UNITY

Pertama-tama tentu saja saya mengucapkan selamat kepada Harvest Church New Hampshire (GPdI Dover NH) yang telah 20 tahun berdiri dan melayani komunitas New Hampshire, khususnya untuk masyarakat Indonesia. Saya rasa ini benar-benar bukti dari Kasih karunia Tuhan nyata dalam hidup Gereja ini.

Menarik sekali bahwa tema 20th Anniversary Harvest Church adalah Unity. Karena ini adalah tema yang menjadi idaman baik bagi masyarakat Indonesia (setelah pilpres 2019) dan juga masyarakat Amerika Serikat (menjelang pilpres 2020). Tentu saja bagi saya yang baru 11 hari terakhir mengenal Gembala dan jemaat Harvest Church, saya belum familiar dengan sejarah Gereja ini, dan mengapa Tuhan menaruhkan tema ini di hati Gembala dan/atau Panitia Acara.

Tetapi bagi saya ini mungkin lebih baik, supaya Firman Tuhan bisa disampaikan murni berdasarkan Firman Tuhan tanpa agenda tersembunyi apapun. Karena bagi saya Unity adalah karakter Tuhan sendiri. Trinitas adalah satu kesatuan, demikian juga Gereja Tuhan tentunya adalah satu kesatuan. Menariknya Trinitas Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, digambarkan sebagai mempelai pria, yang akan menikahi Gereja yang Sempurna sebagai mempelai perempuan.

Mari kita masuk ke dalam ayat utama tentang Unity. Kolose 3:14. Ketika kita membaca ayat ini kita menemukan bahwa Kesatuan dan Kesempurnaan adalah hasil dari Kasih. Coba perhatikan baik-baik konteksnya di ayat 13. Sehingga ini memperkuat apa yang kita percaya bahwa Kasih adalah yang terbesar, dan Allah kita adalah Kasih.

Mari kitab bahas sedikit apa yang dilakukan kasih di dalam ayat 13. DIsebutkan disana bahwa kasih itu sabar, dan kasih itu mengampuni. Pengampunan adalah bagian terbesar dari Kasih. Ini harusnya menjadi bagian kita, karena seperti Yesus lakukan dan juga Paulus ajarkan kepada jemaat Tesalonika, bahwa kita seharusnya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. 1Tesalonika 5:15. Menariknya tentang pengampunan yang akan berujung perdamaian, itu keputusannya ada di tangan kita! Roma 12:18.

Kalau kita kembali kepada Kasih yang menghasilkan kesatuan dan kesempurnaan. Kasih di dalam Alkitab sering digambarkan seperti hubungan suami-istri dalam pernikahan. Contohnya yang Paulus sampaikan di Efesus 5:31-32. Baca tentang segitiga: “Passion – Compassion – Commitment,” di sermon saya tentang “B-Drama” @jeffminandar.com.

Sehingga kita lihat yang menjadikan ini menjadi satu, yang menjadikan segitiga ini sempurna adalah komponen komitmen. Kembali lagi ini ada di tangan Anda. Pertanyaan saya pada akhirnya adalah: Are you committed? To live the Love, and bring the unity. Supaya kita menjadi satu seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Yohanes 17:21.

Berdoa ala Yesus

BERDOA MENURUT YESUS – Apa yang Yesus katakan dan tunjukkan?

Topik berdoa adalah topik yang tidak akan ada habis-habisnya dibahas dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Seorang pengikut Kristus lebih dari sekedar fans.

Menarik dibahas adalah sikap Yesus dalam berdoa. Mari kita lihat beberapa contoh kejadian yang dituliskan oleh para penulis Injil.

