2Timotius 3:16.
Dalam merayakan Natal kita selalu diingatkan oleh Kasih Allah. Bagaimana Allah memiliki rencana yang luar biasa dalam hidup kita, dan IA mencurahkan kasihNYA dengan memberikan AnakNYA yang Tunggal, sebagai anugerah kepada kita. Konsep anugerah ini pula yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan lain yang manusia ikuti.
Kita melihat bahwa tokoh-tokoh Alkitab baik di Perjanjian Lama, seperti Musa, Yosua, Samuel, dan Yunus, mengalami anugerah Allah dalam hidup mereka. Kalau kita maju ke Perjanjian Baru, maka tokoh-tokoh seperti Elisabet, Zakaria, Paulus, dan Timotius, juga mengalami anugerah Allah itu. Bagi kita anugerah Allah itu adalah kesempatan untuk kita mengenal kebenaran dan kasih yang sejati. Sesuatu yang di Perjanjian Lama disampaikan oleh para nabi-nabi, bagi kita menjadi sesuatu yang nyata. Ibrani 1:1-4.
Jika ada kebenaran dan kasih yang sejati, berarti ada kebenaran dan kasih yang palsu, bukan? Kebenaran yang palsu sangat banyak di sekeliling kita, contohnya adalah “hoax” (Ind.: hoaks), atau informasi bohong. Atau keyakinan-keyakinan yang mengajukan klaim bahwa dengan melakukan ini dan itu bisa membawa kita pada keselamatan. Ingatlah hanya ada satu nama yang memberi kita keselamatan. Kisah Para Rasul 4:12.
Bagaimana dengan kasih yang palsu? Ini pun sangat banyak, mereka yang menjebak anak-anak muda untuk mencoba narkoba (kepanjangan dari “narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya”) biasanya menunjukkan “kasih” yang palsu untuk keuntungan mereka. Atau dalam pergaulan-pergaulan ekslusif semisal geng, khususnya yang melibatkan tindakan negatif, menawarkan kasih yang palsu. Daftarnya menjadi sangat panjang jika kita juga membahas kasih yang palsu, yang disamakan dengan hubungan seksual.
Itulah mengapa di kesempatan Natal 2024 ini kita belajar mengenai kasih dan kebenaran Allah. Karena hanya itulah yang sejati di tengah banyak kepalsuan di dunia. Saya tidak mengerti berapa lama jemaat sudah menjadi seorang Kristen. Namun demikian kita juga kadang terdistraksi dengan konsep Natal yang lain. Maksud saya untuk beberapa orang Natal dilihat hanya sebagai, hari libur, atau suatu perayaan, dan jika melihat ke dalam gereja, natal bisa dilihat sekadar ritual. Yesus pernah menegur orang-orang yang menganggap ritual agamawi sebagai sesuatu yang terpuji. Matius 6:7.
Mari kita kembali ke 2Timotius 3:16, kita selidiki kasih dan kebenaran Allah melalui ayat tersebut. Rasul Paulus menuliskan bahwa segala tulisan (dalam Alkitab) itu ilhamnya/inspirasinya dari Allah. Itu berguna, bermanfaat, menguntungkan bagi kita karena segala tulisan tersebut mengajar, menegur, mengoreksi, dan mendidik. Semuanya itu didasarkan pada kebenaran Allah. Jika dibuat diagram kira-kira bentuknya seperti ini:

Kasih itu kita dapatkan di dalam keputusan Allah yang memberi ilham/inspirasi untuk kita dapat akses ribuan tahun kemudian dalam bentuk Alkitab yang adalah firman Allah. Saya tidak percaya seseorang mengasihi orang lain jika ia tidak memberi sesuatu. Seseorang bisa memberi tanpa kasih, tetapi tidak mungkin mengasihi tanpa memberi. Itu digenapi Allah dalam Yohanes 3:16.
Inspirasi Ilahi itu kemudian membentuk dan mengubah kita dalam bentuk:
- Pengajaran. Markus 1:27.
- Teguran. Amsal 15:32.
- Koreksi. Yohanes 8:11.
- Didikan. Titus 2:11-12.
Semuanya adalah kebenaran Ilahi yang mengubah cara berpikir dan cara bertindak kita. Berikut saya akan menyampaikan tentang 3 pertanyaan mendasar yang dapat menjadi fondasi teguh supaya kita tetap menjadi pengikut Kristus. Namun sebelum itu, biarlah kita membuka hati untuk mengakui dan memahami kasih Allah yang dinyatakan pada kita melalui kehadiran Yesus Kristus.

Leave a reply to FONDASI PENGIKUT KRISTUS – Jeff Minandar Cancel reply