Natal adalah “Allah Menjadi Manusia”

Yohanes 18:37

Ayat yang baru saja kita baca memang konteksnya adalah tentang Paskah bukan Natal, tetapi saya rasa penting untuk mengunjungi ayat ini dan memahami pengertian Yesus tentang kelahiranNYA. Saya rasa ada tiga kelompok besar orang di dunia ini, masing-masing memiliki tiga pengertian yang berbeda mengenai Natal:

  1. Kebanyakan orang Kristen memaknai Natal sebagai lahirnya juruselamat manusia, dan tidak ada yang salah dengan hal itu (Lukas 2:11).
  2. Lebih banyak orang Kristen lagi memaknai Natal sebagai salah satu hari yang perlu dirayakan secara khusus oleh seorang yang mengaku sebagai orang Kristen, karena ini hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, tokoh utama dalam kekristenan (tanpa mengenal alasan IA lahir).
  3. Kelompok orang yang terakhir dan bisa jadi mayoritas penduduk dunia memaknai Natal sebagai hari libur, pesta, dan perayaan.

Tetapi saya ingin mengingatkan kepada Gereja Tuhan, bahwa esensi Natal adalah “Allah yang menjadi manusia.” Semuanya sudah dirancangkan sejak purbakala seperti ucapan Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis. Lukas 1:67-75. Kita perlu memahami ini supaya kita tidak terjebak pada hal-hal yang bukan esensi Natal itu sendiri, seperti:

  • Perayaan. Bukan berarti kemudian kita tidak boleh merayakan Natal. Karena dalam 1Timotius 3:16 Paulus menyatakan bahwa rahasia ibadah kita adalah Yesus yang lahir dalam rupa manusia. Tetapi bahwa Allah menjadi manusia itulah inti dari Natal, bukan harinya, bukan kegiatannya.
  • Hadiah. Bukan berarti kita tidak boleh membelikan atau menyiapkan hadiah untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Karena di 2Korintus 9:6-7 Paulus berbicara tentang memberi kepada orang-orang. Konteksnya saat itu adalah bantuan dari jemaat di Korintus kepada Jemaat di Yerusalem. Bagi kita sekarang hadiah itu bisa kita berikan ke siapa saja. Tetapi sekali lagi intinya bukan hadiah, tetapi Allah yang menjadi manusia.
  • Figur Natal selain Yesus. Begitu banyak orang yang tertulis dalam Alkitab ada di sekitar kelahiran Yesus. Maria, Yusuf, gembala-gembala, orang-orang Majus. Namun tidak ada satupun dari mereka yang dapat menghadap hadirat Allah demi kepentingan seluruh umat manusia. Ibrani 9:24. Apalagi Natal modern yang menghadirkan Sinterklas (Santa Claus), atau bahkan Mariah Carey dengan “All I Want for Christmas is you”.

Yesus adalah anak Allah, pernyataan ini ada dalam pengakuan iman Gereja Pantekosta di Indonesia. Pada poin kedua disebutkan: “Kami percaya Allah Yang Maha Esa dan kekal dalam wujud Trinitas : “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, Keesaan namaNya yaitu: “TUHAN YESUS KRISTUS“.[1] Kita percaya pernyataan ini Alkitabiah dan menjadikannya pernyataan pribadi kita juga.

Dalam gereja, sering disebutkan mengenai istilah “Anak Allah”. Secara umum dalam kekristenan Anak Allah adalah Yesus. Lukas 3:38. Hal ini sudah ada sejak pengakuan iman dirumuskan oleh Gereja di abad-abad awal, khususnya untuk membedakan pengikut Kristus sejati dengan pengikut ajaran Gnosticism dan Marcionism.[2]  Yesus disebut Anak Allah bukan karena Allah Bapa melahirkan Yesus, namun karena DIA berasal, atau memperjelas pernyataan bahwa IA diutus (oleh Bapa).[3]

Karena itu kita sebenarnya bisa berkata dalam Bahasa Arab: “lam yalid walam yuulad” Allah tidak diperanakkan dan memperanakkan, karena memang Allah adalah Esa. Jika Anda membaca Markus 12:32 dan Yudas 1:25, maka Anda akan dengan lantang berkata: Amin, DIA Allah yang Esa! Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Dr.Bambang Noorsena. Ini yang kemudian membedakan ajaran agama di luar kekristenan dengan apa yang kita percaya dalam Yesus Kristus. Ada ajaran di luar kekristenan yang menyatakan bahwa firman Allah yang tidak terlihat menjadi terlihat (dapat dibaca) dalam kitab suci. Sementara kita percaya bahwa firman Allah yang tidak kelihatan, menjadi pribadi yang kelihatan dalam Yesus, sang Isa Al Masih. Firman itu menjadi manusia (bukan sekadar menjadi sebuah kitab) dan sama sekali tidak memisahkan Firman itu dari Allah.[4] Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus.

