MENJADI SEMPURNA

Selamat datang jemaat Tuhan yang diberkati, senang sekali kita bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan kita sebagai Tubuh Kristus. Silakan puji rekan sebelah kiri-kanan Anda, karena dengan demikian Anda sedang memuji “anggota Tubuh Kristus”.

Sekarang kalau Anda perhatikan siapa yang ada di sekitar Anda, menurut Anda apakah sosok yang di dekat Anda itu sempurna? Banyak dari Anda akan menjawab tentu tidak, “tiada gading yang tak retak”, tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, cela, dan kesalahan. Sebuah artikel di Kompas.com menuliskan bahwa ada penjelasan ilmiah mengapa “sisi kiri wajah manusia lebih bagus untuk selfie”. Tetapi “lebih bagus” bukan berarti “sempurna”, selalu akan ada celah untuk melihat “ketidaksempurnaan” seseorang.

Demikian juga kita harus mengerti ini dalam perjalanan kehidupan ini. Anda tidak bisa berharap bahwa segala sesuatunya berjalan sempurna. Selalu akan ada hal yang kita berharap tidak terjadi. Kematian, kecacatan, penyakit, kehilangan, penurunan, semua hal ini akan terjadi. Tetapi ini yang menjadi penghiburan bagi orang percaya, bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan”. Kejadian 50:20. Kata “mereka-rekakan” dalam Bahasa aslinya berarti dipikirkan atau direncanakan.

Tuhan bekerja dalam hal-hal yang bagi manusia nampaknya acak, tetapi sebenarnya IA punya rencana. Abram dibawa Tuhan dalam perjalanan yang tidak pernah disangkanya. Allah memanggil ia keluar dari rumah ayahnya. Abram ini adalah keturunan Sem, dan di salah satu daftar silsilah di Kejadian 11, ada nama Eber dituliskan, yang membuat keturunannya juga dikenal sebagai orang Ibrani. Allah menjanjikan sesuatu yang besar bagi Abram, yang nantinya akan menjadi Abraham, itu tercatat di Kejadian 12:1-3.

Tetapi sekali lagi, dalam perjalanan menuju penggenapan janji Tuhan itu, ia harus menghadapi keadaan yang jauh dari sempurna. Dia semakin menua namun janji keturunan itu tidak kunjung digenapi. Ia sempat bimbang, sempat “didiamkan” oleh Tuhan, bahkan Tuhan datang untuk menegaskan kembali janjiNYA pada Abram. Saat itulah namanya “bukan lagi Abram, melainkan Abraham”. Kejadian 17:5.

Apakah setelah itu keadaan menjadi serba sempurna, tidak. Dia masih harus menghadapi kenyataan bahwa keponakannya akan binasa, karena itu ia bersyafaat untuk tempat tinggal keponakannya itu. Lalu ia kembali lagi mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya, “berbohong tentang istrinya” kepada raja daerah tempat ia menetap. Kejadian 12:13, Kejadian 20:2.

Apa yang terjadi dalam hidup Abraham, bisa jadi adalah pengalaman pribadi kita:

  1. Ingatkah Anda ketika pertama kali Anda diselamatkan? Saya sering mendengar kesaksian yang menarik, mulai dari membaca Alkitab, mendengar kesaksian, pengalaman mujizat, mengamati orang ke Gereja, dan banyak kisah lain. Rasul Paulus mengingatkan jemaat mengenai ini 1Korintus 1:26-29.
  2. Berapa hal yang menjadi janji Tuhan, tetapi belum Anda alami sekarang? Kita berharap segala sesuatunya menjadi sempurna saat kita mengikut Yesus, tetapi seringkali bukan itu yang terjadi. Kadang Allah seperti meninggalkan kita. Tetapi itu dilakukannya untuk mengetahui isi hati kita. Apakah kita tetap setia. 2Tawarikh 32:31. Rasul Paulus sendiri mengalami hal ini ketika ia meminta “duri dalam daging” diambil dari dirinya, apa jawab Tuhan kepadanya: 2Korintus 12:9.
  3. Sadarkah bahwa Anda masih hidup dalam tubuh dan dunia yang tidak sempurna? Abraham melakukan kesalahan, ia bukan contoh ideal bagi kita. Tetapi lihat apa yang Tuhan perhitungkan: Kejadian 15:6. Ingatkah kita apa yang Tuhan cari ketika IA datang? Lukas 18:8. Tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan semua hal yang lain: pengharapan, kasih, ketekunan, disiplin rohani, keberanian, ketertiban.

Hidup kita ini begitu penuh warna, tidak ada yang bisa memastikan semua akan berjalan sesuai dengan kehendak kita. Karena keberadaan kita di dunia adalah karena kehendakNYA. Terkadang ada hal-hal yang Allah ubah, Allah geser, Allah acak, dan kita berteriak kepada Tuhan: MENGAPA YA TUHAN?

Kuncinya adalah bertekun, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit…” Kolose 1:23.

Lalu Paulus melanjutkan untuk apa kita bertekun? Karena “kepada mereka, Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kolose 1:27.

Nantikanlah sentuhan akhir Allah yang menjadikan kita sempurna.

GodblesS

JEFF

HAUS

Saya mengucapkan selamat malam kepada kita semua yang hadir di rumah Tuhan. Tentu saja menyenangkan sekali saat kita berikan waktu yang kita miliki untuk datang di hadiratNya dan beribadah secara korporat seperti ini. What an atmosphere!

Malam hari ini selama beberapa menit ke depan saya akan membahas satu kata: HAUS. Saya juga pernah menyampaikan Firman tentang “Lapar”.

Jadi mungkin berikutnya saya akan lanjutkan dengan “Mengantuk” dan jadilah khotbah seri tentang kekurangan. Saya hanya bergurau, tentang itu, tetapi maksud saya adalah ketika saya bicara tentang “Lapar”, saya rindu kita mengambil sikap yang benar (lapar akan pribadi Yesus) setiap kali (maksudnya terus menerus) dalam menghadap Tuhan, baik dalam doa maupun ibadah.

Kembali tentang kata: haus. Dalam Alkitab kata “haus” biasanya membawa asosiasi kita kepada perkataan-perkataan Yesus. Yesus pernah berkata tentang haus ketika bertemu perempuan Samaria. Yohanes 4:13-14. Demikian Yesus mengundang mereka yang “haus” untuk datang padaNYA di tengah-tengah Hari Raya Pondok Daun. Yohanes 7:37. Demikian Anda ingat salah satu perkataan bahagia Yesus yang berkaitan dengan haus. Matius 5:6. Sudah bisa lihat hubungannya, bukan?

Tetapi bolehkah saya membawa Anda ke kisah Perjanjian Lama tentang haus, supaya kita bisa melihat dari perspektif lebih luas. Saya ada 2 kisah yang saya bandingkan tentang kehausan. Israel mengalami kehausan (Keluaran 17:3-7), respon mereka bersungut (bahkan disebut mencobai Tuhan), tetapi Allah mengeluarkan air dari batu karang. Demikian juga Simson pernah mengalami kehausan sampai sekarat (Hakim-hakim 15:18-19) responnya adalah mengajukan permohonan, ia mengingatkan Tuhan akan kondisinya, Allah kemudian membelah batu karang dan menyelamatkan Simson.

