MENGELOLA KEUANGAN

PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR (Lukas 16:1-9)

Perumpamaan ini disampaikan Tuhan Yesus dalam rangkaian pengajaran dengan topik khusus yang IA berikan kepada murid-muridNYA (tidak terbatas kepada dua belas murid). Untuk perumpamaan ini Yesus berusaha mengajarkan tentang pengelolaan atau penatalayanan. Dalam Bahasa Inggris dipakai kata “stewardship” dimana didalam kata ini mengandung konsep “perencanaan yang bertanggungjawab” dan “pengelolaan sumber daya.”

Jika kita ingin mengesampingkan istilah-istilah teknis tadi. Apa yang Yesus ajarkan adalah mengenai prinsip pengelolaan uang. Namun menarik yang Yesus pakai adalah contoh dari seseorang yang tidak jujur. Tetapi kita bisa memahami bahwa Yesus selalu mengajar relevan dengan keadaan orang-orang yang diajarnya. Sehingga beberapa penafsir Alkitab melihat bahwa Yesus sedang mengajar “murid-muridNYA” secara luas, yang didalamnya termasuk para pemungut cukai.

Mengenai pemungut cukai, saya rasa Anda sudah banyak mengerti bagaimana negatifnya perspektif orang Yahudi terhadap mereka. Saya rasa Anda juga mengerti kalau pemungut cukai (atau orang pajak) pasti sangat erat dengan uang. Jadi jelas ketika Yesus bercerita tentang orang kaya dan bendahara, para pemungut cukai dapat terhubung dengan cerita yang Yesus sampaikan.

Dalam memahami teks Alkitab kita perlu mengerti apa yang menjadi tujuan penulis teks tersebut. Dalam bagian tulisan antara pasal 9 sampai 16 ada beberapa kali Lukas berusaha membawa pembacanya untuk mengerti bahwa ada penolakan terhadap Yesus oleh beberapa pihak. Namun demikian Yesus tetap menyampaikan apa yang menjadi kehendak Bapa, karena memang itu yang menjadi tujuanNYA. Yohanes 4:34.

Pembahasan mengenai uang memang sesuatu yang sensitif baik di Gereja maupun di luar Gereja. Sehingga apa yang Yesus sampaikan lewat perumpamaan ini tetap relevan bagi siapapun Jemaat yang sedang mendengarkan. Beberapa poin mengenai perumpamaan ini:

  1. Cinta akan uang akan membawa pada penyimpangan keuangan. Lukas 15:1. Ini berlaku di level pribadi dan di level institusional, kejahatan karena cinta uang. 1Timotius 6:10. Seorang Kristen seharusnya dapat mempertanggungjawabkan semua keuangan yang dipercayakan padanya. Lukas 15:2.
  2. Meminta bantuan keuangan tanpa bekerja seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan. Lukas 15:3. Bekerjalah untuk sesuatu yang Anda inginkan. 2Tesalonika 3:10.
  3. Memikirkan diri sendiri akan membuat kita lebih bersalah dalam hal keuangan. Lukas 15:4. Ini menjadi salah satu ciri kondisi di Akhir Zaman. 2Timotius 3:2.

Masih ada banyak hal lain mengenai hal mengelola keuangan tetapi patut diperhatikan bahwa di Lukas 15:8a pujian bagi bendahara yang tidak jujur ini adalah bagian dari cerita, bukan untuk menjadi teladan. Maksudnya diungkap Yesus di bagian sesudahnya (Lukas 15:8b, 9), bahwa segala sesuatu itu bisa menjadi baik jika dikelola dengan baik, bukan untuk “dicintai” tidak sebagaimana mestinya.

Hiduplah dengan tujuan keuangan yang jelas, bukan untuk menjadi hamba dari uang, namun tuan atasnya.  

GodblesS

JEFF

RENCANA ALLAH BAGI ANDA

Apa kabar jemaat? Semoga di tengah-tengah pandemi ini Anda tetap memiliki:

  • Iman bahwa Allah yang memegang dan memelihara hidup Anda (Matius 10:29-31),
  • pengharapan akan masa depan dimana yang lama akan digantikan yang baru (Wahyu 21:4),
  • dan kasih kepada Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19).

