ALASAN


Untuk segala sesuatu ada alasan yang melatarbelakanginya. Allah menciptakan dunia ini karena IA adalah Allah yang kreatif, dinamis dan maha kuasa. Ini bisa kita lihat dari kalimat “jadilah” di sepanjang kisah minggu penciptaan. Demikian dalam penciptaan manusia IA “menjadikan” manusia “supaya mereka berkuasa”. Jadi manusia memang diciptakan dan diberi kuasa untuk mengelola ciptaan yang lain dengan cara kreatif dan dinamis, mirip dengan kualitas Sang Pencipta. Kejadian 1:3, 26.

Dengan pengertian ini sebagai dasar maka kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Baik itu kejadian-kejadian yang kita lihat sebagai sesuatu yang positif maupun sebaliknya, kejadian-kejadian yang di pemandangan kita negatif.  Tentu saja pernyataan ini tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Saat kita menjalaninya pikiran kita dipenuhi oleh tanda tanya dan keraguan. Kita coba belajar dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama dan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, dan coba belajar apa yang relevan di dalam hidup kita.

              Dalam Perjanjian Lama ada kisah tentang Rut, seorang yang bukan keturunan Israel, tetapi kemudian memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya, dengan kesetiaan yang ia miliki. Lalu kita kenal juga sosok Ester, seorang ratu bagi raja suatu bangsa, yang menjadi penjajah bangsa Yahudi. Kemudian Ayub yang sangat terkenal dengan cobaan-cobaan yang menimpa dia, sampai ke titik dia mempertanyakan Tuhan, tetapi kemudian pulih dan mendapat berkat dua kali ganda. Ini saya rasa yang menjadi titik penting dalam kisah mereka bertiga:

  1. Rut 1:16-17. Saat Rut mengambil komitmen mengasihi dengan setia.
  2. Ester 4:16. Saat Ester mempertaruhkan nyawanya untuk usaha menyelamatkan bangsanya.
  3. Ayub 1:21. Saat Ayub memutuskan memuji Tuhan di tengah kesulitannya.

Ketiga tokoh diatas adalah tokoh dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru kita melihat 3 kejadian dari 4 tokoh yang juga luar biasa:

  1. Markus 7:29. Saat Perempuan Siro Fenisia memiliki mata iman dan ketekunan yang diperkatakan.
  2. Kisah Para Rasul 4:19-20. Petrus dan Yohanes memiliki nilai yang tidak tergoncangkan intimidasi.
  3. 2Korintus 12:10. Paulus mengambil kesimpulan akan paradoks pengikut Kristus, karena kekuatan kita hanya Allah saja.

Allah selalu punya alasan dalam melakukan segala sesuatu. Ester ditaruh dalam suatu posisi dimana ia bisa memengaruhi keputusan raja. Paulus mengalami kelemahan supaya nyata bahwa kuasa Tuhan nyata dalam dirinya. Tentu saja di pihak kita, kita bisa mengambil 1001 alasan untuk meninggalkan Tuhan, untuk tidak melayani, untuk tidak memberi dan lainnya. Tetapi ingat satu hal ini kita diberi kuasa, dan dijadikan ahli waris (Galatia 4:6-7), masakan kita masih mau melepaskan itu untuk alasan lain?

GodblesS

JEFF

KOBARAN API PANTEKOSTA

Selamat datang Jemaat Tuhan di Ibadah Perayaan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia. Saya merasa terhormat sebagai generasi ketiga keluarga hamba Tuhan Pantekosta, untuk berdiri di hadapan Anda dan berbicara mengenai apa yang Tuhan mulai 100 tahun yang lalu di Indonesia.

Hari ini kita akan berbicara tentang api pantekosta yang membawa pada pengalaman Pantekosta. Kata “pantekosta” sendiri adalah istilah yang sering kita dengar dan bahkan menjadi bagian dari nama Gereja kita. Mungkin ada yang bertanya mengapa bukan “pentakosta”? Saya rasa nanti hal itu akan dijawab oleh rekan-rekan staf Gereja yang lain. Saya akan fokus kepada “pengalaman pantekosta”. Namun, apakah kita memahami pengalaman Pantekosta itu? Saya ingin membawa Anda kembali kepada pengalaman Pantekosta pertama kali di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:1-8, 11, 16-18, 40-41.

Kurang lebih sembilan belas abad kemudian, tepatnya di 1907, pengalaman Pantekosta di Yerusalem, hidup juga di Azusa Street, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Mereka yang mengalami lawatan Roh Kudus, berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Pergerakan api pantekosta ini juga menjalar sampai kota Seattle, Washington. Tahun 1919 ada sebuah Gereja Pantekosta yang dinamakan Bethel Temple dimana ada dua keluarga yang dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus dan memberi diri untuk menjadi misionaris. Nama mereka adalah Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren. Keduanya mendapat penglihatan dari Tuhan untuk melayani pulau Jawa. Saat itu pulau Jawa dan teritori yang dikuasai Belanda disebut Hindia-Belanda (Dutch East Indies).

Pada tahun 1921 kedatangan kedua misionaris ini menandai masuknya gerakan pantekosta di negara jajahan Belanda saat itu. Nama perkumpulan orang percaya itu disebut “De Pinkstergemeente in Nederlandsch Indie”alias ”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost-Indie” (yang secara literal berarti Gereja Pantekosta di Hindia Belanda). Setelah Belanda dikalahkan, maka negara Indonesia ada di bawah kendali pendudukan Jepang, dan pada 1942 banyak nama-nama yang berbahasa Belanda kemudian di-Indonesia-kan, sampai kemudian Indonesia menjadi berdaulat, yang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini berpengaruh pula kepada nama perkumpulan ini, yang pada akhirnya dikenal sebagai Gereja Pantekosta di Indonesia. Hari ini kita bersekutu di GPdI Mahanaim Tegal sebagai bukti nyata karya api pantekosta yang masuk ke Indonesia 100 tahun yang lalu.

Terdapat fakta-fakta dari pengalaman Pantekosta di Indonesia yang terjadi seabad lalu dalam catatan saya. Ketiganya ternyata punya relevansi dengan apa yang terjadi di dalam Alkitab.