Ketika menyiapkan bahasan ini, saya berpikir apakah Allah hanya menjawab rasa haus kita, dan hanya berhenti pada rasa puas? Saya mendapati 2 ayat ini yang menunjukkan bahwa lebih dari sekedar membangkitkan kehausan atau kelaparan, tetapi juga ada tujuan dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Istiahnya “thirsty and hungry with a purpose”. 1Raja-raja 19:7-8. Ini terjadi dalam hidup Elia, tetapi juga terjadi dalam hidup para rasul. Memang tidak secara eksplisit dituliskan dengan istilah “haus”, tetapi lihatlah setelah perkataan Yesus bahwa mereka butuh Roh Kudus (Kisah Para Raul 1:4-5), para rasul kemudian menanti dengan tekun. Kisah Para Rasul 1:14.

Jadi malam hari ini ada hal-hal yang Tuhan bangkitkan dalam diri kita untuk kita kemudian mendapatkan berkat Illahi, yaitu Roh Kudus itu, tetapi bukan sekedar untuk memuaskan, tetapi untuk suatu tujuan besar, bagi Keluarga, bagi Gereja, bagi kota, bagi bangsa kita!

LAPAR

Hari ini saya akan berbicara tentang lapar. Apakah Anda lapar? Beberapa dari Anda mungkin sudah menebak, bahwa saya akan membahas tentang “lapar akan Firman Tuhan”. Tetapi tunggu dulu, jangan buru-buru kesana. Mari kita bahas tentang “lapar” ini dulu.

Lapar adalah sesuatu yang normal dan merupakan salah satu tanda kehidupan. Mereka yang tidak pernah lapar malah kita curigai sebagai orang tidak normal atau bahkan orang mati! Demikian juga kondisi lapar itu bukan sesuatu yang salah, hanya saja cara meredakan kelaparan itu bisa berujung pada kesalahan. Kemudian yang juga menarik adalah sinyal (tanda) lapar dari tubuh, itu bisa “menipu”, karena terkadang yang kita butuhkan adalah air (karena haus) bukan makanan.

Sekarang baru kita masuk ke dalam bahasan “lapar akan Firman”. Orang-orang percaya selalu mengaitkan kata “lapar” dalam Alkitab, dengan frase “lapar akan Firman. Hal ini tidak salah, kalau kita melihat kata Ibrani untuk pengertian “lapar” yang dipakai pada Perjanjian Lama. Kata yang dipakai adalah Ra’ab atau Ra’eb. Selain dapat berarti lapar jasmani, kata yang sama juga bisa dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “lapar akan Firman”.

Saat saya berbicara tentang Firman, apa konsep atau benda yang pertama kali ada di benak kita? Banyak dari kita sampai sekarang secara otomatis langsung berpikir bahwa Firman adalah Alkitab. Dengan demikian “lapar akan Firman” berarti suka membaca Alkitab. Sama seperti orang yang lapar jasmani, yang selalu suka akan makanan.

Tetapi saya ingin Anda melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Pertama tentang “Firman”. Saya rasa Anda sudah sering mendengar tentang ini, bahwa Firman itu sudah menjadi manusia di dalam Yesus. Yohanes 1:14.

Kedua tentang “lapar”. Saya begitu tertarik dengan konsep kekurangan yang satu ini karena seperti yang saya katakan di awal, bahwa ini menjadi penanda kehidupan. Jika kondisi ini dibiarkan bisa terjadi sesuatu yang fatal.

Kalau saya gambarkan sederhana, bahwa rasa lapar mengingatkan kita untuk memberi pasokan/asupan/input pada tubuh supaya tetap bertahan hidup. Ini berlaku baik secara jasmani maupun secara rohani. Pada poin inilah seringkali kita menjadi salah kaprah. Seperti yang pernah dibahas oleh Herold Tadete (staf Gereja), terkadang kita kurang sadar akan kebesaran Tuhan. Kita mengecilkan konsep Firman itu semata-mata kaitannya dengan hal rohani. Firman hanya menjadi fisik ketika kita melihat Alkitab.

Kita lupa bahwa hanya karena Firman lah semua realitas fisik yang bisa kita lihat sekarang itu jadi. Coba lihat kembali Kejadian 1, semua yang bisa kita lihat dimulai dengan kata “berfirmanlah”. Bahkan tubuh jasmani kita juga adalah hasil bentukan Firman. Kejadian 1:26-27. Kita salah besar kalau berpikir bahwa Firman hanya berkaitan dengan hidup rohani kita saja, karena FIRMAN itu adalah PRIBADI yang membentuk kita.

Ketika kita mengotakkan bahwa Firman hanya berguna untuk hidup rohani saja, itu sama seperti seorang anak yang berpikir orang tuanya hanyalah sosok pemberi uang saja! Untuk anak seperti itu, memang perlu disadarkan dengan kasih karunia (dalam angka Alkitab dilambangkan dengan angka 5).

Apa yang saya ingin tegaskan adalah, Firman itu tidak muncul hanya untuk kehidupan rohani kita. DIA ada sejak dari mulanya, membentuk kita dari debu tanah.

Baru kemudian kita lihat di Kejadian 2:7 Tuhan Allah/Yehovah Elohim, menghembuskan RohNYA yang menjadikan kita hidup (sebagai mahluk rohani, jauh lebih mulia dari ciptaan yang lain).

Sampai disini saya berharap Anda mengerti konsep ini, bahwa Firman itu adalah pribadi. Karena itu kita perlu membangun hubungan dengan DIA sebagai pribadi. Ingat, kita lebih butuh DIA daripada DIA membutuhkan kita.

Analogi yang Yesus sampaikan dalam Yohanes 15 begitu menginspirasi. Kita ini “sama seperti ranting (yang) tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri”. Ayat 4. Dalam perikop tentang “Pokok anggur yang benar” ini ada 2 kali kata Firman disebutkan, di ayat 3 tentang bagaimana Firman itu membersihkan kita. Kemudian di ayat 7 tentang bagaimana Firman itu tinggal di dalam kita, untuk memberikan apa yang kita kehendaki (tentu saja yang sesuai dengan kehendak Illahi).

Sehingga kita lihat betapa pentingnya untuk terhubung dengan DIA. Hubungannya dengan lapar? Tentu saja ranting itu mendapat asupan dari pokoknya. Saya tidak pernah mendengar tumbuhan mengerang karena lapar. Tetapi ini yang saya tahu, ia terus menerus “lapar” akan asupan dari pokok itu, karena ia tahu disaat ia terlepas dari pokok itu, ia binasa.

