TERUS MENYALA

Roma 12:11.

Saat kita membahas mengenai komunitas rohani, Rasul Paulus memberi beberapa nasihat untuk Gereja Tuhan di Perjanjian Baru. Ada indikator-indikator yang dituliskannya mulai dari Roma 12:3-13:14. Salah satunya adalah untuk memiliki roh yang terus menyala-nyala.

Kalau kita perhatikan ada tiga bagian dari nasihat Paulus di ayat 11. Pertama, “kerajinan jemaat jangan kendor”, kedua “roh jemaat tetap menyala-nyala”, dan ketiga “jemaat melayani Tuhan”. Apa yang Paulus sebutkan pertama menunjukkan ancaman yang dapat terjadi kepada jemaat.

“Kerajinan yang kendor” dalam terjemahan lain dapat berarti “kehilangan antusiasme”. Tentu ini menjadi tantangan bagi setiap kita. Ketika kita mengerjakan sesuatu terus menerus, akan ada titik di mana kita jenuh. Untuk ini kita perlu suatu alasan yang mendorong kita untuk tetap melakukannya.

Manusia secara alami memiliki rentang usia saat performanya ada di titik tertinggi (the age of peak performance). Menurut suatu studi disebutkan rata-rata usia atlit dengan performa tertinggi di rentang usia 20-30 tahun.[1] Jika secara manusiawi performa itu pasti menurun, secara rohani kita bisa melihat dengan tujuan yang jelas kita bisa mencapai performa yang tetap. Yosua 14:6-14. Untuk ini dibutuhkan jiwa (roh) yang berbeda. Bilangan 14:24.  

Setelah memiliki roh yang menyala-nyala, Paulus tidak berhenti di situ. Namun jemaat diharapkan  juga untuk “melayani Tuhan”. Roma 12:11b. Jadi ini adalah hal yang seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai jemaat lokal. Saya berharap, para pemimpin di jemaat, seperti yang ditunjukkan Paulus di 2Tesalonika 1:11-12, mempersiapkan, supaya jemaat layak bagi panggilan Allah dan nama Allah dimuliakan dalam jemaat. Demikian juga tujuan akhirnya kita mendapat bagian dalam kemuliaan Ilahi. Mari kita lihat sejenak diagram “Pengharapan akan Kemuliaan”.

Saya ajak kita melihat ke konteks dari ayat yang kita sudah baca di dalam Roma 12:11. Paulus sedang menasihati jemaat di Roma bagaimana orang-orang percaya seharusnya memahami tentang hal-hal ini:

  1. Bahwa pelayanan kepada Allah yang benar, berbeda dengan pelayanan yang dunia ini kenal. Cara pandang mengenai pelayanan persembahan, dan dasar pemikirannya juga berbeda. Roma 12:1-3.
  2. Bahwa pelayanan adalah pekerjaan satu di antara banyak bagian yang lain, seperti fungsi tubuh manusia. Ayat 4-8.
  3. Bahwa pelayanan harus didasari oleh kasih yang tulus, khususnya pada sesama yang dapat kita lihat. Ayat 9-10.

Baru kemudian kita bertemu dengan nasihat untuk tidak mengendorkan kerajinan, karena hidup orang percaya adalah tentang pelayanan! Layanilah Tuhan, kata Paulus. Ayat 11.

Kita bisa melayani bukan saja pelayanan-pelayanan mimbar, tetapi juga pelayanan-pelayan non-mimbar. Seperti yang tertulis di Roma 12:4-8, jemaat juga punya karunia-karunia yang bisa disalurkan lewat pelayanan-pelayanan.

Ada beberapa contoh yang bisa dilakukan jemaat untuk melayani bersama, bahkan tanpa perlu jemaat punya keahlian khusus. Hal yang penting di sini adalah kemauan untuk terlibat dan mengambil bagian melayani, seperti kisah gadis dari negeri Israel di 2Raja-raja 5:1-4.

Untuk menutup khotbah kali ini saya mengajak jemaat untuk memiliki roh yang terus menyala dan terlibat melayani. Jika dana jemaat terbatas, berilah daya yaitu kekuatan kita. Kalau pun itu terbatas berilah doa yang terangkat di hadapan Tuhan untuk pekerjaan Tuhan. Sekarang, saat masih di dalam ruang ibadah, saya juga ingin mengajak jemaat melayani, dengan menyembah DIA, mendengar suaraNYA, seperti apa yang Maria lakukan di Lukas 10:39.


[1] Hirofumi Tanaka and Jean-François Toussaint, “Editorial: Growth, peaking, and aging of competitive athletes,” Frontiers in Physiology, vol. 14 (February 2023): 1-2. https://doi.org/10.3389/fphys.2023.1165223.

Leave a comment