TRENDSETTER

(Yesaya 54:2)

Kita adalah orang-orang muda yang tahu bahwa kita diciptakan untuk jadi pengubah dan pembeda di lingkungan kita. That we will make history within some points in our young life! YOU ARE HISTORY MAKER!

This is getting exciting. Itu kenapa kemudian menjadi menarik ketika kemudian malam hari ini kita akan membahas mengenai “trendsetter”, even more intriguing when the question following that word is like this: are you a trend follower or a trend setter? This is shocking, isn’t it? Or for some of you it feels insulting. Wah, bagaimana dengan skinny jeans ku, apa kabar celana “gemes” yang baru dibeli, udah terlanjur diwarnain “ash grey” rambutku? Aduh, apa musti dihapus semua account social media, trus iPhone-iPad-iMac-ApplePen musti dijual di online shop? Hey hey hey, easy. Tenang dulu.

Saya percaya apa yang dimaksud oleh panitia acara ini bukan berarti kita kembali ke jaman batu karena kita nggak mau disebut trend follower. Cuma saya berusaha tangkap hati dari teman-teman panitia yang menyiapkan tema ini adalah jangan terjebak dengan TREND yang sudah ada, tanpa kemudian menyadari panggilan kita sebagai pengubah, pembeda, A TRENDSETTER. Coba kita baca apa yang Yesus katakan. Matius 5:13-16. Anda adalah pembeda. Menariknya disini dikatakan Yesus sebagai identitas kita. Jadi ini bukan sesuatu yang menjadi tujuan kita, atau life-goal kita. But you are already a SALT & LIGHT. 

Coba kita sekarang lihat apa yang ditulis dalam ayat pokok kita di Yesaya 54:2.

Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!

Kalau kita mau hubungkan dengan apa yang membuat kita berbeda dengan “melapangkan tempat kemah” atau “membentangkan tenda”? Apakah kita perlu jadi pramuka? Atau jadi Bedouin yang hidup di tenda-tenda?

Saya selalu percaya ungkapan ini, bahwa Perjanjian Lama adalah Perjanjian Baru yang tertutup, sedangkan Perjanjian Baru adalah Perjanjian Lama yang terbuka. Jadi segala sesuatu yang dituliskan dalam Perjanjian Lama adalah gambaran dari apa yang terjadi di Perjanjian Baru. Lalu apa maksudnya? Okay here it is: Kemah adalah suatu tempat tinggal atau kediaman pada jaman Perjanjian Lama, lebih khusus lagi bagi bangsa Israel mereka hidup dalam kemah-kemah ini selama 40 tahun pengembaraan di padang belantara. Mereka akan membangun kemah-kemah untuk hidup, bahkan mereka membangun Tabernakel (Kemah Suci Tuhan, Keluaran 25:8-9). Sehingga “kemah” kemudian menjadi gambaran tubuh kita, seperti apa yang dikatakan Paulus. 2Korintus 5:1-4. Dalam bagian lain disebutkan ada “kemah sejati” yaitu tempat kudus di Surga, yang bisa kemudian kita sandingkan dengan konsep Gereja yaitu perkumpulan orang percaya. Ibrani 8:1-2.

Gereja adalah kita, dan kita adalah gereja. Dalam hal ini apa yang dimaksud dengan “lapangkanlah”, “bentangkanlah” dan “panjangkanlah” maksudnya adalah memperlebar pengaruh kita kepada orang lain. Karena kita bisa menampung lebih banyak orang. Bukankah ini yang Yesus mau didalam hidup murid-muridNYA dengan berkata “pergi dan “memberitakan” kabar baik. Supaya pemberitaan Firman Tuhan lebih jauh dari sekedar Yerusalem, namun juga ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kisah Para Rasul 1:8.

Lalu apa yang dimaksud dengan “jangan menghematnya”. Bukankah kita tidak boleh menghamburkan begitu saja sumber daya yang kita miliki. Save Energy! Tetapi apa yang dimaksud disini adalah bahwa kita akan bayar harga berapapun untuk menjadi dampak yang positif. Dalam Filipi 1:20-21 dengan berani Rasul Paulus berkata:

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Lebih lagi kepada Timotius, anak rohaninya, Paulus berkata di 2Timotius 1:11-12 

Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Sampai disini saya harap Anda bisa melihat bahwa untuk menjadi seorang trendsetter kita harus berpikir bigger than ourselves, and willing to pay the price. Namun ada satu hal lagi yang penting di ayat utama kita, yaitu tentang “pancangkanlah kokoh patokmu. Ini berbicara tentang memiliki dasar keyakinan yang kuat dan kokoh, sehingga tidak mudah dibuat kuatir dan bimbang. Matius 6:25. Yesus mengatakan mengenai hal ini, karena yang terjadi di akhir jaman dalam Lukas 21:26 akan ada banyak orang yang akan mati ketakutan. Tetapi Anda adalah trendsetter, Anda itu seperti thermostat (mempengaruhi) dan bukannya thermometer (dipengaruhi).
So I will wrap up with these 3 values we have from what I have explained. To be a trendsetter you have to:

  1. Think and do bigger than yourself. Matius 5:41. Walk the extra mile.
  2. Willing to pay the price. Lukas 12:8-9. Don’t be ashamed.
  3. Have a good foundation of faith. Matius 7:24. Just do it.

GodblesS

JEFF

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s