  1. Karunia Penglihatan.

Hal ini dialami oleh dua keluarga misionaris, Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren yang dengan jelas melihat Pulau Jawa di penglihatan mereka. Pengalaman yang demikian juga dialami oleh Rasul Paulus di dalam perjalanan misi, saat itu ia ada di Troas. Kisah Para Rasul 16:8-10.

Kita belajar dari kisah ini bahwa Allah bekerja dengan memberi visi kepada seseorang untuk melihat sesuatu yang selaras dengan rencana Tuhan, meskipun mereka sudah memiliki rencana yang lain (ayat 6-7).

Apa yang kita rencanakan juga bisa berubah ketika kita dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Galatia 5:25. Pengalaman yang sama baik Groesbeek – Van Klaveren maupun Rasul Paulus, yang mereka kejar dalam penglihatan itu adalah pemenangan jiwa-jiwa bukan keuntungan diri sendiri. Siapkah kita dengan perubahan? Keluar dari apa yang sudah kita rencanakan?

  1. Kesatuan.

Dua misionaris ini merupakan anggota dari Gereja Bethel Temple. Mereka menundukkan diri di bawah kepemimpinan Gembala Jemaat Bethel Temple yang bernama W.H. Offiler. Mereka juga didukung penuh oleh jemaat yang rindu melihat bangsa-bangsa dilawat oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari 100 tahun kemudian, setelah mengutus dua misionaris ini, keputusan mereka menghasilkan kurang lebih 21,000 jemaat lokal di Indonesia.

Perubahan yang besar dapat terjadi melalui kesatuan dan ketekunan orang-orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 1:11-15 ada 120 orang yang berkumpul, berdoa, dan bertekun. Kemudian Roh Kudus melawat, dan menambahkan jumlah mereka menjadi 3,000 orang percaya (ayat 41). Saat ini ada sekitar 2,3 milyar orang percaya, jumlah besar itu dimulai dari kesatuan hati 120 orang di Yerusalem.

  1. Inspirasi.

Para misionaris dari Amerika Serikat ini mengasihi orang yang berbeda bangsa, bahkan bahasa dengan mereka. Tetapi kasih mereka, yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus, melintasi batas-batas perbedaan. Apa yang mereka lakukan kemudian menginspirasi bapak-bapak GPdI mula-mula. Mereka melepaskan apa yang mereka terima dari dunia, dan percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup buat mereka. Ini tercermin dari lirik lagu-lagu Pantekosta klasik. Contohnya: “Maju-maju saja”, “Kerja buat Tuhan”, “Mana-mana Tuhan panggil”. Lagu-lagu ini bukan sekedar lagu klasik, tetapi suatu ungkapan pengharapan yang membuat mereka bertahan di tengah tekanan.

Rasul Paulus menyadari panggilannya untuk melayani orang-orang non-Yahudi, meskipun ia dibesarkan dalam mazhab/aliran dalam agama Yahudi yang paling fanatik, yaitu sebagai golongan Farisi. Galatia 1:14-16. 1Timotius 2:7. Filipi 3:5. Ia kemudian rela untuk menderita, demi membuat banyak orang percaya kepada Kristus. 2Korintus 11:24-28. Apa yang Paulus lakukan menginspirasi hamba-hamba Tuhan dan jemaat Tuhan untuk terus bertahan.

Pengalaman pantekosta seharusnya tidak berhenti hanya menjadi pengalaman institusional, maksudnya hanya karena kita berjemaat di GPdI. Tetapi seharusnya ini menjadi pengalaman pribadi. Sehingga setiap jemaat mendapatkan karunia Roh yang khusus dari Tuhan. Kerinduannya setiap jemaat terdorong untuk bersatu, dan menjadi inspirasi untuk dunia.  

Pengalaman pantekosta melibatkan keseluruhan diri kita: tubuh, jiwa, dan roh. Ketika Anda memuji Tuhan, ekspresi tubuh Anda menjadi cerminan apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 12:30.

Setelah dengan tubuh menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, ada catatan pengalaman orang-orang di Perjanjian Baru, dimana mereka menunjukkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk mengalami Tuhan. Dari kerinduan itu kemudian Roh Kudus melawat mereka. Seperti di kisah-kisah berikut:

  • Kisah Para Rasul 1:13-14. Murid-murid berkumpul dengan tekun menanti janji pencurahan Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 8:14-17.Orang-orang percaya di Samaria sudah menerima baptisan air, tetapi belum menerima Roh Kudus, mereka membuka diri untuk beroleh kuasa Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 10:33, 44. Kornelius, seorang non-Yahudi, membawa sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka rindu mendengar Firman Allah, dan setelah itu mereka menerima Roh Kudus.

Tubuh yang digerakkan untuk Tuhan, kerinduan yang penuh pada Tuhan diikuti dengan pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Saat itu mereka terhubung dengan keberadaan Tuhan yang adalah Roh. Yohanes 4:24. Mereka tenggelam dalam hadirat Tuhan, itulah mengapa orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus bisa melakukan hal-hal yang tubuh dan jiwanya belum pernah lakukan sebelumnya, seperti berbahasa lidah, bernubuat, menari, memuji dan menyembah dalam jangka waktu yang lama. Biarlah kita rindu kobaran api pantekosta itu nyata di Gereja kita, di keluarga kita, dan di masing-masing pribadi kita.

Haleluya!

MENGUBAH DUNIA

Bagaimana Anda bisa mengubah dunia ini dan menggenapi Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:19-20)? Ini tidak harus dilakukan dengan “memasukkan salib” ke Istana Negara, atau ke Senayan sebagai cara satu-satunya dan utama (yang saya beri contoh ini adalah jalur politik). Saya pernah menyampaikan ke rekan-rekan profesional muda (Crossover) tentang A-B-C di marketplace. Kalau Anda tertarik bisa cari di jeffminandar.com dan ketik “Christianity and Professionalism” atau “marketplace”.

