Markus 16:15.
Tentang “memberitakan Injil” adalah pesan Yesus kepada sebelas rasul sesudah kebangkitanNYA. Yesus berkali-kali menyuruh orang menyampaikan tentang Kerajaan Surga (Matius 10:7) atau Kerajaan Allah (Lukas 9:60). Demikian juga dengan Paulus yang menyuruh Timotius dan Titus untuk masing-masing memberitakan firman (2Timotius 4:2) dan ajaran yang sehat (Titus 2:1).
Gembala sudah pernah menyampaikan tentang kesempatan yang kita miliki dalam hidup ini, sebelum Tuhan Yesus datang kedua kali, atau sebelum kita meninggalkan tubuh yang fana ini dalam kematian fisik. Karena tidak semua dari kita akan mati dalam 50 tahun dari sekarang bukan? Berdasarkan data demografi jemaat yang dilakukan Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) GPdI Mahanaim atas seluruh jemaat yang terdaftar per tahun 2021, kita bisa lihat sebaran kelompok usia di Mahanaim dari data grafik di bawah ini:

Kami tentu saja berharap jemaat termotivasi dengan data ini untuk melayani Tuhan lebih lagi di gereja lokal. Karena kita punya tujuan yang lebih tinggi dari sekadar rutin datang ke gereja. Ada generasi muda yang perlu kita menangkan, dan ada potensi-potensi dari generasi yang sudah lebih senior yang harus dikeluarkan sebelum semua itu terkubur di kuburan. Seorang pendeta dan motivator bernama Myles Munroe pernah berkata: “The wealthiest place on earth is not far from our houses, it is down at the cemetery.”[1] Hal yang sama dikutip oleh motivator terkenal lain bernama Les Brown.[2] Pernyataan ini bisa jadi terinspirasi dari Pengkhotbah 9:10.
Kalau kita masih hidup sampai dengan hari ini, itu berarti Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk memberitakan kabar baik bagi orang lain. Apakah hal ini sesuatu yang kita syukuri atau kita ratapi? Jika melihat diagram ringkasan perjalanan hidup kekristenan (Kemuliaan – Dosa – Yesus – Gereja – Kemuliaan), kita seharusnya bersyukur, karena setidaknya kita bisa menjawab 5 pertanyaan besar kehidupan, yang juga disampaikan Myles Munroe, pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas, warisan, alasan, potensi, dan tujuan. Kita ingin mengisi masa-masa kita ada dalam anugerah Tuhan Yesus Kristus, ketika kita ada dalam GerejaNYA yang disempurnakan, dengan segenap potensi yang kita punya untuk mengabarkan tentang DIA kepada orang lain.
Mungkin saja ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti yang akan dijelaskan di bagian berikut:
“Apa kemampuan yang dibutuhkan untuk memberitakan Injil?”
Q1
Dalam segala aktivitas kita membutuhkan kemampuan yang mendukung untuk melakukan aktivitas itu. Tetapi menariknya ada dua contoh dalam Alkitab yang menceritakan pemberitaan kabar tentang Yesus namun dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya “kemampuan khusus menginjil”. Contoh pertama kisahnya ada di Lukas 8:38-39, dan contoh kedua kisahnya ada di Yohanes 4:28-29, 39. Dari dua contoh ini kita melihat bahwa penginjilan bukan tentang “kemampuan khusus”, mereka punya kemampuan berbicara tentunya, namun dasarnya adalah pengalaman pribadi dan kerinduan berbagi.
“Kapan kita bisa mulai memberitakan Injil?”
Q2
Dalam banyak hal, waktu yang tepat menentukan sesuatu akan menjadi baik. Mari kita melihat kembali data grafik demografi usia jemaat. Menurut jemaat kapan usia terbaik untuk seseorang menyiapkan diri menjadi atlet professional? Kapan usia terbaik seseorang menikah? Kapan usia terbaik seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Saya ingin tunjukkan sedikit mengenai teori perkembangan psikososial manusia.[3] Seorang psikolog bernama Erik Erikson menyusunnya sebagai berikut:
- Trust versus Mistrust (0 – 1,5 tahun). Masa bayi.
- Autonomy versus Shame & doubt (1,5 – 3 tahun). Masa kanak-kanak awal.
- Initiative versus Guilt (3 – 6 tahun). Masa kanak-kanak akhir.
- Industry versus Inferiority (6 – 12 tahun). Masa sekolah.
- Identity versus Role confusion (12 – 20 tahun). Masa remaja.
- Intimacy versus Isolation (20 – 30 tahun). Masa dewasa muda.
- Generativity versus Stagnation (30 – 65 tahun). Masa dewasa.
- Ego integrity versus Despair (65 tahun – meninggal). Masa senja.
Kita membaca dalam Alkitab Yesus melayani kepada mereka yang masih kanak-kanak (Matius 19:13-15), menariknya Yesus juga belajar tentang Bapa di Surga dari masa kanak-kanaknya (Lukas 2:49). Bahkan kita melihat mereka yang berusia kanak-kanak melayani dengan pemberian (Yohanes 6:8-9) dan pujian (Matius 21:15-16). Mulai dari sedini mungkin, tetapi jangan juga khawatir dengan kondisi usia sekarang, maksimalkan potensi kita.
“Siapa yang boleh memberitakan Injil?”
Q3
Kualifikasi bisa jadi menentukan hasil, tetapi menariknya Allah tidak melihat kualifikasi seseorang saat mereka berurusan dengan kabar baik. Kita lihat di Lukas 8:38-39 yang menginjil adalah seorang gila yang kerasukan roh jahat. Bahkan di Yohanes 4:28-29, 39 yang menginjil adalah seseorang yang melakukan zina. Hidup mereka yang diubahkan menjadikan mereka alat Tuhan yang luar biasa.
Jika kita menghadapi meja Perjamuan Tuhan, kita selalu diingatkan mengenai tugas kita untuk menginjil, dengan perkataan, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” 1Korintus 11:26. Bukankah kematian Yesus adalah Injil itu, kabar baik keselamatan bagi semua usia? Maukah kita mengambil kesempatan dalam hidup kita di dunia, untuk menginjil?
[1] The Greatest Tragedy in life is not death by Myles Munroe (Christian Goals Channel) https://www.youtube.com/watch?v=o4onJ8jk5u8
[2] The Wealthiest Place is the graveyard – Les Brown (Cullen P. Haynes Channel) https://www.youtube.com/watch?v=z_Ii87MjcRU
[3] Elaine Polan and Daphne Taylor, Journey Across the Life Span – Human Development and Health Promotion, 7th Edition (Philadelphia: F.A. Davis Company, 2023), Ch.5 – Psychosocial Theory. Google Books.

Leave a comment