Iman, pengharapan, dan kasih akan menuntun kita untuk lebih lagi rindu mengenal DIA dan FirmanNYA. Itulah mengapa meskipun ditengah pandemi, kita tetap bersekutu baik secara on-site (dalam satu tempat), maupun secara online/daring (dalam jaringan internetlive streaming).

Saya berharap selesai dari Ibadah ini Anda semakin mengenal apa rencana besar Allah dalam hidup kita sebagai ciptaanNYA (secara umum) dan sebagai umat pilihanNYA (secara khusus). Pertama-tama, saya ingin menjelaskan apa rencana besar Allah dalam hidup manusia, ciptaan Allah yang termulia (Kejadian 1:26).

RENCANA ALLAH: DI BUMI SEPERTI DI SURGA  

Saya menyampaikan hal ini terinspirasi dari yang disampaikan Tim Mackie, seorang hamba Tuhan, profesor di kampus Kristen, dan pemimpin kreatif dari Bible Project (YouTube channel yang mengedukasi tentang Alkitab).

Kita sering dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan untuk menjelaskan iman kita kepada Allah yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini Anda bisa dapatkan di dalam pembicaraan dalam keluarga inti (orang tua dan anak-anak) atau pembicaraan dengan keluarga besar (kakek-nenek, kakak-adik, sepupu, dan sanak saudara lain), atau bisa jadi di tempat studi, tempat kerja, dan tempat lain dimana Anda sedang beraktivitas.

Kalau boleh disederhanakan kira-kira begini pola pikir orang kebanyakan tentang rencana besar Allah terhadap manusia. “ALLAH” menciptakan “MANUSIA” untuk hidup di “BUMI” dan menjalani hari-harinya dengan berbuat baik atau jahat, dan pada akhirnya perbuatan-perbuatan itu menentukan mereka masuk ke dalam “SURGA” atau “NERAKA” yang sudah disiapkan.

Tetapi bagi kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman (dalam bentuk tertulis) yang dilhamkan Allah (2Timotius 3:16a) maka kita bisa berkata kepada orang yang memiliki pola pikir seperti ini bahwa pola itu tidak sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab. Mereka berpikir atau berasumsi bahwa urutan itu adalah iman Kristen, tetapi sebenarnya tidak.

Lalu apa kata Alkitab? Mari kita bahas secara singkat saja dalam tiga sub-bagian, yang bisa menjadi tiga khotbah yang berbeda. Tetapi saya rasa penjelasannya akan saya persingkat seperti ini.

  • Allah menciptakan bumi untuk manusia.

Saya rasa saya pernah menyampaikan hal ini, bahwa manusia diciptakan di hari ke-enam, saat semua yang di bumi sudah siap. Anda bisa melihat kasih Allah bahkan dari urutan penciptaan di Kejadian 1. Menariknya Allah tidak pernah disebutkan menciptakan neraka. Kita setuju mengenai ini, bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dari Yesaya 66:1 kita mengerti bahwa langit adalah tahta Allah. Manusia ditempatkan di bumi untuk berkuasa atasnya. Kejadian 1:28. Jadi kapan Allah menciptakan neraka?

  • Allah menciptakan yang baik, iblis menipu manusia.

Segala sesuatu yang baik datang dari Allah dan bukan yang jahat. IA tidak dapat dicobai dan tidak mencobai (mendatangkan kejahatan). Yakobus 1:13. Sehingga kejahatan timbul dari mana? Yesus berkata dalam Matius 7:21-22, segala sesuatu yang jahat itu datang dari dalam hati. Jika kita melihat tulisan mengenai raja Tirus yang adalah gambaran kejatuhan iblis maka kita melihat dari kondisinya yang sempurna sebagai maha malaikat (Anda bisa cek khotbah Pdt. J.S. Minandar di www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “maha malaikat”), ia jatuh saat kecurangan (dalam Bahasa aslinya bisa berarti “kejahatan”) timbul dalam dirinya. Yehezkiel 28:15. Itulah mengapa saat manusia ada di taman Eden, ia berusaha menimbulkan “yang jahat” di dalam diri manusia, yang kisahnya dapat Anda baca di Kejadian 3. Lalu mana nerakanya?

