Infinitely in the LIGHT

Saya percaya sepanjang hidup kita, kita mencari sesuatu yang terang, yang jelas. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya lebih suka dengan terang. Bahkan saat kecil selama beberapa lama (sampai SMP kelihatannya) saya memilih untuk membiarkan lampu kamar tidur saya menyala. Mungkin hanya sedikit orang yang lebih memilih dalam gelap di sebagian besar hidupnya.

Menariknya kalau kita melihat ke awal mula penciptaan bumi, Allah yang menjadikan terang. DIA lah sumber terang, didalamnya tidak ada bayang-bayang perubahan. Pada 2000 tahun yang lalu DIA datang untuk membawa terang kembali ke bumi. Lukas 1:79 (TB) “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

Coba kita perhatikan alasan kedatangan Yesus, tokoh sentral iman kita, dalam ayat ini dijelaskan secara jelas. Alasan yang pertama, “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan”. Siapa “mereka” yang dimaksud? Kita, manusia. Sadarkah kita kalau sebenarnya manusia ini hidup dalam gelap. Karena di dalam gelap kita tidak bisa melihat. Dan lihatlah banyak sekali di sekitar kita orang-orang yang tidak bisa melihat.

  • Mereka tidak bisa melihat mana uang milik mereka dan uang yang bukan milik mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana pasangan yang menjadi hak mereka dan pasangan yang bukan hak mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana yang harus mereka kuasai dan mana yang mereka harus lepaskan.

Hidup dalam kegelapan adalah hidup yang tanpa harapan. Anda tidak mengerti siapa yang ada di depan-belakang-samping Anda. Anda berjalan tanpa arah dan tujuan. Satu-satunya yang Anda pikirkan adalah bagaimana bertahan hidup selama mungkin. Jika sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan, maka mati menjadi jalan satu-satunya. Bukankah ini kehidupan yang gelap? Anda tidak perlu menjadi putus asa, karena harapan itu masih ada.

Coba bayangkan Anda sedang ada dalam hutan yang sangat lebat dan hari sudah malam, Anda tidak punya alat bantu penerang. Apa yang Anda harapkan? Terang. Atau bayangkan jika Anda terkurung dalam suatu ruangan gelap yang tak berpintu dan berjendela, yang saudara tahu hanya bentangan dinding yang begitu panjang dan tak berujung. Apa yang Anda harapkan? Terang.

Coba kita baca kembali Yesaya 60:2 “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa.” Kita lihat disekeliling kita sepertinya gelap.

  • Tidak ada harapan Indonesia akan bebas dari korupsi.
  • Tidak ada harapan bahwa Indonesia akan lolos dari krisis ekonomi.
  • Tidak ada harapan bahwa hidup Anda bisa lebih baik dari ini.
  • Tidak ada harapan bahwa keluarga saya, istri saya, suami saya, anak saya, kakak saya, adik saya, bisa berubah.

Lihatlah apa yang selanjutnya disebutkan dalam ayat ini: “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Ada harapan di tengah-tengah kegelapan. Lebih dari 2000 tahun yang lalu seseorang menggenapi apa yang tertulis dengan berkata demikian: Yohanes 8:12 (TB) “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

What I’m trying to say is this, if HE is the light, then we also are the light. Kalau kehadiran Yesus menjadi terang yang membawa harapan, demikian juga kita. Sering kita berpikir tentang “kamulah terang dunia” tetapi apa sebenarnya menjadi terang itu? Membawa pengaruh! Matius 5:16 “Hendaklah terangmu bercahaya di depan semua orang.” Ayat ini adalah perkataan Yesus yang IA ucapkan ketika berbicara tentang PENGARUH. Bukankah hidup manusia secara konstan adalah proses MEMENGARUHI & DIPENGARUHI?

Bayangkan sejak dalam kandung, bahkan lebih lagi, sejak masih dalam bentuk SEL. Anda sudah membawa pengaruh. Kalau kita bisa menjadi pengaruh berarti kita harus hati-hati terhadap pengaruh yang kita bisa bawa. Ini ada pesan Firman Tuhan bagi semua orang muda, bahkan buat semua orang percaya. Apa yang seharusnya dilakukan? 1Timotius 4:12. Jadi teladan = Jadi terang.

