BAHASA KASIH YESUS

1Korintus 13:13. Ayat ini akan menjadi dasar pemahaman bahwa kasih punya kekuatan yang sungguh luar biasa, dan karena pendahuluan saya akan panjang, maka saya beri ayat dasar ini terlebih dahulu.

Kasih adalah suatu kata yang tidak akan habis dibahas sampai kapan pun. Kita banyak mendefinisikan kasih, dan bahkan setiap orang di tempat ini, masing-masing dari Anda pasti memiliki definisi kasih tersendiri. “Kasih itu berarti uang” mungkin beberapa dari Anda berpikir seperti itu, karena setiap ekspresi kasih membutuhkan uang, baik ketika Anda sendiri, maupun berkeluarga. “Kasih itu berarti perasaan” mungkin juga ada beberapa dari Anda berpikir demikian, karena tidak mungkin kalau tidak ada “rasa di dalam dada” kemudian kita mengasihi.

Orangtua bisa mendefinisikan kasih dari seorang anak adalah ketika anaknya berprestasi, kemudian anaknya itu merawat mereka di masa tuanya. Sementara seorang anak bisa saja mendefinisikan kasih sebagai pemenuhan biaya kehidupan orang tuanya saja. Atau bentuk hubungan yang lain, yaitu pada hubungan antara suami-dengan-istri di rumah tangga. Seorang suami mungkin mendefinisikan kasihnya dengan 2 kata: menikahi dan menafkahi. Tetapi seorang istri membutuhkan sentuhan lahir dan batin!  Saya tidak sedang menghakimi mengenai mana yang benar atau salah disini. Tetapi menarik bahwa ada banyak cara “membahasakan” atau mengungkapkan kasih itu, dari sekedar konsep, menjadi tindakan nyata.

Ada seorang penulis buku (Gary Chapman) yang mengungkapkan bahwa sebenarnya bahasa kasih itu bisa diungkapkan melalui 5 jenis tindakan. Menariknya pula setiap orang punya kecenderungan lebih kuat ke satu atau dua jenis bahasa kasih tersebut. Berikut jenis-jenisnya:

  1. Tindakan melayani.
  2. ‎Kata-kata peneguhan.
  3. ‎Sentuhan.
  4. ‎Waktu berkualitas.
  5. ‎Pemberian.

 

Seseorang bisa saja mengharapkan jenis 1 & 2 tetapi yang ia dapatkan hanyalah jenis 5. Atau seseorang lain melakukan 2&3 dan ia berpikir ia sudah mengasihi pasangannya yang menunjukkan kasih dengan jenis 1&4. Ekspektasi terhadap seseorang bisa membuat Anda terpuaskan atau kecewa. Tetapi kalaupun orang yang Anda kasihi tidak mengerti bahasa kasih yang Anda harapkan itu bukan akhir dunia. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  1. Utarakan keinginan Anda.
  2. ‎Ingatkan, tetapi tidak berlebihan.
  3. ‎Tanyakan/temukan bahasa kasih orang yang Anda kasihi.
  4. ‎Usahakan untuk memberi bahasa kasih yang diharapkan.
  5. ‎Berdoa untuk perubahan.

 

Kelima Bahasa kasih ini begitu menarik, tetapi sebenarnya ini bukanlah teori baru, karena Yesus sudah mempraktekkannya ribuan tahun yang lalu. Gary Chapman sendiri adalah seorang pendeta di salah satu gereja baptis yang berlokasi di North Carolina, Amerika Serikat.

Mari saya tunjukkan ayat-ayatnya:

  1. Tindakan melayani.

Yohanes 13:1b, 4. Yesus melayani dengan kesadaran penuh bahwa IA “lebih” dari semua murid-muridNYA. Pada kenyataanNYA, DIA lah pemegang kuasa di bumi dan di Surga, tetapi IA memilih untuk melayani. Anda hanya bisa disebut pelayan sejati ketika Anda sebenarnya punya “kuasa” untuk tidak melakukannya, tetapi Anda tetap melakukannya karena kerinduan untuk menunjukkan kasih. Galatia 2:20.

 

  1. ‎Kata-kata peneguhan.

Matius 28:20. Yesus tidak pernah meninggalkan kita, bahkan IA berjanji akan menyertai kita senantiasa, dan itu dinyatakanNYA dalam banyak kesempatan. Kita tahu “janji penyertaan” itu adalah pribadi Roh Kudus yang akan selalu ada, sampai akhir nanti kita bersekutu dengan Yesus dalam kekekalan. Saya tergoda untuk menjelaskan ayat-ayat mengenai janji kekekalan (misalnya: Wahyu 22:3-5), tetapi mengingat waktu, saya tidak akan lakukan hal itu. Tetapi ingatlah sepanjang Perjanjian Lama Allah juga selalu meneguhkan umatNYA dengan kata-kata: “AKU menyertai kamu,” atau, “AKU tidak akan meninggalkan kamu,” atau frase yang terkenal: “Jangan takut!” (Kejadian 26:3, Ulangan 4:31, Yesaya 41:10).

 

  1. ‎Sentuhan.

Markus 10:16. Yesus dengan kasihNYA yang besar memeluk dan memberkati anak-anak yang datang kepadaNYA. Alkitab tidak mencatat bahwa Yesus memiliki kekasih atau pun pernah masuk dalam jenjang pernikahan kemudian memiliki anak. Tetapi ini tidak menghalangiNYA untuk menunjukkan kasih dengan sentuhan pribadi. IA pun membiarkan salah satu muridNYA, Yohanes, untuk menyentuh diriNYA dan menunjukkan kasih melalui bersentuhan. Yohanes 13:23.

 

  1. ‎Waktu berkualitas.

Markus 6:31. Yesus mengambil waktu untuk beristirahat dan berbincang bersama dengan murid-muridNYA. Fokus Yesus supaya murid-muridNYA belajar sebanyak mungkin dari 3,5 tahun kebersamaanNYA dengan mereka, membuat hal ini (maksudnya waktu Yesus berbincang pribadi dengan murid-muridNYA), tentu terjadi berulangkali dan kita tahu tidak semua tertulis dalam Injil. Yohanes 21:25.

 

  1. ‎Pemberian.

Lukas 9:13. Bercerita tentang bagaimana Yesus menunjukkan kasihNYA dengan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kisah di Lukas melibatkan 5000 orang laki-laki, ada kisah yang hampir sama di Markus 8:2-3, namun melibatkan 4000 orang laki-laki. Pada kisah di Markus dituliskan bahwa, “Yesus tergerak oleh belas kasihan”.

 

Saya akan menutup penyampaian saya ini dengan sebuah kisah dari Yohanes 11. Ini adalah salah satu kisah klasik dalam Alkitab yang saya yakin Anda, yang dibesarkan dalam lingkungan “Sekolah Minggu”, sudah mendengarnya sejak masih kecil. Secara singkat kisahnya adalah mengenai Keluarga di Betania, yaitu Keluarga yang dekat dengan Yesus. Ini dibuktikan dengan singgahnya Yesus ke rumah mereka untuk memuridkan mereka dengan pengajaran-pengajaran. Kalau Anda penasaran segera saja buka Lukas 10:38-42. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bagaimana Keluarga ini meminta Yesus untuk datang dan melawat Lazarus adik laki-laki mereka.

 

Dalam Yohanes 11:3 mereka meminta Yesus untuk datang karena “…dia, yang Engkau kasihi, sakit.” Ketika saya membaca kalimat ini, saya berpikir, mereka benar-benar punya ekspektasi besar untuk Yesus segera datang, karena mereka berpikir, bahwa Yesus pasti ingin membuktikan kasihNYA yang besar terhadap Keluarga ini secara umum, atau Lazarus secara khusus. Tetapi sama seperti kisah-kisah dalam Injil yang lain, Yesus menunjukkan keillahianNYA, dan kita tahu cara pikir Tuhan tidak terjangkau oleh cara pikir manusia. Mazmur 139:17.