  • Allah menginginkan persekutuan dengan manusia.

Yesaya 59:2. Saya rasa ayat ini sering kita baca dengan konteks Allah yang marah kepada umatnya, dan memang demikian jika kita melihat keseluruhan pasal itu. Tetapi kalau Anda melihatnya dari apa yang Yesus katakan dan janjikan di Yohanes 14:3, maka saya melihatnya adalah kisah sedih namun romantis yang Allah lakukan demi manusia. Bumi dan surga harusnya bersatu, dimana Allah berada disitulah manusia. Kejadian 3:8. Tetapi manusia lari dan bersembunyi, singkat cerita mereka diusir dari taman Eden, maka terpisahlah bumi dan surga.

Setelah kejatuhan manusia, momen dimana bumi dan surga terhubung adalah saat Allah hadir dalam persembahan korban manusia. Ini yang kemudian kalau kita lihat menjadi konsep Tabernakel (Keluaran 40:34) dan kemudian Bait Allah bagi Israel (2Tawarikh 7:1). Namun korban ini harus dipersembahkan ulang setiap saat manusia bersalah. Inilah yang kemudian digenapi di dalam Yesus (Ibrani 10:1, 14) dari korban yang berkali-kali harus dipersembahkan, IA menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.

Namun demikian Allah tidak bisa berkompromi dengan kejahatan, seperti terang yang tidak mungkin bersatu dengan gelap. 1Yohanes 1:5-6. Itulah mengapa kemudian mereka yang memilih untuk tinggal didalam gelap, harus dipisahkan (tempat pemisahan inilah neraka, dimana Allah tidak berdiam disana). Wahyu 20:14-15. Karena mereka yang akan bersekutu dengan Allah harus tinggal dalam terang. Wahyu 22:3-5.  

RENCANA ALLAH: BALA TENTARA / PASUKAN ALLAH  

Sebagai umat pilihan Allah kita tahu ada misi yang khusus yang kita emban seperti yang kita lihat di penjelasan tentang rencana Allah, kita menjadi agen Allah untuk menyebarkan “keharuman pengenalan akan DIA.” 2Korintus 2:14-16. Ini selaras dengan maksud Allah di Perjanjian Lama tentang orang pilihanNYA supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Kejadian 12:3.

Hal ini kemudian dinyatakan dalam keturunan Yakub atau juga dikenal sebagai Israel. Dalam salah satu kisah perjalanan Yakub disebutkan bahwa Yakub lari dari rumah Laban, mertuanya, setelah berulang kali diperlakukan tidak adil. Kejadian 31:38-42. Setelah ia berargumen dengan Laban, kemudian Laban meninggalkan rombongan Israel. Ketika melanjutkan perjalanannya Israel menamakan tempat pertemuan dengan malaikat-malaikat Allah, Mahanaim. Mahanaim diterjemahkan di Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “bala tentara Allah” seperti tertulis di Kejadian 32:2 (TB).  Sementara di Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, ditulis “God’s Camp” (NKJV).

Jadi mari kita pelajari dari asal katanya. Menariknya ketika Anda mempelajari bahasa Ibrani maka ada kata yang berasal dari gabungan dua kata. Mungkin sama seperti kata serapan yang masuk ke Bahasa Indonesia seperti “a” dan “moral” kemudian menjadi satu kata “amoral”. Dalam bahasa Ibrani kata “Mahanaim” terdiri dari dua kata, yang pertama “makhaneh” yang artinya “tenda, atau kumpulan orang di satu tempat”, dan yang kedua “shenayim” seperti yang ada di ayat 7. Sebenarnya kata “im” itu untuk menunjukkan bentuk plural, seperti di kata Elohim atau Yahudi(m).

Jadi apa itu Mahanaim? Kumpulan dari keturunan Illahi (1Petrus 2:9), yang diperanakkan karena iman (Galatia 3:14, 4:4-7), diperlengkapi oleh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), dan dikumpulkan kepada suatu kumpulan besar malaikat Tuhan, kepada Yesus sendiri yang menebus kita dengan darahNYA, darah Perjanjian Baru (Ibrani 12:22-24).