Namun bagaimana dengan eksistensi kita di tengah Keluarga, masyarakat? Apakah komunitas yang kita bangun di Keluarga kita, di KeMah kita, di Gereja kita sudah jadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas? Kisah Para Rasul 2:47. Anda bisa menginspirasi dunia sekeliling dengan menunjukkan keberadaan Yesus dalam hidup Anda dan keluarga.

Banyak orang berpikir bahwa Allah kita itu tidak nyata. Tuhan dianggap mereka tidak berkuasa atas apa yang terjadi di dunia. Saya percaya Allah memiliki rencana untuk segala sesuatu di dalam dunia. IA mampu menentukan apa yang akan terjadi pada dunia melalui peristiwa-peristiwa dalam rangkaian sejarah. Rangkaian sejarah ini maksudnya seperti gelombang kejadian demi kejadian dan kita harus dapat memanfaatkannya, bukannya terseret.

Dalam Kisah Para Rasul 4:27-28 jemaat Tuhan memiliki informasi dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mengenai ancaman kepada mereka dari tua-tua Yahudi. Dalam doa kepada Tuhan mereka mengakui bahwa Tuhan mengendalikan arus sejarah. Menariknya mereka bukan meminta Allah menghilangkan ancaman itu, tetapi malah meminta keberanian untuk tetap bertahan dalam panggilan Tuhan.

Seorang peselancar tidak meminta gelombang yang mudah, ia membaca gelombang dan dengan keberanian menaiki gelombang itu lalu menaklukkannya. Sedangkan bagi seorang Kristen, ia membaca sejarah, mengobservasi kenyataan masa sekarang, dan memandang ancaman di masa depan dengan perspektif ilahi. Keberaniannya datang dari Roh Kudus, dan meminta keberanian itu dalam doa.

Yesus sendiri berdoa bukan untuk menjauhkan Anda dari dunia, tetapi melindungi Anda dari yang jahat. Yohanes 17:11. Bukan untuk membuat Anda mencari zona nyaman, tetapi zona Tuhan, dimana Anda dan Keluarga Anda menjadi maksimal dan mampu mengubah dunia, dimulai dari Keluarga Anda. Anda tidak bisa mengubah dunia sendirian, yang ada Anda bisa-bisa terlarut dengan dunia. Anda butuh komunitas yang mengasihi (1Petrus 1:22), melayani (Efesus 2:10), dan memperlengkapi Anda (1Korintus 12:18). 

GOD’S PICTURE OF SUCCESS

Mazmur 37:7 berbicara tentang keberhasilan dari orang yang melakukan tipu daya. Tentu saja kita tidak ingin menjadi berhasil dengan cara yang demikian. Tetapi sebelum membahas ayat ini, saya ingin Anda melihat dulu dua gambar yang berikut.

Apa perbedaan dari gambar di sebelah kiri dan kanan?

Keduanya adalah gambar yang biasa digunakan oleh psikolog untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang melalui tes yang biasa disebut TAT (Thematic Apperception Test). Biasanya testee (orang yang akan di-tes) diminta menceritakan kisah di balik gambar, mulai dari apa kejadian yang terjadi sebelumnya, apa yang terjadi pada gambar tersebut, perasaan dan pikiran karakter dalam gambar, dan akhir ceritanya (biasanya akan ada 5-12 gambar-gambar yang diperlihatkan dari total 31 gambar versi lengkapnya). Salah satu kegunaan dari tes ini adalah untuk dapat menangkap pengalaman hidup dari seseorang.

Pernah dengar ungkapan ini? “A picture is worth a thousand words.” Ungkapan ini menggambarkan kekuatan dari suatu rangsangan (stimulus) visual. Meskipun ungkapan ini tidak selamanya relevan, misalnya dalam suatu karya tulis (sebut saja novel), tetapi hal ini setidaknya membuat kita berpikir tentang sebuah gambar yang bisa mewakili panjangnya suatu penjelasan.

Allah sering berbicara melalui suatu gambaran, kalau saya melihat seorang pelukis menggambarkan tentang bahtera Nuh, maka di pikiran saya yang muncul adalah kata “penyelamatan”. Misalnya gambarannya adalah tabut perjanjian, kata yang muncul adalah “kekudusan”. Bagaimana kalau gambaran itu adalah salib? Apa kata yang muncul? Pernahkah Anda berpikir bahwa kata yang muncul adalah “keberhasilan”?

Ibrani 12:2 mengatakan tentang Yesus yang menjadi teladan kita untuk bertekun dalam kehinaan dan penderitaan sebelum mendapat sukacita dan kehormatan. Terjemahan bahasa Inggris dari NKJV menurut saya lebih jelas menggambarkan bahwa Yesus memandang bukan pada kehinaan dan penderitaan (yang sementara) tetapi sukacita dan kehormatan (untuk selamanya).

Ini adalah hal yang kontradiktif, yang tidak masuk akal, dan disebut kebodohan (1Korintus 1:18) oleh orang yang akan binasa (karena tidak percaya – Yohanes 3:18). Tetapi Anda bukan orang yang bodoh rohani bukan? Orang bisa mengatakan apapun tetapi saya tidak bodoh rohani. Bahkan kalau saya dianggap bodoh secara intelektual pun Allah masih bisa menggunakan saya. 1Korintus 1:27.

Relevansinya dengan pekerjaan saya dan situasi kondisi sekarang bagaimana?

Ingat ayat pertama kita di awal? Anda punya pilihan untuk berhasil dengan segala macam cara (bahkan dengan tipu daya) tetapi itu tidak akan membawa Anda pada sukacita dan kehormatan yang nilainya kekal. Jadi tetap lakukan yang baik dan yang setia, karena ada balasan untuk ketekunan Anda. Mazmur 37:3.

Sukacita dan kehormatan didapatkan melalui kehinaan dan penderitaan. Bukan berarti Anda harus secara fisik dihina dan menderita. Gembala sering menggambarkan bahwa sebagai pengikut Kristus bisa mengalami penghinaan dan penderitaan secara fisik, tetapi juga secara mental (psikis). Ini berbicara kepada Anda sebagai pengikut Kristus, tetapi juga sebagai profesional muda. Anda bekerja keras untuk tidak memiliki penghidupan dari sesuatu yang ilegal (Efesus 4:28), yang meskipun dihina dan menderita Anda bisa berkata, “Aku menjadi seperti Yesus, Aku melakukan kehendak Bapaku di Surga!” Matius 12:50.