Lapar yang seperti ini yang saya rasa menggambarkan “ra’ab” (istilah Ibrani yang saya bahas di awal penjelasan), yaitu kelaparan yang harus dipenuhi dengan terhubung kepada sumber. Apakah Anda “lapar” akan DIA? Ini adalah penanda kehidupan kita dalam mengiring Kristus. Berapa banyak kali lutut dan tangan kita terlipat, tetapi sebenarnya kita tidak benar-benar “lapar” akan PribadiNYA.

Saya tahu kita adalah manusia yang penuh kelemahan. Tetapi Paulus memberi pengertian dalam Roma 8:26 bahwa Roh Allah yang ada pada kita membantu kita dalam kelemahan manusiawi kita. Saya tidak sedang berdiri untuk menghakimi Anda yang tidak bisa fokus saat berdoa, atau mungkin kesulitan untuk melawan kantuk. Tetapi saat Anda mengambil sikap sebagai pribadi yang lapar akan DIA, Anda tidak akan berhenti membutuhkan DIA. Lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, aku butuh PribadiMU.

GodblesS

JEFF

MERAK VS GAGAK

Mungkin Anda semua pernah mendengar kisah tentang Merak dan Gagak. Bagi yang belum pernah mendengarnya, kira-kira kisahnya seperti ini: Alkisah ada seekor gagak yang seluruh bulunya berwarna hitam. Pada suatu hari ketika ia sedang hinggap di sebuah pohon, matanya melihat seekor angsa yang seluruh warna bulunya putih. Dalam hatinya gagak ini berkata, betapa senangnya memiliki bulu seputih itu, tentu saja angsa itu lebih bahagia dari diriku yang hitam ini. Ketika ada kesempatan untuk terbang mendekati angsa itu, gagak itu berkata, betapa bahagianya engkau angsa dengan bulumu yang putih bersih itu.

Namun tanpa disangka angsa itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat kakatua yang memiliki warna putih dan tiga warna cerah lain di bulunya. Gagak pun terbang dan berusaha mencari kakatua yang berwarna-warni. Ketika ia menemukan kakatua itu, ia mengajukan perkataan yang sama, betapa bahagianya kakatua dengan bulu yang berwarna-warni. Kakatua itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat merak yang punya warna lebih banyak dari aku, dan mampu mengembangkan bulu-bulunya dengan begitu indah.

Kakatua terbang kembali dan mencari dimana sang merak berada. Agak sulit mencarinya, tetapi kemudian ia melihat seekor merak, di sebuah kandang, dikelilingi orang-orang yang tanpa henti mengagumi warna-warni tubuhnya. Gagak berkata tentu ini dia yang paling berbahagia. Ketika kesempatan itu tiba, gagak terbang mendekat ke dekat kendang merak itu, dan mengajukan perkataan yang sama seperti ketika ia bertemu angsa dan kakatua. Namun apa jawab merak? Merak menjawab, betul aku senang dengan warna-warni buluku dan perhatian yang diberikan kepadaku, tetapi aku terkurung di kendang ini sepanjang hari. Ketika aku melihat ke sekitarku, hanya burung gagak saja yang bisa terbang bebas, tanpa perlu dimasukkan ke kandang. Aku rasa aku akan lebih bahagia dengan kebebasan seperti itu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, membandingkan adalah suatu “permainan” di pikiran yang menyenangkan, itu tidak selamanya salah, namun saya ingin menekankan satu hal: bahwa menbanding-bandingkan bisa menjerumuskan! Saya akan coba bahas 3 pernyataan ini.

Pertama, membandingkan sesuatu adalah hal yang menyenangkan, bahkan saya rasa hampir semua kita pernah memainkan permainan membandingkan, contohnya permainan membandingkan 2 gambar dan mencari perbedaan. Sepertinya membandingkan itu menjadi respon alamiah kita sebagai manusia. Kita membandingkan ketika ada pergantian presiden, atau kalau di lingkup gereja, kita membandingkan ketika ada pergantian kepala suatu bidang, atau fasilitator, atau koordinator. Atau mungkin ada juga yang membandingkan ketika ada pergantian pasangan? Tentu saja ini untuk yang belum menikah!

Kedua, membandingkan tidak selamanya salah, atau berkonotasi negatif. Saya teringat ada ayat-ayat dimana dengan membandingkan itu berarti:

  • Suatu peringatan atau teguran. Wahyu 2:4.
  • Suatu dorongan untuk memacu kita melakukan sesuatu yang lebih baik. Lukas 21:4, 2Korintus 8:1-7.
  • Suatu pembuktian superioritas (betapa jauh lebih luarbiasanya) Allah. Dikatakan IA lebih dari bapa di dunia (Matius 7:11), lebih dari malaikat (Ibrani 1:5), dan lebih dari Musa (Ibrani 3:3).

Namun ini yang menjadi penekanan saya hari ini, bahwa membandingkan bisa kemudian menjadi menjerumuskan. Seperti di poin pertama, adalah hal yang alamiah ketika manusia membandingkan. Tetapi waspadailah bahwa ada bahaya yang muncul ketika kita membandingkan, karena itu bisa mengakibatkan:

  • IRI HATI, yang kemudian melahirkan kejahatan. Kejadian 4:5-9. Ada kisah-kisah yang kurang lebih sama di Kejadian 37 dan di 1Samuel 18.
  • TIDAK MENGUCAP SYUKUR. Ini adalah sesuatu yang harus kita lawan hari demi hari, tentu saja kita tidak mau mengulangi kisah di Bilangan 11, saat orang Israel membanding-bandingkan (ayat 4-6) dan akhirnya menjadi rakus, lalu terkena murka Allah (ayat 33).
  • MENJADI RAKUS, TAMAK, yang pada akhirnya seperti poin “Iri Hati” akan menimbulkan kejahatan yang lain lagi. Rakus akan kepemilikan membuat Ahab, dengan bantuan Izebel, menyingkirkan Nabot. 1Raja-raja 21. Rakus akan kekayaan membuat Ananias dan Safira bersepakat untuk menipu. Kisah Para Rasul 5. Karena cinta akan uang tidak akan memberi kepuasan (Pengkhotbah 5:10), malahan menjadi akar segala kejahatan (1Timotius 6:10). Saya karena hal ini (kerakusan, ketamakan), kemudian perjudian menjadi masalah besar.

Saya akan kehabisan waktu untuk bicara tentang membandingkan dalam hal tahta dan cinta, yang juga akan membawa kepada “berbagai-bagai duka”. Mungkin 3 hal ini yang ingin saya ingatkan kepada Anda:

  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan HARTA, Anda dengan orang lain, ingatlah harta di Surga. Matius 6:20.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan TAHTA, Anda dengan orang lain, ingatlah seorang pemimpin adalah pelayan. Lukas 22:26.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan CINTA, Anda dengan orang lain, ingatlah bahwa hendaknya kita hidup kudus dan terhormat. 1Tesalonika 4:3-5.

