ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Ester ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

Mahanaim Q&A (Episode tentang Allah)

Ada dua pertanyaan yang mungkin ada di benak seseorang yang belajar tentang Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:  

  1. Siapakah yang menciptakan Allah?
  2. Darimana datangnya Allah?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kita akan membahas dengan topik “Allah yang Esa dan Benar” dan topik “Keberadaan Allah”.

ALLAH YANG ESA DAN BENAR

Dalam pengakuan iman Gereja Pantekosta di Indonesia disebutkan di poin kedua tentang hal ini: “Kami percaya Allah Yang Maha Esa dan kekal dalam wujud Trinitas : “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, Keesaan namaNya yaitu: “TUHAN YESUS KRISTUS“.[1] Kita percaya pernyataan ini Alkitabiah dan menjadikannya pernyataan pribadi kita juga. Suatu pernyataan disebut Alkitabiah ketika pernyataan itu berkaitan dengan wahyu Tuhan (dalam Alkitab).[2] Hal ini juga sinonim dengan istilah “biblikal”, kata serapan dari Bahasa Inggris “biblical”.[3] Meskipun istilah biblikal lebih spesifik mengacu kepada Alkitab daripada istilah “Alkitabiah” kalau dipandang dari sisi kebahasaan (etimologi).

Dalam Gereja, sering disebutkan mengenai istilah “Anak Allah”. Secara umum dalam kekristenan Anak Allah adalah Yesus. Lukas 3:38. Hal ini sudah ada sejak pengakuan iman dirumuskan oleh Gereja di abad-abad awal, khususnya untuk membedakan pengikut Kristus sejati dengan pengikut ajaran Gnosticism dan Marcionism.[4]  Yesus disebut Anak Allah bukan karena Allah Bapa melahirkan Yesus, namun karena DIA berasal, atau memperjelas pernyataan bahwa IA diutus (oleh Bapa).[5]

Karena itu kita sebenarnya bisa berkata bahwa Allah tidak diperanakkan dan memperanakkan, karena memang Allah adalah Esa. Menarik ketika ada orang-orang yang berusaha menjelaskan bahwa “Allah itu Esa”, dengan menentang konsep “Anak Allah” dalam Alkitab. Padahal jika Anda membaca Markus 12:32 dan Yudas 1:25, maka Anda akan dengan lantang berkata: Amin, DIA Allah yang Esa!

Allah kita juga adalah Allah yang benar. Memang ada usaha-usaha untuk membuat bahwa perkataan-perkataan Yesus seolah-olah mengacu kepada tokoh lain dalam sejarah. Usaha ini jelas terkandung dalam Injil Barnabas (tulisan yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab). Tetapi Philip Jenkins, seorang profesor sejarah dari Baylor University menyatakan bahwa tulisan ini (Injil Barnabas) adalah tulisan tentang Yesus yang dibuat sekitar abad ke-14, jauh sesudah manuskrip Perjanjian Baru ditulis di abad pertama.[6]

Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Dr.Bambang Noorsena, Firman itu menjadi manusia dan sama sekali tidak memisahkan Firman itu dari Allah.[7] Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus. Ini penting untuk kita percaya dengan sungguh, karena akan ada banyak pertentangan tentang Allah yang benar di zaman dimana kebenaran absolut dipertanyakan.

KEBERADAAN ALLAH

Keberadaan Allah menjadi sesuatu yang diperdebatkan khususnya di negara-negara maju. Menariknya hal ini adalah sesuatu yang pada zaman dahulu bukan merupakan perdebatan. Dahulu pengakuan akan adanya Tuhan adalah pengetahuan kolektif dari semua orang dan bangsa. Namun perdebatannya adalah Tuhan/Allah/Dewa yang mana yang lebih kuat. Kita bisa melihat ini di dalam Alkitab pada kisah teror juru minuman agung dari Raja Asyur kepada rakyat dan perwakilan Raja Yehuda, Hizkia.[8]

Doktrin tentang keberadaan Allah menjelaskan siapakah Allah dan bagaimana Allah bisa dikenal manusia. Allah adalah oknum yang sangat berbeda dengan segala hal yang dikenal manusia di alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh DIA, sehingga IA tinggal di luar alam semesta yang kita kenal ini, dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat, dan materi.[9] Keberadaan Allah melebihi segala hal yang kita pikirkan dan mengerti, hal ini sudah menjadi pertanyaan orang-orang sejak zaman Ayub.[10]

Alkitab berusaha menjelaskan bahwa Allah ada dari mulanya, dan bahwa konsep tentang Allah adalah bagian mendasar dari pemikiran manusia. Meninggalkan konsep tentang Allah membuat manusia menjadi irasional. Pada akhirnya manusia menghidupi kehidupan yang tanpa arti dan arah.[11] Meskipun Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah (lihat paragraf pertama), namun ada beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa Allah ada, yang dirangkum oleh Menzies dan Horton (lihat catatan kaki), dari pemikiran Thomas Aquinas di abad pertengahan (abad ke-13):

  1. Argumen Ontologis. Maksudnya adalah penjelasan tentang asal muasal sesuatu. Bahwa jika sesuatu itu sempurna maka ia akan ada dalam kenyataan. Apabila “Sesuatu yang Sempurna” (Perfect Being), yaitu Tuhan, itu tidak nyata, maka IA tidak sempurna. Karena kita percaya Allah itu sempurna, maka pastilah IA nyata.
  2. Argumen Kosmologis. Argumen ini adalah kelanjutan dari argumen sebelumnya. Segala sesuatu itu berasal dari sesuatu yang ada sebelumnya. Maka jika alam semesta ini terus dicari asalnya atau sumbernya, maka akan sampai pada satu “Penyebab Pertama” (First Cause), “Sesuatu” yang dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran yang lain terlebih dahulu.
  3. Argumen Teleologis. Bahwa segala sesuatu itu diciptakan untuk suatu tujuan dengan desain tertentu (by design). Segala sesuatu yang dipelajari manusia dan dibukakan melalui ilmu pengetahuan, membuat kita terkagum akan detil-detil yang dimiliki oleh benda-benda mati yang membentuk dunia ini, dan mahluk-mahluk hidup yang ada di dalamnya. Sehingga kekaguman itu ditujukan kepada desainer awal dari alam semesta ini, Sang Pencipta.
  4. Argumen Moralitas. Bagaimana manusia menilai sesuatu salah atau benar adalah berdasarkan dari “Sang Pemberi Hukum” dari alam semesta. Manusia sadar betul akan adanya hukum moralitas ini, meskipun dipahami berbeda dalam setiap budaya.
  5. Argumen Estetis. Keindahan ini dinilai berbeda oleh manusia satu dengan yang lain, tetapi konsep keindahan ini ada dan manusia mengapresiasinya. Keindahan ini pasti diberikan oleh “IA” yang begitu indah dan penuh kasih.

