Hukum Perkawinan

Selamat pagi jemaat sekalian, mari sekarang kita arahkan perhatian kita kepada Firman Tuhan yang tertulis di dalam Ulangan 22 pada perikop tentang Hukum Perkawinan.

Topik yang menarik, bukan karena saya belum menikah, karena pada beberapa kesempatan saya juga memimpin kelas pra-nikah. Lebih lagi saya rasa Yesus atau Paulus juga tidak menunggu menikah untuk bisa mengajar tentang topik ini.

Pada awal ini saya ingin ingatkan jangan terjebak dengan istilah “jangan kawin dulu,  sebelum nikah” karena itu hanya permainan kata orang-orang yang tidak mengerti bahwa “kawin” itu sinonim dengan kata “nikah”.

Meskipun sebenarnya dalam kata “kawin” terdapat juga makna “berkelamin”, tetapi kata itu hanya dipakai untuk kalimat dengan subjek binatang. Kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang, maka Anda boleh memaknai “kawin” berbeda arti dengan nikah.

Lagipula dalam TB LAI kata pernikahan hanya digunakan di Kidung Agung sedangkan perkawinan dipakai dari Kejadian sampai Wahyu.

Saya tidak akan membacakan seluruh perikop, ayat demi ayat, tetapi saya harap Anda semua membuka perikop ini di Alkitab Anda, atau di gadget Anda.

Perikop ini membahas peraturan tentang perkawinan, dan saya akan mengambil kata-kata kunci untuk Anda temukan dalam perikop tersebut.

Kata-kata kunci itu saya kelompokkan dalam 3 kelompok besar sebagai berikut:
– Perkawinan.
o Tuduhan.
o Sanggahan.
o Bukti (tanda).
o Konsekuensi.
▪ Jika terbukti (apa yang terjadi pada pihak pria, dan apa yang terjadi pada pihak
wanita).
▪ Jika tidak terbukti (apa yang terjadi pada pihak pria, dan apa yang terjadi pada
pihak wanita).

– Perselingkuhan.
o Dalam konteks perkawinan.
o Dalam konteks pertunangan.
o Dalam konteks hubungan ayah dan anak.

– Perkosaan (yang disetarakan dengan pembunuhan, meskipun tetap dalam konteks perkawinan).
o Dengan korban wanita yang sudah kawin/tunangan.
o Dengan korban wanita yang masih perawan.

Saya tidak akan berusaha menjelaskan semua ini dalam beberapa menit kedepan, karena Anda hanya akan menerima informasi dan bukannya nilai penting dari perkawinan.

Kemarin Gembala mengingatkan kepada staf yang tinggal di pastori Mahanaim, bahwa inti dari kita membahas Perjanjian Lama adalah membukakannya untuk kehidupan kita di Perjanjian Baru. Bagaimana menjelaskan tentang karya Yesus yang luar biasa, yang lebih superior dari semua yang terjadi di Perjanjian Lama. Bukan berarti kita mengabaikan Perjanjian Lama, melainkan belajar daripadanya.

Semua hukum/perintah di PL diberikan supaya semua keturunan Abraham (termasuk kita keturunan Abraham rohani – referensi Roma 4 (ayat 11 secara khusus)) melakukan kebenaran dan (mempraktekkan) keadilan. Kejadian 18:19. Itulah mengapa, contohnya di Ulangan 22:18-19 ada konsekuensi hajaran, denda, dan konsekuensi sosial lain (wanita itu harus menjadi istri seumur hidup), bagi pria yang menuduh tetapi tidak terbukti.

Apakah penerapan hukum itu memuaskan semua pihak? Tentu tidak, yang terhukum tentu saja tidak puas. Tetapi hukum, khususnya Hukum Taurat, tetap harus ada untuk menunjukkan kekudusan kebenaran, dan kebaikan Allah. Roma 7:12.

Sehingga patokan keadilan bukan apakah semua pihak dipuaskan, tetapi ketika kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah ditegakkan dalamnya.

Dengan dasar berpikir ini kita bisa melihat bahwa hukum perkawinan bukanlah sekedar ajang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Tetapi sekali lagi penegakan hukum itu untuk menegaskan kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah, seperti yang kita lihat 3 kali diulang, ada frase “kauhapuskan yang jahat” di perikop bahasan kita (Ulangan 22:21, 22, 24).

Lalu apa kata Yesus tentang 3 kelompok bahasan diatas: perkawinan, perselingkuhan, perkosaan? Secara singkat Yesus tidak berkenan atas perceraian dalam perkawinan (Matius 5:32) itu adalah zinah. Demikian perselingkuhan dan perkosaan, jangankan tindakannya, hati untuk mengingini saja adalah zinah (Matius 5:28).

Jadi apakah kita perlu menghafal semua peraturan dalam Hukum Taurat? Saya dengan yakin berkata: Tidak perlu! Karena Yesus yang menjadi panutan kita, maka pesan yang dibawaNYA itulah yang menjadi pedoman kita, seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:17. Kita bukan pengikut Kristus jika kita hanya berhenti sampai di level mengikuti Hukum Taurat saja.

Apakah kita boleh memelajari Hukum Taurat, tentu saja, tetapi ingat itu dipelajari untuk menemukan kekudusan, kebenaran dan kebaikan Allah yang semuanya digenapi dalam Yesus di Perjanjian Baru.

Biarlah hidup kita, khususnya hubungan kita dengan pasangan kita, adalah hubungan yang didasari kasih karunia dan kebenaran di dalam Kristus Yesus. Jika hubungan Anda di masa lalu atau di masa sekarang, tidak didasarkan oleh dua hal ini. Mari datang ke kaki Yesus, minta kemurahanNYA, minta agar kasih karunia dan kebenaran Tuhan dinyatakan atas hubungan Anda. Demikian juga pengampunan, jika kesalahan yang Anda buat dalam hubungan tersebut belum terselesaikan.

Bagi Anda yang baru menatap masa depan dalam hubungan, serahkan itu pada Yesus. Biar Anda akan menjalani hubungan yang penuh kasih karunia dan kebenaran.

GodblesS

JEFF

Advertisements

HAUS

Saya rasa belum terlambat kalau saya mengucapkan selamat merayakan hari kenaikan Yesus dan menjelang hari raya Pantekosta. Tentu saja akan menyenangkan kalau kita berikan waktu yang kita miliki untuk datang di hadiratnya dan berdoa secara korporat seperti ini. What an atmosphere!

Malam hari ini selama beberapa menit ke depan saya akan membahas satu kata yang mempunyai rima sama dengan “Roh Kudus”. Kata itu adalah: HAUS. Bagi Anda yang tidak hadir di Doa Raya, Jumat lalu, sebelum berdoa saya menyampaikan Firman tentang “Lapar”.

