ENCOUNTERING GOD IN THE FAMILY

Imamat 26:12.

Setelah membaca ayat ini, kita diingatkan bahwa kerinduan Allah adalah berada di tengah-tengah manusia ciptaanNYA. Seharusnya ini pun menjadi kerinduan kita, bahwa Allah ada di tengah-tengah kita. Namun seringkali kesalahan dan ketidaktahuan kita membuat seolah-olah kita tidak ingin IA hadir di tengah kita. Tentu ini jangan sampai kita genapi dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita.

Dengan mengetahui bahwa kerinduan Allah adalah berada di tengah-tengah umatNYA, membuat kita mengerti kehadiran Yesus, Sang Imanuel (Matius 1:23), di bumi adalah bukti nyata dari kerinduan itu. Menariknya kerinduan Allah ini selalu melibatkan lembaga yang disebut keluarga.

Keluarga adalah bagian dari rencana Allah, kita bisa melihat ini dalam kisah Adam-Hawa di kitab Kejadian, sampai dengan kisah Kristus-MempelaiNYA di kitab Wahyu. Kalau kita sejenak melihat ke diagram perjalanan kehidupan orang percaya yang disederhanakan menjadi 5 bagian: Kemuliaan – Dosa – Yesus – Gereja – Kemuliaan. Maka kita melihat sebelum pengorbanan Yesus di kayu salib, sentral iman percaya kita, ada peristiwa Natal. Kembali lagi kita melihat bahwa Allah memakai keluarga (Maria & Yusuf) untuk peristiwa luar biasa ini.

Sehingga tidak berlebihan jika kita menyimpulkan ada peran penting keluarga dalam rencana Allah. Tentunya kita ingin keluarga kita ada di dalam rencana Allah. Namun kita harus sadar untuk terlibat dalam rencana Allah diperlukan ketaatan. 1Petrus 1:2. Hal ini tidak bisa ditawar jika kita juga ingin berjumpa dengan Allah dalam keluarga kita. Yesus sendiri menunjukkan teladan ketaatan dalam keluarga Maria dan Yusuf. Lukas 2:51a.

Kita sudah melihat posisi penting keluarga dalam rencana Allah dan hal ini membawa kita kepada pertanyaan keluarga yang seperti apa, yang membawa kita kepada perjumpaan dengan Allah?  Keluarga itu bisa merupakan keluarga jasmani, seperti yang kita lihat pada keluarga Maria dan Yusuf. Saya sering menyampaikan saat membahas topik “Misi Kita di Dunia” tentang peran Maria & Yusuf dalam kehidupan Yesus. Saya tidak akan membahasnya kali ini, silakan cari artikel tersebut baik di jeffminandar.com atau di gpdimahanaim-tegal.org.

Namun saya ingin melihat contoh keluarga yang mengalami perjumpaan dengan Allah, dimana mereka harus menunjukkan ketaatan meski di tengah guncangan iman. Keluarga itu adalah Keluarga Yairus yang kisahnya tercatat di Markus 5:21-24, 35-43. Mereka harus mengalami guncangan penyakit (yang tentunya mereka tidak harapkan), kematian (karena Sang Pengharapan mereka tidak kunjung datang terhambat orang banyak, termasuk oleh perempuan yang sakit pendarahan), dan menghadapi orang-orang terdekat yang pesimis.

Apa yang mereka hadapi saya rasa kurang lebih sama dengan ketaatan Maria dan Yusuf. Mulai dari saat mereka menerima panggilan untuk menjadi instrumen Allah bagi lahirnya Yesus. Sampai saat mereka harus mengungsi dari Betlehem ke Mesir, lalu kembali menetap di Nazaret. Matius 1:18-24, 2:13-15, 19-23.

Keluarga yang membawa kita pada perjumpaan dengan Allah bisa juga adalah keluarga rohani kita, yaitu saudara-saudara seiman dalam Kristus. Efesus 2:19. Gereja adalah tempat kita bertemu dengan Tuhan, baik di kelompok kecil, Ibadah Raya, Ibadah Doa, dan dalam banyak kesempatan lain. Mungkin kita bukan berasal dari keluarga yang mengenal dan mencari Tuhan. Tetapi pastikan di keluarga kita, baik jasmani, maupun rohani, semua anggota keluarga dapat berjumpa dengan Allah, dan IA tinggal di tengah-tengah keluarga kita.

Leave a comment