PREPARE FOR THE FUTURE (Persiapan untuk Masa Depan)

Apa kabar Youth Mahanaim? What’s up? (Katanya anak-anak YouTube). HOF dan Crossover adalah orang-orang muda yang luar biasa. Saya percaya Anda semua bisa terus bertahan di tengah pandemi ini karena dikatakan “…ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:4). Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memiliki pengharapan. Tanpa itu, tidak peduli sekaya, semenarik, dan seberbakat apapun Anda, Anda akan hancur.

Saya menyampaikan sharing kali ini di tengah isu kesehatan, ekonomi global termasuk di Indonesia. Bahkan kalau di Amerika Serikat ini ditambah isu sosial yang begitu menonjol dengan adanya kerusuhan dan penjarahan. Pesan saya, jangan terlalu banyak dengarkan media, karena mereka terus menerus dirancang untuk meneror kita dengan hal-hal yang negatif. Bukan berarti kita harus tutup mata – tutup telinga dengan berita terkini. Tapi kemarin saya dengar satu pernyataan yang menarik mengutip seorang teolog terkenal bernama Karl Barth, “lihatlah berita (dari media massa) dengan kacamata Alkitab”.

Saya ingat saya pernah sampaikan ilustrasi dari Ps.Joseph Prince di Ibadah Raya beberapa waktu lalu. Ilustrasi itu tentang seorang nenek yang tinggal di lahan proyek yang besar. Ia tinggal di satu-satunya rumah yang tersisa di lahan itu. Pemilik proyek pernah mampir ke rumahnya dan meninggalkan kartu nama perusahaan itu sambal memberi jaminan, “Nek, saya sedang siapkan rumah yang jauh lebih baik dari ini, ketika sudah jadi, saya sendiri yang akan jemput nenek pindah ke sana.” Karena jaminan ini maka apapun yang terjadi di lahan proyek itu tidak menakutkan bagi sang nenek. Buldozer, teriakan tukang, suara bising, tidak membuatnya takut, karena dia punya jaminan, yang perlu dia lakukan bertekun dalam pengharapan.

Demikian juga kita sekarang, berita-berita selalu ditulis dengan motif tertentu untuk membuat suatu kejadian jadi lebih mengerikan. Tetapi percaya sama suara Yesus yang berkata, “…Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:3). Selama Anda fokus sama Yesus, Anda berjalan diatas masalah, ketika Anda fokus pada masalah, Anda tenggelam dalam masalah. (Matius 14:29-31). Mari ditengah-tengah semua yang terjadi hari ini kita mulai arahkan diri ke masa depan, dan bagaimana kita mempersiapkan masa depan.

Ketika saya menuliskan “Persiapan untuk Masa Depan” yang pertama terbersit ada 2 nama tokoh di Indonesia. Kesamaan dari keduanya adalah sama-sama terkenal, kemudian sama-sama kontroversial, dan yang terakhir mereka sama-sama sudah meninggal. Bisa menebak? Mungkin nama pertama untuk Youth Mahanaim tidak terlalu familiar. Beliau Pdt.J.E.Awondatu salah satu pemimpin di denominasi GPdI, dan pencipta lagu rohani, salah satu yang paling terkenal dan beberapa kali dinyanyikan di Ibadah Raya adalah “El-Shaddai”. Nama kedua mungkin Anda lebih familiar, Glenn Fredly, tidak ada hubungannya dengan GPdI, tapi dia salah satu penyanyi pria terbaik Indonesia, dan juga adalah pencipta lagu.

Apa hubungan mereka dengan masa depan? Pdt.J.E.Awondatu pernah berkhotbah dengan judul “Kembali ke Masa Depan” bahkan saya masih menyimpan catatan khotbahnya. Glenn Fredly menciptakan lagu dengan judul “Romansa ke Masa Depan” menariknya salah satu bagian liriknya berkata “Semuanya kembali ke masa depan.” Saya tahu untuk anak K-Pop Anda lebih tahu “Sour Candy” Lady Gaga featuring Blackpink atau “More & More” Twice. Tapi maksud saya, bahasan tentang masa depan adalah sesuatu yang menarik untuk dibahas. Bagi kita itu bukan saja menarik, tetapi penting.

Saya melihat persiapan masa depan itu sama seperti sebuah persiapan perjalanan. Ada 4 hal yang ada di pikiran saat akan melakukan perjalanan:

  • Tujuan
  • Waktu
  • Kendaraan
  • Bawaan.

Contohnya ketika pandemi berakhir Anda mempersiapkan perjalanan, tujuannya ke Yogyakarta misalnya. Anda ingin berangkat hari Minggu sesudah Ibadah, dan pulang hari Sabtu berikutnya, jadi total 6 hari disana. Anda akan naik kereta dari Cirebon, jadi harus beli 2 tiket perjalanan, pertama ke Cirebon, terus ke Yogyakarta. Barang bawaannya tas ransel saja dengan isi yang minimalis. Itu persiapan perjalanan Anda ke Yogyakarta, tetapi bagaimana dengan persiapan “perjalanan ke masa depan”? Mari kita bahas hal ini satu per satu.