Jadi mungkin berikutnya saya akan lanjutkan dengan “Mengantuk” dan jadilah khotbah seri tentang kekurangan. Saya hanya bergurau, tentang itu, tetapi maksud saya adalah ketika saya bicara tentang “Lapar”, saya rindu kita mengambil sikap yang benar (lapar akan pribadi Yesus) setiap kali (maksudnya terus menerus) dalam menghadap Tuhan, baik dalam doa maupun ibadah.

Jika kita perhatikan khotbah Gembala di hari Kamis tentang “Penolong yang Lain”. Kemudian malam Kemarin Pdm.Elisabeth Minandar (Ibu Gembala) menyampaikan tentang “Peran Roh Kudus di Hari-hari Akhir”. Kita bisa mengambil benang merah dari khotbah-khotbah itu, bahwa kita butuh Roh Kudus untuk membawa kita dalam kebenaran. (Anda bisa membaca ringkasan catatan khutbahnya di Facebook Page GPdI Mahanaim Tegal).

Kembali tentang kata: haus. Dalam Alkitab kata “haus” biasanya membawa asosiasi kita kepada perkataan-perkataan Yesus. Yesus pernah berkata tentang haus ketika bertemu perempuan Samaria. Yohanes 4:13-14. Demikian Yesus mengundang mereka yang “haus” untuk datang padaNYA di tengah-tengah Hari Raya Pondok Daun. Yohanes 7:37. Demikian Anda ingat salah satu perkataan bahagia Yesus yang berkaitan dengan haus. Matius 5:6. Sudah bisa lihat hubungannya, bukan?

Tetapi bolehkah saya membawa Anda ke kisah Perjanjian Lama tentang haus, supaya kita bisa melihat Roh Kudus dari perspektif lebih luas. Saya ada 2 kisah yang saya bandingkan tentang kehausan. Israel mengalami kehausan (Keluaran 17:3-7), respon mereka bersungut (bahkan disebut mencobai Tuhan), tetapi Allah mengeluarkan air dari batu karang. Demikian juga Simson pernah mengalami kehausan sampai sekarat (Hakim-hakim 15:18-19) responnya adalah mengajukan permohonan, ia mengingatkan Tuhan akan kondisinya, Allah kemudian membelah batu karang dan menyelamatkan Simson.

Ketika menyiapkan bahasan ini, saya berpikir apakah Roh Kudus hanya menjawab rasa haus kita, dan hanya berhenti pada rasa puas? Saya mendapati 2 ayat ini yang menunjukkan bahwa lebih dari sekedar membangkitkan kehausan atau kelaparan, tetapi juga ada tujuan dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Istiahnya “thirsty and hungry with a purpose”. 1Raja-raja 19:7-8. Ini terjadi dalam hidup Elia, tetapi juga terjadi dalam hidup para rasul. Memang tidak secara eksplisit dituliskan dengan istilah “haus”, tetapi lihatlah setelah perkataan Yesus bahwa mereka butuh Roh Kudus (Kisah Para Raul 1:4-5), para rasul kemudian menanti dengan tekun. Kisah Para Rasul 1:14.

Jadi malam hari ini ada hal-hal yang Tuhan bangkitkan dalam diri kita untuk kita kemudian mendapatkan kepenuhan Roh Kudus itu, tetapi bukan sekedar untuk memuaskan, tetapi untuk suatu tujuan besar, bagi Keluarga, bagi Gereja, bagi kota, bagi bangsa kita!

LAPAR

Hari ini saya akan berbicara tentang lapar. Apakah Anda lapar? Beberapa dari Anda mungkin sudah menebak, bahwa saya akan membahas tentang “lapar akan Firman Tuhan”. Tetapi tunggu dulu, jangan buru-buru kesana. Mari kita bahas tentang “lapar” ini dulu.

Lapar adalah sesuatu yang normal dan merupakan salah satu tanda kehidupan. Mereka yang tidak pernah lapar malah kita curigai sebagai orang tidak normal atau bahkan orang mati! Demikian juga kondisi lapar itu bukan sesuatu yang salah, hanya saja cara meredakan kelaparan itu bisa berujung pada kesalahan. Kemudian yang juga menarik adalah sinyal (tanda) lapar dari tubuh, itu bisa “menipu”, karena terkadang yang kita butuhkan adalah air (karena haus) bukan makanan.

Sekarang baru kita masuk ke dalam bahasan “lapar akan Firman”. Orang-orang percaya selalu mengaitkan kata “lapar” dalam Alkitab, dengan frase “lapar akan Firman. Hal ini tidak salah, kalau kita melihat kata Ibrani untuk pengertian “lapar” yang dipakai pada Perjanjian Lama. Kata yang dipakai adalah Ra’ab atau Ra’eb. Selain dapat berarti lapar jasmani, kata yang sama juga bisa dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “lapar akan Firman”.

Saat saya berbicara tentang Firman, apa konsep atau benda yang pertama kali ada di benak kita? Banyak dari kita sampai sekarang secara otomatis langsung berpikir bahwa Firman adalah Alkitab. Dengan demikian “lapar akan Firman” berarti suka membaca Alkitab. Sama seperti orang yang lapar jasmani, yang selalu suka akan makanan.

Tetapi saya ingin Anda melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Pertama tentang “Firman”. Saya rasa Anda sudah sering mendengar tentang ini, bahwa Firman itu sudah menjadi manusia di dalam Yesus. Yohanes 1:14.

Kedua tentang “lapar”. Saya begitu tertarik dengan konsep kekurangan yang satu ini karena seperti yang saya katakan di awal, bahwa ini menjadi penanda kehidupan. Jika kondisi ini dibiarkan bisa terjadi sesuatu yang fatal.

Kalau saya gambarkan sederhana, bahwa rasa lapar mengingatkan kita untuk memberi pasokan/asupan/input pada tubuh supaya tetap bertahan hidup. Ini berlaku baik secara jasmani maupun secara rohani. Pada poin inilah seringkali kita menjadi salah kaprah. Seperti yang pernah dibahas oleh Herold Tadete (staf Gereja), terkadang kita kurang sadar akan kebesaran Tuhan. Kita mengecilkan konsep Firman itu semata-mata kaitannya dengan hal rohani. Firman hanya menjadi fisik ketika kita melihat Alkitab.

Kita lupa bahwa hanya karena Firman lah semua realitas fisik yang bisa kita lihat sekarang itu jadi. Coba lihat kembali Kejadian 1, semua yang bisa kita lihat dimulai dengan kata “berfirmanlah”. Bahkan tubuh jasmani kita juga adalah hasil bentukan Firman. Kejadian 1:26-27. Kita salah besar kalau berpikir bahwa Firman hanya berkaitan dengan hidup rohani kita saja, karena FIRMAN itu adalah PRIBADI yang membentuk kita.

