Mazmur 57:6.
Dua kata ini, “konflik” dan “pujian” sepertinya tidak ada hubungannya. Karena secara natural saat Anda ada dalam konflik baik internal maupun eksternal, yang terlintas pertama di pikiran kita adalah keluhan. Hal ini juga sebenarnya tergambar di Mazmur Daud khususnya sepanjang pasal 57. Mari kita baca dari awal.
Ayat pertama menjelaskan kepada kita konteks penulisan mazmur ini, untuk kisah lengkapnya Anda bisa membaca di 1Samuel 22:1, 24:4. Lanjut ke ayat kedua Daud meminta belas kasihan, karena ia merasa hanya Allah sumber perlindungannya di tengah konflik eksternal yang ia hadapi. Pada kesempatan lain saya pernah menjelaskan bahwa konflik adalah situasi ketika ada kekuatan yang saling bertentangan.
Seseorang yang menghadapi konflik eksternal biasanya mengatasi dengan strategi seperti berikut ini:
- Penghindaran: Daud menghindari konfrontasi langsung. Daud memilih untuk tidak melawan Saul secara langsung meskipun dia memiliki kesempatan untuk melakukannya. Sebagai contoh, ketika Daud menemukan Saul tidur di gua, dia hanya memotong ujung jubah Saul sebagai bukti bahwa dia bisa membunuhnya tetapi memilih untuk tidak melakukannya (1 Samuel 24:4-7).
- Kompetisi: Kita melihat strategi ini dalam pertarungan Daud dengan Goliat. 1Samuel 17:41-47. Daud menggunakan strategi kompetitif ketika menghadapi Goliat. Dengan keberanian dan kepercayaan diri, ia mengalahkan Goliat menggunakan ketapel dan batu, meskipun Goliat jauh lebih besar dan lebih berpengalaman dalam pertempuran. Daud menghadapi konflik ini secara langsung, dan membuktikan diri lebih baik dari lawannya, bukan semata-mata karena keahlian dan pengalamannya (meskipun itu dimilikinya), tetapi lebih dari itu karena nama Tuhan.
- Kolaborasi: Hal ini serupa dengan stategi negosiasi, untuk menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak. Dalam contoh Daud kita bisa melihat ia melakukan ini saat ia mengalami konflik dengan Keluarga mendiang Saul. 2Samuel 3:1. Daud saat itu sudah diurapi menjadi Raja Yehuda. 2Samuel 2:4-11. Strategi ini membutuhkan komunikasi terbuka dan saling menghormati. 2Samuel 3:12-13, 19.
Sebenarnya masih ada strategi penyelesaian konflik eksternal lain misalnya dengan mediasi, dimana ada pihak ketiga yang membantu untuk menyelesaikan konflik. Atau juga dengan arbitrase, dimana pihak ketiga yang dilibatkan dalam konflik memiliki wewenang untuk mengambil keputusan yang mengikat. Tetapi saya tidak akan menjelaskan lebih jauh mengenai hal ini, karena kita akan kembali ke konteks konflik yang dihadapi Daud sampai ia menulis Mazmur 57.
Selain bergumul dengan konflik eksternal, sebenarnya di saat yang sama Daud menghadapi konflik internal di dalam dirinya. Hal ini wajar terjadi, karena memang manusia tidak bisa sepenuhnya memisahkan apa yang terjadi di luar diri, dengan apa yang terjadi di dalam dirinya.
Saya tidak akan menjelaskan jenis-jenis konflik internal, Anda bisa mendengarkan atau membaca kembali khotbah berjudul “Bagaimana Menangani Konflik”. Saya akan menjelaskan sekilas tentang 3 strategi penanganan konflik internal yang bisa dilakukan. Tiga strategi itu adalah: refleksi diri, identifikasi pemicu, dan dengan menetapkan prioritas.
Daud terlibat dalam konflik internal di konteks Mazmur 57:1. Konflik kepentingan yang begitu kompleks dihadapi Daud. Dia adalah menantu Saul, tetapi juga anak buah Saul yang adalah pimpinan tertinggi di Israel. Daud sadar betul Saul diurapi Tuhan saat naik takhta, tetapi niat jahat Saul begitu luar biasa untuk melihat Daud binasa.