Kembali ke pokok bahasan mengenai pengaruh. Jika hidup manusia sejak awal sudah ditentukan untuk jadi pengaruh. Bukankah hal itu (maksudnya menjadi pengaruh) akan lebih lagi dituntut dari kita saat kita semakin bertumbuh dewasa, baik secara jasmani, maupun rohani. Coba baca Amsal 4:18, kita diminta “bertambah terang.”

So, we are expected to be shining bright and brighter, and stay there infinitely. Infinitely ini bisa berarti selamanya, tetapi juga bisa berarti dalam derajat yang semakin besar, semakin luar biasa. Berarti tidak ada kata berhenti, atau berpuas diri. You must be the light at all time. How? By showing love. 1Yohanes 2:10; 1Yohanes 3:10; 1Yohanes 4:21. Pengaruh yang harus kita bawa kembali dasarnya bukan harta-tahta-dan cinta, tetapi kasih!

Advertisements

DEVOTEDLY KNOWN

Anda adalah orang yang dengan jelas diberi perintah untuk “mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama” dan saya yakin Ps.Robert Runtukahu sudah menjelaskan di 6 sesi sebelumnya. Sesi pagi ini kita akan mulai dengan kalimat pendek: “Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (By the way kalimat ini ada di 1Korintus 8:3)

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi interest terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8 Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

 

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

 

“Kalau dia nggak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia nggak setampan atau secantik ini dan itu.”

 

Guys, love is not about what you will get, but what you will give. Saya mengatakan ini konsep cinta universal ya. Bukan hanya romance aja.

 

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love. Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berika kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

 

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

 

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka. So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

 

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

 

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

 

Disinillah kemudian saya memahami konsep DEVOTEDLY KNOWN. We are known, but not just known, we are devotedly known. How you love God is based on HIS love first. When you understand how much He loves you, only then you can LOVE HIM BACK. He is devoted person. He is faithful. How come we are not in love with Him.

Satu Hati Dua Cinta

Ini bukan berbicara tentang “mendua hati” karena jelas judulnya “satu hati”. Terlebih lagi mendua hati adalah prinsip yang ditentang Alkitab. Mungkin saja kemudian muncul pertanyaan:

“Bukannya di Alkitab banyak sekali kisah mengenai tokoh yang beristri lebih dari satu? Contohnya Abraham, Gideon, Daud, semua istrinya lebih dari satu. Mereka mendua hati?”

Kalau itu yang menjadi argumen Anda, maka itu adalah argumen yang lemah, karena di Alkitab juga menuliskan mengenai Adam, Ishak, Hosea, Petrus yang hanya beristrikan satu orang. Bahkan Yesus dan Paulus tercatat tidak menikah, karena memang menikah bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk mencapai suatu tujuan yang lebih besar.

Mengapa semua dicatat? Karena Alkitab menceritakan dengan jujur tentang kehidupan nyata, tetapi ingat saja prinsip dasarnya dalam Matius 19:8-12.

Lalu mengapa Allah tetap memakai mereka? Dalam Keluaran 34:5, di ayat ini bicara tentang pribadi Allah yang diperkenalkan kepada Musa, bahwa IA panjang sabar, berlimpah Kasih SetiaNYA. Tetapi Paulus juga mengingatkan dalam Roma 2:4 jangan menganggap sepi kemurahan Tuhan, karena itu sebenarnya ditujukan untuk melihat pertobatan kita.

Malam ini kalau ada sedikit keinginan itu, atau sudah setengah jalan, atau bahkan Anda sudah menghidupi keinginan itu, yaitu mendua hati, segera bertobat!

Jadi apa sebenarnya “Satu Hati Dua Cinta”? Maksudnya adalah keberadaan dua obyek atau sasaran Utama dari Kasih dalam hidup kita. Apakah ini memungkinkan? Mana bisa hati bisa dibagi-bagi?

Matius 22:37-40 Pada ayat-ayat ini Yesus berkata bahwa kita punya kapasitas untuk menghasilkan dua cinta atau dua kasih.

