Muliakanlah DIA.

Saya percaya kita hidup untuk satu tujuan yaitu memuliakan nama Tuhan. Karena itu kita berkumpul hari ini di Rumah Tuhan untuk maksud yang sama kita percaya kita memuliakan nama Tuhan dengan:

  • Memberikan waktu untuk beribadah.
  • Berusaha dengan harta dan usaha untuk beribadah.
  • Memuji dan menyembah Tuhan.
  • Mempersembahkan korban persembahan yaitu sebagian uang kita.
  • Berdoa di dalam nama Yesus.
  • Duduk dan mendengarkan Firman Tuhan.
  • Terlibat dalam pelayanan gerejawi.

 

Saya rasa inilah konsep kita bersama mengenai MEMULIAKAN NAMA TUHAN, bukan? Mari kita bahas satu-per-satu:

 

  1. Memberikan Waktu.

Kalau  secara umum kita pasti pernah mendengar “time is money” secara literal dalam bahasa Indonesia berarti “waktu adalah uang”. Pendapat ini sebenarnya jauh di karya klasik Yunani yang menyebut mengenai berharganya waktu. Namun menjadi terkenal karena frase “time is money” disebutkan Benjamin Franklin untuk menegur orang yang hanya bekerja setengah hari, dan kemudian bermalas-malasan. Meskipun dia tidak membuang banyak uang dengan bermalas-malasan, tetapi sebenarnya dia membuang “kesempatan” mendapat gaji sehari penuh.

 

Ini nampaknya sesuatu yang normal. Kita semua butuh uang. Namun Daud seorang yang betul-betul mengenal pahit-getir hidup berkata sebaliknya. Mazmur 84:11. Lebih baik di pelataran Tuhan, maksudnya di Rumah Tuhan, di hadirat Tuhan. Jika ini yang menjadi motivasi Anda. Berarti Anda sudah menempatkan Allah sebagai sesuatu yang BERHARGA. Anda memuliakan Tuhan dengan penggunaan waktu Anda.

 

  1. Berusaha untuk beribadah.

Di dalam Alkitab berulang kali disebutkan mengenai pembangunan mezbah dan pembangunan Rumah Tuhan yang identik dengan Ibadah itu sendiri. Saat Nuh mendapat kasih karunia Allah, disitu ia membangun mezbah dan beribadah(Kejadian 8:20). Saat Abram  mendengar janji Tuhan maka didirikannya mezbah dan beribadah (Kejadian 12:7). Selalu ada usaha untuk beribadah, bahkan Paulus meletakkan posisi ibadah lebih tinggi dari “latihan badani” (1 Timotius 4:8).

 

  1. Pujian dan Penyembahan

Setiap kali pujian dinaikkan dan penyembahan terangkat disitu kemuliaan Tuhan turun. Tuhan bersemayam diatas pujian orang-orang yang percaya. (Mazmur 22:4). Pujian dan penyembahan ini bukan suatu liturgi tetapi adalah gaya hidup. Dengan pujian dan penyembahan Anda melayani Tuhan dan melayani manusia disaat yang sama. Ini bukan keharusan melainkan kesempatan. Ingatlah tiga hal ini:

  • Pujian dan penyembahan adalah untuk (kebaikan) manusia bukan sebaliknya. (Markus 2:27).
  • Pujian dan penyembahan menyambut kuasa Kerajaan Allah. (Ulangan 31:19).
  • Pujian dan penyembahan adalah kunci untuk penginjilan. (Kisah Para Rasul 16:25).

 

  1. Mempersembahkan korban persembahan.

Karena kekayaan kita dapat menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan (Amsal 3:9). Daud pun melakukan hal yang sama dengan Bait Allah yang akan dibangun anaknya (1 Tawarikh 22:5).

 

  1. Berdoa.

Ketika Yesus berdoa di depan kubur Lazarus, apa yang dikatakannya didengar oleh orang disekitarnya “Yesus mengatakannya supaya mereka percaya.” (Yohanes 11:41-42, Ibrani 13:15).

 

  1. Mendengarkan Firman Tuhan.

Maria mengambil bagian dalam “istirahat” dihadapan Tuhan, seringkali kita berusaha untuk menjadi sibuk dan melupakan bahwa Allah yang bekerja didalam kita (Lukas 10:41-42, Matius 11:28).

 

  1. Melayani.

Ini menjadi konsekuensi unik ketika kita sudah begitu mendapat limpah Kasih pelayanan menjadi respon untuk itu. (Yohanes 12:3).

Different Perspective


All of us have different ways to see and perceive something caught by our senses. Talking about perspective, I always remember the story of Job. He has 3 friends that come over to show their sympathy upon hearing a string of bad luck happened to him. I mean now we know that those “bad luck” caused by the satan.

But let turn our focus to one of the conversations between Job and Eliphaz in Job 5. Eliphaz think that it is impossible for someone endure suffering without precede by a sin or wrongdoing. That is why at verse 1 he confronts Job, for who would be defending him.