TUJUAN. Ini berhubungan dengan nilai hidup Anda. Kalau Anda melihat hidup sebagai sesuatu yang bernilai maka Anda akan bertanya, “Apa yang didapat dengan mencapai tujuan itu?” Hidup ini punya beragam tujuan, dan kadang untuk anak muda itu bisa jadi membingungkan jika kita tidak punya pegangan untuk itu. Anak-anak HOF bertanya untuk apa Sekolah? Sedangkan anak-anak Crossover bertanya untuk apa bekerja keras? Ini adalah pertanyaan yang nampaknya biasa tetapi sekali lagi kalau tidak ada pedomannya akan membingungkan dan pada beberapa kasus menjadi fatal, karena salah nilai, salah tujuan.

Rasul Paulus pernah menuliskan dalam 1Korintus 9:23-26 tentang tujuan ia melakukan pelayanannya, yaitu untuk mengambil bagian dalam Injil, atau kabar baik. Dia kemudian memberi ilustrasi mengenai hidup ini seperti pertandingan olahraga. Semua atlet berdisiplin dan berlatih untuk meraih prestasi yang sementara. Bagi kita disiplin dan latihan itu juga diperlukan untuk mendapat hadiah yang kekal, dalam Kerajaan Surga. Jadi apapun yang Anda lakukan sekarang di tempat belajar, di tempat kerja, dan tempat pelayanan. Lihatlah itu sebagai nilai tambah yang akan Anda pakai untuk menyebarkan kabar baik. Ketika Anda menaruh tujuan Anda sebagai siswa/i, mahasiswa/i, karyawan/ti. pengusaha kecil/besar, pendeta, atlet, musisi, pegawai negeri, politisi, YouTuber apapun itu. Ingat Anda butuh disiplin dan latihan, tujuan akhirnya adalah membawa kabar baik, bukan sekedar sensasi yang malah memalukan, yang “tanpa tujuan” dan “sembarangan” (ayat 26). 

Kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus menuliskan tentang hidup dengan tujuan yang benar, dimulai dengan pengenalan akan Allah. (Efesus 4:17-19). Mengapa ini penting? Karena mereka yang tidak mengenal Allah pikirannya penuh kesia-siaan. Saya sedang belajar tentang budaya post-modernisme, ini adalah budaya yang banyak dihidupi oleh orang-orang di zaman sekarang. Mereka menolak Allah, mengandalkan perasaan (itu kenapa begitu banyak ke-“baper”-an” sekarang), dan mendefinisikan kebebasan adalah ketika seseorang mengikuti dorongan hatinya. Ini masalah besar, ketika hatinya dikuasai hawa nafsu. Salah satu penandanya adalah pemikiran “yang penting aku senang.”

WAKTU. Ini berhubungan dengan kesempatan yang Anda punya. Anda akan bertanya, “Kapan waktunya?” Karena Anda tidak akan hidup selamanya. Anda tidak akan selamanya berseragam putih biru atau putih abu-abu. Anda tidak akan selamanya jadi Remaja dan Pemuda. Sehingga mempertimbangkan waktu ini sungguh penting. Terlebih kita tidak pernah tahu apakah kita akan terus hidup sampai usia 70 atau 100 tahun. Semua tergantung pilihan kita di waktu sekarang. Pertama kali saya memiliki pengalaman seorang teman sebaya yang saya kenal meninggal itu saat saya SMA, ia meninggal karena pilihannya untuk mengebut di jalan dengan sepeda motornya. Bukan saya ingin menakut-nakuti Anda yang naik sepeda motor. Tetapi pilihan seseorang memengaruhi kelangsungan hidupnya. Apakah Anda mempergunakan kesempatan yang diberikan sekarang?

Pemazmur menuliskan doanya di Mazmur 90:12 supaya ia diajar menghitung hari-harinya sedemikian rupa supaya ia bisa punya pikiran yang bijak. Ketika saya di antara Staf Mahanaim, saya pernah sampaikan hal teknis mengenai ini, untuk bisa menganalisa, apa yang saya lakukan dalam 24 jam. Ini dimaksudkan supaya saya bisa menjadi bijaksana mengelola waktu yang tidak bisa diulang.

(Anda bisa mengunduh file excel untuk mencoba mencatat dan menganalisa jam-jam yang Anda habiskan dalam seminggu, hanya dengan klik tautan berikut ini: Manajemen Waktu).