 

Apakah Yesus mengasihi Maria, Marta, dan Lazarus? Saya tidak meragukannya. Tetapi Bahasa kasih yang Tuhan tunjukkan kepada mereka berbeda, dengan tujuan yang berbeda. Yohanes 11:4. Bukankah seringkali kita mengharapkan Allah menunjukkan kasihNYA kepada kita dengan cara pikir kita sendiri. Terkadang kita marah dengan tekanan, kesulitan, dan pengalaman di lembah. Mazmur 23:4-5. Padahal disitu IA sedang membisikkan kalimat yang indah: “Aku mengasihimu anakku”.

 

GodblesS

JEFF

 

 

Advertisements

DAMAI BAGI DUNIA (Lukas 2:14)

Munculnya malaikat kepada para gembala di padang daerah Betlehem selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kisah Natal. Kisah ini pun memberi pengharapan bagi kita, bahwa kehadiran Yesus tidak dibatasi oleh status sosial dan perbedaan-perbedaan lain. Kita tahu kabar kelahiran “Raja Orang Yahudi” ini didengar mulai dari istana, sampai kepada padang belantara. Kepada yang kaya sampai kepada yang sederhana.

Menariknya ada suatu nyanyian Bala Tentara Sorga yang begitu mencengangkan tetapi juga membawa pesan pengharapan yang lain lagi. Mereka bernyanyi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14.

“Damai sejahtera di bumi” adalah sebuah pesan pengharapan. Mengapa? Karena bumi dan dunia manusia yang menempatinya ada dalam kondisi yang kacau. Bumi butuh intervensi Surga untuk merestorasinya, mengembalikannya pada tujuan awal ia diciptakan. Intervensi, atau “campur tangan”,  Illahi membawa kepada sesuatu yang lebih baik. Suatu masa pernah ada dimana manusia belum diciptakan, dan bumi belum berbentuk (kacau). Kejadian 1:2. Namun intervensi Illahi hadir, minggu penciptaan, menjadikan yang belum berbentuk, kosong, dan gelap gulita, kemudian memiliki bentuk, berisi, dan diwarnai terang.

Kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang terhadap bumi kita, kita bisa lihat betapa eksploitasi bumi dan penggunaan energi yang berlebihan membawa pada kehancuran perlahan pada bumi. Manusia yang menempati bumi mengambil peran didalamnya dengan menciptakan dunia penuh dengan kegelapan dan kekosongan. Kegelapan bukan karena tidak ada penerangan, tetapi kegelapan hati. Demikian juga, kekosongan bukan karena tidak ada yang dibangun, tetapi kekosongan arti.

Dunia manusia yang kacau ini bukan produk dari jaman modern ini saja. Kehancuran ini sudah dimulai sejak manusia jatuh kedalam dosa. Jatuhnya manusia, menariknya, ditandai dengan hilangnya damai sejahtera dalam diri manusia. Kejadian 3:8. Mereka yang biasa berinteraksi dengan Allah, kini menjauhi DIA. Seringkali kita juga memiliki pola pikir, bahwa Allah itu adalah Allah yang pemarah, sehingga kita memilih “menjaga jarak” dengan DIA, supaya setidaknya “merasa lebih damai”. Namun ini semu, semakin menjauh kita dari Allah, semakin kita kehilangan sumber damai itu. Inilah yang berusaha direstorasi dengan kedatangan Yesus ke dunia. Kehadiran Yesus membuktikan Tuhan bukanlah Allah yang pemarah.

Mengenai Tuhan bukanlah Allah yang pemarah kita sebenarnya bisa temukan dari ayat-ayat di Kejadian 3 tadi:

  • Saat manusia bersembunyi, Allah berinisiatif mencari. Kejadian 3:9.
  • Saat manusia bertelanjang, Allah menutupinya dengan mengorbankan hewan. Kejadian 3:21.

Korban inilah yang kemudian digenapi, juga oleh kehadiran Yesus ke bumi. Itulah kenapa Yesus juga disebut Anak Domba Allah. Karena Allah memperdamaikan manusia dengan curahan darah Yesus di atas kayu salib, yang dimulai dengan Natal: kelahiran Sang Damai. Ini dilakukannya bahkan saat manusia menjauhi dan memusuhiNYA. Kolose 1:20-22.

Sang Damai itu membawa Damai sejahtera yang sejati. Ini tidak sama dengan damai sejahtera yang dunia tawarkan, karena ada tertulis di Yesaya 59:8 tentang manusia yang tidak mengenal damai. Mereka bicara tentang damai tetapi menerapkan ketidakadilan dan menempuh jalan yang tidak lurus. Tetapi Damai Sejahtera Illahi itu menjadi bagian mereka yang berkenan kepada Allah, ini yang menjadi kerinduan Allah. Bandingkan kebalikannya di Yesaya 48:22.

Apa yang dikatakan Yesus, Sang Damai yang lahir ke dunia, ini? Yohanes 14:27. Damai sejahtera diberikan kepada kita, sama seperti yang disampaikan malaikat ±33 tahun sebelum perkataan di ayat ini diucapkan Yesus. Namun menarik, Yesus mengulang kembali tentang damai sejahtera ini dengan berkata: “Damai SejahteraKU kuberikan bagimu…” Yesus mengatakan ini di akhir-akhir masa hidupnya di dunia, IA meninggalkan warisan yang begitu berharga, yaitu Damai Sejahtera Illahi.

Lalu mengapa IA menyebutkannya sebanyak 2 kali? Ada komentator Alkitab yang berkata bahwa pengulangan ini artinya damai sejahtera yang penuh, yang utuh. Dalam budaya Ibrani kata “shalom”, yang dalam ayat diatas dipakai kata “eirene” (karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani), itu berarti damai yang penuh, utuh, lengkap. Sehingga saya melihat inilah kepenuhan damai sejahtera itu, bahwa kita diperdamaikan dengan Allah di Surga, atas kesalahan-kesalahan kita, demikian kita juga diminta menjaga damai diantara sesama manusia.

Seperti yang saya sempat sebutkan diatas Yesus menyampaikan tentang damai sejahtera ini di depan murid-muridNYA, supaya mereka, dan kita semua yang belakangan menjadi murid Yesus terus ada dalam damai dengan sesama kita, bukan saja yang mengasihi kita, bahkan yang memusuhi kita (Lukas 6:27). Pada akhirnya damai sepenuh, yaitu damai dengan Allah dan damai dengan sesama ini, sejalan dengan Hukum Terutama yang Yesus juga sampaikan: Kasihilah Tuhan Allahmu dan Kasihilah sesamamu. Matius 22:37-40.

 

GodblesS

JEFF

 

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

 

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

 

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

 

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

 

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

 

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

 

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 

GodblesS

JEFF

 

TAKE US HIGHER

Selamat Natal untuk semua jemaat! Saya rasa ini adalah kerinduan kita semua untuk terus meningkat dalam segala hal.

Waktu saya coba cari video untuk represent “higher” saya ada dua pilihan:

  • Video lompat tinggi
  • Video roket

Kalau kita melihat video tadi, kita bisa lihat bahwa roket yang dipersiapkan sangatlah sophisticated. Untuk bisa “menembus langit” kita tidak bisa pakai mercon tahun baru.

