UNDANGAN BAGI SEMUA ORANG

Ibrani 12:1-2.

Semua dari kita tentu pernah diundang untuk melakukan suatu aktivitas atau untuk menghadiri suatu acara. Undangan yang diberikan sifatnya mengajak kita untuk berpartisipasi dalam aktivitas atau acara tersebut. Kita yang menerimanya punya dua pilihan, menerima atau menolak undangan tersebut (seperti perumpamaan orang-orang  yang diundang ke perjamuan kawin). Matius 22:5-6.

Fokus dari undangan yang ditulis di ayat-ayat dalam Ibrani 12:1-2, adalah seorang pribadi yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Karena Tuhan, ada banyak orang-orang percaya (saksi-saksi iman) yang sudah mendahului kita (seperti yang dituliskan di Ibrani 11) mengalami penderitaan dan penghinaan. Kehinaan ini juga yang Yesus rasakan selama pelayananNYA di muka bumi. Tentang Yesus yang mengalami penghinaan dan penderitaan adalah titik tolak Injil yang diberitakan kepada sida-sida dari Etiopia. Kisah Para Rasul 8:33-35.

Memberitakan Injil dengan efektif, dan yang paling memungkinkan untuk segera kita lakukan adalah mengundang orang lain dalam sebuah diskusi atau percakapan. Inti yang dipercakapkan adalah kabar baik bagi semua manusia, yang datang dalam satu pribadi, Tuhan Yesus Kristus. Lukas 4:18-21.  Yesus yang menyembuhkan, berkuasa, penuh kasih, dan yang hidup untuk selama-lamanya.[1] Ini bukan berarti undangan untuk berdiskusi adalah satu-satunya cara, tetapi ini adalah cara yang paling bisa kita lakukan segera.

Jika kita melihat Ibrani 12:1, dituliskan mengenai beban dan dosa yang merintangi kita. Namun ada komentator Surat Ibrani yang melihat dosa sebagai sesuatu yang mendistraksi, atau membuat seseorang melenceng dari tujuan utamanya, yaitu pertandingan atau perlombaan iman.[2] Ini harusnya mengingatkan kita apakah selama ini kita tidak melayani dalam pemberitaan Injil karena masih ada beban, atau ada dosa yang membuat kita tidak mau atau malu memberitakan kabar baik tentang Yesus.

Dalam Alkitab kita melihat orang-orang beriman, mereka yang menjadi alat Tuhan, pengabar Injil, adalah para pendosa. Sebut saja Abraham, bahkan sampai Paulus, semua menunjukkan ketidaksempurnaan mereka. Paulus sampai menggunakan kata “hina” dan “tidak layak” karena kejahatannya di masa lalu. 1Korintus 15:9. Memang tidak harus melakukan “kejahatan” untuk kemudian bisa melayani mereka yang perlu kabar baik. Tetapi jika itu yang dirasa menghalangi atau membebani, datanglah kepada Yesus, IA akan memberi kelegaan.

Target penginjilan di zaman Yesus ada 3, orang-orang Yahudi, orang-orang non-Yahudi, dan orang-orang Samaria.[3] Bagi kita Gereja Tuhan Yesus Kristus, target itu ada di Kisah Para Rasul 1:8. “Yerusalem” adalah keluarga kita, “Yehuda” adalah orang-orang dalam komunitas Kristen, “Samaria” adalah orang-orang yang berbeda pandangan, bahkan memusuhi kita. Kemudian yang terakhir “ujung-ujung bumi” adalah mereka yang terpinggirkan secara sosial, atau mereka yang jauh dari kita. Sehingga target ini sebenarnya selalu ada, pelayanan penginjilan terus akan ada, sampai Yesus datang kali yang kedua.

Modal penginjilan kita adalah Roh Kudus dan Kebenaran. Efesus 1:13-14. Roh Kudus menjamin kita adalah milik Allah, kita diperlengkapi oleh kuasa Ilahi (sumber keberanian dan mukjizat). Kebenaran yang kita pegang adalah firman Allah yang isinya kabar baik Keselamatan yang dari Allah. Banyak orang meragukan Alkitab adalah firman Allah, meskipun ada banyak tes untuk menguji kebenaran dari Alkitab, di antaranya:

  1. Uji arkeologi (biblical archeology, bukti fisik).[4]
  2. Uji bibliografis (textual criticism, pemeriksaan naskah kuno).[5]
  3. Uji konsistensi internal (literary and historical criticism, kesatuan tema).[6]
  4. Uji nubuatan yang tergenapi (prophetic fulfillment, nubuatan dan sejarah manusia).[7]

Lebih dari segala hal yang manusia usahakan, kita harus melihat bahwa kabar baik ini adalah seorang Pribadi. Seperti di awal kita sempat bahas, Tuhan Yesus Kristus adalah fokus dan pusat dari kabar baik bagi manusia. Bukan manusia yang mengumpulkan kebaikan untuk bisa berkenan di hadapan Tuhan. Namun yang terjadi Tuhan lah inisiator dari kabar baik bahwa kita diciptakan serupa dan segambar dengan DIA. Pada akhirnya Injil itu di tangan kita, dan Injil adalah kita, orang-orang yang membawa kabar baik bagi dunia. 2Timotius 4:5.  


[1]  Jack W. Hayford, et al. Answering the Call to Evangelism: Spreading the Good News to Everyone. Nashville: Thomas Nelson, 1997 (Spirit-Filled Life Kingdom Dynamics Study Guides), p. 43.

 [2] William L. Lane. Word Biblical Commentary: Hebrews 9-13. Dallas: Word, Incorporated, 2002 (Word Biblical Commentary 47B), p. 398-399.

[3] Hayford, Answering the call, p. 29.  

[4] An Archaeological Dig Reignites the Debate Over the Old Testament’s Historical Accuracy, https://www.smithsonianmag.com/history/archaeological-dig-reignites-debate-old-testament-historical-accuracy-180979011/

[5] Pentingnya Penggunaan Metode Historis Kritis Dalam Menelaah Alkitab, https://www.researchgate.net/publication/392227760_PENTINGNYA_PENGGUNAAN_METODE_HISTORIS_KRITIS_DALAM_MENELAAH_ALKITAB

 [6] The Bibliographical Test Updated, https://www.equip.org/articles/the-bibliographical-test-updated/

 [7] Encyclopedia of Biblical Prophecy, https://books.google.com.mx/books?id=jTcEEAAAQBAJ&printsec=copyright#v=onepage&q&f=false

Leave a comment