SESI 2: MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN DIRI

1Samuel 17:37.

Kepercayaan diri itu berasal dari pemahaman bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Panggilan pelayanan kita sebenarnya memungkinkan untuk kita bisa melakukan banyak hal. Bahkan hal-hal yang tidak mungkin bisa dimungkinkan terjadi, bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kehebatan Allah yang beserta kita. Matius 19:26.

Penyertaan Allah inilah sumber kepercayaan diri kita. Seperti yang dikatakan dalam Roma 8:31. Allah ada di pihak kita. Sehingga apa pun yang kita dengar dari dunia, atau iblis, seperti yang ia lakukan kepada Yesus (Matius 4:3-10). Kita bisa melawannya dengan pemahaman dari firman dan keyakinan akan penyertaan ilahi.

Identitas yang kita miliki di dalam Tuhan harusnya membuat kita semakin percaya diri, dan diteguhkan bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu dalam Kristus. Apapun posisi dan aktivitas kita, kita adalah hamba Tuhan. Karena kita hamba Tuhan, kita milik Tuhan, tidak ada yang bisa memperhamba kita di dunia selain Tuhan. 1Korintus 7:22.

Kepercayaan kepada Tuhan harusnya menjadi fondasi kepercayaan diri kita. Kita belajar dari dua peristiwa dalam Alkitab:

  1. Daud. 1Samuel 17:37.

Kehidupan Daud harusnya dipenuhi dengan rasa minder. Ia tidak dianggap oleh ayahnya. Secara fisik, juga status di mata orang banyak, kakak-kakaknya lebih meyakinkan. Namun itulah kehidupan, tidak selalu kita mendapat fasilitas yang kita mau. Untungnya, status bukanlah pengejaran Daud. Ia mengeksplorasi potensinya sendiri, dan menjadi ahli.

Sementara ayahnya sibuk dengan urusan di rumah, Daud belajar mendekat dengan Tuhan dan mengenal hati Tuhan. Kisah Para Rasul 13:22. Selagi, kakak-kakaknya menghadapi musuh Israel, ia mencari cara untuk menghadapi musuh dari kawanan ternaknya. Ia mengaitkan semua kemampuannya dengan Allah, dan ia menerapkan hal itu terus sampai ia menjadi raja. 2Samuel 7:18.

  1. Petrus dan Yohanes. Kisah Para Rasul 3:2-9.

Kedua murid Yesus yang punya karakter berbeda. Petrus punya karakter kepemimpinan yang kuat, Yohanes punya kecerdasan emosi yang baik. Tetapi keduanya memulai bukan dengan kelimpahan di mata masyarakat. Bahkan mereka tidak punya apapun untuk diberikan kepada pengemis di pintu gerbang Bait Allah. Namun mereka tidak fokus pada apa yang tidak ada pada diri mereka. Mereka tahu Allah memperlengkapi mereka dengan kuasa. Kisah Para Rasul 1:8. Kuasa Ilahi ini ketika dilihat oleh banyak orang menjadi kesaksian bagi nama Tuhan Yesus Kristus. Mari bangun kembali rasa percaya dirimu. Ini bukan tentang kamu tetapi Kristus yang di dalammu. 2Korintus 4:7-9.

Leave a comment