Demikian juga dengan kita. Kita tahu bahwa kita sudah dirancangkan dan dipersiapkan oleh Allah dengan luar biasa. Mazmur 139:13-14. Sehingga di Natal 2017 seharusnya kita tidak lagi masih berpikir, “Aku terbatas”, “Aku tidak bisa lebih baik dari sekarang”. “Aku tidak bisa lebih tinggi!” TIDAK! Sebab kita sudah dimerdekakan pikirannya dari KETERBATASAN. Yohanes 8:36. You can be higher than this.

Tapi mari kita kembali ke ayat tema kita saat ini: Ulangan 28:13. Allah yang akan mengangkat kita “lebih tinggi” dari kondisi kita sekarang. Sebelum saya menjelaskan lebih lagi mengenai hal itu, saya ingin membahas sedikit mengenai miskonsepsi tentang ayat ini. Ayat ini bukan berbicara tentang semua orang harus mengisi posisi pemimpin atau yang teratas. Ayat ini sebenarnya berbicara tentang peningkatan kehidupan, dan bagaimana hidup kita menjadi pengaruh. Seperti yang saya sudah jelaskan sebelumnya, bahwa Allah yang akan mengangkat kita. Ini bukanlah hal yang baru, Allah sudah melakukannya sejak pada mulanya. Kita pasti ingat kisah-kisah seperti:

  • Adam dalam Kejadian. Diangkat dari debu tanah, menjadi ciptaan yang paling mulia.
  • Israel dalam Keluaran. DIangkat dari budak, menjadi penakluk.
  • Daud dalam 1Samuel. Diangkat dari gembala domba, menjadi raja.
  • Demikian juga apa yang kita rayakan dalam Natal. Allah mengangkat kita dari kebinasaan, masuk dalam keselamatan, karena Yesus. Lukas 2:11. Inilah alasan sebenarnya kita merayakan Natal.

Untuk sampai ke posisi yang lebih tinggi, meskipun itu adalah janji Tuhan, tetapi kita juga harus mengerti ada bagian yang harus kita kerjakan. Tempat yang Tinggi itu identik dengan kediaman Tuhan. Musa harus pergi ke tempat yang tinggi untuk bertemu dengan Tuhan. Keluaran 32:30. Tapi sekarang banyak orang berkata: “Saya tidak butuh Tuhan! Saya lebih butuh uang, teknologi, kepintaran, dan terkenal.  Mungkin kita berpikir seperti itu, tanpa menyadari bahwa “untuk apa memiliki buah saja, kalau kamu bisa memiliki pohonnya, sumbernya.” Kalau Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Hikmat, kekayaan, promosi, maka saya akan cari Tuhan, dan pastikan bersama DIA di sepanjang hidup saya.

Daud pernah menuliskan demikian di Mazmur 24:3-4.

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

Mereka yang bisa HIGHER to be with God adalah mereka yang:

  1. Bersih tangannya.
  2. Murni hatinya
  3. Tidak menipu dikatakan “tidak menyerahkan diri kepada penipuan”. Jadi seorang penipu itu atas kehendaknya sendiri, bukan karena alasan “kepepet” dan lain-lain.
  4. Tidak bersumpah palsu/menyesatkan/memberi keterangan yang salah. Ya atau tidak, cukup.

 

Sadarkah kita dari keempat hal yang saya sebutkan itu, kita bisa memilikinya kalau kita punya KASIH. Kalau kita mengasihi orang lain dan mengasihi Tuhan. Dengan itu kamu pasti bisa menjaga tanganmu bersih, hatimu murni, dan tidak melakukan penipuan atau sumpah palsu. Bahkan KASIH dikatakan menutupi banyak dosa! 1Petrus 4:8.

Jadi di Natal ini, sebelum kita melakukan segala sesuatu, kita butuh mengerti posisi awal kita. Sebelum Yesus, kita meluncur turun menuju kebinasaan, kita terikat pada kehidupan yang lama, dan kita terhilang. Namun kini kita diingatkan akan janji “peningkatan” oleh Allah, saat kita bisa mengekspresikan kasih yang terlebih dahulu kita terima dari DIA.

  • Apa kamu cukup mampu? YA, SAYA DICIPTAKAN DAHSYAT.
  • Penuntunmu? Hukum Taurat itu hanya menuntun sampai titik tertentu dimana kamu terbang lebih tinggi dengan KASIH ALLAH.

Heart of Sacrifice

Mari kita baca terlebih dahulu ayat utama kita di Markus 12:41-44.

Pengorbanan identik dengan penderitaan. Kita semua mengenal apa itu penderitaan. Mengenai hal ini saya ingin sampaikan satu hal: Semua orang menghindari penderitaan. Tidak seorang pun di dunia ini yang ingin menderita. Kita semua menginginkan kesenangan, kebahagiaan, sukacita. Tapi mereka tidak sadar tanpa penderitaan, tidak ada namanya kesenangan. Tanpa kesedihan, tidak ada namanya kebahagiaan. Tanpa dukacita tidak ada sukacita.

Tidak ada kelahiran seorang bayi tanpa penderitaan dari seorang Ibu yang mengandung selama 9 bulan. Energi fisik dan emosional yang terkuras. Belum lagi ketika saat bersalin tiba, seorang ibu ada dalam kondisi hidup dan mati, demi bayinya. Coba tanya ke istri Anda, atau kalau belum punya anak, tanya ibu Anda.

Mengenai hal ini pun saya berani katakan: Satupun manusia tidak ada yang benar-benar lepas (atau tidak membutuhkan) pengorbanan orang lain.

Mari kita kenakan pikiran logis kita. Dimulai dari awal pembuahan embrio manusia. Untuk satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur dikorbankan berjuta-juta sel lain yang bergerak bersama yang berhasil. Kemudian, sebelum bayi atau janin keluar dari rahim juga dibutuhkan pengorbanan besar seorang ibu. Lebih lagi, supaya kita dapat sekolah, dan memenuhi kebutuhan sandang-pangan-papan, ada kepala keluarga (ayah). Bahkan untuk kesuksesan apapun juga bentuknya dibutuhkan pengorbanan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Apa yang dilakukan oleh janda miskin di dalam Markus 12 adalah sesuatu yang diapresiasi oleh Tuhan Yesus karena ia mengorbankan miliknya ke dalam peti persembahan, dengan tidak berfokus untuk mengasihani dirinya.

Coba kita lihat apa yang dialami Yesus lebih dari 2000 tahun lalu yang penuh dengan kisah pengorbanan yang luar biasa. DIA yang tidak seharusnya menjadi korban, datang mengorbankan diriNYA. Supaya kita selamat. This is the BEAUTIFUL EXCHANGE.

2 Korintus 8:9

Dia yang kaya menjadi miskin, supaya kita diperkaya.

Dia yang sehat dan kuat, menjadi sakit dan lemah, supaya kita memiliki kesehatan dan kekuatan.

Dia yang tak bersalah menjadi bersalah, supaya kita dibenarkan.

Dia yang adalah Anak Allah, menjadi orang yang terbuang, supaya kita dapat memanggil Allah kita, BAPA.

Roma 8:14-15. Tentu hal yang sama diharapkan ditunjukkan oleh anak-anakNYA.

Allah menjadi yang pertama menunjukkan hati yang penuh kasih dan ditunjukkan lewat pengorbananNYA yang besar! Yohanes 3:16.

Pengalaman adalah guru yang baik. Tanpa pengalaman kita tidak belajar secara maksimal. Memang ada  beberapa hal yang tidak perlu kita alami secara langsung untuk belajar. Misalnya: tidak perlu membakar rumah untuk membuktikan api itu berbahaya di perkampungan, atau memotong tangan untuk membuktikan pisau itu tajam.

Tapi lihatlah Abraham. Pengalaman mengorbankan anaknya yang tunggal menyempurnakan kepercayaannya pada Tuhan.

