Heart of Sacrifice

Mari kita baca terlebih dahulu ayat utama kita di Markus 12:41-44.

Pengorbanan identik dengan penderitaan. Kita semua mengenal apa itu penderitaan. Mengenai hal ini saya ingin sampaikan satu hal: Semua orang menghindari penderitaan. Tidak seorang pun di dunia ini yang ingin menderita. Kita semua menginginkan kesenangan, kebahagiaan, sukacita. Tapi mereka tidak sadar tanpa penderitaan, tidak ada namanya kesenangan. Tanpa kesedihan, tidak ada namanya kebahagiaan. Tanpa dukacita tidak ada sukacita.

Tidak ada kelahiran seorang bayi tanpa penderitaan dari seorang Ibu yang mengandung selama 9 bulan. Energi fisik dan emosional yang terkuras. Belum lagi ketika saat bersalin tiba, seorang ibu ada dalam kondisi hidup dan mati, demi bayinya. Coba tanya ke istri Anda, atau kalau belum punya anak, tanya ibu Anda.

Mengenai hal ini pun saya berani katakan: Satupun manusia tidak ada yang benar-benar lepas (atau tidak membutuhkan) pengorbanan orang lain.

Mari kita kenakan pikiran logis kita. Dimulai dari awal pembuahan embrio manusia. Untuk satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur dikorbankan berjuta-juta sel lain yang bergerak bersama yang berhasil. Kemudian, sebelum bayi atau janin keluar dari rahim juga dibutuhkan pengorbanan besar seorang ibu. Lebih lagi, supaya kita dapat sekolah, dan memenuhi kebutuhan sandang-pangan-papan, ada kepala keluarga (ayah). Bahkan untuk kesuksesan apapun juga bentuknya dibutuhkan pengorbanan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Apa yang dilakukan oleh janda miskin di dalam Markus 12 adalah sesuatu yang diapresiasi oleh Tuhan Yesus karena ia mengorbankan miliknya ke dalam peti persembahan, dengan tidak berfokus untuk mengasihani dirinya.

Coba kita lihat apa yang dialami Yesus lebih dari 2000 tahun lalu yang penuh dengan kisah pengorbanan yang luar biasa. DIA yang tidak seharusnya menjadi korban, datang mengorbankan diriNYA. Supaya kita selamat. This is the BEAUTIFUL EXCHANGE.

2 Korintus 8:9

Dia yang kaya menjadi miskin, supaya kita diperkaya.

Dia yang sehat dan kuat, menjadi sakit dan lemah, supaya kita memiliki kesehatan dan kekuatan.

Dia yang tak bersalah menjadi bersalah, supaya kita dibenarkan.

Dia yang adalah Anak Allah, menjadi orang yang terbuang, supaya kita dapat memanggil Allah kita, BAPA.

Roma 8:14-15. Tentu hal yang sama diharapkan ditunjukkan oleh anak-anakNYA.

Allah menjadi yang pertama menunjukkan hati yang penuh kasih dan ditunjukkan lewat pengorbananNYA yang besar! Yohanes 3:16.

Pengalaman adalah guru yang baik. Tanpa pengalaman kita tidak belajar secara maksimal. Memang ada  beberapa hal yang tidak perlu kita alami secara langsung untuk belajar. Misalnya: tidak perlu membakar rumah untuk membuktikan api itu berbahaya di perkampungan, atau memotong tangan untuk membuktikan pisau itu tajam.

Tapi lihatlah Abraham. Pengalaman mengorbankan anaknya yang tunggal menyempurnakan kepercayaannya pada Tuhan.

Korban yang seperti apa yang diharapkan? Saya urutkan dari tingkatan yang menurut saya paling mudah sampai yang paling sukar.

  • Mazmur 50:23 – persembahan syukur
  • Mazmur 51:19 hati yang hancur
  • Ibrani 13:6 perbuatan baik/persembahan
  • Roma 12:1 – tubuhmu.

GodblesS

JEFF

Advertisements

JOYFUL CHRISTMAS

Banyak orang berbicara tentang Natal sebagai suatu kegiatan ritual, sesuatu yang harus dirayakan, karena begitulah adanya. Tetapi sebenarnya Natal yang terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu bernilai lebih dari ritual.

Sebagai orang muda, kita punya banyak keingintahuan, kenapa begini, kenapa begitu? Tetapi pernah kah Anda bertanya sebenarnya apa yang membuat Natal begitu khusus dalam Iman kita kepada Kristus. Secara keseluruhan iman kepada Kristus berdasar pada kematian dan kebangkitan Yesus. Tetapi mengapa Natal?

Pertama Natal itu adalah sumber kegembiraan. Kegembiraan yang ditawarkan Natal bukanlah kegembiraan seperti yang Anda dapatkan ketika mendapat hadiah baru, atau pacar baru. Karena kegembiraan Natal lebih dari apa yang sementara. Saya sebenarnya lebih suka memakai kata “sukacita” untuk membedakan “derajatnya” dengan sekedar “gembira”. Yohanes 15:11. Sukacita itu dari Allah, dan bisa membuat Anda “penuh”. Ini berbeda dengan kegembiraan yang sementara seperti dari makanan atau dari kepemilikan. 1Raja-raja 21:7. Menarik sekali kalau Anda generasi kekinian yang punya kuota, waktu Anda Google search “joyful meaning” kemudian yang keluar ini “causing great pleasure and happiness.” Jadi sukacita itu menjadi kata dimana hal itu menggambarkan sesuatu yang menyebabkan kegembiraan. Anda mau sumber atau hasil? Mana yang akan lebih menguntungkan bagi Anda?

Kedua, Natal itu memberi gambaran sukacita baik di bumi maupun di Surga. Sukacita di bumi bisa dilihat seperti apa yang dialami Maria, ketika ia berkata dalam Lukas 1:48, bahwa ia adalah orang yang berbahagia. Itu terjadi saat dia di bumi, tetapi juga di Surga nanti. Yohanes 14:3. Kehadiran Yesus menjamin sukacita kita di bumi sekarang, dan di Surga nanti.

Ketiga, Natal itu memberi harapan. Bahwa yang terpenting bukanlah yang nampak sekarang, tetapi apa yang menjadi sumber sebelum itu terlihat. Yesus nampak sekarang sebagai orang sederhana, orang biasa. Matius 13:55-56. Tetapi ia bersumber dari Surga yang mulia. Yohanes 18:36.

Sukacita yang luar biasa itu sekarang ditawarkan pada kita, bukan dalam bentuk bayi. Yohanes 3:6. Daging melahirkan daging, tapi dalam bentuk Roh, yang tidak dapat dicuri, dan tak dapat binasa, itu akan menghasilkan Roh. Galatia 5:22-23.

 

DOA MARIA

Kita masuk lagi di bulan Desember. Kembali lagi kita diingatkan dengan peristiwa Natal di Betlehem ribuan tahun yang lalu. Tentu saja setiap kali datang Natal kita diingatkan untuk membaca kembali kisah Natal dan mengingat tokoh-tokoh Natal yang terlibat.