Ketika kita mengotakkan bahwa Firman hanya berguna untuk hidup rohani saja, itu sama seperti seorang anak yang berpikir orang tuanya hanyalah sosok pemberi uang saja! Untuk anak seperti itu, memang perlu disadarkan dengan kasih karunia (dalam angka Alkitab dilambangkan dengan angka 5).

Apa yang saya ingin tegaskan adalah, Firman itu tidak muncul hanya untuk kehidupan rohani kita. DIA ada sejak dari mulanya, membentuk kita dari debu tanah.

Baru kemudian kita lihat di Kejadian 2:7 Tuhan Allah/Yehovah Elohim, menghembuskan RohNYA yang menjadikan kita hidup (sebagai mahluk rohani, jauh lebih mulia dari ciptaan yang lain).

Sampai disini saya berharap Anda mengerti konsep ini, bahwa Firman itu adalah pribadi. Karena itu kita perlu membangun hubungan dengan DIA sebagai pribadi. Ingat, kita lebih butuh DIA daripada DIA membutuhkan kita.

Analogi yang Yesus sampaikan dalam Yohanes 15 begitu menginspirasi. Kita ini “sama seperti ranting (yang) tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri”. Ayat 4. Dalam perikop tentang “Pokok anggur yang benar” ini ada 2 kali kata Firman disebutkan, di ayat 3 tentang bagaimana Firman itu membersihkan kita. Kemudian di ayat 7 tentang bagaimana Firman itu tinggal di dalam kita, untuk memberikan apa yang kita kehendaki (tentu saja yang sesuai dengan kehendak Illahi).

Sehingga kita lihat betapa pentingnya untuk terhubung dengan DIA. Hubungannya dengan lapar? Tentu saja ranting itu mendapat asupan dari pokoknya. Saya tidak pernah mendengar tumbuhan mengerang karena lapar. Tetapi ini yang saya tahu, ia terus menerus “lapar” akan asupan dari pokok itu, karena ia tahu disaat ia terlepas dari pokok itu, ia binasa.

Lapar yang seperti ini yang saya rasa menggambarkan “ra’ab” (istilah Ibrani yang saya bahas di awal penjelasan), yaitu kelaparan yang harus dipenuhi dengan terhubung kepada sumber. Apakah Anda “lapar” akan DIA? Ini adalah penanda kehidupan kita dalam mengiring Kristus. Berapa banyak kali lutut dan tangan kita terlipat, tetapi sebenarnya kita tidak benar-benar “lapar” akan PribadiNYA.

Saya tahu kita adalah manusia yang penuh kelemahan. Tetapi Paulus memberi pengertian dalam Roma 8:26 bahwa Roh Allah yang ada pada kita membantu kita dalam kelemahan manusiawi kita. Saya tidak sedang berdiri untuk menghakimi Anda yang tidak bisa fokus saat berdoa, atau mungkin kesulitan untuk melawan kantuk. Tetapi saat Anda mengambil sikap sebagai pribadi yang lapar akan DIA, Anda tidak akan berhenti membutuhkan DIA. Lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, aku butuh PribadiMU.

GodblesS

JEFF

Bertumbuh Jadi Baru

Sepanjang tahun ini Gembala kita mengambil tema “Bertumbuh” untuk GPdI Mahanaim Tegal. Suatu tema yang menantang di satu sisi, karena kita diharapkan untuk menunjukkan pertumbuhan, menjadi lebih besar. lebih matang, dan tentu saja salah satu karakteristik pertumbuhan yang sehat adalah berbuah!

Ketika menyiapkan apa yang akan saya sampaikan ke jemaat hari ini, yang terpikir di benak saya ada 2 hal. Pertama, tentu saja tentang pertumbuhan, namun yang kedua saya rasa juga tak kalah penting yaitu pembaruan. Keduanya kemudian menjadi fusi, dan lahirlah judul: “Bertumbuh Jadi Baru”.

Mengenai kedua hal ini saya rasa kita sudah sangat familiar. Pertumbuhan adalah perubahan dari kecil menjadi besar. Pembaruan adalah perubahan dari lama menjadi baru. Sederhana saja! Saya rasa definisi singkat barusan bisa membantu kita untuk membedakan keduanya.

Dalam Firman Tuhan sendiri jelas sekali Yesus meminta kita bertumbuh dan berbuah, seperti misalnya dalam perumpamaan di Lukas 13:6-9. Secara singkat, itu bercerita tentang pohon ara yang tumbuh di kebun anggur dari seorang pemilik kebun. Ketika ia mencari buah dari pohon itu, dia tidak menemukannya. Dia segera memerintahkan kepada pengurus kebun itu untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun itu menahan niat pemilik kebun ini, dengan berkata: “…biarkanlah dia tumbuh…, mungkin tahun depan ia berbuah…” (ayat 8-9).

Ada banyak interpretasi mengenai siapa pemilik kebun, siapa pengurus kebun, siapa yang dimaksud dengan kebun anggur, dan siapa yang dimaksud dengan pohon ara. Tetapi satu hal yang sangat jelas disitu adalah:

  1. Ada waktu dimana buah itu menjadi patokan penilaian.

Kita semua memiliki modal dalam hidup ini, waktu, tenaga, kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh apa yang kita miliki ini menjadi penilaian apakah kita berbuah atau tidak. Yohanes pembaptis pernah dengan keras menegur orang Farisi dan Saduki yang dating untuk dibaptis dengan perkataan: “…hasilkanlah buah yang sesuai…” Matius 3:9.

 

Sudahkah waktu, tenaga, kesehatan kita, kita gunakan untuk menghasilkan sesuatu bagi Tuhan. Anda mungkin berkata saya secara rutin membawa persembahan. Apakah Tuhan mau uang milik kita? Itu semua pada dasarnya milikNYA, karena IA pemilik segala sesuatu. Mazmur 95:4-5.

 

  1. Ketika pertumbuhan berarti kesempatan baru.

Ketika pengurus kebun berkata “…biarkanlah dia tumbuh…” itu bukan berarti pohon itu sudah selamat, akan ada masa dimana pemilik kebun itu akan datang untuk memeriksa apakah dari pohon itu dihasilkan buah. Banyak orang merasa kesempatan itu selalu ada, saya rasa kalau kita belajar dari apa yang disampaikan Gembala tentang Jemaat Filadelfia, pada Ibadah Raya minggu lalu, kita mengerti. Ada pintu atau jendela kesempatan yang akan ditutup. Jika kita hidup sekarang itu bukan karena Allah lalai, tetapi karena DIA memberi kesempatan untuk bertobat. 2Petrus 3:9.

 

Kita masih punya kesempatan sekarang untuk berbuah. Salah satu buah Roh di dalam Galatia 5:22 adalah kebaikan. Ini kesempatan kita, kesempatan untuk berbuat baik. Galatia 6:9-10.