Korban yang seperti apa yang diharapkan? Saya urutkan dari tingkatan yang menurut saya paling mudah sampai yang paling sukar.

  • Mazmur 50:23 – persembahan syukur
  • Mazmur 51:19 hati yang hancur
  • Ibrani 13:6 perbuatan baik/persembahan
  • Roma 12:1 – tubuhmu.

GodblesS

JEFF

JOYFUL CHRISTMAS

Banyak orang berbicara tentang Natal sebagai suatu kegiatan ritual, sesuatu yang harus dirayakan, karena begitulah adanya. Tetapi sebenarnya Natal yang terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu bernilai lebih dari ritual.

Sebagai orang muda, kita punya banyak keingintahuan, kenapa begini, kenapa begitu? Tetapi pernah kah Anda bertanya sebenarnya apa yang membuat Natal begitu khusus dalam Iman kita kepada Kristus. Secara keseluruhan iman kepada Kristus berdasar pada kematian dan kebangkitan Yesus. Tetapi mengapa Natal?

Pertama Natal itu adalah sumber kegembiraan. Kegembiraan yang ditawarkan Natal bukanlah kegembiraan seperti yang Anda dapatkan ketika mendapat hadiah baru, atau pacar baru. Karena kegembiraan Natal lebih dari apa yang sementara. Saya sebenarnya lebih suka memakai kata “sukacita” untuk membedakan “derajatnya” dengan sekedar “gembira”. Yohanes 15:11. Sukacita itu dari Allah, dan bisa membuat Anda “penuh”. Ini berbeda dengan kegembiraan yang sementara seperti dari makanan atau dari kepemilikan. 1Raja-raja 21:7. Menarik sekali kalau Anda generasi kekinian yang punya kuota, waktu Anda Google search “joyful meaning” kemudian yang keluar ini “causing great pleasure and happiness.” Jadi sukacita itu menjadi kata dimana hal itu menggambarkan sesuatu yang menyebabkan kegembiraan. Anda mau sumber atau hasil? Mana yang akan lebih menguntungkan bagi Anda?

Kedua, Natal itu memberi gambaran sukacita baik di bumi maupun di Surga. Sukacita di bumi bisa dilihat seperti apa yang dialami Maria, ketika ia berkata dalam Lukas 1:48, bahwa ia adalah orang yang berbahagia. Itu terjadi saat dia di bumi, tetapi juga di Surga nanti. Yohanes 14:3. Kehadiran Yesus menjamin sukacita kita di bumi sekarang, dan di Surga nanti.

Ketiga, Natal itu memberi harapan. Bahwa yang terpenting bukanlah yang nampak sekarang, tetapi apa yang menjadi sumber sebelum itu terlihat. Yesus nampak sekarang sebagai orang sederhana, orang biasa. Matius 13:55-56. Tetapi ia bersumber dari Surga yang mulia. Yohanes 18:36.

Sukacita yang luar biasa itu sekarang ditawarkan pada kita, bukan dalam bentuk bayi. Yohanes 3:6. Daging melahirkan daging, tapi dalam bentuk Roh, yang tidak dapat dicuri, dan tak dapat binasa, itu akan menghasilkan Roh. Galatia 5:22-23.

 

DOA MARIA

Kita masuk lagi di bulan Desember. Kembali lagi kita diingatkan dengan peristiwa Natal di Betlehem ribuan tahun yang lalu. Tentu saja setiap kali datang Natal kita diingatkan untuk membaca kembali kisah Natal dan mengingat tokoh-tokoh Natal yang terlibat.

Satu tokoh yang menonjol, dan saya rasa mungkin juga ada di benak Anda sekalian. Nama tokoh ini: Maria. Hari ini kita akan bahas Doa Maria. Tenang, ini bukan mantera, atau doa yang diulang-ulang seperti yang dipraktekkan beberapa orang lain. Sebenarnya dengan membaca Yohanes 16:26 saja sudah jelas kepada siapa seharusnya kita berdoa.

Tetapi kita tidak akan membahas hal itu sekarang, saya ingin kita melihat ke Lukas 1:46-55 dan melihat apa yang menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi kita dari 10 ayat di Lukas pasal yang pertama ini. Tetapi karena keterbatasan waktu kita akan membahas dari 3 ayat saja.

Mari kita mulai dengan ayat yang ke-46: “…memuliakan Tuhan.

Maria mengatakan kalimat ini setelah Elisabet, kerabatnya yang sedang hamil, dalam kuasa Roh mengatakan hal-hal yang luar biasa tentang Maria. Kita belajar bahwa segala sesuatu yang positif, yang terjadi pada kita, kita jadikan energi untuk memuliakan Tuhan. Coba lihat respon Daud di 2 Samuel 7:18-29, setelah Nabi Natan berbicara atas nama Tuhan akan hal-hal baik bagi keluarganya. Daud tidak kemudian membanggakannya kepada keluarganya, tetapi malahan merendahkan diri dan memuliakan Tuhan.

Ayat yang ke-47: “…hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.

Ini sebenarnya rahasia sukacita di dalam dunia ini. Bukan karena harta, tahta, atau cinta, tetapi karena Yesus, Juruselamat kita. Saat itu Maria belum menyebut Yesus, karena Yesus masih belum dilahirkan dan menyelesaikan misinya. Namun bahwa bayi yang Maria akan lahirkan adalah juruselamat ada di perkataan malaikat kepada para gembala domba, di malam saat Yesus lahir. Lukas 2:11. Kita mengerti bahwa dunia menempatkan prasyarat yang bermacam-macam untuk resep kegembiraan yang sementara. Namun kita punya resep yang hanya satu saja prasyaratnya, percaya kepada Yesus! Dalam doa mu sebut nama DIA dan bergembiralah.

Ayat yang ke-48: “…Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Menarik sekali bahwa penulis Mazmur yang hidup di bawah Taurat menuliskan tentang perkenanan Tuhan, dan keselamatan bagi orang-orang yang: RENDAH HATI. Mazmur 149:4. Tetapi “kerendahan” ini juga dilihat oleh komentator Alkitab yang laini sebagai status Maria saat itu. Ia hanyalah seorang perawan yang miskin, bertunangan dengan seorang tukang kayu, Yusuf. Tetapi toh Allah melihat mereka di dalam kerendahan mereka dan meninggikan mereka sebagai orang tua dari Yesus yang kemudian menjadi juruselamat bagi dunia. Kita dulunya rendah dan terbuang karena dosa. Bayangkan dari kemuliaan sebagai ciptaan tertinggi di bumi, manusia jatuh ke bawah begitu keras. Tetapi Allah tidak menyerah dengan yang terbuang ini, IA “…mengangkat aku dari dunia orang mati, … menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.” Mazmur 30:4.

Masih di ayat yang ke-48: “…mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.

Maria tahu bahwa hidupnya berubah karena Tuhan, dan apa yang Tuhan percayakan kepadanya, sekarang. Paulus pun menyadari bahwa ia yang “rendah” diberikan kepercayaan yang luar biasa untuk melayani Kristus Yesus. 1Timotius 1:12-14. 

Mari kita datang pada Tuhan dengan 4 inspirasi dari Doa Maria ini.

