MENGENAL YESUS

Minggu lalu kita sudah belajar mengenai “Mengenal Allah dengan Benar” di dalam pribadi Yesus. Bahwa Yesus adalah penyataan Allah dalam bentuk yang dapat dilihat oleh manusia. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Bp.Bambang Noorsena, pakar islamologi yang beberapa waktu lalu menjadi pembicara seminar Islamologi di GPdI Mahanaim Tegal. Ini yang kemudian membedakan ajaran Islam dan apa yang kita percaya, bahwa Firman Allah nuzul menjadi Quran, sementara kita percaya bahwa Firman Allah nuzul menjadi pribadi Yesus, Isa Al Masih. Kita percaya satu-satunya jalan menuju Allah adalah melalui Yesus.

Kita juga sama-sama belajar mengenai “Kasih & Hukum Taurat”, bahwa Yesus adalah penggenapan Hukum Taurat dan sekarang kita hidup dibawah Hukum Kasih Karunia Allah. Mungkin masih ada pertanyaan yang menggantung di pikiran kita. Lalu mengapa Allah memberikan Hukum Taurat? Beberapa kali saya pernah menjelaskan, keseluruhan kehidupan Kristen kita ini adalah proses, Hukum Taurat adalah proses kita bertumbuh ke arah Yesus. Hukum Taurat itu sempurna, namun itu ada untuk kemudian membawa kita pada iman kepada Yesus. Galatia 3:21-25. Ini kemudian digambarkan oleh Paulus seperti seorang ahli waris yang belum akil balig, bukankah ini juga bicara proses. Galatia 4:1-5. Jadi kita lagi hidup dibawah Hukum Taurat, bukan karena Hukum Taurat tidak sempurna. Namun kita berproses, kita tidak sempurna, kita butuh Yesus yang sempurna, bukan sebaliknya.

Berbahagialah kita yang hidup di jaman ini, seperti apa yang sudah dinubuatkan pemazmur di Mazmur 32:1-2. Apakah ini berarti Allah tidak adil? Sama sekali tidak, tetapi inilah Kasih, inilah karunia Allah bagi kita yang seharusnya tidak berlayak mendapatkannya. Kisah perumpamaan Yesus di Matius 20:1-16 menggambarkan mengenai yang terdahulu menjadi yang terakhir dan sebaliknya. Tatapi dari kisah yang sama kita belajar Kasih Allah yang BEGITU BESAR itu, melebihi akal pemikiran kita.

Kalau berkaca pada perbuatan kita, dosa sajalah yang kita perbuat, namun syukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus yang lahir dan hadir bagi kita semua, kita dibenarkan. Hendaknya kita bersyukur sungguh, dan bermegah hanya di dalam DIA. 1Korintus 1:30-31. Inilah kabar baik itu, yang diberikan supaya kita juga bagikan (makna penginjilan adalah membagikan): ANAK ALLAH TELAH DIBERIKAN BAGI KITA KARENA KASIHNYA PADA KITA. Itulah mengapa kesimpulan dari semua Injil/Kabar Baik itu selalu kembali kepada: Yohanes 3:16. Ini kemudian diulangi lagi di 1Yohanes 4:9, bahwa kasihNYA membuat kita hidup.

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus sebenarnya sudah dinubuatkan dalam Yesaya 9:5. Untuk memahami “Anak (Allah) yang diberikan untuk kita” pertama-tama kita harus membahas dulu mengenai konsep “Anak Allah”. Saya pernah menyampaikan ini pada bulan Juli 2015, bisa dicek di http://www.gpdimahanaim-tegal.org. Ini adalah konsep yang sering kita dengar dalam kekristenan, namun sebenarnya adalah suatu konsep asing dalam agama-agama monotheis.

Lain halnya dengan agama-agama politheis yang seringkali memang menggambarkan tuhan/dewa-dewinya bisa saling kawin, baik antar dewa, maupun cross-breed dewa dan manusia, atau binatang? Saudara bisa melihat itu di kisah-kisah seperti Semiramis dan anaknya Tammuz. Atau kisah Hercules, dimana dia adalah anak dari dewa Zeus, dewa tertinggi dalam mitologi Yunani. Tetapi saya tidak ingin membahas ini lebih jauh, karena inti yang ingin saya sampaikan adalah konsep Anak Allah adalah sesuatu yang lumrah bagi penganut politheisme. Namun sebaliknya menjadi konsep yang sulit dicerna oleh penganut monotheisme (contoh: Yahudi, Kristen, Islam).