Mengenai sesuatu yang baru, banyak orang berpikir itu artinya sama sekali baru. Tetapi dari perspektif pertumbuhan, saya melihat begini: sesuatu yang baru itu muncul saat yang lama bertumbuh jadi baru. Lihatlah pertumbuhan sebuah pohon, ketika ia bertunas dan masih kecil, orang tidak menghiraukannya. Tetapi jika selang beberapa waktu dan orang melihat batangnya yang besar, rantingnya, daunnya dan buahnya, bisa jadi mereka berkata bahwa itu pohon baru. Padahal sebenarnya itu adalah tunas pohon yang sama. Tetapi sekarang ia menjadi besar. karena ada pertumbuhan, ada sesuatu yang baru, yang menjadi nampak.

Anda mungkin berpikir saya sudah terlambat untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Tapi tahukah kita bahwa Allah kita adalah Allah dari segala sesuatu yang baru. Wahyu 21:5. Bagi saya karya salib adalah kesempatan baru, dan kita selalu bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang baru, ketika kita percaya pada salib itu. Pada suatu malam Allah memberikan kepada saya suatu gambaran jelas mengenai hal ini. IA menyediakan kesempatan baru bagi saya, dan tentu bagi Anda juga.

 

GodblesS

JEFF

Apakah Kita Sudah Sampai Disana?

Kita sudah merayakan Paskah, yang sebenarnya menjadi dasar dari keyakinan Kristen kita. Anda pasti masih ingat dengan ayat di Roma 10:9, bukan? Bahkan Paulus juga dalam pembelaannya di hadapan Agripa menyebutkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang menjadi inti berita dari Paulus sebagai rasul Kristus, dan bahkan nabi-nabi sebelum dia. Kisah Para Rasul 26:22-23. Tetapi apakah Paskah adalah puncak dari kekristenan kita? Apakah kita sudah sampai disana? Keberhasilan seorang Kristen adalah saat ia percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus?

Mengenai hitungan waktu kita mengenal hari, bulan dan tahun. Dalam perjalanan kekristenan kita kalau ibarat seorang pelari, kita ini sudah di ujung sebelum Hari Kedatangan Tuhan kali yang kedua. Tentu saja kita tidak mau kalah sebelum finis. Seorang pelari malahan mempercepat geraknya saat akan finis!

Menariknya di Alkitab kita diibaratkan pelari. 1Korintus 9:24. Dalam ayat ini Paulus menjelaskan mengenai suatu gelanggang pertandingan, dan dikatakan semua berlari. Kita semua ada dalam pertandingan.

Karena kita ada dalam satu gelanggang yang sama, kita ada dalam kondisi yang sama. Track-nya sama, jarak tempuhnya sama, dan tujuannya sama. Hanya saja sering kali kita saling membandingkan. Ah dia kan dari keluarga pelari, ah dia kan pakai sepatu terbaru, ah dia kan gen pemenang. Baca ini: Roma 8:37.

“Yang terpenting dari sebuah kesuksesan besar adalah kesuksesan kecil yang berulang.”

Maksudnya apa, kita tidak bisa berharap langsung menerima kemenangan besar. Namun kita harus bisa memenangkan serentetan kemenangan-kemenangan kecil. Yosua 12:7-24. Jadi dibandingkan engkau melihat apa yang belum engkau dapat (yang biasanya bikin engkau frustrasi), kenapa engkau tidak melihat apa yang sudah Tuhan letakkan dibawah kakimu (maksudnya apa yang sudah engkau menangkan). ARE YOU THERE YET? Not yet, but I will be there.

Ada cerita inspirasi yang mungkin bisa jadi kesaksian. Yang pertama kisah nyata, yang kedua kisah dari Alkitab. Dua-duanya namanya sama. Yes, you’re right ini bukan tentang Jeff. Tapi tentang orang yang paling dekat dengan saya. Namanya: “Joseph”. Joseph Sudana Minandar. Beliau memiliki latar belakang yang sederhana, kalau tidak salah hanya lulusan SMA. Tinggal di daerah sederhana, tetapi sekarang menjadi seseorang yang kalau tidak kenal dekat

dengan beliau pasti biasa aja, tapi bagi saya Luar biasa. Ada 2 titik dalam hidup yang bagi saya menentukan dimana beliau sekarang. Pertama ketika berusia 32 tahun, menjadi pimpinan SAB, dan kedua, di tahun 2004 ketika memutuskan meninggalkan Tegal atau meneruskannya.

Joseph yang kedua adalah Joseph Bar Jacob. Yusuf bin Yakub. Dalam Kejadian 39:2. Kita belajar mengenai bagaimana standar kesuksesan itu didefinisikan ulang. Ini yang saya rindu saat kita datang bukan sekedar beribadah, tapi mengalami revolusi mental. Perubahan pikiran, metanoia. Sehingga engkau bisa introspeksi, dan menata hidupmu ke depan dengan lebih baik lagi. Are we there yet? Not yet, but with God, I will be there.

PRAISE & WORSHIP NIGHT

Disepanjang bulan Maret, HOFers diajar mengenai ketaatan.

  • Apa yang diperlukan untuk taat?
  • Apa yang ditunjukkan oleh seseorang yang taat?
  • Bagaimana menjadi seorang yang taat?

Malam hari ini seharusnya saya berbicara tentang: DISIPLIN. Tetapi kemudian Ketua Youth mengatakan kepada saya bahwa hari ini adalah Malam Pujian & Penyembahan. Kebetulan juga diadakan di hari Sabtu dimana ada rangkaian Ibadah Paskah. Kemarin, hari Jumat, kita mengenang kematian Yesus, dan besok, hari Minggu, kita merayakan kebangkitanNYA!

Jadi di kepala saya ada 3 pemikiran, yaitu tentang: Disiplin, Paskah dan Pujian-Penyembahan. Menariknya 3 hal tersebut saling terkait! Mari ikuti penjelasan saya:

DISIPLIN

Disiplin itu datang dari ketaatan. Jika Anda bermasalah dengan disiplin diri, ada kemungkinan besar Anda sebenarnya juga bergumul dengan ketaatan. Mengenai ketaatan, Yesus memberi teladan sempurna tentang ketaatan penuh (sampai di kayu salib). Filipi 2:5-8. Kita juga belajar apa yang kemudian menjadi konsekuensi positif dari ketaatan. Filipi 2:9-11.