THE BEST GIFT

Kita semua pasti pernah mendengar pernyataan ini: “Hidup adalah perjuangan”. Untuk Anda Keluarga Muda pasti pernah dengar lagu hits dari Dewa 19 di tahun 2000-an. Tetapi memang kenyataannya seperti itu. Coba bayangkan dari 5 tingkat pertumbuhan manusia, semua butuh perjuangan:

  • Pre-natal ( ketika sebelum lahir dan saat kelahiran semua berjuang bukan, baik bayi, sang ibu, bahkan sang ayah juga.
  • Babyhood ( belajar hal-hal dasar itu butuh perjuangan bukan? Belajar menghisap, mengunyah, belajar berjalan, berlari, dan lain sebagainya.
  • Childhood ( anak mulai mengenal aturan, dan berjuang untuk mematuhi aturan di rumah dan sekolah.
  • Adolescence ( perubahan hormonal membuat Remaja harus berjuang secara fisik dan psikis (storm & stress period).
  • Adulthood ( kedewasaan ini mensyaratkan untuk hidup bagi orang lain, hidup bagi orang tuanya, hidup bagi pasangan dan anak-anaknya.

Perjuangan sangat lekat dengan pertandingan, dan hal ini juga disampaikan Paulus di 1Timotius 6:12. Dalam Filipi 3:14 dikatakan bahwa perjalanan, atau pertandingan iman kita itu adalah perjuangan, ditulis sebagai “berlari-lari”.

Sebuah pertandingan kemudian menjadi hal yang pantas diperjuangkan ketika ada: TUJUAN YANG DIKEJAR. Coba baca pernyataan Paulus di 1Korintus 15:32, dia rela melayani sampai hampir mengorbankan nyawanya karena dia tahu akan tujuan akhir hidupnya, dan apa yang akan terjadi.

Saya sampaikan ini di banyak kesempatan saya melayani, bahwa hidup yang dihidupi tanpa mengetahui misi/tujuan hidup, adalah hidup yang sia-sia (@jeffminandar.com – “Misi Kita di Dunia”). Hal ini yang menjelaskan fenomena mengapa banyak orang kemudian putus asa dengan hidupnya, lebih spesifik lagi malam ini, mengapa banyak Keluarga putus asa dengan rumah tangganya atau pasangannya. Saya berharap pasangan-pasangan muda mendengar ini baik-baik, termasuk Jonas dan Asmirandah, yang malam ini hadir untuk berbagi kisah mereka.

Bukan karena saya mengatakan ini, tetapi karena Firman Tuhan yang mengatakannya. Pengkhotbah 1:2. If you lose your sense of mission/purpose in any aspect of your life, then your life would be in vain.

Tetapi syukur kepada Allah bahwa IA memberikan tujuan yang luar biasa dalam hidup kita. Hal ini kita temukan dalam Filipi 3:14, yang disebut sebagai “panggilan Sorgawi” dari Allah dalam Kristus Yesus. This is our beacon of hope. Inilah “hadiah” terbaik yang kita dapatkan dari Allah: pribadi Yesus.

Ini seperti bintang timur yang membuat para majus terus berjalan selama 2 tahun. Atau seperti Rahel bagi Yakub yang membuatnya terus bekerja selama 14 tahun. Yesus lah seharusnya yang menjadi cinta terbesar dalam Keluarga kita. Bukannya saya meragukan besarnya cinta Anda terhadap pasangan Anda, atau terhadap anak Anda. Cinta Anda bisa jadi sanggup tetapi sampai sejauh mana, dibandingkan cinta dan kasih setia Tuhan. Yesaya 63:7.

So, I want to close this sermon with these last few statements. Kalau banyak suami/istri, ayah/ibu, Keluarga/rumah tangga, yang menyerah karena tujuan mereka yang salah. Atau bahkan, yang paling mengerikan, karena tidak ada tujuan. Maka malam hari ini Anda berbeda, karena Anda tahu Anda menerima the best gift from heaven: A HEAVENLY CALLING FROM GOD IN CHRIST JESUS.

GodblesS

JEFF

 

VICTORY THROUGH CHRIST

Mengapa kita harus menang? Karena tidak ada satupun dari kita yang suka kalah, bukan? Kita berusaha untuk mencapai kemenangan dan kecewa ketika kita tidak memperolehnya. Tetapi kemenangan seperti apa yang kita mau miliki, itu kemudian menentukan pilihan kita, dan tentu saja tindakan kita. Ada kemenangan karena kita berbuat jahat, curang, meminta bantuan yang tidak seharusnya. This is bad victory. Segala sesuatu yang dilakukan dalam dosa, meskipun itu nampak bagi banyak orang sebagai kemenangan, tetapi sejatinya itu tetap sesuatu yang buruk.

Menariknya, sebelum Kristus, kita yang merupakan keturunan dari Adam pertama adalah orang-orang yang kalah! Karena “semua orang berdosa” dan akibatnya kehilangan kemuliaan Allah. Roma 3:23. Kita tidak pernah bisa menang dari kondisi kita yang berdosa. Kemudian apa yang dibawa oleh dosa itu? Maut! Roma 6:23. Sehingga kita tidak bisa memperoleh hidup kekal, seberapapun kita “menang” di hidup dunia yang sementara ini. Itulah mengapa kita butuh Juruselamat, kita butuh “superhero”.

“Our Superhero” adalah YESUS. Lebih dari semua Superhero yang kita kenal sekarang: Superman, Batman, Wonder Woman, Black Widow dan lainnya. Superhero kita “nyata dan tidak fiktif”! Yesus ada dan menjadi bagian dari Sejarah manusia. Tidak ada Superhero yang menjanjikan kekekalan dan tempat indah bersama dengan DIA. Yohanes 14:3. Bahkan Yesus memberi dan menjadi Penolong yang menyertai selamanya. Ayat 16.

Karena DIA selalu menyertai kita maka kita sekarang menjalani hidup yang Berkemenangan (Victorious Living)”. Ini adalah kebenarannya, bukan menurut kata orang, tetapi menurut kata Tuhan. Karena itu Tuhan minta kita “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6) untuk mengungkapkan apa yang Tuhan sudah lakukan untuk kita, untuk mengungkapkan status terkini kita. Lalu apa kemenangan kita? Hidup yang kekal, sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan dalam dosa. Roma 6:23. Karena IA adalah pemenang, maka kita adalah para pemenang, bahkan lebih dari mereka yang menang. Allah yang berperang ganti kita. Kemenangan itu menjadi milik kita karena Allah di pihak kita, karena Yesus ada bersama kita. 1Korintus 15:57.

Banyak orang berkata lebih sulit untuk mempertahankan kemenangan daripada memperolehnya. Lalu bagaimana kita bisa menjaga kemenangan kita. Jelas dalam Alkitab disebutkan bahwa IA ingin kita menjadi pengikutNYA, muridNYA. Murid Itu ada tinggal tetap dalam FirmanNYA, KebenaranNYA dan kebenaran itu memerdekakan. Yohanes 8:31-32. Dengan demikian kita bisa tetap menjadi orang-orang yang menang.

Apa yang sekarang Anda hadapi mungkin nampaknya adalah kekalahan dalam pekerjaan atau usaha, dalam studi, dalam pelayanan, dalam hubungan, dalam Keluarga, Anda sebutkan saja kekalahan. Tapi ingatlah sebenarnya Anda adalah pemenang, dan kemenangan yang Anda peroleh, didapat melalui Kristus, sehingga tidak ada perbedaan. Roma 3:22. Semua yang ada di dalam Kristus adalah pemenang!

Sayang sekali jika kita menggadaikan kemenangan kita, yaitu hidup kekal dengan sesuatu yang sementara seperti harta, tahta, dan cinta. Kita tahu dan dengar banyak orang percaya yang dulunya ada di dalam Kristus, kemudian meninggalkan DIA untuk pasangan hidup, untuk jabatan, untuk harta yang lebih banyak. Saat ini waktunya untuk mendeklarasikan kemenangan kita sekali lagi, bukan karena kita lebih dari orang lain, tetapi sekali lagi karena Yesus!

