KOMUNIKASI DENGAN BAPA

2Yohanes 1:4.

Dalam ayat yang baru saja kita baca, Yohanes memuji salah satu Gereja yang ada di bawah naungan otoritas kepemimpinan rohaninya. Gereja memang dipersonifikasikan sebagai “ibu” di dalam konteks ayat ini.[1] Pujian ini diberikan karena anggota-anggota jemaat dari Gereja tersebut hidup dalam kebenaran sesuai dengan firman Tuhan. Mereka adalah contoh anggota-anggota jemaat yang menerima komunikasi Ilahi dan melakukan apa yang dikomunikasikan (dalam bentuk perintah) kepada mereka.

Komunikasi adalah hal yang esensial dalam kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan komunikasi adalah inti dari eksistensi atau keberadaan manusia. Ketika suatu pesan disampaikan, misalnya dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, atau sebaliknya. Demikian juga komunikasi terjadi dalam segala aspek kehidupan. Hubungan dibentuk oleh suatu komunikasi, dan salah satu bagian penting dari komunikasi adalah perkataan.

Perkataan memiliki kuasa yang luar biasa karena bisa mengubah suatu situasi seperti yang digambarkan dalam Amsal 15:1. Dalam Alkitab kita melihat perkataan dapat:

  1. Membentuk dunia, seperti dalam kisah penciptaan di Kejadian 1:3-29.
  2. Membentuk (dan dalam hal ini dapat juga merusak persatuan) suatu kelompok, persekutuan, atau aliansi, seperti dalam kisah perpecahan Israel di bawah pemerintahan Rehabeam. 1Raja-raja 12:16-17.
  3. Membentuk Keluarga, dalam hal ini kita melihat kisah-kisah menarik dalam Alkitab tentang:
    • Adam dan Hawa. Adam memperistri Hawa dengan perkataan yang ikonik dalam Kejadian 2:23-24.
    • Yakub, Lea, Rahel, Zilpa, dan Bilha. Kelimanya terlibat dalam “persaingan” mendapatkan anak dalam Kejadian 30:1-24.
    • Bapa dan anaknya yang terhilang. Suatu perumpamaan yang terkenal dalam Alkitab, tertulis di Lukas 15:11-32.

Hari ini sebagai anak-anak Bapa di Surga, saya rasa kita perlu terus belajar dari kisah terakhir mengenai komunikasi kita dengan Bapa. Karena di dalamnya mengandung pemahaman mengenai:

  • Kasih Allah yang mengampuni.
  • Kasih Allah kepada “yang terpinggirkan”.
  • Kasih Allah yang memulihkan, IA seperti seorang bapa yang selalu menunggu.[2]

Seorang bapa ingin mengomunikasikan kerinduannya kepada anaknya. Sayangnya dalam kisah ini, kedua anaknya tidak memahami kerinduan bapa dalam hidup mereka. Si anak bungsu melihat bahwa ia memiliki hak sebagai anak bapa. Tetapi ia menyalahgunakan hak itu. Lukas 15:12-13. Bukankah ini adalah gambaran kita, yang tahu bahwa kita telah diampuni Tuhan dan dijauhkan dari penghukuman kekal, tetapi bukannya hidup takut akan Tuhan, kita malah menyia-nyiakannya dengan hidup dalam dosa. Ayat-ayat dalam Roma 6:14-15 menjadi nasihat keras bagi Gereja yang berpikir bahwa kasih karunia adalah “kelonggaran untuk berbuat dosa”.

Si anak sulung melihat bahwa ia tidak pernah keluar dari rumah bapa, ia anak yang penurut, tetapi sayangnya ia tidak memahami kerinduan bapa untuk menjadikan ia pewaris dari segala kepunyaan bapanya. SI anak sulung malah fokus membandingkan diri dengan adiknya yang “nakal”, dan betapa ia cemburu dengan perlakuan bapanya kepada adiknya. Padahal si anak sulung akan mewarisi seluruh kekayaan bapanya! Lukas 15:29-31. Lagi-lagi ini adalah gambaran kita yang memang tidak meninggalkan persekutuan dengan Tuhan, tetapi kita tidak mewarisi kasih Tuhan. Kita tidak mengasihi dan menggembalakan domba-domba Allah yang terhilang. 1Yohanes 4:19-21 menjadi nasihat keras bagi Gereja yang mengatakan mengasihi Allah, tetapi mengabaikan kasih kepada sesama.

Ini bukan komunikasi dari Bapa Surgawi yang perlu kita respons dengan mencari siapa yang harusnya “terkena” dan harus bertobat. Kita semua yang mendengar harus bertobat. Tidak ada dari kita yang bisa berkata “firman ini bukan untuk saya”. Ibrani 4:7. Mari kita lembutkan hati dan berubah, supaya apa yang Bapa di Surga komunikasikan dengan kita, dapat kita lakukan.


[1]  W.A. Criswell, Ph.D., eds. Believer’s Study Bible. Nashville, USA: Thomas Nelson, 1997, 2 Jn 1. Libronix.

[2] I. Howard Marshall. The Gospel of Luke: A Commentary on the Greek Text. Exeter, England: Paternoster Press, 1978, p. 604. Libronix.

Leave a comment