Gambar keberhasilan pengikut Kristus tidak diwakili oleh gambar manusia siapapun mereka (Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan bukan juga Adam, Abraham, Yakub, atau Yusuf dari kisah Alkitab). Kita belajar dari kisah mereka, dan mengambil satu nilai yang sesuai dengan nilai ilahi. Roma 12:2. Jadi lihatlah diri Anda di depan kaca, itulah gambaran keberhasilan versi Allah. Mazmur 139:13-16. Kalau boleh mengambil kisah dari Yusuf sebagai penutup, setiap saya membaca Kejadian 39:2, saya selalu melihat ini adalah gambaran keberhasilan seorang yang percaya.  

TAK PERNAH TERTIDUR

Jika  Anda pernah mendengar istilah “the city that never sleeps” itu menggambarkan sebuah kota yang tidak pernah sepi, atau dengan lain kata selalu saja aktivitas yang ada di kota tersebut. Mungkin Jakarta cocok dengan sebutan itu, meskipun kalau jam 2 pagi kata Pak Gubernur Anies sudah sepi jalanan di Jakarta. Tapi secara global biasanya orang menyebut New York, Amerika Serikat dengan julukan kota yang tidak pernah tertidur. Untuk kota Tegal mungkin memang lebih cocok “laka-laka” meskipun jalur pantura yang melintasi kota Tegal bisa dibilang tidak pernah sepi.

Menariknya di dalam Mazmur 121:4 disebutkan bukan tentang kota, tapi tentang penjaga Israel yang tidak pernah tertidur. Saudara Geralldi membawakan mengenai Mazmur ini di Doa Pagi GPdI Mahanaim beberapa hari lalu. Untuk jemaat Mahanaim yang belum tahu, setiap pukul 04.45 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB, Anda bisa mengikuti Live Streaming Doa Pagi Mahanaim di YouTube Channel GPdI Mahanaim Tegal, atau Anda juga bisa hadir secara langsung di Beth Eden. Pakai kesempatan ini untuk bergabung bersama kami dalam Pujian, penyembahan, penyampaian Firman dan doa. Anda yang tidak bisa bangun sepagi itu, tetap bisa menyaksikan rekamannya sampai 24 jam, sebelum videonya dihapus dari YouTube.

Kembali ke Mazmur 121, jika kita baca secara lengkap ini adalah suatu mazmur yang menyatakan betapa orang-orang yang menaruh percaya mereka kepada Tuhan akan dilindungi dan diselamatkan. Betapa kita membutuhkan pesan pengharapan mengenai jaminan penjagaan Tuhan di hari-hari seperti ini. Ketika semua kanal berita berisi kabar yang menyedihkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan. Kita berpaling pada berita dari Surga yang menguatkan, menghibur dan memberi jaminan.

Ketika mendengar kata “kekuatan”, “penghiburan”, dan “jaminan” satu figur yang langsung muncul di pikiran saya adalah figur bapa atau ayah. Saya pernah membawakan mengenai sebutan Bapa ini di tahun 2018, dalam Firman Tuhan Ibadah Raya GPdI Mahanaim berjudul “Ayah”. Anda bisa search di website Gereja atau di website pribadi saya dan ketikkan kata kunci “ayah” di kolom pencarian.

Saya selalu suka dengan bagaimana Yesus memperkenalkan Allah sebagai “Bapa” kepada murid-muridNYA dan semua orang yang mendengar pengajaranNYA.

(.)“Bapa” adalah sebutan yang Yesus berulang-ulang kali ungkapkan ketika IA merujuk tentang Allah Pencipta Langit dan Bumi. Contohnya di saat Yesus menyucikan Bait Allah di Yerusalem, IA berkata, “Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Yohanes 2:16.

(..)Demikian juga Yesus berbicara tentang Bapa di dalam doaNYA di depan murid-murid. Matius 6:9-13. Coba Anda baca ayat ini dengan saksama. Saya percaya bahwa apa yang Yesus inginkan adalah pengertian lebih dari pengulangan, karena kalau Anda baca di ayat 7-8 Yesus meminta supaya doa itu tidak bertele-tele dan terlalu banyak kata, karena Bapa mengetahui apa yang kita perlukan. Anda bisa cek juga penjelasan saya bahwa Doa itu bukan mantra orang Kristen di YouTube Channel Gereja.

(…)Yesus pernah menyebut tentang Bapa juga di saat menjelaskan alasan diriNYA terpisah dari rombongan orang yang berjalan pulang ke Nazaret dari Yerusalem. Lukas 2:49.  

Meskipun Yesus sering menyebut Allah sebagai Bapa, namun di akhir hidupNYA di muka bumi Yesus bukan memanggil “Abba” (sebutan untuk Bapa di dalam bahasa Aram) tetapi “Eloi” (sebutan untuk Allah, lebih tepatnya Allahku, dalam bahasa Aram). Markus 15:34. Ps. Joseph Prince pernah menjelaskan tentang ini dengan sangat baik. Bahwa apa yang Yesus lakukan dengan memanggil “Allah” kepada yang biasa dipanggilnya “Bapa” itu supaya semua orang yang percaya kepada Yesus bisa memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Ini adalah paradoks tindakan dari Yesus, sama seperti “IA mati, supaya kita hidup”, “IA menjadi miskin, supaya kita kaya”, dan lain sebagainya.