Ada yang pernah berkata buatlah rencana seperti Anda masih bisa hidup lama, tetapi bekerjalah seperti ini adalah hari terakhir dihidupmu. Tentu saja ini bisa mengundang respon ekstrim bagi pencari sensasi, karena ini adalah “hari terakhir” mari kita habiskan uang kita hari ini. Penulis surat Ibrani mengingatkan untuk orang-orang yang mencari kesenangan sesaat, bahwa ketika kesempatan itu hilang, maka sekalipun kamu menangis sejadi-jadinya, kesempatan itu tidak akan diberikan lagi. (Ibrani 12:16-17).

KENDARAAN. Ini berhubungan dengan cara dan “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Anda bertanya“Bagaimana caranya?” Selalu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Ada yang karena bayarannya terlalu besar, akhirnya malah merugi, ada yang karena tidak mau bayar harga, tidak mencapai apa-apa. Contoh sederhana seseorang yang begitu ingin menjadi terkenal membayar “keterkenalannya” dengan merelakan keyakinannya kepada Yesus “dijual”, dengan begitu kehilangan keselamatannya. Pada kisah lain ada seseorang yang tidak mau berusaha untuk mengerjakan sesuatu yang sederhana dan menantikan orang lain berbelas kasih melakukan sesuatu untuk dirinya.

Rasul Petrus menuliskan bahwa orang yang rendah hati akan ditinggikan Tuhan pada waktunya dan Allah akan memelihara mereka yang menyerahkan kekuatirannya pada Tuhan. (1Petrus 5:6-7). Ini bukan berarti kita tidak berusaha. Allah memberikan kepada kita akal budi untuk berpikir, melakukan perhitungan dan membuat rancangan. (Lukas 14:28). Apa yang Anda lakukan di kelas sekarang? Apa rencana Anda di posisi atau jabatan Anda sekarang? Apakah keputusan Anda akan mendekatkan Anda pada tujuan yang Anda percaya datang dari Tuhan?

BAWAAN. Ini berhubungan dengan hidup yang efektif dan efisien, dimana Anda bertanya, “Berapa banyak yang harus dibawa?” Untuk mencapai masa depan, Anda akan kerepotan jika terus menerus membawa terlalu banyak barang, tetapi juga tidak bisa menjadi efektif jika terlalu sedikit membawa barang. Mari saya jelaskan sebentar, yang dimaksud dengan efektif adalah tepat sasaran, “barang” yang Anda bawa akan berguna untuk mencapai sasaran Anda. Pernah tidak Anda pergi ke suatu tempat dan tas Anda begitu banyak, tetapi ternyata yang dipakai hanya beberapa barang saja. Kemudian yang dimaksud efisien adalah tepat ukuran, “barang” itu tidak terlalu membebani Anda karena barang tersebut tidak terlalu besar atau berat.

Nabi Yesaya menuliskan janji Tuhan akan suatu masa dimana keselamatan datang dan mengubah segalanya menjadi baru. (Yesaya 65:17). Ini terjadi di tengah hilangnya harapan Israel dalam pembuangan karena kesalahan mereka. Namun untuk yang baru di masa depan, yang lalu harus dilupakan. Apa masa lalu yang masih menghantui kita? Latar belakang Keluarga, pilihan-pilihan yang salah, kemarahan akan ketidakadilan yang terjadi pada diri kita? Kalau kita bawa ini ke masa depan, hidup kita tidak akan efektif. Kita terbelenggu dengan pikiran akan masa lalu.

Lalu bagaimana membuat “barang bawaan” kita efektif dan efisien? Sekali lagi Anda harus percaya bahwa masa lalu memang mencetak Anda, tetapi masa depan dicetak oleh keputusan Anda sekarang. Jadi ambillah nilai-nilai baik dari masa lalu Anda, segala yang tidak berguna dan negatif, tinggalkan. Hidup dengan apa yang ada ditanganmu, bukan apa yang tidak ada, atau yang terkenal dengan halusinasi. Kisah Ester menginspirasi kita, bahwa dia tidak mengingat bahwa ia adalah seorang yatim piatu, dan bagian dari komunitas minoritas (orang buangan di negeri Persia). Dia tetap berpegang pada nilai yang baik (taat kepada Mordekhai, pengasuhnya – Ester 2:7, 20) dan tetap berusaha melakukan yang baik sekalipun status sosialnya sudah tinggi (Ester 4:14-16).

Kisah Ester seketika mengingatkan saya pada kisah seorang buangan lain yang berulang-ulang mengalami sakit hati, dikecewakan, dan dilupakan namun ia tidak sekalipun menyalahkan Tuhan ataupun orang-orang yang menyakitinya itu. Ia melakukan perjalanan ke masa depan dengan Tuhan dengan mengucapkan kata-kata yang begitu inspiratif dan memberi harapan, “…kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:20).

