ENDURANCE (Hidup sebagai Orang Muda Kristen)

Ini adalah suatu sukacita bisa berada di tengah-tengah orang-orang muda di Bogor. Sepulang dari tempat ini ada harapan supaya Anda semua menjadi orang-orang muda jaman sekarang, yang kekinian, tetapi tidak tergoyahkan (endurance). Anda tekun sedemikian rupa sampai dapat menjadi dampak bagi lingkungan sekitar (keluarga di rumah, lingkungan sekolah, dan lain-lain) meskipun PROSES atau SITUASI-nya tidak mudah. Efesus 4:14 berkata bahwa yang mudah diombang-ambingkan itu “anak-anak” tetapi kita “dewasa” secara rohani meskipun secara usia masih unyu. Orang muda sering dikatakan tidak berhikmat, namun dalam Yakobus 1:5-6 kalau kita ingin menjadi generasi yang penuh dengan hikmat, kita harus meminta kepada Tuhan dengan IMAN yang tidak tergoncangkan. Jadi keputusan Anda datang saat ini adalah keputusan yang benar!

Saya akan berusaha untuk menjelaskan dalam 60 menit ke depan seperti apa seharusnya hidup seorang muda yang memilih untuk menjadi pengikut Yesus (atau biasa disebut Kristen). Saya akan bagi jadi empat bagian untuk menjelaskan bahwa Anda adalah:
Orang yang diciptakan dengan seksualitas.
Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.
Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.
Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Mari kita mulai dengan yang pertama:
Anda adalah orang yang diciptakan dengan seksualitas.

Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Namun gambaran ini rusak karena dosa. Siapa kita sebenarnya? “Pada mulanya”. Tahukah kita bahwa Allah menciptakan suatu lingkungan yang sempurna untuk pria dan wanita dapat hidup dan memenuhi tujuannya? Coba saja lihat dari hari pertama sampai dengan hari keenam dalam minggu penciptaan.

Kejadian 1:27 DIA menciptakan kita serupa dan segambar dengan diriNYA. Serupa dan segambar adalah kesamaan manusia dengan Tuhan dalam hal ROHANI. Anda adalah manusia roh. Yakobus 2:26, Yakobus 4:5. Sehingga apa yang terjadi di secara fisik seharusnya kamu pikirkan apa efeknya secara roh.

Kehidupan manusia, khususnya orang muda, tidak bisa dilepaskan dari bicara tentang cinta, cinta itu bukan sekedar romansa. Menurut Alkitab Cinta itu adalah Pribadi Allah, sehingga ketika kita bicara tentang cinta berarti kita sedang membahas Allah yang adalah Roh. 1Yohanes 4:8.

Cinta adalah sesuatu yang menjadi tema universal. Cinta adalah sesuatu yang menembus semua batasan yang manusia kenal.
Jarak? Cinta mampu menembusnya.
Waktu (usia)? Cinta mampu melewatinya.
Status sosial? Cinta mampu meruntuhkannya.
Apa lagi yang Anda pikirkan? Tingkat pendidikan, faktor ekonomi, kondisi fisik, penyakit, dan pembatas lainnya, meleleh kalau dihadapkan dengan Cinta. Karena Cinta bisa mengatasi segalanya tak heran kalau ada yang berkata Cinta / Kasih adalah yang terbesar atau terutama. 1Korintus 13:13.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi secara fisik ketika kita kemudian mendefinisikannya sebagai “cinta”? Otak kita terpicu oleh sensor atau indera, dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh sebagai respon. Secara sederhana, indera kita (mata) menangkap stimulus (melihat) yang bergerak atau diam (objek lawan jenis).

Otak yang menerima informasi ini segera mengirimkan impuls ke tubuh, yang bisa berupa jantung yang berdetak semakin cepat, tangan yang berkeringat, pupil mata yang membesar dan yang lainnya. Bahkan ada sebuah penelitian pada 2004 di London menyebutkan bahwa ketika seseorang mengalami perasaan “cinta”, hal ini menekan aktifitas otak di area yang mengendalikan pemikiran kritis.

