YUDAS ATAU YESUS?

Ulangan 30:19

Saya sadar Anda pasti sudah sering mendengar bahasan firman Tuhan tentang pilihan. Menentukan pilihan yang tersedia bisa jadi begitu jelas, tetapi bisa juga sedikit kabur atau ambigu. Namun tetap saja manusia adalah mahluk yang kompleks dan membuat suatu pilihan dengan pertimbangan-pertimbangan yang begitu beragam.

Manusia membuat pertimbangan jauh lebih kompleks dari seekor binatang. Lebih dari sekadar bentuk stimulus – respons pada eksperimen Pavlov[1] manusia juga mengolah stimulus yang ditangkap indra. Hal ini dilakukan dengan melibatkan nilai-nilai yang mereka terima dan kini jadi bagian dari dirinya.

Nilai-nilai yang baik menentukan karakter dan kepribadian yang baik pula. Menariknya nilai-nilai ini dipilih, diusahakan dan secara konsisten diwujudkan dalam tindakan oleh seorang individu.[2] Sehingga seseorang secara sadar memilih nilai-nilai yang dipercayainya untuk menjadi pedoman dalam ia berperilaku.

Manusia belajar dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang yang tidak mengenal Allah akan membawa pengajaran yang berlawanan dengan kemauan Allah (Imamat 20:17-18). Sebaliknya orang yang dekat dengan Allah akan membawa pengajaran yang benar (2Raja-raja 12:2). Tetapi pada akhirnya seseorang harus memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak.

Saya teringat tentang kesaksian seorang pejabat publik yang diingatkan istrinya untuk memilih ketika ia dihadapkan pada suatu dilema. Saat itu ia sudah menang dalam Pemilihan Kepada Daerah, tetapi dicurangi. Jika ia ingin tetap menang maka ia harus memberi uang suap, tetapi jika ia tidak melakukannya ia akan kalah dan semua usaha kampanyenya menjadi sia-sia.

Istrinya mengingatkan, apakah ia mau bertindak seperti Yudas (Iskariot) atau seperti Yesus? Ini sepertinya adalah pilihan yang jelas. Tentu saja semua orang Kristen mau bertindak seperti Yesus. Tetapi apa nilai yang melatarbelakangi tindakan Yudas, ketika ia memilih berlaku jahat dan mendapat sesuatu dengan cara khianat. Lalu apa nilai yang melatarbelakangi tindakan Yesus, ketika ia memilih untuk nampak “kalah” dan mendapat kemuliaan dengan cara taat pada Bapa.

Yudas adalah orang yang tidak bertanggung jawab dalam hal keuangan. Nilai hidupnya adalah keuntungan materi di atas tindakan yang jahat. Kisah Para Rasul 1:18. Bahkan ini diketahui oleh murid yang lain dan dicatat dalam Yohanes 12:6. Bisa dikatakan nilai yang dipegang oleh Yudas adalah “keuntungan diri sendiri”. Padahal arti namanya dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan nama “Yehuda” yaitu “terpujilah/syukur pada Tuhan”. Kejadian 29:35.

Seringkali kita mengatakan bahwa kita ingin memuji Tuhan, kita diciptakan untuk menaikkan ucapan syukur pada Tuhan, dan banyak hal idealis lain. Tetapi memang pada akhirnya yang menentukan adalah nilai apa yang kita hidupi dan apa yang kita lakukan menunjukkan hal itu. Bisa saja terjadi label atau sebutan seseorang berbeda dengan apa yang keluar dari orang itu. Seperti seseorang yang mengisi botol bertulisan sabun cair untuk badan, namun yang keluar adalah sabun cair untuk cuci pakaian.

Ini yang menjadi masalah dalam pengiringan Yudas selama menjadi murid Yesus. Yesus pergi ke banyak tempat melakukan hal-hal yang baik. Kisah Para Rasul 10:38. Seharusnya Yudas pun menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Namun yang terjadi ia malah menghasilkan yang jahat. Ia menjadi seperti yang diajarkan Yesus tentang kemunafikan. Lukas 6:42-45.

Nama Yesus diberikan oleh Yusuf karena firman Tuhan yang diterimanya dalam mimpi. Yesus artinya “Allah menyelamatkan”. Matius 1:21. Keselamatan memang hanya datang di dalam nama Yesus.

Yesus memegang nilai yang berbeda dari Yudas. Sejak kecil IA tahu panggilanNYA untuk berada di Rumah Bapa. Lukas 2:49. Ukuran keberhasilanNYA bukan keuntungan pribadi yang bisa didapatkan. Yohanes 6:38. Namun bagaimana IA bisa melakukan rencana Bapa. Yohanes 12:25, 27. Lukas 22:42. Dengan mengerti hal ini kita bisa memahami dengan lebih baik mengapa Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta. Matius 25:14-30.

Sekarang pilihannya ada di tangan kita sebagai orang-orang percaya yang mendapat panggilan surgawi. Penting untuk memiliki rasa cukup dibanding mengejar kepuasan dari keinginan-keinginan pribadi kita. Untuk itu kita perlu untuk mengelilingi diri kita dengan orang yang tepat dan mulai bersyukur untuk setiap tugas yang dipercayakan Allah pada kita[3], lakukanlah dengan taat dan setia.


[1] Kevin R. Clark, EdD, R.T(R)(QM), “Learning Theories: Behaviorism,” Radtech Journal 90, no. 2 (Nov/Dec 2018): 172-173.

 

[2] Sri Wening, “Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Nilai,” Jurnal Pendidikan Karakter 3, no. 1 (Februari 2012): 57-58.

[3] Mark and Debra Laaser, “The Seven Desire of Every Heart” (Zondervan: Grand Rapids, 2008), 122-125.

Hikmat Seorang Laki-laki

1 Raja-raja 5:10 “Demikianlah Hiram memberikan kayu aras dan kayu sanobar kepada Salomo seberapa yang dikehendakinya.”

1 Raja-raja adalah bagian Kitab Sejarah bangsa Israel, dituliskan untuk menjadi pelajaran bagi yang membacanya. Ada yang berkata bahwa Kitab ini ditulis oleh Nabi Yeremia. Namun kini banyak pakar Alkitab yakin itu bukan Yeremia, namun nabi lain yang hidup di zaman yang sama.

