1Timotius 3:15.
Jemaat Allah disebut sebagai keluarga Allah. Ini adalah satu pemahaman bagi gereja lokal yang kemudian membuat kita memandang keberadaan semua orang dalam peranannya sebagai anggota keluarga. Efesus 4:16. Ketika kita menjadi anggota dari sebuah komunitas yang disebut keluarga. Dalam keluarga ada nilai, tujuan, dan kepentingan yang kita bagi bersama.
Berbicara tentang nilai dalam keluarga, secara umum nilai kasih adalah sesuatu yang menjadi fondasi penting. Jika kita berasal dari keluarga yang penuh kasih, ini adalah kesempatan untuk berbagi kasih dengan orang lain di luar keluarga sedarah kita. Jika kita berasal dari keluarga yang kurang merasakan kasih, ini juga adalah kesempatan untuk merasakan kasih dalam keluarga Allah. Amsal 17:17.
Tujuan keluarga adalah menjadi sejahtera bersama. Kata “sejahtera” berbicara berkat jasmani, jiwa, dan rohani. Ini adalah kerinduan semua keluarga. Keluarga pertama di Taman Eden sebenarnya adalah keluarga sejahtera. Secara jasmani mereka tidak kekurangan (Kejadian 2:16), jiwa mereka bahagia tidak sepi (ayat 18-20), dan dalam hal rohani mereka terhubung dengan Tuhan tanpa rasa malu atau takut (ayat 25).
Kepentingan bersama dari komunitas yang namanya keluarga adalah peningkatan kualitas hidup dan pengembangan diri. Tidak ada keluarga yang menolak kualitas hidup yang lebih baik. Ini momen-momen di mana secara kolektif keluarga dapat berkumpul, berekreasi dan bersyukur. Demikian juga masing-masing anggotanya menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya. Saling memperhatikan, mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik, sesuai dengan yang dituliskan di Ibrani 10:24.
Keluarga menjadi tempat berbagi dalam menghadapi tekanan. Saat satu anggota keluarga menghadapi masalah, yang lain berusaha menguatkan. Roma 12:15. Dalam komunitas ini yang kemudian menjadi kerinduan ideal, bahwa ada orang-orang di sekeliling kita sehingga kita tidak sendirian menghadapi tekanan dan masalah. Coba saja lihat komunitas, baik yang positif, maupun negatif. Satu hal yang diharapkan ketika mereka bergabung adalah keberadaan orang-orang yang mendukung mereka.
Berikut beberapa manfaat dari bergabungnya seseorang dalam komunitas:
- Secara fisiologis. Saat ada rasa kebersamaan ada penurunan kadar kortisol (hormon stres).[1]
- Secara psikologis. Dukungan emosional meningkatkan pengalaman positif yang membantu Kesehatan mental.[2]
- Secara spiritual. Komunitas meningkatkan rasa keterhubungan dengan Tuhan dan sesama, sehingga praktik seperti doa, ibadah, dan pelayanan menjadi kuat.[3]
Yesus menginginkan kita selalu ada dalam kebersamaan komunitas. Matius 18:20. IA tidak mati bagi kita supaya kita sendiri masuk ke dalam surga. Tetapi IA mendorong kita bergabung dalam suatu persekutuan, Tubuh Kristus, jemaat, gereja. Supaya kita saling melayani di dalamnya, berproses, dan menjadi gereja yang sempurna.
[1] Slavich, G. M. (2020). Social Safety Theory: A Biopsychosocial Explanation for Loneliness and Disease. Psychosomatic Medicine Journal.
[2] Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, Social Support, and the Buffering Hypothesis. Psychological Bulletin Journal.
[3] Finke, R., & Iannaccone, L. R. (1993). Supply-Side Explanations for Religious Change. The Annals of the American Academy of Political and Social Science Journal.

Leave a comment