On that night (A story of Forgiveness).

One night I woke up, and walked out of my house to breathe night air. Suddenly, my eyes stucked to a shadow of man, burning-up something. He was holding a diary, and ripped up one page after another. He didn’t burn all of the pages, only certain pages. I walked closer and looked. This man is a tall person, wearing a white robe, and a big scar in His hands. I gasped, “Jesus?” He looked at me, oh my, what is this, my heart pounding hard, but at the same time I felt an overwhelmed peace. My lips glued, but finally I managed to asked, “What are you doing here?” I can’t get my eyes off of him. He smiled at me and said, “I ripped off few pages from your life diary.” Life diary? What is that. He explained, “You see, its filled up with the record of your sins, day-in, day-out.” And brave enough my curiosities continued, “With what?” He didn’t answer right away, he looked down. And I see two poles, stacked to each other. I can’t believe my eyes, it is a wooden cross. It burns, but the cross remains unburned. “I did this because I love you.” I clearly can see tears running on His cheeks. He ripped one last page, threw it in the midst of fire, and I can tell you it was disappear, without any trace. “It is finished,” He says that with His deep, low, calming voice. In no time He is standing right in front of me. He handed me that “life diary” and says, “Look I made everything new, go, back to your bed, and sin no more.” I just can’t stand this, I broke down and cry, and my tears is all over that white and clean pages before me, my life diary is as white as snow. He hugged me and whispered me, “I love you.” And the next moment, I opened my eyes, I was on my bed, laid down, breathless, with teary eyes, I said, “Thank you Jesus, thank you big “G”, thank you for the cross.” It was the greatest feeling I ever have in my entire life.

(Read the full page here: https://jeffminandar.com/the-big-g/)

Advertisements

Conversation #2: “Orang baik tidak boleh sukses?”

Pertanyaan:

“Bolehkah saya meminta pendapatmu? Saya sedang kehilangan harapan, saya sudah berusaha melakukan dengan benar, saya sudah berusaha belajar, saya sudah berdoa dan berharap pada Tuhan Yesus tetapi the reality make me disappointed, nilai saya tidak sesuai yang saya harapkan, bahkan teman saya yang mencontek mendapatkan yang lebih baik. Saya mencoba untuk berpikir positif, saya mencoba berpikir bahwa pasti besok Tuhan akan punya rencana yang indah, mungkin saya tidak merasakannya sekarang tapi saya pasti akan merasakannya besok.

Tetapi di satu sisi saya bertanya apa yang salah? Apa saya kurang tulus? Apa saya harus lebih dekat lagi? Atau saya kurang merenungkan firmanNya atau??? Pasti ada kunci kesuksesan di dalam Dia bukan?”

Jawaban

Okay. Kalo di 1Korintus 13:13 dikatakan tinggal ketiga hal ini: iman, pengharapan dan kasih. Jadi penting banget untuk tetap memiliki ketiganya selagi kita masih ada di bumi. Walaupun nanti di Surga sana hanya tinggal Kasih yang tetap tinggal ada, karena itulah di ayat tadi disebutkan bahwa kasih adalah yang terbesar. Oiya satu ayat lagi Roma 5:5 “pengharapan itu tidak mengecewakan” karena Kasih Allah dicurahkan oleh kehadiran Roh Kudus.
Jadi gini, definisi kesuksesanmu harus disesuaikan dengan rencana Allah. Bahwa nilai Illahi itu lebih tinggi dari definisi kesuksesan dunia. Bukan berarti orang-orang percaya tidak bisa sama sukses dengan orang dunia. Contoh yang paling sering dibahas di gereja mungkin adalah kisah Yusuf. Dari kacamata dunia menjadi seorang budak bukanlah definisi kesuksesan. Apalagi ketika Yusuf menjadi narapidana yang dipenjara. Saya yakin tidak ada yang bilang “Hore saya sukses masuk penjara!!!” Jadi bayangkan perasaan Yusuf waktu menjadi budak dan kemudian dipenjara di Mesir.
Disinilah guna iman dan pengharapan. Iman Yusuf membawa dia berani menolak tawaran menggiurkan dari istri Potifar, karena dia tidak ingin melakukan hal yang Allah tidak sukai (padahal waktu itu belum ada Hukum Taurat). Pengharapan yang membuat dia terus melihat bahwa janji Allah pasti digenapi dan dia terus bertahan.
Coba lihat dirimu dari kacamata kisah Yusuf. Btw, kisah itu ada di Kejadian 39-41. Iman, pengharapan dan kasih Yusuf membawa dia menjadi orang yang bukan saja “sukses” dari kacamata dunia, namun juga sukses di hadapan Allah dan di hadapan keluarga yang pernah menyakitinya.
Semoga ini menjawab ya. My prayer for you.
GodblesS
JEFF

Extended Version: Come! Become a Christian and I’ll marry you!

Come! Become a Christian and I’ll marry you!

Ini adalah kalimat yang begitu provokatif. Tapi pemikiran dibawah ini yang sebenarnya ingin saya sampaikan mengenai mengapa kalimat itu begitu menarik bagi saya.

Hidup ini adalah hidup yang dipenuhi dengan cinta. Tanpa cinta, tidak akan ada eksistensi. Sekarang kalau kita melihat ke sekeliling kita semuanya berbicara tentang cinta. Dari bidang seni yang mengagungkan dan mendokumentasikan karya-karya bernafaskan cinta, sampai bidang pemerintahan yang kental dengan cinta akan kekuasaan. Segala bentuk cinta kita dapatkan dengan mudah di sekeliling kita.

Tidak banyak yang menyadari mengapa dunia ini begitu dipenuhi oleh cinta. Karena dunia ini diciptakan oleh Cinta. CInta itu yang kemudian kita sebut sebagai Tuhan, Allah. Bahkan salah satu literatur dengan tegas menyatakan bahwa TUHAN ADALAH CINTA. Semua manusia rindu mengenal, memahami dan berhubungan dengan Tuhan. Setidaknya mereka menyadari ada kuasa yang lebih besar dari dirinya.

Namun dengan berjalannya waktu pemahaman akan Tuhan, bergeser, menyimpang, dan bersamaan dengan itu, pemahaman orang akan Cinta pun ikut berubah.

Cinta itu sabar; Cinta itu murah hati; Cinta tidak cemburu. Cinta tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Cinta tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Cinta tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Cinta tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Cinta menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Pemahaman seperti paragraf di atas telah bergeser, menyimpang. Bukannya menunggu, sekarang Cinta mendesak. Bukannya memberi, sekarang cinta meminta. Bukannya memahami, sekarang cinta membanding-banding dan posesif. Bukannya melembutkan hati dan menganggap yang lain lebih dari dirinya, sekarang cinta merasa kokoh dan berdiri dengan angkuhnya.

Apakah Anda mulai mengerti sampai disini?

Ketika seseorang merasa bahwa seseorang harus menjadi, mendapat, memiliki, Cinta. Mereka mengabaikan nilai-nilai Cinta yang sejati, kesabaran, kemurahan, pengertian, kerendah-hatian. Seperti ungkapan yang saya tuliskan di paling atas. Mari! Jadilah Kristen maka aku akan menikahi engkau! Bukankah dengan itu kita merendahkan Tuhan, dan Cinta. Namun seringkali ini yang menjadi kenyataan. Seseorang ‘menjual’ Tuhannya demi pengertian “Cinta” yang menyimpang. Atau bahkan menjual Cinta-nya dengan mengatasnamakan Tuhan.

Love God, Love People.

GodblesS

JEFF