  1. Matius 5:44. Kata “doa” (dalam Bahasa Indonesia) yang pertama ditemukan dalam Injil Matius, menuliskan tentang ajaran Yesus untuk berdoa bagi yang “menganiaya” kita.
  2. Markus 11:24. Dalam ayat sebelumnya (ayat 23) Yesus mengajar mengenai ketetapan hati (iman), kemudian di ayat ini (ayat 24) Yesus mengajar tentang “melihat” jawaban doa jauh melebihi apa yang dilihat mata jasmani. Menariknya di ayat berikutnya (ayat 25) kembali diingatkan tentang mengampuni (hubungan dengan poin pertama).
  3. Lukas 22:41-42. Yesus mengajar tentang bagaimanapun pada akhirnya bukan kehendak kita, namun kehendak Bapa yang terjadi.

Sebagai penutup, saya rasa penting untuk diingat bahwa doa seharusnya bukan untuk memuaskan kemauan atau keinginan kita seperti yang diingatkan Rasul Yakobus dalam Yakobus 4:3.

Saat Anda Mengeluh, Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, “Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?”

Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. “Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang.”

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit. Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.

Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu. Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon namun saat diberi malah menyianyiakannya? Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita. (Sumber: Anonim)             

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Doa & Bekerja

Semua orang yang berdoa tentunya ingin mendapatkan jawaban. Namun seringkali jawaban itu sudah disana, hanya saja kita tidak melihat itu.

Ora et labora. Berdoa dan bekerja. Istilah ini adalah motto dari Biara Katolik yang didirikan oleh St.Benedict. Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “ora et labora, deus adest son has” yang berarti “berdoa dan bekerja, Tuhan ada disana” Mungkin ungkapan terakhir berarti Tuhan ada disana dan memperhatikan. Sehingga Paulus menuliskan “lakukanlah pekerjaanmu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Kolose 3:23.

Saya tertarik dengan istilah ini karena tahun lalu adalah tahun doa buat GPdI Mahanaim, lalu disambung dengan tahun kerja untuk tahun ini. Mengapa harus berdoa dan bekerja? Bukankah doa itu besar kuasanya? Yakobus 5:16. Amin. Kita sering mengutipnya, namun kita perlu juga melihat ayat ini secara utuh. Mari kita lihat:
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan.” Kalimat ini sebenarnya berarti kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejawatnya. Ini sering disalahartikan dengan mengakui segala dosa, seperti yang dipraktekkan oleh mereka yang diberi gelar imam. Setelah pengakuan dosa itu kemudian “si pendosa” diharuskan menghapuskan dosa dengan melafalkan kalimat-kalimat doa tertentu. Ingat, dosa kita tidak bisa dipulihkan oleh perbuatan kita, atau kebenaran diri kita sendiri. Mari kita baca konsep pengampunan di perjanjian lama yang tertulis di Ibrani 10:1-2. Itu hanya bayangan dan bukan hakekat keselamatan.

Atau kemudian ada beberapa orang Kristen yang mengartikan, pengakuan ini harus dilakukan di depan umum, dengan alih-alih “keterbukaan adalah awal dari pemulihan”. Saya tidak berkata itu tidak benar, namun harusnya ditambahkan “dengan bijaksana” karena hal itu bisa menimbulkan ekses yang pada akhirnya menimbulkan bencana. Mazmur 32:5 menyatakan bahwa pengakuan itu kita ungkapkan kepada Tuhan. Kita mengakuinya di hadapan manusia saat kita

ditegur oleh kehendak Allah (1Korintus 14:24-25), atau ketika kita menceritakannya kepada orang yang kita percayai.

Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan mengenai hal ini, karena itu kita harus kembali pada pengertian awal, bahwa dosa kita dihapuskan karena Allah menginginkannya. (Yesaya 43:25). Jadi keselamatan kita sebagai manusia roh sudah terjamin karena iman kita (Roma 5:1), dan ketika kita mengakuinya kepada orang yang tepat maka kesembuhan, pemulihan itu datang bagi tubuh dan jiwa kita.

Lantas apa artinya bekerja jika iman saja sudah cukup?

Perbuatan tetap kita lakukan meskipun kita sudah beriman. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus 2:17. Karena demikian juga sebaliknya perbuatan-perbuatan yang tidak didasarkan pada iman akan menjadi sia-sia. Galatia 2:16.