Keberadaan Allah menjadi sesuatu yang diperdebatkan khususnya di negara-negara maju. Menariknya hal ini adalah sesuatu yang pada zaman dahulu bukan merupakan perdebatan. Dahulu pengakuan akan adanya Tuhan adalah pengetahuan kolektif dari semua orang dan bangsa. Namun perdebatannya adalah Tuhan/Allah/Dewa yang mana yang lebih kuat. Kita bisa melihat ini di dalam Alkitab pada kisah teror juru minuman agung dari Raja Asyur kepada rakyat dan perwakilan Raja Yehuda, Hizkia.[5]

Doktrin tentang keberadaan Allah menjelaskan siapakah Allah dan bagaimana Allah bisa dikenal manusia. Allah adalah oknum yang sangat berbeda dengan segala hal yang dikenal manusia di alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh DIA, sehingga IA tinggal di luar alam semesta yang kita kenal ini, dan tidak terpengaruh oleh waktu, tempat, dan materi.[6] Keberadaan Allah melebihi segala hal yang kita pikirkan dan mengerti, hal ini menjadi pertanyaan orang-orang sejak zaman Ayub.[7]

Alkitab berusaha menjelaskan bahwa Allah ada dari mulanya, dan bahwa konsep tentang Allah adalah bagian mendasar dari pemikiran manusia. Meninggalkan konsep tentang Allah membuat manusia menjadi irasional. Pada akhirnya manusia menghidupi kehidupan yang tanpa arti dan arah.[8] Meskipun Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan eksistensi Allah, namun ada beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa Allah ada:

  1. Allah kita adalah Allah yang sempurna (Ulangan 32:4, Matius 5:48).
  2. IA ada sejak dari mulanya, dan karena DIA-lah segala sesuatu ada (Kejadian 1:1, Yesaya 40:18-22, Yohanes 1:3, Wahyu 22:13).
  3. Betapa Allah membuat dan menyiapkan segala sesuatu dengan rancangan yang luar biasa detil (Mazmur 139:14-17, Efesus 1:3-10).
  4. Allah menetapkan hukum-hukumNYA dalam hati setiap manusia (Ayub 35:11, Roma 2:14-15).
  5. Kita dapat menikmati segala sesuatu yang baik dan yang indah dari DIA (Kejadian 1:31, Lukas 4:22).

Inti dari kehadiran Yesus adalah Allah mau, mampu, dan harus menjadi manusia. Bukan karena IA lemah, malahan sebaliknya karena IA Maha Kuasa (kalau Allah mampu mencipta, adalah perkara ilahi yang pasti IA mampu lakukan untuk menjadi manusia). Semuanya IA lakukan supaya IA menjadi sama seperti kita, bersama kita. Matius 1:21-23, 28:20. Ingatlah alasan kelahiranNYA, memerintah dalam Kerajaan Allah dan membawa kesaksian tentang kebenaran Allah.


[1] Pengakuan Iman, https://gpdi.or.id/pages/pengakuan-iman, diakses pada 31-Agustus-2019.

[2] Justo L. Gonzalez, The Story of Christianity, Volume 1: The Early Church to the Dawn of the Reformation (HarperCollins, 2010), 77. Kindle Edition.

[3] Alkitab, Yohanes 16:28 (TB). 

[4] Dr.Bambang Noorsena, Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid, http://bambangnoorsena.com/index/blog/teologi/sekte-unitarian-bukan-kristen-tauhid.html, diakses pada 12-September-2019.

[5] Alkitab, 2Raja-raja 18:33-35 (TB).

[6] Creation Argument for the existence of God, https://youtu.be/8_OC2t7mIWE, diakses pada 14-September-2019.

[7] Alkitab, Ayub 11:7 (TB).

[8] William W. Menzies and Stanley M. Horton, Bible Doctrines: A Pentecostal Perspective (Springfield: Logion Press, 2012), chap. 2, sec. 3. Kindle Edition.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s