Satu tokoh yang menonjol, dan saya rasa mungkin juga ada di benak Anda sekalian. Nama tokoh ini: Maria. Hari ini kita akan bahas Doa Maria. Tenang, ini bukan mantera, atau doa yang diulang-ulang seperti yang dipraktekkan beberapa orang lain. Sebenarnya dengan membaca Yohanes 16:26 saja sudah jelas kepada siapa seharusnya kita berdoa.

Tetapi kita tidak akan membahas hal itu sekarang, saya ingin kita melihat ke Lukas 1:46-55 dan melihat apa yang menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi kita dari 10 ayat di Lukas pasal yang pertama ini. Tetapi karena keterbatasan waktu kita akan membahas dari 3 ayat saja.

Mari kita mulai dengan ayat yang ke-46: “…memuliakan Tuhan.

Maria mengatakan kalimat ini setelah Elisabet, kerabatnya yang sedang hamil, dalam kuasa Roh mengatakan hal-hal yang luar biasa tentang Maria. Kita belajar bahwa segala sesuatu yang positif, yang terjadi pada kita, kita jadikan energi untuk memuliakan Tuhan. Coba lihat respon Daud di 2 Samuel 7:18-29, setelah Nabi Natan berbicara atas nama Tuhan akan hal-hal baik bagi keluarganya. Daud tidak kemudian membanggakannya kepada keluarganya, tetapi malahan merendahkan diri dan memuliakan Tuhan.

Ayat yang ke-47: “…hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.

Ini sebenarnya rahasia sukacita di dalam dunia ini. Bukan karena harta, tahta, atau cinta, tetapi karena Yesus, Juruselamat kita. Saat itu Maria belum menyebut Yesus, karena Yesus masih belum dilahirkan dan menyelesaikan misinya. Namun bahwa bayi yang Maria akan lahirkan adalah juruselamat ada di perkataan malaikat kepada para gembala domba, di malam saat Yesus lahir. Lukas 2:11. Kita mengerti bahwa dunia menempatkan prasyarat yang bermacam-macam untuk resep kegembiraan yang sementara. Namun kita punya resep yang hanya satu saja prasyaratnya, percaya kepada Yesus! Dalam doa mu sebut nama DIA dan bergembiralah.

Ayat yang ke-48: “…Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Menarik sekali bahwa penulis Mazmur yang hidup di bawah Taurat menuliskan tentang perkenanan Tuhan, dan keselamatan bagi orang-orang yang: RENDAH HATI. Mazmur 149:4. Tetapi “kerendahan” ini juga dilihat oleh komentator Alkitab yang laini sebagai status Maria saat itu. Ia hanyalah seorang perawan yang miskin, bertunangan dengan seorang tukang kayu, Yusuf. Tetapi toh Allah melihat mereka di dalam kerendahan mereka dan meninggikan mereka sebagai orang tua dari Yesus yang kemudian menjadi juruselamat bagi dunia. Kita dulunya rendah dan terbuang karena dosa. Bayangkan dari kemuliaan sebagai ciptaan tertinggi di bumi, manusia jatuh ke bawah begitu keras. Tetapi Allah tidak menyerah dengan yang terbuang ini, IA “…mengangkat aku dari dunia orang mati, … menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.” Mazmur 30:4.

Masih di ayat yang ke-48: “…mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.

Maria tahu bahwa hidupnya berubah karena Tuhan, dan apa yang Tuhan percayakan kepadanya, sekarang. Paulus pun menyadari bahwa ia yang “rendah” diberikan kepercayaan yang luar biasa untuk melayani Kristus Yesus. 1Timotius 1:12-14. 

Mari kita datang pada Tuhan dengan 4 inspirasi dari Doa Maria ini.

THE BEST GIFT

Kita semua pasti pernah mendengar pernyataan ini: “Hidup adalah perjuangan”. Untuk Anda Keluarga Muda pasti pernah dengar lagu hits dari Dewa 19 di tahun 2000-an. Tetapi memang kenyataannya seperti itu. Coba bayangkan dari 5 tingkat pertumbuhan manusia, semua butuh perjuangan:

  • Pre-natal ( ketika sebelum lahir dan saat kelahiran semua berjuang bukan, baik bayi, sang ibu, bahkan sang ayah juga.
  • Babyhood ( belajar hal-hal dasar itu butuh perjuangan bukan? Belajar menghisap, mengunyah, belajar berjalan, berlari, dan lain sebagainya.
  • Childhood ( anak mulai mengenal aturan, dan berjuang untuk mematuhi aturan di rumah dan sekolah.
  • Adolescence ( perubahan hormonal membuat Remaja harus berjuang secara fisik dan psikis (storm & stress period).
  • Adulthood ( kedewasaan ini mensyaratkan untuk hidup bagi orang lain, hidup bagi orang tuanya, hidup bagi pasangan dan anak-anaknya.

Perjuangan sangat lekat dengan pertandingan, dan hal ini juga disampaikan Paulus di 1Timotius 6:12. Dalam Filipi 3:14 dikatakan bahwa perjalanan, atau pertandingan iman kita itu adalah perjuangan, ditulis sebagai “berlari-lari”.

Sebuah pertandingan kemudian menjadi hal yang pantas diperjuangkan ketika ada: TUJUAN YANG DIKEJAR. Coba baca pernyataan Paulus di 1Korintus 15:32, dia rela melayani sampai hampir mengorbankan nyawanya karena dia tahu akan tujuan akhir hidupnya, dan apa yang akan terjadi.

Saya sampaikan ini di banyak kesempatan saya melayani, bahwa hidup yang dihidupi tanpa mengetahui misi/tujuan hidup, adalah hidup yang sia-sia (@jeffminandar.com – “Misi Kita di Dunia”). Hal ini yang menjelaskan fenomena mengapa banyak orang kemudian putus asa dengan hidupnya, lebih spesifik lagi malam ini, mengapa banyak Keluarga putus asa dengan rumah tangganya atau pasangannya. Saya berharap pasangan-pasangan muda mendengar ini baik-baik, termasuk Jonas dan Asmirandah, yang malam ini hadir untuk berbagi kisah mereka.

Bukan karena saya mengatakan ini, tetapi karena Firman Tuhan yang mengatakannya. Pengkhotbah 1:2. If you lose your sense of mission/purpose in any aspect of your life, then your life would be in vain.

Tetapi syukur kepada Allah bahwa IA memberikan tujuan yang luar biasa dalam hidup kita. Hal ini kita temukan dalam Filipi 3:14, yang disebut sebagai “panggilan Sorgawi” dari Allah dalam Kristus Yesus. This is our beacon of hope. Inilah “hadiah” terbaik yang kita dapatkan dari Allah: pribadi Yesus.

Ini seperti bintang timur yang membuat para majus terus berjalan selama 2 tahun. Atau seperti Rahel bagi Yakub yang membuatnya terus bekerja selama 14 tahun. Yesus lah seharusnya yang menjadi cinta terbesar dalam Keluarga kita. Bukannya saya meragukan besarnya cinta Anda terhadap pasangan Anda, atau terhadap anak Anda. Cinta Anda bisa jadi sanggup tetapi sampai sejauh mana, dibandingkan cinta dan kasih setia Tuhan. Yesaya 63:7.

So, I want to close this sermon with these last few statements. Kalau banyak suami/istri, ayah/ibu, Keluarga/rumah tangga, yang menyerah karena tujuan mereka yang salah. Atau bahkan, yang paling mengerikan, karena tidak ada tujuan. Maka malam hari ini Anda berbeda, karena Anda tahu Anda menerima the best gift from heaven: A HEAVENLY CALLING FROM GOD IN CHRIST JESUS.