ENDURANCE (Hidup sebagai Orang Muda Kristen)

Ini adalah suatu sukacita bisa berada di tengah-tengah orang-orang muda di Bogor. Sepulang dari tempat ini ada harapan supaya Anda semua menjadi orang-orang muda jaman sekarang, yang kekinian, tetapi tidak tergoyahkan (endurance). Anda tekun sedemikian rupa sampai dapat menjadi dampak bagi lingkungan sekitar (keluarga di rumah, lingkungan sekolah, dan lain-lain) meskipun PROSES atau SITUASI-nya tidak mudah. Efesus 4:14 berkata bahwa yang mudah diombang-ambingkan itu “anak-anak” tetapi kita “dewasa” secara rohani meskipun secara usia masih unyu. Orang muda sering dikatakan tidak berhikmat, namun dalam Yakobus 1:5-6 kalau kita ingin menjadi generasi yang penuh dengan hikmat, kita harus meminta kepada Tuhan dengan IMAN yang tidak tergoncangkan. Jadi keputusan Anda datang saat ini adalah keputusan yang benar!

Saya akan berusaha untuk menjelaskan dalam 60 menit ke depan seperti apa seharusnya hidup seorang muda yang memilih untuk menjadi pengikut Yesus (atau biasa disebut Kristen). Saya akan bagi jadi empat bagian untuk menjelaskan bahwa Anda adalah:
Orang yang diciptakan dengan seksualitas.
Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.
Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.
Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Mari kita mulai dengan yang pertama:
Anda adalah orang yang diciptakan dengan seksualitas.

Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Namun gambaran ini rusak karena dosa. Siapa kita sebenarnya? “Pada mulanya”. Tahukah kita bahwa Allah menciptakan suatu lingkungan yang sempurna untuk pria dan wanita dapat hidup dan memenuhi tujuannya? Coba saja lihat dari hari pertama sampai dengan hari keenam dalam minggu penciptaan.

Kejadian 1:27 DIA menciptakan kita serupa dan segambar dengan diriNYA. Serupa dan segambar adalah kesamaan manusia dengan Tuhan dalam hal ROHANI. Anda adalah manusia roh. Yakobus 2:26, Yakobus 4:5. Sehingga apa yang terjadi di secara fisik seharusnya kamu pikirkan apa efeknya secara roh.

Kehidupan manusia, khususnya orang muda, tidak bisa dilepaskan dari bicara tentang cinta, cinta itu bukan sekedar romansa. Menurut Alkitab Cinta itu adalah Pribadi Allah, sehingga ketika kita bicara tentang cinta berarti kita sedang membahas Allah yang adalah Roh. 1Yohanes 4:8.

Cinta adalah sesuatu yang menjadi tema universal. Cinta adalah sesuatu yang menembus semua batasan yang manusia kenal.
Jarak? Cinta mampu menembusnya.
Waktu (usia)? Cinta mampu melewatinya.
Status sosial? Cinta mampu meruntuhkannya.
Apa lagi yang Anda pikirkan? Tingkat pendidikan, faktor ekonomi, kondisi fisik, penyakit, dan pembatas lainnya, meleleh kalau dihadapkan dengan Cinta. Karena Cinta bisa mengatasi segalanya tak heran kalau ada yang berkata Cinta / Kasih adalah yang terbesar atau terutama. 1Korintus 13:13.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi secara fisik ketika kita kemudian mendefinisikannya sebagai “cinta”? Otak kita terpicu oleh sensor atau indera, dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh sebagai respon. Secara sederhana, indera kita (mata) menangkap stimulus (melihat) yang bergerak atau diam (objek lawan jenis).

Otak yang menerima informasi ini segera mengirimkan impuls ke tubuh, yang bisa berupa jantung yang berdetak semakin cepat, tangan yang berkeringat, pupil mata yang membesar dan yang lainnya. Bahkan ada sebuah penelitian pada 2004 di London menyebutkan bahwa ketika seseorang mengalami perasaan “cinta”, hal ini menekan aktifitas otak di area yang mengendalikan pemikiran kritis.

Kita bisa bilang bahwa cinta adalah gejala psikofisis, maksudnya apa yang terjadi didalam yang tak terlihat (psikis) nampak dalam apa yang terlihat diluar (fisik). Apa yang terlihat sebagai perilaku sebenarnya hanyalah fenomena gunung es.
Jadi ketika ingin memperbaiki apa yang ada diluar seharusnya yang difokuskan adalah pembenahan apa yang didalam. Ingat ini: healthy inside, fresh outside. Atau dengan kata lain hatimu menentukan perilakumu, karena dari dalam hati timbul segala sesuatu pikiran dan perbuatan jahat. Lukas 6:45.

Cinta ada di hati, lalu hati itu dimana? Itu ada di jiwa kita, di pikiran kita. Itulah kenapa sebenarnya ketika kita menang dalam pikiran, maka kita bisa juga menang dari hal-hal menyimpang dalam ekspresi cinta kita:
Mencintai diri sendiri (narsisme).
Mencintai dengan eksploitasi seksual.
Mencintai sesama jenis.
Mencintai dalam status yang di luar etika Kristen (kawin-cerai, duda-janda, dibawah umur dan lain sebagainya).

Karena cinta ini ada di hati, yaitu pikiran kita, maka hubungannya akan sangat erat dengan konsep diri kita. Konsep diri yang saya maksudkan adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Bayangkan betapa banyak dana yang dikeluarkan wanita untuk menjadikannya sosok ideal dan dicintai secara fisik: rambut hitam lurus panjang, badan langsing, muka bercahaya, dan kulit yang putih. Konsep seperti ini kemudian dipasarkan sebagai sosok ideal. Tapi apakah benar? Sebab setiap orang berpikir bahwa jalannya lurus menurut pemandangannya sendiri. Amsal 21:2.

Jadi bagaimana kita menghindari sindrom-sindrom seperti ini? BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL. 1Tesalonika 5:18. Kata yang sering kita dengar tapi kadang jarang kita praktekkan. Tahukah kita bahwa kejadian / eksistensi kita ini ajaib dan dahsyat. Mazmur 139:14. Banyak orang “haus” akan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa. Padahal itu ada didalam dirinya.

Tahukah Anda bahwa Anda diciptakan sempurna? Anda merasa tidak sempurna disaat Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain. Dan di dunia yang tidak sempurna ini segala sesuatu bisa terjadi. Konsep yang seperti ini bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Seseorang merasa dirinya terjebak didalam tubuh yang salah. Atau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang salah. Saya tahu ini hal yang sulit dimengerti, tetapi homoseksualitas (gay/lesbian), transgender (wanita-adam) atau biseksualitas, adalah pilihan yang diambil seseorang sama ketika dia memilih untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Karena ada konsep anima-animus bahwa di setiap pria ada unsur wanita didalamnya dan demikian sebaliknya.

Lalu kapan seorang pria-wanita bisa memulai pacaran? Jawaban yang mudah adalah ketika keduanya sama-sama siap. Tetapi kapan mereka siap? Kesiapan secara psikis adalah patokan. Karena dari dalam hati keluar perbuatan yang jahat. Maka pastikanlah bahwa hati atau motif yang terkandung didalamnya adalah baik. Secara pribadi berpacaranlah setelah engkau bisa menghidupi diri sendiri secara ekonomi. Karena disaat engkau mulai dapat menghidupi diri sendiri engkau sudah mulai bertanggungjawab tentang dirimu. Engkau bisa mengasihi orang lain, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Cinta adalah hubungan, selalu melibatkan 2 pihak. Ada yang menerima dan ada yang memberi. Nah cinta adalah perasaan yang timbul dari hubungan dengan lawan jenis. Ini yang menarik, karena kita akan mendasarkan bahasan kita pada sex. Bukan triple x, tapi sex. Sex sendiri adalah perbedaan jenis kelamin.