Anda mungkin marah dengan orang tua yang melahirkanmu, marah dengan kondisi ekonomi keluargamu, marah dengan sistem pendidikan, dengan bosmu, dengan karyawanmu. Atau marah dengan situasi kondisi sekarang yang serba tidak menentu. Tetapi ingat Tuhan tidak pernah merancangkan itu semua, kita mengerti pihak yang suka mencuri, membunuh dan membinasakan adalah iblis. (Yohanes 10:10). Tuhan ingin masa depan yang indah dan berkelimpahan, karena itu tentukan tujuan yang benar, gunakan kendaraan yang tepat, jangan buang waktu, dan tinggalkan bawaan yang tidak perlu. Bersiaplah menuju masa depan.

GodblesS

JEFF

B-DRAMA

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih di dalam nama Tuhan. Sungguh hari-hari, atau minggu-minggu, atau bahkan bulan-bulan terakhir ini begitu banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi, pekerjaan atau pelayanan, dan bahkan di kehidupan sosial-bermasyarakat-bernegara kita.

Begitulah hidup berjalan kadang ada hal-hal yang di luar kuasa kita. Ini seperti apa yang dituliskan oleh nabi Yeremia di Yeremia 10:23. Sehingga apa yang terjadi dalam hidup kita mungkin sekali terjadi di luar ekspektasi kita. Apakah ada disini yang ekspektasinya menikahi Miss Universe tetapi pada akhirnya menikah dengan Miss Understanding? Itu Bahasa belandanya “Mislukt” artinya “failed”, tidak sesuai dengan yang kita mau.

Begitu banyak drama terjadi di hidup kita bukan? Baik secara pribadi kita rasakan, atau sesuatu yang kita saksikan terjadi di depan mata kita. Inilah yang mendorong saya mengambil tema “B-DRAMA”. Ini bukan K-Drama, atau telenovela, juga bukan Bollywood Drama. B-Drama yang saya maksud adalah Biblical Drama.

Tahukah Anda bahwa Alkitab kita itu seperti TV Portabel. Semua drama ada dan tercatat di Alkitab. Bayangkan dimulai dengan kisah ajaib seperti “magic” , dari tidak ada menjadi ada. Kejadian 1. Kemudian ada drama romantis pertama yang dikenal manusia, drama Adam & Hawa. Kejadian 2:18-24.

Kalau saya boleh “breakdown” sedikit tentang Kejadian 2:18-24, Anda bisa belajar tentang konsep mencari pasangan, baik Anda pria atau wanita.

  1. Pasangan itu bukan tujuan pertama hidup kita. Mengerti mengenai ini akan menghindarkan Anda menghabiskan hidup menyesali yang sudah lewat, bahkan melukai diri sendiri karena seseorang yang Anda anggap “belahan jiwa” Anda. Tujuan pertama Anda adalah menikmati yang Tuhan sudah beri, ayat 16 sambil menjaga diri tidak melanggar ketetapan-ketetapanNYA, ayat 17.
  2. Akan ada waktunya ketika Tuhan mengingatkan Anda, “tidak baik kalau manusia seorang diri saja…,” ayat 18. Inisiatifnya dari Tuhan, bukan dari Anda, atau dari lingkungan Anda.
  3. Allah pertama bergerak, kemudian baru Anda bergerak, ayat 19. Jadi ada usaha Anda, tetapi kemudian preferensi itu ada di dalam diri Adam, ayat 20. Tidak ada istilah bukan jodoh, semua adalah preferensi untuk berkomitmen. Ingat tentang segitiga: “PassionCompassionCommitment.”
  4. Ada waktu dimana Tuhan bawa pasangan Anda di hadapan Anda dan Anda berkata “Ini dia…,” ayat 21-23. Saya percaya itu kembali lagi ke preferensi, dan tentu saja konsekuensi ada di tangan Anda. Jangan ulangi kesalahan Adam yang melempar kesalahan di Kejadian 3:12.
  5. Menjadi pasangan berarti menjadi independen, tetapi bukan berarti arogan. Kejadian 2:24. Anda akan meninggalkan orang tua Anda, orang tua Anda juga harus berani memberi kepercayaan pada anak Anda yang sekarang sudah dewasa.

Baiklah cukup tentang drama Adam dan Hawa, ada drama apalagi di Alkitab? Saya sampaikan ini supaya Anda punya opini berbeda tentang Alkitab. Apalagi kita terus berusaha untuk “bertumbuh lewat pengetahuan (Firman)”.

Berikut kisah-kisah drama dalam Alkitab:

  • Pembangunan proyek monumental. Kejadian 11:1-9.
  • Pengejaran (86) dari seorang pemimpin yang labil. Keluaran 14:1-31.
  • Perselingkuhan dan pengkhianatan. 2Samuel 11:1-27.

(Sebelum poin berikut penting untuk melihat dan belajar dari sikap Daud meresponi kesalahannya di 2Samuel 12:13-25.

  • Pengorbanan yang tidak masuk akal. Matius 26, Yohanes 12 (minyak yang mahal), 1Petrus 1:19.