Kelima argumen diatas akan terlalu lemah untuk berdiri masing-masing. Tetapi kesatuan penjelasan kelimanya meneguhkan apa yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna (Ulangan 32:4, Matius 5:48). IA ada sejak dari mulanya, dan karena DIA-lah segala sesuatu ada (Kejadian 1:1, Yesaya 40:18-22, Yohanes 1:3, Wahyu 22:13). Betapa Allah membuat dan menyiapkan segala sesuatu dengan rancangan yang luar biasa detil (Mazmur 139:14-17, Efesus 1:3-10). Allah menetapkan hukum-hukumNYA dalam hati setiap manusia (Ayub 35:11, Roma 2:14-15), dan kita dapat menikmati segala sesuatu yang baik dan yang indah dari DIA (Kejadian 1:31, Lukas 4:22).

Meskipun demikian ada hal-hal mengenai Allah yang tetap menjadi misteri bagi kita, manusia. Sebab Allah tidak dapat dijelaskan dengan akal pikiran kita.[12] Namun demikian DIA nyata karena apa yang IA ciptakan mengungkapkan keberadaanNYA sebagai Pencipta segalanya.[13] Jika kita memerhatikan inilah yang berusaha Paulus jelaskan kepada jemaat di Roma di dua pasal pertama Surat kepada Jemaat Roma.  

Jadi siapa yang menciptakan Allah? Tidak ada karena IA adalah yang pertama, yang sudah ada pada mulanya. Darimana datangnya Allah? Allah datang dari Surga, IA rela menjadi manusia, yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus.


[1] Pengakuan Iman, https://gpdi.or.id/pages/pengakuan-iman, diakses pada 31-Agustus-2019.

[2] “Alkitabiah”, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/alkitabiah, diakses pada 31-Agustus-2019. Penekanan dalam tanda kurung ditambahkan oleh penulis.

[3] Frederick C. Mish, Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary. 11th Edition (Merriam-Webster, 2003), “Biblical.” Logos.

[4] Justo L. Gonzalez, The Story of Christianity, Volume 1: The Early Church to the Dawn of the Reformation (HarperCollins, 2010), 77. Kindle Edition.

[5] Alkitab, Yohanes 16:28 (TB). 

[6] Philip Jenkins, The Many Faces of Christ, The Thousand-Year Story of the Survival and Influence of the Lost Gospels (New York: Basic Books, 2015), 192.

[7] Dr.Bambang Noorsena, Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid, http://bambangnoorsena.com/index/blog/teologi/sekte-unitarian-bukan-kristen-tauhid.html, diakses pada 12-September-2019.

[8] Alkitab, 2Raja-raja 18:33-35 (TB).

[9] Creation Argument for the existence of God, https://youtu.be/8_OC2t7mIWE, diakses pada 14-September-2019.

[10] Alkitab, Ayub 11:7 (TB).

[11] William W. Menzies and Stanley M. Horton, Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective (Springfield: Logion Press, 2012), chap. 2, sec. 3. Kindle Edition.

[12] Brannon Ellis and Mark Ward, eds., The Doctrine of the Triune God in the Lexham Survey of Theology (Bellingham, WA: Lexham Press, 2018), sec. 1: God’s Existence. Logos.

[13] Ellis and Ward, The Doctrine, sec. 1, sub-sec. 1: Proofs of God’s Existence.  

KOBARAN API PANTEKOSTA

Selamat datang Jemaat Tuhan di Ibadah Perayaan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia. Saya merasa terhormat sebagai generasi ketiga keluarga hamba Tuhan Pantekosta, untuk berdiri di hadapan Anda dan berbicara mengenai apa yang Tuhan mulai 100 tahun yang lalu di Indonesia.

Hari ini kita akan berbicara tentang api pantekosta yang membawa pada pengalaman Pantekosta. Kata “pantekosta” sendiri adalah istilah yang sering kita dengar dan bahkan menjadi bagian dari nama Gereja kita. Mungkin ada yang bertanya mengapa bukan “pentakosta”? Saya rasa nanti hal itu akan dijawab oleh rekan-rekan staf Gereja yang lain. Saya akan fokus kepada “pengalaman pantekosta”. Namun, apakah kita memahami pengalaman Pantekosta itu? Saya ingin membawa Anda kembali kepada pengalaman Pantekosta pertama kali di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:1-8, 11, 16-18, 40-41.

Kurang lebih sembilan belas abad kemudian, tepatnya di 1907, pengalaman Pantekosta di Yerusalem, hidup juga di Azusa Street, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Mereka yang mengalami lawatan Roh Kudus, berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Pergerakan api pantekosta ini juga menjalar sampai kota Seattle, Washington. Tahun 1919 ada sebuah Gereja Pantekosta yang dinamakan Bethel Temple dimana ada dua keluarga yang dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus dan memberi diri untuk menjadi misionaris. Nama mereka adalah Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren. Keduanya mendapat penglihatan dari Tuhan untuk melayani pulau Jawa. Saat itu pulau Jawa dan teritori yang dikuasai Belanda disebut Hindia-Belanda (Dutch East Indies).

Pada tahun 1921 kedatangan kedua misionaris ini menandai masuknya gerakan pantekosta di negara jajahan Belanda saat itu. Nama perkumpulan orang percaya itu disebut “De Pinkstergemeente in Nederlandsch Indie”alias ”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost-Indie” (yang secara literal berarti Gereja Pantekosta di Hindia Belanda). Setelah Belanda dikalahkan, maka negara Indonesia ada di bawah kendali pendudukan Jepang, dan pada 1942 banyak nama-nama yang berbahasa Belanda kemudian di-Indonesia-kan, sampai kemudian Indonesia menjadi berdaulat, yang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini berpengaruh pula kepada nama perkumpulan ini, yang pada akhirnya dikenal sebagai Gereja Pantekosta di Indonesia. Hari ini kita bersekutu di GPdI Mahanaim Tegal sebagai bukti nyata karya api pantekosta yang masuk ke Indonesia 100 tahun yang lalu.

Terdapat fakta-fakta dari pengalaman Pantekosta di Indonesia yang terjadi seabad lalu dalam catatan saya. Ketiganya ternyata punya relevansi dengan apa yang terjadi di dalam Alkitab.

  1. Karunia Penglihatan.

Hal ini dialami oleh dua keluarga misionaris, Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren yang dengan jelas melihat Pulau Jawa di penglihatan mereka. Pengalaman yang demikian juga dialami oleh Rasul Paulus di dalam perjalanan misi, saat itu ia ada di Troas. Kisah Para Rasul 16:8-10.

Kita belajar dari kisah ini bahwa Allah bekerja dengan memberi visi kepada seseorang untuk melihat sesuatu yang selaras dengan rencana Tuhan, meskipun mereka sudah memiliki rencana yang lain (ayat 6-7).

Apa yang kita rencanakan juga bisa berubah ketika kita dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Galatia 5:25. Pengalaman yang sama baik Groesbeek – Van Klaveren maupun Rasul Paulus, yang mereka kejar dalam penglihatan itu adalah pemenangan jiwa-jiwa bukan keuntungan diri sendiri. Siapkah kita dengan perubahan? Keluar dari apa yang sudah kita rencanakan?