Then in verse 2 to 7 Eliphaz saw that there is a tight causal effect between an evil act and punishment. Man could cause his own suffering. I am not in position to deny that view, even that statement is not completely a false statement.

Let’s turn to James 4:1-2 in which James explains that problems and conflicts arise from man’s desire. In more detail he writes: “…because you do not ask (pray to) God.” (NIV)

Because Eliphaz sees from different perspective, or you may say different point of view. He didn’t fully understand what happened to Job in an awful calamity. Many of you have known this saying, that different perspective produces different response.

The book of Job is an interesting piece of work. I mean it considered as a stellar work of ancient literature. But I want you to see Job’s story as a way of God telling man that: YOU KNOW NOTHING!

Psalmist once wrote a similar big story-line with Job’s story. Check Psalms 73:12-14 and look for yourself, if you can find that similarity. And if you move further to verse 17, this is what our theme talking about, it wrote “…till I entered the sanctuary of God; then I understood their final destiny.” (NIV)

What kind of experience that you have? Jesus the Savior of the world oftentimes misunderstood by many of His followers because they see things differently. And as the sermon at Good Friday Service, we have heard that many people questioned His choice to suffer and die. Certainly, you can’t understand that if you put your human common sense.

As you know, His love is extraordinary, the extravagant love, the “so love” kind of love. You can only see His view if you enter His sanctuary and put God’s “glasses” on you. Your perspective will determine your response.

MENJADI SEMPURNA

Selamat datang jemaat Tuhan yang diberkati, senang sekali kita bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan kita sebagai Tubuh Kristus. Silakan puji rekan sebelah kiri-kanan Anda, karena dengan demikian Anda sedang memuji “anggota Tubuh Kristus”.

Sekarang kalau Anda perhatikan siapa yang ada di sekitar Anda, menurut Anda apakah sosok yang di dekat Anda itu sempurna? Banyak dari Anda akan menjawab tentu tidak, “tiada gading yang tak retak”, tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, cela, dan kesalahan. Sebuah artikel di Kompas.com menuliskan bahwa ada penjelasan ilmiah mengapa “sisi kiri wajah manusia lebih bagus untuk selfie”. Tetapi “lebih bagus” bukan berarti “sempurna”, selalu akan ada celah untuk melihat “ketidaksempurnaan” seseorang.

Demikian juga kita harus mengerti ini dalam perjalanan kehidupan ini. Anda tidak bisa berharap bahwa segala sesuatunya berjalan sempurna. Selalu akan ada hal yang kita berharap tidak terjadi. Kematian, kecacatan, penyakit, kehilangan, penurunan, semua hal ini akan terjadi. Tetapi ini yang menjadi penghiburan bagi orang percaya, bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan”. Kejadian 50:20. Kata “mereka-rekakan” dalam Bahasa aslinya berarti dipikirkan atau direncanakan.

Tuhan bekerja dalam hal-hal yang bagi manusia nampaknya acak, tetapi sebenarnya IA punya rencana. Abram dibawa Tuhan dalam perjalanan yang tidak pernah disangkanya. Allah memanggil ia keluar dari rumah ayahnya. Abram ini adalah keturunan Sem, dan di salah satu daftar silsilah di Kejadian 11, ada nama Eber dituliskan, yang membuat keturunannya juga dikenal sebagai orang Ibrani. Allah menjanjikan sesuatu yang besar bagi Abram, yang nantinya akan menjadi Abraham, itu tercatat di Kejadian 12:1-3.

Tetapi sekali lagi, dalam perjalanan menuju penggenapan janji Tuhan itu, ia harus menghadapi keadaan yang jauh dari sempurna. Dia semakin menua namun janji keturunan itu tidak kunjung digenapi. Ia sempat bimbang, sempat “didiamkan” oleh Tuhan, bahkan Tuhan datang untuk menegaskan kembali janjiNYA pada Abram. Saat itulah namanya “bukan lagi Abram, melainkan Abraham”. Kejadian 17:5.

Apakah setelah itu keadaan menjadi serba sempurna, tidak. Dia masih harus menghadapi kenyataan bahwa keponakannya akan binasa, karena itu ia bersyafaat untuk tempat tinggal keponakannya itu. Lalu ia kembali lagi mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya, “berbohong tentang istrinya” kepada raja daerah tempat ia menetap. Kejadian 12:13, Kejadian 20:2.