Tema dari kitab ini adalah kesejahteraan dari suatu bangsa ditentukan kesetiaan rakyat dan raja dari bangsa itu kepada Tuhan. Pada bagian awal kitab ini bercerita tentang kejayaan Israel di bawah kepemimpinan Salomo tetapi itu tidak bertahan lama. Tidak lama setelah kematian Salomo, Kerajaan terpecah menjadi dua, bahkan di akhir kitab ini Kerajaan Israel ada di ambang penaklukkan dan pembuangan. Mendengarkan Hukum Tuhan membawa berkat, namun meninggalkan Tuhan membawa hukuman. Ulangan 11:26-28.

Apa yang terjadi di 1 Raja-raja 5:

Ayat 6. Kerjasama antara Hiram dan Salomo. Hiram akan menyediakan kayu dari pohon aras dan Salomo akan menyediakan makanan bagi Istana Hiram (ayat 9). Kalau dihitung dengan hitungan yang kita kenal sekarang Salomo memberikan 7,2 juta liter gandum per tahun.

Kapan: Ayat 5. Perkiraan waktu saat Salomo membangun Bait Allah adalah di tahun 971 SM.

Dimana: Ayat 9. Kayu dari pohon-pohon di Libanon ditarik turun ke laut dan kemudian dihanyutkan dalam bentuk rakit ke Yafo dekat Yerusalem.  

Mengapa: Ayat 3-4. Salomo menjelaskan bahwa ayahnya tidak dapat mewujudkan mimpinya untuk membangun Bait Allah karena peperangan dan usaha untuk mengamankan kerajaannya. Hiram kemudian memuji Allah Israel meskipun ia tidak menjadikan Allah sebagai Allahnya. Salomo membutuhkan kayu untuk membangun Bait Allah dan ia membutuhkan jumlah yang sangat besar dan sumber kayu terbaik adalah dari Tirus.

Bagaimana: Ayat 13-18. Salomo kemudian merekrut banyak budak untuk menjadi pekerja, namun demikian nampaknya jumlah pekerja tidak cukup. Sehingga Salomo merekrut orang-orang Israel untuk menjadi budak rodi. Hal ini yang bisa menjadi alasan perpecahan kerajaan di masa Rehabeam, anak Salomo. Kebijakan-kebijakan ini sangat berlebihan, dan kisahnya bisa jadi berbeda jika ia tetap pada rencana awal ayahnya.

Pembangunan Bait Allah menjadi pencapaian yang menonjol di bawah pemerintahan Salomo, dan kita dapat melihat luar biasanya Bait Allah ini saat ditahbiskan.

Dengan hikmat yang dimilikinya Salomo membawa kedamaian dan kemakmuran bagi Israel. Namun beberapa kebijakannya membuat masyarakat terpecah. Salah satu ekses yang dibawa oleh kekayaan yang masuk ke Israel, Salomo memasukkan juga allah-allah lain ke Israel, dan juga isteri-isteri yang akhirnya menjauhkan ia dari Tuhan yang benar.

Memberi adalah suatu tindakan yang baik, namun jika itu dilakukan di atas kesengsaraan orang lain, itu adalah sesuatu yang tidak bijaksana. Ini adalah sesuatu yang ironis karena kita berbicara tentang seseorang yang penuh hikmat melebihi semua orang.

Yesus pernah memberi teguran keras pada orang-orang Farisi, karena mereka memberi persembahan namun mengabaikan tanggung jawab untuk memelihara orang tua mereka. Matius 15:4-6.

KEBERADAAN MANUSIA DAN PENDERITAAN

Kejadian 35:18

Dalam kehidupan ini ada pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dan perlu kita temukan jawabannya, setidaknya untuk diri kita sendiri. Abaikan pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang sedang laku di tayangan televisi, seperti berapa tahun beda usia antara biru tua dan biru muda? Atau siapakah yang membunuh Laut Mati?

Namun ada pertanyaan lain yang lebih krusial, seperti mengapa saya ada? Apakah saya diciptakan untuk sesuatu? Ini adalah hal yang penting karena jawaban yang salah akan membawa pada cara hidup yang salah. Apa yang dipertaruhkan di sini adalah kehidupan kekal (Matius 25:46) yang ditentukan oleh Kristus sendiri (2Korintus 5:10).

Mengenai siksaan kekal (neraka) dan hidup kekal (surga) saya sudah pernah menyampaikan bahwa neraka tidak ada dalam rencana Allah bagi manusia. Tetapi memang disayangkan ada orang-orang yang memilih untuk tinggal di dalam gelap (anda bisa cek khotbah ini di http://www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “Rencana Allah Bagi Anda” atau juga bisa dengan klik link ini).

Tentang Kristus yang akan menentukan apa yang kita peroleh dalam kekekalan, itu bukan berarti “untung-untungan”. Anda mendengar, percaya, dan melakukan sesuatu karena Anda punya misi (anda bisa cek khotbah ini di weblog saya tentang “Misi Kita di Dunia” atau juga bisa dengan klik link ini). Hal ini menjelaskan bahwa Anda diciptakan untuk sesuatu yang bisa dicapai.

Tetapi ada orang-orang yang tidak percaya misi itu, hidup sembarangan namun berharap mereka akan masuk ke dalam kekekalan. Mereka berlaku seperti ada kesempatan lain sesudah hari penghakiman itu. Kita akan belajar nanti bahwa hidup ini hanya akan berlangsung satu kali.

Lalu mengapa harus ada penderitaan dalam keberadaan manusia? Apakah Allah menciptakan penderitaan? Sebelum melihat ayat-ayat firman Tuhan mengenai penderitaan saya ingin membagikan dua ilustrasi berikut yang seringkali saya bagikan saat menjelaskan tentang kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas dunia.

  1. Ilustrasi “Gelap versus Terang” dan “Dingin versus Panas”.
  2. Ilustrasi “Tukang Cukur Rambut”.

Ilustrasi-ilustrasi di atas menegaskan bahwa keberadaan Allah sangat menentukan keadaan manusia. Demikian juga manusia memiliki pilihan yang kemudian menentukan kondisinya. Kepercayaan-kepercayaan di luar Kristus memercayai konsep karma. Secara garis besar karma adalah sistem hidup berdasarkan pada perbuatan seseorang dan konsekuensi moral yang terjadi karena suatu pilihan perbuatan, khususnya di kehidupan yang tak terlihat[1], yaitu pada saat reinkarnasi atau kelahiran kembali.[2]

Karma tentu saja tidak sesuai dengan iman Kristen yang percaya bahwa hidup hanya satu kali (Ibrani 9:27) dan kemudian harus dipertanggungjawabkan pada Hakim segala hakim (Kristus). Wahyu 19:11. Tetapi kita percaya seseorang harus “menuai” apa yang ia “tabur” (2Korintus 9:6) dan seperti yang sudah dibahas di atas, “setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya” (2Korintus 5:10).

