Mazmur 119:9.
Dalam kisah Perjanjian Baru ada keluarga yang disebut “Keluarga Kudus”. Mereka adalah Yusuf, Maria, dan Yesus. Kehidupan masing-masing nama tadi juga tercatat kudus. Matius 1:24-25, Lukas 4:34-35, Ibrani 4:15. Mungkin kita berargumen bahwa mereka hidup ribuan tahun lalu, sehingga mudah untuk mereka hidup kudus dibanding orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Tetapi sebenarnya kesalahan dan amoralitas yang tidak menunjukkan kekudusan sudah ada sejak zaman dulu. 1Korintus 6:9-10. Tetapi orang yang bisa menjaga kekudusan hidup adalah orang-orang yang memperhatikan pergaulannya.
Ada sebuah ayat di Perjanjian Baru (1Korintus 15:33) yang menjadi peringatan buat orang percaya tentang kesesatan yang berpotensi membuat kita menjadi orang-orang yang menyangkal Yesus dan Kabar Baik yang dibawaNYA. Kita bisa sesat jalan dan kehilangan yang baik. Itu terjadi jika kita tidak peduli dengan pergaulan yang buruk. Seperti jemaat di Korintus bisa disesatkan dengan orang-orang yang tidak percaya dengan gaya hidup amoral. Kita di zaman sekarang, bisa disesatkan oleh orang-orang di antara kita, dan juga orang-orang dunia yang membawa pergaulan buruk.
Pergaulan kita akan menentukan cara pikir dan pola pikir kita. Ini adalah konsep “ketertarikan – kesamaan” yang membuat seseorang membangun pertemanannya.[1] Jadi kalaupun awalnya ada perbedaan, lama kelamaan salah satu pihak akan menjadi sama dengan temannya. Jadi jika pertemanan itu buruk tentu saja kelamaan ada hal-hal yang buruk setidaknya masuk dalam cara pikir temannya.
Pertemanan yang baik seharusnya menghasilkan pertumbuhan. Setidaknya teman/kawan tersebut seperti Tikhikus bagi Paulus (Kolose 4:7), yang:
- menunjukkan kasih sebagai saudara,
- kesetiaan seorang yang mau melayani,
- dan sama-sama menjadi pelayan Tuhan.
Sayangnya kerap kali kita melihat orang (atau bahkan diri kita) terjebak dalam “toxic friendship” yang seringkali juga diakibatkan oleh hubungan tidak sehat dalam pengalaman masa kecil kita. Apakah karena kita secara konsisten mendapat perhatian yang tidak memuaskan, atau bahkan karena kita tidak merasakan perhatian sama sekali.[2] Untuk menghadapi orang-orang toxic dalam lingkungan pertemanan kita memang agak sedikit rumit, karena kita diajarkan untuk mengasihi, bukan? Matius 5:44-45.
Untuk mengatasi dilema ini adalah dengan menaruh pemahaman bahwa “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” seperti ayat yang sudah kita bahas. Kita harus sadar jika kita bisa jadi bebal ketika bergaul dengan orang bebal. Amsal 13:20. Tentu kita bukan ekstremis yang memusuhi semua yang tidak sejalan dengan kita. 1Korintus 5:9-10. Tetapi kalau kita dekat terus dengan teman/kawan yang “toxic” tentu saja cepat atau lambat, ada karakter-karakter “toxic” yang akan diadopsi secara tidak sengaja.
Dalam menghadapi sesat jalan dalam pertemanan kita perlu kuasa dari Roh Kudus. Ini adalah kuasa yang mampu mengubah dan menggerakkan seseorang untuk menjadi teladan. 1Timotius 4:12. Pertemanan bisa menjadi buruk, saat yang dilakukan adalah hal yang buruk. Misal ada peringatan tentang dosa seksual di Kolose 3:5-6. Demikian juga saat lingkungan pergaulan kita juga permisif dan memberi celah untuk itu. 1Korintus 5:6, 9-11. Ingat pandangan yang salah tentang seksualitas (yang informasinya sebagian besar salah dalam pertemanan) harus dibereskan dari muda. Jangan menunggu akan hilang sendiri setelah menikah, karena itu akan terus berlanjut.
Apa yang kita bisa simpulkan? Pengaruh dalam pertemanan sangat kuat. Namun kita bisa menyaring dan mematikan hal-hal yang salah, dengan kuasa (Roh) Allah. 2Korintus 10:4.
[1] “The Company They Keep: Friendships in Childhood and Adolescence,” Eds. William M. Bukowski, Andrew F. Newcomb, Willard W. Hartup, p.89.
[2] Ada 4 jenis gaya keterikatan/hubungan dalam keluarga kita: secured, disorganized, anxious-resistant, dan anxious-avoidance. Baca pembahasannya di buku berjudul: “Toxic Friendships: Knowing the Rules and Dealing with the Friends Who Break Them,” Suzanne Degges-White, Judy Pochel Van Tieghem, p.6-7.

Leave a comment