Kematian Yesus adalah kulminasi dari kasih Allah yang ditunjukkan pada manusia (Roma 5:8) dan adalah bukti dari janji kemenangan atas kuasa iblis (Kejadian 3:15). IA mengasihi kita dan menepati janjiNYA, apakah layak kalau kita menuduh Allah yang tidak-tidak? Keadaan Ayub yang begitu menderita tidak mengubah kesalehannya kepada Tuhan. Padahal ia dalam kondisi tidak mengerti alasan atas apa yang terjadi. Dalam Ayub 1:22 dituliskan ia “tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”

Saya menyadari bahwa keraguan akan kehadiran Allah akan semakin meningkat di tengah kesulitan. Ini ditunjukkan oleh Ayub juga di Ayub 13:24, demikian oleh Daud di Mazmur 10:1, juga murid-murid Yesus di Markus 4:38. Pada kisah yang melibatkan murid-murid Yesus, Markus menuliskan, “Pada waktu itu Yesus sedang tidur…” Jadi ayat ini sebenarnya menegasi pernyataan Mazmur 121:4, bukan?

Matthew Henry seorang hamba Tuhan yang terkenal dengan komentar-komentar Alkitab yang ditulisnya, memberi catatan khusus mengenai insiden tidurnya Yesus. Ia menulis bahwa Yesus tidur untuk menguji iman murid-muridNYA! Tentu saja Anda mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa mungkin yang tidur adalah sisi kemanusiaan Yesus yang lelah setelah melakukan pelayanan seharian. Apapun pernyataan tentang hal itu, saya tertarik dengan tulisan George Herbert, “Meskipun IA memejamkan mata, namun bukan hatiNYA!”

Saya melihat apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid sama seperti apa yang Allah izinkan terjadi kepada:

(.)Ayub, ketika diizinkanNYA iblis untuk “menjamah” segala yang dipunyai Ayub (Ayub 1:11), kemudian tulang dan daging Ayub (Ayub 2:5).

(..)Paulus, yang menulis tentang utusan iblis dalam dagingnya yang “menggocoh” atau dalam terjemahan New English Translation (NET) disebut “menyusahkan” (2Korintus 12:7).

(…)Yesus, saat IA dibawa ke padang gurun dan kemudian dicobai iblis (Lukas 4:2). Kemudian saat Yesus tergantung di kayu Salib, Yesus berkata kepada Allah Bapa “mengapa Engkau meninggalkan Aku?” yang menggambarkan Allah memalingkan wajah karena dosa dunia (Yohanes 1:29) yang ditanggung Yesus.

Namun ketika ujian itu datang, biarlah itu tidak menggoyahkan kepercayaan dasar kita kepada Allah, bahwa IA Bapa yang baik, karena IA selalu berjaga bagi kita. Sama seperti seorang anak yang percaya bahwa ayahnya akan selalu ada untuk dirinya. Saya belum memiliki anak secara jasmani, tetapi saya punya ayah yang begitu memperhatikan saya dan selalu ada. Apalagi Bapa kita di Surga, DIA akan memberikan pemberian yang baik. Lukas 11:12.

Apa itu pemberian yang baik? Roh Kudus. Mengapa kehadiran Roh Kudus itu penting? Ingat Ketika Yesus dicobai? Apa yang dikatakan di Lukas 4:1? Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, dibawa ke padang gurun. Bentuk pencobaan apapun yang Anda hadapi dengan Roh Kudus, Anda punya jaminan penyertaan Allah. 2Korintus 5:5. IA tidak pernah tertidur, IA akan mengirim malaikat-malaikat untuk melayani Anda, setelah Anda menang atas semua pencobaan. Matius 4:11.

SEX, SINGLENESS, AND SELF-CONTROL

Saya merasa banyak orang yang lebih berpengalaman dan lebih mengerti tentang topik bahasan kita kali ini. Namun demikian sebagai seorang ilmuwan Psikologi yang belajar tentang Kekristenan, dan masih sendiri (single but not available), saya melihat ini kesempatan untuk bertukar pikiran tentang ini, meskipun penyampaian bukan dalam bentuk diskusi. Saya harap Anda masih ingat apa yang disampaikan oleh Ps. Raditya Oloan ketika berbicara tentang “Overcoming Sexual Temptations”. Kalau sudah lupa cek saja YouTube Channel GPdI Mahanaim Tegal dan putar ulang videonya.

Sex, Singleness, and Self-Control” adalah topik yang sering muncul di tengah segala kegalauan seorang Remaja. Mereka tidak bisa dikatakan anak-anak lagi, tetapi belum juga menjadi dewasa. Tetapi karena tidak ada seorang pun yang ingin dianggap rendah, maka biasanya masa-masa sebelum dewasa menjadi ajang pembuktian diri para Remaja bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang bisa dibuat orang dewasa.

Masalah besar sering muncul  ketika sesuatu dilakukan tidak dengan hikmat. Ini berlaku untuk semua rentang usia, mulai anak-anak, sampai lansia. Meskipun hikmat sering dikaitkan dengan pertambahan usia, tetapi pada kenyataannya bisa jadi tidak demikian. Contohnya apa yang disampaikan Elihu kepada Ayub dan ketiga sahabat-sahabatnya. Ayub 32:6-9.

Jadi saya berharap meskipun Anda masih muda dan belum “banyak umur”, namun Anda memiliki hikmat untuk berpikir, berkata dan bertindak. Saat banyak orang merayakan bulan kasih sayang, saya ingin kita juga berpikir tentang hal-hal yang memengaruhi hidup banyak remaja.

SEX

Kata ini sering kita dengar dan biasanya langsung diasosiasikan dengan “having sexual intercourse” atau hubungan badan seperti lazimnya dalam hubungan suami-istri. Tentu saja itu adalah bagian dari seksualitas seseorang dalam perkembangan hidupnya, kecuali memang seseorang itu diberi karunia untuk membujang. Matius 19:12. Solusi untuk pergumulan kita di bidang ini seperti apa yang dikatakan oleh Ps. Raditya Oloan, bahwa segala sesuatunya dimulai dari pembaharuan pikiran. Roma 12:2. Apakah kita sudah siap untuk masuk dalam konsekuensi dari aktivitas seksual sebagai suami-istri? Dalam Journal of Ethics edisi 2021, Paddy McQueen dari Swansea University, UK, mendefinisikan aktivitas seksual sebagai semua kegiatan yang dilakukan oleh orang (sendirian atau melibatkan orang lain) yang terlibat dalam aktivitas itu untuk memuaskan keinginan seksualnya.