Bagaimana? Apakah Anda bisa melihat betapa indah, baik, dan mulianya rencana Allah bagi Anda? Jangan berhenti sekarang, apapun yang sedang Anda alami, tetap pelihara iman, pengharapan, dan kasih kepada DIA, Tuhan Yesus Kristus yang menjelaskan rencanaNYA bagi kita.

GodblesS

JEFF

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

GodblesS

JEFF

B-DRAMA

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih di dalam nama Tuhan. Sungguh hari-hari, atau minggu-minggu, atau bahkan bulan-bulan terakhir ini begitu banyak hal yang terjadi, baik di kehidupan pribadi, pekerjaan atau pelayanan, dan bahkan di kehidupan sosial-bermasyarakat-bernegara kita.

Begitulah hidup berjalan kadang ada hal-hal yang di luar kuasa kita. Ini seperti apa yang dituliskan oleh nabi Yeremia di Yeremia 10:23. Sehingga apa yang terjadi dalam hidup kita mungkin sekali terjadi di luar ekspektasi kita. Apakah ada disini yang ekspektasinya menikahi Miss Universe tetapi pada akhirnya menikah dengan Miss Understanding? Itu Bahasa belandanya “Mislukt” artinya “failed”, tidak sesuai dengan yang kita mau.

Begitu banyak drama terjadi di hidup kita bukan? Baik secara pribadi kita rasakan, atau sesuatu yang kita saksikan terjadi di depan mata kita. Inilah yang mendorong saya mengambil tema “B-DRAMA”. Ini bukan K-Drama, atau telenovela, juga bukan Bollywood Drama. B-Drama yang saya maksud adalah Biblical Drama.

Tahukah Anda bahwa Alkitab kita itu seperti TV Portabel. Semua drama ada dan tercatat di Alkitab. Bayangkan dimulai dengan kisah ajaib seperti “magic” , dari tidak ada menjadi ada. Kejadian 1. Kemudian ada drama romantis pertama yang dikenal manusia, drama Adam & Hawa. Kejadian 2:18-24.

Kalau saya boleh “breakdown” sedikit tentang Kejadian 2:18-24, Anda bisa belajar tentang konsep mencari pasangan, baik Anda pria atau wanita.

  1. Pasangan itu bukan tujuan pertama hidup kita. Mengerti mengenai ini akan menghindarkan Anda menghabiskan hidup menyesali yang sudah lewat, bahkan melukai diri sendiri karena seseorang yang Anda anggap “belahan jiwa” Anda. Tujuan pertama Anda adalah menikmati yang Tuhan sudah beri, ayat 16 sambil menjaga diri tidak melanggar ketetapan-ketetapanNYA, ayat 17.
  2. Akan ada waktunya ketika Tuhan mengingatkan Anda, “tidak baik kalau manusia seorang diri saja…,” ayat 18. Inisiatifnya dari Tuhan, bukan dari Anda, atau dari lingkungan Anda.
  3. Allah pertama bergerak, kemudian baru Anda bergerak, ayat 19. Jadi ada usaha Anda, tetapi kemudian preferensi itu ada di dalam diri Adam, ayat 20. Tidak ada istilah bukan jodoh, semua adalah preferensi untuk berkomitmen. Ingat tentang segitiga: “PassionCompassionCommitment.”
  4. Ada waktu dimana Tuhan bawa pasangan Anda di hadapan Anda dan Anda berkata “Ini dia…,” ayat 21-23. Saya percaya itu kembali lagi ke preferensi, dan tentu saja konsekuensi ada di tangan Anda. Jangan ulangi kesalahan Adam yang melempar kesalahan di Kejadian 3:12.
  5. Menjadi pasangan berarti menjadi independen, tetapi bukan berarti arogan. Kejadian 2:24. Anda akan meninggalkan orang tua Anda, orang tua Anda juga harus berani memberi kepercayaan pada anak Anda yang sekarang sudah dewasa.

Baiklah cukup tentang drama Adam dan Hawa, ada drama apalagi di Alkitab? Saya sampaikan ini supaya Anda punya opini berbeda tentang Alkitab. Apalagi kita terus berusaha untuk “bertumbuh lewat pengetahuan (Firman)”.

