UJIAN TERBESAR

Kejadian 22:2.

Dalam sebuah rumah tangga, salah satu yang memengaruhi kepuasan pernikahan adalah permasalahan yang melibatkan anak.[1] Secara khusus dalam artikel yang dijadikan referensi saya saat ini, jika rumah tangga tersebut memiliki anak dengan Autism Spectrum Disorder, maka kepuasan akan pernikahan akan memengaruhi kasih sayang orang tua kepada anak tersebut.[2] Hal ini setidaknya dapat membantu kita untuk membayangkan apa yang terjadi antara Abraham, Sara – istrinya, dan Ishak – anak tunggal mereka.

Pernikahan antara Abraham dan Sara sudah berlangsung lama, namun mereka belum memiliki keturunan. Sampai Abraham berusia 75 tahun, Allah memanggilnya keluar dari dari tanah kelahirannya untuk bermigrasi ke Kanaan. Ia dulu disebut Abram, sebelum Tuhan kemudian mengganti namanya menjadi Abraham. Pada usianya yang ke-100 tahun, Allah mengaruniakan Ishak kepada pasangan Abraham dan Sara. Kejadian 21:5.

Abraham menaati Tuhan (Kejadian 17:23), dan suka melayani (Kejadian 18:1-8). Meskipun Alkitab mencatat beberapa kali mereka bersalah dengan mengatakan hal yang tidak sebenarnya (dusta, bohong). Baik kepada manusia (Kejadian 20:9-10), maupun kepada Tuhan (Kejadian 18:13-15). Namun ujian terbesar pada ketaatannya datang saat ia harus mengorbankan anaknya yang tunggal.

Sampai di momen ini, Alkitab tidak menuliskan dinamika rumah tangga yang terjadi antara Abraham dan Sara. Tetapi membandingkan dengan betapa gigihnya seorang ibu mempertahankan nyawa anaknya di peristiwa Salomo menghadapi 2 perempuan sundal. 1Raja-raja 3:20-26. Saya begitu yakin ada percakapan emosional yang terjadi sebelum Abraham membawa Ishak pergi. Ada ilustrasi dari seniman asal Italia tentang pengorbanan Ishak yang bisa memberi bantuan visual pada kita.[3]

Namun ketaatan sejati memang terjadi saat seseorang melewati ujian terbesar, yaitu mengalahkan kenikmatan tubuh, menanggalkan emosi (jiwa) yang nyaman, dan menguatkan kerohanian (iman).  Ketiga aspek keberadaan kita sebagai manusia diuji. Mari kita lihat dari contoh di Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama ada seorang nabi yang harus berjalan telanjang (pemahaman umum untuk kata dalam bahasa aslinya, meskipun ada yang berpendapat hanya “melucuti” kain kabung)[4]. Yesaya 20:2-5. Secara tubuh, ia mengalahkan nikmatnya berpakaian dan berkasut kaki selama 3 tahun! Belum lagi secara jiwa, ia harus menahan malu karena dalam waktu yang tidak singkat berjalan bertelanjang. Secara rohani imannya kuat karena dia percaya ditunjukkan dalam ayat 2: “…lalu iapun berbuat demikian…”

Jika kita melihat ke Perjanjian Baru. Sebenarnya ada sosok yang lebih dari seorang nabi. Namanya Yesus Kristus, DIA Anak Tunggal Allah (1Yohanes 4:9), yang memikul kayu salib, kayu tempat IA dipakukan. IA tidak memberontak, dan pada akhirnya kepala Yesus tertunduk lalu berkata “Sudah selesai”. KetaatanNYA membenarkan kita yang berdosa. Roma 5:19. Secara tubuh IA menderita, jiwaNYA hancur karena mengetahui IA harus melalui ini demi menebus dosa dunia. RohNYA tahu, IA melakukan ini demi kemuliaan Allah Bapa. Lukas 24:26. Ada ilustrasi dari seniman asal Jerman tentang pengorbanan Yesus yang bisa memberi bantuan visual pada kita.[5]

Perjalanan kehidupan Kristen kita menuju kemuliaan yang akan datang. Tetapi sebelumnya ada pelayanan yang harus kita selesaikan dengan ketaatan. Tubuh, jiwa, dan roh kita biarlah diserahkan bahkan jika harus menderita sekalipun, karena itu jejak-jejak yang Kristus tinggalkan untuk kita ikuti. 1Petrus 2:21.


[1] Nanda Faradiza Jolanet Adam, Hartanti, dan Mary Philia Elisabeth, “Hubungan antara Kepuasan Pernikahan dengan Kasih Sayang Orangtua pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder,” Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya 9, no. 2 (2021): “Pendahuluan”, https://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/view/4991.

[2]  Adam, Hartanti, dan Elisabeth, “Hubungan antara Kepuasan Pernikahan,” “Kesimpulan”.

[3] Annibal Fontana. “The Sacrifice of Isaac.” Plakat dengan relief. 1550: https://collections.vam.ac.uk/item/O313968/the-sacrifice-of-isaac-plaquette-fontana-annibale/. Terakhir diakses 25 Oktober 2026.

[4] J. A. Motyer, The Prophecy of Isaiah: An Introduction & Commentary. Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1993, Isa 20:2.

[5] Albrecht Dürer. “All Saints’ Picture.” Lukisan untuk altar (Landauer Altar). 1511: https://www.khm.at/en/artworks/all-saints-picture-landauer-altar-615. Terakhir diakses 25 Oktober 2026.

Leave a Reply