PASKAH

Pada saat peringatan kematian Yesus, Bapak Gembala menjelaskan tentang bagaimana ketaatan Yesus adalah penggenapan dari Paskah yang dirayakan dalam Perjanjian Lama. 1Korintus 5:7. Yesus melakukan ini semua untuk menutupi: (Yesaya 53:4-5)

  • Dosa kita
  • Kesengsaraan kita
  • Pemberontakan kita
  • Kejahatan kita

Kita membutuhkan IA, lebih dari DIA membutuhkan kita, tetapi tetap IA yang berkorban bagi kita.

  • DIA-lah gunung batu kita. Mazmur 18:32
  • DIA-lah sumber air hidup kita. Yohanes 4:14

DIA BEGITU BAIK. Oleh darahNYA:

  • Belenggu kita telah dipatahkan.
  • Kutuk dan maut juga telah dikalahkan.

Sehingga dengan penuh percaya diri kita bisa berkata dari 1Korintus 15:55!

PRAISE & WORSHIP

Pujian & Penyembahan adalah suatu respon dari sesuatu yang ditunjukkan pada kita. Kalau kita “out-of-topic” sebentar dari “pujian & penyembahan” sebagai istilah gerejawi. Kita menemukan bahwa seseorang akan memuji sesuatu atau seseorang karena prestasinya dan keindahannya. Kembali kepada Yesus:

  • Dia adalah Raja yang Hebat. Lukas 1:32.
  • DIA menyinarkan kemuliaan dan memiliki kuasa atas segalanya. Ibrani 1:3-4.

Kemudian kita menyembah, karena IA memiliki hal-hal yang diluar kemampuan kita, demikian kita juga menyembah karena kita tunduk (taat) padaNYA, dan kita sadar akan kemahakuasaan-NYA.

Ketika kita menyadari semua ini, kita bisa serahkan hidup kita sepenuhnya. Apakah ini memungkinkan? Sangat mungkin dengan Roh Kudus dalam kita. Roh Kudus akan beri damai bagi kita. Markus 13:10-11.

MASA PERSIAPAN

Saya rasa semua dari kita setuju bahwa untuk segala sesuatu kita butuh persiapan. Persiapan adalah suatu hal yang penting, bahkan krusial untuk sesuatu bisa berjalan dengan baik.

  • Orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan dengan memberi pendidikan yang baik.
  • Anak-anak muda mempersiapkan dirinya untuk masuk ke tingkatan yang lebih tinggi, dengan belajar, mengikuti pelatihan dan kelas-kelas khusus.
  • Lansia juga saya rasa, mempersiapkan diri bagaimana bisa mengakhiri “pertandingan” dengan baik, dan juga mewariskan hal-hal yang baik untuk generasi berikut.

Dalam dunia manajemen dikenal istilah POAC yang merupakan singkatan dari Planning (Persiapan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan), Controlling (Pengontrolan). Ini adalah tahapan dari pengelolaan organisasi. Demikian pentingnya persiapan sampai ada sebuah kutipan yang terkenal “By failing to prepare, then you are preparing to fail.”

Saya berharap ini kemudian menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Tentu saja “persiapan yang baik” yang saya maksud bukan kemudian menjadi alasan untuk kita menunda-nunda segala sesuatu dengan dalih “persiapan”. Ada satu ayat di Pengkhotbah 11:4-6 yang sebenarnya bisa mengajar kita untuk mulai bertindak, tentunya setelah melewati persiapan yang tidak bertele-tele.

Tentu saja rentang waktu persiapan dan juga apa saja yang harus dipersiapkan adalah dua hal yang harus diperhatikan juga. Karena bayangkan kalau waktunya tidak terbatas, maka bisa jadi kita kehilangan ketertarikan (interest) terhadap apa yang kita lakukan. Demikian juga jika kita tidak mengerti apa saja yang harus dipersiapkan maka kita akan merasa bingung, dan bisa jadi merasa kesia-siaan saja mempersiapkan sesuatu yang tidak jelas.

 

Inilah yang saya harapkan dapat kemudian menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani hidup ini, karena sebenarnya kita semua sedang hidup di masa persiapan! Persiapan apa? Menanti kedatangan Yesus kali kedua. Kemarin ada anak-anak SMA yang datang ke Kantor Gereja untuk menanyakan tentang perumpamaan yang Yesus sampaikan tentang Akhir Zaman (yang benar ternyata “Z” bukan “J”, silakan tanya Google kalau tidak percaya). Penjelasan saya yang pertama adalah meluruskan miskonsepsi  tentang “Akhir Zaman”. Saya rasa saya perlu ulangi untuk Anda yang sudah tahu, dan saya perlu beritahu untuk Anda yang belum tahu.

 

Kita percaya kehidupan manusia dibagi ke dalam 3 zaman:

  1. Zaman Bapa (dari Adam sampai dengan Abraham)
  2. Zaman Anak (dari Abraham sampai dengan kedatangan Yesus kali pertama)
  3. Zaman Roh Kudus (dari kedatangan Yesus yang pertama sampai dengan kedatangan Yesus yang kedua)

 

Sehingga kita semua yang hidup di zaman penanggalan Masehi adalah orang-orang Akhir Zaman. Tidak ada yang perlu ditakutkan mengenai itu. Malahan seharusnya kita bersyukur, karena tokoh-tokoh besar dalam Alkitab, yang hidup di Zaman Anak, membicarakan “orang-orang zaman now” ini.

  • Daud, dalam Mazmur 32:1-2. Hal ini dikutip Paulus di Roma 4, dan dijelaskan lebih detail di Roma 8.
  • Yeremia, dalam Yeremia 31:33-34. Suatu kaum Israel “baru”, karena Israel secara harafiah bisa diartikan “kekuatan Allah” (yi-sarah-el).
  • Yesaya, dalam Yesaya 44:3. Tentang curahan air atas tanah kering, yang melambangkan Roh Allah dicurahkan atas manusia.

 

Jadi kita sebagai orang yang lahir di Akhir Zaman, harusnya punya sikap yang gembira, bukannya berkerut dan takut, setiap kali membahas mengenai Akhir Zaman. Apa yang tertulis di Wahyu itu bukan untuk menakut-nakuti kita. Coba baca bagian awalnya di Wahyu 1:1. Ini adalah sesuatu yang memang untuk ditunjukkan kepada kita hamba-hamba Allah. Atau supaya lebih bisa Anda mengerti, ini adalah pemberitahuan seorang kekasih (Roma 9:25) kepada calon pasangannya/tunangannya (2Korintus 11:2). Ini adalah kabar baik seharusnya Anda bersukacita!