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

GodblesS

JEFF

VICTORY THROUGH CHRIST

Mengapa kita harus menang? Karena tidak ada satupun dari kita yang suka kalah, bukan? Kita berusaha untuk mencapai kemenangan dan kecewa ketika kita tidak memperolehnya. Tetapi kemenangan seperti apa yang kita mau miliki, itu kemudian menentukan pilihan kita, dan tentu saja tindakan kita. Ada kemenangan karena kita berbuat jahat, curang, meminta bantuan yang tidak seharusnya. This is bad victory. Segala sesuatu yang dilakukan dalam dosa, meskipun itu nampak bagi banyak orang sebagai kemenangan, tetapi sejatinya itu tetap sesuatu yang buruk.

Menariknya, sebelum Kristus, kita yang merupakan keturunan dari Adam pertama adalah orang-orang yang kalah! Karena “semua orang berdosa” dan akibatnya kehilangan kemuliaan Allah. Roma 3:23. Kita tidak pernah bisa menang dari kondisi kita yang berdosa. Kemudian apa yang dibawa oleh dosa itu? Maut! Roma 6:23. Sehingga kita tidak bisa memperoleh hidup kekal, seberapapun kita “menang” di hidup dunia yang sementara ini. Itulah mengapa kita butuh Juruselamat, kita butuh “superhero”.

“Our Superhero” adalah YESUS. Lebih dari semua Superhero yang kita kenal sekarang: Superman, Batman, Wonder Woman, Black Widow dan lainnya. Superhero kita “nyata dan tidak fiktif”! Yesus ada dan menjadi bagian dari Sejarah manusia. Tidak ada Superhero yang menjanjikan kekekalan dan tempat indah bersama dengan DIA. Yohanes 14:3. Bahkan Yesus memberi dan menjadi Penolong yang menyertai selamanya. Ayat 16.

Karena DIA selalu menyertai kita maka kita sekarang menjalani hidup yang Berkemenangan (Victorious Living)”. Ini adalah kebenarannya, bukan menurut kata orang, tetapi menurut kata Tuhan. Karena itu Tuhan minta kita “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6) untuk mengungkapkan apa yang Tuhan sudah lakukan untuk kita, untuk mengungkapkan status terkini kita. Lalu apa kemenangan kita? Hidup yang kekal, sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan dalam dosa. Roma 6:23. Karena IA adalah pemenang, maka kita adalah para pemenang, bahkan lebih dari mereka yang menang. Allah yang berperang ganti kita. Kemenangan itu menjadi milik kita karena Allah di pihak kita, karena Yesus ada bersama kita. 1Korintus 15:57.

Banyak orang berkata lebih sulit untuk mempertahankan kemenangan daripada memperolehnya. Lalu bagaimana kita bisa menjaga kemenangan kita. Jelas dalam Alkitab disebutkan bahwa IA ingin kita menjadi pengikutNYA, muridNYA. Murid Itu ada tinggal tetap dalam FirmanNYA, KebenaranNYA dan kebenaran itu memerdekakan. Yohanes 8:31-32. Dengan demikian kita bisa tetap menjadi orang-orang yang menang.

Apa yang sekarang Anda hadapi mungkin nampaknya adalah kekalahan dalam pekerjaan atau usaha, dalam studi, dalam pelayanan, dalam hubungan, dalam Keluarga, Anda sebutkan saja kekalahan. Tapi ingatlah sebenarnya Anda adalah pemenang, dan kemenangan yang Anda peroleh, didapat melalui Kristus, sehingga tidak ada perbedaan. Roma 3:22. Semua yang ada di dalam Kristus adalah pemenang!

Sayang sekali jika kita menggadaikan kemenangan kita, yaitu hidup kekal dengan sesuatu yang sementara seperti harta, tahta, dan cinta. Kita tahu dan dengar banyak orang percaya yang dulunya ada di dalam Kristus, kemudian meninggalkan DIA untuk pasangan hidup, untuk jabatan, untuk harta yang lebih banyak. Saat ini waktunya untuk mendeklarasikan kemenangan kita sekali lagi, bukan karena kita lebih dari orang lain, tetapi sekali lagi karena Yesus!

ENDURANCE (Hidup sebagai Orang Muda Kristen)

Ini adalah suatu sukacita bisa berada di tengah-tengah orang-orang muda di Bogor. Sepulang dari tempat ini ada harapan supaya Anda semua menjadi orang-orang muda jaman sekarang, yang kekinian, tetapi tidak tergoyahkan (endurance). Anda tekun sedemikian rupa sampai dapat menjadi dampak bagi lingkungan sekitar (keluarga di rumah, lingkungan sekolah, dan lain-lain) meskipun PROSES atau SITUASI-nya tidak mudah. Efesus 4:14 berkata bahwa yang mudah diombang-ambingkan itu “anak-anak” tetapi kita “dewasa” secara rohani meskipun secara usia masih unyu. Orang muda sering dikatakan tidak berhikmat, namun dalam Yakobus 1:5-6 kalau kita ingin menjadi generasi yang penuh dengan hikmat, kita harus meminta kepada Tuhan dengan IMAN yang tidak tergoncangkan. Jadi keputusan Anda datang saat ini adalah keputusan yang benar!

Saya akan berusaha untuk menjelaskan dalam 60 menit ke depan seperti apa seharusnya hidup seorang muda yang memilih untuk menjadi pengikut Yesus (atau biasa disebut Kristen). Saya akan bagi jadi empat bagian untuk menjelaskan bahwa Anda adalah:
Orang yang diciptakan dengan seksualitas.
Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.
Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.
Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Mari kita mulai dengan yang pertama:
Anda adalah orang yang diciptakan dengan seksualitas.

Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Namun gambaran ini rusak karena dosa. Siapa kita sebenarnya? “Pada mulanya”. Tahukah kita bahwa Allah menciptakan suatu lingkungan yang sempurna untuk pria dan wanita dapat hidup dan memenuhi tujuannya? Coba saja lihat dari hari pertama sampai dengan hari keenam dalam minggu penciptaan.

Kejadian 1:27 DIA menciptakan kita serupa dan segambar dengan diriNYA. Serupa dan segambar adalah kesamaan manusia dengan Tuhan dalam hal ROHANI. Anda adalah manusia roh. Yakobus 2:26, Yakobus 4:5. Sehingga apa yang terjadi di secara fisik seharusnya kamu pikirkan apa efeknya secara roh.

Kehidupan manusia, khususnya orang muda, tidak bisa dilepaskan dari bicara tentang cinta, cinta itu bukan sekedar romansa. Menurut Alkitab Cinta itu adalah Pribadi Allah, sehingga ketika kita bicara tentang cinta berarti kita sedang membahas Allah yang adalah Roh. 1Yohanes 4:8.