Hal ini termasuk apa yang diucapkan seseorang bisa “menuai” pembenaran atau malahan sebaliknya penghukuman. Matius 12:36-37. Jadi pastikan apa yang kita lakukan dan katakan adalah hal-hal yang baik dan membangun.

Kembali ke pembahasan mengenai pilihan. Anda bisa memilih untuk hidup di dalam gelap atau terang. Apakah penderitaan itu hilang sama sekali bagi mereka yang hidup di dalam terang? Menurut Alkitab jawabannya tidak. Anda tentu ingat keluhan dari pemazmur di Mazmur 73:13-14, dan peristiwa-peristiwa yang menimpa Paulus di 2Korintus 11:23-28.

Jadi penderitaan itu ada dan menimpa semua manusia. Tetapi bagi orang Kristen, penderitaan itu bisa menjadi sesuatu yang membanggakan Ketika Anda menderita karena Yesus (Kisah Para Rasul 5:41, Filipi 1:29), bukan karena perbuatan dosa dan perbuatan jahat (1Petrus 2:20, 3:17, 4:15). Penderitaan juga adalah bagian awal dari kemuliaan yang akan kita terima nantinya sebagai ahli waris dari janji-janji Allah (Roma 8:17, 1Petrus 5:10).

Pada akhirnya jika Tuhan mengizinkan kita mengalami penderitaan meskipun kita sudah mengambil pilihan untuk hidup dalam terang, jangan takut dan gentar, kebahagiaan akan menjadi bagian kita yang melakukan kebenaran. 1Petrus 3:14. Percayalah saat Anda memilih hidup yang kekal, penderitaan tidak akan menyentuh Anda lagi dalam kekekalan. Wahyu 7:16.  

GodblesS

JEFF


[1] Bruce R. Reichenbach, The Law of Karma (Hampshire & London: Macmillan, 1990), 1-3.

[2] Reichenbach, The Law of Karma, 11.

HAMBA: HATI UNTUK MELAYANI YESUS  

1Petrus 2:16

Salam jumpa untuk semua hamba Allah yang ada di tempat ini.

Seseorang yang disebut “hamba” mengabdi kepada tuannya, apapun konsekuensi yang harus diterima. Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru kata “hamba” juga punya konotasi sebagai seorang pelayan. Pada kesempatan kali ini saya tidak akan meneliti kata-kata dalam bahasa aslinya. Tetapi mengenai kata ini saya akan sertakan tautan dari karya tulis dan artikel berikut ini (“Kepemimpinan Hamba” – Rachel Iwamorry, Ph.D., dan “Aku ini adalah Hamba Tuhan” – Herlise Yetty Sagala, D.Th., D.Min.). Sehingga dalam bahasan kali ini saya akan samakan antara seorang hamba dan seorang pelayan. Ini saya tegaskan di awal supaya yang mendengarkan mengerti mengapa saya tidak berusaha membahas dari sisi bahasa asli.

Bapak/ibu/saudara/saudari, konsep melayani telah menjadi standar teratas yang diharapkan oleh banyak orang dalam banyak aspek. Saat berbicara mengenai perdagangan, penyediaan jasa, pendidikan, pemerintahan, dan lain-lain. Bagi orang percaya yang sering disebut “christianos” (Kisah Para Rasul 11:26), konsep melayani adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Karena Yesus menegaskan maksud dan tujuan kedatanganNYA ke dunia adalah untuk melayani. Matius 20:28.

Rasul Petrus berusaha mengingatkan orang-orang percaya untuk menjalankan kemerdekaan di dalam Kristus bukan untuk berbuat kejahatan, tetapi untuk hidup sebagai hamba Allah. 1Petrus 2:16. Seorang hamba Allah atau pelayan Tuhan, tidak dibatasi oleh status yang diberikan suatu organisasi Gereja. Maksudnya mulai dari Gembala Jemaat, staf Gereja, pengurus Gereja, pelayan, dan aktivis. Bahkan seluruh jemaat yang sudah dimerdekakan oleh Kristus (Galatia 5:1), diminta oleh Rasul Petrus hidup sebagai hamba Allah.

Jika seseorang yang disebut hamba Allah atau pelayan Tuhan hanya dibatasi dengan definisi yaitu mereka yang melayani di Gereja. Maka kita akan terus akan kekurangan pekerja di ladang tuaian ilahi yaitu jiwa-jiwa. Lukas 10:2. Saya akan coba gambarkan ekspektasi banyak orang percaya mengenai konsep “hamba Tuhan”. Jika seorang hamba Tuhan bekerja dalam Gereja dengan luar biasa, mereka seharusnya bisa menjangkau 1,000 orang setiap hari. Sedangkan seorang “jemaat” yang diperlukan adalah datang ke Gereja dan tidak perlu menjangkau siapapun, karena sudah ada hamba Tuhan yang melakukan penjangkauan.

Pemikiran ini salah! Seseorang mungkin nampaknya luar biasa dalam penjangkauan, tetapi itu tidak dapat mengalahkan keterlibatan orang lain yang secara konsisten menjadikan orang lain penjangkau jiwa sama seperti dirinya. Sebut saja “A” adalah pelayan Tuhan di Gereja yang mampu menjangkau 1,000 orang per hari, pada tahun ke-4 jika ia konsisten maka A menjangkau 1,460,000 orang. Namun ada juga “B” yang tidak disebut hamba Tuhan atau pelayan Tuhan di Gereja. Ia menjangkau hanya 2 orang dalam setahun, tetapi ia selalu memastikan bahwa 2 orang yang dijangkaunya kemudian akan menjangkau masing-masing 2 orang lain. Maka pada tahun ke-4 jika ia konsisten, ia akan menjangkau 80 orang.