Kita bisa bilang bahwa cinta adalah gejala psikofisis, maksudnya apa yang terjadi didalam yang tak terlihat (psikis) nampak dalam apa yang terlihat diluar (fisik). Apa yang terlihat sebagai perilaku sebenarnya hanyalah fenomena gunung es.
Jadi ketika ingin memperbaiki apa yang ada diluar seharusnya yang difokuskan adalah pembenahan apa yang didalam. Ingat ini: healthy inside, fresh outside. Atau dengan kata lain hatimu menentukan perilakumu, karena dari dalam hati timbul segala sesuatu pikiran dan perbuatan jahat. Lukas 6:45.

Cinta ada di hati, lalu hati itu dimana? Itu ada di jiwa kita, di pikiran kita. Itulah kenapa sebenarnya ketika kita menang dalam pikiran, maka kita bisa juga menang dari hal-hal menyimpang dalam ekspresi cinta kita:
Mencintai diri sendiri (narsisme).
Mencintai dengan eksploitasi seksual.
Mencintai sesama jenis.
Mencintai dalam status yang di luar etika Kristen (kawin-cerai, duda-janda, dibawah umur dan lain sebagainya).

Karena cinta ini ada di hati, yaitu pikiran kita, maka hubungannya akan sangat erat dengan konsep diri kita. Konsep diri yang saya maksudkan adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Bayangkan betapa banyak dana yang dikeluarkan wanita untuk menjadikannya sosok ideal dan dicintai secara fisik: rambut hitam lurus panjang, badan langsing, muka bercahaya, dan kulit yang putih. Konsep seperti ini kemudian dipasarkan sebagai sosok ideal. Tapi apakah benar? Sebab setiap orang berpikir bahwa jalannya lurus menurut pemandangannya sendiri. Amsal 21:2.

Jadi bagaimana kita menghindari sindrom-sindrom seperti ini? BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL. 1Tesalonika 5:18. Kata yang sering kita dengar tapi kadang jarang kita praktekkan. Tahukah kita bahwa kejadian / eksistensi kita ini ajaib dan dahsyat. Mazmur 139:14. Banyak orang “haus” akan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa. Padahal itu ada didalam dirinya.

Tahukah Anda bahwa Anda diciptakan sempurna? Anda merasa tidak sempurna disaat Anda mulai membandingkan diri dengan orang lain. Dan di dunia yang tidak sempurna ini segala sesuatu bisa terjadi. Konsep yang seperti ini bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Seseorang merasa dirinya terjebak didalam tubuh yang salah. Atau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang salah. Saya tahu ini hal yang sulit dimengerti, tetapi homoseksualitas (gay/lesbian), transgender (wanita-adam) atau biseksualitas, adalah pilihan yang diambil seseorang sama ketika dia memilih untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Karena ada konsep anima-animus bahwa di setiap pria ada unsur wanita didalamnya dan demikian sebaliknya.

Lalu kapan seorang pria-wanita bisa memulai pacaran? Jawaban yang mudah adalah ketika keduanya sama-sama siap. Tetapi kapan mereka siap? Kesiapan secara psikis adalah patokan. Karena dari dalam hati keluar perbuatan yang jahat. Maka pastikanlah bahwa hati atau motif yang terkandung didalamnya adalah baik. Secara pribadi berpacaranlah setelah engkau bisa menghidupi diri sendiri secara ekonomi. Karena disaat engkau mulai dapat menghidupi diri sendiri engkau sudah mulai bertanggungjawab tentang dirimu. Engkau bisa mengasihi orang lain, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Cinta adalah hubungan, selalu melibatkan 2 pihak. Ada yang menerima dan ada yang memberi. Nah cinta adalah perasaan yang timbul dari hubungan dengan lawan jenis. Ini yang menarik, karena kita akan mendasarkan bahasan kita pada sex. Bukan triple x, tapi sex. Sex sendiri adalah perbedaan jenis kelamin.