 

Tetapi di saat yang sama juga harusnya Anda bersiap. Menarik sekali apa yang pernah disampaikan Ps.Jose Carol tentang Gereja Tuhan. Suatu saat dia berkata demikian, bahwa Gereja Tuhan itu seperti mempelai perempuan yang menantikan mempelai prianya. Apa yang harus dilakukan seseorang yang menantikan pasangannya? Apalagi dia tahu bahwa sebenarnya tidak berlayak untuk mendapat mempelai pria tersebut (lihat @jeffminandar.com, search: “Amazing Love”). Tentu saja mempelai perempuan itu akan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

 

Tentang persiapan, kita bisa melihat perbandingan dari apa yang dilakukan oleh 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana di Matius 25. Mereka yang bodoh merasa cukup, sementara yang bijaksana mereka merasa ada yang kurang saat mereka tidak membawa lebih.

 

Saya harap tabel dibawah ini membantu Anda untuk mengambil keputusan pada Ibadah kita kali ini:

 

MASA PERSIAPAN
DURASI YANG HARUS DISIAPKAN
Bila memahami ini, kita bisa benar-benar mempersiapkan, namun jika tidak tahu rencananya bisa kehilangan semangat.

(Mazmur 90:12, Galatia 6:9)

 

Bila mengerti bisa mempersiapkan dengan lengkap, dengan sempurna, namun kebodohan bisa membuat bingung dan melakukan yang sia-sia.

(Lukas 12:18, Pengkhotbah 5:10, 2Petrus 3:3-4)

Sejarah berkata ini waktu yang lama, namun Alkitab berkata waktunya tidak lama lagi.

(Wahyu 12:12)

 

Persiapkan kesetiaan, komitmen, keseriusan, iman percaya, dan urapan kekudusan (minyak).

(Lukas 19:17, Matius 24:46, Lukas 18:8, Matius 25:4)

Yesus pernah sampaikan ini.

(Matius 24:3-51)

 

Yesus punya ekspektasi yang DIA nyatakan.

(Wahyu 12:14)

 

Apa pilihan kita di masa persiapan ini? Waktu diberikan kepada kita sama, tidak lebih, tidak kurang, pilihannya apakah kita akan “menghabiskan waktu” atau “mengisi waktu” sehingga kita menjadi benar-benar siap.

 

MERAK VS GAGAK

Mungkin Anda semua pernah mendengar kisah tentang Merak dan Gagak. Bagi yang belum pernah mendengarnya, kira-kira kisahnya seperti ini: Alkisah ada seekor gagak yang seluruh bulunya berwarna hitam. Pada suatu hari ketika ia sedang hinggap di sebuah pohon, matanya melihat seekor angsa yang seluruh warna bulunya putih. Dalam hatinya gagak ini berkata, betapa senangnya memiliki bulu seputih itu, tentu saja angsa itu lebih bahagia dari diriku yang hitam ini. Ketika ada kesempatan untuk terbang mendekati angsa itu, gagak itu berkata, betapa bahagianya engkau angsa dengan bulumu yang putih bersih itu.

Namun tanpa disangka angsa itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat kakatua yang memiliki warna putih dan tiga warna cerah lain di bulunya. Gagak pun terbang dan berusaha mencari kakatua yang berwarna-warni. Ketika ia menemukan kakatua itu, ia mengajukan perkataan yang sama, betapa bahagianya kakatua dengan bulu yang berwarna-warni. Kakatua itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat merak yang punya warna lebih banyak dari aku, dan mampu mengembangkan bulu-bulunya dengan begitu indah.

Kakatua terbang kembali dan mencari dimana sang merak berada. Agak sulit mencarinya, tetapi kemudian ia melihat seekor merak, di sebuah kandang, dikelilingi orang-orang yang tanpa henti mengagumi warna-warni tubuhnya. Gagak berkata tentu ini dia yang paling berbahagia. Ketika kesempatan itu tiba, gagak terbang mendekat ke dekat kendang merak itu, dan mengajukan perkataan yang sama seperti ketika ia bertemu angsa dan kakatua. Namun apa jawab merak? Merak menjawab, betul aku senang dengan warna-warni buluku dan perhatian yang diberikan kepadaku, tetapi aku terkurung di kendang ini sepanjang hari. Ketika aku melihat ke sekitarku, hanya burung gagak saja yang bisa terbang bebas, tanpa perlu dimasukkan ke kandang. Aku rasa aku akan lebih bahagia dengan kebebasan seperti itu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, membandingkan adalah suatu “permainan” di pikiran yang menyenangkan, itu tidak selamanya salah, namun saya ingin menekankan satu hal: bahwa menbanding-bandingkan bisa menjerumuskan! Saya akan coba bahas 3 pernyataan ini.

Pertama, membandingkan sesuatu adalah hal yang menyenangkan, bahkan saya rasa hampir semua kita pernah memainkan permainan membandingkan, contohnya permainan membandingkan 2 gambar dan mencari perbedaan. Sepertinya membandingkan itu menjadi respon alamiah kita sebagai manusia. Kita membandingkan ketika ada pergantian presiden, atau kalau di lingkup gereja, kita membandingkan ketika ada pergantian kepala suatu bidang, atau fasilitator, atau koordinator. Atau mungkin ada juga yang membandingkan ketika ada pergantian pasangan? Tentu saja ini untuk yang belum menikah!

Kedua, membandingkan tidak selamanya salah, atau berkonotasi negatif. Saya teringat ada ayat-ayat dimana dengan membandingkan itu berarti:

  • Suatu peringatan atau teguran. Wahyu 2:4.
  • Suatu dorongan untuk memacu kita melakukan sesuatu yang lebih baik. Lukas 21:4, 2Korintus 8:1-7.
  • Suatu pembuktian superioritas (betapa jauh lebih luarbiasanya) Allah. Dikatakan IA lebih dari bapa di dunia (Matius 7:11), lebih dari malaikat (Ibrani 1:5), dan lebih dari Musa (Ibrani 3:3).

Namun ini yang menjadi penekanan saya hari ini, bahwa membandingkan bisa kemudian menjadi menjerumuskan. Seperti di poin pertama, adalah hal yang alamiah ketika manusia membandingkan. Tetapi waspadailah bahwa ada bahaya yang muncul ketika kita membandingkan, karena itu bisa mengakibatkan:

  • IRI HATI, yang kemudian melahirkan kejahatan. Kejadian 4:5-9. Ada kisah-kisah yang kurang lebih sama di Kejadian 37 dan di 1Samuel 18.
  • TIDAK MENGUCAP SYUKUR. Ini adalah sesuatu yang harus kita lawan hari demi hari, tentu saja kita tidak mau mengulangi kisah di Bilangan 11, saat orang Israel membanding-bandingkan (ayat 4-6) dan akhirnya menjadi rakus, lalu terkena murka Allah (ayat 33).
  • MENJADI RAKUS, TAMAK, yang pada akhirnya seperti poin “Iri Hati” akan menimbulkan kejahatan yang lain lagi. Rakus akan kepemilikan membuat Ahab, dengan bantuan Izebel, menyingkirkan Nabot. 1Raja-raja 21. Rakus akan kekayaan membuat Ananias dan Safira bersepakat untuk menipu. Kisah Para Rasul 5. Karena cinta akan uang tidak akan memberi kepuasan (Pengkhotbah 5:10), malahan menjadi akar segala kejahatan (1Timotius 6:10). Saya karena hal ini (kerakusan, ketamakan), kemudian perjudian menjadi masalah besar.