  1. Kasihilah Tuhan Allah. Ada ribuan alasan untuk mengasihiNYA. Namun apa yang kita praktekkan apakah sama dengan yang kita percaya?
  2. Kasihilah Sesama. Kita bisa berargumen bahwa “sesama” itu artinya sangat luas, karena sekarang ada kira-kira ada 7 milyar manusia di muka bumi. Tetapi tunggu dulu, kalau kita “rewind” ribuan tahun kebelakang: Siapakah sesama bagi Adam dan Hawa? Pasangannya! Baru kemudian anak-anak mereka lahir. Itulah sesama yang mereka hadapi.

Kenapa kita mengasihi mereka?

  • Apakah karena gagah? Sumber uang? Bukan, tetapi karena Efesus 5:23.
  • Apakah karena cantik? Sudah terlanjur? Bukan, tetapi karena 1Petrus 3:7.
  • Apakah karena mereka “sumber rejeki”? Bukan semata-mata itu. Memang anak adalah “gift” (menurut Alkitab terjemahan NLT), tetapi sebenarnya potensi mereka akan maksimal di tangan yang benar. Mazmur 127:3-5.

It’s all about EAT, PRAY, LOVE. We love that is so we provide food to eat. We love that is so we put them in our heart and pray

GodblesS

JEFF

MISKOMUNIKASI

 

Saya ingin memulai dengan menjelaskan tentang komunikasi, dan semoga ini bisa memberi gambaran dasar dari apa yang akan saya sampaikan.

Mengenai komunikasi, kita bisa berbicara banyak mengenai hal ini sepanjang hari. Anda berbicara, Anda menulis surat, Anda mengirim pesan singkat atau SMS, Anda menulis status di media social, Anda memakai baju yang sekarang Anda pakai, dan lain sebagainya, dan dengan banyak cara kita berkomunikasi.

Namun saya berusaha “memeras” keluar intisari dari komunikasi, dan ini yang saya dapatkan: komunikasi adalah cara dari satu pihak dalam menyampaikan ide kepada pihak lain, untuk mencapai suatu tujuan. Saya memberi highlight atau penekanan kepada 3 kata, yang menurut saya menjadi esensi.

Pertama, ide. Ini adalah gagasan, suatu pemikiran, suatu rancangan.

Kedua, cara atau metode. Ini adalah suatu alat bantu, suatu strategi yang digunakan.

Ketiga, tujuan. Ini adalah hasil akhir yang ingin dicapai.

Dari ketiga hal ini bisa saja salah satunya (atau bahkan ketiganya) berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan dan mengakibatkan terjadinya: MISKOMUNIKASI atau GAGAL PAHAM.

Miskomunikasi terjadi ketika ide tidak tersampaikan dengan baik dan ada halangan terhadap cara penyampaiannya. Menurut Anda apakah Allah berusaha berkomunikasi dengan manusia? Anda berkata lewat Alkitab, lewat khutbah, lewat suara Roh Kudus, dan lain sebagainya.

Kemudian saya mulai berpikir apakah ada ketiga komponen itu dalam komunikasi Allah dengan manusia?

Tentang ide, Allah adalah sumbernya DIA yang memiliki ide tentang ciptaan, termasuk di dalamnya penciptaan manusia. Kejadian 1:26.

Tentang tujuan, di ayat yang sama dituliskan bahwa manusia diciptakan supaya berkuasa. Berkuasa disini adalah bertanggungjawab atas seluruh bumi. Karena itu ide “eksploitasi” bumi dan isinya secara tidak bertanggungjawab itu jelas bukan ide Tuhan.

Tentang caranya, Allah menyediakan kebutuhan manusia di ayat 29, memperlengkapi dengan manusia lain di ayat 27, dan mendorong terjadinya multiplikasi di ayat 28.

Ingat komunikasi adalah IDE (untuk mencapai) TUJUAN (melalui) CARA (tertentu).

Alur ini berlaku di setiap kisah dalam Alkitab. Coba bayangkan kisah Abraham, Israel, Ayub, Yesus, dan coba sekarang bayangkan alur yang sama dalam kisah hidup Anda.

Allah punya ide yaitu gagasan, pemikiran, rancangan yang luar biasa untuk Anda. Yeremia 32:18-19.

Tujuannya adalah sesuatu yang mulia bagi Anda. Roma 9:20-21.

Caranya adalah dengan menguduskan, dan melalui karya Roh Kudus Anda taat. 1Petrus 1:2.