GodblesS

JEFF

 

VICTORY THROUGH CHRIST

Mengapa kita harus menang? Karena tidak ada satupun dari kita yang suka kalah, bukan? Kita berusaha untuk mencapai kemenangan dan kecewa ketika kita tidak memperolehnya. Tetapi kemenangan seperti apa yang kita mau miliki, itu kemudian menentukan pilihan kita, dan tentu saja tindakan kita. Ada kemenangan karena kita berbuat jahat, curang, meminta bantuan yang tidak seharusnya. This is bad victory. Segala sesuatu yang dilakukan dalam dosa, meskipun itu nampak bagi banyak orang sebagai kemenangan, tetapi sejatinya itu tetap sesuatu yang buruk.

Menariknya, sebelum Kristus, kita yang merupakan keturunan dari Adam pertama adalah orang-orang yang kalah! Karena “semua orang berdosa” dan akibatnya kehilangan kemuliaan Allah. Roma 3:23. Kita tidak pernah bisa menang dari kondisi kita yang berdosa. Kemudian apa yang dibawa oleh dosa itu? Maut! Roma 6:23. Sehingga kita tidak bisa memperoleh hidup kekal, seberapapun kita “menang” di hidup dunia yang sementara ini. Itulah mengapa kita butuh Juruselamat, kita butuh “superhero”.

“Our Superhero” adalah YESUS. Lebih dari semua Superhero yang kita kenal sekarang: Superman, Batman, Wonder Woman, Black Widow dan lainnya. Superhero kita “nyata dan tidak fiktif”! Yesus ada dan menjadi bagian dari Sejarah manusia. Tidak ada Superhero yang menjanjikan kekekalan dan tempat indah bersama dengan DIA. Yohanes 14:3. Bahkan Yesus memberi dan menjadi Penolong yang menyertai selamanya. Ayat 16.

Karena DIA selalu menyertai kita maka kita sekarang menjalani hidup yang Berkemenangan (Victorious Living)”. Ini adalah kebenarannya, bukan menurut kata orang, tetapi menurut kata Tuhan. Karena itu Tuhan minta kita “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6) untuk mengungkapkan apa yang Tuhan sudah lakukan untuk kita, untuk mengungkapkan status terkini kita. Lalu apa kemenangan kita? Hidup yang kekal, sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan dalam dosa. Roma 6:23. Karena IA adalah pemenang, maka kita adalah para pemenang, bahkan lebih dari mereka yang menang. Allah yang berperang ganti kita. Kemenangan itu menjadi milik kita karena Allah di pihak kita, karena Yesus ada bersama kita. 1Korintus 15:57.

Banyak orang berkata lebih sulit untuk mempertahankan kemenangan daripada memperolehnya. Lalu bagaimana kita bisa menjaga kemenangan kita. Jelas dalam Alkitab disebutkan bahwa IA ingin kita menjadi pengikutNYA, muridNYA. Murid Itu ada tinggal tetap dalam FirmanNYA, KebenaranNYA dan kebenaran itu memerdekakan. Yohanes 8:31-32. Dengan demikian kita bisa tetap menjadi orang-orang yang menang.

Apa yang sekarang Anda hadapi mungkin nampaknya adalah kekalahan dalam pekerjaan atau usaha, dalam studi, dalam pelayanan, dalam hubungan, dalam Keluarga, Anda sebutkan saja kekalahan. Tapi ingatlah sebenarnya Anda adalah pemenang, dan kemenangan yang Anda peroleh, didapat melalui Kristus, sehingga tidak ada perbedaan. Roma 3:22. Semua yang ada di dalam Kristus adalah pemenang!

Sayang sekali jika kita menggadaikan kemenangan kita, yaitu hidup kekal dengan sesuatu yang sementara seperti harta, tahta, dan cinta. Kita tahu dan dengar banyak orang percaya yang dulunya ada di dalam Kristus, kemudian meninggalkan DIA untuk pasangan hidup, untuk jabatan, untuk harta yang lebih banyak. Saat ini waktunya untuk mendeklarasikan kemenangan kita sekali lagi, bukan karena kita lebih dari orang lain, tetapi sekali lagi karena Yesus!

ENDURANCE (Hidup sebagai Orang Muda Kristen)

Ini adalah suatu sukacita bisa berada di tengah-tengah orang-orang muda di Bogor. Sepulang dari tempat ini ada harapan supaya Anda semua menjadi orang-orang muda jaman sekarang, yang kekinian, tetapi tidak tergoyahkan (endurance). Anda tekun sedemikian rupa sampai dapat menjadi dampak bagi lingkungan sekitar (keluarga di rumah, lingkungan sekolah, dan lain-lain) meskipun PROSES atau SITUASI-nya tidak mudah. Efesus 4:14 berkata bahwa yang mudah diombang-ambingkan itu “anak-anak” tetapi kita “dewasa” secara rohani meskipun secara usia masih unyu. Orang muda sering dikatakan tidak berhikmat, namun dalam Yakobus 1:5-6 kalau kita ingin menjadi generasi yang penuh dengan hikmat, kita harus meminta kepada Tuhan dengan IMAN yang tidak tergoncangkan. Jadi keputusan Anda datang saat ini adalah keputusan yang benar!

Saya akan berusaha untuk menjelaskan dalam 60 menit ke depan seperti apa seharusnya hidup seorang muda yang memilih untuk menjadi pengikut Yesus (atau biasa disebut Kristen). Saya akan bagi jadi empat bagian untuk menjelaskan bahwa Anda adalah:
Orang yang diciptakan dengan seksualitas.
Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.
Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.
Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Mari kita mulai dengan yang pertama:
Anda adalah orang yang diciptakan dengan seksualitas.

Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Namun gambaran ini rusak karena dosa. Siapa kita sebenarnya? “Pada mulanya”. Tahukah kita bahwa Allah menciptakan suatu lingkungan yang sempurna untuk pria dan wanita dapat hidup dan memenuhi tujuannya? Coba saja lihat dari hari pertama sampai dengan hari keenam dalam minggu penciptaan.

Kejadian 1:27 DIA menciptakan kita serupa dan segambar dengan diriNYA. Serupa dan segambar adalah kesamaan manusia dengan Tuhan dalam hal ROHANI. Anda adalah manusia roh. Yakobus 2:26, Yakobus 4:5. Sehingga apa yang terjadi di secara fisik seharusnya kamu pikirkan apa efeknya secara roh.

Kehidupan manusia, khususnya orang muda, tidak bisa dilepaskan dari bicara tentang cinta, cinta itu bukan sekedar romansa. Menurut Alkitab Cinta itu adalah Pribadi Allah, sehingga ketika kita bicara tentang cinta berarti kita sedang membahas Allah yang adalah Roh. 1Yohanes 4:8.

