Muliakanlah DIA.

Saya percaya kita hidup untuk satu tujuan yaitu memuliakan nama Tuhan. Karena itu kita berkumpul hari ini di Rumah Tuhan untuk maksud yang sama kita percaya kita memuliakan nama Tuhan dengan:

  • Memberikan waktu untuk beribadah.
  • Berusaha dengan harta dan usaha untuk beribadah.
  • Memuji dan menyembah Tuhan.
  • Mempersembahkan korban persembahan yaitu sebagian uang kita.
  • Berdoa di dalam nama Yesus.
  • Duduk dan mendengarkan Firman Tuhan.
  • Terlibat dalam pelayanan gerejawi.

 

Saya rasa inilah konsep kita bersama mengenai MEMULIAKAN NAMA TUHAN, bukan? Mari kita bahas satu-per-satu:

 

  1. Memberikan Waktu.

Kalau  secara umum kita pasti pernah mendengar “time is money” secara literal dalam bahasa Indonesia berarti “waktu adalah uang”. Pendapat ini sebenarnya jauh di karya klasik Yunani yang menyebut mengenai berharganya waktu. Namun menjadi terkenal karena frase “time is money” disebutkan Benjamin Franklin untuk menegur orang yang hanya bekerja setengah hari, dan kemudian bermalas-malasan. Meskipun dia tidak membuang banyak uang dengan bermalas-malasan, tetapi sebenarnya dia membuang “kesempatan” mendapat gaji sehari penuh.

 

Ini nampaknya sesuatu yang normal. Kita semua butuh uang. Namun Daud seorang yang betul-betul mengenal pahit-getir hidup berkata sebaliknya. Mazmur 84:11. Lebih baik di pelataran Tuhan, maksudnya di Rumah Tuhan, di hadirat Tuhan. Jika ini yang menjadi motivasi Anda. Berarti Anda sudah menempatkan Allah sebagai sesuatu yang BERHARGA. Anda memuliakan Tuhan dengan penggunaan waktu Anda.

 

  1. Berusaha untuk beribadah.

Di dalam Alkitab berulang kali disebutkan mengenai pembangunan mezbah dan pembangunan Rumah Tuhan yang identik dengan Ibadah itu sendiri. Saat Nuh mendapat kasih karunia Allah, disitu ia membangun mezbah dan beribadah(Kejadian 8:20). Saat Abram  mendengar janji Tuhan maka didirikannya mezbah dan beribadah (Kejadian 12:7). Selalu ada usaha untuk beribadah, bahkan Paulus meletakkan posisi ibadah lebih tinggi dari “latihan badani” (1 Timotius 4:8).

 

  1. Pujian dan Penyembahan

Setiap kali pujian dinaikkan dan penyembahan terangkat disitu kemuliaan Tuhan turun. Tuhan bersemayam diatas pujian orang-orang yang percaya. (Mazmur 22:4). Pujian dan penyembahan ini bukan suatu liturgi tetapi adalah gaya hidup. Dengan pujian dan penyembahan Anda melayani Tuhan dan melayani manusia disaat yang sama. Ini bukan keharusan melainkan kesempatan. Ingatlah tiga hal ini:

  • Pujian dan penyembahan adalah untuk (kebaikan) manusia bukan sebaliknya. (Markus 2:27).
  • Pujian dan penyembahan menyambut kuasa Kerajaan Allah. (Ulangan 31:19).
  • Pujian dan penyembahan adalah kunci untuk penginjilan. (Kisah Para Rasul 16:25).

 

  1. Mempersembahkan korban persembahan.

Karena kekayaan kita dapat menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan (Amsal 3:9). Daud pun melakukan hal yang sama dengan Bait Allah yang akan dibangun anaknya (1 Tawarikh 22:5).

 

  1. Berdoa.

Ketika Yesus berdoa di depan kubur Lazarus, apa yang dikatakannya didengar oleh orang disekitarnya “Yesus mengatakannya supaya mereka percaya.” (Yohanes 11:41-42, Ibrani 13:15).

 

  1. Mendengarkan Firman Tuhan.

Maria mengambil bagian dalam “istirahat” dihadapan Tuhan, seringkali kita berusaha untuk menjadi sibuk dan melupakan bahwa Allah yang bekerja didalam kita (Lukas 10:41-42, Matius 11:28).

 

  1. Melayani.

Ini menjadi konsekuensi unik ketika kita sudah begitu mendapat limpah Kasih pelayanan menjadi respon untuk itu. (Yohanes 12:3).

Advertisements

Different Perspective


All of us have different ways to see and perceive something caught by our senses. Talking about perspective, I always remember the story of Job. He has 3 friends that come over to show their sympathy upon hearing a string of bad luck happened to him. I mean now we know that those “bad luck” caused by the satan.

