YUDAS ATAU YESUS?

Ulangan 30:19

Saya sadar Anda pasti sudah sering mendengar bahasan firman Tuhan tentang pilihan. Menentukan pilihan yang tersedia bisa jadi begitu jelas, tetapi bisa juga sedikit kabur atau ambigu. Namun tetap saja manusia adalah mahluk yang kompleks dan membuat suatu pilihan dengan pertimbangan-pertimbangan yang begitu beragam.

Manusia membuat pertimbangan jauh lebih kompleks dari seekor binatang. Lebih dari sekadar bentuk stimulus – respons pada eksperimen Pavlov[1] manusia juga mengolah stimulus yang ditangkap indra. Hal ini dilakukan dengan melibatkan nilai-nilai yang mereka terima dan kini jadi bagian dari dirinya.

Nilai-nilai yang baik menentukan karakter dan kepribadian yang baik pula. Menariknya nilai-nilai ini dipilih, diusahakan dan secara konsisten diwujudkan dalam tindakan oleh seorang individu.[2] Sehingga seseorang secara sadar memilih nilai-nilai yang dipercayainya untuk menjadi pedoman dalam ia berperilaku.

Manusia belajar dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang yang tidak mengenal Allah akan membawa pengajaran yang berlawanan dengan kemauan Allah (Imamat 20:17-18). Sebaliknya orang yang dekat dengan Allah akan membawa pengajaran yang benar (2Raja-raja 12:2). Tetapi pada akhirnya seseorang harus memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak.

Saya teringat tentang kesaksian seorang pejabat publik yang diingatkan istrinya untuk memilih ketika ia dihadapkan pada suatu dilema. Saat itu ia sudah menang dalam Pemilihan Kepada Daerah, tetapi dicurangi. Jika ia ingin tetap menang maka ia harus memberi uang suap, tetapi jika ia tidak melakukannya ia akan kalah dan semua usaha kampanyenya menjadi sia-sia.

Istrinya mengingatkan, apakah ia mau bertindak seperti Yudas (Iskariot) atau seperti Yesus? Ini sepertinya adalah pilihan yang jelas. Tentu saja semua orang Kristen mau bertindak seperti Yesus. Tetapi apa nilai yang melatarbelakangi tindakan Yudas, ketika ia memilih berlaku jahat dan mendapat sesuatu dengan cara khianat. Lalu apa nilai yang melatarbelakangi tindakan Yesus, ketika ia memilih untuk nampak “kalah” dan mendapat kemuliaan dengan cara taat pada Bapa.

Yudas adalah orang yang tidak bertanggung jawab dalam hal keuangan. Nilai hidupnya adalah keuntungan materi di atas tindakan yang jahat. Kisah Para Rasul 1:18. Bahkan ini diketahui oleh murid yang lain dan dicatat dalam Yohanes 12:6. Bisa dikatakan nilai yang dipegang oleh Yudas adalah “keuntungan diri sendiri”. Padahal arti namanya dalam bahasa Ibrani adalah sama dengan nama “Yehuda” yaitu “terpujilah/syukur pada Tuhan”. Kejadian 29:35.

Seringkali kita mengatakan bahwa kita ingin memuji Tuhan, kita diciptakan untuk menaikkan ucapan syukur pada Tuhan, dan banyak hal idealis lain. Tetapi memang pada akhirnya yang menentukan adalah nilai apa yang kita hidupi dan apa yang kita lakukan menunjukkan hal itu. Bisa saja terjadi label atau sebutan seseorang berbeda dengan apa yang keluar dari orang itu. Seperti seseorang yang mengisi botol bertulisan sabun cair untuk badan, namun yang keluar adalah sabun cair untuk cuci pakaian.

Ini yang menjadi masalah dalam pengiringan Yudas selama menjadi murid Yesus. Yesus pergi ke banyak tempat melakukan hal-hal yang baik. Kisah Para Rasul 10:38. Seharusnya Yudas pun menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Namun yang terjadi ia malah menghasilkan yang jahat. Ia menjadi seperti yang diajarkan Yesus tentang kemunafikan. Lukas 6:42-45.

Nama Yesus diberikan oleh Yusuf karena firman Tuhan yang diterimanya dalam mimpi. Yesus artinya “Allah menyelamatkan”. Matius 1:21. Keselamatan memang hanya datang di dalam nama Yesus.

Yesus memegang nilai yang berbeda dari Yudas. Sejak kecil IA tahu panggilanNYA untuk berada di Rumah Bapa. Lukas 2:49. Ukuran keberhasilanNYA bukan keuntungan pribadi yang bisa didapatkan. Yohanes 6:38. Namun bagaimana IA bisa melakukan rencana Bapa. Yohanes 12:25, 27. Lukas 22:42. Dengan mengerti hal ini kita bisa memahami dengan lebih baik mengapa Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta. Matius 25:14-30.

Sekarang pilihannya ada di tangan kita sebagai orang-orang percaya yang mendapat panggilan surgawi. Penting untuk memiliki rasa cukup dibanding mengejar kepuasan dari keinginan-keinginan pribadi kita. Untuk itu kita perlu untuk mengelilingi diri kita dengan orang yang tepat dan mulai bersyukur untuk setiap tugas yang dipercayakan Allah pada kita[3], lakukanlah dengan taat dan setia.


[1] Kevin R. Clark, EdD, R.T(R)(QM), “Learning Theories: Behaviorism,” Radtech Journal 90, no. 2 (Nov/Dec 2018): 172-173.

 

[2] Sri Wening, “Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Nilai,” Jurnal Pendidikan Karakter 3, no. 1 (Februari 2012): 57-58.

[3] Mark and Debra Laaser, “The Seven Desire of Every Heart” (Zondervan: Grand Rapids, 2008), 122-125.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s