  1. Kesatuan.

Dua misionaris ini merupakan anggota dari Gereja Bethel Temple. Mereka menundukkan diri di bawah kepemimpinan Gembala Jemaat Bethel Temple yang bernama W.H. Offiler. Mereka juga didukung penuh oleh jemaat yang rindu melihat bangsa-bangsa dilawat oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari 100 tahun kemudian, setelah mengutus dua misionaris ini, keputusan mereka menghasilkan kurang lebih 21,000 jemaat lokal di Indonesia.

Perubahan yang besar dapat terjadi melalui kesatuan dan ketekunan orang-orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 1:11-15 ada 120 orang yang berkumpul, berdoa, dan bertekun. Kemudian Roh Kudus melawat, dan menambahkan jumlah mereka menjadi 3,000 orang percaya (ayat 41). Saat ini ada sekitar 2,3 milyar orang percaya, jumlah besar itu dimulai dari kesatuan hati 120 orang di Yerusalem.

  1. Inspirasi.

Para misionaris dari Amerika Serikat ini mengasihi orang yang berbeda bangsa, bahkan bahasa dengan mereka. Tetapi kasih mereka, yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus, melintasi batas-batas perbedaan. Apa yang mereka lakukan kemudian menginspirasi bapak-bapak GPdI mula-mula. Mereka melepaskan apa yang mereka terima dari dunia, dan percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup buat mereka. Ini tercermin dari lirik lagu-lagu Pantekosta klasik. Contohnya: “Maju-maju saja”, “Kerja buat Tuhan”, “Mana-mana Tuhan panggil”. Lagu-lagu ini bukan sekedar lagu klasik, tetapi suatu ungkapan pengharapan yang membuat mereka bertahan di tengah tekanan.

Rasul Paulus menyadari panggilannya untuk melayani orang-orang non-Yahudi, meskipun ia dibesarkan dalam mazhab/aliran dalam agama Yahudi yang paling fanatik, yaitu sebagai golongan Farisi. Galatia 1:14-16. 1Timotius 2:7. Filipi 3:5. Ia kemudian rela untuk menderita, demi membuat banyak orang percaya kepada Kristus. 2Korintus 11:24-28. Apa yang Paulus lakukan menginspirasi hamba-hamba Tuhan dan jemaat Tuhan untuk terus bertahan.

Pengalaman pantekosta seharusnya tidak berhenti hanya menjadi pengalaman institusional, maksudnya hanya karena kita berjemaat di GPdI. Tetapi seharusnya ini menjadi pengalaman pribadi. Sehingga setiap jemaat mendapatkan karunia Roh yang khusus dari Tuhan. Kerinduannya setiap jemaat terdorong untuk bersatu, dan menjadi inspirasi untuk dunia.  

Pengalaman pantekosta melibatkan keseluruhan diri kita: tubuh, jiwa, dan roh. Ketika Anda memuji Tuhan, ekspresi tubuh Anda menjadi cerminan apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 12:30.

Setelah dengan tubuh menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, ada catatan pengalaman orang-orang di Perjanjian Baru, dimana mereka menunjukkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk mengalami Tuhan. Dari kerinduan itu kemudian Roh Kudus melawat mereka. Seperti di kisah-kisah berikut:

  • Kisah Para Rasul 1:13-14. Murid-murid berkumpul dengan tekun menanti janji pencurahan Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 8:14-17.Orang-orang percaya di Samaria sudah menerima baptisan air, tetapi belum menerima Roh Kudus, mereka membuka diri untuk beroleh kuasa Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 10:33, 44. Kornelius, seorang non-Yahudi, membawa sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka rindu mendengar Firman Allah, dan setelah itu mereka menerima Roh Kudus.

Tubuh yang digerakkan untuk Tuhan, kerinduan yang penuh pada Tuhan diikuti dengan pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Saat itu mereka terhubung dengan keberadaan Tuhan yang adalah Roh. Yohanes 4:24. Mereka tenggelam dalam hadirat Tuhan, itulah mengapa orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus bisa melakukan hal-hal yang tubuh dan jiwanya belum pernah lakukan sebelumnya, seperti berbahasa lidah, bernubuat, menari, memuji dan menyembah dalam jangka waktu yang lama. Biarlah kita rindu kobaran api pantekosta itu nyata di Gereja kita, di keluarga kita, dan di masing-masing pribadi kita.

Haleluya!

MENGUBAH DUNIA

Bagaimana Anda bisa mengubah dunia ini dan menggenapi Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:19-20)? Ini tidak harus dilakukan dengan “memasukkan salib” ke Istana Negara, atau ke Senayan sebagai cara satu-satunya dan utama (yang saya beri contoh ini adalah jalur politik). Saya pernah menyampaikan ke rekan-rekan profesional muda (Crossover) tentang A-B-C di marketplace. Kalau Anda tertarik bisa cari di jeffminandar.com dan ketik “Christianity and Professionalism” atau “marketplace”.

Namun bagaimana dengan eksistensi kita di tengah Keluarga, masyarakat? Apakah komunitas yang kita bangun di Keluarga kita, di KeMah kita, di Gereja kita sudah jadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas? Kisah Para Rasul 2:47. Anda bisa menginspirasi dunia sekeliling dengan menunjukkan keberadaan Yesus dalam hidup Anda dan keluarga.

Banyak orang berpikir bahwa Allah kita itu tidak nyata. Tuhan dianggap mereka tidak berkuasa atas apa yang terjadi di dunia. Saya percaya Allah memiliki rencana untuk segala sesuatu di dalam dunia. IA mampu menentukan apa yang akan terjadi pada dunia melalui peristiwa-peristiwa dalam rangkaian sejarah. Rangkaian sejarah ini maksudnya seperti gelombang kejadian demi kejadian dan kita harus dapat memanfaatkannya, bukannya terseret.

Dalam Kisah Para Rasul 4:27-28 jemaat Tuhan memiliki informasi dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mengenai ancaman kepada mereka dari tua-tua Yahudi. Dalam doa kepada Tuhan mereka mengakui bahwa Tuhan mengendalikan arus sejarah. Menariknya mereka bukan meminta Allah menghilangkan ancaman itu, tetapi malah meminta keberanian untuk tetap bertahan dalam panggilan Tuhan.

Seorang peselancar tidak meminta gelombang yang mudah, ia membaca gelombang dan dengan keberanian menaiki gelombang itu lalu menaklukkannya. Sedangkan bagi seorang Kristen, ia membaca sejarah, mengobservasi kenyataan masa sekarang, dan memandang ancaman di masa depan dengan perspektif ilahi. Keberaniannya datang dari Roh Kudus, dan meminta keberanian itu dalam doa.