But let turn our focus to one of the conversations between Job and Eliphaz in Job 5. Eliphaz think that it is impossible for someone endure suffering without precede by a sin or wrongdoing. That is why at verse 1 he confronts Job, for who would be defending him.

Then in verse 2 to 7 Eliphaz saw that there is a tight causal effect between an evil act and punishment. Man could cause his own suffering. I am not in position to deny that view, even that statement is not completely a false statement.

Let’s turn to James 4:1-2 in which James explains that problems and conflicts arise from man’s desire. In more detail he writes: “…because you do not ask (pray to) God.” (NIV)

Because Eliphaz sees from different perspective, or you may say different point of view. He didn’t fully understand what happened to Job in an awful calamity. Many of you have known this saying, that different perspective produces different response.

The book of Job is an interesting piece of work. I mean it considered as a stellar work of ancient literature. But I want you to see Job’s story as a way of God telling man that: YOU KNOW NOTHING!

Psalmist once wrote a similar big story-line with Job’s story. Check Psalms 73:12-14 and look for yourself, if you can find that similarity. And if you move further to verse 17, this is what our theme talking about, it wrote “…till I entered the sanctuary of God; then I understood their final destiny.” (NIV)

What kind of experience that you have? Jesus the Savior of the world oftentimes misunderstood by many of His followers because they see things differently. And as the sermon at Good Friday Service, we have heard that many people questioned His choice to suffer and die. Certainly, you can’t understand that if you put your human common sense.

As you know, His love is extraordinary, the extravagant love, the “so love” kind of love. You can only see His view if you enter His sanctuary and put God’s “glasses” on you. Your perspective will determine your response.

AYAH

Puji Tuhan, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Ayat-ayat ini beberapa kali dikutip oleh Hamba Tuhan di awal penyampaian Firman:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Tetapi hari ini saya ingin membuka penyampaian Firman dengan mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja Tuhan, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Ketika seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya, itu adalah sesuatu yang spesial. Saya percaya ini relevan bagi Anda yang belum, akan, dan sudah menikah. Termasuk juga bagi mereka yang belum, akan dan sudah memiliki anak. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

 

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

 

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

 

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

 

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

 

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

 

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 

GodblesS

JEFF

 

Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati

Mari kita baca Matius 10:16. Ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang perlu perenungan sebelum memahaminya. Sebenarnya ada apa dibalik perumpamaan yang disampaikan Yesus? Setidaknya ada 3 hal ini:

  1. Perumpamaan berisi rahasia Kerajaan Surga. Matius 13:11.
  2. Perumpamaan dimaksudkan untuk menggambarkan seseorang atau sekelompok orang. Matius 21:45.
  3. Penyampaian perumpamaan disesuaikan dengan pengertian manusia. Markus 4:33.

Jadi untuk memahami pernyataan Yesus “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” kita melakukan pendekatan dengan pemahaman konteks dan karakter dari binatang-binatang tersebut.

Pertama, konteks saat Yesus mengatakan kalimat ini adalah Yesus sedang mempersiapkan murid-muridNYA. Persiapan ini dibutuhkan karena mereka akan menghadapi keganasan “musuh” atau orang yang membenci mereka oleh karena mereka pengikut Yesus. Keganasan orang-orang yang membenci Yesus inilah yang digambarkan seperti “serigala”. Ayat 16a. Strategi untuk bisa menghadapi situasi yang demikian itulah yang kemudian digambarkan dalam poin berikut, tentang karakter ular dan merpati.

Kedua, tentang ular dan merpati. Ular adalah jenis reptil yang sukses berkembang biak di berbagai macam kondisi. Untuk di Indonesia ada sekitar 400 jenis ular, dan hanya 5% dari keseluruhan jenis ular yang memiliki bisa mematikan. Ular pintar untuk mempertahankan diri, dengan gerakannya yang cepat dan agresif untuk melarikan diri. Sedangkan merpati adalah jenis unggas yang bisa mengingat lokasi dengan baik. Merpati juga memiliki kemampuan untuk terbang sampai dengan jarak 965 km dari titik awal. Merpati menariknya memiliki naluri alamiah untuk kembali ke sarang meskipun sudah terbang tinggi dan jauh.

Keadaan Yesus yang digambarkan seperti “domba di tengah serigala” sangat relevan bagi orang Kristen yang menjadi minoritas, seperti di Indonesia. Kita sudah dengar khotbah Gembala tentang ujian-ujian yang harus dihadapi pengikut setia Kristus. Meskipun demikian tetap saja gambaran Yesus itu adalah suatu pertanyaan yang mencengangkan.

Karena Yesus berharap bahwa kita bukan saja bertahan hidup di tengah situasi yang sulit, tetapi kita bisa menjadi pemenang!