Cinta adalah sesuatu yang menjadi tema universal. Cinta adalah sesuatu yang menembus semua batasan yang manusia kenal.
Jarak? Cinta mampu menembusnya.
Waktu (usia)? Cinta mampu melewatinya.
Status sosial? Cinta mampu meruntuhkannya.
Apa lagi yang Anda pikirkan? Tingkat pendidikan, faktor ekonomi, kondisi fisik, penyakit, dan pembatas lainnya, meleleh kalau dihadapkan dengan Cinta. Karena Cinta bisa mengatasi segalanya tak heran kalau ada yang berkata Cinta / Kasih adalah yang terbesar atau terutama. 1Korintus 13:13.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi secara fisik ketika kita kemudian mendefinisikannya sebagai “cinta”? Otak kita terpicu oleh sensor atau indera, dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh sebagai respon. Secara sederhana, indera kita (mata) menangkap stimulus (melihat) yang bergerak atau diam (objek lawan jenis).

Otak yang menerima informasi ini segera mengirimkan impuls ke tubuh, yang bisa berupa jantung yang berdetak semakin cepat, tangan yang berkeringat, pupil mata yang membesar dan yang lainnya. Bahkan ada sebuah penelitian pada 2004 di London menyebutkan bahwa ketika seseorang mengalami perasaan “cinta”, hal ini menekan aktifitas otak di area yang mengendalikan pemikiran kritis.

Kita bisa bilang bahwa cinta adalah gejala psikofisis, maksudnya apa yang terjadi didalam yang tak terlihat (psikis) nampak dalam apa yang terlihat diluar (fisik). Apa yang terlihat sebagai perilaku sebenarnya hanyalah fenomena gunung es.
Jadi ketika ingin memperbaiki apa yang ada diluar seharusnya yang difokuskan adalah pembenahan apa yang didalam. Ingat ini: healthy inside, fresh outside. Atau dengan kata lain hatimu menentukan perilakumu, karena dari dalam hati timbul segala sesuatu pikiran dan perbuatan jahat. Lukas 6:45.

Cinta ada di hati, lalu hati itu dimana? Itu ada di jiwa kita, di pikiran kita. Itulah kenapa sebenarnya ketika kita menang dalam pikiran, maka kita bisa juga menang dari hal-hal menyimpang dalam ekspresi cinta kita:
Mencintai diri sendiri (narsisme).
Mencintai dengan eksploitasi seksual.
Mencintai sesama jenis.
Mencintai dalam status yang di luar etika Kristen (kawin-cerai, duda-janda, dibawah umur dan lain sebagainya).

Karena cinta ini ada di hati, yaitu pikiran kita, maka hubungannya akan sangat erat dengan konsep diri kita. Konsep diri yang saya maksudkan adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Bayangkan betapa banyak dana yang dikeluarkan wanita untuk menjadikannya sosok ideal dan dicintai secara fisik: rambut hitam lurus panjang, badan langsing, muka bercahaya, dan kulit yang putih. Konsep seperti ini kemudian dipasarkan sebagai sosok ideal. Tapi apakah benar? Sebab setiap orang berpikir bahwa jalannya lurus menurut pemandangannya sendiri. Amsal 21:2.

Jadi bagaimana kita menghindari sindrom-sindrom seperti ini? BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL. 1Tesalonika 5:18. Kata yang sering kita dengar tapi kadang jarang kita praktekkan. Tahukah kita bahwa kejadian / eksistensi kita ini ajaib dan dahsyat. Mazmur 139:14. Banyak orang “haus” akan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa. Padahal itu ada didalam dirinya.

Tahukah Anda bahwa Anda diciptakan sempurna? Anda merasa tidak sempurna disaat Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain. Dan di dunia yang tidak sempurna ini segala sesuatu bisa terjadi. Konsep yang seperti ini bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Seseorang merasa dirinya terjebak didalam tubuh yang salah. Atau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang salah. Saya tahu ini hal yang sulit dimengerti, tetapi homoseksualitas (gay/lesbian), transgender (wanita-adam) atau biseksualitas, adalah pilihan yang diambil seseorang sama ketika dia memilih untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Karena ada konsep anima-animus bahwa di setiap pria ada unsur wanita didalamnya dan demikian sebaliknya.

Lalu kapan seorang pria-wanita bisa memulai pacaran? Jawaban yang mudah adalah ketika keduanya sama-sama siap. Tetapi kapan mereka siap? Kesiapan secara psikis adalah patokan. Karena dari dalam hati keluar perbuatan yang jahat. Maka pastikanlah bahwa hati atau motif yang terkandung didalamnya adalah baik. Secara pribadi berpacaranlah setelah engkau bisa menghidupi diri sendiri secara ekonomi. Karena disaat engkau mulai dapat menghidupi diri sendiri engkau sudah mulai bertanggungjawab tentang dirimu. Engkau bisa mengasihi orang lain, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Cinta adalah hubungan, selalu melibatkan 2 pihak. Ada yang menerima dan ada yang memberi. Nah cinta adalah perasaan yang timbul dari hubungan dengan lawan jenis. Ini yang menarik, karena kita akan mendasarkan bahasan kita pada sex. Bukan triple x, tapi sex. Sex sendiri adalah perbedaan jenis kelamin.

Nah sekarang kita lihat bahwa pemahaman tentang seks harus diketahui sejak dini. Namun ada tingkatan pelajaran seks itu dari basic – intermediate – advance. Pendapat yang mengatakan “Ah binatang aja nggak diajarin bisa beranak pinak!” tidaklah lagi relevan, kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang. Kompleksitas hubungan dalam manusia yang membuatnya berbeda.

Making future plans is a healthy ingredient for a growing relationship, It’s also an indicator of the commitment you have to each other.

Hidup yang berkualitas itu tidak ditentukan oleh seberapa kali Anda berhasil memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Apalagi jika itu berlanjut ke hubungan seks. Hidup yang berkualitas adalah ketika Anda bisa bertanggungjawab pada diri Anda sendiri. Ikan yang hidup selalu berenang melawan arus. Hanya ikan mati yang terikut arus.

Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.

Konsep diri seseorang yang rusak dari lingkungan dan media menimbulkan perilaku yang menyimpang. Karena konsep diri yang positif akan menjawab pertanyaan “Siapakah Aku?” dan “Untuk apa aku ada?” Kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini akan memicu seseorang mengejar sesuatu yang semu. Mereka bergabung dengan komunitas yang dapat menunjukkan eksistensinya, misalnya geng motor, atau vandalisme.