Yesus sendiri berdoa bukan untuk menjauhkan Anda dari dunia, tetapi melindungi Anda dari yang jahat. Yohanes 17:11. Bukan untuk membuat Anda mencari zona nyaman, tetapi zona Tuhan, dimana Anda dan Keluarga Anda menjadi maksimal dan mampu mengubah dunia, dimulai dari Keluarga Anda. Anda tidak bisa mengubah dunia sendirian, yang ada Anda bisa-bisa terlarut dengan dunia. Anda butuh komunitas yang mengasihi (1Petrus 1:22), melayani (Efesus 2:10), dan memperlengkapi Anda (1Korintus 12:18). 

GOD’S PICTURE OF SUCCESS

Mazmur 37:7 berbicara tentang keberhasilan dari orang yang melakukan tipu daya. Tentu saja kita tidak ingin menjadi berhasil dengan cara yang demikian. Tetapi sebelum membahas ayat ini, saya ingin Anda melihat dulu dua gambar yang berikut.

Apa perbedaan dari gambar di sebelah kiri dan kanan?

Keduanya adalah gambar yang biasa digunakan oleh psikolog untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang melalui tes yang biasa disebut TAT (Thematic Apperception Test). Biasanya testee (orang yang akan di-tes) diminta menceritakan kisah di balik gambar, mulai dari apa kejadian yang terjadi sebelumnya, apa yang terjadi pada gambar tersebut, perasaan dan pikiran karakter dalam gambar, dan akhir ceritanya (biasanya akan ada 5-12 gambar-gambar yang diperlihatkan dari total 31 gambar versi lengkapnya). Salah satu kegunaan dari tes ini adalah untuk dapat menangkap pengalaman hidup dari seseorang.

Pernah dengar ungkapan ini? “A picture is worth a thousand words.” Ungkapan ini menggambarkan kekuatan dari suatu rangsangan (stimulus) visual. Meskipun ungkapan ini tidak selamanya relevan, misalnya dalam suatu karya tulis (sebut saja novel), tetapi hal ini setidaknya membuat kita berpikir tentang sebuah gambar yang bisa mewakili panjangnya suatu penjelasan.

Allah sering berbicara melalui suatu gambaran, kalau saya melihat seorang pelukis menggambarkan tentang bahtera Nuh, maka di pikiran saya yang muncul adalah kata “penyelamatan”. Misalnya gambarannya adalah tabut perjanjian, kata yang muncul adalah “kekudusan”. Bagaimana kalau gambaran itu adalah salib? Apa kata yang muncul? Pernahkah Anda berpikir bahwa kata yang muncul adalah “keberhasilan”?

Ibrani 12:2 mengatakan tentang Yesus yang menjadi teladan kita untuk bertekun dalam kehinaan dan penderitaan sebelum mendapat sukacita dan kehormatan. Terjemahan bahasa Inggris dari NKJV menurut saya lebih jelas menggambarkan bahwa Yesus memandang bukan pada kehinaan dan penderitaan (yang sementara) tetapi sukacita dan kehormatan (untuk selamanya).

Ini adalah hal yang kontradiktif, yang tidak masuk akal, dan disebut kebodohan (1Korintus 1:18) oleh orang yang akan binasa (karena tidak percaya – Yohanes 3:18). Tetapi Anda bukan orang yang bodoh rohani bukan? Orang bisa mengatakan apapun tetapi saya tidak bodoh rohani. Bahkan kalau saya dianggap bodoh secara intelektual pun Allah masih bisa menggunakan saya. 1Korintus 1:27.

Relevansinya dengan pekerjaan saya dan situasi kondisi sekarang bagaimana?

Ingat ayat pertama kita di awal? Anda punya pilihan untuk berhasil dengan segala macam cara (bahkan dengan tipu daya) tetapi itu tidak akan membawa Anda pada sukacita dan kehormatan yang nilainya kekal. Jadi tetap lakukan yang baik dan yang setia, karena ada balasan untuk ketekunan Anda. Mazmur 37:3.

Sukacita dan kehormatan didapatkan melalui kehinaan dan penderitaan. Bukan berarti Anda harus secara fisik dihina dan menderita. Gembala sering menggambarkan bahwa sebagai pengikut Kristus bisa mengalami penghinaan dan penderitaan secara fisik, tetapi juga secara mental (psikis). Ini berbicara kepada Anda sebagai pengikut Kristus, tetapi juga sebagai profesional muda. Anda bekerja keras untuk tidak memiliki penghidupan dari sesuatu yang ilegal (Efesus 4:28), yang meskipun dihina dan menderita Anda bisa berkata, “Aku menjadi seperti Yesus, Aku melakukan kehendak Bapaku di Surga!” Matius 12:50.

Gambar keberhasilan pengikut Kristus tidak diwakili oleh gambar manusia siapapun mereka (Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan bukan juga Adam, Abraham, Yakub, atau Yusuf dari kisah Alkitab). Kita belajar dari kisah mereka, dan mengambil satu nilai yang sesuai dengan nilai ilahi. Roma 12:2. Jadi lihatlah diri Anda di depan kaca, itulah gambaran keberhasilan versi Allah. Mazmur 139:13-16. Kalau boleh mengambil kisah dari Yusuf sebagai penutup, setiap saya membaca Kejadian 39:2, saya selalu melihat ini adalah gambaran keberhasilan seorang yang percaya.  

TAK PERNAH TERTIDUR

Jika  Anda pernah mendengar istilah “the city that never sleeps” itu menggambarkan sebuah kota yang tidak pernah sepi, atau dengan lain kata selalu saja aktivitas yang ada di kota tersebut. Mungkin Jakarta cocok dengan sebutan itu, meskipun kalau jam 2 pagi kata Pak Gubernur Anies sudah sepi jalanan di Jakarta. Tapi secara global biasanya orang menyebut New York, Amerika Serikat dengan julukan kota yang tidak pernah tertidur. Untuk kota Tegal mungkin memang lebih cocok “laka-laka” meskipun jalur pantura yang melintasi kota Tegal bisa dibilang tidak pernah sepi.

Menariknya di dalam Mazmur 121:4 disebutkan bukan tentang kota, tapi tentang penjaga Israel yang tidak pernah tertidur. Saudara Geralldi membawakan mengenai Mazmur ini di Doa Pagi GPdI Mahanaim beberapa hari lalu. Untuk jemaat Mahanaim yang belum tahu, setiap pukul 04.45 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB, Anda bisa mengikuti Live Streaming Doa Pagi Mahanaim di YouTube Channel GPdI Mahanaim Tegal, atau Anda juga bisa hadir secara langsung di Beth Eden. Pakai kesempatan ini untuk bergabung bersama kami dalam Pujian, penyembahan, penyampaian Firman dan doa. Anda yang tidak bisa bangun sepagi itu, tetap bisa menyaksikan rekamannya sampai 24 jam, sebelum videonya dihapus dari YouTube.

Kembali ke Mazmur 121, jika kita baca secara lengkap ini adalah suatu mazmur yang menyatakan betapa orang-orang yang menaruh percaya mereka kepada Tuhan akan dilindungi dan diselamatkan. Betapa kita membutuhkan pesan pengharapan mengenai jaminan penjagaan Tuhan di hari-hari seperti ini. Ketika semua kanal berita berisi kabar yang menyedihkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan. Kita berpaling pada berita dari Surga yang menguatkan, menghibur dan memberi jaminan.