Berikut kisah-kisah drama dalam Alkitab:

  • Pembangunan proyek monumental. Kejadian 11:1-9.
  • Pengejaran (86) dari seorang pemimpin yang labil. Keluaran 14:1-31.
  • Perselingkuhan dan pengkhianatan. 2Samuel 11:1-27.

(Sebelum poin berikut penting untuk melihat dan belajar dari sikap Daud meresponi kesalahannya di 2Samuel 12:13-25.

  • Pengorbanan yang tidak masuk akal. Matius 26, Yohanes 12 (minyak yang mahal), 1Petrus 1:19.

Seluruh ketidak mampuan manusia untuk menebak itu, yang membuat kita membutuhkan Tuhan lebih dari DIA membutuhkan kita. Saya akan menutup B-Drama ini dengan kisah Yusuf di Kejadian 37, 39-41 dan bagaimana ia menutup seluruh kitab Kejadian dengan ayat yang begitu menggetarkan saya sampai sekarang. Kejadian 50:20. Saya rasa ini pesan Allah untuk Anda di masa-masa seperti sekarang.

Ada satu bagian lirik pujian yang begitu memberkati saya tentang pujian kepada Allah di tengah ketidakmampuan kita untuk menebak perubahan di sekitar kita:

Reff
Mari Puji Tuhan Hai Jiwaku
Sembah Dia yang Kudus
Dengan Segnap Hati, Jiwaku
Sembah Dia Yang Kudus
Verse 1
Hari Baru TerangMu Bersinar
Saat Naikan Pujian
Yang Kan Berlalu Dan Yang
Harus Kuhadapi
Biarlah tetap kupuji NamaMu
Verse 2
Penuh Kasih dan Kau Panjang Sabar
Kau Mulia, Namamu Besar
Semua Kebaikanmu Kan Kunyanyikan
Ribuan Alasan Tuk MemujiMu
Verse 3
Saat Lemah Hilang Kekuatanku
Tiba Saat Akhir Hidupku
Tetap Jiwaku Memuji NamaMu
Ribuan Tahun Bahkan Selamannya

Sudah Selesai

For every beginning has an end.”

Untuk segala sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf alphabetical yang biasa kita kenal).


Misalnya saja dalam rangkaian minggu penciptaan yang tertulis di Kejadian 1. Ada awal dan ada akhir dari rangkaian itu, yang akhir kita sebut sebagai hari Sabat. Pada masa Perjanjian Lama ini adalah hari Sabtu, dan sekarang di masa Perjanjian Baru itu adalah hari Minggu.


Ketika bicara tentang awal penciptaan banyak “orang-orang pintar semacam ilmuwan” yang tidak percaya dan berusaha membuktikan sebaliknya. Ada yang disebut “partikel tuhan” atau secara ilmiah mereka menyebutnya “Higgs boson” dan secara singkat itu adalah partikel yang menyusun segala sesuatu benda di dunia. Tetapi pastilah mereka akan gagal karena mereka sudah menutup mata mereka bahwa Allah adalah yang pertama dan pencipta segalanya. Segala sesuatu juga akan berakhir olehNYA.


Kita mengatakan “It is done” ketika kita sudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan “it is finished”. Done atau finished itu sinonim dengan kata-kata dalam bahasa Inggris: complete, perfect, good. Semua definisi yang saya sebutkan di kalimat terakhir itu menariknya tergambar dalam 3 ayat-ayat yang berurutan di Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1-2.

Good.

– Kejadian 1:31.

Finished.

– Kejadian 2:1.

Complete.

– Kejadian 2:2.


Apa makna dari yang tertulis di lembar pertama Alkitab kita ini?


Allah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang final, sehingga kita bisa berkata bahwa teori evolusi itu tidak Alkitabiah.
Kita, manusia, ciptaan Allah, adalah ciptaan yang sempurna (Kejadian 1:27) dan kita diciptakan untuk suatu tujuan (ayat 28).
Karena itulah bahkan ketika manusia jatuh, Allah langsung merencanakan penebusan. Kejadian 3:15.


