TELADAN YUSUF

Kejadian 39:2.

Yusuf menjadi salah satu tokoh favorit saya, karena nama ayah diambil dari tokoh ini. Saat kita bicara mengenai tokoh yang satu ini kita bisa melihat bagaimana ia berbeda dari 11 saudaranya yang lain (kita bisa bilang Dina adalah yang ke-12). Dia menunjukkan “a solid identity” dan dalam segala yang dikerjakannya dia terus melebarkan pengaruh pelayanannya (an expanding ministry).

IDENTITAS YUSUF JELAS

Dalam situasi yang tidak menguntungkan dan di tempat yang asing bagi dia, identitasnya tetap jelas. Tentu saja meskipun ia harus tampil seperti orang Mesir kebanyakan, sampai-sampai tidak dikenali saudara-saudaranya. Kejadian 42:8. Namun kita bisa melihat karakter ilahi yang terpancar dari dirinya.

Suatu ketika ia harus menghadapi salah satu dari tiga godaan yang selalu dihadapi oleh semua orang, godaan di aspek cinta. Namun cinta ini dalam level hawa nafsu, untuk melakukan hubungan seksual dengan istri tuannya. Tetapi karena ia tahu identitasnya sebagai budak yang harus setia melayani tuannya. Demikian juga ia tahu identitasnya sebagai ciptaan Allah yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan dosa di hadapan Allah. Kejadian 39:8-9.

Bukankah seharusnya kita juga memiliki identitas yang jelas di dalam Tuhan? Kita adalah “hamba Tuhan”, imam-imam yang melayani kepentingan Kerajaan Allah. 1Petrus 2:9. Kita kepunyaan Allah, seharusnya kita setia meskipun ada tawaran cinta, takhta, atau harta dunia. Demikian juga kita mengingat bahwa kepada Allah kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ibrani 4:13.

Yesus dengan jelas memberi identitas kepada kita. Matius 5:13-14. Bahwa dengan kesempatan hidup yang kita miliki, seharusnya hidup kita memengaruhi dunia, bukan sebaliknya. Kata “adalah” mendefinisikan identitas tersebut. Ini bukan suatu gelar yang diberikan, atau dicapai dengan pencapaian akademik tertentu. Kita adalah garam dan terang dunia, jika kita berkata kita adalah murid Yesus.

PELAYANAN YUSUF BERKEMBANG

Jika kita mengikuti kisah Yusuf maka, dari posisi budak, sampai menjadi perdana menteri Firaun, melewati 3 fase yang tercatat di Alkitab:

  1. Fase menjadi budak. Kejadian 39:2-4.
  2. Fase menjadi tawanan. Ayat 21-23.
  3. Fase masuk dalam lingkaran istana. Kejadian 41:38-40.

Menariknya dalam semua fase tersebut di atas Yusuf selalu menemukan versi terbaik dirinya dalam pelbagai kondisi yang dihadapinya. Kalau kita maju ke Perjanjian Baru ada kisah perkembangan kerohanian yang tidak terduga dari seseorang Yahudi garis keras. Kisah Para Rasul 19:21-22. Allah memakai pertobatan Paulus untuk memperluas pengaruhnya.

Pelayanan yang berkembang tentu saja harus berhasil bertumbuh secara tetap. Tetapi penting untuk kita mendefinisikan ulang keberhasilan. Keberhasilan adalah rangkaian momen-momen (atau “peperangan-peperangan”) kecil yang kita menangkan, dibandingkan obsesi mengejar momen besar. Yosua 12:7-24.

Leave a comment