Nah sekarang kita lihat bahwa pemahaman tentang seks harus diketahui sejak dini. Namun ada tingkatan pelajaran seks itu dari basic – intermediate – advance. Pendapat yang mengatakan “Ah binatang aja nggak diajarin bisa beranak pinak!” tidaklah lagi relevan, kecuali Anda ingin disamakan dengan binatang. Kompleksitas hubungan dalam manusia yang membuatnya berbeda.

Making future plans is a healthy ingredient for a growing relationship, It’s also an indicator of the commitment you have to each other.

Hidup yang berkualitas itu tidak ditentukan oleh seberapa kali Anda berhasil memutuskan untuk menjalin suatu hubungan. Apalagi jika itu berlanjut ke hubungan seks. Hidup yang berkualitas adalah ketika Anda bisa bertanggungjawab pada diri Anda sendiri. Ikan yang hidup selalu berenang melawan arus. Hanya ikan mati yang terikut arus.

Orang yang diciptakan sebagai mahluk sosial.

Konsep diri seseorang yang rusak dari lingkungan dan media menimbulkan perilaku yang menyimpang. Karena konsep diri yang positif akan menjawab pertanyaan “Siapakah Aku?” dan “Untuk apa aku ada?” Kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini akan memicu seseorang mengejar sesuatu yang semu. Mereka bergabung dengan komunitas yang dapat menunjukkan eksistensinya, misalnya geng motor, atau vandalisme.

Kita tahu bahwa kita diciptakan untuk jadi pengubah dan pembeda di lingkungan kita. Kita akan membuat sejarah dalam satu titik di hidup muda kita! KITA ADALAH PENGUBAH SEJARAH! Pertama-tama kita akan membahas mengenai “pembuat tren”, selama ini apakah kita adalah pembuat tren atau pengikut tren yang ada? Mungkin ada yang berpikir: Wah, bagaimana dengan skinny jeans ku, apa kabar celana “gemes” yang baru dibeli, udah terlanjur diwarnain “ash grey” rambutku? Aduh, apa musti dihapus semua account social media? Hey hey hey, easy. Tenang dulu.
Bukan berarti kita kembali ke jaman batu karena kita nggak mau disebut trend follower. Maksud saya sebenarnya jangan terjebak dengan TREND yang sudah ada, tanpa kemudian menyadari panggilan kita sebagai pengubah, pembeda. Coba kita baca apa yang Yesus katakan. Matius 5:13-16. Anda adalah pembeda. Menariknya disini dikatakan Yesus sebagai identitas kita. Jadi ini bukan sesuatu yang menjadi tujuan kita, melainkan ini adalah identitas kita. Kamu adalah TERANG & GARAM.
Coba kita sekarang lihat apa yang ditulis dalam 1Tawarikh 4:10.Apa yang dimaksud Yabes dalam doanya, yang juga dijadikan lirik lagu rohani ini? Kalau kita mau hubungkan dengan apa yang membuat kita berbeda dengan “memperluas daerahku”? Apakah kita perlu jadi “tuan tanah”?
Maksudnya adalah memperlebar pengaruh kita kepada orang lain. Karena kita bisa menampung lebih banyak orang. Bukankah ini yang Yesus mau didalam hidup murid-muridNYA dengan berkata “pergi dan “memberitakan” kabar baik. Supaya pemberitaan Firman Tuhan lebih jauh dari sekedar Yerusalem, namun juga ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kisah Para Rasul 1:8.
Kita akan bayar harga berapapun untuk menjadi dampak yang positif. Dalam Filipi 1:20-21 dengan berani Rasul Paulus berkata bahwa: Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Lebih lagi kepada Timotius Paulus berkata di 2Timotius 1:11-12 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Sampai disini saya harap Anda bisa melihat bahwa untuk menjadi seorang yang berbeda kita harus berpikir lebih besar dan mau bayar harga. Anda adalah seperti thermostat dan bukannya thermometer.

Orang yang diciptakan untuk kesuksesan dengan penggunaan teknologi.

