Kolose 1:21-22.
Saya sering menyampaikan bahwa kerinduan untuk terhubung kembali dengan Tuhan muncul dikarenakan ada sesuatu yang terputus (Ing.: disconnect). Hal ini terjadi kepada semua manusia, tidak peduli status, suku, ras, atau posisi geografisnya. Ada yang menyebut manusia menyadari kekosongan dalam hidupnya, namun ruang kosong Rohani itu hanya bisa diisi oleh Tuhan.
Namun sebelum kita membahas lebih jauh mengenai hal ini, mari kita melihat lini masa (Ing.: timeline) dari kehidupan Kristen. Saya juga sering menyampaikan ini di banyak kesempatan, bahwa perjalanan hidup seorang Kristen secara sederhana terdiri atas 5 titik: Kemuliaan – Dosa – Yesus – Gereja – Kemuliaan (K-D-Y-G-K; atau dalam Bahasa Inggris G-S-J-C-G: Glory – Sin – Jesus – Church – Glory). Kelimanya bisa juga dipakai untuk menerangkan secara singkat kepada orang di luar Kristus tentang iman Kristen.
Poin kedua dan ketiga adalah poin yang memicu lahirnya Paskah (Ibr.: pesakh, Ing.: passover). Secara arti kata kita bisa menerjemahkannya: “untuk melewati”.[1] Maksudnya kebinasaan harusnya melawat suatu tempat/rumah, tetapi kasih karunia meluputkan tempat tersebut. Sehingga kebinasaan “melewati” rumah tersebut. Dengan pemahaman ini kita sadar bahwa Paskah bukan sekadar nama kegiatan yang kita rutin lakukan setiap tahun.
Tindakan yang penuh dengan kasih karunia inilah yang berusaha dijelaskan Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Mari kita melihat kembali ayat yang sudah kita baca di awal. Dalam Kolose 1:21 kita melihat bahwa manusia berjalan dalam hidup yang berujung pada kebinasaan karena:
- Hidup jauh dari Allah.
- Memusuhi Allah dalam hati dan pikiran.
- Menghasilkan perbuatan-perbuatan yang jahat.
Dari ketiga hal tersebut kita semakin yakin bahwa tidak mungkin seseorang dapat lepas dari kebinasaan. Hubungan kita dengan Allah terputus! Syukur kepada Allah yang berinisiatif untuk “memperdamaikan” sehingga hubungan yang putus dapat dipulihkan. Ayat 22a.
Dahulu manusia berseteru dengan Allah (Roma 5:10), putus hubungan, dan tidak bisa membangun “jembatan” dengan usaha sendiri untuk memulihkan hubungan tersebut. Pada posisi inilah manusia membutuhkan karunia ilahi yang dinyatakan dalam firman (Allah) yang menjadi manusia (Yohanes 1:14), inilah tubuh jasmani Kristus. IA membangun jembatan antara Allah dengan manusia dengan melakukan tindakan penebusan (kematianNYA di kayu salib). Ini harga yang mahal ditanggung Yesus bagi manusia. 1Petrus 1:18-19.
Semua hal yang Yesus lakukan, yaitu menghubungkan kembali manusia dengan Allah, bukan dengan tanpa tujuan. Tujuannya jelas disampaikan di Kolose 1:22c, menjadikan manusia “sempurna” di hadapan Tuhan. Hal ini sudah juga Yesus sampaikan ketika mengajar murid-muridNYA untuk “menjadi sempurna seperti Bapa di Surga”. Matius 5:48.
Kesempurnaan yang dimaksud adalah menempatkan pengikut Kristus dalam posisi:
- Kudus.
- Tak bercela.
- Tak bercacat.
Ini adalah kondisi manusia pada mulanya (Ibr.: bereshit).[2] Ciptaan yang mulia, serupa dengan Allah, dan memiliki hubungan erat denganNYA. Kondisi inilah yang hancur oleh karena dosa. Namun Yesus hadir untuk menjadikan kita manusia baru. Efesus 4:23-24. Kita melihat di ayat 23 yang diperbarui adalah “roh dan pikiran”.
Dari sini kita sadar bahwa ini bukan semata-mata hal-hal fisik. Tetapi roh kita yang akan terhubung dengan Tuhan setelah kita diselamatkan oleh karya penebusan Yesus. Yesus pernah berkata bahwa Allah adalah Roh (Yohanes 4:24), kita terhubung denganNYA saat menyembah dalam roh dan kebenaran. Ayat 23.
Kebenarannya bahwa terhubung kembali dengan Allah bukan tentang ritual agamawi yang penuh ikatan, atau hidup dalam dosa yang memperhamba manusia. Tetapi ini tentang pengalaman kebebasan di dalam Yesus. Yohanes 8:36, 2Korintus 3:17. Namun kita harus sadar kebebasan yang kita terima bukan untuk hidup sembarangan dan kembali berbuat dosa. Hidup kita adalah hidup sebagai pelayan yang menunjukkan kasih Allah. Galatia 5:13. Mari kita menerima Yesus dan kembali terhubung dengan Allah.
[1] Chabad eds., “What Is Passover (Pesach)?” https://www.chabad.org/holidays/passover/pesach_cdo/aid/871715/jewish/What-Is-Passover-Pesach.htm. Terakhir diakses pada 16 Maret 2024.
[2] Avital Snow, “Where Do I Begin: The Hebrew Meaning of Bereshit” https://firmisrael.org/learn/where-do-i-begin-the-hebrew-meaning-of-bereshit/. Terakhir diakses pada 16 Maret 2024.

Leave a comment