PREPARE FOR THE FUTURE (Persiapan untuk Masa Depan)

Apa kabar Youth Mahanaim? What’s up? (Katanya anak-anak YouTube). HOF dan Crossover adalah orang-orang muda yang luar biasa. Saya percaya Anda semua bisa terus bertahan di tengah pandemi ini karena dikatakan “…ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:4). Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memiliki pengharapan. Tanpa itu, tidak peduli sekaya, semenarik, dan seberbakat apapun Anda, Anda akan hancur.

Saya menyampaikan sharing kali ini di tengah isu kesehatan, ekonomi global termasuk di Indonesia. Bahkan kalau di Amerika Serikat ini ditambah isu sosial yang begitu menonjol dengan adanya kerusuhan dan penjarahan. Pesan saya, jangan terlalu banyak dengarkan media, karena mereka terus menerus dirancang untuk meneror kita dengan hal-hal yang negatif. Bukan berarti kita harus tutup mata – tutup telinga dengan berita terkini. Tapi kemarin saya dengar satu pernyataan yang menarik mengutip seorang teolog terkenal bernama Karl Barth, “lihatlah berita (dari media massa) dengan kacamata Alkitab”.

Saya ingat saya pernah sampaikan ilustrasi dari Ps.Joseph Prince di Ibadah Raya beberapa waktu lalu. Ilustrasi itu tentang seorang nenek yang tinggal di lahan proyek yang besar. Ia tinggal di satu-satunya rumah yang tersisa di lahan itu. Pemilik proyek pernah mampir ke rumahnya dan meninggalkan kartu nama perusahaan itu sambal memberi jaminan, “Nek, saya sedang siapkan rumah yang jauh lebih baik dari ini, ketika sudah jadi, saya sendiri yang akan jemput nenek pindah ke sana.” Karena jaminan ini maka apapun yang terjadi di lahan proyek itu tidak menakutkan bagi sang nenek. Buldozer, teriakan tukang, suara bising, tidak membuatnya takut, karena dia punya jaminan, yang perlu dia lakukan bertekun dalam pengharapan.

Demikian juga kita sekarang, berita-berita selalu ditulis dengan motif tertentu untuk membuat suatu kejadian jadi lebih mengerikan. Tetapi percaya sama suara Yesus yang berkata, “…Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:3). Selama Anda fokus sama Yesus, Anda berjalan diatas masalah, ketika Anda fokus pada masalah, Anda tenggelam dalam masalah. (Matius 14:29-31). Mari ditengah-tengah semua yang terjadi hari ini kita mulai arahkan diri ke masa depan, dan bagaimana kita mempersiapkan masa depan.

Ketika saya menuliskan “Persiapan untuk Masa Depan” yang pertama terbersit ada 2 nama tokoh di Indonesia. Kesamaan dari keduanya adalah sama-sama terkenal, kemudian sama-sama kontroversial, dan yang terakhir mereka sama-sama sudah meninggal. Bisa menebak? Mungkin nama pertama untuk Youth Mahanaim tidak terlalu familiar. Beliau Pdt.J.E.Awondatu salah satu pemimpin di denominasi GPdI, dan pencipta lagu rohani, salah satu yang paling terkenal dan beberapa kali dinyanyikan di Ibadah Raya adalah “El-Shaddai”. Nama kedua mungkin Anda lebih familiar, Glenn Fredly, tidak ada hubungannya dengan GPdI, tapi dia salah satu penyanyi pria terbaik Indonesia, dan juga adalah pencipta lagu.

Apa hubungan mereka dengan masa depan? Pdt.J.E.Awondatu pernah berkhotbah dengan judul “Kembali ke Masa Depan” bahkan saya masih menyimpan catatan khotbahnya. Glenn Fredly menciptakan lagu dengan judul “Romansa ke Masa Depan” menariknya salah satu bagian liriknya berkata “Semuanya kembali ke masa depan.” Saya tahu untuk anak K-Pop Anda lebih tahu “Sour Candy” Lady Gaga featuring Blackpink atau “More & More” Twice. Tapi maksud saya, bahasan tentang masa depan adalah sesuatu yang menarik untuk dibahas. Bagi kita itu bukan saja menarik, tetapi penting.

Saya melihat persiapan masa depan itu sama seperti sebuah persiapan perjalanan. Ada 4 hal yang ada di pikiran saat akan melakukan perjalanan:

  • Tujuan
  • Waktu
  • Kendaraan
  • Bawaan.

Contohnya ketika pandemi berakhir Anda mempersiapkan perjalanan, tujuannya ke Yogyakarta misalnya. Anda ingin berangkat hari Minggu sesudah Ibadah, dan pulang hari Sabtu berikutnya, jadi total 6 hari disana. Anda akan naik kereta dari Cirebon, jadi harus beli 2 tiket perjalanan, pertama ke Cirebon, terus ke Yogyakarta. Barang bawaannya tas ransel saja dengan isi yang minimalis. Itu persiapan perjalanan Anda ke Yogyakarta, tetapi bagaimana dengan persiapan “perjalanan ke masa depan”? Mari kita bahas hal ini satu per satu.