Cinta adalah sesuatu yang menjadi tema universal. Cinta adalah sesuatu yang menembus semua batasan yang manusia kenal.
Jarak? Cinta mampu menembusnya.
Waktu (usia)? Cinta mampu melewatinya.
Status sosial? Cinta mampu meruntuhkannya.
Apa lagi yang Anda pikirkan? Tingkat pendidikan, faktor ekonomi, kondisi fisik, penyakit, dan pembatas lainnya, meleleh kalau dihadapkan dengan Cinta. Karena Cinta bisa mengatasi segalanya tak heran kalau ada yang berkata Cinta / Kasih adalah yang terbesar atau terutama. 1Korintus 13:13.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi secara fisik ketika kita kemudian mendefinisikannya sebagai “cinta”? Otak kita terpicu oleh sensor atau indera, dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh sebagai respon. Secara sederhana, indera kita (mata) menangkap stimulus (melihat) yang bergerak atau diam (objek lawan jenis).

Otak yang menerima informasi ini segera mengirimkan impuls ke tubuh, yang bisa berupa jantung yang berdetak semakin cepat, tangan yang berkeringat, pupil mata yang membesar dan yang lainnya. Bahkan ada sebuah penelitian pada 2004 di London menyebutkan bahwa ketika seseorang mengalami perasaan “cinta”, hal ini menekan aktifitas otak di area yang mengendalikan pemikiran kritis.

Kita bisa bilang bahwa cinta adalah gejala psikofisis, maksudnya apa yang terjadi didalam yang tak terlihat (psikis) nampak dalam apa yang terlihat diluar (fisik). Apa yang terlihat sebagai perilaku sebenarnya hanyalah fenomena gunung es.
Jadi ketika ingin memperbaiki apa yang ada diluar seharusnya yang difokuskan adalah pembenahan apa yang didalam. Ingat ini: healthy inside, fresh outside. Atau dengan kata lain hatimu menentukan perilakumu, karena dari dalam hati timbul segala sesuatu pikiran dan perbuatan jahat. Lukas 6:45.

Cinta ada di hati, lalu hati itu dimana? Itu ada di jiwa kita, di pikiran kita. Itulah kenapa sebenarnya ketika kita menang dalam pikiran, maka kita bisa juga menang dari hal-hal menyimpang dalam ekspresi cinta kita:
Mencintai diri sendiri (narsisme).
Mencintai dengan eksploitasi seksual.
Mencintai sesama jenis.
Mencintai dalam status yang di luar etika Kristen (kawin-cerai, duda-janda, dibawah umur dan lain sebagainya).

Karena cinta ini ada di hati, yaitu pikiran kita, maka hubungannya akan sangat erat dengan konsep diri kita. Konsep diri yang saya maksudkan adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Bayangkan betapa banyak dana yang dikeluarkan wanita untuk menjadikannya sosok ideal dan dicintai secara fisik: rambut hitam lurus panjang, badan langsing, muka bercahaya, dan kulit yang putih. Konsep seperti ini kemudian dipasarkan sebagai sosok ideal. Tapi apakah benar? Sebab setiap orang berpikir bahwa jalannya lurus menurut pemandangannya sendiri. Amsal 21:2.

Jadi bagaimana kita menghindari sindrom-sindrom seperti ini? BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL. 1Tesalonika 5:18. Kata yang sering kita dengar tapi kadang jarang kita praktekkan. Tahukah kita bahwa kejadian / eksistensi kita ini ajaib dan dahsyat. Mazmur 139:14. Banyak orang “haus” akan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa. Padahal itu ada didalam dirinya.

Tahukah Anda bahwa Anda diciptakan sempurna? Anda merasa tidak sempurna disaat Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain. Dan di dunia yang tidak sempurna ini segala sesuatu bisa terjadi. Konsep yang seperti ini bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Seseorang merasa dirinya terjebak didalam tubuh yang salah. Atau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang salah. Saya tahu ini hal yang sulit dimengerti, tetapi homoseksualitas (gay/lesbian), transgender (wanita-adam) atau biseksualitas, adalah pilihan yang diambil seseorang sama ketika dia memilih untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Karena ada konsep anima-animus bahwa di setiap pria ada unsur wanita didalamnya dan demikian sebaliknya.

Lalu kapan seorang pria-wanita bisa memulai pacaran? Jawaban yang mudah adalah ketika keduanya sama-sama siap. Tetapi kapan mereka siap? Kesiapan secara psikis adalah patokan. Karena dari dalam hati keluar perbuatan yang jahat. Maka pastikanlah bahwa hati atau motif yang terkandung didalamnya adalah baik. Secara pribadi berpacaranlah setelah engkau bisa menghidupi diri sendiri secara ekonomi. Karena disaat engkau mulai dapat menghidupi diri sendiri engkau sudah mulai bertanggungjawab tentang dirimu. Engkau bisa mengasihi orang lain, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Cinta adalah hubungan, selalu melibatkan 2 pihak. Ada yang menerima dan ada yang memberi. Nah cinta adalah perasaan yang timbul dari hubungan dengan lawan jenis. Ini yang menarik, karena kita akan mendasarkan bahasan kita pada sex. Bukan triple x, tapi sex. Sex sendiri adalah perbedaan jenis kelamin.

Nah sekarang kita lihat bahwa pemahaman tentang seks harus diketahui sejak dini. Namun ada tingkatan pelajaran seks itu dari basic – intermediate – advance. Pendapat yang mengatakan “Ah binatang aja nggak diajarin bisa beranak pinak!” tidaklah lagi relevan, kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang. Kompleksitas hubungan dalam manusia yang membuatnya berbeda.

Making future plans is a healthy ingredient for a growing relationship, It’s also an indicator of the commitment you have to each other.

Hidup yang berkualitas itu tidak ditentukan oleh seberapa kali Anda berhasil memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Apalagi jika itu berlanjut ke hubungan seks. Hidup yang berkualitas adalah ketika Anda bisa bertanggungjawab pada diri Anda sendiri. Ikan yang hidup selalu berenang melawan arus. Hanya ikan mati yang terikut arus.

Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.

Konsep diri seseorang yang rusak dari lingkungan dan media menimbulkan perilaku yang menyimpang. Karena konsep diri yang positif akan menjawab pertanyaan “Siapakah Aku?” dan “Untuk apa aku ada?” Kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini akan memicu seseorang mengejar sesuatu yang semu. Mereka bergabung dengan komunitas yang dapat menunjukkan eksistensinya, misalnya geng motor, atau vandalisme.

