MISSED EVENTS

Ada 3 events yang kelewat saya update selama bulan Desember ini, tetapi semua catatannya ada di weblog saya, dan link-nya saya paste disini juga.

Here they are:
Ibadah Doa Raya @GPdI Mahanaim Tegal, 04.12.2015.
https://jeffminandar.com/its-all-about-love/

Ibadah Perayaan Natal PPA MDC @GKPB MDC Cirebon, 05.12.2015.
https://jeffminandar.com/sukacita-surga/

Ibadah Perayaan Natal GPdI Sejahtera @GPdI Sejahtera Mojorejo, 16.12.2015.
https://jeffminandar.com/terang-yang-membawa-kemenangan/

Be the light and happy reading.

GodblesS
JEFF

Advertisements

Kejar yang mana?

Archive: First Posted by Jeff Minandar on Tuesday, June 2, 2009 at 6:47am

“Kejar yang kekal daripada yang sementara; yang penting bukannya yang mendesak.”

Sebagai manusia, seringkali timbul dalam hati kita keinginan-keinginan yang ingin dipuaskan SECEPATNYA. Kalo bisa PADA SAAT ITU JUGA. Padahal jika kita mengambil waktu sejenak untuk berpikir, kita akan menemukan bahwa dalam jangka panjang ‘keinginan’ itu akan merugikan kita, jika dipuaskan ‘secepatnya’.

Seorang bernama Esau pernah mengalami hal ini. Dia memiliki ‘hak kesulungan’ dari Bapanya, karena ia adalah anak yang lahir pertama kali, meskipun saudara kembarnya juga lahir selang beberapa saat kemudian. Suatu hari, ketika mereka sudah dewasa, setelah aktifitas yang melelahkan sepanjang hari ia pulang ke rumah dan mencium bau masakan yang sedap dari saudara kembarnya itu. Karena begitu lapar dan KEINGINAN untuk memuaskan ‘lapar yang sesaat’ itu, ia rela MEMBERIKAN hak kesulungannya kepada saudaranya yang memasak makanan untuk dia. Singkat cerita HAK KESULUNGAN itu yang dapat berarti BERKAT & KEKUASAAN beralih kepada saudara kembarnya untuk sisa hidup mereka dan keturunannya!

Cerita diatas seperti suatu kebodohan ya.. Tapi itu benar-benar terjadi, bahkan sampai saat ini, dimana beberapa (mungkin jutaan, who knows?) Seorang pemuda yang ingin lepas dari rutinitas, kebosanan, masalah, dengan mengonsumsi DRUGS. Tubuhnya hancur. Daya pikirnya hancur. Banyak hal yang rusak hanya karena keinginan yang sementara.

Masih banyak hal lain yang terjadi di sekitar kita, yang menggoda kita, merayu kita, untuk berbuat dan memutuskan sesuatu yang sementara. Apakah kita mampu menolaknya untuk sesuatu yang lebih KEKAL..???

Dipakai Atau Memakai?

“Mana yang sedang kita lakukan ‘memakai’ Tuhan untuk tujuan-tujuan kita, atau sebaliknya, ‘dipakai’ untuk tujuan-tujuanNYA?”

Seorang yang relijius mungkin akan berkata bahwa kita hidup sebagaimana tujuan apa yang Pencipta kita inginkan. Tapi Tuhan bukanlah sedang menciptakan robot. Manusia mempunyai kehendak bebas untuk menentukan pilihan. IA menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan diriNYA.

Ini bukan berarti kita menjadi ALLAH bagi kita sendiri!! Segambar dan serupa disini bermakna KEMULIAAN ALLAH diberikan kepada manusia sebagai ciptaan. Itulah mengapa kata DOSA disebut bersama dengan KEHILANGAN KEMULIAAN ALLAH. Karena oleh karena kita berdosa, kemuliaan Allah itu sudah hilang. Namun Yesus datang ke dalam dunia, untuk memulihkan ‘keadaan kita’.

Namun sadar-tidak-sadar, sebenarnya kita seringkali ‘meng-automatisasi-kan’ Tuhan. Kita menempatkan Tuhan seperti mesin otomatis yang menjual minuman kaleng. Kita harus mendapatkan APA YANG KITA MAU, sebanding dengan ‘uang raceh’ yang sudah kita keluarkan. Dan lebih parah lagi, jangan-jangan kita menempatkan Tuhan seperti mesin ‘jackpot’ di Timezone ato bahkan di Kasino. Dimana kita memasukkan ‘sedikit’ untuk mendapatkan LEBIH BANYAK YANG KITA BERI.

Saya yakin, saya percaya bahwa Tuhan berjanji (yang pasti digenapiNYA), bahwa kalau kita percaya, berharap, ‘menabur’ kebaikan demi namaNYA. DIA akan memberkati kita berkali-kali lipat. SAYA PERCAYA HAL INI. Tapi, coba kita berpikir sejenak. Apakah kita berjalan sesuai rencana TUHAN, atau TUHAN yang kita ‘haruskan’ memberkati semua rencana kita?

(Archive: Have been published on 19-March-2011 in jeffminandar.blogspot.co.id)

Human Morality.