Allah berusaha mengomunikasikan ini terhadap manusia dari awal sampai akhir. Tentu saja kita tidak bisa memiliki “kertas contekan” dalam memahami ini, tetapi Tuhan memberi “kisi-kisi” atau pedomannya bagi Anda.

Namun demikian komunikasi ini tidak berjalan selalu mulus. Karena melibatkan kita yang penuh dengan hambatan. Kita tahu hambatan komunikasi bisa jadi 1001 macam. Mulai dari hambatan kekinian, seperti sinyal jelek, tidak ada pulsa, dan belum beli kuota, sampai alasan klasik seperti si pendengar yang menutup telinganya, atau karena indera pendengaran dan indera penglihatannya yang rusak.

Tetapi untuk menutup sharing saya malam hari ini saya akan sampaikan 3 hal yang membuat miskomunikasi ini terjadi.

  1. Asumsi yang salah. Kejadian 3:8. Adam dan Hawa mendengar langkah Tuhan dan mereka bersembunyi, ini bukan yang Tuhan ingin komunikasikan. Saya pernah mendengar pengajaran bahwa Israel tidak pernah terbunuh karena kesalahan mereka dalam perjalanan dari Mesir ke Gunung Sinai, tetapi setelah mereka menjawab Tuhan dengan kebenaran diri sendiri di kaki Gunung Sinai, mereka jatuh dalam dosa yang lebih fatal.
  2. Tidak mau mendengar. Yeremia 13:11. Allah sudah punya strategi terbaik untuk Anda, jangan hancurkan itu hanya karena Anda tidak mau mendengar (mengabaikan).
  3. Belum move on. Yesaya 43:16-19. Benar DIA Allah EbenHaezer, tetapi DIA juga Allah yang dinamis, DIA ingin membuat sesuatu yang baru, supaya Anda bisa berkata, ini Tuhan, ini bukan manusia.

​LOVE GOD, LOVE PEOPLE

Ini adalah suatu ungkapan yang terkenal di dunia kekristenan, terutama jika Anda mengikuti perkembangan musik rohani kontemporer di Indonesia. Karena ini adalah judul album live dari seorang pemimpin pujian terkenal di Indonesia, bernama Sidney Mohede. Tetapi apa sebenarnya “Love God, Love People” itu?
Saya rasa kita sama-sama setuju kalau ungkapan ini berasal dari Hukum yang Terutama yang dikatakan Yesus dalam:

Matius 22:37-40 (TB)  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Menarik sekali beberapa tahun yang lalu ketika saya menghadiri Hillsong Conference. Salah seorang pemimpin pujian dari Hillsong berkata demikian: “Kami percaya bahwa menyembah Tuhan itu bukan sekedar membuat album, mengadakan konser, dan menyanyikan lagu pujian-penyembahan. Tetapi kami sadar bahwa menyembah Tuhan berarti juga berdiri membela mereka yang lemah. Menyembah Tuhan berarti mencari solusi untuk ketidakadilan sosial. Menyembah Tuhan juga dapat berarti membantu mereka yang tidak seberuntung kita.” Saat itu saya sadar betapa Hillsong Church, di tengah segala pro-dan-kontra mengenai mereka, benar-benar menjadi garam dan terang di tengah-tengah komunitasnya.

Saya tahu beberapa gereja mungkin terinspirasi dari gereja lain untuk mulai membuat dan memroduksi penampilan, pertunjukkan, lagu-lagu, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Bagi saya membuat sebuah lagu itu seperti membuat sebuah skenario. Menariknya demikian juga dengan Kasih atau Cinta, itu adalah skenario besar. Apa yang saya maksudkan dengan skenario adalah kisahnya belum selesai sampai itu benar-benar selesai. Bahasa pop-urban nya, it aint over till its over. Bahwa kisah ini bukan akhir, bahkan hidup kita nanti di dalam Kerajaan Surga juga bukanlah akhir. Allah yang penuh Kasih itu punya skenario untuk setiap kita. (Yesaya 66:22  langit & bumi baru tinggal tetap, demikan keturunan orang percaya).