Kita tahu bahwa kita diciptakan untuk jadi pengubah dan pembeda di lingkungan kita. Kita akan membuat sejarah dalam satu titik di hidup muda kita! KITA ADALAH PENGUBAH SEJARAH! Pertama-tama kita akan membahas mengenai “pembuat tren”, selama ini apakah kita adalah pembuat tren atau pengikut tren yang ada? Mungkin ada yang berpikir: Wah, bagaimana dengan skinny jeans ku, apa kabar celana “gemes” yang baru dibeli, udah terlanjur diwarnain “ash grey” rambutku? Aduh, apa musti dihapus semua account social media? Hey hey hey, easy. Tenang dulu.
Bukan berarti kita kembali ke jaman batu karena kita nggak mau disebut trend follower. Maksud saya sebenarnya jangan terjebak dengan TREND yang sudah ada, tanpa kemudian menyadari panggilan kita sebagai pengubah, pembeda. Coba kita baca apa yang Yesus katakan. Matius 5:13-16. Anda adalah pembeda. Menariknya disini dikatakan Yesus sebagai identitas kita. Jadi ini bukan sesuatu yang menjadi tujuan kita, melainkan ini adalah identitas kita. Kamu adalah TERANG & GARAM.
Coba kita sekarang lihat apa yang ditulis dalam 1Tawarikh 4:10.Apa yang dimaksud Yabes dalam doanya, yang juga dijadikan lirik lagu rohani ini? Kalau kita mau hubungkan dengan apa yang membuat kita berbeda dengan “memperluas daerahku”? Apakah kita perlu jadi “tuan tanah”?
Maksudnya adalah memperlebar pengaruh kita kepada orang lain. Karena kita bisa menampung lebih banyak orang. Bukankah ini yang Yesus mau didalam hidup murid-muridNYA dengan berkata “pergi dan “memberitakan” kabar baik. Supaya pemberitaan Firman Tuhan lebih jauh dari sekedar Yerusalem, namun juga ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kisah Para Rasul 1:8.
Kita akan bayar harga berapapun untuk menjadi dampak yang positif. Dalam Filipi 1:20-21 dengan berani Rasul Paulus berkata bahwa: Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Lebih lagi kepada Timotius Paulus berkata di 2Timotius 1:11-12 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Sampai disini saya harap Anda bisa melihat bahwa untuk menjadi seorang yang berbeda kita harus berpikir lebih besar dan mau bayar harga. Anda adalah seperti thermostat dan bukannya thermometer.

Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.

Perkembangan teknologi menjadi tidak terbendung lagi. Dari jaman ke jaman manusia menciptakan sesuatu yang bisa membantu dirinya untuk memenuhi keingintahuan mereka akan banyak hal. Contohnya, sejak kecil seorang anak selalu diisi keingintahuan mereka akan banyak hal. Mulai dari pertanyaan pula, kemudian timbul inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan baru. Tahukah kita bahwa manusia memang memiliki kemampuan pikir yang tidak terbatas? Kejadian 11:6. Jadi jangan kaget dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Sebenarnya ini adalah pendorong semangat kita bahwa apa yang difirmankan Tuhan sama bagi kita juga, yang hidup pada masa sekarang. Think big, think global but act locally.
Disaat yang sama kebutuhan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tetap mengambil posisi yang penting. Contohnya saja kita bisa lihat bagaimana seseorang berusaha memiliki teman atau kenalan, dan bahkan saling mengklaim bahwa mereka memiliki teman atau sahabat yang banyak. Kita bisa mengerti ini juga mengapa penulis Amsal merasa perlu menuliskan nilai-nilai dalam relasi dengan orang lain. Amsal 27:10.
Apa yang terjadi ketika kedua komponen, yaitu teknologi dan hubungan manusia-dengan-manusia digabungkan? Lahirlah SOCIAL MEDIA. Jika kita coba perhatikan benar-benar, semua teknologi yang berusaha menghubungkan manusia dengan manusia yang lain itu adalah Social Media, yang kalau diterjemahkan bebas adalah media atau tempat mengekspresikan diri supaya terhubung dengan yang lain (social). Tetapi ada orang lain yang juga mendefinisikan social media sebagai kumpulan usaha menyalurkan komunikasi secara online (di dunia maya), yang dilakukan dengan beragam maksud, misalnya memberi masukan bagi komunitas, menjalin interaksi, berbagi suatu konten (muatan) dan juga berkolaborasi. (www.techtarget.com). Saya pikir inilah kemudian yang jadi daya tarik Social Media, karena ada tiga komponen ini:
Keingintahuan manusia yang sudah ada dalam dirinya.
Dari poin diatas itu ditambah potensi kecerdasannya, kemudian melahirkan teknologi untuk membantu manusia.
Keinginan atau bisa disebut kebutuhan manusia untuk terus terhubung, karena manusia juga mahluk sosial.

Saya juga memiliki beberapa data yang mencengangkan tentang jumlah pemakai social media, dan mungkin ini yang ter-update, karena Facebook Indonesia sendiri mencatat pada akhir kuartal kedua (Juni) 2016, pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia adalah 88 juta pengguna. Padahal di akhir 2014 pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia baru 77 juta. Saya bayangkan kalau perkembangan gereja seperti ini pasti luar biasa. Fakta menarik lainnya, 94% dari pengguna itu mengakses Facebook dari perangkat mobile (handphone, tablet). Kemudian statistic ini juga menarik, dalam sehari rata-rata 80 kali orang mengecek perangkat mobile nya. Kemudian 14 kali diantaranya yang dicek adalah Facebook. Holy Bible sekarang “kalah” akses dengan Holy Facebook. Dalam hal ini saya tidak mau menghakimi Anda jika Anda lebih banyak mengakses Social Media dibandingkan dengan Alkitab. Tetapi saya terus menyarankan untuk Anda melakukannya dalam level moderat. Ketika itu mengikat Anda, itu sama saja Anda kecanduan. Itulah mengapa saya sarankan misalnya Anda ambil puasa atau lebih tepatnya pantang Social Media sekali waktu dalam minggu-minggu yang Anda jalani.
Menariknya semua teknologi yang tercipta, atau bahkan semua barang itu memiliki dua “sisi”, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seperti sebuah batu Anda bisa gunakan untuk yang positif (Bilangan 11:8) dan yang negative (Hakim-hakim 9:53).
Jadi apa saja yang jadi pengaruh positif dan negatif dari Social Media? Mari kita mulai dari yang positif.
Dampak positif dari Social Media:
Semua orang yang memiliki akses mampu mengembangkan “lingkaran” pertemanannya. Ketika kita punya teman berarti kita punya pengaruh, otomatis “lingkaran” pengaruh kita juga membesar.
Kita memiliki banyak sumber berita dan ini lebih cepat dari media-media elektronik konvesional sekalipun. Demikian juga inspirasi kita untuk ide-ide segar, dan cara pikir kita menjadi lebih luas.
Menghemat ongkos komunikasi local dan global menjadi sangat minim, menjadi sangat cepat dan efisien.
Dampak negative dari Social Media:
Menjauhkan orang-orang yang sebenarnya secara fisik lebih dekat daripada “orang-orang” yang ada di social media.
Sumber berita yang banyak bisa kemudian membuat kita terlalu banyak informasi-informasi yang tidak berguna.
Karena semakin murah dan mudah maka orang memanfaatkannya dengan tidak bertanggungjawab. Banyak sekali cyber-bullying, dusta, bahkan pembunuhan karakter terjadi di social media.
Secara singkat, social media me-revolusi pandangan kita dalam hal moral (benar-salah), budaya (mengenal suatu nilai dan mengadopsinya) dan juga iman (dasar percaya pada Tuhan). Semuanya seperti yang saya paparkan di atas memiliki dua sisi: positif dan negative.
Ada banyak penerapan yang salah dari Social Media. Kalau mau diurutkan tentu saja akan ada banyak hal yang kontra-produktif dari penggunaan social media. Saya sendiri punya pengalaman menarik dengan social messenger. Saya memutuskan untuk berhenti dari segala jenis social messenger mungkin sudah 2 tahun terakhir. Saya pengguna aktif social messenger sejak 2008, dimulai dengan BBM. Bayangan pertama kali adalah ini akan membuat saya bisa terkoneksi tanpa batas dengan semakin banyak orang, tetapi ternyata semakin tahun, social messenger membuat saya begitu terikat, dan pada dasarnya mulai mengganggu. Saya putuskan untuk menjadi lebih simple dengan hanya memiliki account social media di FB, Youtube, dan weblog. Sementara untuk komunikasi: call-text-email.
Tidak ada yang salah dengan keberadaan awal social media untuk menghubungkan antar manusia yang berbeda jarak. Tetapi ingat tidak semua hal berguna. 1Korintus 10:23. Anda tidak perlu se-ekstrim saya, tetapi saya harap Anda bisa mengerti jebakan penggunaan social media:
Menjebak Anda untuk mengasihi sebuah aplikasi teknologi dibandingkan mengasihi Tuhan. Matius 10:37.
Menjebak Anda untuk “memberi makan” ego Anda. Galatia 5:20 merujuk pada perbuatan daging, tetapi di Yakobus 3:14 kita diberi petunjuk supaya jangan lebih jauh terjerumus.
Menjebak Anda untuk menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa dipergunakan untuk hal lain. Mazmur 78:33.