Perkembangan teknologi menjadi tidak terbendung lagi. Dari jaman ke jaman manusia menciptakan sesuatu yang bisa membantu dirinya untuk memenuhi keingintahuan mereka akan banyak hal. Contohnya, sejak kecil seorang anak selalu diisi keingintahuan mereka akan banyak hal. Mulai dari pertanyaan pula, kemudian timbul inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan baru. Tahukah kita bahwa manusia memang memiliki kemampuan pikir yang tidak terbatas? Kejadian 11:6. Jadi jangan kaget dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Sebenarnya ini adalah pendorong semangat kita bahwa apa yang difirmankan Tuhan sama bagi kita juga, yang hidup pada masa sekarang. Think big, think global but act locally.
Disaat yang sama kebutuhan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tetap mengambil posisi yang penting. Contohnya saja kita bisa lihat bagaimana seseorang berusaha memiliki teman atau kenalan, dan bahkan saling mengklaim bahwa mereka memiliki teman atau sahabat yang banyak. Kita bisa mengerti ini juga mengapa penulis Amsal merasa perlu menuliskan nilai-nilai dalam relasi dengan orang lain. Amsal 27:10.
Apa yang terjadi ketika kedua komponen, yaitu teknologi dan hubungan manusia-dengan-manusia digabungkan? Lahirlah SOCIAL MEDIA. Jika kita coba perhatikan benar-benar, semua teknologi yang berusaha menghubungkan manusia dengan manusia yang lain itu adalah Social Media, yang kalau diterjemahkan bebas adalah media atau tempat mengekspresikan diri supaya terhubung dengan yang lain (social). Tetapi ada orang lain yang juga mendefinisikan social media sebagai kumpulan usaha menyalurkan komunikasi secara online (di dunia maya), yang dilakukan dengan beragam maksud, misalnya memberi masukan bagi komunitas, menjalin interaksi, berbagi suatu konten (muatan) dan juga berkolaborasi. (www.techtarget.com). Saya pikir inilah kemudian yang jadi daya tarik Social Media, karena ada tiga komponen ini:
Keingintahuan manusia yang sudah ada dalam dirinya.
Dari poin diatas itu ditambah potensi kecerdasannya, kemudian melahirkan teknologi untuk membantu manusia.
Keinginan atau bisa disebut kebutuhan manusia untuk terus terhubung, karena manusia juga mahluk sosial.