Archive: First Posted by Jeff Minandar on Thursday, February 26, 2009 at 6:34am

Saat kita, misalnya, melihat tayangan video tentang keluarga binatang yang “pecah” karena induk yang tidak setia. Apakah ia meninggalkan pasangannya, atau meninggalkan anak-anaknya. Kemudian yang terjadi demikian, salah satu anggota keluarga itu menjadi “korban” (karena mati kelaparan, ditinggal sendirian, atau dibunuh). Maka kita merasa berbelas kasihan dengan kehidupan binatang-binatang ini, dan secara tidak sadar menempatkan nilai-nilai moral keluarga manusia ke dalam dunia binatang yang lebih liar.

Tetapi ketika perhatian kita terhadap dunia binatang lebih besar dari dunia manusia, berarti ada yang salah. Kita harus akui bahwa sadar tidak sadar lingkungan “keluarga manusia” di sekitar kita mengalami krisis yang lebih dahsyat dari itu. Perceraian, pengabaian, kekerasan domestik, perselingkuhan, semua yang bagi kita menjadi “santapan” sehari-hari dan sudah biasa. Menyedihkan bukan. Harus ada cara pandang yang dirubah, bagaimana kita menghayati diri sebagai manusia.

CREATED AS A CREATIVE BEING.

Archive: First Posted by Jeff Minandar on Friday, January 9, 2009 at 3:24pm

Saya baru aja baca sebagian tulisan dari buku “Stand Like Mountain, Flow Like Water” dari Brian Luke Seaward, Ph.D. Saya dengan tidak sengaja membuka halaman 154-155 dari buku itu, dan saya merasa mendapat ‘insight’ dari tulisan ini, dan saya coba mengembangkannya menjadi seperti ini.

KREATIFITAS

Adalah sifat yang lahir dari mulanya (asal mula dari Kejadian). Tuhan menciptakan dunia secara kreatif. Seluruh alam semesta memiliki keterkaitan yang luar biasa. Planet bergerak sesuai orbitnya, tumbuhan tumbuh dan merambatkan akarnya kedalam tanah yang melapisi bumi, mahluk-mahluk di udara terbang tanpa saling bertabrakan.

Bukankah ini sama dengan pemikiran manusia-manusia yang disebut kreatif. Mereka yang berusaha menciptakan kereta api dan rel-nya yang baik dan berteknologi tinggi, agar mereka bergerak sesuai dengan arah tujuan yang diinginkan. Manusia merancang pondasi yang kuat kedalam tanah agar bangunan setinggi ratusan meter bisa berdiri kokoh menjulang di tengah kota yang padat. Bangunan-bangunan menara pengawas dilengkapi dengan radar untuk mengatur lalu lintas pesawat terbang di semua Bandar Udara.

Manusia memang kreatif. Karena pada dasarnya Penciptanya adalah oknum yang sangat kreatif. Hal ini menjadi menarik karena kita memiliki DNA Pencipta yang karya-karyaNYA kita kagumi dan kita hidupi sekarang. Setiap hembusan nafas kita ‘berisi’ kreatifitas dari Pencipta alam semesta. Kreatif juga berarti menjadikan teratur sesuatu yang kacau, yang tidak beraturan. Saya percaya ‘tabrakan besar’ atau ‘kecelakaan alam semesta’ tidak akan menciptakan suatu keteraturan yang kompleks. Diperlukan intervensi yang sangat besar dari kekuatan yang lebih besar (dan berkuasa) untuk menjadikan sesuatu teratur.

Ini seperti seseorang yang mengolah bahan mentah menjadi sesuatu yang bernilai lebih, lebih teratur, lebih terarah, lebih dapat dinikmati, dan memiliki pola tertentu. Seorang pengrajin tembikar tidak melihat segumpal tanah liat yang tak berbentuk sebagai barang tak berguna. Seorang pemahat tidak melihat bongkahan batu kali yang besar dan kasar sebagai beban. Seorang penenun tidak melihat ribuan benang yang saling silang sebagai kekacauan. Malahan dia bisa mengubahnya menjadi keteraturan yang indah.

Kalimat-kalimat diatas tidaklah lebih dari sebuah ‘kalimat penggugah’. Betapa sebenarnya manusia dilahirkan sebagai MAHLUK KREATIF yang mampu mencipta dari bahan mentah yang ada; mengatur suatu kesemerawutan menjadi jalur-jalur yang dibatasi aturan-aturan; mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Namun pada kenyataannya banyak manusia yang merasa kreatifitas adalah milik sebagian orang tertentu saja, para ARTIST yang memang adalah orang-orang kreatif. Sebagian besar orang melupakan bahwa mereka diciptakan oleh Pribadi yang kreatif, yang meninggalkan ‘jejak-jejak kreatif’ di dalam ciptaannya.

Kreatifitas adalah sumber, bukanlah hasil akhir. Jika saja manusia mengerti bahwa sumber itu ada di dalam dirinya, maka banyak masalah, stressor, rintangan, dan kekacauan,  dapat terselesaikan. Tetapi bukannya sadar, manusia malahan membiarkan sumber itu menjadi kering, dan mengharapkan sumber lain ‘membasahi’ dirinya. Mereka lebih senang menjadi seorang yang pasif, yang menjadi penonton, sementara orang lain MENCIPTA.

Pada akhirnya orang-orang pasif inilah yang merasa dirinya sebagai KORBAN, sebagai objek bukannya subjek. Mereka mengeluh tentang ‘air’ yang selalu dirasa kurang memuaskan. Padahal merekalah sumber-sumber yang kering itu.

GodblesS
JEFF