Seluruh ketidak mampuan manusia untuk menebak itu, yang membuat kita membutuhkan Tuhan lebih dari DIA membutuhkan kita. Saya akan menutup B-Drama ini dengan kisah Yusuf di Kejadian 37, 39-41 dan bagaimana ia menutup seluruh kitab Kejadian dengan ayat yang begitu menggetarkan saya sampai sekarang. Kejadian 50:20. Saya rasa ini pesan Allah untuk Anda di masa-masa seperti sekarang.

Ada satu bagian lirik pujian yang begitu memberkati saya tentang pujian kepada Allah di tengah ketidakmampuan kita untuk menebak perubahan di sekitar kita:

Reff
Mari Puji Tuhan Hai Jiwaku
Sembah Dia yang Kudus
Dengan Segnap Hati, Jiwaku
Sembah Dia Yang Kudus
Verse 1
Hari Baru TerangMu Bersinar
Saat Naikan Pujian
Yang Kan Berlalu Dan Yang
Harus Kuhadapi
Biarlah tetap kupuji NamaMu
Verse 2
Penuh Kasih dan Kau Panjang Sabar
Kau Mulia, Namamu Besar
Semua Kebaikanmu Kan Kunyanyikan
Ribuan Alasan Tuk MemujiMu
Verse 3
Saat Lemah Hilang Kekuatanku
Tiba Saat Akhir Hidupku
Tetap Jiwaku Memuji NamaMu
Ribuan Tahun Bahkan Selamannya

PENGHARAPAN TELAH DATANG

Anda pernah mendengar program televisi “Akhirnya Datang Juga”? Coba lihat video ini.

Seorang tamu diberikan kostum dari tim yang ada di belakang panggung untuk kemudian masuk ke dalam suatu set lokasi dimana sudah menunggu aktor/aktris yang kemudian berkata: “Akhirnya datang juga!”

Menariknya si tamu tidak diberitahu sebelumnya bahwa ada skenario yang tidak terduga yang harus direspon oleh tamu tersebut dengan cepat. Sehingga kadang-kadang ekspektasi tamu bisa buyar karena ternyata set lokasi dan aktor/aktris yang sudah disiapkan berbeda jauh dengan ekspektasi tamu.

“Ekspektasi” inilah yang disebut sebagai pengharapan. Tentu saja suatu pengharapan adalah sesuatu yang kita harapkan terjadi. Tetapi lihatlah betapa dekatnya pengharapan dengan kekecewaan. Kekecewaan adalah jarak antara pengharapan (ekspektasi) dengan realita.

Tetapi ketika pengharapan itu datang dalam bentuk yang tak pernah gagal, yang FirmanNYA “Ya” dan “Amen” tentu saja akan mendatangkan sukacita. Itulah kenapa kedatangan Yesus sering disandingkan dengan kata “sukacita” karena memang pengharapan dunia akan keselamatan lahir di tengah-tengah (realita) dunia. Roma 15:13.

Ekspektasi/pengharapan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak bisa dilihat. Roma 8:24. Tetapi setelah mengenal DIA, pengharapan itu kemudian terfokus pada DIA dan apa yang dijanjikanNYA. Kita belum melihatnya, itulah kenapa kita bertekun sampai itu menjadi nyata di hidup kita.

Coba baca hubungan antara iman dan harapan di Ibrani 11:1. Saya rasa ini harus menjadi dasar kita, bahwa keselamatan, yang sekarang kita dapatkan karena kedatangan Yesus, kedatangan yang membawa pengharapan, bukanlah karena level sosial kita atau hal lainnya. Tetapi karena percaya! Mengapa?  Karena engkau diselamatkan karena iman. Efesus 2:8.

Cara percaya yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah. “Ilustrasi seorang yang berhutang”. Itulah kenapa Yesus menegur murid-murid dalam Matius 4:40, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Saat itu mereka membangunkan Yesus di perahu. Bahkan Paulus juga menegaskan pertobatan adalah perubahan “sistem pengetahuan” yang memimpin pada percaya. Roma 12:2. Contohnya ketika kita percaya dimana-mana ada setan maka itu memengaruhi tindakan kita.

Demikian juga ketika kita melihat apa yang terjadi ketika Yesus datang di dunia lebih dari 2000 tahun yang lalu. Semua dimulai dari percaya. Kita melihat keberadaan Yesus di antara manusia dimulai dan diakhiri dengan tanda-tanda ajaib. DIA datang dengan kisah seorang wanita muda yang mengandung dari Roh Kudus (itu ajaib kan, karena normalnya dari benih laki-laki). Matius 1:18. DIA adalah jawaban dari pengharapan Israel. Demikan juga DIA pergi terangkat di awan-awan (jauh sebelum ada pesawat terbang & helikopter). Kisah 1:9. Dengan cara yang sama kita punya pengharapan akan pengangkatan.

