KUASA KEBANGKITAN YESUS

Filipi 3:10-11.

Kebangkitan Yesus adalah bagian yang penting dalam iman Kristen karena menjadi dasar pengharapan akan masa depan orang-orang percaya. Kita tidak takut akan kematian bukan karena apa latar belakang kita, atau status sosial kita. Apalagi karena kita sedang di bawah pengaruh obat-obatan atau kuasa gelap. Tetapi kita berani karena kita memperoleh jaminan akan kebangkitan dari antara orang mati. Ayat 11. Jaminan ini kita dapat dari IA yang telah mengalahkan maut. 2Timotius 1:10.

Kuasa kebangkitan ini (Yun.: dunamis tes anastaseos) bukan kita dapatkan supaya kita dapat memegahkan diri secara manusiawi, seperti seseorang yang punya “ilmu kebal”. Tetapi kuasa ini adalah suatu pengalaman pribadi yang mengubahkan hidup (1Petrus 1:3), sehingga kita dapat menang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Ada dua tantangan besar yang kita hadapi sebagai seorang pengikut Yesus:

  1. Tantangan dalam hubungan interpersonal.

Setelah menjadi pengikut Kristus hubungan kita dengan sesama manusia berjalan selaras dengan apa yang Yesus inginkan. Jika kita melihat Hukum Terutama, maka sesama kita harus dikasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Matius 22:39. Sesama kita termasuk di dalamnya adalah:

  1. Orang tua. Posisi mereka sebagai “cara Tuhan” sehingga kita eksis di muka bumi. Karena itu diperintahkan untuk menghormati mereka. Keluaran 20:12, Efesus 6:2-3. Memang tidak semua kita memiliki orang tua yang ideal, tetapi bukan berarti kita tidak bisa menghormati mereka sebagai orang tua.
  2. Pimpinan di pelayanan atau di gereja. Tentu saja gereja belum ada yang sempurna, demikian juga orang-orang di dalamnya. Dalam Ibrani 13:17 kita diminta untuk menaati pemimpin-pemimpin rohani kita. Bagaimana kita mengetahui bahwa yang dimaksud adalah pemimpin-pemimpin rohani? Karena yang ditulis dalam Ayat 18. Penulis Ibrani dipercaya oleh para peneliti Alkitab memiliki otoritas untuk mengajar, itu mengapa Surat Ibrani bisa tersirkulasi di antara jemaat abad pertama.[1]
  3. Orang-orang signifikan di sekitar kita (Ing.: significant others), selain orang tua. Mereka adalah orang-orang memengaruhi kita, bagaimana kita berkembang secara emosional dan sosial. Kita mengasihi mereka tetapi Alkitab juga mengajar kita untuk dapat memilih “hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan”. Ibrani 12:14. Kita tidak bisa membiarkan hidup kita dipengaruhi dengan ketidakkudusan. Meskipun mereka orang terdekat kita, tetapi malahan membawa kita kepada seks bebas, prostitusi, judi atau kegiatan-kegiatan tidak kudus lain, kita harus bangkit dan keluar dari “lingkaran” tersebut.
  1. Tantangan pergumulan intrapersonal.

Dalam diri kita selalu ada konflik untuk melakukan sesuatu yang bernilai positif atau  yang negatif. Nilai-nilai moral yang dibangun berdasarkan konsensus sosial, tidak selamanya benar secara spiritual. Contoh paling jelas adalah ketika Saul mendapat tekanan sosial dan memilih untuk tidak menaati perintah Allah. 1Samuel 13:11-14. Hal-hal ini tidak mudah, tetapi kalau kuasa ilahi yang membangkitkan Yesus dari kematian ada pada kita, maka penderitaan-penderitaan kita ini hanya seketika saja. 1Petrus 1:3-6.

Saat kita percaya pada Tuhan Yesus Kristus, kita percaya ada kuasa yang kita terima dan menjamin masa depan kita. Kuasa itu nyata dalam peristiwa kebangkitan Kristus. Kuasa itu sudah diberikan, sekarang biar kuasa iitu menjamah, memulihkan, dan mengarahkan pada kehendak ilahi. Filipi 3:13-14.


[1] Nggadas, Deky Hidnas Yan, “Penulis atau Amanuensis Surat Ibrani? – Konsensus Origenes dalam Kesarjanaan Perjanjian Baru,” Jurnal Amanat Agung, Vol. 5, No. 1. 2009. Hal.63-64. Diunduh dari  https://ojs.sttaa.ac.id/index.php/JAA/article/download/589/445/?. Terakhir diakses 12 April 2026.

Leave a comment