Saya juga memiliki beberapa data yang mencengangkan tentang jumlah pemakai social media, dan mungkin ini yang ter-update, karena Facebook Indonesia sendiri mencatat pada akhir kuartal kedua (Juni) 2016, pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia adalah 88 juta pengguna. Padahal di akhir 2014 pengguna aktif bulanan Facebook Indonesia baru 77 juta. Saya bayangkan kalau perkembangan gereja seperti ini pasti luar biasa. Fakta menarik lainnya, 94% dari pengguna itu mengakses Facebook dari perangkat mobile (handphone, tablet). Kemudian statistic ini juga menarik, dalam sehari rata-rata 80 kali orang mengecek perangkat mobile nya. Kemudian 14 kali diantaranya yang dicek adalah Facebook. Holy Bible sekarang “kalah” akses dengan Holy Facebook. Dalam hal ini saya tidak mau menghakimi Anda jika Anda lebih banyak mengakses Social Media dibandingkan dengan Alkitab. Tetapi saya terus menyarankan untuk Anda melakukannya dalam level moderat. Ketika itu mengikat Anda, itu sama saja Anda kecanduan. Itulah mengapa saya sarankan misalnya Anda ambil puasa atau lebih tepatnya pantang Social Media sekali waktu dalam minggu-minggu yang Anda jalani.
Menariknya semua teknologi yang tercipta, atau bahkan semua barang itu memiliki dua “sisi”, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seperti sebuah batu Anda bisa gunakan untuk yang positif (Bilangan 11:8) dan yang negative (Hakim-hakim 9:53).
Jadi apa saja yang jadi pengaruh positif dan negatif dari Social Media? Mari kita mulai dari yang positif.
Dampak positif dari Social Media:
Semua orang yang memiliki akses mampu mengembangkan “lingkaran” pertemanannya. Ketika kita punya teman berarti kita punya pengaruh, otomatis “lingkaran” pengaruh kita juga membesar.
Kita memiliki banyak sumber berita dan ini lebih cepat dari media-media elektronik konvesional sekalipun. Demikian juga inspirasi kita untuk ide-ide segar, dan cara pikir kita menjadi lebih luas.
Menghemat ongkos komunikasi local dan global menjadi sangat minim, menjadi sangat cepat dan efisien.
Dampak negative dari Social Media:
Menjauhkan orang-orang yang sebenarnya secara fisik lebih dekat daripada “orang-orang” yang ada di social media.
Sumber berita yang banyak bisa kemudian membuat kita terlalu banyak informasi-informasi yang tidak berguna.
Karena semakin murah dan mudah maka orang memanfaatkannya dengan tidak bertanggungjawab. Banyak sekali cyber-bullying, dusta, bahkan pembunuhan karakter terjadi di social media.
Secara singkat, social media me-revolusi pandangan kita dalam hal moral (benar-salah), budaya (mengenal suatu nilai dan mengadopsinya) dan juga iman (dasar percaya pada Tuhan). Semuanya seperti yang saya paparkan di atas memiliki dua sisi: positif dan negative.
Ada banyak penerapan yang salah dari Social Media. Kalau mau diurutkan tentu saja akan ada banyak hal yang kontra-produktif dari penggunaan social media. Saya sendiri punya pengalaman menarik dengan social messenger. Saya memutuskan untuk berhenti dari segala jenis social messenger mungkin sudah 2 tahun terakhir. Saya pengguna aktif social messenger sejak 2008, dimulai dengan BBM. Bayangan pertama kali adalah ini akan membuat saya bisa terkoneksi tanpa batas dengan semakin banyak orang, tetapi ternyata semakin tahun, social messenger membuat saya begitu terikat, dan pada dasarnya mulai mengganggu. Saya putuskan untuk menjadi lebih simple dengan hanya memiliki account social media di FB, Youtube, dan weblog. Sementara untuk komunikasi: call-text-email.
Tidak ada yang salah dengan keberadaan awal social media untuk menghubungkan antar manusia yang berbeda jarak. Tetapi ingat tidak semua hal berguna. 1Korintus 10:23. Anda tidak perlu se-ekstrim saya, tetapi saya harap Anda bisa mengerti jebakan penggunaan social media:
Menjebak Anda untuk mengasihi sebuah aplikasi teknologi dibandingkan mengasihi Tuhan. Matius 10:37.
Menjebak Anda untuk “memberi makan” ego Anda. Galatia 5:20 merujuk pada perbuatan daging, tetapi di Yakobus 3:14 kita diberi petunjuk supaya jangan lebih jauh terjerumus.
Menjebak Anda untuk menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa dipergunakan untuk hal lain. Mazmur 78:33.

Coba baca pernyataan ini:
Social media is a tool to share the light, not to share your gloomy feelings.
(JM)
Ingat kan sama ayat ini: Matius 5:14-16. Pertanyaannya gini, apakah orang bisa memuliakan Tuhan dengan apa yang kita lakukan di social media? Coba balik ke ayat 13, ini peringatan keras! Ketika kita kehilangan “asin” atau “unsur pembeda” dari dunia, maka kita tidak ada gunanya. Social media adalah lingkungan yang gelap (negative), apa gunanya kamu datang dan membawa “gelap”?

Hal-hal praktis yang bisa kamu lakukan

Taruh app Alkitab di samping app social media mu. Sehingga setiap kali pagi hari membuka Alkitab, Anda ingat bahwa Tuhan yang pertama!!! Tentu saja itu juga harus diikuti dengan membatasi “penggunaannya” ayo penguasaan diri.
Cara untuk lepas dari belenggu social media adalah dengan berpikir yang benar, sama seperti semua “kecanduan” lain, yang harus lepas pertama adalah dari pikiran. Roma 12:2.
Lihat social media sebagai “alat” bukan “kebutuhan”. Matius 4:4.

