Matius 12:46-50.
Saat kita membaca respons Yesus terhadap kedatangan ibu dan saudara-saudaraNYA apa yang pertama terlintas di pikiran kita? Jika kita berpikir negatif bahwa Yesus mengabaikan hubungan dalam keluarga “sedarah” maka mungkin kita terlalu cepat menginterpretasikan ayat-ayat ini. Sebenarnya apa yang Yesus lakukan bukan suatu tindakan mengabaikan, tetapi memakai kehadiran mereka untuk menegaskan pesanNYA tentang keutamaan dalam Kerajaan Allah, yaitu melakukan kehendak Bapa di Surga. Ayat 50, Matius 7:21.
Yesus menyampaikan bahwa Kerajaan Allah secara esensi ada di atas ikatan-ikatan keluarga dunia.[1] Hal ini selaras dengan beberapa pengajaran Yesus seperti di ayat-ayat berikut:
- Matius 10:37-39. Prioritas kasih kita dalam mengikuti Yesus.
- Lukas 9:59-62. Panggilan ilahi mengatasi urusan insani.
- Lukas 14:26. Kasih kepada Allah terutama dibanding ikatan duniawi.
Ayat-ayat ini bisa saja menjadi “alat” bagi orang-orang Kristen yang memiliki “masalah” dengan keluarganya. Tetapi yang Yesus maksudkan adalah prioritas ketika kita ingin menjadi pengikut Yesus yang sejati. Jemaat bisa melihat kembali penjelasan di khotbah Gembala tentang “Pengikut Yesus yang Sejati”.[2]
Allah adalah kasih (1Yohanes 4:8) dan perbuatan yang dimotivasi oleh kasih adalah sesuatu yang mulia (1Korintus 3:11-14). Sebaliknya, tanpa kasih perbuatan kita akhirnya menjadi sia-sia. 1Korintus 13:3. Demikian juga kasih kita kepada Allah dalam segala hal yang kita perbuat.
Kembali kepada makna keluarga di mata Yesus. Jika kita menjadi “keluarga ilahi” dengan “melakukan kehendak Bapa di Surga”, bukankah hal-hal berikat adalah kehendak Bapa?
- Menghormati ayah dan ibu, dan jangan melanggar perintah Allah demi adat istiadat. Matius 15:3-6.
- Meminum cawan (penderitaan) seperti yang Yesus juga minum. Matius 20:23.
- Supaya semua orang melihat Yesus (Allah Anak), percaya, beroleh hidup kekal dan mengalami kebangkitan di Akhir Zaman. Yohanes 6:40.
Jika demikian mengapa kita mengabaikan pelayanan kepada keluarga kita? Bukankah mereka layak dihormati dan dikasihi seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Mengapa kita yang sudah memperoleh keselamatan mengabaikan keselamatan keluarga kita?
Tentu saja tidak mudah, akan ada penolakan, penghinaan, penderitaan (baik secara psikis maupun secara fisik). Tetapi ketika kita mengingat perkataan Yesus: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Matius 26:42). Kita mengingat pengorbanannya yang tidak sebanding dengan penderitaan kita.
Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan di keluarga tertentu. Tetapi kalau Allah menaruh kita di keluarga kita sekarang. IA punya sebuah misi bagi kita, apa makna keluarga bagi kita?
[1] Larry Chouinard, The College Press NIV Commentary: Matthew. College Press, Missouri: 1997. Section K. Jesus True Family (12:46-50). Libronix.
[2] Dikhotbahkan pada 1 September 2024. Catatan khotbah: https://gpdimahanaim-tegal.org/pengikut-yesus/ dan video khotbah: https://youtu.be/HAhW1bkCMt0

Leave a comment