Baiklah untuk mempermudah, coba bayangkan dalam sebuah lagu, misalnya lagu yang lirik awalnya This is my desire Bagian refrain dari lagu ini, yang juga dijadikan judul oleh penciptanya, adalah Lord, I give you my heart (Mazmur 63:2  jiwaku haus, tubuhku rindu; Yesaya 55:8  tingginya jalanKU dari jalanmu). Jika saja heart itu tidak ada disana maka lagu itu skenarionya belum selesai. Percayalah, bahwa Allah belum selesai dalam kehidupanmu. Apapun kondisimu sekarang ini, Anda harus terbuka dan percaya bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia. Dalam Amsal 4:18 dikatakan: 
Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.

Ini adalah kisah mengenai kemuliaan yang terus meningkat, sampai saat ini kita masih baru dibukakan sampai di level Surga, tetapi saya percaya itu bukan akhirnya, ada sebuah misi yang Tuhan akan berikan kepada kita dalam kemuliaan yang gilang gemilang itu. Karena itulah Paulus bisa berkata penderitaan jaman sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan apa yang menanti.

Kembali pada ayat Utama kita. Saya mendapati bahwa adalah sesuatu yang dilematis ketika kita berbicara tentang Hukum Kasih. Ini terjadi terutama ketika kita masih mengenakan cara pikir Hukum Taurat. Hukum dalam kerangka pikir Hukum Taurat fokusnya adalah menghindari konsekuensi buruk dengan tidak melakukan apa yang dilarang. Dalam kerangka pikir Hukum Kasih – atau Hukum yang Terutama  ia bukannya menghindar namun malahan melakukan sesuatu dengan sengaja karena itu adalah prinsip dasar dari segalanya. 

God  Love  People  Love  God

Itulah konsep Yesus mengenai murid-murid atau pengikut-pengikutNYA, bukan SEGREGASI melainkan PENETRASI. Mungkin ini kata-kata yang terlihat rumit, tetapi sebenarnya tidak ketika kita membaca Matius 5:13-16.

Jadi bagaimana kita menyimpulkan hal ini? LOVE ALWAYS WORK. Kalimat dalam Bahasa Inggris ini memiliki makna ganda. Pertama, bahwa kamu tidak akan pernah salah jika memakai Bahasa Kasih (Galatia 5:22-23). Kedua cinta, kasih selalu tentang melakukan sesuatu, itu aktif dan bukannya pasif. Itulah mengapa dalam terjemahan Bahasa Inggris, setelah kisah tentang karya Allah dalam Yesus yang mengagumkan, diikuti oleh ACTS. Ini adalah kisah ketika kasih itu dipraktekkan. 

​A Poem from 33,000 feet

Saya ini penikmat saja 

Dalam tabung udara yang mampat 

Rasa dalam dada terhambat 

Siapa saya berhak mengatur rasa 
Saya bilang saya ini penikmat saja 

Tiada pernah hati ini beranjak pulang 

Dari imaji yang melayang dan berpetualang 

Hanya sapa pun enggan terhela 
Saya tegaskan sekali lagi, saya ini penikmat saja 
Entah dasawarsa berapa kukenal ini 

Namun selama hidup ia datang dan pergi 

Mungkin kini ku lebih mengerti

Dia ada di sebelah kiri 

Pikiran menampi rasa tak menyepi 

Kurasa inilah hidup untuk menikmati 

Hidupi saja lah.
DFW to HOU
18.06.2016

-JM-

HOW MUCH MORE (Betapa Lebih Lagi)

Apakah Anda bisa menebak kira-kira di ayat apa Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini di dalam Injil? Baiklah kalau Anda tidak bisa menebak dalam Bahasa Inggris, bagaimana kalau kita coba dengan Bahasa Yunani? “Posos” (how much – betapa lebih) dan “mallon” (more – lagi). Baik kalau masih bingung memang di dalam Terjemahan Baru yang rata-rata kita miliki dipakai kata “apalagi”, mari kita buka di dalam Matius 7:11. Menariknya “hal-hal yang baik” dari ayat di Matius, dituliskan sebagai “Roh Kudus” di Lukas 11:13. Jadi dari ayat-ayat ini dengan kata “apalagi” Yesus ingin membuat kontras antara bapa di dunia dan Bapa di Surga. Jika bapa di dunia memberi hal-hal dunia, Bapa di Surga memberi hal-hal rohani.

