“Strategi Penginjilan Berbasis Teknologi Informasi di Era Digitalisasi Untuk Penjangkauan Jiwa.”

PENDAHULUAN
Kehidupan kristiani adalah kehidupan berdasarkan arahan dari perkataan Yesus (Yohanes 4:50), dan teladan kehidupanNYA (Filipi 2:5-8). Salah satu perkataan Yesus yang penting adalah perintah untuk mengabarkan Injil. Markus 16:15. Dari perkataan Yesus ini penginjilan menjadi salah satu unsur yang penting dalam praktik kehidupan kumpulan orang-orang Kristen/Gereja Tuhan Yesus Kristus.
Seorang tokoh gereja bahkan menuliskan sebenarnya Injil Kerajaan Allah adalah suatu perpaduan antara mandat budaya (perubahan sosial termasuk di dalamnya) dan mandat pemberitaan kabar baik (Injil) (Wagner, 2022). Untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya supaya mereka mempercayai Yesus dan bertumbuh dalam Gereja Tuhan Yesus Kristus, diperlukan strategi penginjilan. Hal ini dimaksudkan agar penginjilan yang dilakukan mencapai hasil yang efektif dan efisien.
Setiap masa memiliki jendela kesempatan dan juga kekhawatirannya sendiri. Kita hidup di dalam masa di mana anggota-anggota jemaat di dalam Gereja begitu terhubung dengan teknologi dan di saat yang sama terdistraksi dengan jutaan informasi (SmartChurchTech & Newton, 2023). Era ini perlu disikapi Gereja dengan pemahaman mengenai Teknologi Informasi kaitannya dengan tujuan penting Gereja, yaitu menjangkau jiwa dengan Injil.
MEMAHAMI TERMINOLOGI
Penginjilan dan penjangkauan jiwa adalah terminologi yang berkaitan erat. Jika mengacu kepada Alkitab, penginjilan yaitu pemberitaan Injil dilakukan Yesus di Yerusalem, Yudea, dan Samaria. Markus 1:38-39. Injil yang diberitakan dapat diberi label sebagai berikut ini:
- Injil Kerajaan Allah/Surga. Matius 4:23; 9:35; 24:14.
- Injil Yesus Kristus. Markus 1:1.
- Injil Allah. Markus 1:14-15.
Target dari penginjilan adalah menjangkau semua bangsa (maksudnya jiwa-jiwa dari segala ras, suku, dan bahasa) (Matius 24:14). Ini berarti melakukannya ke seluruh dunia. Matius 26:13.
Orang-orang yang diutus untuk penginjilan adalah murid-murid Yesus (Markus 3:14), dan juga mereka yang percaya, lalu dimuridkan. Yohanes 17:18-21, Matius 28:19-20. Tujuan akhir dari penginjilan adalah agar semua orang dapat:
- Mendengar. Matius 24:14.
- Terinspirasi. Matius 26:13.
- Percaya. Kisah Para Rasul 16:31.
- Diubahkan. Kisah Para Rasul 14:15.
- Diselamatkan. Roma 1:16.
- Dimuridkan. Matius 28:19.
- Diutus. Kisah Para Rasul 20:24.
Mereka yang diinjili harus dipersiapkan sebelum kesudahan zaman. Supaya mereka tidak kemudian malahan kehilangan iman mereka saat Yesus kembali untuk kedua kali. Lukas 18:8.
Sebelum Yesus datang kembali ada masa-masa di mana kita diharuskan untuk menguji dan menjelaskan banyak hal dalam konteks perubahan moral dan teknologi terbaru (White, 2017). Hal ini membawa kita kepada perkembangan Teknologi Informasi yang tidak terelakkan. Melalui Teknologi Informasi, kita memindahkan atau menyebarkan informasi dan data menggunakan sarana terbaru yang tujuan sebenarnya adalah kelangsungan dan kenyamanan manusia.
Teknologi Informasi kemudian menjadi dasar/basis dari masa kini yang serba digital. Untuk penyebarannya butuh media, yang di dalamnya terdiri atas:
- Perangkat keras (hardware).
- Perangkat lunak (software).
- Konten/informasi atau isi (content).
Informasi adalah komoditas untuk masa sekarang karena dapat digunakan menjadi berita yang dikonsumsi banyak orang. Namun demikian ada juga komoditas informasi yang dapat dieksplorasi dari pengumpulan data pribadi yang masif, dan juga untuk kepentingan intelijen.