Kita tahu bahwa kita diciptakan untuk jadi pengubah dan pembeda di lingkungan kita. Kita akan membuat sejarah dalam satu titik di hidup muda kita! KITA ADALAH PENGUBAH SEJARAH! Pertama-tama kita akan membahas mengenai “pembuat tren”, selama ini apakah kita adalah pembuat tren atau pengikut tren yang ada? Mungkin ada yang berpikir: Wah, bagaimana dengan skinny jeans ku, apa kabar celana “gemes” yang baru dibeli, udah terlanjur diwarnain “ash grey” rambutku? Aduh, apa musti dihapus semua account social media? Hey hey hey, easy. Tenang dulu.
Bukan berarti kita kembali ke jaman batu karena kita nggak mau disebut trend follower. Maksud saya sebenarnya jangan terjebak dengan TREND yang sudah ada, tanpa kemudian menyadari panggilan kita sebagai pengubah, pembeda. Coba kita baca apa yang Yesus katakan. Matius 5:13-16. Anda adalah pembeda. Menariknya disini dikatakan Yesus sebagai identitas kita. Jadi ini bukan sesuatu yang menjadi tujuan kita, melainkan ini adalah identitas kita. Kamu adalah TERANG & GARAM.
Coba kita sekarang lihat apa yang ditulis dalam 1Tawarikh 4:10.Apa yang dimaksud Yabes dalam doanya, yang juga dijadikan lirik lagu rohani ini? Kalau kita mau hubungkan dengan apa yang membuat kita berbeda dengan “memperluas daerahku”? Apakah kita perlu jadi “tuan tanah”?
Maksudnya adalah memperlebar pengaruh kita kepada orang lain. Karena kita bisa menampung lebih banyak orang. Bukankah ini yang Yesus mau didalam hidup murid-muridNYA dengan berkata “pergi dan “memberitakan” kabar baik. Supaya pemberitaan Firman Tuhan lebih jauh dari sekedar Yerusalem, namun juga ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kisah Para Rasul 1:8.
Kita akan bayar harga berapapun untuk menjadi dampak yang positif. Dalam Filipi 1:20-21 dengan berani Rasul Paulus berkata bahwa: Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Lebih lagi kepada Timotius Paulus berkata di 2Timotius 1:11-12 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Sampai disini saya harap Anda bisa melihat bahwa untuk menjadi seorang yang berbeda kita harus berpikir lebih besar dan mau bayar harga. Anda adalah seperti thermostat dan bukannya thermometer.

Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.

Perkembangan teknologi menjadi tidak terbendung lagi. Dari jaman ke jaman manusia menciptakan sesuatu yang bisa membantu dirinya untuk memenuhi keingintahuan mereka akan banyak hal. Contohnya, sejak kecil seorang anak selalu diisi keingintahuan mereka akan banyak hal. Mulai dari pertanyaan pula, kemudian timbul inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan baru. Tahukah kita bahwa manusia memang memiliki kemampuan pikir yang tidak terbatas? Kejadian 11:6. Jadi jangan kaget dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Sebenarnya ini adalah pendorong semangat kita bahwa apa yang difirmankan Tuhan sama bagi kita juga, yang hidup pada masa sekarang. Think big, think global but act locally.
Disaat yang sama kebutuhan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tetap mengambil posisi yang penting. Contohnya saja kita bisa lihat bagaimana seseorang berusaha memiliki teman atau kenalan, dan bahkan saling mengklaim bahwa mereka memiliki teman atau sahabat yang banyak. Kita bisa mengerti ini juga mengapa penulis Amsal merasa perlu menuliskan nilai-nilai dalam relasi dengan orang lain. Amsal 27:10.
Apa yang terjadi ketika kedua komponen, yaitu teknologi dan hubungan manusia-dengan-manusia digabungkan? Lahirlah SOCIAL MEDIA. Jika kita coba perhatikan benar-benar, semua teknologi yang berusaha menghubungkan manusia dengan manusia yang lain itu adalah Social Media, yang kalau diterjemahkan bebas adalah media atau tempat mengekspresikan diri supaya terhubung dengan yang lain (social). Tetapi ada orang lain yang juga mendefinisikan social media sebagai kumpulan usaha menyalurkan komunikasi secara online (di dunia maya), yang dilakukan dengan beragam maksud, misalnya memberi masukan bagi komunitas, menjalin interaksi, berbagi suatu konten (muatan) dan juga berkolaborasi. (www.techtarget.com). Saya pikir inilah kemudian yang jadi daya tarik Social Media, karena ada tiga komponen ini:
Keingintahuan manusia yang sudah ada dalam dirinya.
Dari poin diatas itu ditambah potensi kecerdasannya, kemudian melahirkan teknologi untuk membantu manusia.
Keinginan atau bisa disebut kebutuhan manusia untuk terus terhubung, karena manusia juga mahluk sosial.

Saya juga memiliki beberapa data yang mencengangkan tentang jumlah pemakai social media, dan mungkin ini yang ter-update, karena Facebook Indonesia sendiri mencatat pada akhir kuartal kedua (Juni) 2016, pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia adalah 88 juta pengguna. Padahal di akhir 2014 pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia baru 77 juta. Saya bayangkan kalau perkembangan gereja seperti ini pasti luar biasa. Fakta menarik lainnya, 94% dari pengguna itu mengakses Facebook dari perangkat mobile (handphone, tablet). Kemudian statistic ini juga menarik, dalam sehari rata-rata 80 kali orang mengecek perangkat mobile nya. Kemudian 14 kali diantaranya yang dicek adalah Facebook. Holy Bible sekarang “kalah” akses dengan Holy Facebook. Dalam hal ini saya tidak mau menghakimi Anda jika Anda lebih banyak mengakses Social Media dibandingkan dengan Alkitab. Tetapi saya terus menyarankan untuk Anda melakukannya dalam level moderat. Ketika itu mengikat Anda, itu sama saja Anda kecanduan. Itulah mengapa saya sarankan misalnya Anda ambil puasa atau lebih tepatnya pantang Social Media sekali waktu dalam minggu-minggu yang Anda jalani.
Menariknya semua teknologi yang tercipta, atau bahkan semua barang itu memiliki dua “sisi”, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seperti sebuah batu Anda bisa gunakan untuk yang positif (Bilangan 11:8) dan yang negative (Hakim-hakim 9:53).
Jadi apa saja yang jadi pengaruh positif dan negatif dari Social Media? Mari kita mulai dari yang positif.
Dampak positif dari Social Media:
Semua orang yang memiliki akses mampu mengembangkan “lingkaran” pertemanannya. Ketika kita punya teman berarti kita punya pengaruh, otomatis “lingkaran” pengaruh kita juga membesar.
Kita memiliki banyak sumber berita dan ini lebih cepat dari media-media elektronik konvesional sekalipun. Demikian juga inspirasi kita untuk ide-ide segar, dan cara pikir kita menjadi lebih luas.
Menghemat ongkos komunikasi local dan global menjadi sangat minim, menjadi sangat cepat dan efisien.
Dampak negative dari Social Media:
Menjauhkan orang-orang yang sebenarnya secara fisik lebih dekat daripada “orang-orang” yang ada di social media.
Sumber berita yang banyak bisa kemudian membuat kita terlalu banyak informasi-informasi yang tidak berguna.
Karena semakin murah dan mudah maka orang memanfaatkannya dengan tidak bertanggungjawab. Banyak sekali cyber-bullying, dusta, bahkan pembunuhan karakter terjadi di social media.
Secara singkat, social media me-revolusi pandangan kita dalam hal moral (benar-salah), budaya (mengenal suatu nilai dan mengadopsinya) dan juga iman (dasar percaya pada Tuhan). Semuanya seperti yang saya paparkan di atas memiliki dua sisi: positif dan negative.
Ada banyak penerapan yang salah dari Social Media. Kalau mau diurutkan tentu saja akan ada banyak hal yang kontra-produktif dari penggunaan social media. Saya sendiri punya pengalaman menarik dengan social messenger. Saya memutuskan untuk berhenti dari segala jenis social messenger mungkin sudah 2 tahun terakhir. Saya pengguna aktif social messenger sejak 2008, dimulai dengan BBM. Bayangan pertama kali adalah ini akan membuat saya bisa terkoneksi tanpa batas dengan semakin banyak orang, tetapi ternyata semakin tahun, social messenger membuat saya begitu terikat, dan pada dasarnya mulai mengganggu. Saya putuskan untuk menjadi lebih simple dengan hanya memiliki account social media di FB, Youtube, dan weblog. Sementara untuk komunikasi: call-text-email.
Tidak ada yang salah dengan keberadaan awal social media untuk menghubungkan antar manusia yang berbeda jarak. Tetapi ingat tidak semua hal berguna. 1Korintus 10:23. Anda tidak perlu se-ekstrim saya, tetapi saya harap Anda bisa mengerti jebakan penggunaan social media:
Menjebak Anda untuk mengasihi sebuah aplikasi teknologi dibandingkan mengasihi Tuhan. Matius 10:37.
Menjebak Anda untuk “memberi makan” ego Anda. Galatia 5:20 merujuk pada perbuatan daging, tetapi di Yakobus 3:14 kita diberi petunjuk supaya jangan lebih jauh terjerumus.
Menjebak Anda untuk menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa dipergunakan untuk hal lain. Mazmur 78:33.