Mengenai bapa di dunia, kita mengerti bahwa mereka memiliki anak berdasarkan hubungan suami-istri seperti yang digambarkan di Kejadian 4:1. Pada ayat ini kata “anak” dipakai kata Ibrani: iysh (yang artinya laki-laki). Sedangkan mengenai Bapa di Surga, IA juga memiliki anak-anak seperti dituliskan di 1Yohanes 3:1, dan kata anak yang dipakai adalah kata Yunani: teknon (gambaran anak secara keseluruhan).

Kita semua adalah anak dari bapa kita di dunia. Bagaimanapun kita tidak bisa menutupi fakta ini, betapapun tidak sempurnanya bapa kita di dunia, mereka adalah “alat Tuhan” untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saya akan memberi 2 contoh mengenai bapa di dunia yang ditulis di Alkitab yang menunjukkan ketidaksempurnaan.

  1. Isai, bapa dari Daud. 1Samuel 6:11 (tidak menganggap anak bungsunya)
  2. Yusuf, “bapa” dari Yesus. Matius 13:55 (tidak memiliki status sosial, dan banyak komentator Alkitab percaya ia mati muda)

Meskipun bapa di dunia tidak sempurna, rancangan Bapa di Surga sempurna. DIA tidak akan membiarkan kita hidup tanpa tujuan dan tanpa potensi.

Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita juga adalah anak-anak Allah karena iman kita kepada Yesus Kristus. Galatia 3:26. Karena kita adalah anak Allah, kita juga adalah ahli waris. Betapa luar biasa. Roma 8:17. Tetapi kita juga harus sadar bahwa dalam janji itu ada bagian kita dalam penderitaanNYA. Jika Yesus harus menderita sebelum masuk dalam kemuliaanNYA (Lukas 24:26) mengapa kita harus takut? Roma 8:18. Kuatkan hati kita itu yang perlu kita lakukan. Yohanes 16:3.

Jika bapa di dunia tahu apa yang baik untuk anaknya, APALAGI Bapa di Surga. DIA sangat memerhatikan kita.

GodblesS

JEFF

​I’M FREE

Mari pertama-tama kita baca ayat utama kita di Kisah Para Rasul 13:39a.

“Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa…”
Kebebasan  adalah dambaan banyak orang, konsep bebas melakukan apapun adalah konsep yang  menyenangkan. Setidaknya secara konseptual, karena pada kenyataannya,  kebebasan yang  tanpa batas, sadar atau tidak akan berbalik memenjarakan orang tersebut. Inilah ironi kebebasan tanpa batas. Ambil  contoh saja:  bebas memakai  drugs – terpenjara kecanduan;  bebas having  sex – terpenjara rasa bersalah & konsekuensinya.   Quotes from Bob Dylan.  

“A hero is someone who understands the responsibility that comes with his freedom.”
 Lalu dimana kebebasan sejati itu? Yesus menyatakan dengan jelas: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun  benar-benar  (=sejati) merdeka.” Yohanes 8:36. Ketika kita mengenal kebenaran (yaitu di dalam DIA). Dalam Matius 6:33 Yesus menyatakan bahwa kebenaran di dalam DIA (yaitu kebenaran Kerajaan Allah) seharusnya itu yang menjadi prioritas. Seringkali manusia fokus pada perubahan dari luar ke dalam, padahal yang menentukan itu apa yang ada di dalam. Karena yang dari dalam itu akan terpancar ke luar.
Jika mengacu pada ayat Utama di Kisah Para Rasul 13:39a. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin muncul: Mengapa kita perlu bebas dari dosa? Jawabannya ada di dalam Alkitab. Roma 6:23. Semua manusia berdosa dan harus diganjar dengan maut. SIapa yang mengenalkan dosa pada dunia? Dalam Yohanes 10:10 Iblis adalah pencuri, pembunuh dan pembinasa. Apa yang indah pada manusia dicuri, dibunuh dan dibinasakannya, sehingga manusia menerima konsekuensi yang fatal. 
Apa sebenarnya dosa itu? Dosa adalah:

  1. Ketidaktaatan. Kejadian 3:6. Hawa bersama Adam sengaja tidak mengindahkan peraturan Tuhan. 
  2. Keluar dari Rencana Allah. Kejadian 2:16-17. Allah tidak ingin manusia mati.
  3. Hidup dalam ketidakbenaran. Kejadian 3:4-5. Hidup dalam dusta yang dilancarkan iblis. 