TUJUAN. Ini berhubungan dengan nilai hidup Anda. Kalau Anda melihat hidup sebagai sesuatu yang bernilai maka Anda akan bertanya, “Apa yang didapat dengan mencapai tujuan itu?” Hidup ini punya beragam tujuan, dan kadang untuk anak muda itu bisa jadi membingungkan jika kita tidak punya pegangan untuk itu. Anak-anak HOF bertanya untuk apa Sekolah? Sedangkan anak-anak Crossover bertanya untuk apa bekerja keras? Ini adalah pertanyaan yang nampaknya biasa tetapi sekali lagi kalau tidak ada pedomannya akan membingungkan dan pada beberapa kasus menjadi fatal, karena salah nilai, salah tujuan.

Rasul Paulus pernah menuliskan dalam 1Korintus 9:23-26 tentang tujuan ia melakukan pelayanannya, yaitu untuk mengambil bagian dalam Injil, atau kabar baik. Dia kemudian memberi ilustrasi mengenai hidup ini seperti pertandingan olahraga. Semua atlet berdisiplin dan berlatih untuk meraih prestasi yang sementara. Bagi kita disiplin dan latihan itu juga diperlukan untuk mendapat hadiah yang kekal, dalam Kerajaan Surga. Jadi apapun yang Anda lakukan sekarang di tempat belajar, di tempat kerja, dan tempat pelayanan. Lihatlah itu sebagai nilai tambah yang akan Anda pakai untuk menyebarkan kabar baik. Ketika Anda menaruh tujuan Anda sebagai siswa/i, mahasiswa/i, karyawan/ti. pengusaha kecil/besar, pendeta, atlet, musisi, pegawai negeri, politisi, YouTuber apapun itu. Ingat Anda butuh disiplin dan latihan, tujuan akhirnya adalah membawa kabar baik, bukan sekedar sensasi yang malah memalukan, yang “tanpa tujuan” dan “sembarangan” (ayat 26). 

Kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus menuliskan tentang hidup dengan tujuan yang benar, dimulai dengan pengenalan akan Allah. (Efesus 4:17-19). Mengapa ini penting? Karena mereka yang tidak mengenal Allah pikirannya penuh kesia-siaan. Saya sedang belajar tentang budaya post-modernisme, ini adalah budaya yang banyak dihidupi oleh orang-orang di zaman sekarang. Mereka menolak Allah, mengandalkan perasaan (itu kenapa begitu banyak ke-“baper”-an” sekarang), dan mendefinisikan kebebasan adalah ketika seseorang mengikuti dorongan hatinya. Ini masalah besar, ketika hatinya dikuasai hawa nafsu. Salah satu penandanya adalah pemikiran “yang penting aku senang.”

WAKTU. Ini berhubungan dengan kesempatan yang Anda punya. Anda akan bertanya, “Kapan waktunya?” Karena Anda tidak akan hidup selamanya. Anda tidak akan selamanya berseragam putih biru atau putih abu-abu. Anda tidak akan selamanya jadi Remaja dan Pemuda. Sehingga mempertimbangkan waktu ini sungguh penting. Terlebih kita tidak pernah tahu apakah kita akan terus hidup sampai usia 70 atau 100 tahun. Semua tergantung pilihan kita di waktu sekarang. Pertama kali saya memiliki pengalaman seorang teman sebaya yang saya kenal meninggal itu saat saya SMA, ia meninggal karena pilihannya untuk mengebut di jalan dengan sepeda motornya. Bukan saya ingin menakut-nakuti Anda yang naik sepeda motor. Tetapi pilihan seseorang memengaruhi kelangsungan hidupnya. Apakah Anda mempergunakan kesempatan yang diberikan sekarang?

Pemazmur menuliskan doanya di Mazmur 90:12 supaya ia diajar menghitung hari-harinya sedemikian rupa supaya ia bisa punya pikiran yang bijak. Ketika saya di antara Staf Mahanaim, saya pernah sampaikan hal teknis mengenai ini, untuk bisa menganalisa, apa yang saya lakukan dalam 24 jam. Ini dimaksudkan supaya saya bisa menjadi bijaksana mengelola waktu yang tidak bisa diulang.

(Anda bisa mengunduh file excel untuk mencoba mencatat dan menganalisa jam-jam yang Anda habiskan dalam seminggu, hanya dengan klik tautan berikut ini: Manajemen Waktu).

Ada yang pernah berkata buatlah rencana seperti Anda masih bisa hidup lama, tetapi bekerjalah seperti ini adalah hari terakhir dihidupmu. Tentu saja ini bisa mengundang respon ekstrim bagi pencari sensasi, karena ini adalah “hari terakhir” mari kita habiskan uang kita hari ini. Penulis surat Ibrani mengingatkan untuk orang-orang yang mencari kesenangan sesaat, bahwa ketika kesempatan itu hilang, maka sekalipun kamu menangis sejadi-jadinya, kesempatan itu tidak akan diberikan lagi. (Ibrani 12:16-17).