Tidak mungkin? Segala sesuatu mungkin bagi Tuhan. Matius 19:26. Bagaimana kita bisa menang di tengah kesulitan? Pertama, percayalah bahwa kita ini “lebih daripada orang-orang yang menang” seperti yang dituliskan di Roma 8:17. Maksudnya apa? Allah yang berperang bagi kita dan memberi kemenangan. DIA yang “membela” kita namun kita yang mendapatkan kemenangan itu. Begitulah gambaran “lebih dari pemenang”. Jadi kita tidak perlu kuatir, bagi manusia tidak mungkin, tetapi segala sesuatu mungkin bagi Tuhan.

Mungkin ada beberapa yang bertanya, apa ukuran kita menang? Apakah ketika kita menjadi mayoritas? Apakah ketika kita menjadi limpah dengan harta-tahta-cinta? Menarik sekali penjelasan Ps.Jeffrey Rahmat, bahwa keunggulan kita ditentukan ketika kita menjadi dampak. Matius 5:13. Hidup kita sia-sia ketika kita menjadi “tawar dan diinjak-injak orang”. Ketika dunia melihat bahwa keberadaan kia tidak membawa pengaruh. Itulah kenapa kita harus bisa memastikan semua aspek keseharian kita membawa dampak positif. Termasuk media sosial. Jangan gunakan media sosial hanya untuk “mencurahkan isi hati” atau “membuka rahasia orang lain”, melainkan bawa kabar baik, yang membangun, yang menginspirasi orang lain.

Lakukan yang terbaik di bidang kita masing-masing, baik di dalam lingkungan gereja, maupun di luar lingkungan gereja.

Sekarang bagian terakhir, bagaimana sebenarnya menjadi cerdik dan tulus pada saat yang bersamaan? Cerdik tetapi juga tulus, yang dimaksud adalah menggunakan pikiran yang strategis untuk mempertahankan diri tetap ada di jalan yang ditetapkan Tuhan bagi kita, yaitu menjadi dampak positif bagi orang lain. Tentu saja semuanya itu harus dilakukan di atas dasar kebenaran.

Kita tidak “menghalalkan segala cara” untuk menjadi dampak. Ini adalah tentang strategi, bukan sensasi.

Satu kisah tentang Paulus di Kisah Para Rasul 22:23-25 menggambarkan hal ini. Paulus saat itu akan disesah oleh tantara Romawi yang mengamankan dia dari huru-hara di Yerusalem. Tetapi sesaat sebelum disesah ia memakai statusnya sebagai warga negara Rum untuk menghindari sesahan dari prajurit-prajurit Romawi. Padahal kalau kita baca satu pasal sebelumnya di Kisah Para Rasul 21:13 Paulus mengatakan dia rela disiksa.

Apakah Paulus takut? Atau menjadi tidak konsisten? Saya rasa untuk orang yang pernah mengalami daftar pengalaman 2Korintus 11:23-28 Paulus bukanlah seorang penakut. Tapi inilah kecerdikan dan ketulusan Paulus seperti yang menjadi tema kita. Kita sebenarnya bisa melihat dasar nilai yang dipegang Paulus dari ayat di 1Korintus 14:15. Paulus menyampaikan bahwa dalam berdoa kita melakukannya dengan roh tetapi juga dengan akal budi.

Hal yang sama berlaku dalam pelayanannya, dia tulus (roh) untuk menyebarkan tentang nama Yesus, bahkan dilakukan dengan pengorbanan total. Tetapi dia juga melakukannya dengan strategi yang diolah dengan cerdik (akal budi). Sehingga kita lihat “output” atau hasil dari keseluruhan hidupnya adalah seperti yang tertulis di Filipi 1:20-22. Hidupnya untuk memberi “buah”, meskipun untuk mati pun dia masih merasa untung (karena bertemu dengan Yesus di Firdaus).

Ketulusan dan kecerdikannya semua diarahkan untuk menghasilkan “buah” yang bisa dinikmati orang-orang sejamannya, namun hingga sekarang kita masih menikmatinya.

Apa yang bisa kita lakukan di pekerjaan, keluarga, atau aktifitas sehari-hari kita? Bisakah kita tetap termotivasi bahwa jalan Tuhan bagi kita adalah untuk menjadi dampak positif bagi orang-orang sekeliling kita? Apa yang kita lakukan untuk itu, pernahkah kita memikirkan suatu cara untuk menyebarkan kabar baik tanpa harus menjadi orang yang ekslusif?

GodblesS

JEFF

 

SESI 3: “LOVE GOD, LOVE PEOPLE”

“Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Yohanes 17:26.

“Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1Korintus 8:3.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40.

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi interest terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8 Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

 

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

 

“Kalau dia nggak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia nggak setampan atau secantik ini dan itu.”