Coba baca pernyataan ini:
Social media is a tool to share the light, not to share your gloomy feelings.
(JM)
Ingat kan sama ayat ini: Matius 5:14-16. Pertanyaannya gini, apakah orang bisa memuliakan Tuhan dengan apa yang kita lakukan di social media? Coba balik ke ayat 13, ini peringatan keras! Ketika kita kehilangan “asin” atau “unsur pembeda” dari dunia, maka kita tidak ada gunanya. Social media adalah lingkungan yang gelap (negative), apa gunanya kamu datang dan membawa “gelap”?

Hal-hal praktis yang bisa kamu lakukan

Taruh app Alkitab di samping app social media mu. Sehingga setiap kali pagi hari membuka Alkitab, Anda ingat bahwa Tuhan yang pertama!!! Tentu saja itu juga harus diikuti dengan membatasi “penggunaannya” ayo penguasaan diri.
Cara untuk lepas dari belenggu social media adalah dengan berpikir yang benar, sama seperti semua “kecanduan” lain, yang harus lepas pertama adalah dari pikiran. Roma 12:2.
Lihat social media sebagai “alat” bukan “kebutuhan”. Matius 4:4.

Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Setiap kita terlahir untuk sebuah misi. Setiap misi memiliki tujuan. Ini penting untuk diketahui oleh kita agar hidup yang kita jalani tidak sia-sia. Berbicara tentang kesia-siaan, Salomo, seorang raja besar dan terkenal, pernah menuliskan amsalnya mengenai kesia-siaan.

Salomo pernah berkata demikian: Apa guna kita bekerja? Pengkhotbah 1:3. Mari kita secara sadar merunut apa yang terjadi dalam siklus hidup manusia. Manusia Lahir – Proses Belajar – Bertumbuh Dewasa – Bekerja – Menikah – Merawat anak – Menua – Meninggal. Sehingga jika disederhanakan manusia lahir untuk meninggal. Begitu sia-sianya!

Ketika kita tidak menyadari misi yang kita emban, cepat/lambat hidup kita akan terjebak dalam rutinitas yang menjemukan Pengkhotbah 1:4-8. Tapi menarik sekali bahwa untuk setiap tokoh di Alkitab ada misi yang Tuhan embankan dalam hidup mereka. Mari kita lihat beberapa contoh diantaranya:
Adam, misi hidup manusia pertama ini tercantum dalam Kejadian 1:26.
Abraham, misi hidupnya terangkum di ayat ini Kejadian 22:18.
Musa, misi hidupnya dinyatakan di ayat Keluaran 3:10.
Elia, misi hidupnya bisa kita temukan di 1Raja-raja 19:16.
Yohanes Pembaptis, misi hidupnya dituliskan dalam Markus 1:2-4.
Yesus, Anak Allah yang memiliki misi luar biasa Yohanes 5:36.

Mengenali Misi : dalam perkataan pertama Yesus yang tercatat di Injil Lukas adalah: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Yesus mengerti sejak berusia 12 tahun bahwa ia dipanggil pekerjaan/rencana Bapa di Surga. Kita bisa berkata: “Tentu saja! Dia Anak Allah.” Tetapi kita harus ingat karakter orangtua seperti apa yang membesarkan Yesus.
Maria adalah wanita yang sejak masa mudanya adalah hamba Allah, dia begitu taat sampai ketika mendapat panggilan sebagai “ibu” Kristus, dia berkata dalam Lukas 1:38 “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Yusuf adalah seorang yang “tulus hati” Matius 1:19.
Mereka mengenalkan Yesus dengan pembacaan Taurat dan kehidupan Bait Allah. Lukas 1:21-22.

Seringkali saya bertanya kepada anak pra-remaja dan remaja, dan mereka tidak mengerti akan jadi apa mereka, apa yang Tuhan mau, karena ada orangtua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk bicara tentang masa depan. Salah besar! Sejak anak kita mengerti dan mampu memahami (dalam istilah psikologi perkembangan Formal Operation Stage) bahkan juga tahapan sebelum itu, maka mereka bisa diajar mengenai hal ini. Mengenal misi mereka di dunia. Sehingga apa yang kita tabur di “Yerusalem” ini akan berbuah luar biasa.

Bagaimana dengan yang sudah dewasa seperti Bapak/Ibu. Mari lihat apa yang dikatakan Yesus di masa dewasanya. Yohanes 17:4. Yohanes 10:25-30. “Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”

Inilah mengikut Yesus: melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran).

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Minggu lalu kita sudah dijelaskan Gembala mengenai ini secara detail. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan parallel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4. Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

Setiap proyek baik membutuhkan 3 unsur ini: Doa-Daya-Dana. Itu memberi kita opsi yang luas untuk terlibat dalam pelayanan apapun.

ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

  • Ada sesuatu yang hilang / kosong.
  • Ada sesuatu yang mati.
  • Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

  • Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.
  • Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.
  • Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Persaudaraan dan kekeluargaan di jemaat lokal baik untuk kemajuan rohani Anda. Tetapi Anda juga pasti ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa. Khusus mengenai tingkatan “orang muda”, mereka “mengalahkan yang jahat”, saya percaya ini adalah konsep menjadi terang dan garam (yang “overpowered” kegelapan dan ketawaran dunia).

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Menjadi Anak Allah” @jeffminandar.com), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

  1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.
  2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.
  3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “apa yang dikejarnya” salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung!

Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita. Dengan menyadari bahwa kita sudah dipindahkan dari kebinasaan kepada kehidupan seharusnya membuat kita makin mencintai (mengasihi, melayani, menolong) “rumah kita” yaitu “tubuh Kristus”.

