HATI YANG BERKENAN

Ibrani 11:5

Tiap hari kita belajar untuk memiliki hati yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita berkumpul untuk berdoa bersama di Rumah Tuhan pun untuk mencari perkenananNYA, di luar ada hal-hal yang memang kita ingin minta kepada Tuhan. Jemaat pasti ingat dengan Perumpamaan Yesus tentang dua orang yang pergi ke Bait Allah di Lukas 18:10-14. Kita tidak mau menjadi orang yang pulang dari Rumah Tuhan sebagai orang yang tidak dibenarkan oleh Allah, bukan?

Henokh dalam ayat yang kita baca di awal dikatakan berkenan kepada Allah. Perkenanan Allah tersebut didapatkannya karena hidup bergaul dengan Allah. Kejadian 5:22-24. Pada zaman Henokh belum ada Bait Allah, atau Gereja secara fisik yang kita miliki seperti sekarang. Jadi apa yang dilakukannya adalah membangun komunikasi secara intens, ia bersemangat untuk terhubung dengan Tuhan dan ia melakukannya dengan sangat kuat.

Seseorang yang dibenarkan dan yang berkenan di hadapan Tuhan bukanlah seseorang yang angkuh karena keangkuhan adalah hal yang membuat manusia jauh dari Allah. 1Yohanes 2:16. Jadi bagaimana seseorang bisa datang berdoa dengan keangkuhan seperti yang ditunjukkan orang Farisi di Lukas 18? Keangkuhan seseorang dapat terlihat dari dua hal:

  1. Cara pikirnya. Lukas 18:11-12. Ia membandingkan, ia merasa sudah melakukan kewajibannya dan menuntut haknya. Untuk orang yang berpikir seperti ini Yesus mengingatkan di pasal sebelumnya mengenai cara pikir seorang hamba yang berkenan. Lukas 17:7-10.
  2. Sikapnya. Lukas 18:13. Meskipun tidak secara langsung dituliskan tetapi secara tersirat kita bisa melihat bahwa orang Farisi ini datang ke Bait Allah dan melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan orang yang lain, yaitu seorang pemungut cukai.

Tentu kita tidak mungkin memiliki “polisi rohani” di Gereja untuk berkeliling dan memeriksa cara pikir dan sikap seseorang dalam mendekat kepada Tuhan. Kami melakukan ini secara internal di antara staf Gereja, karena kami sadar kami harus berkenan di hadapan Allah dan di hadapan manusia (jemaat), tetapi kami pun penuh dengan keterbatasan. Jadi mari masing-masing kita yang mendengar firman ini. Periksalah cara pikir dan sikap kita dalam mendekat kepada Tuhan, biarlah kita memastikan kita melakukan yang berkenan di hadapanNYA.

Leave a comment