Coba baca pernyataan ini:
Social media is a tool to share the light, not to share your gloomy feelings.
(JM)
Ingat kan sama ayat ini: Matius 5:14-16. Pertanyaannya gini, apakah orang bisa memuliakan Tuhan dengan apa yang kita lakukan di social media? Coba balik ke ayat 13, ini peringatan keras! Ketika kita kehilangan “asin” atau “unsur pembeda” dari dunia, maka kita tidak ada gunanya. Social media adalah lingkungan yang gelap (negative), apa gunanya kamu datang dan membawa “gelap”?

Hal-hal praktis yang bisa kamu lakukan

Taruh app Alkitab di samping app social media mu. Sehingga setiap kali pagi hari membuka Alkitab, Anda ingat bahwa Tuhan yang pertama!!! Tentu saja itu juga harus diikuti dengan membatasi “penggunaannya” ayo penguasaan diri.
Cara untuk lepas dari belenggu social media adalah dengan berpikir yang benar, sama seperti semua “kecanduan” lain, yang harus lepas pertama adalah dari pikiran. Roma 12:2.
Lihat social media sebagai “alat” bukan “kebutuhan”. Matius 4:4.

Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Setiap kita terlahir untuk sebuah misi. Setiap misi memiliki tujuan. Ini penting untuk diketahui oleh kita agar hidup yang kita jalani tidak sia-sia. Berbicara tentang kesia-siaan, Salomo, seorang raja besar dan terkenal, pernah menuliskan amsalnya mengenai kesia-siaan.

Salomo pernah berkata demikian: Apa guna kita bekerja? Pengkhotbah 1:3. Mari kita secara sadar merunut apa yang terjadi dalam siklus hidup manusia. Manusia Lahir – Proses Belajar – Bertumbuh Dewasa – Bekerja – Menikah – Merawat anak – Menua – Meninggal. Sehingga jika disederhanakan manusia lahir untuk meninggal. Begitu sia-sianya!

Ketika kita tidak menyadari misi yang kita emban, cepat/lambat hidup kita akan terjebak dalam rutinitas yang menjemukan Pengkhotbah 1:4-8. Tapi menarik sekali bahwa untuk setiap tokoh di Alkitab ada misi yang Tuhan embankan dalam hidup mereka. Mari kita lihat beberapa contoh diantaranya:
Adam, misi hidup manusia pertama ini tercantum dalam Kejadian 1:26.
Abraham, misi hidupnya terangkum di ayat ini Kejadian 22:18.
Musa, misi hidupnya dinyatakan di ayat Keluaran 3:10.
Elia, misi hidupnya bisa kita temukan di 1Raja-raja 19:16.
Yohanes Pembaptis, misi hidupnya dituliskan dalam Markus 1:2-4.
Yesus, Anak Allah yang memiliki misi luar biasa Yohanes 5:36.

Mengenali Misi : dalam perkataan pertama Yesus yang tercatat di Injil Lukas adalah: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Yesus mengerti sejak berusia 12 tahun bahwa ia dipanggil pekerjaan/rencana Bapa di Surga. Kita bisa berkata: “Tentu saja! Dia Anak Allah.” Tetapi kita harus ingat karakter orangtua seperti apa yang membesarkan Yesus.
Maria adalah wanita yang sejak masa mudanya adalah hamba Allah, dia begitu taat sampai ketika mendapat panggilan sebagai “ibu” Kristus, dia berkata dalam Lukas 1:38 “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Yusuf adalah seorang yang “tulus hati” Matius 1:19.
Mereka mengenalkan Yesus dengan pembacaan Taurat dan kehidupan Bait Allah. Lukas 1:21-22.

Seringkali saya bertanya kepada anak pra-remaja dan remaja, dan mereka tidak mengerti akan jadi apa mereka, apa yang Tuhan mau, karena ada orangtua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk bicara tentang masa depan. Salah besar! Sejak anak kita mengerti dan mampu memahami (dalam istilah psikologi perkembangan Formal Operation Stage) bahkan juga tahapan sebelum itu, maka mereka bisa diajar mengenai hal ini. Mengenal misi mereka di dunia. Sehingga apa yang kita tabur di “Yerusalem” ini akan berbuah luar biasa.

Bagaimana dengan yang sudah dewasa seperti Bapak/Ibu. Mari lihat apa yang dikatakan Yesus di masa dewasanya. Yohanes 17:4. Yohanes 10:25-30. “Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”

Inilah mengikut Yesus: melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran).

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Minggu lalu kita sudah dijelaskan Gembala mengenai ini secara detail. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan parallel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4. Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

Setiap proyek baik membutuhkan 3 unsur ini: Doa-Daya-Dana. Itu memberi kita opsi yang luas untuk terlibat dalam pelayanan apapun.

ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

  • Ada sesuatu yang hilang / kosong.
  • Ada sesuatu yang mati.
  • Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

  • Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.
  • Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.
  • Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Persaudaraan dan kekeluargaan di jemaat local baik untuk kemajuan rohani Anda. Tetapi Anda juga pasto ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa. Khusus mengenai tingkatan “orang muda”, mereka “mengalahkan yang jahat”, saya percaya ini adalah konsep menjadi terang dan garam (yang “overpowered” kegelapan dan ketawaran dunia).

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Menjadi Anak Allah” @jeffminandar.com), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

  1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.
  2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.
  3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “pengejarannya” yang salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung! Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita. Dengan menyadari bahwa kita sudah dipindahkan dari kebinasaan kepada kehidupan seharusnya membuat kita makin mencintai (mengasihi, melayani, menolong) “rumah kita” yaitu “tubuh Kristus”.

HOMECOMING (Yeremia 2:2)

Homecoming” adalah tema yang menarik, karena bisa didefinisikan sebagai reuni atau kembali ke rumah / kampung halaman. Untuk definisi yang terakhir bisa disamakan dengan istilah “mudik” mungkin.

Tetapi menjadi menarik juga karena salah satu film “box office” 2017 berjudul “Spiderman: Homecoming”. Kalau saya tidak salah di Rusia atau di Italia dan beberapa negara lain, judul film dalam Bahasa Inggris harus diterjemahkan ke Bahasa nasional setempat. Kebayang ya kalau di Indonesia jadinya: “Manusia Laba-laba: Mudik”.