Saya akan kehabisan waktu untuk bicara tentang membandingkan dalam hal tahta dan cinta, yang juga akan membawa kepada “berbagai-bagai duka”. Mungkin 3 hal ini yang ingin saya ingatkan kepada Anda:

  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan HARTA, Anda dengan orang lain, ingatlah harta di Surga. Matius 6:20.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan TAHTA, Anda dengan orang lain, ingatlah seorang pemimpin adalah pelayan. Lukas 22:26.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan CINTA, Anda dengan orang lain, ingatlah bahwa hendaknya kita hidup kudus dan terhormat. 1Tesalonika 4:3-5.

STRONGER

Ini adalah tema Pemuda untuk 2018 dan juga selaras dengan tema GPdI Tiberias Pare: Never Give Up. Kalau Anda membaca ayat referensi untuk tema kita, dalam terjemahan Bahasa Inggris dituliskan “be strong”, kalau Anda suka belajar Bahasa, dalam Bahasa aslinya dipakai kata “chazaq” yang dalam Bahasa Inggris bisa diterjemahkan: to strengthen, prevail, to be firm. Tiga pengertian ini mewakili karakter dari seseorang yang kuat. Menariknya ini juga adalah resep untuk kesuksesan.

“When somene becomes stronger, he/she has more chance of success.”

Coba saja lihat, beberapa contohnya, di sepakbola, kalau ada tim yang memiliki pertahanan yang kuat (sebut saja catenaccio) maka mereka menjadi tim yang lebih kuat. Atau jika suatu tim sepakbola memiliki penyerangan yang lebih kuat/mendominasi (sebut saja tiki-taka) maka mereka menjadi lebih kuat, dan membawa pada kesuksesan. Hal yang sama dalam perusahaan, modal yang kuat, manajemen yang kuat, membuat suatu perusahaan lebih kuat dan lebih sukses. Contoh terakhir dalam hidup, orang yang punya karakter/kepribadian kuat, yang punya iman/percaya lebih kuat, menunjukkan kemungkinan sukses lebih besar.

Karena ini adalah perayaan Natal dan Tahun Baru, tentu saya ingin Anda juga mengingat Kisah Natal, dimana ada pribadi-pribadi yang kuat membawa kesuksesan dalam perjalanan hidup mereka.

  1. Para Majus. Matius 2:2, 10-11, 16.
  2. Mereka datang jauh dari timur.
  3. Datang sampai Yesus sudah tinggal di rumah.
  4. Sepulang mereka dari tanah Israel terjadi pembunuhan anak-anak usia 2 tahun ke bawah.

Sehingga kita bisa memberi estimasi bahwa setidaknya mereka menghabiskan 2 tahun atau lebih dalam perjalanan, yang membawa kepada keberhasilan dan sukacita.

  1. Orang tua Yesus. Matius 1:24-25, Lukas 1:38.
  2. Yusuf harus menentang perasaannya dan mengambil keputusan besar.
  3. Yusuf harus menahan dirinya sesudah pernikahan.
  4. Maria merendahkan dirinya dan menempatkan diri sebagai hamba.
  5. Demikian mereka mengambil resiko yang besar.

Keduanya menjadi bagian dari sejarah besar bagi dunia, kedatangan Juruselamat!

Jika kita kembali ke kisah Yosua, ia diberitahu oleh Allah untuk menjadi kuat dan teguh hati sebanyak 3 kali dalam 4 ayat yang berurutan. Sehingga kita bisa mulai merenungkan, kalau Tuhan sampai seperti itu memberi Firman kepada Yosua, tentu saja itu adalah kebenaran! 2Samuel 7:28.

Apa yang dialami Yosua (dalam Yosua pasal 1) bisa menjadi pelajaran bagi kita di tahun yang baru ini.

–          Dalam waktu kehilangan/kesusahan (ayat 2), engkau harus menjadi lebih kuat, maksudnya dengan tidak mudah putus asa, atau menjadi tawar hati (ayat 9).

–          Dalam waktu dimana kita menghadapi target yang besar (ayat 4), kita harus menjadi lebih kuat, maksudnya adalah dengan tetap hidup lurus dan berkenan. Bagaimana caranya? Kontrol (cek/ricek) apa yang kita lakukan (ayat 7) dan terus taruh pedoman hidup berkenan itu di pikIran kita (ayat 8).

–          Dalam waktu dimana kita mengetahui atau mendapat janji (untuk kepemilikan seperti di ayat 3 atau kemenangan seperti di ayat 5), kita harus menjadi lebih kuat, dengan memimpin diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk berkomitmen (disiplin, ayat 6).

BAHASA KASIH YESUS

1Korintus 13:13. Ayat ini akan menjadi dasar pemahaman bahwa kasih punya kekuatan yang sungguh luar biasa, dan karena pendahuluan saya akan panjang, maka saya beri ayat dasar ini terlebih dahulu.

Kasih adalah suatu kata yang tidak akan habis dibahas sampai kapan pun. Kita banyak mendefinisikan kasih, dan bahkan setiap orang di tempat ini, masing-masing dari Anda pasti memiliki definisi kasih tersendiri. “Kasih itu berarti uang” mungkin beberapa dari Anda berpikir seperti itu, karena setiap ekspresi kasih membutuhkan uang, baik ketika Anda sendiri, maupun berkeluarga. “Kasih itu berarti perasaan” mungkin juga ada beberapa dari Anda berpikir demikian, karena tidak mungkin kalau tidak ada “rasa di dalam dada” kemudian kita mengasihi.

Orangtua bisa mendefinisikan kasih dari seorang anak adalah ketika anaknya berprestasi, kemudian anaknya itu merawat mereka di masa tuanya. Sementara seorang anak bisa saja mendefinisikan kasih sebagai pemenuhan biaya kehidupan orang tuanya saja. Atau bentuk hubungan yang lain, yaitu pada hubungan antara suami-dengan-istri di rumah tangga. Seorang suami mungkin mendefinisikan kasihnya dengan 2 kata: menikahi dan menafkahi. Tetapi seorang istri membutuhkan sentuhan lahir dan batin!  Saya tidak sedang menghakimi mengenai mana yang benar atau salah disini. Tetapi menarik bahwa ada banyak cara “membahasakan” atau mengungkapkan kasih itu, dari sekedar konsep, menjadi tindakan nyata.

