Kejadian 6:22.
Salah satu buku yang membahas mengenai kisah Air Bah dan Bahtera Nuh adalah “The Genesis Flood: The Biblical Record and Its Scientific Implications,” oleh Morris dan Whitcomb. Dalam buku tersebut digambarkan bahwa tonase (kapasitas ruang muat dalam kapal, 1 ton = 1 m3) dari Bahtera Nuh adalah 13,960 ton. Skalanya jika dibandingkan dengan kapal zaman sekarang, sama seperti kapal besar berbahan logam, yang biasa mengarungi samudera.[1]
Ketaatan Nuh untuk membangun sebuah kapal dengan skala seperti itu demi firman Tuhan yang mengatakan akan mengakhiri hidup semua makhluk (Kejadian 6:13) tentu saja menjadi teladan luar biasa bagi kita. Semua kita dipanggil untuk melayani Tuhan. Roma 12:11. Tetapi kita juga dipanggil untuk menaati firman Tuhan. Petrus mengingatkan kita orang-orang di zaman Nuh tidak taat pada firman Allah yang disampaikan oleh Nuh, sehingga hanya mereka yang taat diselamatkan. 1Petrus 3:20.
Ada seseorang yang menggambarkan iman dan ketaatan seperti seorang pelaut yang mengarahkan kapalnya ke sebuah tujuan. Ia tidak melihat, seperti Nuh (Ibrani 11:7), tapi ia tahu apa yang dilakukan karena ada instruksi (Kejadian 6:13-18). Ia taat pada apa yang ia miliki saat itu, karena selama dia ke arah yang tepat, ia akan sampai ke tujuan, ia akan selamat. 1Petrus 1:9.
Dalam “pelayaran” kita sebagai pengikut Yesus, sebagai pelayan dari Allah yang benar. Kita seperti murid-murid Yesus saat menyeberang danau. Markus 4:35-40. Kita tahu tujuannya, ada instruksi firman Tuhan untuk membimbing, kita tahu Yesus bersama kita. Tapi apakah kita tetap taat saat pelayaran kita dilanda topan? Apakah kita panik dan menuding Tuhan tidak melakukan apa-apa?
Ketaatan dimulai dari pemahaman tentang pribadi Allah. Seperti di zaman Nuh, ketika dunia di sekitarnya semakin rusak, ia tetap taat kepada Allah, dan ia menerima kasih karunia. Kita tahu Allah punya kuasa, kita tahu DIA ada di samping kita. IA punya rencana terindah, IA tidak berubah, dan IA setia. Mari layani Tuhan dengan ketaatan, sampai kita mencapai tujuan, yaitu keselamatan jiwa kita.
[1] John C. Whitcomb and Henry M. Morris, “The Genesis Flood: The Biblical Record and Its Scientific Implications”, Presbyterian and Reformed Publishing Company:Phillipsburg, NJ. 1961, p.10.

Leave a Reply