Jika Anda perhatikan perbuatan-perbuatan ini mengacu pada perbuatan berdasarkan hokum taurat, yaitu membenarkan diri sendiri. Tuhan aku telah melakukan ini dan itu, aku layak mendapatkan jawaban doa. Sekali lagi kita baca Yakobus 5:16 bisakah kita lihat bahwa sesuatu yang vertical yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, juga dibarengi dengan sesuatu yang horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia. Ini yang harus kita kerjakan, kita tidak bisa hanya mengirimkan doa kepada dia yang bermasalah, tetapi kerjakan bagian kita yaitu berbuat baik. Ini bukan lagi berdasarkan hokum taurat, tetapi hokum Kasih. Hukum Taurat mengandalkan perbuatan manusia kepada Tuhan. Hukum Kasih mengandalkan perbuatan Allah yang memampukan kita melakukan perbuatan-perbuatan baik. Matius 6:14.

GodblesS

JEFF

MENJADI SEMPURNA

Selamat datang jemaat Tuhan yang diberkati, senang sekali kita bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan kita sebagai Tubuh Kristus. Silakan puji rekan sebelah kiri-kanan Anda, karena dengan demikian Anda sedang memuji “anggota Tubuh Kristus”.

Sekarang kalau Anda perhatikan siapa yang ada di sekitar Anda, menurut Anda apakah sosok yang di dekat Anda itu sempurna? Banyak dari Anda akan menjawab tentu tidak, “tiada gading yang tak retak”, tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, cela, dan kesalahan. Sebuah artikel di Kompas.com menuliskan bahwa ada penjelasan ilmiah mengapa “sisi kiri wajah manusia lebih bagus untuk selfie”. Tetapi “lebih bagus” bukan berarti “sempurna”, selalu akan ada celah untuk melihat “ketidaksempurnaan” seseorang.

Demikian juga kita harus mengerti ini dalam perjalanan kehidupan ini. Anda tidak bisa berharap bahwa segala sesuatunya berjalan sempurna. Selalu akan ada hal yang kita berharap tidak terjadi. Kematian, kecacatan, penyakit, kehilangan, penurunan, semua hal ini akan terjadi. Tetapi ini yang menjadi penghiburan bagi orang percaya, bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan”. Kejadian 50:20. Kata “mereka-rekakan” dalam Bahasa aslinya berarti dipikirkan atau direncanakan.

Tuhan bekerja dalam hal-hal yang bagi manusia nampaknya acak, tetapi sebenarnya IA punya rencana. Abram dibawa Tuhan dalam perjalanan yang tidak pernah disangkanya. Allah memanggil ia keluar dari rumah ayahnya. Abram ini adalah keturunan Sem, dan di salah satu daftar silsilah di Kejadian 11, ada nama Eber dituliskan, yang membuat keturunannya juga dikenal sebagai orang Ibrani. Allah menjanjikan sesuatu yang besar bagi Abram, yang nantinya akan menjadi Abraham, itu tercatat di Kejadian 12:1-3.

Tetapi sekali lagi, dalam perjalanan menuju penggenapan janji Tuhan itu, ia harus menghadapi keadaan yang jauh dari sempurna. Dia semakin menua namun janji keturunan itu tidak kunjung digenapi. Ia sempat bimbang, sempat “didiamkan” oleh Tuhan, bahkan Tuhan datang untuk menegaskan kembali janjiNYA pada Abram. Saat itulah namanya “bukan lagi Abram, melainkan Abraham”. Kejadian 17:5.

Apakah setelah itu keadaan menjadi serba sempurna, tidak. Dia masih harus menghadapi kenyataan bahwa keponakannya akan binasa, karena itu ia bersyafaat untuk tempat tinggal keponakannya itu. Lalu ia kembali lagi mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya, “berbohong tentang istrinya” kepada raja daerah tempat ia menetap. Kejadian 12:13, Kejadian 20:2.