KENDARAAN. Ini berhubungan dengan cara dan “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Anda bertanya“Bagaimana caranya?” Selalu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Ada yang karena bayarannya terlalu besar, akhirnya malah merugi, ada yang karena tidak mau bayar harga, tidak mencapai apa-apa. Contoh sederhana seseorang yang begitu ingin menjadi terkenal membayar “keterkenalannya” dengan merelakan keyakinannya kepada Yesus “dijual”, dengan begitu kehilangan keselamatannya. Pada kisah lain ada seseorang yang tidak mau berusaha untuk mengerjakan sesuatu yang sederhana dan menantikan orang lain berbelas kasih melakukan sesuatu untuk dirinya.

Rasul Petrus menuliskan bahwa orang yang rendah hati akan ditinggikan Tuhan pada waktunya dan Allah akan memelihara mereka yang menyerahkan kekuatirannya pada Tuhan. (1Petrus 5:6-7). Ini bukan berarti kita tidak berusaha. Allah memberikan kepada kita akal budi untuk berpikir, melakukan perhitungan dan membuat rancangan. (Lukas 14:28). Apa yang Anda lakukan di kelas sekarang? Apa rencana Anda di posisi atau jabatan Anda sekarang? Apakah keputusan Anda akan mendekatkan Anda pada tujuan yang Anda percaya datang dari Tuhan?

BAWAAN. Ini berhubungan dengan hidup yang efektif dan efisien, dimana Anda bertanya, “Berapa banyak yang harus dibawa?” Untuk mencapai masa depan, Anda akan kerepotan jika terus menerus membawa terlalu banyak barang, tetapi juga tidak bisa menjadi efektif jika terlalu sedikit membawa barang. Mari saya jelaskan sebentar, yang dimaksud dengan efektif adalah tepat sasaran, “barang” yang Anda bawa akan berguna untuk mencapai sasaran Anda. Pernah tidak Anda pergi ke suatu tempat dan tas Anda begitu banyak, tetapi ternyata yang dipakai hanya beberapa barang saja. Kemudian yang dimaksud efisien adalah tepat ukuran, “barang” itu tidak terlalu membebani Anda karena barang tersebut tidak terlalu besar atau berat.

Nabi Yesaya menuliskan janji Tuhan akan suatu masa dimana keselamatan datang dan mengubah segalanya menjadi baru. (Yesaya 65:17). Ini terjadi di tengah hilangnya harapan Israel dalam pembuangan karena kesalahan mereka. Namun untuk yang baru di masa depan, yang lalu harus dilupakan. Apa masa lalu yang masih menghantui kita? Latar belakang Keluarga, pilihan-pilihan yang salah, kemarahan akan ketidakadilan yang terjadi pada diri kita? Kalau kita bawa ini ke masa depan, hidup kita tidak akan efektif. Kita terbelenggu dengan pikiran akan masa lalu.

Lalu bagaimana membuat “barang bawaan” kita efektif dan efisien? Sekali lagi Anda harus percaya bahwa masa lalu memang mencetak Anda, tetapi masa depan dicetak oleh keputusan Anda sekarang. Jadi ambillah nilai-nilai baik dari masa lalu Anda, segala yang tidak berguna dan negatif, tinggalkan. Hidup dengan apa yang ada ditanganmu, bukan apa yang tidak ada, atau yang terkenal dengan halusinasi. Kisah Ester menginspirasi kita, bahwa dia tidak mengingat bahwa ia adalah seorang yatim piatu, dan bagian dari komunitas minoritas (orang buangan di negeri Persia). Dia tetap berpegang pada nilai yang baik (taat kepada Mordekhai, pengasuhnya – Ester 2:7, 20) dan tetap berusaha melakukan yang baik sekalipun status sosialnya sudah tinggi (Ester 4:14-16).

Kisah Ester seketika mengingatkan saya pada kisah seorang buangan lain yang berulang-ulang mengalami sakit hati, dikecewakan, dan dilupakan namun ia tidak sekalipun menyalahkan Tuhan ataupun orang-orang yang menyakitinya itu. Ia melakukan perjalanan ke masa depan dengan Tuhan dengan mengucapkan kata-kata yang begitu inspiratif dan memberi harapan, “…kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:20).

Anda mungkin marah dengan orang tua yang melahirkanmu, marah dengan kondisi ekonomi keluargamu, marah dengan sistem pendidikan, dengan bosmu, dengan karyawanmu. Atau marah dengan situasi kondisi sekarang yang serba tidak menentu. Tetapi ingat Tuhan tidak pernah merancangkan itu semua, kita mengerti pihak yang suka mencuri, membunuh dan membinasakan adalah iblis. (Yohanes 10:10). Tuhan ingin masa depan yang indah dan berkelimpahan, karena itu tentukan tujuan yang benar, gunakan kendaraan yang tepat, jangan buang waktu, dan tinggalkan bawaan yang tidak perlu. Bersiaplah menuju masa depan.

GodblesS

JEFF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s