Nah sekarang kita lihat bahwa pemahaman tentang seks harus diketahui sejak dini. Namun ada tingkatan pelajaran seks itu dari basic – intermediate – advance. Pendapat yang mengatakan “Ah binatang aja nggak diajarin bisa beranak pinak!” tidaklah lagi relevan, kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang. Kompleksitas hubungan dalam manusia yang membuatnya berbeda.

Making future plans is a healthy ingredient for a growing relationship, It’s also an indicator of the commitment you have to each other.

Hidup yang berkualitas itu tidak ditentukan oleh seberapa kali Anda berhasil memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Apalagi jika itu berlanjut ke hubungan seks. Hidup yang berkualitas adalah ketika Anda bisa bertanggungjawab pada diri Anda sendiri. Ikan yang hidup selalu berenang melawan arus. Hanya ikan mati yang terikut arus.

Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.

Konsep diri seseorang yang rusak dari lingkungan dan media menimbulkan perilaku yang menyimpang. Karena konsep diri yang positif akan menjawab pertanyaan “Siapakah Aku?” dan “Untuk apa aku ada?” Kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini akan memicu seseorang mengejar sesuatu yang semu. Mereka bergabung dengan komunitas yang dapat menunjukkan eksistensinya, misalnya geng motor, atau vandalisme.

Kita tahu bahwa kita diciptakan untuk jadi pengubah dan pembeda di lingkungan kita. Kita akan membuat sejarah dalam satu titik di hidup muda kita! KITA ADALAH PENGUBAH SEJARAH! Pertama-tama kita akan membahas mengenai “pembuat tren”, selama ini apakah kita adalah pembuat tren atau pengikut tren yang ada? Mungkin ada yang berpikir: Wah, bagaimana dengan skinny jeans ku, apa kabar celana “gemes” yang baru dibeli, udah terlanjur diwarnain “ash grey” rambutku? Aduh, apa musti dihapus semua account social media? Hey hey hey, easy. Tenang dulu.
Bukan berarti kita kembali ke jaman batu karena kita nggak mau disebut trend follower. Maksud saya sebenarnya jangan terjebak dengan TREND yang sudah ada, tanpa kemudian menyadari panggilan kita sebagai pengubah, pembeda. Coba kita baca apa yang Yesus katakan. Matius 5:13-16. Anda adalah pembeda. Menariknya disini dikatakan Yesus sebagai identitas kita. Jadi ini bukan sesuatu yang menjadi tujuan kita, melainkan ini adalah identitas kita. Kamu adalah TERANG & GARAM.
Coba kita sekarang lihat apa yang ditulis dalam 1Tawarikh 4:10.Apa yang dimaksud Yabes dalam doanya, yang juga dijadikan lirik lagu rohani ini? Kalau kita mau hubungkan dengan apa yang membuat kita berbeda dengan “memperluas daerahku”? Apakah kita perlu jadi “tuan tanah”?
Maksudnya adalah memperlebar pengaruh kita kepada orang lain. Karena kita bisa menampung lebih banyak orang. Bukankah ini yang Yesus mau didalam hidup murid-muridNYA dengan berkata “pergi dan “memberitakan” kabar baik. Supaya pemberitaan Firman Tuhan lebih jauh dari sekedar Yerusalem, namun juga ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kisah Para Rasul 1:8.
Kita akan bayar harga berapapun untuk menjadi dampak yang positif. Dalam Filipi 1:20-21 dengan berani Rasul Paulus berkata bahwa: Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Lebih lagi kepada Timotius Paulus berkata di 2Timotius 1:11-12 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Sampai disini saya harap Anda bisa melihat bahwa untuk menjadi seorang yang berbeda kita harus berpikir lebih besar dan mau bayar harga. Anda adalah seperti thermostat dan bukannya thermometer.

Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.

Perkembangan teknologi menjadi tidak terbendung lagi. Dari jaman ke jaman manusia menciptakan sesuatu yang bisa membantu dirinya untuk memenuhi keingintahuan mereka akan banyak hal. Contohnya, sejak kecil seorang anak selalu diisi keingintahuan mereka akan banyak hal. Mulai dari pertanyaan pula, kemudian timbul inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan baru. Tahukah kita bahwa manusia memang memiliki kemampuan pikir yang tidak terbatas? Kejadian 11:6. Jadi jangan kaget dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Sebenarnya ini adalah pendorong semangat kita bahwa apa yang difirmankan Tuhan sama bagi kita juga, yang hidup pada masa sekarang. Think big, think global but act locally.
Disaat yang sama kebutuhan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tetap mengambil posisi yang penting. Contohnya saja kita bisa lihat bagaimana seseorang berusaha memiliki teman atau kenalan, dan bahkan saling mengklaim bahwa mereka memiliki teman atau sahabat yang banyak. Kita bisa mengerti ini juga mengapa penulis Amsal merasa perlu menuliskan nilai-nilai dalam relasi dengan orang lain. Amsal 27:10.
Apa yang terjadi ketika kedua komponen, yaitu teknologi dan hubungan manusia-dengan-manusia digabungkan? Lahirlah SOCIAL MEDIA. Jika kita coba perhatikan benar-benar, semua teknologi yang berusaha menghubungkan manusia dengan manusia yang lain itu adalah Social Media, yang kalau diterjemahkan bebas adalah media atau tempat mengekspresikan diri supaya terhubung dengan yang lain (social). Tetapi ada orang lain yang juga mendefinisikan social media sebagai kumpulan usaha menyalurkan komunikasi secara online (di dunia maya), yang dilakukan dengan beragam maksud, misalnya memberi masukan bagi komunitas, menjalin interaksi, berbagi suatu konten (muatan) dan juga berkolaborasi. (www.techtarget.com). Saya pikir inilah kemudian yang jadi daya tarik Social Media, karena ada tiga komponen ini:
Keingintahuan manusia yang sudah ada dalam dirinya.
Dari poin diatas itu ditambah potensi kecerdasannya, kemudian melahirkan teknologi untuk membantu manusia.
Keinginan atau bisa disebut kebutuhan manusia untuk terus terhubung, karena manusia juga mahluk sosial.