Secara statistik tentu saja akan lebih fenomenal angka yang dicatatkan A dibandingkan B. Namun mari kita lihat angka A di tahun ke-8 (2,920,000 orang) dibandingkan dengan B (6,560 orang). Tunggu sebentar di sini, kalau kita asumsikan mereka konsisten (A menjangkau 1,000 orang per hari dan B menjangkau 2 orang per hari) kita akan tercengang melihat hasil dari tahun ke-16. Pada tahun ke-16 A yang sibuk menjangkau tetapi karena sibuknya menjangkau 1,000 orang per hari ia tidak sempat meminta dan mengajari 1,000 orang itu untuk menjangkau lagi dan puas hanya dengan melihat mereka duduk manis di Gereja. Sedangkan B terus memastikan 2 orang yang dijangkaunya kembali menjangkau 2 orang lain. Angka yang dihasilkan penjangkauan A di tahun ke-16 adalah 5,840,000 orang, sedangkan B di tahun ke-16 menjangkau 43,046,720 orang! Tujuh kali lipat hasil penjangkauannya.

Tentu saja saya tidak ingin kita terjebak melihat jiwa-jiwa bagi Kristus dalam angka. Tapi saya ingin setidaknya kita semua yang hadir melihat pentingnya kerinduan untuk menjangkau orang lain untuk setidaknya dikenalkan pada pribadi Yesus dan lakukan itu dengan konsisten, dengan tidak muluk-muluk, tapi dengan kasih akan jiwa-jiwa seperti ketika Yesus melihat orang-orang di Markus 6:34.

Saya ingin menutup dengan menggambar tiga lingkaran. Kalau tidak salah saya pertama kali melihat ini di khotbah Ps.Kong Hee dari Singapura. Lingkaran pertama adalah “komunitas Gereja”, lingkaran kedua adalah “komunitas dunia” dan lingkaran ketiga adalah “komunitas pengambil kebijakan”. Kita mungkin minimal menghabiskan waktu dua jam di lingkaran pertama. Berarti ada 22 jam yang kita habiskan di lingkaran lain.

Mau sampai kapan kita berpangku tangan dan menyebut diri “saya bukan hamba Tuhan, saya jemaat biasa”? Setiap kita punya kesempatan, mulai dari satu atau dua orang per hari yang kita jangkau. Biar benar-benar kita menjadi Gereja yang “Mengasihi, Melayani, dan Memperlengkapi”. Saya percaya di akhir hidup kita akan ada suara yang berkata:

Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21)

GodblesS

JEFF

MASALAH DOSA DAN SOLUSI ILAHI

Kejadian 3:17.

Pada tahun 2021 ada berita tentang penarikan produk beberapa merk mobil. Hal ini dikarenakan ada beberapa masalah di komponen mobil tersebut. Masalah yang terus dibiarkan akan berakibat pada kerusakan yang bisa membahayakan. Karena itu produsen mobil kemudian berusaha memberitahukan masalah yang dihadapi konsumen, beserta solusinya.

Allah sebagai pencipta dari seluruh manusia juga melakukan pemberitahuan yang sama. Masalah yang terjadi bukan karena ada anggota tubuh kita yang tidak berfungsi normal. Tetapi karena hati manusia mengalami masalah yang bisa membahayakan. Masalah itu adalah dosa, yang berasal dari tiadanya filter dari pengaruh luar dan dari kurangnya komitmen terhadap perintah Allah.  

Akibat dan – di saat yang sama – gejala dari keberadaan dosa dalam hidup manusia adalah sebagai berikut:

  1. Kehilangan arah tujuan hidup. 1Korintus 9:26.
  2. Kesalahan penggunaan ucapan. Efesus 4:29.
  3. Lupa akan asal usul. Filipi 3:19-20.
  4. Kehilangan damai dan sukacita. Yakobus 3:18. Kejadian 4:6-7.
  5. Ketamakan dan perilaku merusak. Lukas 12:15.
  6. Depresi dan kebingungan. Filipi 4:7-8.
  7. Ketakutan. 1Yohanes 4:18.
  8. Penyembahan berhala. 1Petrus 4:3.
  9. Pemberontakan. 2Timotius 3:2-4.
  10. Kemabukan. Efesus 5:17-18.

Menarik sekali di poin kesepuluh Rasul Paulus menuliskan apa yang harusnya dilakukan sebagai keterbalikan dari kemabukan yaitu “penuh dengan Roh”. Hal ini sebenarnya akan menjauhkan kita bukan saja dari kemabukan tetapi juga dari kesembilan hal yang menunjukkan keberadaan dosa dalam hidup kita. Mengacu pada apa yang tertulis di Galatia 5:16.

Dengan mengenal Tuhan Yesus dan karyaNYA jalan bagi kita terbuka untuk mendapat anugerah ilahi yaitu “segala sesuatu yang berguna” (2Petrus 1:3) dan “janji yang berharga”. Hal-hal ini membuat kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu dunia (yaitu perbuatan daging manusia). 2Petrus 1:4.

Semua hal ini mengacu pada pekerjaan Roh Kudus dalam hidup manusia. Roh Kudus adalah kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), membantu kita dalam kelemahan (Roma 8:26), mengajarkan dan mengingatkan kita (Yohanes 14:26). Itulah mengapa hari ini kita mengingat bahwa semua masalah yang mengancam pengikut Yesus yang sejati sudah diselesaikan di kayu Salib. Namun lebih dari itu kita butuh Roh Allah yang memampukan kita terbebas dari Kembali berurusan dengan masalah dosa ini.

RUSAK  

Manusia diciptakan dengan kesempurnaan, kalau diibaratkan benda maka kita adalah benda yang paling mulia. Sayangnya dosa membuat kita menjadi rusak! Sekarang kita mengenal kutipan “tiada manusia yang sempurna” karena memang seperti yang dituliskan dalam Roma 3:23 bahwa semua manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah. Jadi tidak mungkin seseorang dalam dunia ini ada dalam keadaan sempurna.

Mari bayangkan skenario ini, kalau ada penjual menawarkan suatu barang yang mudah rusak untuk Anda, apalagi kalau barang itu harganya mahal, ada besar kemungkinan Anda tidak menginginkannya. Mengenai barang komersil, tahukah Anda bahwa ada satu opini yang menyatakan bahwa semua barang komersil dibuat tidak begitu tahan lama, supaya orang terus membeli barang baru? Salah satu contoh yang mendukung opini ini adalah adanya lampu yang tidak pernah padam di California.