Untuk meredakan pertentangan ide di dalam dirinya, kita melihat Daud melakukan:
- Refleksi diri: Daud mengakui kelemahannya dan ia memohon belas kasih Allah. Ia begitu membutuhkan Allah, ia menggambarkan dirinya berlindung di Bawah naungan sayap Allah sampai bahaya berlalu. Mazmur 57:2. Meskipun ia punya kesempatan dan kekuatan, ia percaya Allah yang dapat menyelesaikan ancaman yang dihadapinya, dan menyelamatkannya. Ayat 3-4. Ia bahkan memuji Allah karena kemuliaanNYA mengatasi seluruh bumi. Ayat 6.
- Identifikasi pemicu: Konflik ini tidak tiba-tiba muncul. Daud melihat ada ancaman yang datang seperti singa. Ayat 5. Ancaman ini menekan jiwa Daud karena ia tahu rencana jahat yang disiapkan bagi dirinya. Ayat 7. Saat di tengah konflik Daud tetap bertekad untuk memuji Allah, ia menyiapkan hati dan diri untuk menyanyi bagi Allah. Ayat 8. Ia berkomitmen untuk tidak membiarkan jiwanya jatuh dalam jurang depresi, ia mau bangun dan bermusik bagi Tuhan. Ayat 9. Pemicu konflik seringkali adalah kehilangan iman dan tujuan hidup. Tapi saat Anda memutuskan untuk memuji Allah konflik itu tidak serta merta hilang. Namun membuat fokus Anda bukan pada betapa malang keadaan Anda, tetapi pada kekuatan Allah. Kisah Para Rasul 16:24-26.
- Menetapkan prioritas: Dalam konflik prioritas kita seringkali adalah kepentingan diri sendiri. Mazmur 57 memperlihatkan kepada kita mengenai hal ini. Ayat 2. Daud melihat bahwa dirinya perlu dikasihani. Tetapi lihat pergeseran prioritas itu di ayat 8-9, lalu di ayat 10-12. Daud sadar ada banyak hal yang bisa disyukuri. Ia mengalihkan prioritas dari mengasihani diri, ke memuji Allah. Ini yang membuatnya bisa mengambil keputusan tegas dan jelas. Kita pun bisa menetapkan prioritas dengan berpegang pada Hukum Allah. Ingat apa yang dikatakan Yesus di Markus 12:29-31.
Yesus tidak secara spesifik menyanyikan pujian dalam menghadapi konflik. Tetapi di masa pra-Paskah, tidak lama sebelum disalibkan, IA dan murid-muridNYA tercatat menaikkan pujian. Markus 14:26. Yesus selalu memberi teladan untuk mengandalkan Tuhan dan mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Matius 14:19. Khususnya sebelum IA ditangkap yang dicatat di Matius 26:39.
Sebuah lagu mengingatkan saya akan bagaimana pujian kepada Tuhan adalah pilihan yang kita pilih, bahkan di tengah konflik eksternal maupun internal. Saya akan membacakan liriknya seperti sebuah puisi, dan nanti akan dinyanyikan rekan pemuji diiringi alunan musik.
***
Jamahlah hati yang pengecut ini
Peganglah tangan yang najis ini
Basuhlah aku dalam Cinta-MU
Lawatku dengan kasih karuniaMU lagi
Bahkan ketika kekuatanku hilang
Aku akan memujimu
Bahkan ketika aku kehabisan lagu
Aku akan memujimu
Bahkan ketika sulit untuk menemukan kata-kata
Lebih nyaring aku akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Angkatlah beban yang menggunung ini
Hapuslah lautan air mata ini
Dukung aku melalui berbagai cobaan
Lawatku dengan harapan baru
Bahkan saat aku tampaknya kalah
Aku akan memujimu
Bahkan ketika itu begitu menyakitkan
Aku akan memujimu
Bahkan ketika tidak masuk akal untuk bernyanyi
Lebih nyaring aku akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Dan hatiku menyala-nyala hanya bagiMU
Engkau, hanya KAU semua yang kuinginkan
Dan jiwaku menanti hanya untukMU
Dan aku akan bernyanyi sampai fajar tiba
Tuhanku, hatiku menyala-nyala hanya bagiMU
Engkau, hanya KAU semua yang kuinginkan
Dan jiwaku menanti hanya untukMU
Dan aku akan bernyanyi sampai mukjizat nyata
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
Bahkan ketika pagi merekah
Aku akan tetap memujimu
Bahkan saat kemenangan di tangan
Aku akan tetap memujimu
Bahkan ketika waktuku di bumi berakhir
Lebih nyaring aku akan memujiMU
Aku hanya akan memujiMU
***

Leave a comment