Manusia berharga di mata Tuhan, bahkan bagi mereka yang dipilih dan dipanggil dalam rencana Allah (seperti bangsa Israel dan juga bagi kita Israel Rohani) Allah mengatakan bahwa kita: “berharga di mataNYA, mulia, dikasihi, dan mendapat jaminan perlindungan. Yesaya 43:4.

You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that.

Kembali pada ibadah kita, mungkin ada pertanyaan mendasar, mengapa Yesus harus berkorban? Gembala Jemaat GPdI Mahanaim di Tegal pernah menyampaikan hal ini, dengan analogi cerita perumpamaan Yesus di Lukas 10:25-37.

Sejak kejatuhan manusia, manusia ditentukan untuk mati. Kita lahir untuk mati! Iblis mendapat kesempatan untuk merampok kita habis-habisan. Keunggulan, keistimewaan dan kemuliaan manusia mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika tidak ada juruselamat, maka kita pasti mati. Mati disini baik secara:

  • Jasmani. Maksudnya dengan makin singkatnya waktu hidup, dari Kejadian 6:3 (sampai dengan 120 tahun) hingga Mazmur 90:10 (hanya 70 sampai 80 tahun saja).
  • Rohani (masuk di dalamnya aspek Jiwa juga). Maksudnya ketika manusia menjadi fasik (jahat) maka ujung jalannya adalah kebinasaan. Mazmur 1:6.

Untuk menjadi juruselamat dunia, Yesus harus mati! Mengapa? Untuk menggantikan kita yang harusnya mati. DIA mati supaya kita hidup. Gambarannya adalah seperti korban di Perjanjian Lama (Imamat 16:34) perlu dikorbankan setiap tahun untuk pendamaian. Namun itu semua digenapi dengan korbanNYA yang menjadi penanda suatu Perjanjian Baru. Korban yang sempurna, sekali untuk selamanya. Ibrani 9:28.

Jadi ketika Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30) berarti misinya sudah selesai, dosa tidak lagi “menjajah” hati manusia. Penghukuman yaitu maut yang diakibatkan dosa tidak lagi jadi bagian kita. Roma 8:1-2.

Sekarang, bagaimana dengan dirimu?
– Apakah dirimu masih dipenuhi rasa bersalah?
– Apakah kamu masih belum bisa lepas dari perbuatan dosa?
– Apakah kamu masih berhubungan dengan roh-roh lain yang mengikatmu?
– Apakah kamu masih sementara mencari kebenaran?
– Apa yang bisa Yesus tawarkan kepadamu hari ini adalah, apakah kamu mau percaya?

Ketika Yesus berkata “sudah selesai” berarti iblis sudah tidak bisa menuntut kita lagi. Hukuman itu dilalukan (Passover/Pesakh/Paskah) dari kita ketika kita di dalam Yesus. Bagaimana bisa kita hidup di dalam Yesus? Apakah itu berarti tinggal di dalam gereja? Bukan, ketika kita hidup di dalam Yesus artinya:

  • Percaya. Yohanes 3:18. DIA sudah memberikan fasilitas untuk kita bisa menjadi utuh (complete) dan baik (good), setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
  • Hidup benar. Yohanes 3:21. Berarti hidup menghindari dosa. Ingat Yesus menjadi dosa bukan karena DIA berdosa. Demikian kita dibenarkan bukan karena kita sudah benar, tetapi karena kebenaran Allah yang “diberikan” pada kita. Masakan kita mau mempermainkan pemberian itu dengan hidup tidak bertanggungjawab. Masakan kita mau disebut “orang yang tidak tahu untung, sudah ditolong, tetapi malah menyalibkan Yesus lagi”.
  • Datang pada terang yaitu DIA. Yohanes 8:12. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak menyembunyikan apapun. Semuanya terbuka, dan dia senang dalam terang. Tetapi sebaliknya mereka yang hidup di gelap, suka menyembunyikan hidupnya, dan menjauh dari terang.

GodblesS

JEFF

ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Rut ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

Muliakanlah DIA.