Apa yang terjadi dalam hidup Abraham, bisa jadi adalah pengalaman pribadi kita:

  1. Ingatkah Anda ketika pertama kali Anda diselamatkan? Saya sering mendengar kesaksian yang menarik, mulai dari membaca Alkitab, mendengar kesaksian, pengalaman mujizat, mengamati orang ke Gereja, dan banyak kisah lain. Rasul Paulus mengingatkan jemaat mengenai ini 1Korintus 1:26-29.
  2. Berapa hal yang menjadi janji Tuhan, tetapi belum Anda alami sekarang? Kita berharap segala sesuatunya menjadi sempurna saat kita mengikut Yesus, tetapi seringkali bukan itu yang terjadi. Kadang Allah seperti meninggalkan kita. Tetapi itu dilakukannya untuk mengetahui isi hati kita. Apakah kita tetap setia. 2Tawarikh 32:31. Rasul Paulus sendiri mengalami hal ini ketika ia meminta “duri dalam daging” diambil dari dirinya, apa jawab Tuhan kepadanya: 2Korintus 12:9.
  3. Sadarkah bahwa Anda masih hidup dalam tubuh dan dunia yang tidak sempurna? Abraham melakukan kesalahan, ia bukan contoh ideal bagi kita. Tetapi lihat apa yang Tuhan perhitungkan: Kejadian 15:6. Ingatkah kita apa yang Tuhan cari ketika IA datang? Lukas 18:8. Tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan semua hal yang lain: pengharapan, kasih, ketekunan, disiplin rohani, keberanian, ketertiban.

Hidup kita ini begitu penuh warna, tidak ada yang bisa memastikan semua akan berjalan sesuai dengan kehendak kita. Karena keberadaan kita di dunia adalah karena kehendakNYA. Terkadang ada hal-hal yang Allah ubah, Allah geser, Allah acak, dan kita berteriak kepada Tuhan: MENGAPA YA TUHAN?

Kuncinya adalah bertekun, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit…” Kolose 1:23.

Lalu Paulus melanjutkan untuk apa kita bertekun? Karena “kepada mereka, Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kolose 1:27.

Nantikanlah sentuhan akhir Allah yang menjadikan kita sempurna.

GodblesS

JEFF

Courage (Joshua 1:9)

What do you afraid of?

What do you scared of?

We all have something that is holding us back.

We all have something that we feared.

But what if you cross to that one life changing moment.

A moment of courage.

A moment where you can take your leap of faith.

A moment of strength.

A moment shared between you and God.

Read Joshua 1:9. I think when God said, “Be strong and courageous! Do not be afraid or discouraged!” God really understand that Joshua, as other human being also experienced fear in his life. And I believe each and every one of us who come to this place also have fear and have something that we are afraid of. For some it could be fear of talking to someone new, or even talking to a boy/girl. Others have another kind of fear, it could be animals, plants, places, or even something that you couldn’t see it, yet, like our future.

But let me back to the definition of the word “courage”. In one simple sentence, courage is persistence, perseverance even though there is a reason to fear. So, you know exactly that you fear something, but you choose not to give up to your fear. Courage itself could be a physical courage, moral courage, or psychological courage.

And we always admire people who show courage. That’s why we love movies about heroes or super-heroes. From Robin Hood to Harry Potter, or Spiderman to Captain America. I love movies, even though I don’t go to cinema any more. And I don’t against you to watch movies, but please watch it with discernments. Because “good and fascinating” not always reflect Godly thing. Satan in that garden was enticing people with something “good and fascinating” (the forbidden fruit), but by the act of eating it, Adam and Eve against God’s will. They are become unfaithful to The Word.

If you read the book of Matthew, in the first chapter you will find a list of biblical figures related to Jesus. Matthew 1:1-17. This genealogy of Jesus, also can be found in the book of Luke, but doesn’t appear in other two books who write about Jesus (Mark & John). Matthew put this in perspective of Jesus as The King. The genealogy shows that HE is from the line of David, as the prophesies from Old Testament being fulfilled in Him. I don’t have enough time to mention them one by one and tell you their stories. And each one of them did a courageous act, their stories lead us to the main characters in Jesus’ early life.