Orang yang diciptakan untuk pelayanan.

Setiap kita terlahir untuk sebuah misi. Setiap misi memiliki tujuan. Ini penting untuk diketahui oleh kita agar hidup yang kita jalani tidak sia-sia. Berbicara tentang kesia-siaan, Salomo, seorang raja besar dan terkenal, pernah menuliskan amsalnya mengenai kesia-siaan.

Salomo pernah berkata demikian: Apa guna kita bekerja? Pengkhotbah 1:3. Mari kita secara sadar merunut apa yang terjadi dalam siklus hidup manusia. Manusia Lahir – Proses Belajar – Bertumbuh Dewasa – Bekerja – Menikah – Merawat anak – Menua – Meninggal. Sehingga jika disederhanakan manusia lahir untuk meninggal. Begitu sia-sianya!

Ketika kita tidak menyadari misi yang kita emban, cepat/lambat hidup kita akan terjebak dalam rutinitas yang menjemukan Pengkhotbah 1:4-8. Tapi menarik sekali bahwa untuk setiap tokoh di Alkitab ada misi yang Tuhan embankan dalam hidup mereka. Mari kita lihat beberapa contoh diantaranya:
Adam, misi hidup manusia pertama ini tercantum dalam Kejadian 1:26.
Abraham, misi hidupnya terangkum di ayat ini Kejadian 22:18.
Musa, misi hidupnya dinyatakan di ayat Keluaran 3:10.
Elia, misi hidupnya bisa kita temukan di 1Raja-raja 19:16.
Yohanes Pembaptis, misi hidupnya dituliskan dalam Markus 1:2-4.
Yesus, Anak Allah yang memiliki misi luar biasa Yohanes 5:36.

Mengenali Misi : dalam perkataan pertama Yesus yang tercatat di Injil Lukas adalah: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Yesus mengerti sejak berusia 12 tahun bahwa ia dipanggil pekerjaan/rencana Bapa di Surga. Kita bisa berkata: “Tentu saja! Dia Anak Allah.” Tetapi kita harus ingat karakter orangtua seperti apa yang membesarkan Yesus.
Maria adalah wanita yang sejak masa mudanya adalah hamba Allah, dia begitu taat sampai ketika mendapat panggilan sebagai “ibu” Kristus, dia berkata dalam Lukas 1:38 “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Yusuf adalah seorang yang “tulus hati” Matius 1:19.
Mereka mengenalkan Yesus dengan pembacaan Taurat dan kehidupan Bait Allah. Lukas 1:21-22.

Seringkali saya bertanya kepada anak pra-remaja dan remaja, dan mereka tidak mengerti akan jadi apa mereka, apa yang Tuhan mau, karena ada orangtua yang merasa anak masih terlalu kecil untuk bicara tentang masa depan. Salah besar! Sejak anak kita mengerti dan mampu memahami (dalam istilah psikologi perkembangan Formal Operation Stage) bahkan juga tahapan sebelum itu, maka mereka bisa diajar mengenai hal ini. Mengenal misi mereka di dunia. Sehingga apa yang kita tabur di “Yerusalem” ini akan berbuah luar biasa.

Bagaimana dengan yang sudah dewasa seperti Bapak/Ibu. Mari lihat apa yang dikatakan Yesus di masa dewasanya. Yohanes 17:4. Yohanes 10:25-30. “Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”

Inilah mengikut Yesus: melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran).

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Minggu lalu kita sudah dijelaskan Gembala mengenai ini secara detail. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan parallel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4. Penginjilan dimulai dengan kepedulian. Bukan sesuatu yang rumit, yang butuh keahlian khusus.

Setiap proyek baik membutuhkan 3 unsur ini: Doa-Daya-Dana. Itu memberi kita opsi yang luas untuk terlibat dalam pelayanan apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s