UCAPAN SYUKUR

Matius 15:36.

Penggalan ayat yang kita baca adalah bagian dari kisah mukjizat ilahi yang Yesus kerjakan dalam pelayananNYA. Menariknya pelipatgandaan makanan yang memuaskan orang banyak ini bukan yang pertama kali. Kita bisa melihat kisah Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki di Matius 14:19-21. Jika kita ambil perbandingan dua kisah tersebut, kita bisa dapatkan pelipatgandaan yang lebih besar terjadi saat yang tersedia lebih sedikit!

Tapi fokus kita hari ini adalah pada ucapan syukur. Kita berusaha menggali apa manfaat dari ucapan syukur dalam keseharian kita sebagai pengikut Yesus Kristus.

PERTAMA, ucapan syukur memberikan rasa puas. Saya percaya kita semua menginginkan kepuasan dalam hidup. Baik secara jasmani, jiwani, maupun rohani. Kepuasan biasanya dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan seseorang.

Banyak dari kita tentu familiar dengan yang disebut Hierarki Maslow. Ini adalah 5 tingkatan kebutuhan seorang manusia. Meskipun ada beberapa kritik yang diajukan hubungannya dengan perubahan situasi, kebudayaan, dan subjektivitas manusia. Tetapi teori ini masih banyak dipakai dan relevan dengan situasi manusia.

Menurut Maslow ada 5 tingkatan kebutuhan manusia, dari yang paling mendasar, sampai yang paling tinggi.

  1. Kebutuhan fisiologis, seperti sandang, pangan, papan.
  2. Kebutuhan akan rasa aman, seperti mencari tempat di mana seseorang bisa terlindung dari rasa takut.
  3. Kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, seperti dalam pertemanan, keluarga, dan pasangan.
  4. Kebutuhan penghargaan, seperti perasaan dihargai dan perasaan baik terhadap diri sendiri (percaya diri).
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, di mana kebutuhan seseorang terpenuhi dan potensi dirinya dikembangkan sesuai dengan yang dijalaninya.

Semua kebutuhan di atas akan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi hikmat dari Allah melalui ucapan syukur akan membantu kita puas dalam hidup. 1Timotius 6:7-8.  Dibandingkan dorongan alamiah (dari dunia) yang tidak pernah puas. 1Yohanes 2:19.

KEDUA, ucapan syukur menghindarkan dari pemikiran yang negatif. Bangsa Israel menjadi contoh bagaimana orang-orang yang tidak pernah mengucap syukur. Bilangan 11:4-6. Saat ucapan syukur hilang dalam hidup, yang muncul adalah membanding-bandingkan. Ini adalah penyakit manusia, sejak awalnya. Kejadian 4:4-5. Sering bukan mengevaluasi diri dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik, manusia malah menyalahkan keadaan, atau yang sering dipakai istilah “mentalitas korban”.

Jika yang pertama dan kedua erat hubungan dengan bagaimana kita bersyukur ata apa yang Tuhan sudah beri. Poin ketiga dan keempat berkaitan dengan kebijaksanaan pengelolaan (termasuk keuangan) dari apa yang Tuhan sudah beri. Saat kita bersyukur dan mengelola keuangan dengan baik kita juga melihat manfaat dalam hidup.

KETIGA, ucapan syukur dan pengelolaan pemberian dari Tuhan akan menyenangkan Tuhan dan sesama. Kita tentu ingat kisah dari bangsa Israel yang diberi label “penipu”. Maleakhi 3:8-9. Saat kita tidak menyadari bahwa yang kita dapat itu berasal dari Tuhan, kita sebenarnya menipu Tuhan dan menipu diri sendiri. Kalau kita kembali pada teladan dari Perjanjian Baru pengelolaan keuangan yang benar dapat diberikan untuk kebutuhan orang banyak, seperti yang dilakukan perwira Romawi yang dipuji Yesus. Lukas 7:1-10.

KEEMPAT, ucapan syukur dan pengelolaan pemberian dari Tuhan menjadikan kita hamba Tuhan yang baik. Kisah perumpamaan mengenai talenta dalam Matius 25:14-30 selalu menjadi pengingat bagi kita. Bahwa yang banyak diberi, akan banyak dituntut. Lukas 12:48b.

Tidak ada hitungan eksak mengenai persentase keuangan seseorang. Tentu saja beberapa orang menghitung 10% adalah untuk Tuhan untuk mendapat janji yang ditulis di Maleakhi 3:10. Namun sebenarnya di zaman kasih karunia ini pemberian itu didasarkan pada seberapa besar kita merasakan kasih Tuhan. Ingat kisah janda misikin (Markus 12:42-44), kisah Zakheus (Lukas 19:8-9) dan Maria (Yohanes 12:3-8), Yesus tidak mencela pemberian mereka karena mereka memberi dari hati yang mengasihi.

Leave a comment