Ada seorang penulis buku (Gary Chapman) yang mengungkapkan bahwa sebenarnya bahasa kasih itu bisa diungkapkan melalui 5 jenis tindakan. Menariknya pula setiap orang punya kecenderungan lebih kuat ke satu atau dua jenis bahasa kasih tersebut. Berikut jenis-jenisnya:

  1. Tindakan melayani.
  2. ‎Kata-kata peneguhan.
  3. ‎Sentuhan.
  4. ‎Waktu berkualitas.
  5. ‎Pemberian.

 

Seseorang bisa saja mengharapkan jenis 1 & 2 tetapi yang ia dapatkan hanyalah jenis 5. Atau seseorang lain melakukan 2&3 dan ia berpikir ia sudah mengasihi pasangannya yang menunjukkan kasih dengan jenis 1&4. Ekspektasi terhadap seseorang bisa membuat Anda terpuaskan atau kecewa. Tetapi kalaupun orang yang Anda kasihi tidak mengerti bahasa kasih yang Anda harapkan itu bukan akhir dunia. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  1. Utarakan keinginan Anda.
  2. ‎Ingatkan, tetapi tidak berlebihan.
  3. ‎Tanyakan/temukan bahasa kasih orang yang Anda kasihi.
  4. ‎Usahakan untuk memberi bahasa kasih yang diharapkan.
  5. ‎Berdoa untuk perubahan.

 

Kelima Bahasa kasih ini begitu menarik, tetapi sebenarnya ini bukanlah teori baru, karena Yesus sudah mempraktekkannya ribuan tahun yang lalu. Gary Chapman sendiri adalah seorang pendeta di salah satu gereja baptis yang berlokasi di North Carolina, Amerika Serikat.

Mari saya tunjukkan ayat-ayatnya:

  1. Tindakan melayani.

Yohanes 13:1b, 4. Yesus melayani dengan kesadaran penuh bahwa IA “lebih” dari semua murid-muridNYA. Pada kenyataanNYA, DIA lah pemegang kuasa di bumi dan di Surga, tetapi IA memilih untuk melayani. Anda hanya bisa disebut pelayan sejati ketika Anda sebenarnya punya “kuasa” untuk tidak melakukannya, tetapi Anda tetap melakukannya karena kerinduan untuk menunjukkan kasih. Galatia 2:20.

 

  1. ‎Kata-kata peneguhan.

Matius 28:20. Yesus tidak pernah meninggalkan kita, bahkan IA berjanji akan menyertai kita senantiasa, dan itu dinyatakanNYA dalam banyak kesempatan. Kita tahu “janji penyertaan” itu adalah pribadi Roh Kudus yang akan selalu ada, sampai akhir nanti kita bersekutu dengan Yesus dalam kekekalan. Saya tergoda untuk menjelaskan ayat-ayat mengenai janji kekekalan (misalnya: Wahyu 22:3-5), tetapi mengingat waktu, saya tidak akan lakukan hal itu. Tetapi ingatlah sepanjang Perjanjian Lama Allah juga selalu meneguhkan umatNYA dengan kata-kata: “AKU menyertai kamu,” atau, “AKU tidak akan meninggalkan kamu,” atau frase yang terkenal: “Jangan takut!” (Kejadian 26:3, Ulangan 4:31, Yesaya 41:10).

 

  1. ‎Sentuhan.

Markus 10:16. Yesus dengan kasihNYA yang besar memeluk dan memberkati anak-anak yang datang kepadaNYA. Alkitab tidak mencatat bahwa Yesus memiliki kekasih atau pun pernah masuk dalam jenjang pernikahan kemudian memiliki anak. Tetapi ini tidak menghalangiNYA untuk menunjukkan kasih dengan sentuhan pribadi. IA pun membiarkan salah satu muridNYA, Yohanes, untuk menyentuh diriNYA dan menunjukkan kasih melalui bersentuhan. Yohanes 13:23.

 

  1. ‎Waktu berkualitas.

Markus 6:31. Yesus mengambil waktu untuk beristirahat dan berbincang bersama dengan murid-muridNYA. Fokus Yesus supaya murid-muridNYA belajar sebanyak mungkin dari 3,5 tahun kebersamaanNYA dengan mereka, membuat hal ini (maksudnya waktu Yesus berbincang pribadi dengan murid-muridNYA), tentu terjadi berulangkali dan kita tahu tidak semua tertulis dalam Injil. Yohanes 21:25.

 

  1. ‎Pemberian.

Lukas 9:13. Bercerita tentang bagaimana Yesus menunjukkan kasihNYA dengan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kisah di Lukas melibatkan 5000 orang laki-laki, ada kisah yang hampir sama di Markus 8:2-3, namun melibatkan 4000 orang laki-laki. Pada kisah di Markus dituliskan bahwa, “Yesus tergerak oleh belas kasihan”.

 

Saya akan menutup penyampaian saya ini dengan sebuah kisah dari Yohanes 11. Ini adalah salah satu kisah klasik dalam Alkitab yang saya yakin Anda, yang dibesarkan dalam lingkungan “Sekolah Minggu”, sudah mendengarnya sejak masih kecil. Secara singkat kisahnya adalah mengenai Keluarga di Betania, yaitu Keluarga yang dekat dengan Yesus. Ini dibuktikan dengan singgahnya Yesus ke rumah mereka untuk memuridkan mereka dengan pengajaran-pengajaran. Kalau Anda penasaran segera saja buka Lukas 10:38-42. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bagaimana Keluarga ini meminta Yesus untuk datang dan melawat Lazarus adik laki-laki mereka.

 

Dalam Yohanes 11:3 mereka meminta Yesus untuk datang karena “…dia, yang Engkau kasihi, sakit.” Ketika saya membaca kalimat ini, saya berpikir, mereka benar-benar punya ekspektasi besar untuk Yesus segera datang, karena mereka berpikir, bahwa Yesus pasti ingin membuktikan kasihNYA yang besar terhadap Keluarga ini secara umum, atau Lazarus secara khusus. Tetapi sama seperti kisah-kisah dalam Injil yang lain, Yesus menunjukkan keillahianNYA, dan kita tahu cara pikir Tuhan tidak terjangkau oleh cara pikir manusia. Mazmur 139:17.

 

Apakah Yesus mengasihi Maria, Marta, dan Lazarus? Saya tidak meragukannya. Tetapi Bahasa kasih yang Tuhan tunjukkan kepada mereka berbeda, dengan tujuan yang berbeda. Yohanes 11:4. Bukankah seringkali kita mengharapkan Allah menunjukkan kasihNYA kepada kita dengan cara pikir kita sendiri. Terkadang kita marah dengan tekanan, kesulitan, dan pengalaman di lembah. Mazmur 23:4-5. Padahal disitu IA sedang membisikkan kalimat yang indah: “Aku mengasihimu anakku”.

 

GodblesS

JEFF