Ketidakbenaran adalah lawan dari kebenaran. Ketidakbenaran menjadi esensi dari segala sesuatu yang dilakukan iblis. Apa yang dilakukan pada Hawa, masih iblis lakukan sampai sekarang dengan bungkus yang berbeda.
Apa bungkus yang iblis perkenalkan? 

Gaya hidup. Di dalam lingkungan, karakter, sikap, perilaku. Dalam setiap hari. 

Teknologi informasi.

Self-help / man-wisdom. Membuat orang berpikir bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Yesaya 47:13. Nasihat-nasihat manusia, ramalan-ramalan, meski tidak tersurat ini juga berarti mengandalkan pengetahuan manusia. Yeremia 17:5 terkutuklah yang mengandalkan manusia. 

Kita membutuhkan juru-selamat. Sebelum kita diselamatkan kita harus tahu bahwa kita membutuhkannya. Lukas 5:31 hanya orang sakit butuh tabib. 

Apa yang Yesus lakukan di kayu salib? Dalam 1Tesalonika 5:9, Allah menginginkan keselamatan bagi kita dan bukan dimurkai. Roma 3:20-24 sebenarnya bukan Yesus meniadakan Hukum (karena ada kata “tanpa”) tetapi menggenapkan dengan darahNYA, membenarkan, kita yang hidup dalam ketidakbenaran, dibenarkan karena percaya.

Bagaimana kita bertobat? 

  1. Memproklamirkan Yesus sebagai Tuhan. Roma 10:10.
  2. Mengakui kesalahan dan jalan kita yang serong. Kita mengetahui bahwa kita tidak sempurna, benar-benar berserah, jangan menutupi dengan kebenaran diri sendiri. 1Yohanes 1:9.
  3. Percaya (tinggalkan beban). Matius 11:28.

 

INTIMATELY KNOWN

Paskah adalah dasar dari iman Kristen kita, jika Yesus tidak mati dan bangkit maka sia-sialah iman percaya dan pengharapan kita.

Paskah berasal dari kata “pesakh” yang dalam bahasa Inggris dipakai kata “Passover”. Kita yang seharusnya dihukum, dilewatkan dari hukuman itu karena pengorbanan Yesus. Pengorbanan Yesus membuat kita dibenarkan, sekali lagi ini karena pengorbanan Yesus, bukan karena perbuatan kita. Oleh kasih kita dibenarkan, kita diperdamaikan, sehingga tidak perlu menanggung konsekuensi dari dosa-dosa kita. 1Yohanes 4:10. Inisiatifnya datang dari Allah, karena Allah begitu mengasihi, DIA membuat rencana pendamaian ini dengan mengutus Yesus.

Kita hanya bisa menjadi dekat dengan pihak yang sudah diperdamaikan dengan kita. Ini sesuai dengan apa yang tertulis di Efesus 2:13, oleh darah Kristus kita yang dahulu jauh kini menjadi dekat.

“Intimately Known”  memiliki arti bahwa karena pengorbanan Yesus kita kini dikenal Allah (known adalah bentuk ketiga/verb-3 dari kata know atau “kenal”). Namun lebih jauh dari itu saya melihat ada dua kata dalam bahasa Inggris yang muncul dalam pikiran saya saat mendengar frase “intimately known”. Kata-kata itu adalah: close dan understand. Jadi saya akan membangun khotbah saya dari dua kata ini.

CLOSE.

Bagaimana cara untuk bisa menjadi dekat dengan seseorang? Jelas sekali dengan menjalin komunikasi. Anda tidak mungkin bisa dekat dengan “gebetan” tanpa menjalin komunikasi. Mengenai komunikasi untuk menjadi dekat ini tidak bisa berhenti hanya sebatas menyapa. Menyapa itu baik, namun jika tidak berkomunikasi lebih intens, maka komunikasinya tidak akan menjadi mendalam.