Media yang kita kenal bisa dibagi menjadi dua bagian besar. Media massa atau media konvensional dan media dalam jaringan (daring/online). Keduanya ketika disandingkan bisa memiliki daftar kekurangan dan kelebihan dari masing-masing bagian. Lihat tabel di halaman berikut.
| KEKURANGAN MEDIA KONVENSIONAL | KELEBIHAN MEDIA DARING/ONLINE |
| Membutuhkan biaya yang lebih mahal | Aksesibilitas yang lebih mudah |
| Memakan tempat, dan penyimpanan fisik akan merepotkan | Rekaman sejarah secara digital |
| Mudah menjadi tidak relevan | Pencarian dan pengecekan silang mudah |
PELAYANAN PENGINJILAN DI ERA DIGITAL
Secara sederhana penginjilan dapat dilakukan dengan cara persis seperti yang dilakukan Yesus berkeliling dalam satu area, dari satu rumah ibadat ke rumah ibadat yang lain (Matius 4:23). Hal ini kemudian dibuat juga oleh Paulus dengan skala yang lebih besar (Kisah Para Rasul 17:1-4, Roma 15:19). Tetapi sekarang bayangkan sebuah dunia yang terkoneksi secara digital, di mana batasan area, hambatan alam, dan keterbatasan diseminasi berita, semuanya dapat dijembatani dan dieksplorasi dengan mudah.
Kita hidup dalam sebuah era di mana seseorang percaya dapat terhubung dengan jemaat lain dan juga orang-orang dalam komunitas masyarakat yang lebih luas dengan teknologi. SmartChurchTech & Newton (2023) membuat daftar cara untuk terhubung dan mendapat/menyebarkan kabar baik, yaitu dalam bentuk:
- Situs gereja (website).
- Akun media sosial (seperti Instagram, dan lainnya).
- Video daring (seperti YouTube, dan lainnya).
- Layanan siniar (podcast).
- Ibadah dengan siaran langsung (streaming).
- Aplikasi untuk renungan rohani.
Hal-hal ini daftarnya bisa berkembang seiring perkembangan teknologi. Intinya adalah memberitakan Injil kepada orang-orang dengan membuatnya mudah diakses, relevan, dan bermakna.
Penggunaan teknologi untuk penginjilan tidak boleh membuat gereja kehilangan fokus untuk menjangkau komunitas masyarakat. Namun memang penggunaan teknologi bisa mengabarkan Injil ke rumah-rumah, ke kantor-kantor, ke kendaraan kecil-besar, bahkan sampai di tempat pribadi seseorang. Ini menjadi kenyataan jika gereja mampu membangun pelayanan penginjilan digital yang tepat.
Ide dasar untuk penginjilan gereja secara digital bisa dimulai dari membangun keberadaan dan identitas gereja secara daring (online). Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menolong menjawab kebutuhan gereja untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan Injil:
- Apakah orang-orang dapat menemukan pelayanan saya di situs pencarian daring?
- Apakah Injil yang disampaikan dalam pelayanan saya terdokumentasi dan dapat diakses berulang kali, setiap saat?
- Media sosial apakah kawan atau lawan dalam penyebaran Injil?
- Bagaimana saya mengabadikan video yang menceritakan tentang Yesus, yang jadi bagian dari pelayanan saya?
- Berapa banyak variasi konten yang bisa diakses banyak orang, apakah harus selalu bentuknya audio-visual atau memungkinkan membuat bentuk audio saja?
- Apakah gereja punya materi digital yang menarik ketika dijadikan media cetak?
- Konten digital apa yang bisa menarik orang-orang untuk mengenal dan belajar lebih dalam tentang Injil?
Pertanyaan-pertanyaan di atas saat dijawab bisa memunculkan strategi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, lebih dari keterbatasan-keterbatasan gereja di abad pertama! Jika dengan bijak gereja menggunakan ide-ide dalam pertanyaan-pertanyaan di atas, maka Teknologi Informasi bisa dipakai untuk menjangkau lebih banyak jiwa bagi Kristus.
PENUTUP
Penginjilan tidak akan pernah sampai ke titik finis, sebelum seluruh dunia mendengar tentang Injil Kristus. Dimulai dari mendengar, semua orang percaya pada akhirnya juga harus diutus untuk mengabarkan Injil tersebut kepada orang lain yang belum mendengarnya. Teknologi Informasi membantu seseorang mengabarkan Injil dengan lebih mudah, lebih murah, lebih mendunia, dengan memanfaatkan media dalam jaringan (online).
Gereja perlu membangun strategi yang tepat guna dan tepat sasaran, dalam era digital. Penginjilan untuk menjangkau jiwa adalah salah satu unsur penting yang tidak bisa diabaikan oleh gereja. Penggunaan Teknologi Informasi di era digital akhirnya adalah hal yang perlu menjadi fokus bagi gereja inter-generasi.
DAFTAR PUSTAKA
Wagner, C. P. 2022. Dominion. Your Role in Bringing Heaven to Earth. Destiny Image Publishers, Inc. Pennsylvania, USA. 70.
White, J. E. 2017. Meet Generation Z. Understanding and Reaching the New Post-Christian World. Baker Books. Michigan, USA. 19.

Leave a comment