Saya percaya kita hidup untuk satu tujuan yaitu memuliakan nama Tuhan. Karena itu kita berkumpul hari ini di Rumah Tuhan untuk maksud yang sama kita percaya kita memuliakan nama Tuhan dengan:

  • Memberikan waktu untuk beribadah.
  • Berusaha dengan harta dan usaha untuk beribadah.
  • Memuji dan menyembah Tuhan.
  • Mempersembahkan korban persembahan yaitu sebagian uang kita.
  • Berdoa di dalam nama Yesus.
  • Duduk dan mendengarkan Firman Tuhan.
  • Terlibat dalam pelayanan gerejawi.

Saya rasa inilah konsep kita bersama mengenai MEMULIAKAN NAMA TUHAN, bukan? Mari kita bahas satu-per-satu:

1. Memberikan Waktu.

Kalau  secara umum kita pasti pernah mendengar “time is money” secara literal dalam bahasa Indonesia berarti “waktu adalah uang”. Pendapat ini sebenarnya jauh di karya klasik Yunani yang menyebut mengenai berharganya waktu. Namun menjadi terkenal karena frase “time is money” disebutkan Benjamin Franklin untuk menegur orang yang hanya bekerja setengah hari, dan kemudian bermalas-malasan. Meskipun dia tidak membuang banyak uang dengan bermalas-malasan, tetapi sebenarnya dia membuang “kesempatan” mendapat gaji sehari penuh.

Ini nampaknya sesuatu yang normal. Kita semua butuh uang. Namun Daud seorang yang betul-betul mengenal pahit-getir hidup berkata sebaliknya. Mazmur 84:11. Lebih baik di pelataran Tuhan, maksudnya di Rumah Tuhan, di hadirat Tuhan. Jika ini yang menjadi motivasi Anda. Berarti Anda sudah menempatkan Allah sebagai sesuatu yang BERHARGA. Anda memuliakan Tuhan dengan penggunaan waktu Anda.

2. Berusaha untuk beribadah.

Di dalam Alkitab berulang kali disebutkan mengenai pembangunan mezbah dan pembangunan Rumah Tuhan yang identik dengan Ibadah itu sendiri. Saat Nuh mendapat kasih karunia Allah, disitu ia membangun mezbah dan beribadah(Kejadian 8:20). Saat Abram  mendengar janji Tuhan maka didirikannya mezbah dan beribadah (Kejadian 12:7). Selalu ada usaha untuk beribadah, bahkan Paulus meletakkan posisi ibadah lebih tinggi dari “latihan badani” (1 Timotius 4:8).

3. Pujian dan Penyembahan

Setiap kali pujian dinaikkan dan penyembahan terangkat disitu kemuliaan Tuhan turun. Tuhan bersemayam diatas pujian orang-orang yang percaya. (Mazmur 22:4). Pujian dan penyembahan ini bukan suatu liturgi tetapi adalah gaya hidup. Dengan pujian dan penyembahan Anda melayani Tuhan dan melayani manusia disaat yang sama. Ini bukan keharusan melainkan kesempatan. Ingatlah tiga hal ini:

  • Pujian dan penyembahan adalah untuk (kebaikan) manusia bukan sebaliknya. (Markus 2:27).
  • Pujian dan penyembahan menyambut kuasa Kerajaan Allah. (Ulangan 31:19).
  • Pujian dan penyembahan adalah kunci untuk penginjilan. (Kisah Para Rasul 16:25).

4. Mempersembahkan korban persembahan.

Karena kekayaan kita dapat menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan (Amsal 3:9). Daud pun melakukan hal yang sama dengan Bait Allah yang akan dibangun anaknya (1 Tawarikh 22:5).

5. Berdoa.

Ketika Yesus berdoa di depan kubur Lazarus, apa yang dikatakannya didengar oleh orang disekitarnya “Yesus mengatakannya supaya mereka percaya.” (Yohanes 11:41-42, Ibrani 13:15).

6. Mendengarkan Firman Tuhan.

Maria mengambil bagian dalam “istirahat” dihadapan Tuhan, seringkali kita berusaha untuk menjadi sibuk dan melupakan bahwa Allah yang bekerja didalam kita (Lukas 10:41-42, Matius 11:28).

7. Melayani.

Ini menjadi konsekuensi unik ketika kita sudah begitu mendapat limpah Kasih pelayanan menjadi respon untuk itu. (Yohanes 12:3).