Tetapi ada fakta-fakta yang saya dapatkan tentang film “Spiderman” ini. Salah satunya bahwa film ini menjadi film “Spiderman” tersukses kedua setelah Trilogi “Spiderman” yang diperankan Tobey Maguire. Pendapatannya tercatat $333juta di Amerika Serikat dan $879juta di seluruh dunia.

Ketika mendengar angka-angka fantastis seperti itu kita langsung berpikir tentang ukuran kesuksesan, bukan? Kesuksesan = Hasil. Apakah ini biblical? Coba kita lihat Matius 3:10. Saat itu Yohanaes Pembaptis menegur dengan keras orang-orang Yahudi (termasuk di dalamnya orang Farisi) yang diumpamakan seperti “pohon yang tidak berbuah”. Jadi “menghasilkan” itu penting.

Lalu hasil yang seperti apa? Hasil yang baik tentunya sesuai dengan ayat tersebut. Namun baik pun menjadi relatif. Apa yang saya katakan baik, belum tentu sudah baik di pandangan Anda. Hasil yang baik ini harus mengacu kepada standar DIA, “sang pemilik kebun” kalau memakai perumpamaan Yesus di Lukas 13:6-9. Karena dari “pohon” kemanusiaan kita bisa menghasilkan yang dari “daging” dan yang dari “roh”. Galatia 5:19-23.

Ilustrasi yang mudah seperti ini, kembali ke Spiderman, sebelum “Spiderman: Homecoming” ada film “Amazing Spiderman 2” yang mencatat penjualan $202juta di Amerika Serikat dan $708juta di seluruh dunia. Angka yang besar, bukan? Tetapi, Angka Besar ≠ Ekspektasi. Sony Pictures mengeluarkan lebih dari $250juta untuk produksinya saja, dan mereka berharap hasil yang lebih.

Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, kemudian berujung  pada hasil yang tidak  sesuai.

Apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Saya lebih melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Kasih yang dulu pernah Anda tunjukkan pada mulanya. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Ekpektasi Illahi adalah Anda kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

Saya tidak tahu posisi Anda sekarang, sebagai pengikut Kristus. Tapi Anda tahu apa yang Tuhan harapkan, saya teringat Matius 11:30, DIA menginginkan sesuatu dari hidupmu, tetapi DIA menyediakan. Anda sedang memikul sesuatu yang juga DIA rasakan, kembali dari pikiran-pikiran salah, pulanglah dan rasakan kasihNYA, dan kasih ini yang mengingatkan Anda kembali.

Grow Together

GROW TOGETHER

Pertama-tama ijinkan saya mengucapkan selamat merayakan Sumpah Pemuda untuk yang masih ingat kalua hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Namun yang kedua yang menjadi salah satu alasan kita berkumpul sore hari ini adalah Ulang Tahun ke 40 Tahun untuk Pemuda Remaja GPdI Alfa Omega Ketintang, Surabaya. Kalau tidak salah mereka sekarang punya nama COMMANDERS OF CHRIST.

Bertumbuh atau berkembang adalah istilah yang tersebar di seluruh Alkitab. Dalam Kejadian kita ingat bahwa manusia pertama diminta untuk “beranak cucu dan penuhilah bumi”. Kemudian dalam Yesaya kita ingat Allah mengibaratkan Israel sebagai kebun anggur yang harusnya menghasilkan anggur pilihan, tetapi malahan menghasilkan anggur yang asam. Demikian kalau kita maju ke Perjanjian Baru, dalam Lukas seorang pemilik kebun melihat ada pohon ara yang tidak berbuah, dan memberi waktu 3 tahun untuk pengurus kebun itu untuk merawatnya, jika tidak berbuah maka akan ditebang.

Tiga kisah Alkitab di atas menunjukkan bahwa “berkembang” tidak bisa dilepaskan dari “berbuah”. Hari ini kita akan belajar untuk bertumbuh bersama, supaya semua punya pemahaman yang sama. Anda yang pernah latihan fitness pasti tahu Anda harus melatih bagian kiri dan kanan tubuh Anda dengan beban latihan yang sama. Kalau tidak berkembangnya tidak akan sama.

Kembali ke COC, ini adalah ulang tahun yang ke 40 tahun bagi Pemuda Remaja. Kalau melihat angka, sebenarnya Anda sudah tidak pemuda Remaja lagi. Jokes. Usulan saya Anda buat ulang tahun sesuai dengan tahun kapan Anda mulai nama COC ini. Tapi ini hanya obrolan selintas ya jangan dijadikan perdebatan serius.

Tetapi mengingat 40 tahun, saya teringat dengan rentang masa yang sama di dalam Alkitab saat Israel berkembang menjadi suatu bangsa menjalani suatu perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tanah perjanjian. Ini adalah perjalanan lintas generasi yang menarik. Pada tahun ke-40 tantangan yang dihadapi bukan saja dari generasi yang lebih tua, tetapi juga dari antara generasi baru yang muncul. Commanders of Christ, you better prepare for this, and listen well for the Word of God!

Semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dll), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.(38)Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.(39)Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.(40)Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Siapa yang ingin dewasa? Menarik sekali kalau mempelajari dinamika sosial, anak-anak biasanya ingin cepat dewasa, sementara yang dewasa,ketika melihat sulitnya hidup ingin kembali ke masa anak-anak. Tetapi didalam Firman Tuhan dengan jelas dikatakan: 1 Korintus 13:11″Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Mengapa menjadi dewasa itu penting? Efesus 4:13-14 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,(14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…”

Karena anak-anak mudah diombang-ambingkan! Puji Tuhan kalau hari ini kita anak-anak muda masih menyadari bahwa kita butuh pegangan yang teguh didalam Kristus. Banyak sekali anak muda yang merasa dirinya kuat, merasa dirinya tidak tergoncangkan namun ternyata mereka mudah sekali ambruk. Apalagi kalau sudah ditawari 3G (Gold-Glory-Guys/Girls). Iman kuat, imron yang mana tahan.

Apa saja tanda-tanda seorang sudah dewasa? Kalau melihat ke 1Korintus 13, jelas sekali dituliskan: PERKATAAN, PERASAAN dan PIKIRAN. Secara cepat saya akan membahas hal ini supaya kita semua punya pemahaman yang sama mengenai kedewasaan rohani. Bukan berarti usia kalian yang masih muda kemudian kalian tidak dewasa rohani. Bisa jadi sebaliknya banyak orang yang sudah puluhan tahun di gereja namun masih anak-anak secara rohani.

(1) PERKATAAN. Perkataan seorang dewasa rohani bukanlah perkataan yang sembarangan. Matius 12:36 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”Ini termasuk perkataan di media sosial.

(2) PERASAAN. Perasaan seorang dewasa rohani tidak dikuasai hawa nafsu. Efesus 4:19-20 “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

(3) PIKIRAN. Pikiran seorang dewasa rohani diperbaharui (diwarnai pertobatan dari waktu ke waktu). Roma 12:2″Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Sekarang apakah Anda adalah seorang yang dewasa rohani? Ulang tahun Pemuda Remaja ini saya tahu masih ada banyak keinginan yang Anda ingini untuk diri Anda sendiri. Tetapi ketika Anda bertumbuh dewasa secara rohani, berapapun jumlah tahun yang sudah Anda lewati. Biarlah fokus kita pada dia, pada mereka, yang ada diluar sana. Apa yang Anda bisa kontribusikan untuk dunia yang diluar sana?