Saya jelaskan di acara #BukanTontonan Crossover di YouTube Channel GPdI Mahanaim, bahwa keinginan seksual seseorang itu ada karena keinginan dasar manusia untuk bereproduksi. Menariknya keinginan itu selaras dengan tujuan Tuhan bagi manusia di Kejadian 1:28. Jadi apakah hubungan seksual itu Alkitabiah? Iya. Apakah itu boleh dilakukan siapa saja? Tidak. Kalau kita menyelidiki Alkitab mengenai aktivitas seksual Israel sebagai umat perjanjian diatur di Imamat 18 dan 20. Bagi kita yang hidup di Perjanjian Baru, aturan-aturan itu sebenarnya mengerucut ke apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-39. Tidak semua keinginan dasar kita perlu dipenuhi seperti apa yang orang lain tunjukkan atau ajarkan pada kita, jika dasarnya bukan dari Alkitab. Kembali ke Roma 12:2, pertanyaannya apakah yang dunia tunjukkan atau ajarkan itu baik, berkenan, dan sempurna? Kata sempurna disini dipakai kata Yunani “teleios” yang dapat diartikan “membawa kepada hasil akhir, atau tujuan akhirnya”. Sehingga aktivitas seksual harus ada tujuan sesuai Alkitab, bukan sekedar memuaskan keinginanmu. Jadi mari sekarang cek aktivitas seksual mu, apakah itu memenuhi tujuan Allah?

SINGLENESS

Menjadi lajang adalah sebuah pilihan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Tuhan memberi tujuan untuk bereproduksi. Tentu itu membutuhkan pasangan (Kejadian 2:24), dan proses dari status “sendiri” kemudian “berpasangan” itu harus dilalui untuk menemukan yang sepadan (Kejadian 2:18, 2Korintus 6:14). Saya selalu percaya bahwa proses itu melibatkan urutan: koleksi – seleksi – resepsi. Kesalahan sangat mungkin terjadi di ketiga tahapan ini:

  • Koleksi. Jangan buru-buru berpikir negatif dengan hal ini. Apa yang saya maksud adalah milikilah kenalan yang banyak, tapi jangan semua kemudian dijanjikan komitmen. Yakobus 1:8 berkata bahwa orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Meskipun konteks ayat ini berbicara tentang iman, saya melihat ada korelasi antara bagaimana kita memandang hubungan dengan Allah dengan bagaimana kita memandang hubungan dengan sesama manusia.
  • Seleksi. Hubungan yang punya tujuan itu harus melalui proses seleksi. Mari kita kembali ke kisah Adam di Kejadian 2:20. Ketika Adam tidak menjumpai yang sepadan baginya, maka kemudian Allah mengambil – membentuk – dan membawa Hawa kepadanya. Seseorang yang lolos seleksi adalah orang yang punya tujuan yang sama dengan dirimu.
  • Resepsi. Kata ini mewakili komitmen selama-lamanya dalam hidupmu. Ketika masuk ke dalam pernikahan, maka itu berlangsung untuk selamanya bukan secintanya. Ketika cinta sudah habis maka habis juga pernikahan itu. Tidak bisa kita melihat perceraian sebagai opsi dalam komitmen pernikahan. Matius 19:7-8.

Untuk apa di usia saya belajar tentang pernikahan? Sadarilah, bahkan Anda tidak lahir langsung bisa berlari dengan benar! Sekali lagi, suatu hubungan itu harus berproses dan memiliki tujuan yang sesuai dengan Alkitab. Kalau kita memiliki pasangan tetapi tidak memiliki tujuan seperti yang saya sudah bahas di bagian sebelum ini, hati-hati karena hubungan itu bisa berakhir negatif. Jadi apakah kita tidak boleh menikmati masa muda?

SELF CONTROL

Melewati masa muda adalah pengalaman yang tidak akan terulang lagi. Tetapi sayangnya untuk mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa muda tidaklah mudah. Karena ketika seseorang masa mudanya sesuai dengan tujuan Allah maka ia akan memiliki masa depan yang sesuai dengan jalan Allah. Amsal 22:6. Sehingga kembali pertanyaannya apa tujuan hidupmu? Apakah hanya untuk “makan minum sebab besok kita mati”? Mari kita buat sederhana, apakah kamu mau hidup “lurus” atau “bengkok”? Kalau pilihanmu hidup yang “lurus” maka kamu sedang mengikuti Jalan Tuhan (Kisah Para Rasul 13:10) tetapi kalau pilihanmu hidup yang “bengkok” maka kamu sedang hidup seperti dunia (Filipi 2:15).

Hidup yang sesuai dengan Jalan Tuhan adalah hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Mereka yang menghidupinya akan menerima buah Roh yang didalamnya ada disebutkan tentang “pengendalian diri”. Galatia 5:23. Mengendalikan diri lebih sulit dari pada hidup liar. Nampaknya menyenangkan, tetapi resiko dari tidak mengendalikan diri bisa begitu banyak, trauma, kecanduan aktivitas seksual seperti terpenjara, kehamilan di luar nikah, gagal studi, konflik dengan orang-orang terdekat, dan lain sebagainya. Sekali lagi bukan saya merasa lebih, semua kakak-kakak rohani Anda, termasuk saya, juga terus belajar. Kami terbuka untuk mendoakan Anda yang sedang bergumul mengenai hal-hal di atas, atau hal-hal lain. Mari kita ingat apa yang Rasul Paulus katakan kepada Timotius:

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”

(1Timotius 4:12)

MENGELOLA KEUANGAN

PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR (Lukas 16:1-9)

Perumpamaan ini disampaikan Tuhan Yesus dalam rangkaian pengajaran dengan topik khusus yang IA berikan kepada murid-muridNYA (tidak terbatas kepada dua belas murid). Untuk perumpamaan ini Yesus berusaha mengajarkan tentang pengelolaan atau penatalayanan. Dalam Bahasa Inggris dipakai kata “stewardship” dimana didalam kata ini mengandung konsep “perencanaan yang bertanggungjawab” dan “pengelolaan sumber daya.”

