DARI YERUSALEM KE CEPU

Kisah Para Rasul 1:8.

Kita bisa berkata “dalam nama Yesus Kristus”, kemudian mengutip perkataanNYA: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Lukas 4:21. Meskipun tentu saja dalam konteks yang berbeda. Dalam Injil Lukas, Yesus berbicara tentang tugasNYA, dan dalam Surat Kisah Para Rasul Yesus berbicara tentang tugas yang didelegasikan pada murid-muridNYA. Tetapi semoga kita paham bahwa kita sedang hidup di masa penggenapan perkataan-perkataan Kristus.

Karena kalau kita melihat catatan Alkitab, Yerusalem, Yudea dan Samaria jelas sudah menerima pelayanan para saksi Kristus (Kisah Para Rasul 2:14, 8:1, 9:31). Lalu di mana “ujung bumi”? Kita bisa berargumen bahwa istilah itu menggambarkan pelayanan global keluar dari batasan geografis Israel.[1]

Dalam sejarah pergerakan pentakosta secara global, kita melihat ujung bumi itu ada di Amerika Serikat (Topeka, Kansas atau Los Angeles, California).

Sementara dalam sejarah pergerakan pentakosta nasional, ujung bumi itu ada di Indonesia. Dimulai dari kunjungan para misionaris ke beberapa kota, sampai api itu menyala tepatnya di Cepu, Jawa Tengah.[2]

Tentu saja ini ada penyederhanaan yang ekstrim. Saya tidak bermaksud untuk mengabaikan detail-detail sejarah gerakan pentakosta, tetapi setidaknya kita menarik suatu faktor yang sama baik di tahun 30 Masehi[3], tahun 1901, dan tahun 1921. Ada Pribadi yang sama, IA adalah Roh Kudus. Titus 3:4-5. Pribadi yang membawa pembaharuan.

Ini yang juga menarik bahwa baik di Israel, di Amerika Serikat, maupun di Indonesia, Roh Kudus  menggerakkan orang-orang untuk melayani, untuk menjadi saksi. Kisah Para Rasul 4:31. Mulai dari Petrus, William Seymour, S.I.P Lumoindong, daftar nama-nama itu terus bertambah panjang. Bukankah kita rindu nama kita juga tertulis, bukan di buku yang diterbitkan manusia, namun di Wahyu 21:27 disebut Kitab Kehidupan Anak Domba.  Demikian juga nama orang-orang kita kasihi, yang kita layani, yang kita doakan ada di kitab itu melalui pelayanan kita yang digerakkan Roh Kudus. Maukah kita penuh Roh Kudus, maukah kita menjadi saksi Kristus?


[1] Yusniar Dian L. Waoma dan Eli Berkat Zebua, “Kajian Teologi Misi dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Gereja di Era Media Digital,” Lentera Karya: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Sejarah, dan Humaniora Vol. 9, No. 2, November 2025, hal. 98. https://widyasari-press.com/wp-content/uploads/2025/11/9.-Yusniar-Dian-L.-Waoma-KAJIAN-TEOLOGI-MISI-DALAM-KISAH-PARA-RASUL-1-8-DAN-IMPLIKASINYA-BAGI-PELAYANAN-GEREJA-.pdf. Terakhir diakses 23 Mei 2026.

[2] Dr. Jisman Nainggolan, MA., M.Miss, Gerakan Pentakostalisme dan Sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2024, hal. 36-38. Google Books.

[3] Philip Schaff, History of The Christian Church. Volume I: Apostolic Christiainity AD 1–100, Oak Harbor, WA: Logos Research Systems, Inc., 1997, Section 23: Chronology of the Apostolic Age. https://ccel.org/ccel/schaff/hcc1.i.III_1.23.html. Last accessed May 23rd, 2026.

Leave a comment