GodblesS

JEFF

Doa & Bekerja

Semua orang yang berdoa tentunya ingin mendapatkan jawaban. Namun seringkali jawaban itu sudah disana, hanya saja kita tidak melihat itu.

Ora et labora. Berdoa dan bekerja. Istilah ini adalah motto dari Biara Katolik yang didirikan oleh St.Benedict. Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “ora et labora, deus adest son has” yang berarti “berdoa dan bekerja, Tuhan ada disana” Mungkin ungkapan terakhir berarti Tuhan ada disana dan memperhatikan. Sehingga Paulus menuliskan “lakukanlah pekerjaanmu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Kolose 3:23.

Saya tertarik dengan istilah ini karena tahun lalu adalah tahun doa buat GPdI Mahanaim, lalu disambung dengan tahun kerja untuk tahun ini. Mengapa harus berdoa dan bekerja? Bukankah doa itu besar kuasanya? Yakobus 5:16. Amin. Kita sering mengutipnya, namun kita perlu juga melihat ayat ini secara utuh. Mari kita lihat:
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan.” Kalimat ini sebenarnya berarti kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejawatnya. Ini sering disalahartikan dengan mengakui segala dosa, seperti yang dipraktekkan oleh mereka yang diberi gelar imam. Setelah pengakuan dosa itu kemudian “si pendosa” diharuskan menghapuskan dosa dengan melafalkan kalimat-kalimat doa tertentu. Ingat, dosa kita tidak bisa dipulihkan oleh perbuatan kita, atau kebenaran diri kita sendiri. Mari kita baca konsep pengampunan di perjanjian lama yang tertulis di Ibrani 10:1-2. Itu hanya bayangan dan bukan hakekat keselamatan.

Atau kemudian ada beberapa orang Kristen yang mengartikan, pengakuan ini harus dilakukan di depan umum, dengan alih-alih “keterbukaan adalah awal dari pemulihan”. Saya tidak berkata itu tidak benar, namun harusnya ditambahkan “dengan bijaksana” karena hal itu bisa menimbulkan ekses yang pada akhirnya menimbulkan bencana. Mazmur 32:5 menyatakan bahwa pengakuan itu kita ungkapkan kepada Tuhan. Kita mengakuinya di hadapan manusia saat kita

ditegur oleh kehendak Allah (1Korintus 14:24-25), atau ketika kita menceritakannya kepada orang yang kita percayai.

Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan mengenai hal ini, karena itu kita harus kembali pada pengertian awal, bahwa dosa kita dihapuskan karena Allah menginginkannya. (Yesaya 43:25). Jadi keselamatan kita sebagai manusia roh sudah terjamin karena iman kita (Roma 5:1), dan ketika kita mengakuinya kepada orang yang tepat maka kesembuhan, pemulihan itu datang bagi tubuh dan jiwa kita.

Lantas apa artinya bekerja jika iman saja sudah cukup?

Perbuatan tetap kita lakukan meskipun kita sudah beriman. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus 2:17. Karena demikian juga sebaliknya perbuatan-perbuatan yang tidak didasarkan pada iman akan menjadi sia-sia. Galatia 2:16.

Jika Anda perhatikan perbuatan-perbuatan ini mengacu pada perbuatan berdasarkan hokum taurat, yaitu membenarkan diri sendiri. Tuhan aku telah melakukan ini dan itu, aku layak mendapatkan jawaban doa. Sekali lagi kita baca Yakobus 5:16 bisakah kita lihat bahwa sesuatu yang vertical yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, juga dibarengi dengan sesuatu yang horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia. Ini yang harus kita kerjakan, kita tidak bisa hanya mengirimkan doa kepada dia yang bermasalah, tetapi kerjakan bagian kita yaitu berbuat baik. Ini bukan lagi berdasarkan hokum taurat, tetapi hokum Kasih. Hukum Taurat mengandalkan perbuatan manusia kepada Tuhan. Hukum Kasih mengandalkan perbuatan Allah yang memampukan kita melakukan perbuatan-perbuatan baik. Matius 6:14.

GodblesS

JEFF