Jika kita ingin mengesampingkan istilah-istilah teknis tadi. Apa yang Yesus ajarkan adalah mengenai prinsip pengelolaan uang. Namun menarik yang Yesus pakai adalah contoh dari seseorang yang tidak jujur. Tetapi kita bisa memahami bahwa Yesus selalu mengajar relevan dengan keadaan orang-orang yang diajarnya. Sehingga beberapa penafsir Alkitab melihat bahwa Yesus sedang mengajar “murid-muridNYA” secara luas, yang didalamnya termasuk para pemungut cukai.

Mengenai pemungut cukai, saya rasa Anda sudah banyak mengerti bagaimana negatifnya perspektif orang Yahudi terhadap mereka. Saya rasa Anda juga mengerti kalau pemungut cukai (atau orang pajak) pasti sangat erat dengan uang. Jadi jelas ketika Yesus bercerita tentang orang kaya dan bendahara, para pemungut cukai dapat terhubung dengan cerita yang Yesus sampaikan.

Dalam memahami teks Alkitab kita perlu mengerti apa yang menjadi tujuan penulis teks tersebut. Dalam bagian tulisan antara pasal 9 sampai 16 ada beberapa kali Lukas berusaha membawa pembacanya untuk mengerti bahwa ada penolakan terhadap Yesus oleh beberapa pihak. Namun demikian Yesus tetap menyampaikan apa yang menjadi kehendak Bapa, karena memang itu yang menjadi tujuanNYA. Yohanes 4:34.

Pembahasan mengenai uang memang sesuatu yang sensitif baik di Gereja maupun di luar Gereja. Sehingga apa yang Yesus sampaikan lewat perumpamaan ini tetap relevan bagi siapapun Jemaat yang sedang mendengarkan. Beberapa poin mengenai perumpamaan ini:

  1. Cinta akan uang akan membawa pada penyimpangan keuangan. Lukas 15:1. Ini berlaku di level pribadi dan di level institusional, kejahatan karena cinta uang. 1Timotius 6:10. Seorang Kristen seharusnya dapat mempertanggungjawabkan semua keuangan yang dipercayakan padanya. Lukas 15:2.
  2. Meminta bantuan keuangan tanpa bekerja seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan. Lukas 15:3. Bekerjalah untuk sesuatu yang Anda inginkan. 2Tesalonika 3:10.
  3. Memikirkan diri sendiri akan membuat kita lebih bersalah dalam hal keuangan. Lukas 15:4. Ini menjadi salah satu ciri kondisi di Akhir Zaman. 2Timotius 3:2.

Masih ada banyak hal lain mengenai hal mengelola keuangan tetapi patut diperhatikan bahwa di Lukas 15:8a pujian bagi bendahara yang tidak jujur ini adalah bagian dari cerita, bukan untuk menjadi teladan. Maksudnya diungkap Yesus di bagian sesudahnya (Lukas 15:8b, 9), bahwa segala sesuatu itu bisa menjadi baik jika dikelola dengan baik, bukan untuk “dicintai” tidak sebagaimana mestinya.

Hiduplah dengan tujuan keuangan yang jelas, bukan untuk menjadi hamba dari uang, namun tuan atasnya.  

GodblesS

JEFF

RENCANA ALLAH BAGI ANDA

Apa kabar jemaat? Semoga di tengah-tengah pandemi ini Anda tetap memiliki:

  • Iman bahwa Allah yang memegang dan memelihara hidup Anda (Matius 10:29-31),
  • pengharapan akan masa depan dimana yang lama akan digantikan yang baru (Wahyu 21:4),
  • dan kasih kepada Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19).

Iman, pengharapan, dan kasih akan menuntun kita untuk lebih lagi rindu mengenal DIA dan FirmanNYA. Itulah mengapa meskipun ditengah pandemi, kita tetap bersekutu baik secara on-site (dalam satu tempat), maupun secara online/daring (dalam jaringan internetlive streaming).

Saya berharap selesai dari Ibadah ini Anda semakin mengenal apa rencana besar Allah dalam hidup kita sebagai ciptaanNYA (secara umum) dan sebagai umat pilihanNYA (secara khusus). Pertama-tama, saya ingin menjelaskan apa rencana besar Allah dalam hidup manusia, ciptaan Allah yang termulia (Kejadian 1:26).

RENCANA ALLAH: DI BUMI SEPERTI DI SURGA  

Saya menyampaikan hal ini terinspirasi dari yang disampaikan Tim Mackie, seorang hamba Tuhan, profesor di kampus Kristen, dan pemimpin kreatif dari Bible Project (YouTube channel yang mengedukasi tentang Alkitab).

Kita sering dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan untuk menjelaskan iman kita kepada Allah yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini Anda bisa dapatkan di dalam pembicaraan dalam keluarga inti (orang tua dan anak-anak) atau pembicaraan dengan keluarga besar (kakek-nenek, kakak-adik, sepupu, dan sanak saudara lain), atau bisa jadi di tempat studi, tempat kerja, dan tempat lain dimana Anda sedang beraktivitas.

Kalau boleh disederhanakan kira-kira begini pola pikir orang kebanyakan tentang rencana besar Allah terhadap manusia. “ALLAH” menciptakan “MANUSIA” untuk hidup di “BUMI” dan menjalani hari-harinya dengan berbuat baik atau jahat, dan pada akhirnya perbuatan-perbuatan itu menentukan mereka masuk ke dalam “SURGA” atau “NERAKA” yang sudah disiapkan.

Tetapi bagi kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman (dalam bentuk tertulis) yang dilhamkan Allah (2Timotius 3:16a) maka kita bisa berkata kepada orang yang memiliki pola pikir seperti ini bahwa pola itu tidak sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab. Mereka berpikir atau berasumsi bahwa urutan itu adalah iman Kristen, tetapi sebenarnya tidak.

Lalu apa kata Alkitab? Mari kita bahas secara singkat saja dalam tiga sub-bagian, yang bisa menjadi tiga khotbah yang berbeda. Tetapi saya rasa penjelasannya akan saya persingkat seperti ini.

  • Allah menciptakan bumi untuk manusia.

