New England Monastery pernah berkata, “Semakin saya sibuk dalam pelayanan, semakin saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk disiplin rohani (berdoa) lebih banyak, untuk memberi energi bagi saya melayani siang dan malam.” Hal ini juga yang ditunjukkan Yesus di Matius 14:23.

Saya rasa banyak orang Kristen mengerti bahwa doa adalah unsur penting dalam kehidupan rohaninya. Bagi saya, saya memasukkan “Doa Pribadi” sebagai salah satu aspek dari Lima Aspek Utama dalam Manajemen Waktu pribadi saya. Jika Anda belum punya model manajemen waktu sederhana untuk mengukur berapa jam yang Anda habiskan sepanjang hari atau sepanjang minggu, Anda bisa mengunduhnya di artikel tentang “Persiapan untuk Masa Depan” https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/prepare-for-the-future-persiapan-untuk-masa-depan/ Pada pertengahan artikel itu ada tautan untuk mengunduh file dengan format MS Excel. Model Manajemen Waktu ini saya buat dimotivasi oleh Mazmur 90:12.

Tetapi yang terjadi memang seringkali kita kesulitan untuk membagi waktu, ditengah padatnya aktivitas keseharian kita. Tetapi seorang rekan mengingatkan saya tentang “membuat waktu untuk berdoa” dan bukan “menyisihkan waktu untuk berdoa”. Kemudian saya berpikir untuk membangun suatu metode yang mungkin Anda bisa terapkan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan dengan terus memandang pada Yesus (Ibrani 12:2), jadi jangan andalkan dan banggakan kemampuan kita untuk berdoa, tetapi malah minta kasih karunia-NYA untuk kita bijak “membuat waktu” untuk berdoa.

Jika Anda melihat tabel Manajemen Waktu, yang saya sebut diatas saya mengusulkan untuk mengambil “sepersepuluh” dari waktu kita selama 24 jam untuk doa pribadi. Jadi saya membulatkan itu jadi 2 jam 30 menit waktu doa pribadi. Apakah mungkin dengan kesibukan Anda? Jika dikonversi 2 jam 30 menit sama dengan 150 menit. Jika Anda pecah itu dalam doa-doa pribadi dengan durasi 15 menit maka Anda butuh 10 kesempatan untuk mencapai itu. Saya memecah 10 kesempatan itu setiap 90 menit. Dimulai Pk.06.00 dan berakhir Pk.19.30 (ini fleksibel dan bisa digeser mengikuti aktivitas Anda memulai atau mengakhiri hari).

Jadi secara garis besar disiplin rohani ini akan menjadi cerminan:

  • Memperkatakan Firman Allah dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8), demikian juga menjadi persembahan korban syukur – ucapan bibir yang memuliakan namaNYA – yang senantiasa dinaikkan (Ibrani 13:15).
  • Mempersembahkan sepersepuluh waktu saya – yang Tuhan berikan – dalam sehari untuk terhubung dengan Tuhan (Kejadian 28:22). Catatan: sama seperti konsep persepuluhan/persembahan dari pendapatan yang diajarkan Yesus, kalau Anda bisa memberi lebih dari sepersepuluh tentu itu kasih karunia Tuhan (Markus 12:44), lakukan dengan fokus pada DIA dan jangan jadikan ini seperti “hukum Taurat” yang dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah atau rasa tertuduh (Yakobus 2:9-10). Melainkan dengan iman (Ibrani 11:6) dan didasari oleh kasih (1Korintus 13:3).
  • Ambil waktu minimal 1 sampai maksimal 15 menit di setiap titik “kesempatan doa pribadi” (ini bisa menjadi lebih panjang durasinya jika Anda sudah tidak di jam sibuk). Mengatur durasi ini penting terutama ketika jam-jam “sibuk” Anda. Supaya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian Anda tidak terbengkalai dengan alasan doa (Lukas 11:42).
  • Konsep “kesempatan doa pribadi” bagi saya tidak terbatas dengan posisi berlutut, ditemani gitar, dan di tempat sepi (Yohanes 4:21, 23). Anda bisa saja berdiri, menundukkan kepala di salah satu sudut ruangan atau bangunan, atau di tempat duduk yang Anda temukan dan mengucapkan doa singkat dalam hati (khususnya jika Anda hanya bisa memberi 1 menit dalam kesempatan doa itu).

Secara pribadi saya mengisi kesempatan doa pribadi sepanjang hari itu dengan:

  • Membaca renungan harian, atau mengulang-ulang menyebut dalam hati ayat tema harian yang selalu baru setiap hari (saya memakai aplikasi YouVersion di HP, yang bisa disinkronisasi dengan www.bible.com di laptop/PC). Yosua 1:8.
  • Menciptakan lagu rohani baru dari inspirasi Alkitab (saya tidak berusaha membuat lagu lengkap, kadang hanya satu kalimat yang saya ulang-ulang dengan dua atau tiga chord gitar saja). Mazmur 33:3. Kalau Anda lebih nyaman dengan lagu yang sudah ada, silakan saja. Saya biasanya memakai www.psalmnote.com untuk mencari lirik dan chord yang bisa ditranspose hanya dengan satu klik saja.
  • Mengetik renungan yang berasal dari satu kata atau satu frase, misalnya “kebenaran”, “kasih karunia”, “bodoh”, dan lain-lain (saya memakai Google Keep di HP, yang bisa disinkronisasi otomatis dengan Google Chrome di laptop/PC). Ini adalah kebiasaan yang baik, dan ketika dibagikan bisa menguatkan iman orang lain. Yohanes 20:30-31.

— Mengenai bersukacita.

Mengapa Paulus menuliskan “bersukacitalah senantiasa”? Karena sukacita ini adalah sukacita yang dari Tuhan – sumbernya adalah Tuhan – (Roma 15:13, Galatia 5:22) bukan sekedar luapan perasaan manusia. Itulah mengapa sukacita yang Paulus maksud ini bisa berlangsung senantiasa (siang dan malam)., 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu).

Pemicu sukacita ini pun bukan sesuatu yang dunia perdagangkan, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, melainkan dipicu/dikerjakan oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Sehingga kondisi fisik (2Korintus 4:16) dan finansial (2Korintus 8:2) tidak akan memengaruhi sukacita itu.

Sehingga kaitan sukacita ini dengan doa sebagai disiplin rohani sangatlah erat. Dalam pujian-penyembahan, doa, dan persekutuan dengan Firman lah kita terhubung dengan Allah. Allah Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin kita pada kemerdekaan (2Korintus 3:17) dan mengerjakan sukacita dalam kita (1Tesalonika 1:6).

GodblesS
JEFF

Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

Now available on e-Book format: “Anugerah Setiap Hari”

A simple book that has been part of my life. If you want to have a copy please visit:

Mahanaim Publishers (powered by Google Books),

or Mahanaim Online Shop (powered by Tokopedia).

Get it now for your food of thought.

My First Book Project.

image

My First Book Project would be launched in 30 days or less!

Setelah beberapa tahun menunda akhirnya selesai juga meskipun indie publishing.

image

Pre-order now and get a discounted investment money for the book!

GodblesS
JEFF

Tentang Hidup.

Hidup itu sulit, tetapi terlebih sulit ketika kita menyesal di penghujung hidup nanti.

Ketika kita menghadapi kesulitan kita masih bisa berjuang untuk menerobos. Tapi apa yang bisa kita ubah dengan penyesalan? Karena itu sesuatu yang ada di masa lalu.

Hidupilah hari ini. Lakukan yang baik. Hindari penyesalan di esok hari.

(JM)