Yesus berkata dalam Matius 6:33, “carilah dahulu kerajaan dan kebenaranNYA…” Anda tidak membeli beras untuk mendapat gelas cantik kan? Membeli handphone untuk sebuah payung? Pengharapan kita sudah dating 2000 tahun yang lalu. Sekarang semakin jelas bahwa kita butuh berpegang erat pada pengharapan itu. Tanpa pengharapan tidak ada masa depan.

GodblesS

JEFF

Sudah Selesai

For every beginning has an end.”

Untuk segala sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf alphabetical yang biasa kita kenal).


Misalnya saja dalam rangkaian minggu penciptaan yang tertulis di Kejadian 1. Ada awal dan ada akhir dari rangkaian itu, yang akhir kita sebut sebagai hari Sabat. Pada masa Perjanjian Lama ini adalah hari Sabtu, dan sekarang di masa Perjanjian Baru itu adalah hari Minggu.


Ketika bicara tentang awal penciptaan banyak “orang-orang pintar semacam ilmuwan” yang tidak percaya dan berusaha membuktikan sebaliknya. Ada yang disebut “partikel tuhan” atau secara ilmiah mereka menyebutnya “Higgs boson” dan secara singkat itu adalah partikel yang menyusun segala sesuatu benda di dunia. Tetapi pastilah mereka akan gagal karena mereka sudah menutup mata mereka bahwa Allah adalah yang pertama dan pencipta segalanya. Segala sesuatu juga akan berakhir olehNYA.


Kita mengatakan “It is done” ketika kita sudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan “it is finished”. Done atau finished itu sinonim dengan kata-kata dalam bahasa Inggris: complete, perfect, good. Semua definisi yang saya sebutkan di kalimat terakhir itu menariknya tergambar dalam 3 ayat-ayat yang berurutan di Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1-2.

Good.

– Kejadian 1:31.

Finished.

– Kejadian 2:1.

Complete.

– Kejadian 2:2.


Apa makna dari yang tertulis di lembar pertama Alkitab kita ini?


Allah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang final, sehingga kita bisa berkata bahwa teori evolusi itu tidak Alkitabiah.
Kita, manusia, ciptaan Allah, adalah ciptaan yang sempurna (Kejadian 1:27) dan kita diciptakan untuk suatu tujuan (ayat 28).
Karena itulah bahkan ketika manusia jatuh, Allah langsung merencanakan penebusan. Kejadian 3:15.


Manusia berharga di mata Tuhan, bahkan bagi mereka yang dipilih dan dipanggil dalam rencana Allah (seperti bangsa Israel dan juga bagi kita Israel Rohani) Allah mengatakan bahwa kita: “berharga di mataNYA, mulia, dikasihi, dan mendapat jaminan perlindungan. Yesaya 43:4.

You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

Kembali pada ibadah kita, mungkin ada pertanyaan mendasar, mengapa Yesus harus berkorban? Gembala Jemaat GPdI Mahanaim di Tegal pernah menyampaikan hal ini, dengan analogi cerita perumpamaan Yesus di Lukas 10:25-37.

Sejak kejatuhan manusia, manusia ditentukan untuk mati. Kita lahir untuk mati! Iblis mendapat kesempatan untuk merampok kita habis-habisan. Keunggulan, keistimewaan dan kemuliaan manusia mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika tidak ada juruselamat, maka kita pasti mati. Mati disini baik secara:

  • Jasmani. Maksudnya dengan makin singkatnya waktu hidup, dari Kejadian 6:3 (sampai dengan 120 tahun) hingga Mazmur 90:10 (hanya 70 sampai 80 tahun saja).
  • Rohani (masuk di dalamnya aspek Jiwa juga). Maksudnya ketika manusia menjadi fasik (jahat) maka ujung jalannya adalah kebinasaan. Mazmur 1:6.

Untuk menjadi juruselamat dunia, Yesus harus mati! Mengapa? Untuk menggantikan kita yang harusnya mati. DIA mati supaya kita hidup. Gambarannya adalah seperti korban di Perjanjian Lama (Imamat 16:34) perlu dikorbankan setiap tahun untuk pendamaian. Namun itu semua digenapi dengan korbanNYA yang menjadi penanda suatu Perjanjian Baru. Korban yang sempurna, sekali untuk selamanya. Ibrani 9:28.

Jadi ketika Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30) berarti misinya sudah selesai, dosa tidak lagi “menjajah” hati manusia. Penghukuman yaitu maut yang diakibatkan dosa tidak lagi jadi bagian kita. Roma 8:1-2.

Sekarang, bagaimana dengan dirimu?
– Apakah dirimu masih dipenuhi rasa bersalah?
– Apakah kamu masih belum bisa lepas dari perbuatan dosa?
– Apakah kamu masih berhubungan dengan roh-roh lain yang mengikatmu?
– Apakah kamu masih sementara mencari kebenaran?
– Apa yang bisa Yesus tawarkan kepadamu hari ini adalah, apakah kamu mau percaya?