Kembali mengenai sesuatu yang mudah rusak, kalau Anda tidak menginginkannya lalu mengapa ada saja orang yang membeli barang yang mudah rusak itu? Tentu saja ada alasan yang kuat mendorong orang itu untuk tetap membeli. Mungkin karena memang kebutuhan, atau karena tidak ada pilihan, atau bisa jadi karena orang itu adalah sultan.

Tetapi bolehkah saya tambahkan satu alasan yang memungkinkan seseorang untuk membeli suatu barang yang mudah rusak. Karena orang itu menyukainya. Benar sesederhana itu, seseorang yang memiliki segalanya, tetapi karena cintanya pada barang atau benda itu. Ia mau membayar mahal untuk membeli atau menebusnya.

Beberapa dari Anda tentu sudah tahu saya akan membicarakan apa dan siapa. Allah adalah pencipta segalanya, manusia adalah ciptaanNYA. Allah begitu mengasihi kita, tetapi kita kemudian menjadi ciptaan yang rusak oleh dosa. Oleh Paulus di surat Roma yang tadi sudah dibahas kita disebut “kehilangan kemuliaan Allah”. Sama seperti benda penerang yang kehilangan cahayanya, manusia kehilangan kondisinya yang serupa dengan Allah.

Allah kemudian berusaha untuk memperbaiki yang rusak tersebut namun di saat yang sama kita terjual dalam kuasa dosa. Hal ini yang kemudian membuat kita harus ditebus. Saya pernah menyampaikan tentang kisah Hosea dan Gomer, saya akan membuat versi singkatnya dengan tabel di bawah ini.

Kondisi  Titik Balik
Gomer hidup sebagai perempuan sundal yang statusnya rendah.  Orang yang statusnya tinggi “nabi Allah” (Hosea) yang kemudian memperistrinya bahkan membelinya dari persundalan. Hosea 1:2, 3:1-2.  
Manusia hidup dalam kondisi yang kehilangan status sebagai ciptaan yang paling mulia.Allah yang maha mulia mau menjadi manusia dan menebus manusia dengan darahNYA. Efesus 1:6-7.

Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan kemampuan kita berasal dari pekerjaan Tuhan dalam kita. Ada dua contoh di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang ingin saya sampaikan untuk menjadi bahan perenungan kita, di masa-masa kita merasa lemah dan tak berarti.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan menaruh tanda di dalam hidup Yakub (kaki yang pincang) supaya ia diingatkan akan pertemuannya dengan Tuhan. Pertemuan itu yang mengubahkan dia dari Yakub (Ibrani: pengganti, penipu) menjadi Israel (Ibrani: pangeran Allah). Kejadian 32:22-32.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan mengizinkan Paulus untuk memiliki kelemahan dalam dirinya. Hal ini bukan untuk menghukumnya, tetapi untuk menjadi tanda bagi Paulus. Kelemahannya menjadi penanda bahwa apa yang bisa dilakukannya karena kekuatan Tuhan bukan kehebatannya. 2Korintus 12:8-10.

Bagaimana sekarang kita melihat diri kita, seseorang yang kuat karena usaha kita sendiri. Atau seseorang yang sadar penuh bahwa ia sebenarnya rusak, pincang dan lemah. Tetapi dikuduskan dan dikuatkan sesuai dengan kekuatan kuasaNYA, bukan kehebatan kita. Efesus 1:18-19.

GodblesS

JEFF

FIND A GOOD CIRCLE

(Teman punya peranan!) Amsal 22:24-27, 1 Korintus 15:33-34, Mazmur 1:1.

1 Korintus 15:33.

Semua orang dalam hidupnya akan memengaruhi dan dipengaruhi orang lain. Itulah esensi dari kehidupan sosial yang bisa digambarkan sebagai “jaring laba-laba” atau mungkin juga digambarkan sebagai “kolam”. Apa yang dilakukan di suatu titik bisa memengaruhi titik lain di sekitarnya, bahkan sampai titik yang jauh. 

Masa ini adalah masa percepatan informasi, semua berlangsung begitu cepat, begitu mudah, dan mencakup suatu wilayah yang luas. Anda butuh orang-orang yang memiliki maksud dan tujuan yang baik ada di sekeliling Anda. Hal ini diperlukan untuk tujuan ganda, pertama memagari Anda dari informasi-informasi dan pengaruh yang buruk. Kemudian yang kedua untuk mendorong Anda melakukan hal-hal baik dan memaksimalkan potensi Anda.

Mari kita lihat apa yang terjadi ketika seseorang tidak memiliki “pagar” terhadap informasi:   

https://news.detik.com/berita/d-5660289/hoax-gubernur-wafat-usai-vaksin-covid-warga-papua-barat-blokade-jalan?_ga=2.230283028.927668079.1630452868-2021725257.1630452868

Lalu lihat juga apa yang bisa dilakukan teman-teman yang satu visi dengan Anda:

https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/27/181000665/profil-penemu-google-larry-page-dan-sergey-brin?page=all

Sekarang kita lihat contoh dalam Alkitab mengenai mereka yang mengelilingi dirinya dengan orang yang membawa pengaruh negatif.

  1. Rehabeam. 1Raja-raja 12:5-14.
  2. Ahab. 2Tawarikh 18:3-7.

Seharusnya kita membangun lingkaran pertemanan kita seperti apa yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:41-47. Demikian juga penulis surat Ibrani mengingatkan kita untuk tetap dalam persekutuan. Ibrani 10:24-25.

Hidup tetap dalam persekutuan tentu saja akan menimbulkan gesekan. Karena itu kita perlu untuk mempraktekkan kasih sebagai yang terutama dalam kekristenan kita. Galatia 5:14. Jika tidak demikian maka dalam suatu kelompok bisa terjadi konflik yang menghancurkan. Ayat 15.

Kalau kita melihat ke tulisan pemazmur di Mazmur 1:1 maka adalah suatu pilihan yang bijak untuk tidak berkumpul dengan orang-orang yang “mulutnya” mengeluarkan hal yang negatif atau merendahkan. Bahkan di Amsal 22:24-27 dituliskan contoh detail apa yang dilakukan mereka yang memberi pengaruh negatif. Sekarang pilihan ada di tangan kita.

GodblesS

JEFF

KUAT DALAM TUHAN

Efesus 6:10.