Ketika mendengar kata “kekuatan”, “penghiburan”, dan “jaminan” satu figur yang langsung muncul di pikiran saya adalah figur bapa atau ayah. Saya pernah membawakan mengenai sebutan Bapa ini di tahun 2018, dalam Firman Tuhan Ibadah Raya GPdI Mahanaim berjudul “Ayah”. Anda bisa search di website Gereja atau di website pribadi saya dan ketikkan kata kunci “ayah” di kolom pencarian.

Saya selalu suka dengan bagaimana Yesus memperkenalkan Allah sebagai “Bapa” kepada murid-muridNYA dan semua orang yang mendengar pengajaranNYA.

(.)“Bapa” adalah sebutan yang Yesus berulang-ulang kali ungkapkan ketika IA merujuk tentang Allah Pencipta Langit dan Bumi. Contohnya di saat Yesus menyucikan Bait Allah di Yerusalem, IA berkata, “Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Yohanes 2:16.

(..)Demikian juga Yesus berbicara tentang Bapa di dalam doaNYA di depan murid-murid. Matius 6:9-13. Coba Anda baca ayat ini dengan saksama. Saya percaya bahwa apa yang Yesus inginkan adalah pengertian lebih dari pengulangan, karena kalau Anda baca di ayat 7-8 Yesus meminta supaya doa itu tidak bertele-tele dan terlalu banyak kata, karena Bapa mengetahui apa yang kita perlukan. Anda bisa cek juga penjelasan saya bahwa Doa itu bukan mantra orang Kristen di YouTube Channel Gereja.

(…)Yesus pernah menyebut tentang Bapa juga di saat menjelaskan alasan diriNYA terpisah dari rombongan orang yang berjalan pulang ke Nazaret dari Yerusalem. Lukas 2:49.  

Meskipun Yesus sering menyebut Allah sebagai Bapa, namun di akhir hidupNYA di muka bumi Yesus bukan memanggil “Abba” (sebutan untuk Bapa di dalam bahasa Aram) tetapi “Eloi” (sebutan untuk Allah, lebih tepatnya Allahku, dalam bahasa Aram). Markus 15:34. Ps. Joseph Prince pernah menjelaskan tentang ini dengan sangat baik. Bahwa apa yang Yesus lakukan dengan memanggil “Allah” kepada yang biasa dipanggilnya “Bapa” itu supaya semua orang yang percaya kepada Yesus bisa memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Ini adalah paradoks tindakan dari Yesus, sama seperti “IA mati, supaya kita hidup”, “IA menjadi miskin, supaya kita kaya”, dan lain sebagainya.

Kematian Yesus adalah kulminasi dari kasih Allah yang ditunjukkan pada manusia (Roma 5:8) dan adalah bukti dari janji kemenangan atas kuasa iblis (Kejadian 3:15). IA mengasihi kita dan menepati janjiNYA, apakah layak kalau kita menuduh Allah yang tidak-tidak? Keadaan Ayub yang begitu menderita tidak mengubah kesalehannya kepada Tuhan. Padahal ia dalam kondisi tidak mengerti alasan atas apa yang terjadi. Dalam Ayub 1:22 dituliskan ia “tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”

Saya menyadari bahwa keraguan akan kehadiran Allah akan semakin meningkat di tengah kesulitan. Ini ditunjukkan oleh Ayub juga di Ayub 13:24, demikian oleh Daud di Mazmur 10:1, juga murid-murid Yesus di Markus 4:38. Pada kisah yang melibatkan murid-murid Yesus, Markus menuliskan, “Pada waktu itu Yesus sedang tidur…” Jadi ayat ini sebenarnya menegasi pernyataan Mazmur 121:4, bukan?

Matthew Henry seorang hamba Tuhan yang terkenal dengan komentar-komentar Alkitab yang ditulisnya, memberi catatan khusus mengenai insiden tidurnya Yesus. Ia menulis bahwa Yesus tidur untuk menguji iman murid-muridNYA! Tentu saja Anda mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa mungkin yang tidur adalah sisi kemanusiaan Yesus yang lelah setelah melakukan pelayanan seharian. Apapun pernyataan tentang hal itu, saya tertarik dengan tulisan George Herbert, “Meskipun IA memejamkan mata, namun bukan hatiNYA!”

Saya melihat apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid sama seperti apa yang Allah izinkan terjadi kepada:

(.)Ayub, ketika diizinkanNYA iblis untuk “menjamah” segala yang dipunyai Ayub (Ayub 1:11), kemudian tulang dan daging Ayub (Ayub 2:5).

(..)Paulus, yang menulis tentang utusan iblis dalam dagingnya yang “menggocoh” atau dalam terjemahan New English Translation (NET) disebut “menyusahkan” (2Korintus 12:7).

(…)Yesus, saat IA dibawa ke padang gurun dan kemudian dicobai iblis (Lukas 4:2). Kemudian saat Yesus tergantung di kayu Salib, Yesus berkata kepada Allah Bapa “mengapa Engkau meninggalkan Aku?” yang menggambarkan Allah memalingkan wajah karena dosa dunia (Yohanes 1:29) yang ditanggung Yesus.

Namun ketika ujian itu datang, biarlah itu tidak menggoyahkan kepercayaan dasar kita kepada Allah, bahwa IA Bapa yang baik, karena IA selalu berjaga bagi kita. Sama seperti seorang anak yang percaya bahwa ayahnya akan selalu ada untuk dirinya. Saya belum memiliki anak secara jasmani, tetapi saya punya ayah yang begitu memperhatikan saya dan selalu ada. Apalagi Bapa kita di Surga, DIA akan memberikan pemberian yang baik. Lukas 11:12.

Apa itu pemberian yang baik? Roh Kudus. Mengapa kehadiran Roh Kudus itu penting? Ingat Ketika Yesus dicobai? Apa yang dikatakan di Lukas 4:1? Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, dibawa ke padang gurun. Bentuk pencobaan apapun yang Anda hadapi dengan Roh Kudus, Anda punya jaminan penyertaan Allah. 2Korintus 5:5. IA tidak pernah tertidur, IA akan mengirim malaikat-malaikat untuk melayani Anda, setelah Anda menang atas semua pencobaan. Matius 4:11.

SEX, SINGLENESS, AND SELF-CONTROL

Saya merasa banyak orang yang lebih berpengalaman dan lebih mengerti tentang topik bahasan kita kali ini. Namun demikian sebagai seorang ilmuwan Psikologi yang belajar tentang Kekristenan, dan masih sendiri (single but not available), saya melihat ini kesempatan untuk bertukar pikiran tentang ini, meskipun penyampaian bukan dalam bentuk diskusi. Saya harap Anda masih ingat apa yang disampaikan oleh Ps. Raditya Oloan ketika berbicara tentang “Overcoming Sexual Temptations”. Kalau sudah lupa cek saja YouTube Channel GPdI Mahanaim Tegal dan putar ulang videonya.