Ketika Yesus berkata “sudah selesai” berarti iblis sudah tidak bisa menuntut kita lagi. Hukuman itu dilalukan (Passover/Pesakh/Paskah) dari kita ketika kita di dalam Yesus. Bagaimana bisa kita hidup di dalam Yesus? Apakah itu berarti tinggal di dalam gereja? Bukan, ketika kita hidup di dalam Yesus artinya:

  • Percaya. Yohanes 3:18. DIA sudah memberikan fasilitas untuk kita bisa menjadi utuh (complete) dan baik (good), setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
  • Hidup benar. Yohanes 3:21. Berarti hidup menghindari dosa. Ingat Yesus menjadi dosa bukan karena DIA berdosa. Demikian kita dibenarkan bukan karena kita sudah benar, tetapi karena kebenaran Allah yang “diberikan” pada kita. Masakan kita mau mempermainkan pemberian itu dengan hidup tidak bertanggungjawab. Masakan kita mau disebut “orang yang tidak tahu untung, sudah ditolong, tetapi malah menyalibkan Yesus lagi”.
  • Datang pada terang yaitu DIA. Yohanes 8:12. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak menyembunyikan apapun. Semuanya terbuka, dan dia senang dalam terang. Tetapi sebaliknya mereka yang hidup di gelap, suka menyembunyikan hidupnya, dan menjauh dari terang.

GodblesS

JEFF

COURAGE FROM GOD (Luke 1:37)

What do you afraid of?

What do you scare of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life-changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

For with God nothing shall be impossible.

Nothing is impossible with God (Message Bible Translation).

Mary, like other human beings, also experienced fear in her life. And I believe every one of us who come to this place also has “fear” and have something that we are afraid of. For some, it could be a fear of talking to someone new or maybe another kind of fear. It could be of animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

Let us go to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly what you fear something, but you choose not to give up on your fear. Courage itself could be an act of physical courage, moral courage, or psychological courage.

If you read our theme verse, in the Gospel according to Luke. We can learn a courageous act from Mary’s life story.It was started when she had the visitation from an angel, more details in Luke 1:26-38 (we can find parallel story also in Gospel according to Matthew). When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being committed to someone means you must be courageous. It’s easy to grab (or even pay) someone who you find attractive. But it’s hard, it needs the courage to keep yourself from doing that and committed to one person. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not cool”. Matthew 16:26. Spiritually we are committed to our life-partner, Jesus.

Mankind is a unique species. They are doing a lot of horrendous things for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The devil will try that with your family, with your close friends, with your significant others. However, remember this, an act of love (forgiving, admonishing, correcting, staying) needs a courageous heart.

Talking about a courageous heart, I can’t stop imagine Joseph, Mary’s fiancé. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an insta-picture with the caption: “all women are cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed-door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are a courageous person.

In such a condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen to this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who encouraged Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story of the first Christmas that I just told you in the last few minutes. But now maybe you have this guilty feeling over your life because you know that you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth nearly 2000 years ago.

Is it possible for Him to forgive my huge mistakes? His coming is for the “sick” not for the “righteous healthy one.” Matthew 9:12.

Everything is possible because He is the Maker, the Source…

…and now He is standing right in front of your heart.

He says, “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite the Holy Spirit to guide you and to give you the courage that you need.

Mengasihi Tuhan, mengasihi sesama.

“Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Yohanes 17:26.

“Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1Korintus 8:3.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40. 

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi ketertarikan terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Disadari atau tidak kasih menghasilkan dampak besar dalam segala sisi kehidupan kita, termasuk hal-hal yang tadi disebutkan.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8. Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

“Kalau dia tidak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia tidak setampan atau secantik ini dan itu.”

Mengertikah Anda tentang pernyataan ini, love is not about what you will get, but what you will give. Maksud saya mengatakan ini dalam konsep cinta secara universal. Bukan hanya romansa saja.

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love.

Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berikan kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka.

So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya ambil contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

Jika sekarang Anda mengerti bahwa Allah begitu mengasihi Anda dan Kasih Allah berdampak luar biasa bagi Anda. Pertanyaan yang menyertai itu adalah: Bagaimana caranya memakai Kasih Allah yang saya rasakan sebagai bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan kabar baik, untuk memberi dampak bagi jiwa-jiwa di luar sana?

Dengan memahami misi Yesus kepada murid-muridNYA. Yohanes 17:17-21. Kita diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus sudah lakukan, termasuk memberitakan tentang DIA. Ayat 20. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran.

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan paralel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4.

Menjadi dampak dalam kehidupan orang lain dimulai dengan kepedulian. Ini bukan sesuatu yang rumit, untuk menjadi dampak tidak  butuh keahlian khusus, tetapi Anda butuh Roh Kudus.

