INI MISIKU

2Timotius 4:7.

Paulus dengan pernyataan ini menunjukkan bahwa hidupnya “dipersembahkan” (dengan nyawanya, ayat 6) untuk menyelesaikan suatu misi. Misi hidupnya digambarkan dengan sebuah pertandingan, dan apa yang dilakukan dalam pertandingan itu adalah (ayat 5):

  • menguasai diri dalam segala hal,
  • sabar menderita,
  • (terus) lakukan pekerjaan,
  • tunaikan (atau menyelesaikan) tugas (sebagai pemberita Injil).

Keempat poin ini penting bagi seseorang yang berjuang, apakah seorang atlet, seorang pengusaha, seorang pelajar, dan lainnya. Dalam perjalanan rohani kita sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus, apa kita sudah mengerti misi kita?

Misi dalam konteks teologi Kristen sering hanya dipandang secara sempit. Pelayanan misi dipahami oleh beberapa penulis literatur teologis sebagai usaha yang dilakukan dengan sengaja oleh Gereja atau bagian-bagian dari Gereja atau pelayanan sukarela di luar Gereja, untuk memproklamirkan Injil di antara orang-orang dan di wilayah-wilayah di mana Injil belum dikenal atau hanya sedikit dikenal.[1] Sehingga pilihannya sepertinya apakah kita melakukan misi ini di pedesaan (rural mission) atau di perkotaan (urban mission).

Padahal misi sebenarnya dapat dipandang bukan sekadar penyebaran Injil, namun partisipasi dari orang-orang percaya dalam mengusahakan perubahan, baik untuk sesama manusia, maupun untuk dunia ini. Perubahan atau transformasi ini berpusat pada Yesus sebagai:

  • Juru Selamat (Ibrani 9:28),
  • Pencipta (Matius 19:4),
  • Pendamai (Yakobus 3:17-18),
  • Pembaharu (pembaru, Ibrani 9:15).[2]

Keempat hal ini bisa menjadi misi di dalam pelayanan kita, selama perjalanan rohani menuju kemuliaan yang akan datang. Kita menyelamatkan orang dengan membantu mereka apakah secara tubuh, jiwa, roh. Kita memberi pemahaman mengenai pencipta yang satu, dan nilai-nilai dasar yang universal. Kita menjadi pendamai di tengah kekacauan dan konflik. Demikian juga kita membawa pembaruan yang diperlukan di mana kita ditempatkan.

Semua kegiatan kita diarahkan untuk tujuan ilahi, meskipun kita tidak melayani penuh waktu di gereja. Menariknya menurut tulisan seorang akademisi dan teolog Kristen, misi pentakosta dan karismatik seringkali terintegrasi dengan pelayanan sosial (pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi).[3] Ini seharusnya mendorong kita mengambil suatu tujuan spesifik, sebagai misi kita dalam hidup mengikut Yesus.


[1] John Mark Terry, Missiology: An Introduction to the Foundations, History, and Strategies of World Missions, Revised Second Edition (Nashville: B&H Publishing, 2015), Ch.1: An Overview of Missiology by Justice Anderson.

[2] Marde Christian Stenly Mawikere, Misi Sebagai Transformasi: Misiologi dan Teologi Misi untuk Pascasarjana (Sleman-Jogjakarta: Penerbit KBM, 2026), hal. i.

[3] Marde C.S. Mawikere, Misi Sebagai Transformasi, hal.62.

Leave a Reply