Conversation #1: “Terlalu banyak orang munafik.”

Dalam beberapa kesempatan ada pertanyaan-pertanyaan yang menarik yang diajukan kepada saya. Untuk setiap percakapan itu saya merasa ada jawaban yang menarik juga untuk disimak.

Sebenarnya saya sudah mulai beberapa waktu yang lalu ketika ada pertanyaan dari rekan saya dan saya jawab, sesuai kebenaran yang saya yakin berdasarkan Firman.

Salah satunya adalah ketika seorang rekan ini bertanya dalam kebimbangannya dalam pengiringan kepada Tuhan. Saya harap Anda bisa mendapat ide atau konsep kebenaran yang ada dalam percakapan ini.

Pertanyaan:

“Jeff. Aku masih suka bingung liat orang-orang. Banyak yang keliatannya taat ama Tuhan, tiap hari ke gereja, ngikut kegiatan keagamaan. Tapi dalam kehidupan bisnis sangat berbeda. Apa itu munafik? Karena bagiku ga seimbang perilakunya. Mendingan kan kita jarang ke gereja tapi perilaku keseharian baik. Bener apa ga sih? Kadang aku jenuh. Aku masih bingung apa tujuan hidupku? Dan apa yang kucari?
Jujur sekarang ini pengetahuanku akan Yesus mulai minus. Untung suamiku orangnya tekun dan termasuk taat akan Tuhan. Sehingga keluargaku selalu dalam lindunganNya.

Aku berniat untuk berubah. Tapi ga tau ya kenapa aku sekarang ini hanya punya niat tapi pelaksanaan nol. Apakah aku miskin iman?

Jawaban:

“Puji Tuhan. Saya percaya Firman Tuhan bisa rubah semua jadi lebih baik. Tapi itu bisa terjadi kalo emang orang itu mau buka hati untuk berubah. Itu sama aja kamu cuci pakaian kotor yang masi ada di bungkus plastik. Seberapa lama pun kamu rendam di air cucian, tetep aja kotoran itu nggak bakal ilang. Karena “plastik” itu nggak dibuka.

Mungkin itu yang kamu liat di orang-orang Kristen “setengah hati” itu. Mereka mengakui Yesus, tapi nggak bener-bener ijinkan Tuhan ubah hati mereka. Seperti Yesus bilang kan “seperti kubur yang dilabur putih, luarnya nampak bersih, tapi dalamnya penuh tulang belulang”. Bisa aja mereka lakukan aktifitas-aktifitas rohani, tapi sebenernya bukan “demi Tuhan”, tapi bisa jadi demi gengsi, keluarga, status sosial, ato yang lebih parah ada iming-iming materi.

Tapi kita juga nggak bisa langsung ambil kesimpulan, “lebih baik jarang ke gereja, tapi keseharian baik.” Buat aku itu bukan pilihan. Ini lebih baik ato itu lebih nggak baik. Perilaku di dalam dan luar gereja seharusnya jadi “satu paket” kalo hati kita bener-bener udah dijamah dan dipulihkan Tuhan. Itu bukan seperti iklan TV, kalo pilih ini dapet bonus A, kalo pilih itu dapet bonus B. Kedua-duanya ada dalam satu kesatuan yang namanya “berubah oleh pembaharuan budi”. Jadi kalo itu yang sudah terjadi, apapun tindakanmu akan sejalan dengan Firman Tuhan, nggak cuma waktu di gereja, atau waktu diliat orang aja. Bahkan waktu kamu sendirian, kamu tau kalo hatimu sepenuhnya milik Yesus, dan kamu mau lakukan apapun untuk DIA.

Tujuan hidup pastinya kita musti tanya sama Tuhan. Manualnya: Alkitab. So, baca ya, nggak usah punya target yang muluk-muluk. Coba kamu baca satu pasal setiap hari. Mungkin beberapa ayat di pagi, atau siang. Trus malemnya kamu baca sisanya. Coba renungkan, kalo ada temen sharing, cerita sama mereka, atau mungkin ada pengalaman sehari-hari yang sesuai ama ayat-ayat yang kamu baca. Ada ayat yang bilang “iman timbul dari pendengaran, pendengaran oleh Firman Kristus”.

Puji Tuhan banget kamu punya suami yang bisa bimbing kamu. Kamu bangun mezbah keluarga deh. Saya percaya yang terbaik Tuhan udah sediakan buat keluarga kamu. Ummm… tetep semangat!!! Come on, you can do it.

My prayer for you
GodblesS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s