GOOD NEWS (Kabar Baik)

Kabar baik adalah sesuatu yang ditunggu semua orang. Pada tahun-tahun ini, mungkin ada beberapa kabar yang membuat Anda sedih dan kecewa. Namun mungkin juga ada beberapa kabar baik yang Anda terima dan membuat setidaknya Anda tersenyum. Apa pun itu, kita tahu bahwa ada kabar baik untuk kita semua tanpa terkecuali. Suatu kabar pengharapan untuk menghadapi hari-hari kedepan.

Lukas 4:18. Yesus sendiri menyatakan bahwa kedatanganNYA adalah untuk membawa kabar baik. Apa kabar baiknya? Tahun rahmat Tuhan, tahun Anugerah Tuhan telah datang. Waktu kemurahanNYA telah datang. Tuhan tidak marah terhadap Anda, Tuhan malahan memberi Anugerah, sebuah hadiah yang seharusnya tidak layak kita terima. Hadiah diberikan kepada seseorang setelah perbuatannya. Misalnya dalam perlombaan. Namun anugerah, berarti seseorang yang tidak layak, yang tidak mampu mengupayakannya sendiri. “Anda adalah anugerah dan bukan musibah”. Katakan itu kepada pasangan Anda.
Yesus adalah anugerah yang melebihi hadiah apapun yang mungkin kita bisa terima. Jauh lebih berharga dari hadiah yang dunia bisa tawarkan.

Jika kita baca Roma 8:32 dikatakan: “IA yang tidak menyayangkan…” You won’t appreciate something until you realized how precious it is to someone else. Hal-hal seperti ini biasanya Anda dapatkan ketika Anda bertemu dengan orang yang posisi, kondisinya lebih sulit dari Anda. Ini terjadi di kedukaan. Atau juga ketika Anda mengunjungi tempat-tempat terpencil yang kekurangan air, makanan, atau listrik misalnya. Anda akan kemudian sangat menghargai hal yang sangat sederhana. Mungkin Anda ingat cerita Raja Daud dan pahlawan-pahlawannya di 2Samuel 23:13-17.

Kalau kita kembali pada pembacaan kita di Roma 8:32, selanjutnya ditulis “…tetapi yang menyerahkanNYA bagi kita.” Anda akan dapatkan bagaimana berharganya anugerah yang Anda peroleh, dan itu diserahkan “bagi kita”, khusus, spesial. Ini yang membuat Natal spesial. “Hadiah” sejati, “hadiah” terbesar, “hadiah” paling berkesan di masa Natal adalah Yesus sendiri. Saya pernah juga menyampaikan betapa orangtua saya (dan tentu saja banyak orangtua lain disini) yang sangat menyayangi anaknya. Anda pasti bisa menghayatinya.

Karena itu seharusnya kita punya “cara pandang yang positif” mengenai Tuhan. Karena Allah bukan lawan kita, namun Allah adalah BAGI KITA. He is for us!!! Dalam Mazmur 146:8 “…Tuhan mengasihi orang-orang benar.” Anda bisa berargumen: “tetapi saya belum benar, saya belum sempurna…” Betul. Demikian juga dengan Abram. Kejadian 15:6. Seseorang yang tidak benar, namun karena imannya membuat dia dibenarkan di hadapan Allah. Kalau kita melihat ke Perjanjian Baru, seperti halnya Abram, iman kita kepada Yesus yang membenarkan kita. Roma 3:23-26.

Kalau berkaca pada perbuatan kita, dosa sajalah yang kita perbuat, namun syukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus yang lahir dan hadir bagi kita semua, kita dibenarkan. Hendaknya kita bersyukur sungguh, dan bermegah hanya di dalam DIA. 1Korintus 1:30-31. Inilah kabar baik itu, yang diberikan supaya kita juga bagikan (makna penginjilan adalah membagikan): ANAK ALLAH TELAH DIBERIKAN BAGI KITA KARENA KASIHNYA PADA KITA. Itulah mengapa kesimpulan dari semua Injil/Kabar Baik itu selalu kembali kepada: Yohanes 3:16. Ini kemudian diulangi lagi di 1Yohanes 4:9, bahwa kasihNYA membuat kita hidup.

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus sebenarnya sudah dinubuatkan dalam Yesaya 9:5. Untuk membahas mengenai “Anak Allah yang diberikan bagi kita” pertama-tama kita akan membahas dulu mengenai konsep “Anak Allah”. Ini adalah konsep yang sering kita dengar dalam kekristenan, namun sebenarnya adalah suatu konsep asing dalam agama-agama monotheism.

Lain halnya dengan agama-agama polytheism yang seringkali memang menggambarkan tuhan/dewa-dewinya bisa saling kawin, baik antar dewa, maupun cross-breed dewa dan manusia, atau binatang? Saudara bisa melihat itu di kisah-kisah seperti Hercules, dimana dia adalah anak dari dewa Zeus, dewa tertinggi dalam mitologi Yunani. Tetapi saya tidak ingin membahas ini lebih jauh, karena inti yang ingin saya sampaikan adalah konsep Anak Allah adalah sesuatu yang lumrah bagi penganut politheisme. Namun sebaliknya menjadi konsep yang sulit dicerna oleh penganut monotheisme (contoh: Yahudi, Kristen, Islam).

Itulah mengapa, terutama kita yang menghadapi banyak pertanyaan dari dunia yang tak mengenal Yesus penting bagi kita untuk bisa menjawabnya dengan cara yang baik. Karena Rasul Petrus mengingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus bisa mempertanggungjawabkan pengharapan yang kita percayai. 1Petrus 3:15.

Apa penjelasan yang bisa kita berikan mengenai konsep “Anak Allah”. Saya akan berikan 3 penjelasan yang berurutan, dan semoga ini memudahkan Anda juga untuk menjelaskan kepada orang lain.

  1. Untuk berbicara dengan manusia, Allah menggunakan bahasa manusia. Mazmur 73:22.
  2. Tuhan merendahkan diriNYA untuk menjadi sama dengan manusia. Filipi 2:5-8.
  3. Menjadi serupa dan segambar adalah sesuatu untuk menggambarkan konsep Anak. Kejadian 5:3.

Melanjutkan poin ketiga di atas, saya ingin menjelaskan lebih lanjut bahwa meskipun sebutan “Anak Allah” sering disematkan kepada Yesus, namun itu bukan saja mengacu kepada Yesus. Anak Allah juga bisa mengacu kepada:
Adam. Kejadian 1:26.

Kita semua yang percaya pada Yesus dan dipimpin Roh Allah. Roma 8:14-15.
Anak Allah diberikan bagi kita. Karena iman kepadaNYA lah kita menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” Suatu jaminan untuk kita tidak takut lagi. Katakan AKU ANAK ALLAH, aku tidak perlu takut lagi, sebab jika Allah di pihakku, siapa yang akan menjadi lawanku! Amin.