Sex, Singleness, and Self-Control” adalah topik yang sering muncul di tengah segala kegalauan seorang Remaja. Mereka tidak bisa dikatakan anak-anak lagi, tetapi belum juga menjadi dewasa. Tetapi karena tidak ada seorang pun yang ingin dianggap rendah, maka biasanya masa-masa sebelum dewasa menjadi ajang pembuktian diri para Remaja bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang bisa dibuat orang dewasa.

Masalah besar sering muncul  ketika sesuatu dilakukan tidak dengan hikmat. Ini berlaku untuk semua rentang usia, mulai anak-anak, sampai lansia. Meskipun hikmat sering dikaitkan dengan pertambahan usia, tetapi pada kenyataannya bisa jadi tidak demikian. Contohnya apa yang disampaikan Elihu kepada Ayub dan ketiga sahabat-sahabatnya. Ayub 32:6-9.

Jadi saya berharap meskipun Anda masih muda dan belum “banyak umur”, namun Anda memiliki hikmat untuk berpikir, berkata dan bertindak. Saat banyak orang merayakan bulan kasih sayang, saya ingin kita juga berpikir tentang hal-hal yang memengaruhi hidup banyak remaja.

SEX

Kata ini sering kita dengar dan biasanya langsung diasosiasikan dengan “having sexual intercourse” atau hubungan badan seperti lazimnya dalam hubungan suami-istri. Tentu saja itu adalah bagian dari seksualitas seseorang dalam perkembangan hidupnya, kecuali memang seseorang itu diberi karunia untuk membujang. Matius 19:12. Solusi untuk pergumulan kita di bidang ini seperti apa yang dikatakan oleh Ps. Raditya Oloan, bahwa segala sesuatunya dimulai dari pembaharuan pikiran. Roma 12:2. Apakah kita sudah siap untuk masuk dalam konsekuensi dari aktivitas seksual sebagai suami-istri? Dalam Journal of Ethics edisi 2021, Paddy McQueen dari Swansea University, UK, mendefinisikan aktivitas seksual sebagai semua kegiatan yang dilakukan oleh orang (sendirian atau melibatkan orang lain) yang terlibat dalam aktivitas itu untuk memuaskan keinginan seksualnya.

Saya jelaskan di acara #BukanTontonan Crossover di YouTube Channel GPdI Mahanaim, bahwa keinginan seksual seseorang itu ada karena keinginan dasar manusia untuk bereproduksi. Menariknya keinginan itu selaras dengan tujuan Tuhan bagi manusia di Kejadian 1:28. Jadi apakah hubungan seksual itu Alkitabiah? Iya. Apakah itu boleh dilakukan siapa saja? Tidak. Kalau kita menyelidiki Alkitab mengenai aktivitas seksual Israel sebagai umat perjanjian diatur di Imamat 18 dan 20. Bagi kita yang hidup di Perjanjian Baru, aturan-aturan itu sebenarnya mengerucut ke apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-39. Tidak semua keinginan dasar kita perlu dipenuhi seperti apa yang orang lain tunjukkan atau ajarkan pada kita, jika dasarnya bukan dari Alkitab. Kembali ke Roma 12:2, pertanyaannya apakah yang dunia tunjukkan atau ajarkan itu baik, berkenan, dan sempurna? Kata sempurna disini dipakai kata Yunani “teleios” yang dapat diartikan “membawa kepada hasil akhir, atau tujuan akhirnya”. Sehingga aktivitas seksual harus ada tujuan sesuai Alkitab, bukan sekedar memuaskan keinginanmu. Jadi mari sekarang cek aktivitas seksual mu, apakah itu memenuhi tujuan Allah?

SINGLENESS

Menjadi lajang adalah sebuah pilihan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Tuhan memberi tujuan untuk bereproduksi. Tentu itu membutuhkan pasangan (Kejadian 2:24), dan proses dari status “sendiri” kemudian “berpasangan” itu harus dilalui untuk menemukan yang sepadan (Kejadian 2:18, 2Korintus 6:14). Saya selalu percaya bahwa proses itu melibatkan urutan: koleksi – seleksi – resepsi. Kesalahan sangat mungkin terjadi di ketiga tahapan ini:

  • Koleksi. Jangan buru-buru berpikir negatif dengan hal ini. Apa yang saya maksud adalah milikilah kenalan yang banyak, tapi jangan semua kemudian dijanjikan komitmen. Yakobus 1:8 berkata bahwa orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Meskipun konteks ayat ini berbicara tentang iman, saya melihat ada korelasi antara bagaimana kita memandang hubungan dengan Allah dengan bagaimana kita memandang hubungan dengan sesama manusia.
  • Seleksi. Hubungan yang punya tujuan itu harus melalui proses seleksi. Mari kita kembali ke kisah Adam di Kejadian 2:20. Ketika Adam tidak menjumpai yang sepadan baginya, maka kemudian Allah mengambil – membentuk – dan membawa Hawa kepadanya. Seseorang yang lolos seleksi adalah orang yang punya tujuan yang sama dengan dirimu.
  • Resepsi. Kata ini mewakili komitmen selama-lamanya dalam hidupmu. Ketika masuk ke dalam pernikahan, maka itu berlangsung untuk selamanya bukan secintanya. Ketika cinta sudah habis maka habis juga pernikahan itu. Tidak bisa kita melihat perceraian sebagai opsi dalam komitmen pernikahan. Matius 19:7-8.

Untuk apa di usia saya belajar tentang pernikahan? Sadarilah, bahkan Anda tidak lahir langsung bisa berlari dengan benar! Sekali lagi, suatu hubungan itu harus berproses dan memiliki tujuan yang sesuai dengan Alkitab. Kalau kita memiliki pasangan tetapi tidak memiliki tujuan seperti yang saya sudah bahas di bagian sebelum ini, hati-hati karena hubungan itu bisa berakhir negatif. Jadi apakah kita tidak boleh menikmati masa muda?

SELF CONTROL

Melewati masa muda adalah pengalaman yang tidak akan terulang lagi. Tetapi sayangnya untuk mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa muda tidaklah mudah. Karena ketika seseorang masa mudanya sesuai dengan tujuan Allah maka ia akan memiliki masa depan yang sesuai dengan jalan Allah. Amsal 22:6. Sehingga kembali pertanyaannya apa tujuan hidupmu? Apakah hanya untuk “makan minum sebab besok kita mati”? Mari kita buat sederhana, apakah kamu mau hidup “lurus” atau “bengkok”? Kalau pilihanmu hidup yang “lurus” maka kamu sedang mengikuti Jalan Tuhan (Kisah Para Rasul 13:10) tetapi kalau pilihanmu hidup yang “bengkok” maka kamu sedang hidup seperti dunia (Filipi 2:15).