GodblesS

JEFF

Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati

Mari kita baca Matius 10:16. Ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang perlu perenungan sebelum memahaminya. Sebenarnya ada apa dibalik perumpamaan yang disampaikan Yesus? Setidaknya ada 3 hal ini:

  1. Perumpamaan berisi rahasia Kerajaan Surga. Matius 13:11.
  2. Perumpamaan dimaksudkan untuk menggambarkan seseorang atau sekelompok orang. Matius 21:45.
  3. Penyampaian perumpamaan disesuaikan dengan pengertian manusia. Markus 4:33.

Jadi untuk memahami pernyataan Yesus “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” kita melakukan pendekatan dengan pemahaman konteks dan karakter dari binatang-binatang tersebut.

Pertama, konteks saat Yesus mengatakan kalimat ini adalah Yesus sedang mempersiapkan murid-muridNYA. Persiapan ini dibutuhkan karena mereka akan menghadapi keganasan “musuh” atau orang yang membenci mereka oleh karena mereka pengikut Yesus. Keganasan orang-orang yang membenci Yesus inilah yang digambarkan seperti “serigala”. Ayat 16a. Strategi untuk bisa menghadapi situasi yang demikian itulah yang kemudian digambarkan dalam poin berikut, tentang karakter ular dan merpati.

Kedua, tentang ular dan merpati. Ular adalah jenis reptil yang sukses berkembang biak di berbagai macam kondisi. Untuk di Indonesia ada sekitar 400 jenis ular, dan hanya 5% dari keseluruhan jenis ular yang memiliki bisa mematikan. Ular pintar untuk mempertahankan diri, dengan gerakannya yang cepat dan agresif untuk melarikan diri. Sedangkan merpati adalah jenis unggas yang bisa mengingat lokasi dengan baik. Merpati juga memiliki kemampuan untuk terbang sampai dengan jarak 965 km dari titik awal. Merpati menariknya memiliki naluri alamiah untuk kembali ke sarang meskipun sudah terbang tinggi dan jauh.

Keadaan Yesus yang digambarkan seperti “domba di tengah serigala” sangat relevan bagi orang Kristen yang menjadi minoritas, seperti di Indonesia. Kita sudah dengar khotbah Gembala tentang ujian-ujian yang harus dihadapi pengikut setia Kristus. Meskipun demikian tetap saja gambaran Yesus itu adalah suatu pertanyaan yang mencengangkan.

Karena Yesus berharap bahwa kita bukan saja bertahan hidup di tengah situasi yang sulit, tetapi kita bisa menjadi pemenang!

Tidak mungkin? Segala sesuatu mungkin bagi Tuhan. Matius 19:26. Bagaimana kita bisa menang di tengah kesulitan? Pertama, percayalah bahwa kita ini “lebih daripada orang-orang yang menang” seperti yang dituliskan di Roma 8:17. Maksudnya apa? Allah yang berperang bagi kita dan memberi kemenangan. DIA yang “membela” kita namun kita yang mendapatkan kemenangan itu. Begitulah gambaran “lebih dari pemenang”. Jadi kita tidak perlu kuatir, bagi manusia tidak mungkin, tetapi segala sesuatu mungkin bagi Tuhan.

Mungkin ada beberapa yang bertanya, apa ukuran kita menang? Apakah ketika kita menjadi mayoritas? Apakah ketika kita menjadi limpah dengan harta-tahta-cinta? Menarik sekali penjelasan Ps.Jeffrey Rahmat, bahwa keunggulan kita ditentukan ketika kita menjadi dampak. Matius 5:13. Hidup kita sia-sia ketika kita menjadi “tawar dan diinjak-injak orang”. Ketika dunia melihat bahwa keberadaan kia tidak membawa pengaruh. Itulah kenapa kita harus bisa memastikan semua aspek keseharian kita membawa dampak positif. Termasuk media sosial. Jangan gunakan media sosial hanya untuk “mencurahkan isi hati” atau “membuka rahasia orang lain”, melainkan bawa kabar baik, yang membangun, yang menginspirasi orang lain.

Lakukan yang terbaik di bidang kita masing-masing, baik di dalam lingkungan gereja, maupun di luar lingkungan gereja.

Sekarang bagian terakhir, bagaimana sebenarnya menjadi cerdik dan tulus pada saat yang bersamaan? Cerdik tetapi juga tulus, yang dimaksud adalah menggunakan pikiran yang strategis untuk mempertahankan diri tetap ada di jalan yang ditetapkan Tuhan bagi kita, yaitu menjadi dampak positif bagi orang lain. Tentu saja semuanya itu harus dilakukan di atas dasar kebenaran.

Kita tidak “menghalalkan segala cara” untuk menjadi dampak. Ini adalah tentang strategi, bukan sensasi.

Satu kisah tentang Paulus di Kisah Para Rasul 22:23-25 menggambarkan hal ini. Paulus saat itu akan disesah oleh tantara Romawi yang mengamankan dia dari huru-hara di Yerusalem. Tetapi sesaat sebelum disesah ia memakai statusnya sebagai warga negara Rum untuk menghindari sesahan dari prajurit-prajurit Romawi. Padahal kalau kita baca satu pasal sebelumnya di Kisah Para Rasul 21:13 Paulus mengatakan dia rela disiksa.

Apakah Paulus takut? Atau menjadi tidak konsisten? Saya rasa untuk orang yang pernah mengalami daftar pengalaman 2Korintus 11:23-28 Paulus bukanlah seorang penakut. Tapi inilah kecerdikan dan ketulusan Paulus seperti yang menjadi tema kita. Kita sebenarnya bisa melihat dasar nilai yang dipegang Paulus dari ayat di 1Korintus 14:15. Paulus menyampaikan bahwa dalam berdoa kita melakukannya dengan roh tetapi juga dengan akal budi.

Hal yang sama berlaku dalam pelayanannya, dia tulus (roh) untuk menyebarkan tentang nama Yesus, bahkan dilakukan dengan pengorbanan total. Tetapi dia juga melakukannya dengan strategi yang diolah dengan cerdik (akal budi). Sehingga kita lihat “output” atau hasil dari keseluruhan hidupnya adalah seperti yang tertulis di Filipi 1:20-22. Hidupnya untuk memberi “buah”, meskipun untuk mati pun dia masih merasa untung (karena bertemu dengan Yesus di Firdaus).

Ketulusan dan kecerdikannya semua diarahkan untuk menghasilkan “buah” yang bisa dinikmati orang-orang sejamannya, namun hingga sekarang kita masih menikmatinya.

Apa yang bisa kita lakukan di pekerjaan, keluarga, atau aktifitas sehari-hari kita? Bisakah kita tetap termotivasi bahwa jalan Tuhan bagi kita adalah untuk menjadi dampak positif bagi orang-orang sekeliling kita? Apa yang kita lakukan untuk itu, pernahkah kita memikirkan suatu cara untuk menyebarkan kabar baik tanpa harus menjadi orang yang ekslusif?

GodblesS

JEFF