Ulangan 6:5-7.
Dalam kehidupan manusia kita menempati peran masing-masing. Peran itu dijalankan untuk mencapai tujuan bersama. Itulah mengapa penting untuk mengetahui peran kita dalam kehidupan ini.
Alkitab mengajarkan bahwa laki-laki ditempatkan sebagai pemimpin untuk mengerjakan tugas ilahi. Kejadian 1:26. Itulah mengapa laki-laki memimpin, dan perempuan – yang sepadan dengan laki-laki – menolong. Kejadian 2:18. Sehingga laki-laki, atau pria, harus mengambil peran memimpin, contohnya begitu banyak dalam Alkitab.
Seperti semua pemimpin, mereka belajar dari pimpinan orang lain. Itulah mengapa ayat-ayat pertama yang kita baca menjadi pedoman bagi peran yang kita ambil sebagai pria.
- Allah adalah pemimpin kita (IA “kepala” yang kepadaNYA kita bertumbuh).
- Kita adalah “pemimpin-pemimpin” yang memperhatikan perintahNYA.
- “Anak-anak” kita menerima perintah yang diteruskan kepada generasi selanjutnya.
Salah satu perintah Allah dalam Perjanjian Baru adalah penjangkauan jiwa-jiwa. Rasul-rasul di awal pembentukan Gereja melakukan perintah itu. Kisah Para Rasul 2:41. Saya percaya hal yang sama tetap menjadi perintah yang harus dijalankan.
Jadi jadikan penjangkauan ini adalah target bersama kita. Ralph D. Winter pernah memperkenalkan tentang penjangkauan menurut “jarak budaya” seseorang dengan kita.[1] Secara singkat orang-orang dibagi menjadi:
- P-0 (Jaraknya nol), maksudnya orang yang seiman, satu gereja, satu budaya.
- P-1 (Jaraknya dekat), maksudnya orang yang satu budaya, satu bahasa, satu etnis.
- P-2 (Jaraknya moderat), maksudnya orang dengan budaya berbeda, meskipun satu rumpun, dimana perlu penyesuaian bahasa dan kebiasaan.
- P-3 (Jaraknya jauh bahkan terabaikan), maksudnya orang dari bangsa yang berbeda, agama berbeda, dan pengenalan kepada Gereja sangat sedikit bahkan tidak ada.
Penjangkauan sama seperti kita memiliki target dan progres dalam sisi kehidupan di luar gereja. Seorang tokoh lain bernama James F. Engel memberikan skala progres ini.[2]
A. Tahap Pra-Pertobatan (−8 s.d. −1)
−8: Tidak sadar akan Allah
−7: Sadar akan konsep Allah
−6: Pemahaman awal tentang Injil
−5: Memahami dasar-dasar Injil
−4: Mempertimbangkan implikasi pribadi
−3: Menyadari kebutuhan pribadi
−2: Mempertimbangkan respons
−1: Keputusan untuk percaya
B. Titik Nol (0) – Seorang murid “lahir”.
0: Pertobatan / iman kepada Kristus
C. Tahap Pasca-Pertobatan (+1 s.d. +5)
+1: Jaminan keselamatan
+2: Bergabung dalam persekutuan
+3: Pertumbuhan doktrinal
+4: Integrasi dalam pelayanan
+5: Reproduksi / bersaksi kepada orang lain
Progres ini bisa kita tanyakan kepada diri kita, orang-orang terdekat kita, dan orang yang akan kita jangkau. Sebenarnya selaras dengan ini adalah perintah Yesus yang terkenal itu. Kisah Para Rasul 1:8. Mari kita ambil peran dalam pelayanan, khususnya dalam penjangkauan jiwa-jiwa.
[1] Winter, R. D. (2009). The highest priority: Cross-cultural evangelism. In R. D. Winter & S. C. Hawthorne (Eds.), Perspectives on the World Christian movement: A reader (4th ed., pp. 531–546). William Carey Library.
[2] Engel, J. F. (1979). Contemporary Christian communications: Its theory and practice. Thomas Nelson, pp.45-53.

Leave a comment