Yesaya 60:2.
Ayat ini dituliskan dalam situasi Israel masih ada di dalam pembuangan ke Babel. Mereka berada jauh dari Tanah Perjanjian yang Tuhan berikan. Namun ada nubuatan yang memberi pengharapan. Dalam gelapnya keadaan dunia, Allah – Sang Terang, memperlihatkan terangNYA kepada umat pilihanNYA.
Sepanjang hidup kita, kita mencari sesuatu yang terang, yang jelas. Saya tidak tahu dengan jemaat Tuhan, tetapi saya lebih suka dengan terang. Mungkin hanya sedikit orang yang lebih memilih tinggal dalam gelap di dalam hidupnya. Kalau kata Yesus, orang yang menyukai kegelapan itu karena ia berusaha membuat perbuatan-perbuatan jahatnya tidak kelihatan. Yohanes 3:20.
Sebagai ciptaan Allah tidak mungkin kita menyukai gelap. Karena Allah, pencipta kita, DIA yang menjadikan terang. DIA sumber terang, di dalam DIA tidak ada bayang-bayang perubahan. Ketika DIA datang dalam diri Yesus, kedatanganNYA membawa terang yang membawa pada damai sejahtera. Lukas 1:78-79.
Memang manusia duniawi hidup dalam gelap. Fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita menunjukkan banyak sekali orang-orang yang tidak bisa melihat.
- Mereka tidak bisa melihat bahwa perburuan akan uang menyimpangkan iman dan mendatangkan duka. 1Timotius 6:10b.
- Mereka tidak bisa melihat mana yang harus dibela, dan yang tidak. Yesaya 1:23.
- Mereka tidak bisa melihat bahwa kesetiaan adalah karakter ilahi. Maleakhi 2:15.
Hidup dalam kegelapan adalah hidup yang tanpa harapan. Sementara manusia rohani, menerima roh yang dari Allah, sehingga memahami karunia Ilahi, dalam Yesus. 1Korintus 2:12. Manusia yang hidup dalam gelap berjalan tanpa arah dan tujuan. Hidup dunia ini gelap, tetapi tidak perlu menjadi putus asa, karena harapan itu masih ada.
Sebagai manusia yang hidup di Indonesia, seolah-olah kita hidup dalam gelap, Sepertinya tidak ada harapan Indonesia akan bebas dari korupsi. Atau, kita berpikir tidak ada harapan bahwa Indonesia akan membaik ekonominya. Namun selalu ada harapan di tengah-tengah kegelapan. Sebab Yesus berkata demikian: Yohanes 8:12, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”
Satu-satunya harapan adalah Yesus. Tetapi kenapa kita harus percaya kepada Yesus? Bisa saja DIA hanyalah tokoh fantasi, atau seorang Yahudi aneh yang dibesar-besarkan oleh murid-muridNYA sebagai Tuhan. Sebenarnya ada dua pilihan dalam memandang Yesus:
- DIA adalah orang “aneh” yang mengaku Anak Allah, atau
- DIA adalah benar-benar seperti apa yang IA katakan.
Jika melihat fakta-fakta bahwa:
- Alkitab (yang mencatat tentang karya Yesus, sebelum dan sesudah inkarnasi) adalah buku yang paling banyak dicetak dan dibaca oleh seluruh penduduk dunia.
- Nubuatan tentang DIA ditulis oleh penulis-penulis yang hidup bahkan ratusan sampai ribuan tahun sebelumnya.
- Kesaksian mengenai karya salibNYA melintasi zaman, generasi lepas generasi.
Saya rasa sulit untuk menyangkal keilahian Yesus.
Lalu apa yang kita bisa harapkan dari menjadi umatNYA, Tuhan Yesus Kristus? Kembali seperti apa yang dituliskan di Yesaya 60:2, Saat dunia menjadi kelam, terang Tuhan dan kemuliaanNYA terbit atas umatNYA. Buktinya hari ini Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk beribadah, untuk melayani DIA, kita percaya ada harapan di tengah kegelapan.
Hari ini kita bisa berdoa bagi bangsa kita biar terang ilahi juga menerangi orang-orang yang masih dalam kegelapan. Seperti kontras antara gelap dan terang. Biarlah hidup para pengikut Kristus berbeda dari dunia sekitarnya. Efesus 4:17-24. Doa kita dan kesaksian hidup kita menjadi pelayanan kita bagi kota dan bangsa kita.

Leave a comment