AYAH

Puji Tuhan Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Kalau Gembala sering mengutip bagian-bagian dari ayat-ayat ini:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Pagi hari ini saya ingin mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja kita, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Hari Ayah yang dirayakan banyak negara di setiap hari Minggu ke-3, bulan Juni. Kalau di Indonesia, “Hari Ayah Nasional” dirayakan setiap tanggal 12 November, meskipun banyak dari Anda yang mungkin baru tahu. Karena memang lebih “terkenal” perayaan Hari Ibu. Tetapi setidaknya merayakan bagaimana seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya adalah sesuatu yang spesial. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

 

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

 

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

 

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

 

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

 

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

 

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

 

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

 

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

 

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

 

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

 

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

 

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

 

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

 

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

 

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

 

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

 

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

 

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

 

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s