Saya juga memiliki beberapa data yang mencengangkan tentang jumlah pemakai social media, dan mungkin ini yang ter-update, karena Facebook Indonesia sendiri mencatat pada akhir kuartal kedua (Juni) 2016, pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia adalah 88 juta pengguna. Padahal di akhir 2014 pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia baru 77 juta. Saya bayangkan kalau perkembangan gereja seperti ini pasti luar biasa. Fakta menarik lainnya, 94% dari pengguna itu mengakses Facebook dari perangkat mobile (handphone, tablet). Kemudian statistic ini juga menarik, dalam sehari rata-rata 80 kali orang mengecek perangkat mobile nya. Kemudian 14 kali diantaranya yang dicek adalah Facebook. Holy Bible sekarang “kalah” akses dengan Holy Facebook. Dalam hal ini saya tidak mau menghakimi Anda jika Anda lebih banyak mengakses Social Media dibandingkan dengan Alkitab. Tetapi saya terus menyarankan untuk Anda melakukannya dalam level moderat. Ketika itu mengikat Anda, itu sama saja Anda kecanduan. Itulah mengapa saya sarankan misalnya Anda ambil puasa atau lebih tepatnya pantang Social Media sekali waktu dalam minggu-minggu yang Anda jalani.
Menariknya semua teknologi yang tercipta, atau bahkan semua barang itu memiliki dua “sisi”, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seperti sebuah batu Anda bisa gunakan untuk yang positif (Bilangan 11:8) dan yang negative (Hakim-hakim 9:53).
Jadi apa saja yang jadi pengaruh positif dan negatif dari Social Media? Mari kita mulai dari yang positif.
Dampak positif dari Social Media:
Semua orang yang memiliki akses mampu mengembangkan “lingkaran” pertemanannya. Ketika kita punya teman berarti kita punya pengaruh, otomatis “lingkaran” pengaruh kita juga membesar.
Kita memiliki banyak sumber berita dan ini lebih cepat dari media-media elektronik konvesional sekalipun. Demikian juga inspirasi kita untuk ide-ide segar, dan cara pikir kita menjadi lebih luas.
Menghemat ongkos komunikasi local dan global menjadi sangat minim, menjadi sangat cepat dan efisien.
Dampak negative dari Social Media:
Menjauhkan orang-orang yang sebenarnya secara fisik lebih dekat daripada “orang-orang” yang ada di social media.
Sumber berita yang banyak bisa kemudian membuat kita terlalu banyak informasi-informasi yang tidak berguna.
Karena semakin murah dan mudah maka orang memanfaatkannya dengan tidak bertanggungjawab. Banyak sekali cyber-bullying, dusta, bahkan pembunuhan karakter terjadi di social media.
Secara singkat, social media me-revolusi pandangan kita dalam hal moral (benar-salah), budaya (mengenal suatu nilai dan mengadopsinya) dan juga iman (dasar percaya pada Tuhan). Semuanya seperti yang saya paparkan di atas memiliki dua sisi: positif dan negative.
Ada banyak penerapan yang salah dari Social Media. Kalau mau diurutkan tentu saja akan ada banyak hal yang kontra-produktif dari penggunaan social media. Saya sendiri punya pengalaman menarik dengan social messenger. Saya memutuskan untuk berhenti dari segala jenis social messenger mungkin sudah 2 tahun terakhir. Saya pengguna aktif social messenger sejak 2008, dimulai dengan BBM. Bayangan pertama kali adalah ini akan membuat saya bisa terkoneksi tanpa batas dengan semakin banyak orang, tetapi ternyata semakin tahun, social messenger membuat saya begitu terikat, dan pada dasarnya mulai mengganggu. Saya putuskan untuk menjadi lebih simple dengan hanya memiliki account social media di FB, Youtube, dan weblog. Sementara untuk komunikasi: call-text-email.
Tidak ada yang salah dengan keberadaan awal social media untuk menghubungkan antar manusia yang berbeda jarak. Tetapi ingat tidak semua hal berguna. 1Korintus 10:23. Anda tidak perlu se-ekstrim saya, tetapi saya harap Anda bisa mengerti jebakan penggunaan social media:
Menjebak Anda untuk mengasihi sebuah aplikasi teknologi dibandingkan mengasihi Tuhan. Matius 10:37.
Menjebak Anda untuk “memberi makan” ego Anda. Galatia 5:20 merujuk pada perbuatan daging, tetapi di Yakobus 3:14 kita diberi petunjuk supaya jangan lebih jauh terjerumus.
Menjebak Anda untuk menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa dipergunakan untuk hal lain. Mazmur 78:33.

Coba baca pernyataan ini:
Social media is a tool to share the light, not to share your gloomy feelings.
(JM)
Ingat kan sama ayat ini: Matius 5:14-16. Pertanyaannya gini, apakah orang bisa memuliakan Tuhan dengan apa yang kita lakukan di social media? Coba balik ke ayat 13, ini peringatan keras! Ketika kita kehilangan “asin” atau “unsur pembeda” dari dunia, maka kita tidak ada gunanya. Social media adalah lingkungan yang gelap (negative), apa gunanya kamu datang dan membawa “gelap”?

Hal-hal praktis yang bisa kamu lakukan

Taruh app Alkitab di samping app social media mu. Sehingga setiap kali pagi hari membuka Alkitab, Anda ingat bahwa Tuhan yang pertama!!! Tentu saja itu juga harus diikuti dengan membatasi “penggunaannya” ayo penguasaan diri.
Cara untuk lepas dari belenggu social media adalah dengan berpikir yang benar, sama seperti semua “kecanduan” lain, yang harus lepas pertama adalah dari pikiran. Roma 12:2.
Lihat social media sebagai “alat” bukan “kebutuhan”. Matius 4:4.

Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Setiap kita terlahir untuk sebuah misi. Setiap misi memiliki tujuan. Ini penting untuk diketahui oleh kita agar hidup yang kita jalani tidak sia-sia. Berbicara tentang kesia-siaan, Salomo, seorang raja besar dan terkenal, pernah menuliskan amsalnya mengenai kesia-siaan.

Salomo pernah berkata demikian: Apa guna kita bekerja? Pengkhotbah 1:3. Mari kita secara sadar merunut apa yang terjadi dalam siklus hidup manusia. Manusia Lahir – Proses Belajar – Bertumbuh Dewasa – Bekerja – Menikah – Merawat anak – Menua – Meninggal. Sehingga jika disederhanakan manusia lahir untuk meninggal. Begitu sia-sianya!

Ketika kita tidak menyadari misi yang kita emban, cepat/lambat hidup kita akan terjebak dalam rutinitas yang menjemukan Pengkhotbah 1:4-8. Tapi menarik sekali bahwa untuk setiap tokoh di Alkitab ada misi yang Tuhan embankan dalam hidup mereka. Mari kita lihat beberapa contoh diantaranya:
Adam, misi hidup manusia pertama ini tercantum dalam Kejadian 1:26.
Abraham, misi hidupnya terangkum di ayat ini Kejadian 22:18.
Musa, misi hidupnya dinyatakan di ayat Keluaran 3:10.
Elia, misi hidupnya bisa kita temukan di 1Raja-raja 19:16.
Yohanes Pembaptis, misi hidupnya dituliskan dalam Markus 1:2-4.
Yesus, Anak Allah yang memiliki misi luar biasa Yohanes 5:36.

Mengenali Misi : dalam perkataan pertama Yesus yang tercatat di Injil Lukas adalah: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Yesus mengerti sejak berusia 12 tahun bahwa ia dipanggil pekerjaan/rencana Bapa di Surga. Kita bisa berkata: “Tentu saja! Dia Anak Allah.” Tetapi kita harus ingat karakter orangtua seperti apa yang membesarkan Yesus.
Maria adalah wanita yang sejak masa mudanya adalah hamba Allah, dia begitu taat sampai ketika mendapat panggilan sebagai “ibu” Kristus, dia berkata dalam Lukas 1:38 “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Yusuf adalah seorang yang “tulus hati” Matius 1:19.
Mereka mengenalkan Yesus dengan pembacaan Taurat dan kehidupan Bait Allah. Lukas 1:21-22.

Seringkali saya bertanya kepada anak pra-remaja dan remaja, dan mereka tidak mengerti akan jadi apa mereka, apa yang Tuhan mau, karena ada orangtua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk bicara tentang masa depan. Salah besar! Sejak anak kita mengerti dan mampu memahami (dalam istilah psikologi perkembangan Formal Operation Stage) bahkan juga tahapan sebelum itu, maka mereka bisa diajar mengenai hal ini. Mengenal misi mereka di dunia. Sehingga apa yang kita tabur di “Yerusalem” ini akan berbuah luar biasa.

Bagaimana dengan yang sudah dewasa seperti Bapak/Ibu. Mari lihat apa yang dikatakan Yesus di masa dewasanya. Yohanes 17:4. Yohanes 10:25-30. “Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”

Inilah mengikut Yesus: melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran).

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Minggu lalu kita sudah dijelaskan Gembala mengenai ini secara detail. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan parallel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4. Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

Setiap proyek baik membutuhkan 3 unsur ini: Doa-Daya-Dana. Itu memberi kita opsi yang luas untuk terlibat dalam pelayanan apapun.