Apa yang terjadi dalam hidup Abraham, bisa jadi adalah pengalaman pribadi kita:

  1. Ingatkah Anda ketika pertama kali Anda diselamatkan? Saya sering mendengar kesaksian yang menarik, mulai dari membaca Alkitab, mendengar kesaksian, pengalaman mujizat, mengamati orang ke Gereja, dan banyak kisah lain. Rasul Paulus mengingatkan jemaat mengenai ini 1Korintus 1:26-29.
  2. Berapa hal yang menjadi janji Tuhan, tetapi belum Anda alami sekarang? Kita berharap segala sesuatunya menjadi sempurna saat kita mengikut Yesus, tetapi seringkali bukan itu yang terjadi. Kadang Allah seperti meninggalkan kita. Tetapi itu dilakukannya untuk mengetahui isi hati kita. Apakah kita tetap setia. 2Tawarikh 32:31. Rasul Paulus sendiri mengalami hal ini ketika ia meminta “duri dalam daging” diambil dari dirinya, apa jawab Tuhan kepadanya: 2Korintus 12:9.
  3. Sadarkah bahwa Anda masih hidup dalam tubuh dan dunia yang tidak sempurna? Abraham melakukan kesalahan, ia bukan contoh ideal bagi kita. Tetapi lihat apa yang Tuhan perhitungkan: Kejadian 15:6. Ingatkah kita apa yang Tuhan cari ketika IA datang? Lukas 18:8. Tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan semua hal yang lain: pengharapan, kasih, ketekunan, disiplin rohani, keberanian, ketertiban.

Hidup kita ini begitu penuh warna, tidak ada yang bisa memastikan semua akan berjalan sesuai dengan kehendak kita. Karena keberadaan kita di dunia adalah karena kehendakNYA. Terkadang ada hal-hal yang Allah ubah, Allah geser, Allah acak, dan kita berteriak kepada Tuhan: MENGAPA YA TUHAN?

Kuncinya adalah bertekun, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit…” Kolose 1:23.

Lalu Paulus melanjutkan untuk apa kita bertekun? Karena “kepada mereka, Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kolose 1:27.

Nantikanlah sentuhan akhir Allah yang menjadikan kita sempurna.

GodblesS

JEFF

INTIMACY WITH GOD.

What a wonderful day in the House of God. I am glad to have a chance to be here among my fellow believers in Christ. As we all know, God wants to connect with you in a new way through Jesus Christ. That’s why we have to connect to Him, and build an intimacy with Him.

Intimacy with God is begin by connecting to Him. John 15:4-5.

Connecting with God – how can we connect with Him? And why sometimes we don’t feel close with God?

The reason we want to connect with God is because we are disconnected with God. The Fall of Man: we were connected, full of glory of God, but in Genesis 3, all changed. The reason of that fall was when we put our mind in the wrong choice (we have plenty of choices, but why we choose the few – tree of knowledge of good and evil, and forget other trees).

Again about human thinking, if we think about sin all the time we are feeding sin to our mind. God says that the ultimate gap between him and us is our sin. Isaiah 59:2. And that sin comes when you start questioning God in your mind and from that it will go further to disobedience. Genesis 3:1-6.

Let us read one more time our theme verse in John 15. Like a tree, in order to keep alive and be fruitful, a branch has to be connected with the trunk. This will explain my next sentence. Because we are disconnected we feel dry, empty, and try to fill that with 3L (luxury, lust, love) or 3G (gold, glory, guys/girls) that the world offers. It’s all useless. Let me bring you to Bible Story, where the longest conversation between Jesus and other person was recorded. It’s a story of Samaritan woman. John 4.

This Samaritan woman who met with Jesus near Jacob’s well, she was disconnected from society. Jesus warned her in John 4:13-14 You will thirsty again if you drink from this earth. Jesus continued, but if you ask living water (verse 10) you won’t be thirsty again. Living water here have two meanings, “springing water” and “eternal life, salvation.”

We need Salvation to reconnect, to be alive. We thought salvation prayer only for a non-believer, but we also have to recite it, understand it.

What are parts of salvation prayer?

  • Proclaim Jesus as God. Verse 29. Say it loud! Romans 10:10.
  • Admit our faults and wrong ways. Verse 39. We know we are imperfect, perfected in Christ, this is a sign of total surrender, don’t cover it with your self-righteousness. 1John 1:9.
  • Present (give up your life for God’s cause – Romans 12:1) & Repent (the word metanoia means we renew our mind deliberately, we are not helpless person occupied by external, but internally empowered by the Spirit – Romans 12:2). In Hebrews 4:12 the author of Hebrews said the Word of God could separate (discern) the will and heart of man – As we know the Word is the sword of Spirit (Ephesians 6:17). Later on 1Corinthians 12:10 one of the gifts of the Spirit is to discern different spirits.
  • Believe (leave your burden, do not carry that again). Matthew 11:28.

When you pray that prayer, that is when you are really connecting with God, you build your intimacy with God. It’s not how frequent you put yourself around Jesus (don’t follow the Pharisees, who’s around but didn’t have the intimacy). But how well you want to know Him, when you hear His voice, the good news.

GodblesS

JEFF

AYAH

Puji Tuhan, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Ayat-ayat ini beberapa kali dikutip oleh Hamba Tuhan di awal penyampaian Firman:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Tetapi hari ini saya ingin membuka penyampaian Firman dengan mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja Tuhan, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Ketika seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya, itu adalah sesuatu yang spesial. Saya percaya ini relevan bagi Anda yang belum, akan, dan sudah menikah. Termasuk juga bagi mereka yang belum, akan dan sudah memiliki anak. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

 

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

 

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

 

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

 

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

 

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

 

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 

GodblesS

JEFF