Hidup yang sesuai dengan Jalan Tuhan adalah hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Mereka yang menghidupinya akan menerima buah Roh yang didalamnya ada disebutkan tentang “pengendalian diri”. Galatia 5:23. Mengendalikan diri lebih sulit dari pada hidup liar. Nampaknya menyenangkan, tetapi resiko dari tidak mengendalikan diri bisa begitu banyak, trauma, kecanduan aktivitas seksual seperti terpenjara, kehamilan di luar nikah, gagal studi, konflik dengan orang-orang terdekat, dan lain sebagainya. Sekali lagi bukan saya merasa lebih, semua kakak-kakak rohani Anda, termasuk saya, juga terus belajar. Kami terbuka untuk mendoakan Anda yang sedang bergumul mengenai hal-hal di atas, atau hal-hal lain. Mari kita ingat apa yang Rasul Paulus katakan kepada Timotius:

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”

(1Timotius 4:12)

Sukacita

Semua orang ingin merasakan sukacita! Hari ini kita merayakan Tuhan Yesus Kristus, itulah kenapa kita berkumpul setiap Minggu. Tentu saja kita harapkan ibadah ini membawa sukacita. Semua yang sudah bekerja keras dan mempersiapkan Ibadah ini, Saya rasa tidak ada orang yang tidak ingin yang dilakukannya berakhir tanpa sukacita.

Tetapi saya ingin berbagi dengan Jemaat tentang suatu sukacita yang melebihi dari sukacita ketika kita berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sukacita yang tidak selesai ketika ibadah ini selesai. Sukacita yang bisa bertahan melebihi waktu-waktu yang terhitung. Sukacita yang bisa bertahan selama-lamanya.

Bertemu Yesus = PERJUMPAAN yang mengubah hidup

Ada satu cerita mengenai pertemuan antara pria dan wanita, tentu saja yang sering nonton drama Korea sangat mengerti tentang ini. Tetapi kisah ini bukan sekedar drama, kisahnya  berlanjut seperti ini: Wanita itu ternyata memiliki status atau derajat yang lebih rendah dari prianya. Sehingga seharusnya mereka tidak boleh bertemu, apalagi berbicara satu sama lain. Jemaat harus ingat bahkan sekarang pun kasus seperti ini masih ada di masyarakat, ketika masyarakat membandingkan status sosial seseorang.

Setelah berbincang untuk beberapa lama tiba-tiba sang pria ini mengejutkan wanita yang jadi lawan bicaranya dengan berkata: “Aku tahu apa yang kamu sembunyikan.” Wanita ini terkejut. Saya percaya Jemaat juga akan terkejut jika berbincang dengan seseorang yang baru kenal dan kemudian dia bilang dia tahu rahasia kita. Apakah orang ini mentalis atau selebritis? DIA adalah Yesus!

Mari kita buka aja di Yohanes 4:5-42. Pada ayat-ayat itu diceritakan mengenai pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria. Mungkin ada beberapa dari Jemaat yang berharap saya akan menyampaikan kisah motivasional. Iya betul saya percaya Firman Tuhan dapat memotivasi kita, tetapi saya juga percaya pemberitaan Firman Tuhan adalah tentang sebuah PERJUMPAAN. Sebuah pertemuan yang mengubahkan hidup!

Perjumpaan yang tidak mengenal batasan

“Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu”

Kita kembali kepada kisah di Yohanes 4. Pada awal cerita saya menyampaikan tentang perjumpaan seorang pria (Yesus) dengan seorang wanita (perempuan Samaria) yang berbeda status. Biar saya jelaskan sedikit mengenai ini. Kalau Jemaat tahu sedikit mengenai latar belakang kisah dalam Alkitab. Orang-orang Yahudi itu sangat membenci orang Samaria. Mereka menganggap bahwa orang Samaria bukan orang Israel asli.

Karena memang orang Samaria adalah keturunan campuran, antara nenek moyang orang Israel dengan keturunan bangsa-bangsa lain atau biasa disebut bangsa kafir (penyembah berhala). Saking bencinya orang-orang Yahudi tidak sudi melangkahkan kaki untuk melewati daerah Samaria. Menariknya Yesus adalah keturunan orang Yahudi, ayah dan ibunya adalah orang Yahudi. Namun di ayat 3-4 dikatakan IA meninggalkan Yudea dan melintasi daerah Samaria dengan sengaja!

Apa yang jemaat bisa pelajari disini adalah, betapapun engkau merasa bahwa engkau tinggal di “kawasan” yang tidak berharga, kawasan yang dijauhi oleh orang-orang, mungkin karena latar belakang keluargamu, mungkin karena latar belakang ekonomimu, mungkin karena kondisi fisikmu. Tuhan Yesus mau datang ke tempatmu. Yesus mau melewati tempat dimana kamu tinggal. Yesus yang mengambil inisiatif untuk mendekatimu, bahkan IA yang akan pertama berbicara kepadamu: Jangan takut, ini AKU, Aku tidak akan menghukummu, Aku tidak akan menghakimimu, Aku terima kamu apa adanya. Yohanes 8:11.

Kronologi Kasih Karunia

Sebenarnya kita adalah mahluk yang penuh dengan kasih karunia Allah. Sebelum DIA menciptakan kita, DIA menyediakan seluruh yang dibutuhkan untuk eksistensi manusia sebelum tanganNYA sendiri yang membentuk dan menjadikan kita, sesuatu yang tidak bisa kita lakukan sendirian. Kasih karunia yang dirasakan Adam, ditunjukkan juga kepada Nuh, kemudian pada Abraham. Jika dahulu kasih karunia itu dikhususkan untuk keturunan Abraham, yaitu bangsa Israel. Sekarang kasih karunia itu tercurah untuk semua kita, Israel rohani.

Pola pikir yang lama

Pola pikir yang lama adalah pikiran /keadaan manusia yang hanya terbatas pada kemampuan manusia akan diubahkan oleh Firman. Semua yang berjumpa dengan Yesus selalu diubahkan, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang hilang pengharapan, kembali melihat masa depan. Dalam kisah perempuan di Samaria Yesus kemudian berbicara dengan wanita ini, kata-kata Yesus adalah Firman (Yohanes 1:14), yang dapat mengubah pola pikir wanita ini.yang terbatas.

Pola pikir yang baru

  1. Yesus memperkenalkan tentang air hidup, disini saya akan jelaskan tentang sukacita surga. Air yang ketika kita minum tidak akan haus lagi, Yesus melepaskan kita dari kelemahan kita, masa lalu, penghakiman dan kutuk yang dijatuhkan atas kita, pikiran negatif yang membelenggu, karena Yesus = kebenaran sejati & absolut yang membenarkan dan membebaskan.
  1. Yesus mengetahui masalah dan dosa wanita ini, namun IA tidak menghakiminya. He just reveal the truth. Karena DIA lah kebenaran dan dikatakan kebenaran sejati akan memerdekakan kamu. Yohanes 8:36. Momen (singkat) untuk selamanya: Yesus adalah agen / katalis perubahan hidup.
  1. Wanita ini menjadi begitu percaya dia lari meninggalkan Yesus karena sukacita yang timbul dalam dirinya. Dia kemudian menceritakan kepada seisi kampungnya tentang Yesus. Bayangkan hanya sekali pertemuan yang mendalam yang membekas, bisa mengubah wanita yang bersuami banyak ini, menjadi pemberita Injil (kabar baik) hanya dalam sehari.