 

Guys, love is not about what you will get, but what you will give. Saya mengatakan ini konsep cinta universal ya. Bukan hanya romance saja.

 

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love.

Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berika kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

 

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

 

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka.

So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

 

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

 

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

Jika sekarang Anda mengerti bahwa Allah begitu mengasihi Anda, bagaimana caranya memakai Kasih Allah itu sebagai bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan kabar baik?

Dengan memahami misi Yesus kepada murid-muridNYA. Yohanes 17:17-21. Kita diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus sudah lakukan, termasuk memberitakan tentang DIA. Ayat 20. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran.

 

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan paralel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

 

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4.

Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

 

GodblesS

JEFF

SESI 2: “SPIRITUAL FAMILY”

Keluarga adalah suatu organisasi yang penting bagi seorang individu. Keluarga menjadi sumber bertahan hidup, menjadi pusat pembelajaran, dan tempat pertama setiap individu merasakan kasih sayang.

Begitu krusialnya Keluarga, kita bisa lihat bahwa iblis menyerang titik krusial ini untuk bisa mencuri, membunuh dan membinasakan.

Seperti yang saya katakan di sesi sebelumnya, salah satu contoh adalah saat iblis berusaha menghancurkan konsep “Bapa” dengan bapa-bapa dunia yang tidak bertanggung jawab, kasar, jahat, dan lain sebagainya. Sehingga kita kesulitan untuk bisa melihat Allah sebagai Bapa yang baik.

Kita tidak pernah sendiri karena sebenarnya Keluarga itu selalu ada, apakah Keluarga berdasarkan hubungan darah, atau “keluarga” yang berdasarkan kedekatan lainnya. Ada satu contoh di Alkitab tentang Daud, yang malahan tidak dekat dengan Keluarga sedarahnya. Ayahnya menganggap dia anak yang tidak penting (1Samuel 16:11) sementara kakak-kakaknya menganggap dia ‘kepo’ dan ‘pencari sensasi’ (1Samuel 17:28). Namun demikian dia punya sahabat yang bahkan lebih dekat dari ayah dan kakak-kakaknya. 1Samuel 18:1, 3; 1Samuel 20:42; 2Samuel 1:26.

Menariknya Allah selalu bekerja melalui suatu persekutuan, ini tidak aneh, karena Allah sendiri adalah suatu persekutuan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kita kenal ini sebagai trinitas.

Persekutuan bagi manusia, kita kenal sebagai komunitas, dan komunitas pertama yang dibentuk di dunia adalah Keluarga. Kejadian 2:24.

Bahkan Allah terus bekerja lewat Keluarga di sepanjang kisah Alkitab.

  • Kejadian 6:17-18. Allah memakai Nuh, istri, anak-anak, dan menantu-menantunya, untuk membangun suatu proyek yang bisa menyelamatkan dunia dari kepunahan. Sayangnya manusia-manusia yang hidup di jaman itu begitu jahatnya, mereka tidak ada yang mendengar dan bertobat.
  • Kejadian 12:7. Abraham, sebelumnya bernama Abram, hidup di tengah penyembah berhala. Namun kemudian Allah memanggil dia secara khusus untuk membangun suatu bangsa pilihan yang seharusnya jadi teladan bagi bangsa-bangsa lain, supaya semua bangsa mengenal Allah yang benar. Sayangnya Israel melepaskan kesempatan ini, namun Allah tidak berhenti dan membangun suatu bangsa baru dengan tugas yang sama.
  • 2Samuel 7:16. Allah memilih Daud, seorang yang berkenan di hatiNYA, untuk memimpin bangsa pilihan Allah. Keturunan Daud tidak pernah terputus dari tahta Israel (meskipun nanti terpecah menjadi 2 kerajaan) sampai pada waktu seluruh keturunan Israel diserakkan ke bangsa-bangsa yang tak mengenal Allah. Tetapi Allah membangkitkan keturunan Daud yang menjadi Raja diatas segala raja, Yesus.
  • Keluarga Illahi, Gereja. Efesus 2:19; 1Yohanes 2:13-14. Ini adalah komunitas terakhir dalam rancangan Allah yang besar terhadap dunia, dan manusia yang menjadi penatalayannya. Karena dari Keluarga inilah, Allah akan menyempurnakan rencananya. Gereja adalah Jemaat Allah, dibangun oleh Yesus sendiri, dan ‘alam maut tidak akan berkuasa atasnya’. Matius 16:18.

 

Mengapa kita harus memiliki komunitas?

  1. Pengkhotbah 4:12; 1Korintus 14:15-17. Untuk referensi ayat terakhir terkandung makna, dalam persekutuan bersama kita dibangun oleh pengucapan syukur orang lain.
  2. Care, encouragement, exhortation. Ibrani 10:24-25.

GodblesS

JEFF