Conversation #3: “Apakah Emosi bisa menyelesaikan masalah?”

T: Have you ever find a case in bible or real life, dimana emosi bisa selesaikan masalah? Or He just create us with lot of complex emotion just to ‘feel’ everything?
J: Emosinya musti di definisikan dulu.
Ada emosi positif. Ada yang negatif. Maksudnya constructive atau destructive.

T: Both. Negative and positive. Tapi kalau negatif sepertinya nggak perlu dibahas ya. Positif deh.
J: Saya percaya Tuhan ciptakan kita serupa sama gambar diri DIA. Ada beberapa teks yang menyebutkan. Tuhan bisa sakit hati, sedih.

T: Tapi apakah itu bisa selesaikan masalah? I mean God himself pernah marah, dia hardik laut, and voila, problem solved!
J: Masalah itu sebenarnya ada untuk menguji kita, gimana sikap kita menghadapi masalah.

T: How we react ya?
J: Yup. Tuhan marah for a reason, dan waktu dia hardik laut. Itu authoritative. It’s a statement: I’m the ruler. Jadi DIA tidak sedang marah ke laut. Tapi emosi-NYA keliatan waktu dia “kecewa” dengan ketidakpercayaan murid-murid-NYA.

T: Is it all about how we deal with our emotion?
J: I do think so.

T: Whooaaaa. Berat juga ya.
J: Dealing with our emotion is the key for our decision. Liat saja Musa. Dia bukan marah sama Tuhan, dia marah sama bangsa Israel yang tegar tengkuk! Tapi karena emosi itu, dia jadi “nggak taat” dan pukul batu karang dengan kayu, padahal seharusnya dia hanya disuruh Tuhan “berbicara” pada batu itu. Karena ketidaktaatan itu dia nggak bisa masuk Kanaan, The Promise Land.

T: Let me get it straight then, correct me if I’m wrong, please. Emosi kita is a gift from God, so we can feel everything. It’s just how we deal with it. So, emosi kita adalah salah satu ujian dari Dia buat kita so with that we can be a better person? Is that it?
J: Yup. Tapi musti hati-hati kalau kita bilang emosi adalah ujian. Emosi itu sama seperti kita dikasi mata untuk melihat. Mata itu bukan ujian. Tapi apa yang kita lihat dengan mata. Apa yang kita ijinkan mata kita lihat tiap-tiap hari itu ujiannya. Kira-kira begitu dengan emosi.

T: Owwww. Perumpamaan yang bagus. Jadi lebih ngerti kalau dijelasin seperti itu.
J: Hehehe. Nampak lagi bergumul ya.

T: Bukan. Bukan bergumul tapi lagi mikir dengan amat sangat. Karena kebanyakan orang bilang ’emosi tidak menyelesaikan masalah’. And saya nggak setuju dengan itu. Kalau emosi nggak selesaikan masalah buat apa kita dikasih privilege punya emosi sama Tuhan? Itulah tadi pas pertama saya nanya kan. But I do agree sama pernyataan “jangan ambil keputusan saat lagi emosi”.
J: Iya ya. Mungkin maksud pernyataan itu “emosi negatif”.

T: Pernah tahu nggak kasus dimana emosi bisa selesaikan masalah?
J: Ummm. Aku rasa kaitannya nggak langsung. Tapi dari emosi itu mempengaruhi tindakan jadi bukan emosinya. Waktu di Yohanes 11. Yesus emosional banget sampai dikatakan “maka menangislah Yesus” tetapi dari situ lahir tindakan, mujizat. Lazarus dibangkitkan, nama Tuhan dimuliakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s