GodblesS

JEFF

Fear

All of us are prone to fall into the trap of the devil. And he wants us to repeat the history. What happened in Genesis 3:10 could happen in our lives. If I ask you this question: what is the biggest threat to our spiritual conditions? Fear is the answer.

Why is fear the biggest threat to our spiritual conditions? Because if we have fear, as little as it is, it will grow and become the root of our problems. Fear has a strong connection with punishment or condemnation. It is the opposite of love. We think that punishment and condemnation come from outside, but look it is started within you. Let me bring you back to the story of Adam and Eve in Genesis 3. Fear becomes the root of all man’s wrongdoing. These three things sprang out from fear:

  • Breach the law (fear of being fooled by God). Isaiah 24:4-5. God’s law is His Word, and it is like the lines, the rules that keep everything intact.
  • Runaway (fear of being responsible). Jeremiah 2:4-6.
  • Hide (unrealistic fear). Job 34:22.

Another unrealistic fear is the thought that if you don’t have some amount of money (like others), then you lose your self-esteem. A rabbi named Smoley Boteach wrote this in his book: “Money should never be turned into a currency to purchase self-esteem.” Fear is gripping our modern society. It confuses them, brings anxiety and gives them death. Luke 21:25-26.

The answer for us in facing fear is by the Grace of God (2Timothy 1:6-7) and in believing that He gives that abundantly, read Romans 5:17. From the letter of Paul to Timothy, we learn that we must “rekindle God’s gift (His Grace),” and “remember that you need the Holy Spirit.” The Holy Spirit is not giving you a spirit of fear, but Spirit who produces power, love, and Self-Control.

GodblesS

JEFF

SESSION-5: REIGN IN LIFE (COURAGE)

Reign in life is reign over sin. Because sin is the opposite of life, remember the choice from tree of good and evil, and tree of life. Sin is changing the course of history. Genesis 3:22-23. And the result is death. Romans 6:23. To resist the attraction of sin and its stronghold we need courage.

Read Joshua 1:9. I think when God said, “Be strong and courageous! Do not be afraid or discouraged!” God really understand that Joshua, as other human being also experienced fear in his life. And I believe each and every one of us who come to this place also have fear and have something that we are afraid of.

But let me back to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly that you fear something, but you choose not to give up to your fear. Courage itself could be a physical courage, moral courage, or psychological courage.

And we always admire people who show courage. That’s why we love movies about heroes or super-heroes. From Robin Hood to Harry Potter, or Spiderman to Captain America. I love movies, even though I don’t go to cinema any more. And I don’t against you to watch movies, but please watch it with discernments. Because “good and fascinating” not always reflect Godly thing. Satan in that garden was enticing people with something “good and fascinating” (the forbidden fruit), but by the act of eating it, Adam and Eve against God’s will. They are become unfaithful to The Word.

If you read the book of Matthew, in the first chapter you will find a list of biblical figures related to Jesus. Matthew 1:1-17. This genealogy of Jesus also can be found in the book of Luke but doesn’t appear in other two books who write about Jesus (Mark & John). Matthew put this in perspective of Jesus as The King. The genealogy shows that HE is from the line of David, as the prophesies from Old Testament being fulfilled in Him. I don’t have enough time to mention them one by one and tell you their stories. And each one of them did a courageous act, their stories lead us to the main characters in Jesus’ early life.

Mary. Matthew 1:18. Story about Mary with more details is in Luke 1:26-38. When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being engage with someone doesn’t mean you can give away your virginity. Either you are male or female. There is a false thinking or false value that growing among the young people that you have to be like them. They are kissing, they are having sex, they are cheating. Once I was invited to a talk-show with High School Students in Bandung. And I said this: “It’s easy to grab someone who think they want to do these things. But it’s hard, it needs courage to keep yourself from doing that. Moreover, if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not-their-kind”. Matthew 16:26.

The second person who showed his courage is Joseph. Matthew 1:19-21. What is it like if you’ve found out your significant other in a condition that will most likely break your heart? Could you courageously be showing him or her an act of love?

I have seen young guys and girls, doing horrendous thing for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The next generation of these last days. The devil will try that with your family, with your close friends, with all of your significant others. But the question is could you still say “I love you, God loves you, but we hate your sin!” Or you just keep that hatred in your heart to them and to God. An act of love needs a courageous heart. It shows that you are reign in life.

Now you imagine Joseph. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an instapicture with caption: “all women is cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are courageous person.

In such condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who gave encouragement to Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage, needless to say reign in life. They are:

Fate & Death

Meaningless & Despair

Guilt & Sin

Jesus standing among you, now it is your decision to approach Him, believe in Him, and like the woman who touch Jesus’ robe “if I may but touch his garment, I shall be whole.” Invite Jesus into your heart, invite Holy Spirit to guide you and to give you courage that you need.

GodblesS

JEFF