Komunikasi ini juga diperlukan jika kita ingin dekat dengan Tuhan. Apalagi disebutkan di 2Korintus 3:17 bahwa Tuhan adalah Roh, tentu saja tidak bisa sekedar kita “menyapa” Tuhan dan berharap kita dekat dengan DIA. Dekat dengan Tuhan berarti kita melangkah kepada keintiman rohani. Hal ini bisa dicapai dengan doa dan penyembahan, karena dengan doa dan penyembahan lah roh manusia dapat berkomunikasi dengan Roh Tuhan.

Mengenai doa, di dalam Mazmur 145:18 dikatakan bahwa Tuhan dekat dengan mereka yang berseru kepadaNYA. Ini adalah bentuk sederhana dari doa, ini seperti berteriak: Tolong! Saya percaya orang tua yang memiliki anak akan sangat peka mendengar anaknya yang berteriak minta tolong. Demikian juga antara kita dengan Allah. Banyak orang Kristen yang merasa tidak bisa berdoa, karena mereka tidak bisa membuat kalimat-kalimat yang panjang dalam doa mereka. Atau, seseorang tidak berdoa karena dia tidak mau menyusahkan Tuhan selama dirinya masih mampu. Padahal Allah dekat dengan mereka yang meminta tolong. Janganlah menjadi sombong rohani dengan merasa bahwa meminta tolong adalah untuk orang-orang yang berjiwa lemah. Yesus sendiri berdoa di saat-saat terakhirnya sebelum ditangkap dan disalibkan. Lukas 22:4.

Bagaimana dengan penyembahan? Mungkin banyak dari Anda yang sudah mengetahui bahwa kata asli yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk penyembahan adalah “proskuneo”. Kata ini disebutkan 60 kali dalam Perjanjian Baru. Salah satu ayat yang memuat kata ini adalah perkataan Yesus di Yohanes 4:23. Kata “proskuneo” sendiri berarti mencium tangan sebagai tanda penundukan, seperti seekor anjing yang menjilat tangan pemiliknya, dan juga digambarkan berlutut dan menunduk sampai muka menyentuh tanah. Sehingga kita kita bisa mengerti bahwa ketika kita menyembah itu adalah bentuk penyerahan total pada Tuhan apapun yang terjadi. Itu dilakukan dalam Roh dan Kebenaran, ini bukan kebiasaan, ini adalah hubungan.

UNDERSTAND.

Bagaimana kita memahami sesuatu atau seseorang jika kita tidak memiliki informasi dan tidak memiliki pengalaman dengan sesuatu atau seseorang tersebut. Allah memahami kita sepenuhnya karena DIA yang menciptakan kita. Mazmur 139:14-16. Tetapi apakah kita memahami DIA? Mengenal itu bukan sekedar mengetahui identitas, tetapi tahu apa yang dikehendaki. Banyak orang mengaku mengenal Tuhan. Tetapi dalam Alkitab dijelaskan bahwa orang yang mengenal Tuhan mereka melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Beberapa diantaranya disebutkan Yesus demikian:

  • Matius 5:47. Mereka yang tidak mengenal Allah berbuat baik, menyapa dan (bahkan di ayat 46, mengasihi) hanya kepada yang melakukan itu kepada mereka yang disebut “saudara”.
  • Matius 6:7. Mereka yang tidak mengenal Allah berdoa untuk dilihat dan sebagai kegiatan agamawi (bandingkan tentang yang saya bahas diatas tentang doa).
  • Matius 6:27-32. Mereka yang tidak mengenal Allah kuatir akan banyak hal dan tidak mengerti prioritas, tetapi berbeda dengan prioritas mereka yang mengenal Allah (ayat 33).

Bagaimana kita memahami Allah jika kita tidak mau mempelajari SURAT CINTA ALLAH? Saya katakana demikian karena Alkitab berbicara tentang Yesus (Yohanes 21:25) dan semua yang tertulis diinspirasi oleh Allah. 2Timotius 3:16.

Tetapi diantara semua yang saya sudah jelaskan, adalah sebuah ironi jika kita tidak dikenal Tuhan. Matius 7:23. Karena itu berbaliklah dari kejahatan-kejahatan yang kita sadar dan minta terang Firman dan Roh untuk mengetahui bahkan kejahatan-kejahatan yang tidak kita sadari. DIA mengasihimu.

GodblesS

JEFF