Mary. Matthew 1:18. Story about Mary with more details is in Luke 1:26-38. When I compared verses in Matthew and Luke, one important biblical value that popped out was about marriage.

Being engage with someone doesn’t mean you can give away your virginity. Either you are male or female. There is a false thinking or false value that growing among the young people that you have to be a cool kid. Cool kids, they are kissing, they are having sex. Let me tell you about these things from my last seminar with High School Students in Bandung. It’s easy to grab someone who think they want to do these things. But it’s hard, it needs courage to keep yourself from doing that. Moreover if there is a fear of rejection or a “mark” that you are “weird” and “not-cool”. Matthew 16:26.

The second person who showed his courage Jesus’ still a baby is Joseph. Matthew 1:19-21. What is it like if you’ve found out your significant other in a condition that will most likely break your heart? Could you courageously showing him or her an act of love?

It is easy though to show love when him or her having birthday or graduation. But where are you they are in difficult situation? Where are you when you suspect them become unfaithful? I am standing here and speak to you not about a world in the land of dream, whereas everything goes smooth like cutting butter with a hot knife. I am standing here and talking to you about the world we are living now. A world whereas love for the money replacing the love for family and God. A world where parents can divorced and left their children shattered. Or if they are not divorced, they become unfaithful to each other, and leave a bad example behind them.

I have seen young guys and girls, doing horrendous thing for the sake of love or fame. This is the world where the devil and his crafty evil plans try to rip you apart! The next generation of these last days. The devil will try that with your family, with your close friends, with all of your significant others. But the question is could you still say “I love you, God loves you, but we hate your sin!” Or you just keep that hatred in your heart to them and to God. An act of love needs a courageous heart.

Now you imagine Joseph. He is a good and noble guy but he heard the news about his fiancée who got pregnant before they are getting married. WWJD? What Would Joseph Do? Posting a status: UNFAITHFUL! Or an instapicture with caption: “all women is cheater”? No, he tried to compose himself and still showing his love and respect to Mary by divorced her in a quiet. Even though he has the right to do it publicly. You know sometimes courage is shown in a closed door, love is not only about affection, but also a courageous act. When you release forgiveness to someone and wishing them all the best, you show them that you are courageous person.

Courage and cowardice are separate from character and will. You better know this: “someone’s character is most likely come from his habit.” That’s why I do believe courage is not a character. Courage comes from a source beyond ourselves and it comes from what we really believe in. Fear can be recognized from these things: physiological arousal, subjective reactivity and behavioral avoidance. So, if at least 2 of above indicators showed, you can say that you are gripped by fear.

In such condition you feel that you are losing meaning, you feel insignificant. But listen this, your value, your meaning in this life is lay within the love that you have, not in love others don’t have. 1Corinthians 13:2. If you still remember the story of Joseph, do you remember who gave encouragement to Joseph to take Mary as his wife? An angel. Now let’s forward our time capsule 33 years after that Angel came to meet Joseph, an angel also appeared to Jesus in His final hour at Gethsemane. Luke 22:43. What I can say, that was the appearance of the person Holy Spirit, the helping Spirit of God, like what Jesus had said in John 14:16-17.

At the end of this sermon, I want you to know that there are 3 pairs of significant threats in psychology that could cause you to lose courage. They are:

  1. Fate & Death
  2. Meaningless & Despair
  3. Guilt & Sin

The first two have been covered in the story that I just told you in the last couple of minutes. But, now you could be feeling guilty, you have sinned before God. BUT, listen to this, your sin was the very reason Jesus came to this earth. He was coming not only to become another historical figure of the past. This day could be your very first service, or it could be one from dozens time you attend church service. No matter what, His coming is a personal approach. He is standing right in front of your heart, saying: “Be strong, take courage, for I love you so, and you are not alone.” Invite Jesus into your heart, invite Holy Spirit to guide you and to give you courage that you need.

GodblesS

JEFF