Itulah mengapa, terutama kita yang tinggal di Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, penting bagi kita untuk bisa menjawabnya dengan cara yang baik. Karena Rasul Petrus mengingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus bisa mempertanggungjawabkan pengharapan yang kita percayai. 1Petrus 3:15.

Apa penjelasan yang bisa kita berikan mengenai konsep “Anak Allah”. Saya akan berikan 3 penjelasan yang berurutan, dan semoga ini memudahkan Anda juga untuk menjelaskan kepada orang lain.

  1. Untuk berbicara dengan manusia, Allah menggunakan bahasa manusia. Mazmur 73:22.
  2. Tuhan merendahkan diriNYA untuk menjadi sama dengan manusia. Filipi 2:5-8.
  3. Menjadi serupa dan segambar adalah sesuatu untuk menggambarkan konsep Anak. Kejadian 5:3.

Sehingga dengan demikian kita MENGENAL YESUS, bahwa YESUS ADALAH ANAK ALLAH. Melanjutkan poin ketiga di atas, saya ingin menjelaskan lebih lanjut bahwa meskipun sebutan “Anak Allah” sering disematkan kepada Yesus, namun itu bukan saja mengacu kepada Yesus. Anak Allah juga bisa mengacu kepada:

  1. Kejadian 1:26.
  2. Kita semua yang percaya pada Yesus dan dipimpin Roh Allah. Roma 8:14-15.

Anak Allah diberikan bagi kita. Karena iman kepadaNYA lah kita menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “ya Abba, ya Bapa!” Suatu jaminan untuk kita tidak takut lagi. Katakan AKU ANAK ALLAH, aku tidak perlu takut lagi, sebab jika Allah di pihakku, siapa yang akan menjadi lawanku!

Selanjutnya kita juga perlu mengenal Yesus sebagai pohon kehidupan. Ini bukan pohon mistis, yang perlu dicari dengan menyeberang 7 samudera dan mendaki 7 gunung. Pohon Kehidupan dalam Alkitab digambarkan memiliki karakteristik membawa bukan sekedar hidup, tetapi hidup yang kekal. Menariknya Yesus berkata dalam Yohanes 6:50-51 bahwa ketika kita mengambil bagian dalam DIA, yaitu dengan memakan dagingNYA, maka itu akan membawa kepada hidup yang kekal. Dengan mengenal Yesus sebagai pohon kehidupan dan kita mengambil bagian dengan memakan buahnya, akan membantu kita memahami perkataan Yesus ini. Hal lain yang membuat kita yakin bahwa gambaran pohon kehidupan itu adalah Yesus sendiri, dapat kita temukan di kisah perjalanan ke Emaus, dalam Lukas 24:13-33.

Sampai disini kita sudah mengenal Yesus sebagai, yang pertama “Anak Allah”, kemudian yang kedua “Pohon Kehidupan”. Saya perlu melengkapi yang ketiga, karena sama seperti kebenaran suatu perkara dibuktikan dengan adanya tiga saksi, pengulangan suatu pernyataan hingga tiga kali berturut-turut meneguhkan atau menekankan kebenarannya. Kita mengenal Yesus juga sebagai Raja Damai. Sebuah ayat yang lekat dengan kisah Natal, Yesaya 9:5 menyatakan mengenai hal ini. Dengan mengenal Yesus sebagai Raja Damai juga menjadikan kita untuk membawa damai kemanapun kita pergi. Menariknya di Matius 5:9 para pembawa damai disebut sebagai anak-anak Allah. Demikian kita juga tahu bahwa suatu hari nanti kita akan menjadi raja-raja di Kerajaan 1000 tahun damai. Wahyu 20:6. Namun sebelum itu tiba kita tahu bahwa Yesus pernah berkata, dan saya yakin ini menjadi bekal kita menghadapi hari-hari ke depan: Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Yohanes 14:27.

Kenallah Yesus, lebih lagi:

  1. Sebagai Anak Allah, yang membuat kita sadar akan kasihNYA yang begitu besar, dan juga menjadikan kita anak-anak Allah, yang memanggil Tuhan Allah sebagai Bapa.
  2. Sebagai Pohon Kehidupan, yang mencelikkan mata rohani kita dan yang membawa kita ke dalam hidup yang kekal.
  3. Sebagai Raja Damai, yang membawa kita dalam damai sejahtera yang penuh, dan suatu saat akan kembali dan menjadikan kita raja-raja di kerajaanNYA.

 

Lagu: MengenalMU (Sidney Mohede).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s