Kalau sampai saat ini kita masih hidup dan bertahan, kita percaya ini karena Tuhan. Allah yang ada dari permulaan zaman, akan menyertai kita sampai akhir yaitu saat IA datang untuk menjemput kita. Wahyu 1:4. Perhatian Allah kepada kita ditunjukkan lewat kasih dan anugerahNYA.

Lagu terjemahan berikut akan menjadi bahasan saya saat ini, mewakili ucapan syukur kita pada hari ini kepada Tuhan.

Burungpun Kau perhatikan

dan tanganMu menjagaku

dari ujung dunia sampai relung hatiku

Biar rahmat dan kuatMu nyata

Kau memilihku Tuhan

S’mua malaikat tahu

‘tuk kemuliaanMu menjadi saksiMu

p’nuh kasih dan anugrahMu

Dan kuberlari padaMu, pada FirmanMu

bukan kuat, bukan gagah

tapi oleh Roh Kudus

Ya, ku ‘kan berlomba sampai

kupandang wajahMu

Biarku hidup dalam kasihMu yang mulia

Dalam hidup ini ada selalu ada bagi kita kesempatan untuk mengucap syukur bahkan dalam saat sulit sekalipun. Kita tentu saja ingat perkataan Ayub yang begitu menginspirasi dalam Ayub 1:21  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!

Kita mengucap syukur karena kebaikan Tuhan yang memelihara hidup kita. Allah melengkapi kita dengan kemampuan untuk tetap hidup bagi DIA. Yesus pernah memberikan perbandingan yang menunjukkan betapa pemeliharaan Allah atas semua ciptaan meskipun ia kurang berharga. Matius 10:29.

Sehingga bagaimana mungkin Allah menjaga yang kurang berharga tetapi abai kepada yang lebih berharga? Ayat 31. Ketika kita menilai diri kita tidak berharga, sebenarnya kita menganggap rendah perkataan Yesus. Mari kita baca dan renungkan ayat terkenal di Yesaya 43:1-4.

Dalam hal ini kita percaya bahwa Allah pencipta langit dan bumi berkuasa untuk menjaga hal yang begitu jauh dari pemikiran kita (Mazmur 19:1-7). Tetapi IA juga mampu menjaga keberadaan kita (Mazmur 121:1-8), dan IA mengenal hati kita (1Raja-raja 8:39).

Kata rahmat itu sejajar dengan dengan kata “belas kasihan”, “kasih karunia”, “kasih setia”, dan “anugerah”. Inilah yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan lain di dunia. Istilahnya bisa jadi sama, tetapi konsep rahmat dalam kekristenan begitu unik karena itu nyata (Titus 3:4-5) dan Tuhan yang mengambil inisiatif (1Yohanes 4:10).

Anugerah Allah juga nyata dalam pilihanNYA atas kita. 1Tesalonika 1:4. Bahkan malaikat Allah tahu bahwa belas kasihan Tuhan ada atas manusia yang percaya bukan atas malaikat. Ibrani 2:16. Pilihan Allah itu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. IA memilih Paulus untuk menjadi alat Tuhan. Kisah Para Rasul 15:7. IA juga memilih kita untuk “rajin berbuat baik”. Titus 2:14.

Jadi supaya kita sebagai “manusia ilahi” diperlengkapi dengan perbuatan baik, maka seharusnya pengejaran kita adalah firman Allah. 1Timotius 3:16-17. Kita berlari sedemikian rupa dalam hidup ini untuk mendapatkan Sang Firman yang menjadi manusia, yang oleh Paulus diistilahkan “panggilan surgawi dalam Kristus Yesus”. Filipi 3:14.

Kuat dan gagah manusia tidak bisa membawa kita menyelesaikan pertandingan hidup ini. Zakharia 4:16. Ibadah-ibadah kita, termasuk di dalamnya pengejaran akan firman Allah, dilakukan oleh karena Roh Allah, bukan sekadar ritual lahiriah. Filipi 3:3.

Karena itu tetaplah bertanding, tetaplah berlari, apa yang kita capai sampai saat ini belum selesai sampai nanti kita sampai ke Surga (Filipi 3:10-14) dan berhadapan muka dengan muka dengan Sang Kasih sejati, Tuhan Yesus Kristus. 1Korintus 13:12.

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

GodblesS

JEFF

YUSUF: KEHIDUPAN SEORANG PEMIMPI

Semoga semua kita ada dalam keadaan yang sehat di masa-masa yang sulit ini. Semua dari kita butuh inspirasi untuk dapat menjalani hidup dan mencapai garis finis dengan akhir yang baik. Terutama di tengah kesulitan hidup, kita butuh teladan dari orang yang pernah melewatinya.

Semua orang yang pernah mendengar kisah-kisah Alkitab pasti sedikit banyak mengetahui pelajaran-pelajaran hidup yang bisa didapat dari Yusuf. Kali ini catatan tertulis saya akan disajikan dengan beberapa referensi literatur akademis, sehingga Anda bisa mempelajarinya secara terpisah dengan mengaksesnya secara online.

Saya percaya kita bisa belajar dari semua fase kehidupan Yusuf meskipun bahasan kali ini belum dapat secara komprehensif mengulas kehidupan Yusuf, tetapi semoga sekelumit bahasan tentang tokoh Alkitab yang satu ini bisa menginspirasi kita untuk menjalani kehidupan dan tantangan-tantangannya dengan lebih baik.

AWAL HIDUP YUSUF

Nama Yusuf pertama kali disebutkan di Alkitab dalam Kejadian 30:24. Ketika Rahel, istri Yakub, melahirkan anak kandung pertamanya, setelah ia bergumul dengan kemandulannya dan “persaingan” dengan kakaknya, Lea, di ayat 1-3. Nama Yusuf dalam bahasa aslinya berarti “IA (Tuhan) menambahkan”, hal ini sesuai dengan tradisi Perjanjian Lama yang kita sudah baca di ayat 24.[1]

Secara garis besar Yusuf adalah anak Yakub yang lebih dikasihi dibanding saudara-saudaranya yang lain. Hal ini menimbulkan iri hati dan kebencian yang mengakibatkan Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak saat ia masih remaja, yang pada akhirnya mengakibatkan dampak luar biasa bagi banyak orang.[2] Sampai di sini kita belajar untuk tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan hidup.