Saya rasa saya pernah menyampaikan hal ini, bahwa manusia diciptakan di hari ke-enam, saat semua yang di bumi sudah siap. Anda bisa melihat kasih Allah bahkan dari urutan penciptaan di Kejadian 1. Menariknya Allah tidak pernah disebutkan menciptakan neraka. Kita setuju mengenai ini, bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dari Yesaya 66:1 kita mengerti bahwa langit adalah tahta Allah. Manusia ditempatkan di bumi untuk berkuasa atasnya. Kejadian 1:28. Jadi kapan Allah menciptakan neraka?

  • Allah menciptakan yang baik, iblis menipu manusia.

Segala sesuatu yang baik datang dari Allah dan bukan yang jahat. IA tidak dapat dicobai dan tidak mencobai (mendatangkan kejahatan). Yakobus 1:13. Sehingga kejahatan timbul dari mana? Yesus berkata dalam Matius 7:21-22, segala sesuatu yang jahat itu datang dari dalam hati. Jika kita melihat tulisan mengenai raja Tirus yang adalah gambaran kejatuhan iblis maka kita melihat dari kondisinya yang sempurna sebagai maha malaikat (Anda bisa cek khotbah Pdt. J.S. Minandar di www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “maha malaikat”), ia jatuh saat kecurangan (dalam Bahasa aslinya bisa berarti “kejahatan”) timbul dalam dirinya. Yehezkiel 28:15. Itulah mengapa saat manusia ada di taman Eden, ia berusaha menimbulkan “yang jahat” di dalam diri manusia, yang kisahnya dapat Anda baca di Kejadian 3. Lalu mana nerakanya?

  • Allah menginginkan persekutuan dengan manusia.

Yesaya 59:2. Saya rasa ayat ini sering kita baca dengan konteks Allah yang marah kepada umatnya, dan memang demikian jika kita melihat keseluruhan pasal itu. Tetapi kalau Anda melihatnya dari apa yang Yesus katakan dan janjikan di Yohanes 14:3, maka saya melihatnya adalah kisah sedih namun romantis yang Allah lakukan demi manusia. Bumi dan surga harusnya bersatu, dimana Allah berada disitulah manusia. Kejadian 3:8. Tetapi manusia lari dan bersembunyi, singkat cerita mereka diusir dari taman Eden, maka terpisahlah bumi dan surga.

Setelah kejatuhan manusia, momen dimana bumi dan surga terhubung adalah saat Allah hadir dalam persembahan korban manusia. Ini yang kemudian kalau kita lihat menjadi konsep Tabernakel (Keluaran 40:34) dan kemudian Bait Allah bagi Israel (2Tawarikh 7:1). Namun korban ini harus dipersembahkan ulang setiap saat manusia bersalah. Inilah yang kemudian digenapi di dalam Yesus (Ibrani 10:1, 14) dari korban yang berkali-kali harus dipersembahkan, IA menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.

Namun demikian Allah tidak bisa berkompromi dengan kejahatan, seperti terang yang tidak mungkin bersatu dengan gelap. 1Yohanes 1:5-6. Itulah mengapa kemudian mereka yang memilih untuk tinggal didalam gelap, harus dipisahkan (tempat pemisahan inilah neraka, dimana Allah tidak berdiam disana). Wahyu 20:14-15. Karena mereka yang akan bersekutu dengan Allah harus tinggal dalam terang. Wahyu 22:3-5.  

RENCANA ALLAH: BALA TENTARA / PASUKAN ALLAH  

Sebagai umat pilihan Allah kita tahu ada misi yang khusus yang kita emban seperti yang kita lihat di penjelasan tentang rencana Allah, kita menjadi agen Allah untuk menyebarkan “keharuman pengenalan akan DIA.” 2Korintus 2:14-16. Ini selaras dengan maksud Allah di Perjanjian Lama tentang orang pilihanNYA supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Kejadian 12:3.

Hal ini kemudian dinyatakan dalam keturunan Yakub atau juga dikenal sebagai Israel. Dalam salah satu kisah perjalanan Yakub disebutkan bahwa Yakub lari dari rumah Laban, mertuanya, setelah berulang kali diperlakukan tidak adil. Kejadian 31:38-42. Setelah ia berargumen dengan Laban, kemudian Laban meninggalkan rombongan Israel. Ketika melanjutkan perjalanannya Israel menamakan tempat pertemuan dengan malaikat-malaikat Allah, Mahanaim. Mahanaim diterjemahkan di Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “bala tentara Allah” seperti tertulis di Kejadian 32:2 (TB).  Sementara di Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, ditulis “God’s Camp” (NKJV).

Jadi mari kita pelajari dari asal katanya. Menariknya ketika Anda mempelajari bahasa Ibrani maka ada kata yang berasal dari gabungan dua kata. Mungkin sama seperti kata serapan yang masuk ke Bahasa Indonesia seperti “a” dan “moral” kemudian menjadi satu kata “amoral”. Dalam bahasa Ibrani kata “Mahanaim” terdiri dari dua kata, yang pertama “makhaneh” yang artinya “tenda, atau kumpulan orang di satu tempat”, dan yang kedua “shenayim” seperti yang ada di ayat 7. Sebenarnya kata “im” itu untuk menunjukkan bentuk plural, seperti di kata Elohim atau Yahudi(m).

Jadi apa itu Mahanaim? Kumpulan dari keturunan Illahi (1Petrus 2:9), yang diperanakkan karena iman (Galatia 3:14, 4:4-7), diperlengkapi oleh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), dan dikumpulkan kepada suatu kumpulan besar malaikat Tuhan, kepada Yesus sendiri yang menebus kita dengan darahNYA, darah Perjanjian Baru (Ibrani 12:22-24).

Bagaimana? Apakah Anda bisa melihat betapa indah, baik, dan mulianya rencana Allah bagi Anda? Jangan berhenti sekarang, apapun yang sedang Anda alami, tetap pelihara iman, pengharapan, dan kasih kepada DIA, Tuhan Yesus Kristus yang menjelaskan rencanaNYA bagi kita.

GodblesS

JEFF

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

GodblesS

JEFF