Purity

Mazmur 73:1.

Ketulusan dan kebersihan hati adalah gambaran kemurnian hati seseorang, dan Allah menyediakan menunjukkan kebaikan atas orang tersebut. Menariknya dalam terjemahan New English Translation (NET) disebutkan bahwa kemurnian hati itu diukur dari motivasi hati seseorang. Motivasi hati seseorang tentu saja tidak terlihat. Tetapi sebenarnya seseorang punya pengingat bahwa motivasi hatinya tidak murni (impure). 2Samuel 24:10.

Tanpa kemurnian hati seseorang tidak bisa teguh dan kuat di dalam Tuhan. Hal ini disebabkan oleh nilai-nilai Ilahi tercampur dengan nilai-nilai manusiawi. Rasul Paulus memakai istilah “keinginan Roh” dan “keinginan daging”. Galatia 5:17. Sehingga keduanya tidak bisa bercampur.

Ingatlah gambaran yang dilihat Nebukadnezar dan kemudian diterjemahkan oleh Daniel. Daniel 2:32-34. Kita melihat ada gambaran penurunan kualitas. Patung yang kepalanya emas, tetapi kaki (yang menopang patung tersebut) dari campuran besi dan tanah liat. Meskipun penglihatan ini punya interpretasi yang beragam. Tetapi setidaknya kita belajar bahwa sesuatu yang dicampur tidak akan memiliki kualitas dan kekuatan dibanding yang murni.

Dengan pemahaman tersebut kita belajar membandingkan apa yang Alkitab tuliskan dengan kenyataan hidup yang kita amati sehari-hari. Saya ingin membawa kita belajar dari Sejarah Alkitab yang dituliskan secara singkat oleh Rasul Paulus dalam 1Korintus 10:1-12. Mempelajari hal ini mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari empat hal jahat yang bisa merusak kemurnian kita.  

Kita akan belajar ayat per ayat tulisan Paulus ini:

1Korintus 10:1-5. Pada ayat-ayat ini kita melihat Allah menunjukkan anugerahNYA kepada Israel. Namun demikian anugerah itu perlu tindak lanjut. Tanpa respons yang benar maka kita akan menyia-nyiakannya dengan hidup tidak berkenan. Ingat peringatan Paulus juga di Roma 6:1-2. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen kita sadar betul bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dan bukan hasil pekerjaan kita. Jangan mempermainkan anugerah Allah dan mencampurnya dengan pemahaman yang salah. Anugerah diberikan bukan berarti ketiadaan konsekuensi.

1Korintus 10:6. Belajar dari Sejarah memberi kita pelajaran, contoh, dan memperingatkan kita supaya tidak mencemari diri kita dengan hal-hal yang jahat.

1Korintus 10:7. Hal jahat #1: Menyembah berhala. Referensi: Keluaran 32:4, 6, 19.

Observasi masa kini:

  • Kegiatan manusia mencari sukacita dalam hal-hal yang sementara.
  • Menggantikan proses Tuhan dengan yang instan dari manusia.

    1Korintus 10:8. Hal jahat #2: Melakukan percabulan. Referensi: Bilangan 25:1-9.

    Observasi masa kini:

    • Kegiatan seksual yang menyimpang.
    • Rela meninggalkan Tuhan demi pasangan.

    1Korintus 10:9. Hal jahat #3: Mencobai Tuhan. Referensi: Bilangan 21:5-6.

    Observasi masa kini:

    • Mempertanyakan otoritas Allah sebagai Tuhan.
    • Merasa muak dengan hal-hal ilahi.

    1Korintus 10:10. Hal jahat #4: Bersungut-sungut. Referensi: Bilangan 16:19-49.

    Observasi masa kini:

    • Melawan hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran dari Allah.
    • Menuduh Tuhan berlaku tidak adil.

    1Korintus 10:11-12. Sekali ini peringatan bagi kita yang hidup di zaman akhir, karena apa yang terjadi sekarang, adalah hal-hal yang sama tercatat ribuan tahun lalu. Jadi kalau sekarang kita merasa teguh, padahal kita hidup cemar, kita harus hati-hati.

    Jadi keempat hal ini adalah sesuatu yang terjadi di sekitar kita, bahkan bisa saja terjadi di lingkungan gereja. Mari kita kembali memeriksa hati kita. Ada contoh dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru supaya kita bisa meneladani sikap mereka untuk menjaga kemurnian:

    1. Yusuf. Kejadian 39:21. Kasih setia Allah menyertai orang yang murni hatinya. Ini bukan berarti membuat kita bebas tantangan. Tetapi di tengah tantangan ada tangan Tuhan terulur, mengirimkan orang-orang yang peduli dan membantu kita.
    2. Jemaat Sardis. Wahyu 3:4-5. Mereka hidup di tengah kesulitan tetapi mereka tetap menjaga diri. Karena banyak orang Kristen menjadi puas dengan kehidupan mereka sekarang. Sehingga mereka mulai hidup keluar dari ajaran yang Alkitabiah. Tidak mudah untuk memiliki kemurnian hati. Tetapi dengan itu kita akan tetap teguh, kuat, dan mendapat kemuliaan Surgawi pada akhirnya.

    Leave a comment