Yusuf diolok-olok sebagai seorang pemimpi oleh saudara-saudaranya karena dua mimpi yang ia ceritakan kepada mereka. Pada akhirnya mimpi tersebut menjadi kenyataan, dan karena berhasil menerjemahkan mimpi secara akurat, Yusuf menjadi penyelamat keluarganya. Tetapi sebelum itu ia harus melalui proses yang tidak mudah yang nanti kita akan pelajari.

PELAJARAN DALAM KELUARGA

Yusuf menjadi anak yang dikasihi lebih dari saudara-saudaranya yang lain, karena ia lahir dari istri yang lebih dikasihi, dan lahir di masa tua ayahnya. Lahir dalam keluarga yang dilatarbelakangi persaingan membuat apa yang dituliskan di Kejadian 37:3-4 menjadi salah satu pergumulan yang harus dihadapi Yusuf.

Saudara-saudaranya membenci dia karena perlakuan yang tidak adil ditunjukkan oleh ayah mereka. Ini diperparah dengan tindakan Yusuf yang menceritakan mimpinya dimana ia digambarkan akan menjadi pemimpin atas saudara-saudaranya. Ayat 5-9.

Mimpi yang didapat Yusuf, oleh cendekiawan modern Yahudi, dipandang sebagai pesan dari Tuhan yang sebenarnya tidak dipahami jelas oleh Yusuf. Yusuf tidak sadar bahwa nantinya ia akan menjadi penguasa atas suatu bangsa besar, dan bahkan atas saudara-saudaranya.[3]

Karena itu ia menceritakan hal itu kepada ayah dan saudara-saudaranya. Namun saudara-saudaranya menganggap bahwa mimpi itu adalah gambaran keinginan Yusuf saat itu untuk menjadi lebih dewasa secara fisik dan menjadi pemimpin saudara-saudaranya.[4]

Mimpi-mimpi Yusuf menjadi penyulut rasa benci karena ketidak adilan yang dirasakan saudara-saudaranya oleh perlakuan Yakub, ayah mereka. Kalau kita membandingkan dengan bagaimana Yusuf nantinya diperlakukan oleh Potifar dan Kepala Juru Minuman Firaun, Yusuf menjadi “korban” yang lebih parah dari ketidakadilan keadaan. Namun semua kesulitan itu tidak membuat Yusuf menjadi seorang pendendam, tetapi malah penuh kasih karunia dan pemelihara keluarganya. Kejadian 47:12.

MEMBENTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Apakah kesukaran hidup memengaruhi cara Yusuf mengasuh anak-anaknya?  Alkitab tidak mencatat masalah yang terjadi dalam rumah tangga Yusuf, khususnya dalam hal hubungan ayah dengan anak. Tetapi patut diperhatikan bahwa ia tetap tidak bisa lupa dengan kepahitan hidupnya, yang terefleksi dari nama anak-anaknya. Kejadian 41:51-52.

Sama seperti budaya patriarki yang ada di zamannya, Yusuf tetap menempatkan anaknya yang sulung (Manasye) sebagai yang utama, dan ini bukan karena favoritisme. Meskipun pada akhirnya Yakub di akhir hidupnya menyilangkan tangan dan yang bungsu (Efraim) menerima berkat sulung (yang lebih besar). Kejadian 48:13-20.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa kehidupan rumah tangga Yusuf, khususnya antara dirinya dan anak-anaknya bukanlah refleksi dari apa yang dilakukan oleh ayah dan saudara-saudaranya. Ia menjadi ayah yang tidak membangkitkan amarah anak-anaknya (Efesus 6:4) dan menjadi orang yang mengampuni tanpa menaruh dendam kepada saudara-saudaranya (Kolose 3:13).

PELAJARAN DALAM PEKERJAAN

Sebenarnya pekerjaan yang Yusuf lakukan adalah sesuatu yang dipaksakan kepadanya, karena statusnya adalah budak belian. Kejadian 39:1. Tetapi keberadaan Yusuf, tingkah laku, dan sikapnya benar-benar menjadi berkat bagi tuannya. Ayat 2-6. Keberhasilan Yusuf tidak ditentukan oleh pekerjaannya, melainkan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Tentu saja kita tidak mendukung perbudakan dalam bentuk apapun. Tetapi dalam konteks ribuan tahun lalu, dengan membandingkan apa yang terjadi di Roma abad pertama, para budak adalah para pekerja. Mereka bekerja di rumah-rumah, perkebunan, kapal, dan banyak bidang pekerjaan lain sesuai kehendak tuan mereka. [5] Tentu saja kita tidak bisa samakan karyawan di zaman sekarang dengan budak di zaman kuno.

Paulus pernah menasihatkan supaya seorang tuan dihormati  supaya seorang Kristen yang bekerja untuknya tidak menjadi bahan hujatan. 1Timotius 6:1-2. Demikian kita juga mengenal sebuah ayat yang terkenal di Kolose 4:23 dimana konteks ayat itu ditujukan kepada orang-orang yang bekerja untuk tuan mereka.

PEMBENTUKAN SEORANG PEMIMPI MENJADI SEORANG PEMIMPIN

Hidup Yusuf berubah ketika ia dijebloskan ke dalam penjara karena fitnah dari istri tuannya, Potifar. Sekarang statusnya berubah dari seorang budak menjadi seorang tahanan. Tetapi di penjara, Yusuf kembali menunjukkan tingkah laku dan sikap yang terpuji. Itulah sebabnya ia mendapat kepercayaan dari kepala penjara. Kejadian 40:21-23.

Hal ini juga menunjukkan kualitas kepemimpinan Yusuf. Ia dapat memimpin dirinya, mengatur emosinya sedemikian rupa meskipun ada dalam kondisi tidak ideal. Ia mengurus dengan baik apa yang dipercayakan kepadanya dan dapat dipercaya. Hal ini sebelumnya juga ditunjukkannya di rumah Potifar. Dedikasinya kepada pekerjaan, ditambah sensitivitasnya melihat kondisi orang-orang di sekitar (Kejadian 40:6-7) membuka jalan untuk Yusuf menjadi pemberi solusi.

Solusi yang Yusuf berikan berasal dari karunia Tuhan yang ia miliki. Karunia ini tidak akan berguna bagi kebaikan Yusuf, dan bagi orang lain, kalau ia hanya menyimpannya. Penting untuk kita bisa memaksimalkan apa yang kita miliki. Kita memandang kepada suatu tujuan yaitu menyenangkan  siapapun yang menjadi atasan kita dan tidak tertahan di situasi mengasihani diri sendiri. Belajarlah dari hamba yang jahat dan malas di Matius 25:24-28.