“Pertemuan dengan pembawa Sukacita surga akan membawa perubahan dalam hidup.”

PRINCE OF PEACE

PRINCE OF PEACE

Selamat Natal! Saat Natal tiba, apa yang Anda pikirkan? Palungan, lagu natal, kue natal, atau liburan, Ibadah, atau hadiah? Saya rasa Anda paling suka hadiah. Bagaimana kalau begini, Anda katakan saja Amin kalau Anda setuju pada setiap poin di daftar saya:

•            iPhone 12 Pro Max atau Galaxy Note 20 Ultra.

•            CBR atau Kawasaki Ninja 250cc.

•            PS5.

•            Baju baru.

•            Sepatu baru.

•            Pacar baru.

Untuk yang terakhir kelihatannya paling susah ya, apalagi buat yang sudah terlalu lama sendiri. Anda mungkin berkata tidak amin. Tapi buat saya daftar keinginan kita berhenti saat kita makin dewasa. Atau setidaknya daftar itu berubah menjadi hal-hal yang lebih signifikan buat hidup kita. Tidak sekedar yang penting ada bungkusnya.

Semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dan lain-lain), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40. Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Demikian juga dalam kita melihat kisah Natal. Dalam kedewasaan Kristen kita, Natal tidak sekedar palungan, orang majus dan para gembala. Kita ingin mencari tahu lebih dalam lagi tentang tujuan Natal. Mari kita lihat ayat tema kita di Yesaya 9:5-6. Dikatakan bahwa sang Mesias, yang dinubuatkan di Perjanjian Lama, digenapi di Perjanjian Baru dalam kehadiran Yesus, dan IA memiliki gelar Raja Damai.

Raja Damai berarti IA memiliki kedamaian yang berlimpah. Sama seperti kalau kita bilang si Poltak raja minyak, berarti ia memiliki minyak yang banyak. Perasaan damai ini yang menjadi barang mahal di dunia yang kacau ini. Bagaimana Yesus menggenapi bahwa IA adalah Raja Damai? Coba cek kisah Yesus meredakan badai di Markus 4:36-41 dan juga perkataanNYA yang penuh karunia damai sejahtera di Yohanes 14:27.

Berbicara tentang Yesus yang penuh damai, mengingatkan saya akan ayat-ayat di Lukas 4:18-19, 21. Yesus berkata mengenai Roh Tuhan, dan saya percaya sumber damai yang melebihi akal akan dimiliki mereka yang dipenuhi Roh Tuhan. Pribadi yang dipenuhi Roh Tuhan hidup dalam damai bahkan di saat-saat sulit. Kisah di dalam Perjanjian Baru ini terbukti dalam diri Rasul Petrus di Kisah Para Rasul 12:6-7.

Saya tahu ini masih jauh dari Perayaan Hari Pantekosta, dimana biasanya kita berdoa menanti kepenuhan Roh Kudus. Tetapi di Perayaan Natal kali ini pun Anda bisa meminta Roh Kudus hadir dalam hidupmu. Minta Roh Tuhan memenuhi dirimu, di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Ingat, bahwa yang kita rayakan kelahiranNYA hari ini namaNYA disebut “Imanuel” artinya “Allah menyertai kita.” Matius 1:23.

Sang Raja Damai, Tuhan Yesus Kristus sudah tidak ada secara fisik di muka bumi, karena IA sudah naik ke Surga dan akan kembali saat waktunya sudah genap. Namun sebelum IA kembali, ada Roh Kudus, Roh Tuhan, Roh Kristus yang akan menyertai kita. Saya tahu, mungkin Anda memimpikan suatu hadiah Natal di tahun ini. Tetapi semua hadiah natal yang kita terima akan rusak, hilang, dan kehilangan makna. Namun tidak dengan Roh Tuhan, IA akan ada selama-lamanya.

Anda mungkin ingat ayat terkenal ini, “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Lukas 11:10), tetapi mungkin Anda terlewat apa yang dituliskan di ayat 13, “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Meminta, mencari, dan mengetok di ayat yang terkenal ini ternyata bukan tentang barang jasmani atau hadiah Natal, melainkan Roh Kudus! Hari ini yang Anda rayakan bukan bayi yang terbaring di palungan. Hari ini yang Anda rayakan adalah sang Raja Damai. IA rindu memberikan Roh Kudus yang akan membawa Anda dalam damai, bahkan di masa sulit sekalipun.

Selamat Natal. Tuhan memberkati.

GodblesS

JEFF

GRATEFUL IN EVERY MOMENT

Tema Natal HOT adalah “Grateful in Every Moment.” Bagaimana kita bisa bersyukur di masa Natal ini, dan bahkan waktu-waktu sesudah Natal? Apa yang dihadapi para Anak Hamba Tuhan di masa seperti ini, dan bagaimana meresponinya?

Saya rasa masa-masa seperti ini adalah masa yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Masa dimana ada ketakutan yang menghantui di banyak aspek, Bahkan bagi sebagian orang menimbulkan keputusasaan. Namun sama seperti masa-masa sukar lain dalam sejarah, ada harapan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik.

Menarik sekali ada 4 hal yang juga terjadi di Natal pertama:

  1. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Matius 22:42.
  2. Ada ketakutan yang terjadi. Lukas 2:9.
  3. Ada keputusasaan. Lukas 2:7.
  4. Mengandung pengharapan. Matius 1:20-24.

Bagi rekan-rekan anak Hamba Tuhan secara khusus dan semua kita secara umum tentu ada hal-hal yang membuat kita berpikir di masa-masa seperti ini. Mengenai keadaan spiritualitas (baik pribadi maupun orang lain), keadaan orang tua kita, dan banyak hal lain. Namun demikian kita percaya ada rencana Allah di balik ini semua.

Saya rasa ada hal yang disampaikan pemazmur yang menunjukkan sikap kontras antara orang yang percaya kepada Tuhan dibandingkan dengan orang yang tidak percaya. Dalam Mazmur 59:16-17, ditunjukkan bagaimana mereka yang tidak percaya adalah orang-orang yang tidak bersyukur, dan membawa mereka kepada ketidakpuasan.

Namun sebelum menutup semua bahasan kita tentang “be grateful in every moment” saya ingin kita belajar sesuatu yang praktis dari tulisan Rasul Paulus di Roma 15:4. Saya ingin Anda juga membaca dari terjemahan NKJV.

“For whatever things were written before were written for our learning, that we through the patience and comfort of the Scriptures might have hope.”

Pada akhirnya pesan Natal di masa-masa seperti ini saya ambil dari Roma 12:12. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

GodblesS

JEFF