Matius 3:17.
Yusuf di Perjanjian Lama memiliki identitas yang jelas karena ia tahu Allah menyertai dia. Penyertaan Allah ini menjadi kunci keberhasilannya, dan bahkan menjadi pengingat bagi dirinya untuk tidak melakukan perbuatan dosa. Kejadian 39:2, 9b. Dalam Perjanjian Baru, ada garis keturunan dari seorang bernama Yusuf bin Yakub (dari suku Yehuda) yang juga memiliki identitas yang jelas di awal pelayananNYA bahwa IA adalah Anak Allah.
Memahami identitas kita itu penting, karena itu bukan sekadar label yang ditaruh oleh orang lain kepada diri kita. Namun identitas juga memberi fondasi, makna, dan rasa utuh dalam diri. Yesus setelah dibaptis mendengar suara Bapa berkata bahwa IA statusnya adalah Anak, IA dikasihi – diperkenan, dan diberi otoritas ilahi.
Sehingga dari apa yang Bapa perdengarkan, seperti yang tercatat dalam Alkitab, restorasi mental dimulai dari:
- Kejelasan status.
Saat kita memahami status kita dalam dunia ini, maka mental kita diperkuat. Dalam Alkitab disebutkan tentang status kita yang bukan lagi diperbudak oleh keinginan daging namun dipimpin oleh Roh Allah. Itulah mengapa kemudian kita disebut anak-anak Allah. Roma 8:12-16.
- Afirmasi.
Ini datang bahkan sebelum pencapaian dan prestasi dicapai. Bahwa semua orang punya potensi untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Namun hal-hal yang baik itu dikerjakan karena dasar kasih. Allah sudah mengasihi kita sedemikian rupa (Yohanes 3:16). Kita sadar kita bukan sekadar ciptaan, tetapi ciptaan yang dikasihi. Yohanes 17:23.
- Pemberian otoritas.
Otoritas adalah kuasa untuk melakukan karena hal itu diamanatkan oleh yang mengutus kita. Ini bukan untuk disombongkan tetapi untuk melayani. Ingat apa yang Yesus lakukan setelah IA mengetahui kuasaNYA atas segala hal, IA kemudian melayani. Yohanes 13:3-5. IA yang harusnya dilayani, malahan melayani, bukan karena IA lebih rendah, malahan karena IA tahu otoritas itu ada di tanganNYA.
Semua orang hidup dengan hak Istimewa (Ing.: privilege). Hak Istimewa ini kita dapatkan karena garis keturunan biologis (Matius 1:1-16) atau karena penyampaian di depan umum (Matius 3:17). Namun hak Istimewa yang kita miliki tidak akan berarti kalau tidak dipakai untuk mengembangkan potensi yang dipercayakan kepada kita.
Setiap bicara potensi kita mengingat apa yang Yesus umpamakan di Matius 25:14-30. Bagi saya ini talenta-talenta dalam perumpamaan ini mengingatkan saya tentang kecerdasan majemuk. Bahwa secara umum kecerdasan seseorang itu bisa beragam:
- Linguistik (Verbal).
- Logis-Matematis.
- Visual-Spasial.
- Musikal.
- Kinestetik-Jasmani.
- Interpersonal (Sosial).
- Intrapersonal (Reflektif).
- Naturalis.
Dalam kehidupan seberapapun kita kaya dengan potensi, kita selalu harus mengingat bahwa nilai-nilai keteladanan itu lebih penting dari menunjukkan potensi yang banyak itu. Khususnya dalam 3 aspek ini: Keluarga, Pelayanan, Keuangan (KPK). Perbuatan-perbuatan yang baik di aspek-aspek ini adalah sikap yang memuliakan Allah. Matius 5:16.
Secara emosional jangan berlarut pada apa yang salah di masa lalu. Ubahlah masa lalu itu dari sumber sakit hati, menjadi sumber pelajaran. Ini adalah titik balik, yaitu dengan mulai membuat titik-titik baik dalam kehidupan kita.

Leave a comment