Setelah belasan tahun dalam situasi yang tidak menyenangkan Yusuf mendapat kesempatan untuk menghadap FIraun dan menunjukkan bahwa Allah yang menolong ia selama ini dan menjadikan ia berhasil menerjemahkan mimpi. Yusuf bukanlah sumber kesuksesan, namun Tuhan yang menyertainya. Kejadian 41:16. Ini adalah titik dimana pilihan Yusuf untuk tidak menjadi putus asa, dan setia mengerjakan hal-hal kecil terbayarkan.[6]

Janji Allah melalui mimpi kepada Yusuf digenapi bukan karena Yusuf diperlakukan berbeda oleh Yakub. Tetapi karena Yusuf secara sadar melibatkan Allah dalam segala kondisi yang ia hadapi. Apakah ketika ia menjadi budak, menjadi tahanan, atau saat ia menjadi jawaban bagi Firaun, Yusuf mengembalikan segala kemuliaan bagi nama Tuhan. Saya ingin menutup bahasan kali ini dengan membaca Roma 16:25-27.


[1] David Noel Freedman, The Anchor Bible Dictionary Vol.3 (New York: Doubleday, 1992), p.976.

[2] Jack W. Hayford and Joseph Snider, Promises and Beginnings: Examining Excellence in the Creator’s Ways (Nashville: Thomas Nelson, 1997), Lesson 11 – A Savior: Joseph Betrayed.

[3] Russell Jay Hendel, “Joseph: A Biblical Approach to Dream Interpretation,” Jewish Bible Quarterly Vol.39, No.4 (2011): 237.

 [4] Hendel, 235.

[5] Zvi Yavetz, Slaves and Slavery in Ancient Rome (New Jersey: Transaction Publishers, 1991), p.1.

[6] Larry Richards, Every Man in the Bible (Nashville: T. Nelson, 1999), p.75.

Keluarga Muda: Apa kata Alkitab?

Efesus 5:31-32 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

Dalam Alkitab konsep Keluarga tidak dibedakan dengan kelompok usia, status ekonomi, atau kategori-kategori lain. Namun mungkin penggolongan yang dicatat Alkitab seperti demikian:

  • Keluarga berdasar Hubungan Darah. (Kejadian 46:27)
  • Keluarga Angkat. (2Samuel 9:11)
  • Keluarga Allah. (Efesus 2:19)

Kalau kita melihat sejenak ke Efesus 5:15-16, bahwa hari-hari ini menjadi semakin jahat. Saya percaya rekan-rekan disini benar-benar mempergunakan waktu yang ada “kawin sebelum Tuhan Yesus datang!” Hahaha.. Jokes. Namun saya rasa Paulus sangat serius ketika menulis surat ini untuk Jemaat di Efesus.

Hari-hari yang jahat kita bisa lihat sejak manusia jatuh dalam dosa, ditandai dengan rusaknya konsep keluarga. Adanya saling menyalahkan, iri hati, cemburu, emosi negatif yang keluar dalam sikap, kata-kata, bahkan dalam tindakan yang menghilangkan nyawa seseorang.

Keluarga adalah Ide Allah

Keluarga bukanlah hasil rancangan manusia. Keluarga dimulai dari Allah. Ketika Allah menciptakan manusia dan menjadikan penolong yang sepadan dengan manusia itu. Tujuannya apa? Untuk bertanggungjawab atas apa yang dipercayakan Allah (=Bumi). Kejadian 1&2.

Menarik bahwa di kitab terakhir Perjanjian Lama (=Maleakhi). Mengenai “tujuan keluarga” disampaikan kembali. Maleakhi 2:15: “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya..”

Contoh Keluarga dalam Alkitab – Musa

Musa adalah tokoh yang menarik. Sebagian besar hidupnya adalah proses. Mulai dari pendidikan di Mesir, sampai pelarian di Midian. Saat di Midian itulah dia memperistri Zipora (Keluaran 2:21). Dalam Alkitab tidak diceritakan ada benturan kepentingan antara Musa dengan Zipora (misalnya seperti kasus Abram dan Sarai di Kejadian 16:2).

Musa bahkan berhasil memenangkan mertuanya, Yitro, untuk menjadi penyembah Allah Israel. Semua cerita kesaksian Musa mengenai Allah Israel menjadi bukti nyata ketika Yitro mengunjungi Musa di Keluaran 18. Kesaksian Musa juga tergambar dari nama anak-anaknya: Gersom & Eliezer.

Nilai dalam keluarga

  1. Gersom (Keluaran 2:22, 18:3) berarti “pendatang, pengembara, orang yang datang untuk singgah.” Saya rasa ini nilai pertama yang harus sama-sama dimengerti oleh pasangan atau keluarga. Bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah “sementara”. Kita bukan warga negara dunia ini, sehingga fokus kita bukanlah membangun materi disini. Namun hal rohani di kekekalan. Matius 6:19-20. Berapa banyak rumah tangga berseteru karena hal-hal materi. Ingat kita menikah dengan orangnya bukan dengan hartanya! 1Petrus 2:11 mengingatkan dengan tegas mengenai keinginan daging. Kita hanyalah “pendatang” di bumi ini.
  • Eliezer (Keluaran 18:3) berarti “Allahku (eli) penolongku (ezer).” Bukankah ini menjadi dasar hidup kita sebagai orang percaya. Seringkali kita menggunakan Tuhan dalam pendidikan, pekerjaan, sakit penyakit, namun tidak di keluarga. Kita berpikir keluarga adalah tentang cinta dan sayang. Padahal lihatlah keluarga manusia pertama. Mereka tidak disebutkan dipersatukan karena cinta dan sayang, namun karena TUHAN. Jangan salah tangkap! Saya bukan anti-cinta, atau tidak percaya cinta. Saya suka dengan cinta. Namun saya ingin melihat dari perspektif Illahi mengenai Keluarga. Keluarga seharusnya God-centered.

Pasangan adalah penolong yang sepadan, baik secara “jasmani” dan juga “rohani”. 1Petrus 3:1-7. Pada akhirnya mereka menjadi partner untuk mewujudkan keluarga ilahi.

GodblesS

JEFF