MENGALAMI KUASA

1Korintus 4:20.

Ayat ini dapat kita maknai bahwa ada kuasa yang nyata dan mengubahkan dalam realitas Kerajaan Allah di bumi, yaitu dalam persekutuan orang-orang percaya. Kuasa ini lebih efektif daripada perkataan-perkataan manusia yang meyakinkan. Dalam konteks kuasa yang dimaksudkan Paulus, kuasa atau wibawa Ilahi ini bukan sekadar teori. Kita dapat melihat di Roma 14:17 Paulus menuliskan ada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita yang dikerjakan Roh Kudus dalam Kerajaan Allah.

Mari kita menengok ke belakang ke sejarah pergerakan Pantekosta/Pentakosta di dunia. Kalau melihat artikel yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Gerakan Pentakosta tidak tiba-tiba muncul.[1] Ada gereja-gereja dengan napas katolik, reformasi, restorasionis, sebelum kemudian Gerakan Pentakosta muncul. Gerakan Pentakosta merindukan adanya pemulihan kuasa yang dialami oleh Gereja mula-mula, saat Roh Kudus turun dan karunia-karunia Roh dinyatakan.

Mengenai kembali pada firman Tuhan juga pernah terjadi di zaman Yosia, Raja Yehuda. Oleh “ketidaksengajaan” Imam Hilkia yang menemukan Kitab Taurat di tempat pengumpulan donasi untuk perbaikan Rumah Tuhan. 2Tawarikh 34:14. Setelah ditemukan, isi Kitab Taurat itu dibacakan kepada Raja Yosia. Saat mendengarnya, ia mengoyakkan pakaiannya, tanda berkabung, karena ia sadar selama ini Umat Tuhan melalaikan apa yang ditulis di Kitab Taurat. Ayat 19-21.

Hal yang sama kira-kira terjadi di akhir abad 19 menuju ke awal abad 20. Ada kerinduan dari seorang hamba Tuhan bernama Charles F. Parham, untuk mendirikan sebuah Sekolah Alkitab di Topeka, Kansas, Amerika Serikat. Mereka mengalami baptisan Roh Kudus dan berbahasa lidah, sehingga membentuk cara pandang mereka bahwa Gereja seharusnya mengalami hal yang tertulis di Kisah Para Rasul 2:4.[2]

Konsepnya sederhana, ia meminta murid-murid Sekolah Alkitab (Bethel Gospel School) yang didirikannya untuk mencari bukti nyata dari baptisan Roh Kudus.[3] Mereka kemudian menemukan bahwa baptisan Roh Kudus disertai oleh berbahasa lidah. Setelah itu mereka menindaklanjuti pemahaman alkitabiah itu dengan berdoa. Seorang siswi bernama Agnes Ozman adalah yang pertama berbahasa lidah. Charles Parham sendiri baru tiga hari kemudian merasakan pengalaman baptisan Roh Kudus dengan berbahasa lidah. 1Korintus 14:2.

Namun lebih dari sekadar Sejarah, kita ingin melihat pola yang sama dari murid-murid Yesus di abad 1. Mereka berkumpul, mereka mendengar perkataan Kristus (Kisah Para Rasul 1:4-5), mereka mempelajari tulisan para nabi (Kisah Para Rasul 2:16-17), mereka setia berdoa (Kisah Para Rasul 1:14). Pada Hari Pentakosta mereka mengalami kuasa Roh Kudus. Janji ini biar menjadi kenyataan bagi kita.


[1] Tim Redaksi Website LAI, “Mengenal Gereja-Gereja Pentakosta”, https://www.alkitab.or.id/berita/1730-mengenal-gereja-gereja-pentakosta. Terakhir diakses 20 Mei 2026.

[2] Robert P. Menzies, “Pentecost: This Story is Our Story,” Springfield, MI: Gospel Publishing House, 2013, p.9. Kindle.

[3] Allen Heaton Anderson, “An Introduction to Pentecostalism – Second Edition,” Cambridge, UK: Cambridge University Press, 2014, p.34. Kindle.

Leave a comment